Saturday, September 30, 2017

Mari Selamatkan Makanan!



"Makanannya dihabisin ya, kalo nggak nanti dapat suami bopengan loh!" kata mamaku ketika aku sedang makan saat masih kecil dulu. Aku jadi tertawa  mengingat di Indonesia banyak sekali "ancaman" dari orang tua yang tidak masuk akal. Tapi untuk kalimat satu ini, pesan sebenarnya adalah untuk tidak membuang-buang makanan. Ternyata hal ini lebih kuat terasa di masyarakat Jerman daripada di Indonesia dan cocok juga dengan budaya mereka yang suka berhemat. Sampai akhirnya muncul gerakan masyarakat yang berinisiatif membentuk organisasi Food Sharing yang memiliki motto "Bagikan makanan daripada membuangnya"

Food Sharing apaan sih?

Jadi organisasi ini didirikan pada tahun 2012. Mereka bermaksud melawan tindakan pembuangan makanan yang kondisinya masih baik untuk dimakan. Dengan begitu mereka menawarkan solusi dengan membuat website jaringan sosial Foodsharing.de yang dimana pengguna internet dapat berperan maupun sebagai pembagi makanan atau penyelamat makanan. Cara menggunakannya mirip dengan Facebook, kita tinggal buat profil dan upload foto makanan yang ingin dibagikan atau bisa mencari orang yang ingin membagikan makanan sesuai lokasi yang kita inginkan. Untuk mengambil makanan, tentunya kita bisa mengirim pesan satu sama lain dan membuat janji bertemu.


"Foodsharing ingin menyatukan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dan mengilhami mereka untuk berpartisipasi, berpikir bersama dan menangani sumber daya planet kita secara bertanggung jawab". Kalimat tersebut aku ambil dari website mereka dan aku setuju banget dengan niat mereka. Nah buat aku sendiri sebagai orang asing, ini merupakan rejeki hehe, kapan lagi dapat hibah makanan gratis? Untuk kalian yang berencana tinggal atau sudah di Jerman, ini bisa kalian  manfaatkan untuk trik berhemat dalam urusan makanan, ini sudah pernah aku bahas di blog sebelumnya.

Tapi selain Foodsharing, ada juga grup penyelamat makanan lain yang aku ikuti di Facebook. Kalo yang ini grup lokal khusus kota Hamburg, di sana malah ada seorang ibu rumah tangga yang rutin membagikan makanan 3 kali seminggu di garasi rumahnya. Jadi dia menyelamatkan makanan yang akan dibuang oleh toko, supermarket, bahkan sekolah anaknya. Aku respect banget deh sama si ibu!


Semoga informasi kali ini bermanfaat yah buat kalian dan ingat jangan buang-buang makanan, karena masih banyak orang yang kelaparan di belahan dunia lain.

Liebe Grüße,
Alvita

Friday, September 29, 2017

8 Hal yang PENTING bagi orang INDONESIA, tapi biasa saja bagi orang JERMAN

Setelah menulis 13 HAL YANG PENTING BAGI ORANG JERMAN TAPI BIASA SAJA BAGI ORANG INDONESIA, tak adil rasanya kalau aku tidak menuliskan perbandingan terbaliknya. Nah, 8 hal berikut ini adalah hal-hal yang bagi orang Indonesia TERAMAT PENTING, namun bagi orang Jerman dianggap biasa saja. Apa saja itu?



1. AGAMA

Banyak orang Jerman yang menganut agama tertentu. Bahkan kota München pernah dinobatkan sebagai kota pastor karena para penduduknya yang kebanyakan beragama Katolik. Di Jerman, masing-masing individu berhak memeluk agama apa saja. Tak ada batasan agama official seperti di Indonesia, bahkan tak ada larangan bagi orang yang tak ingin beragama. Di kartu penduduk atau pun paspor, tak ada himbauan untuk mencantumkan agama tertentu.

Agama merupakan topik paling panas tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Banyak konflik juga yang ditimbulkan oleh para individu yang mengatasnamakan agama-agama tertentu. Di Jerman, memang penduduknya ada yang beragama ada yang tidak. Tapi, tentang ke-agama-an ini adalah urusan vertikal antara masing-masing individu dan Tuhan mereka. Jadi, menurut orang Jerman (yang bukan fanatik atau misionaris), urusan agama bukan termasuk topik yang amat penting dan krusial untuk dibahas.

2. SIKAP NASIONALISME

Percaya tidak percaya, mau tidak mau, kita harus menghadapi fakta bahwa: Semua orang Indonesia itu terdidik untuk mencintai negara dan berusaha berguna bagi NUSA, BANGSA, ORANG TUA dan AGAMA. Ajaran di masa orde baru yang terkesan mendikte itu masih amat melekat di otak kita, oleh karenanya, kita (sebagai orang Indonesia), sulit sekali untuk tidak cinta terhadap tanah air dan bangsa. Di mana pun kita berada, pasti ada upaya untuk memperkenalkan budaya Indonesia terhadap dunia, dan rasa bangga terhadap Indonesia yang kita tunjukkan dengan menceritakan keindahan alamnya, keanekaragaman budaya, kelezatan kuliner, dsb. Sikap nasionalisme yang berlebihan seperti ini rupanya tidak dimiliki oleh orang Jerman.

Orang Jerman mah biasa saja menjadi bagian dari penduduk Jerman. Dibilang bangga tidak, dibilang tidak bangga juga tidak. Biasa saja! Aku ulangi Biasa saja! :D

Kita bisa lihat bahwa klub sepak bola Jerman, dan berbagai cabang olah raga lainnya seperti Tennis sangat unggul di kancah dunia. Kemajuan teknologi, obat-obatan, dan keberhasilan perdana menterinya mengatur perekonomian negara membuat Jerman menjadi salah satu negara paling berpengaruh di dunia. Bahkan Angela Merkel dinobatkan majalah Forbes menjadi wanita paling berpengaruh sedunia di tahun 2015.

Dibandingkan dengan prestasi Indonesia (di tingkat dunia), rasanya tak ada alasan bagi orang Jerman untuk tidak bangga terhadap negaranya. Meskipun mereka bangga, namun, mereka biasa saja, tuh! Kalaupun mereka penyuka sepak bola dan olah raga, mereka tak akan mencerita-ceritakan kehebatan klub tertentu kepada seluruh dunia. Kenapa? Karena dunia sudah tahu! Jerman sudah terkenal tanpa diberitahu lagi! :D. Bahkan ada seseorang yang sempat cerita padaku, kalau mereka suka kesal kalau traveling ke Asia, karena orang-orang hanya tau Bayern-München. Padahal Jerman itu tak melulu soal sepak bolanya saja. :D

3. Tradisi

Orang Indonesia amat menjunjung tinggi tradisi dan kebudayaan bangsa. Tapi orang Jerman mengalir begitu saja mengikuti arus perkembangan zaman dan globalisasi, sehingga mereka tak tergerus kehidupan yang semakin hari semakin modern ini.

Bukan berarti orang Jerman tak melestarikan tradisi. Banyak orang Bayern yang tetap menjaga budaya mereka. Tapi banyak juga orang Jerman yang lebih memilih untuk ikut alur saja. Orang di Hamburg, bahkan sudah hampir lupa kalau mereka punya bahasa Plattdeutsch. :)

4. BERGUNA BAGI BANGSA, ORTU, dan AGAMA

Poin ini berkaitan dengan poin nomor satu dan dua. Karena negara dan agama itu dipandang sangat penting di Indonesia, dan diajarkan di sekolah sejak dini, jadi berguna bagi bangsa dan agama ini menjadi amat penting bagi masyarakat Indonesia. Dan karena di Jerman tak diajarkan hal-hal berbau nasionalis seperti ini, maka berguna saja bagi lingkungan dan diri sendiri. :D

Herannya, meskipun demikian, Jerman tetap sangat berprestasi dan temuan-temuannya sejak dulu kala selalu berguna tak hanya bagi bangsanya sendiri tapi juga bagi Dunia.

5. ISU KEKINIAN dan Ke-ALAY-an.

Orang Jerman adalah orang yang peduli pada kesejahteraan sosial. Mereka juga sangat kritis terhadap isu global. Karena kebebasan berpendapat sudah ditanamkan sejak kecil (berbeda dengan di Indonesia yang baru-baru saja bebas berpendapat setelah Suharto lengser: dulunya kan kita suka didikte), orang Jerman sangat kritis dan tak mudah ikut-ikutan terhadap isu-isu atau pun hoax. Misalnya: kita dengan mudah saja percaya kalau minum es jeruk ditambah dengan makan sea food itu menyebabkan keracunan, atau minum soda dan es saat haid menyebabkan kanker servix. Berita-berita hoax yang membodohi orang Indonesia seperti itu herannya dipercaya dan disebar luaskan. Sedangkan berita bermanfaat malah malas dibaca.

Kalau orang Jerman, mereka tak akan percaya kalau tak ada bukti. Orang Jerman (meskipun mereka tak bisa menghidari teknologi dan perkembangan internet), mereka cenderung ogah untuk terlalu terjerumus ke dalam lubang kapitalisme. Misalnya, orang Indonesia, kalau ada sosmed baru, langsung aja gabung. Kita? Sosmed apa yang tak kita punya? Mulai dari line, wa, friendster, fb, twitter, instagram, dsb. Sedangkan orang Jerman? Ada fb pun sudah maksimal dan itu pun karena mereka butuh, bukan untuk bergaya dan ikut-ikutan.

6. SUNGKAN

Satu hal yang aku pelajari setelah kenal beberapa teman mulai dari Aceh, Medan, Papua, Ambon, Lombok, Bali, Jawa, Sunda, Betawi: Orang Indonesia, dari mana pun ras, suku dan agamanya, semuanya punya satu sifat yang menjadi ciri khas mereka, yakni: SUNGKAN.

Suka nggak enakan, suka takut menyinggung, sungkan, dsb adalah salah satu sifat yang tak dimiliki orang Jerman. Bagi orang Indonesia, memang penting untuk menjaga keharmonisan (terutama orang Jawa), meskipun kalau sudah sakit hati, di belakangnya, mereka main santet. Ngeri ih.

Kalau orang Jerman? Mereka terus terang. Suka bilang suka, enak bilang enak, merasa nggak cocok bilang, kalau tak sesuai kemauan, diungkapkan, nggak cuma iya iya, tapi ternyata menyimpan dendam. Sungkan bukan budaya orang Jerman! Mereka lebih memilih untuk berterus terang, masalah terselesaikan dengan transparan dan tak ada dendam di belakang.

7. MAKAN NGGAK MAKAN KUMPUL!

Slogan yang satu ini penting banget buat orang Indonesia. Bahwa kebersamaan, kekeluargaan merupakan adat dan budaya yang senantiasa mengikat rasa persatuan dan kesatuan. Tapi bagi orang Jerman -seperti yang sudah aku jelaskan- mereka mengalir mengikuti perkembangan zaman. Di Jerman, kalau anak sudah waktunya pisah dari orang tua (biasanya mulai umur 18), mereka akan melepaskannya dan membiarkannya hidup seturut kemauannya sendiri. Tak ada hak bagi orang tua untuk melarang anaknya melakukan apa yang mereka mau. Toh mereka sudah besar dan bisa memilih apa yang terbaik buat mereka dan lalu belajar dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Meskipun anak gadis menjadi lesbi, anak lelaki menjadi hombreng, orang tua tak akan mempermasalahkannya. LGBT meski penting dan menarik, tapi orang Jerman belakangan ini menerima isu tersebut, dan mulai Oktober 2017, pernikahan sesama jenis sudah legal dan sah secara hukum di Jerman.

8. SOSMED

Banyak orang Jerman yang memanfaatkan kecanggihan teknologi juga. Tapi yang aku teliti dari masing-masing orang Jerman yang aku kenal ini, mereka punya sosmed, tapi mereka tak punya semuanya. Biasanya satu saja sudah cukup.

Contohnya, kakaknya Tobi (umur 31), tak suka facebook, tak punya twitter apalagi instagram. Dia tak peduli semua itu, yang paling penting dia punya whatsapp dan hp untuk berkomunikasi dengan sesama. Tobi hanya punya satu sosmed (facebook). Max dulu paling anti sama facebook, dia punya couchsurfing dan facebook tapi jarang dibuka.

Orang Indonesia, karena (mungkin) pengaruh lingkungan, teman yang punya banyak sosmed, mereka mau tak mau ikut-ikutan, karena tak ingin dianggap kuper, nggak gaul, ketinggalan zaman, dsb. Aku sendiri merasa hidupku lebih tentram kalau tak sering berada di fb. Mungkin sehari mengecek instagram 10 menit menjelang tidur, fb seminggu sekali dua kali kalau ada sesuatu yang penting yang harus kuposting atau kucari. Tapi aku masih tetap Indonesia. Punya twitter, ig, wa, blog, :D

Semoga informasi tentang 8 hal yang penting bagi orang Indonesia namun biasa saja bagi orang Jerman ini menambah pengetahuan kita, terutama tentang Jerman, ya :). Ingat, apa yang aku tulis adalah berdasarkan observasi dan pengalaman pribadi. Tentu saja tak semua orang Jerman punya sifat yang sama, ada yang seperti ini dan seperti itu. Sama seperti kita juga. :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, September 25, 2017

Lucunya bayi Bule Pakai Batik


I miss them sooooooo much 😓. These are my favorite photo of them that I could share here.


Saat datang, aku bawakan baju batik ungu dan merah itu. Dan pas musim panas, mereka cantik sekali pakai rok batik yang aku bawakan. Uh, aku kangen sekali sama mereka. Amy (yang di atas), dan Zoe, kakaknya (yang di bawah) adalah bayi kembar yang tidak identik. Aku seperti ibu kedua bagi mereka saat menjadi au pair dulu, aku dandani, aku kuncir, aku uyel-uyel pokoknya. :D

Di antara banyak foto, aku hanya ingin membagi yang kedua ini, karena aku tak tahu apakah Nadja memperbolehkan aku memajang mereka di blog, karena banyaknya kasus penculikan anak berawal dari sosial media. Nadja memperbolehkan aku upload di facebook, tapi tidak di you tube katanya, tapi kalau di blog, aku tak pernah memberitahunya hehehe. Semoga dia mengijinkannya :D

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Saturday, September 23, 2017

Tabu -Kata yang Mirip dalam Bahasa Indonesia dan Jerman-


Saat jalan-jalan, aku suka sekali memotret sesuatu yang aneh. Seperti foto pamflet ini karena satu kata di dalamnya.

TABU

Sebenarnya, pamflet ini adalah pamflet untuk iklan opera, tapi menarik juga buatku untuk di share di sini. Selain tabu, ada sebanyak 80 kata yang mirip dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jerman. Apa saja itu? 


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Wednesday, September 20, 2017

Pelanggaran Lalu Lintas yang Tertangkap Polisi Jerman

Beberapa waktu yang lalu, saat menunggu bus di sebuah halte di kawasan Billstedt, Hamburg, aku melihat mobil polisi menghentikan pengendara mobil yang membawa kawat bangunan seperti di gambar di bawah ini. 

Karena kejadian ini terjadi tepat di depan mataku, aku mengamati mereka dan bikin foto untuk aku share di sini. 

Kawat bangunan yang menjulur ke belakang seperti ini yang menjadi masalah dan membuat mereka terkena tilang


Kulihat pengemudi dan kenek bernegosiasi dengan kedua polisi. Lalu sang polisi menelepon mobil pengangkut barang agar besi itu bisa diangkut tanpa membahayakan pengendara mobil lainnya. Pengendara ini tetap terkena tilang.

Yang membuatku tertarik dengan orang ini adalah tulisan di bajunya: "Fortune for the brave" yang artinya: Keberuntungan bagi yang berani. Sayangnya hari itu, meskipun dia memakai baju itu, keberuntungan tak menyertai keberaniannya :D. Tetap saja kena tilang.

Jangan macam-macam dengan polisi Jerman karena mereka anti korupsi. Baca juga liputan tentang polisi Jerman: Aparat Kepolisian Indonesia Vs. Jerman

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, September 16, 2017

KILT -Baju adat di Jerman yang berasal dari Skotlandia-

Aku ingin share foto ini karena saat pertama kali melihat laki-laki ini mengenakan Kilt aku sempat ngakak dan melihatnya aneh banget. Masalahnya, rok yang dipakai itu mirip seragam SMA ku saat Jumat Sabtu. Jadi, aku ambil fotonya dan aku blur wajahnya, agar tidak tersinggung kalau dia melihat fotonya dipajang di sini :).

Kilt atau Schottenrock sebenarnya bukan seperti baju tradisional seperti baju bodo di Indonesia. Baju ini hanya dipakai para pria saja dan hanya dipakai di daerah NRW. Saat aku melihatnya, saat itu ternyata banyak sekali laki-laki yang memakai rok seperti ini berkeliaran di sekitarku. Ternyata, ada karnaval di Düsseldorf saat itu.

Terus terang, aku tak pernah melihat laki-laki memakai Kilt di München (karena mereka punya baju adatnya sendiri: Lederhose) atau pun di Hamburg. Selama 3 tahun tinggal di Hamburg, tak pernah aku temui sekalipun pria memakai Matrose (baju adat Hamburg yang mirip sekali bajunya Popeye).

