Tuesday, October 10, 2017

Orang Jerman: ANTI BAPER!!!!


Pertama kali mendengar kata baper, ingatanku langsung tertuju pada sebuah onderdil mobil (eh, itu bamper ya :P). Baper atau bawa perasaan adalah istilah yang sebenarnya baru aku ketahui saat aku udah di Jerman. Istilah ini pun muncul belakangan ini, yang entah dari mana sumbernya, aku pun tidak tahu. Yang aku tahu, daya kreativitas orang Indonesia belakangan ini memang sungguh luar binasa, sehingga banyak istilah-istilah gaul baru yang tercipta seiring kebutuhan dan keadaan orang-orang Indonesia itu sendiri. 😀

Nah, ngomongin soal baper dan galau, aku pun tak pernah luput dari gejala menular yang ditimbulkan oleh dua kata tersebut. Aku bukanlah wanita berhati baja yang anti baper dan galau. Dicuekin supir bus yang sudah kukejar-kejar sampai terpontang panting di trotoar aja aku sudah baper dan galau setengah mati. :D

Lalu, bagaimana dengan orang Jerman?

Satu hal yang sungguh membuat pikiranku terbelalak adalah FAKTA bahwa kebanyakan (aku tulis di sini -kebanyakan- yang artinya bukan semua) Orang Jerman adalah orang-orang yang anti baper. Sebelum aku ulas alasannya, mari aku beri contoh yang terjadi di sekitarku:

Diusir karena bertamu

Masih ingat kan ceritaku tentang pengusiran oleh host family ku kepada sahabatnya karena bertamu di saat jam makan malam?. Di Jerman, kejadian seperti ini sudah sangat biasa terjadi dan hebatnya, mereka bisa mengerti dan memahami keadaan temannya (meskipun telah mengusirnya).

Baca juga: German Vs Indonesian Mentality: Saklek Vs Cerdik

Cintaku bertepuk sebelah tangan!

Suatu kali, Max mengajakku menemui salah satu sahabatnya yang dulu pernah jadi satu tim penulisan skripsi dan mengadakan penelitian dengannya. Namanya Helena.

Saat menemui Helena di tepi danau, aku dan Max membawakan kue dan eskrim yang sudah kami beli sebelumnya. Kami ngobrol berjam-jam sampai akhirnya Max dan aku harus pulang karena kami punya janji makan malam dengan teman yang lain.

Di perjalanan pulang. Aku menggoda Max dengan bertanya, "Kenapa ya aku merasa kalau Helena itu suka sama kamu?". Aku terkejut dengan jawaban yang diberikan Max padaku:

"Loh, memangnya aku belum cerita? Dia kan memang pernah suka sama aku? Sudah lama, sejak penelitian tahun lalu, tapi dia bukan tipeku. Dia malah sempat mencari pelarian dengan pacaran dengan Lars (sahabat Max). Tapi dia masih belum bisa melupakanku!"

Nih orang gimana, ya? Aku ini pacarnya. Bisa-bisanya dipertemukan dengan seseorang yang juga menyukainya. Memang dari tatapan Helena, ada terkesan rasa sedih sekaligus pasrah melihat Max bersamaku. Lalu jawabku, "Kamu nggak punya perasaan banget, sih! Kan kasihan Helena! Tau gitu, tadi aku nggak mau diajak ketemuan sama dia!"

"Loh, aku sama Helena kan berteman dan kamu pacarku! Lagipula, dia pernah mengakui di hadapanku bahwa dia suka padaku!"

"Wow, lalu?" jawabku, dengan rasa cemburu.

"Indra! Kejadian itu sudah lama berlalu! Aku menolaknya dengan alasan tak ada rasa (chemistry) yang terjadi di hatiku padanya. Dia pun bilang bahwa dia akan memulihkan hatinya untuk menerimaku hanya sebagai teman! Sekarang, dia mulai bisa berteman denganku!"

Aku nggak habis pikir bagaimana cara orang-orang ini mengatasi tingkat ke-baper-an mereka dan mengendalikannya!

Aku hanya ingin tidur denganmu!

Seorang kenalan (cewek Jerman) yang pernah bekerja di satu divisi denganku menceritakan pertemuannya dengan keturunan Jerman-Iran di sebuah Bar. Aku masih ingat betapa gembiranya kenalanku itu dan tiap hari selama 3 bulan dia menceritakan kebersamaannya dengan pemuda tersebut.

Tiga bulan pun berlalu. Aku masih ingat cerita plesir mereka ke Portugal dan Spanyol yang diceritakannya padaku 2 minggu sebelumnya. Namun, hari itu dia tidak lagi bercerita tentang pemuda itu. Aku pun berinisiatif bertanya tentang hubungan mereka. Ini jawabnya, "Sudah usai!"

Aku pun kaget dan bertanya-tanya. Tapi dia terlihat tak begitu terpukul atau sedih tentang hubungannya itu. Dia bilang, "Akhir pekan lalu, aku ingin tegaskan kepadanya bahwa aku merasa jatuh cinta. Ternyata jawabannya, dia hanya ingin tidur dan bersenang-senang denganku. Ya sudah, aku usir saja dari apartemenku. Hubungan kami sudah usai, dan ini yang terbaik untuk hidupku saat ini. Awalnya sih aku melihat dia ganteng, dan aku juga ingin bersenang-senang saja. Eh, nggak taunya aku jatuh cinta. Kalau dia nggak cinta, aku nggak mau mempertahankannya, donk! Buang saja, cari yang lain!"