Sekian dulu sharing singkat kita kali ini. Btw, sekarang aku merasa nggak aneh juga melihat foto ini, karena aku pikir-pikir, sehari-hari pria di Indonesia juga pakai sarung yang juga mirip rok dan kotak-kotak. :D

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße


Tuesday, September 12, 2017

Hati-Hati Kalau kesandung Batu ini di Jerman!! (Stolpersteine)



Sebenarnya, sudah lama sekali aku ingin membahas (atau sekedar menunjukkan) ini pada kalian. Yup, tentang Stolperstein.

Stolperstein kalau diartikan secara harfiah, artinya: BATU SANDUNGAN.
 

Batu sandungan yang sengaja dicetak ini bisa kita temui di sepanjang jalan. Batu ini berbentuk kecil, nyembul dan berwarna emas. Lalu apa maknanya?

Perhatikanlah tulisan yang ada di atasnya
" HIER WOHNTE 
KURT SILBERSTEIN
JG. 1898
DEPORTIERT 1942
THERESIENSTADT
1944 AUSCHWITZ
ERMORDET 10.2.1945
IM KZ DACHAU "

" DI SINI PERNAH TINGGAL
KURT SILBERSTEIN
TAHUN LAHIR 1898
DIDEPORTASI 1942 (ke)
THERESIENSTADT (lalu)
1944 (ke) AUSCHWITZ
DIEKSEKUSI 10.2.1945
DI CAMP KONSENTRASI DACHAU"
Sudah bisa menebak siapa itu Pak Silberstein yang dideportasi dan (lalu) dibunuh secara keji di Dachau? Yup, orang Yahudi, salah satu dari hampir 7 juta orang yang pada masa kejayaan Hitler dibantai secara masal. 


Batu-batu ini ada di depan gedung, apartemen, toko, di trotoar, di mana-mana.
Batu ini sengaja ditanam oleh Gunter Demnig, seorang seniman asal Jerman. Awal mula, Demnig menanam batu-batu itu di daerah Köln pada tahun 1992. Meskipun belum mendapat persetujuan dari pemerintah, Demnig tetap melanjutkan proyek batu sandungan ini. Lima tahun setelahnya, Demnig mendapat persetujuan, dan aksi ini pun mendapat sambutan baik. Oleh karenanya, sekarang, kalau kita berjalan-jalan di kota-kota di seluruh Jerman, pasti akan tersandung oleh batu ini :D.

Tujuan ditanamnya batu ini adalah untuk mengingatkan kita, bahwa di tempat itu, di sebuah rumah, atau apartemen itu, pernah ditinggali oleh orang yang -karena ras dan agamanya- dibenci, lalu dibunuh secara kejam. Dengan melihat batu sandungan ini, diharapkan orang-orang bisa mengingat korban-korban tak bersalah yang secara paksa diusir dari rumah mereka, lalu dipekerjakan secara paksa, kadang dibunuh meskipun tak tahu kesalahan mereka apa. Tujuan utama penanaman batu ini adalah agar kejadian rasis yang mencelakakan jutaan orang itu tak akan pernah terulang kembali. Oleh karena itu, batu ini dinamakan Stolperstein atau batu sandungan, batu yang jika kita tersandung olehnya, kita akan teringat dan hati-hati untuk melangkah ke depan.

Demikian sharing kita yang singkat kali ini. Semoga sedikit memberi manfaat.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Liebe Grüße

Friday, September 8, 2017

Mengapa Orang Jerman Suka Menghibahkan Barang-Barangnya?

Artikel singkat tentang kegemaran orang Jerman yang menghibahkan barang-barangnya ini aku tulis karena barusan aku lihat truk pengangkut barang hibah-an berhenti di depan apartemenku:


"SPERRMÜLL? bei Anruf ABFUHR"
"Barang-barang bekas? Telfon saja, kami angkut!"

Truk besar ini, adalah truk pengangkut barang-barang bekas, rusak, tak terpakai, yang tak muat dibuang di tempat sampah, seperti sofa, almari, dan meja, dsb. Barang-barang bekas tersebut kadang ada juga yang masih bagus. Hanya karena bosan dan ingin ganti model baru, barang-barang ini harus dijual kembali atau kalau tak laku dijual, agar tidak memenuhi ruangan, dibuang saja. 

Ada peraturan di Jerman bahwa kita tak boleh membuang barang-barang tersebut seenak udel. Tak bisa kita letakkan di tepi jalan, atau di dekat tempat sampah, karena akan merusak pemandangan, dan menyusahkan pengangkut sampah. Oleh karenanya, satu-satunya jalan, ya panggil petugas pengangkut seperti ini. 

Untuk memanggilnya, kita harus bayar sejumlah uang dan petugas yang datang. Untuk jumlahnya, meski tidak banyak, tapi lumayan juga. Kalau dipikir-pikir barang mau dibuang aja kok masih harus bayar, sih? Makanya, banyak yang menghibahkan barang-barang tersebut. 
bagian belakang mobil pengangkut barang

petugas pengangkut yang menunggu barang-barang diturunkan


Banyak alternatif yang bisa ditempuh agar mereka bisa melenyapkan barang tak terpakai tersebut tanpa membayar uang sepeser pun. Yakni dengan posting di group facebook, group yang menjembatani aksi buang dan jemput barang itu atau lewat ebay-kleinanzeigen, atau lewat sosial media lainnya. Dengan demikian, mereka tak harus susah-susah mengangkut barang, tinggal menunggu orang yang butuh, dan menjemput barang mereka. 


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Tuesday, September 5, 2017

PLUS MINUS JADI FSJ/BFD di Jerman

Setiap pekerjaan pasti ada plus minusnya, sekalipun itu perusahaan yang kita kelola sendiri dan kita yang jadi bosnya. Demikian pula dalam memutuskan sesuatu. Kali ini, masih seputar ke Jerman. Banyak email masuk yang menanyakan perihal jadi au pair atau FSJ ke Jerman.

Sebelumnya, wacana tentang plus minus menjadi au pair sudah aku tulis: Plus Minus Jadi Au Pair di Jerman

Kalau saat ini kalian sedang galau, bimbang, ragu akan pilihan yang dihadapkan untuk berangkat ke Jerman, artikel ini akan sedikit membuka celah pencerahan yang semoga membantu memberi bayangan tentang FSJ/BFD dan suka dukanya, sehingga kalian bisa segera memutuskan dan segera pula berangkat ke Jerman!! :)

Mari kita mulai dari kelebihan program FSJ dan BFD di Jerman berdasarkan pengalaman pribadiku. Kalau kalian masih bertanya-tanya apa itu FSJ dan BFD, silakan simak dulu artikel: Seputar FSJ/BFD di Jerman

+ Bebas dan tak tergantung pada orang lain.
Orang lain di sini dalam artian keluarga (host family). Saat aku menjadi FSJ, aku bisa memutuskan untuk mengatur menu makanku (karena saat aku au pair, host familyku selalu memasak untukku), bisa mengatur jadwal liburku tanpa tergantung jadwal libur family (meskipun harus berdiskusi dengan rekan kerja jauh-jauh hari sebelumnya), dan juga bisa lebih bebas, pulang ga pulang ga sungkan pada host family.

+  Lebih mandiri
Menjadi FSJ artinya menjadi tenaga kerja fulltime (meskipun dengan gaji non-fulltime) yang bekerja langsung bersama orang-orang Jerman. Kita bekerja selayaknya orang Jerman dan punya hak mengatur waktu luang kita sesuka hati. Kalau misalnya saat jadi au pair, anak nangis di pagi hari, kita ikutan jagain (karena malas dengar tangisan, atau karena kasihan emaknya masih pulas tidur), nah kalau jadi FSJ, terserah apapun yang terjadi pada kerjaan kita, kalau sudah waktunya pulang ya pulang saja (kecuali kalau diminta secara resmi untuk lembur karena ada rekan yang sakit, itu pun kalau kita tidak bisa, akan bisa segera dimaklumi tanpa harus merasa sungkan karenanya)

+ My life is my rules!
Seperti di poin satu, karena kamu tinggal sendiri (di apartemen yang sudah disediakan sama pihak Träger atau nyewa sendiri), jadi kamu juga punya hak untuk ngatur apartemen kamu, ingin ngundang teman untuk makan-makan, dsb tak perlu minta ijin atau kompromi dengan orang lain (kecuali kalau kamu tinggal di WG> Wohngemeinschaft< di mana ada beberapa orang yang tinggal di satu apartemen juga)

+ Krank ist krank!!
Kalau kita sakit ringan saat jadi au pair dan host family tetep minta kita jagain anak, pasti kita pasrah saja karena tak enak juga itu tanggung jawab kita, apalagi kalau kita orangnya suka sungkan dan nggak enakan. Aku dulu juga begitu.
Tapi kalau saat FSJ, kalau kita sakit malah kita dilarang masuk dan di suruh istirahat saja di rumah dengan alasan: kita bisa menularkan penyakit ke rekan kerja dan orang yang kita rawat, selain itu mereka percaya kalau sakit dipaksakan kerja, malah merepotkan orang lain dan tidak lekas sembuh. Malah ada teman FSJ yang satu instansi di tempatku dulu yang ijin sakit sampai 2 bulan karena tangannya kesleo.

+ Bahasa Jerman Meningkat Pesat
Kuakui, dengan bekerja menjadi FSJ kemampuan Bahas Jermanku meningkat pesat karena kita kerja di lingkungan berbahasa Jerman, mereka ngobrol seputar kerja dan masalah-masalah serius soal politik, pekerjaan, keluarga (berbeda dengan saat au pair, kita ngobrol dengan bocah, mendengarkan mama papa mereka ngobrol kepada anak-anak, jadi bahasa yang kita tangkap ya itu-itu saja). Saat aku FSJ dulu, setiap seminggu sekali selalu ada meeting diantara rekan kerja untuk membahas perkembangan Tagestätte, meskipun aku jarang aktif berpartisipasi, aku hanya mendengarkan dan belajar bagaimana mereka mengolah kata-kata dan dari level A2 saat masuk jadi FSJ, selama setahun setengah, aku naik ke level B2. Temanku yang saat masuk sudah cas cis cus bahasa Jermannya, 6 bulan saja sudah naik ke level C1, terlebih pihak Träger mulai tahun 2016 mengupayakan les Bahasa Jerman gratis untuk para sukarelawan (FSJ)

Baca juga: Kabar Gembira Bagi Calon FSJ di Hamburg

+ Belajar Etos Kerja dan budaya orang Jerman
Menjadi FSJ bagiku seperti masuk ke universitas kehidupan yang membuatku belajar banyak hal tentang Jerman. Dengan bekerja dan mendengarkan orang-orang Jerman itu, aku jadi memahami ke-profesional-an orang Jerman dalam bekerja, bagaimana mereka di tempat kerja, bagaimana mereka bersikap kepada clien, menghadapi rekan kerja, menjaga amanat kas kantor, mengelola keuangan kantor, transparensi di lingkungan kerja, kejujuran dan keefektifan mereka dalam hal jam kerja, dan masih banyak hal lagi. Hal ini, tak bisa kita pelajari di lingkungan kuliah.

+ Tidak banyak ditekan sungkan
Orang Jerman sebenarnya cenderung kurang suka pada orang yang nggak enakan. Mereka maunya kalau kamu mau ini, ya bilang ini, jangan bilang itu. Sedangkan tipikal budaya Timur (orang Asia khususnya) adalah tipikal orang yang nggak enakan. Saat jadi au pair, kalau nggak enak, sungkan, dsb, kita suka mengalah, namun kalau saat FSJ, kita bisa berdiskusi dengan rekan kerja. Misalnya, kita ingin nonton konser di tanggal segini, tapi salah satu rekan kerja ingin ngambil libur ditanggal yang sama dengan urusan yang tak terlalu mendesak (contohnya karena jatah liburnya masih banyak), kita bisa diskusi dengan dia agar tukar shift, dsb. Namun kalau jadi au pair, jatah kerjanya jam segitu, kadang masih disuruh ini itu, bersih-bersih dsb, begitu ingin tukar hari libur, karena emaknya ngebet pengen manicure padicure, tetap aja kita disuruh jagain si anak. Jadi au pair lebih banyak tekanan, karena kita masih hidup di bawah tangan orang lain, sedangkan kalau jadi FSJ, kita sudah seperti hidup sendiri, mau apa-apa bebas.

Baca juga: Wawancara FSJ?

Nah, di atas adalah kelebihan-kelebihannya, berikut kekurangan program FSJ: (kasusnya kamu daftar dari Indonesia)

- MAHAL
Kamu harus berangkat dengan biaya sendiri, tiket pesawat, visa, dsb 100% harus ditanggung sendiri (belum lagi kalau kamu pakai agen). Saat aku jadi au pair, tiket berangkatnya ditanggung sama host family, jadi aku cuma ngurus tes bahasa dan visa saja. Poin ini jadi tak berlaku kalau kalian menemukan Träger atau arbeitsgeber yang mau menanggung tiket berangkat ke Jerman.

- Lebih susah dan makan waktu
Daftar FSJ dan BFD dari Indonesia itu menguras hati dan membutuhkan ekstra kesabaran. Salah satu email yang masuk padaku bilang bahwa sejak dia daftar FSJ 8 bulan yang lalu dengan mengirim ke beberapa Träger dari Indonesia, sampai hari ini belum satu kali pun dapat panggilan. Träger itu kan sebuah instansi yang tak hanya mencarikan tempat untukmu tapi juga tempat untuk ratusan atau bahkan ribuan pelamar lainnya, juga mengurusi seminar, dsb. Meskipun semua tak diurus oleh satu orang saja, namun mereka juga butuh waktu untuk menjawab lamaran yang masuk serta interview satu per satu, jadi ya harus sabar. :)

- Tak ada pilihan lain selain harus bagus bahasa Jermannya!
Meskipun syarat untuk daftar FSJ adalah lulus test dan mengantongi sertifikat A1, kita masih harus dihadapkan proses interview dan langsung kerja dengan orang Jerman. Saat aku pertama kali ke Jerman dulu, I had zero Deutsch ability! Lulus A1 di Goethe aja belajar cuma 3 minggu. Saat interview dengan host family dan ngomong sama mereka pun aku pakai bahasa Inggris, jadi untuk langsung terjun ke dunia FSJ, rasanya mustahil, karena aku harus diinterview oleh Träger dengan Bahasa Jerman, nulis motiv letter pakai Bahasa Jerman, dsb. Saat sudah masuk FSJ dulu, Bahasa Jermanku masih A2.2 dan terus terang kukatakan kepada kalian: Aku hampir putus asa karena sering melakukan kesalahan kalau disuruh ini dan itu.  Namun, bagi kalian yang sudah fasih bahasa Jermannya, aku rasa nggak jadi masalah.


- Lebih shocking!
Aku nggak bisa ngebayangin kalau aku ke Jerman langsung dengan program FSJ. Masalahnya, aku tak akan sanggup mengatur semuanya sendiri di saat aku juga butuh seseorang yang menuntunku hidup di dunia yang serba baru ini. Mulai dari cari teman, tempat tinggal, beli pulsa, belanja, memahami traffic dan rute jalan, mengajariku bersikap terhadap orang Jerman, dsb. Aku tetap bersyukur pernah Au Pair, setidaknya, saat pertama kali masuk Jerman, ada sambutan hangat seperti disambut keluarga, diberi akses dan perlindungan saat aku bingung dan bertanya-tanya, dsb.

- Lebih sulit memulai hidup
Kalau dibilang gaji FSJ lebih besar dari Au Pair, memang benar. Namun, dari gaji tersebut, kita juga harus membeli makan, bayangkan kalau kita tinggal di apartemen yang peralatannya kurang lengkap, kita harus beli ini itu sendiri yang semuanya serba tidak murah di Jerman (sekalipun banyak akses untuk memperoleh barang secara gratis, tapi tetap saja ada banyak yang harus dibeli sendiri). Dari gaji yang maksimum cuma 400 euro (tanpa uang sewa rumah, kalau pun plus sewa, maksimum 650> tergantung Träger dan arbeitsgeber), kita harus memilah-milah uang tersebut untuk makan, kebutuhan hidup, dsb. Jadi sangat sedikit sekali jatuhnya, sedangkan jadi au pair, kita bisa kompromi dengan host family kalau uang saku yang kita dapat terlalu sedikit. Contohnya, karena aku harus bayar tiket transportasi dengan uangku sendiri, aku dulu minta tambahan uang 15 euro kalau disuruh jaga anak pagi, atau 10 euro perjam kalau bersih-bersih rumah agar aku bisa nabung. Kadang 260 euro itu bersih, malah banyak au pair yang dapat 260, plus uang makan 100, uang pulsa 20, dan uang transportasi 50 euro perbulan. Nah, lo?


Gimana? Sudah dapat gambaran mau memilih program apa? Semoga, kalian tidak semakin bingung saja, karena setiap program selalu ada kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Mantapkan hati dan putuskan! Tentunya, resiko tanggung sendiri!

Semoga info seputar FSJ ini memberi pengetahuan bagi kalian semua. :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Join Facebook

Followers

Google+ Followers