Busyettt... Bayangkan kalau ini terjadi pada wanita Indonesia. Ditiduri selama 3 bulan, tidak ada hubungan yang jelas, lalu dengan sangat terus terang bilang bahwa cuma ingin menidurinya saja di saat sang wanita jatuh cinta. Bisa galau dan baper setengah mampus kita!

Dicampakkan bahkan sebelum berkenalan

Dating sites memang marak di Jerman, karena mencari teman atau pasangan di dunia nyata sungguh sulit bagi mereka. Salah seorang temannya Tobi pernah bercerita bahwa dia (sebut saja namanya Domi) pernah kopdar dengan salah satu wanita cantik yang dia temui lewat dating sites. Saat janjian di sebuah Cafe, wanita itu permisi untuk pergi ke toilet dan tak pernah kembali lagi. Rupanya first impresson sang wanita terhadap Domi tak begitu baik.

Saat becerita, Domi memang terkesan kecewa, tapi tak lebih dari satu jam, dia sudah mulai aktiv mencari 'mangsa' baru di situs biro jodoh yang lain.

Kalau aku mau cerita, ada puluhan kejadian yang membuatku terheran-heran terhadap sikap tangguhnya orang Jerman dalam mengatasi persoalan hati. Kalau aku telaah lagi, ada beberapa faktor yang mungkin bisa kita pelajari agar kita juga tak mudah baper dan galau dari orang-orang Jerman ini!

1. Memberi pengertian terhadap diri sendiri

Orang Jerman terlatih sejak kecil untuk mengerti keadaan. Misalnya, seorang adik tidak dibenarkan merebut mainan dari kakaknya. Orang tua biasanya memberi pengertian dan tidak langsung menyalahkan sang kakak. Yang kulihat, orang tua di Jerman itu sangat adil terhadap anak-anaknya. Yang tua tak ada kewajiban untuk mengalah terhadap adiknya seperti yang ditanamkan oleh orang tua di Indonesia. Orang tua di Jerman melihat bahwa adik kakak punya hak dan kewajiban yang sama. Kalau adiknya ngeyel, sang ibu memberi pengertian bahwa apa yang diinginkan kakak itu seperti ini, seperti itu! Kamu harus mencoba mengerti dan menerima bahwa kakakmu tak suka kalau kamu merebut mainannya, kamu bisa minta dengan baik-baik atau menunggu sampai dia bosan dengan mainannya itu!

Dari latihan sejak dini itulah, orang Jerman terbiasa memberi pengertian terhadap dirinya sendiri dan orang lain bahwa kadang hidup memang seperti ini. Bahwa hidup memang tak semulus yang kita inginkan. Das passiert einfach (yang terjadi-terjadilah). Bukankah kita juga punya prinsip seperti itu? Lalu kenapa masih baper? :D

2. Cuek

Sikap tak pandang bulu dan cuek adalah salah satu faktor yang membuat mereka tak mudah baper. Ya sudahlah, lagi pula nggak penting juga, nggak ada urusannya denganku, memang dia siapa?

Baca juga: Indonesia Vs German mentality Cuek vs SKSD

3. Memahami bahwa orang lain itu berbeda

Aku adalah salah satu orang yang paling peka dan gampang menangis karena baper. Sedangkan pacarku Tobi, meskipun dia termasuk orang Jerman yang romantis dan lembut, tapi tingkat cuek dan anti-bapernya masih Jerman banget. Dia mengerti bahwa setiap individu itu tak harus sama dengan kita. Kalau ternyata kita suka, dia tak suka, ya sudah terima saja. Tobi juga yang selalu memberi pengertian bahwa tak baik terlalu memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkan kita. Tak seharusnya kita peduli tentang apa yang dikatakan orang lain. Asal bahagia, jalani saja! Ini hidupmu, kamu yang bertanggung jawab atas kebahagiaan dirimu sendiri!

4. Banyak urusan yang lebih penting

Orang Jerman adalah tipikal orang yang fokus. Urusan hati memang penting, meskipun banyak juga yang mencampur adukkan urusan cinta dan birahi. Di dalam masyarakat, menyandang predikat jomblo pun tak akan jadi bahan gunjingan. Lagi pula banyak urusan yang lebih penting dan lebih harus diutamakan, misalnya karir dan masa depan. Lagi pula, orang Jerman juga tipikal orang yang suka meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Nah, bagaimana? Apakah kalian masih baper juga? Tak apa, baper itu menurutku adalah proses pendewasaan dan pembelajaran yang membuktikan bahwa kita sebagai manusia normal yang berhati lembut serta peduli terhadap kepentingan orang lain. :) Asalkan jangan berlarut-larut ya :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)


Liebe Grüße
Location: Malang, Malang City, East Java, Indonesia

2 comments:

  1. aku setuju banget dengan ini.. saya seperti orang Jerman ya hahahaha..

    Orang yang baper itu kali terlalu sensitif dan bisa jadi terlalu egois lho, ga mikirin orang lain T.T

    ReplyDelete
  2. "Dicampakkan bahkan sebelum berkenalan"

    Ya Allah... ini masa smpku banget.
    Kenal aja belum, udah buang muka. Sakit hatiku, mbak.... sakiiiiiiittttt *jongkok di pojokan kamar*

    Oke catatan buat diriku sendiri:
    temenan boleh, pacaran jangan sama orang jerman... gak baper... gak sensitip.. pake 'p'...


    "Diusir karena bertamu di saat jam makan malam"


    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers