Sunday, August 13, 2017

Mimpi Ke Jerman: Kisah Ratu Cempreng

"Mbak, kamu tuh wanita hebat! Aku kalau mendengar kisah-kisah kamu, diriku serasa menjadi butiran debu, ih! Tak ada apa apanya dibandingin kamu, aku beruntung sekali, mbak kenal kamu!"



Aku sering sekali membenci kata-kata sahabatku yang satu ini. Dia selalu saja seperti ini setelah kita bercerita ngalor ngidul tentang kehidupan dan penderitaan kita saat tinggal di Jerman, termasuk patah hati dan sulitnya bertahan untuk tidak patah arang di negara yang orang-orangnya serba gesit ini.

Semua kata-katanya salah. Salah besar.

Namanya Ratu. Sebut saja begitu. Kalau kalian bertemu dengannya pertama kali, dia pasti bilang dengan endelnya, "Hallo, nama aku Queen!! atau " Hallo, ich heiße Königin!" (yang artinya memang "Hallo, nama aku Ratu").

Dia selalu bilang bahwa kami ketemu pertama kali di pantai palsu Övelgönne, padahal dua minggu sebelumnya, saat berkunjung ke apartemen Astri, dia datang bersama Aldy dan sudah cerita ngalor ngidul tentang kegiatan FSJ dan pacarnya. Saat itu aku berpikir, "Nih cewek, udah suaranya cempreng, banyak omong pula! Mimpi apa aku semalam bisa kenal cewek cempreng ini?"

Tak ada kesan mendalam selain ke-cemprengan suaranya saat pertama kali bertemu. Tak kusangka, kita bisa jadi sahabat dekat. Terima kasih, Astri.

Baca kisah tentang Astri: Mimpi Kartini Masa Kini

Ratu adalah gadis yang sama keras kepalanya denganku, sama-sama ingin mempertahankan pendapatnya kalau berdebat, sama-sama tak ingin tersisih. Tapi kami juga sama-sama penyayang, sama-sama manja, sama-sama supel (kurasa dia lebih supel), dan sama-sama sering sok pinter!

Aku percaya pada sebuah kata-kata bahwa kadang wanita yang terlalu kuat itu adalah wanita yang selalu bisa tersenyum padahal hatinya diliputi duka.

Ratu adalah salah satu diantaranya. Jika kalian kenal dia dan ngobrol bareng-bareng, kalian tak akan pernah menyangka bahwa Ratu adalah gadis remaja umur 19 tahun (saat aku kenal dia pertama kali). Karena dari cara bicaranya, dari cara dia mengemukakan pendapatnya, dari pengalaman hidupnya, dia seperti 15 tahun lebih tua dari umurnya. Sering aku menganggap dia lebih tua dariku karena dia lebih tahu soal mengatur hidup di Jerman ketimbang diriku. Tapi seketika aku langsung melihat umurnya yang memang masih 19 tahun saat dia ngeyel ingin nonton konser Bruno Mars, lalu berimajinasi naik ke atas panngung, menciumnya, dan bilang bahwa Bruno Mars lah yang menjadi salah satu alasannya ke Eropa, karena dirinya lah, Ratu sanggup hidup di sini, dia lah yang Ratu nanti-nanti, kemudian si Bruno luluh dan mempersuntingnya menjadi istri. Ah, dia kan memang remaja yang butuh bersenang-senang.

Kata-kata dia yang aku tulis sebagai kata-kata pembuka adalah sebuah ironi. Aku ini sudah lebih tua darinya 9 tahun. Sedangkan beban hidup dan pengalaman serta pelajaran yang diserapnya jauh lebih banyak dari diriku. Aku ini tak ada apa-apanya ketimbang si Ratu cempreng itu.

Ratu, adalah satu dari jutaan wanita yang dengan tidak sengaja (atau kasarnya, dengan terpaksa) menjadi dewasa sebelum umurnya. Cita-citanya jelas: Yakni sekolah di Eropa. Jerman menjadi satu satu negara tujuannya.

Secara singkat bisa kugambarkan kehidupan Ratu sebelum ke Jerman seperti sebuah roller coaster sepanjang 100 meter, 50 meter awalnya naik ke atas, sisanya turun menghujam terbanting, tak terkendali.

Orang tuanya menyiapkan segala sesuatu demi pendidikan Ratu di Jerman. Dia bisa dibilang anak orang berada kala itu. Rumah, mobil, uang, dan segalanya. Les bahasa yang mahal pun tak jadi kendala, asalkan Ratu bisa ke Jerman.

Kehidupan kadang memang seperti sebuah roller coaster, kadang bisa sangat kejam membanting kita tanpa ampun, membuat jantung hampir copot, tapi toh tak menghabisi nyawa kita, malah bikin ketagihan. Di saat sedang jaya-jayanya, bisnis orang tua Ratu ditipu oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Uang investasi para tetangga, karyawan kantor tempat ayahnya bekerja yang kalau dihitung bisa mencapai 3 milyar jumlahnya, pun turut dibawa kabur.

Keluarga Ratu kocar-kacir. Ratu hanya bisa diam saat kalung emas, anting, dan semua tabungannya turut disita bank. Dia tak henti-hentinya menangis melihat orang tuanya yang jadi bahan hinaan karena dituduh menggelapkan uang. Padahal mereka semua tahu, bahwa orang tuanya pun adalah korban. Bagi Ratu, tak apa kehilangan perhiasan atau tabungannya, tapi harkat martabat orang tuanya yang runtuh itu lebih membuat hatinya teriris-iris.

Seperti yang aku bilang, apapun yang tak membunuh kita, malah menjadikan kita lebih kuat. Ratu yang saat itu sebenarnya sudah siap berangkat ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan bahasa demi persiapan ke Universitas, harus banting stir menjadi Au Pair dulu. Harus rela menangis sepanjang malam karena rindu ibu bapak di rumah, harus bersedia tinggal di rumah sebuah keluarga asing, dan pindah-pindah keluarga karena tak krasan.

Bisa apa diriku kalau jadi Ratu? Umurnya masih 17 kala itu. Cobaan berat yang bertubi-tubi mengangkat dia menjadi wanita yang super duper tangguh seperti tempaan baja yang tak akan melepuh didera api 1000 derajat sekalipun. Lalu dia bilang, aku ini wanita yang lebih kuat darinya, memangnya dia Cleopatra? Atau Dewi Kwan Im?. Mungkin Cleopatra pantas untuk namanya. :D

Kita ini adalah bentuk dari pengalaman kita di masa lalu (Ayu Ashari). Sama seperti saat aku melihat Ratu. Siapa yang menyangka, dia yang senyum sana senyum sini, tebar cerita lucu tentang si Anu dan tentang si Ani, adalah sebuah jiwa wanita perkasa yang luar biasa tangguh. Dia menebarkan keceriaan, padahal hatinya sendiri hampir hancur. Sedangkan aku di umur dia dulu, masih sering mau-maunya dibodohi pacarku yang ternyata tukang 'jajan' dan selingkuh.

Tak banyak anak muda yang rela merubah hidupnya, dari yang serba berkecukupan, dari yang di rumahnya dilayani seorang pembantu, menjadi seorang yang rela jadi seperti pembantu demi sebuah cita-cita. Meski Ratu adalah anak bungsu, dia bersedia membantu kakak-kakaknya untuk lanjut kuliah. Sedangkan dia di Jerman menunda kuliahnya, dan bekerja membanting tulang untuk hidupnya dan pemulihan hidup keluarganya di Indonesia.

Tiga tahun lebih dia di Jerman, dia bisa mencicil membeli rumah yang baru untuk ditinggali ibu bapaknya. Rumah mereka yang lama harus disita, tiap bulan selama 10 tahun ke depan, bapaknya harus rela kerja suka rela karena gajinya, secara otomatis akan diserahkan kepada para investor yang merasa ditipu. Parahnya, secara tidak profesional, kepala divisi tempat ayahnya bekerja menurunkan jabatan sang ayah, dari Teknisi menjadi tukang kebun, karena urusan pribadi dan karena dianggap ayahnya sudah menipu karyawan. Padahal sekali lagi, orang tuanya hanyalah korban. Pihak yang membawa kabur uang mereka ke Singapura itulah pelakunya. Orang tuanya pun berinvestasi, uang mereka pun juga dibawa lari. Mengapa mereka yang harus menanggung semua ini?

"Ibu aku mbak, beliau adalah seorang motivator yang luar biasa. Makanya, ibu masih bisa bertahan. Orang yang kehilangan uang 3 milyar bisa gila, lo, mbak! Tapi orang tuaku adalah orang tua yang beriman, mbak. Aku salut sama mereka. Makanya tekatku, tak apa aku hidup susah di Jerman. Toh, ini mimpiku juga. Hidup di Eropa adalah impian banyak orang dan aku hidup dalam mimpi mereka. Meskipun mereka tak tahu menahu betapa aku harus berjuang dalam peluh dan air mata demi hidupku di sini."

Ratu. Kadang aku tak habis pikir, hatinya terbuat dari apa. Dia, meski kekurangan, tak pernah berhenti membantu teman lain (yang juga kekurangan). Kami di Jerman memang suka merasa senasip sepenanggungan.

Pernah suatu kali, teman kami menjual rice cookernya dengan harga 20 euro. Ratu tahu kalau teman itu butuh uang, dibelinya Rice Cooker itu dengan harga 30 euro. Saat aku bilang padanya, "Ratu, jual saja deh Rice Cooker kamu itu padaku! Aku lagi butuh rice cooker!". Dijualnya padaku dengan harga 5 euro, karena dia tahu aku sedang membutuhkan rice cooker itu. Bahkan dia bilang, "Bawa aja mbak e, rice cookernya, toh aku bisa numpang masak nasi di tempat Riski!"

Terlalu banyak yang ingin kuceritakan tentang gadis cempreng ini, belum lagi soal patah hatinya, dan kehidupan cintanya yang juga menginspirasi dan membuatnya jadi wanita tangguh. Tapi biarlah cerita itu disambung di kisah Frische Luft yang lain.

Saat ini, si Ratu telah melanjutkan Ausbildung di bidang kesehatan, dan kerja sana sini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di Jerman juga di Indonesia, untuk membantu kakaknya kuliah, juga untuk persiapannya kuliah setelah dia lulus Ausbildung nanti.

Lihatlah, betapa kerasnya kehidupan. Tapi selalu ada saja alasan bagi kita untuk bertahan. Ambillah pelajaran dari kisah Ratu yang 100% nyata dan tak kubuat-buat ini. Teruslah berjuang. Kehidupan anak muda itu masih panjang, jangan menyerah, gapailah mimpi, selalu ada jalan, bertemanlah dengan orang-orang baik, dan dengarkan kisah mereka, dan jadilah hebat karena belajar dari pengalaman-pengalaman hebat mereka.

Semangat!!!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße
Location: Hamburg, Germany

11 comments:

  1. Wah, kayak sinetron Mbak. AKu nangis bacanya. SI wonder women nih si Ratu. Bener deh kalo daku hana butiran debu dibanding njenengan Mbak, juga Ratu. Beberapa passion dan mimpi kulegalkan dengan nikmat nggak tersentuh hanya karena ketakutan dan keraguan. Tapi ratu bisa kuat karena keadaan, juga sikon yang menuntut dia harus kuat

    ReplyDelete
    Replies
    1. HhHAHHa,, lebih riil ketimbang sinetron mbak,,,aku aja nggak nyangka :D

      Delete
  2. aku 24 dan dibanding Ratu 19, ya Allah aku bukan retjeehhh. bener daaa butiran debu juga. inspire banget, emang yang kayaknya ortu mapan bukan jaminan buat yang ga berjuang terus ena ena

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti kehidupan kamu juga banyak menginspirasi orang May,,, tiap orang adalah inspirasi buat orang lain, termasuk kamu,, :)

      Delete
  3. hik, begini nih.. nasib kalo hutang di bank... akibat riba, seperti itu.,. semoga kita dijauhkan dari hal itu yaa aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok poinnya jadi ke hutang dan riba? nggak baca dengan sungguh2 nih. Aku kan nggak nyebutin jenis usaha atau pinjaman apapun di cerita sahabatku ini. Terus terang aku kecewa. Orang tuanya sama sekali tak hutang pada bank. Mereka juga tak berinvestasi pada bank!! Tentang investasi dan jenis usaha apa, sengaja tidak aku sebutkan demi menjaga kerahasiaan sahabatku tersebut. Dan inti dari bacaan ini bukan riba atau hutang ke Bank! Tapi pencapaian sebuah mimpi!

      Delete
  4. teman saya yg di munich bilang, jerman bisa merubah hidup dan kepribadian seseorang... tergantung orang tersebut, ingin berjuang menjadi lebih baik, atau justru ikut arus kebebasan negara barat...

    ReplyDelete
  5. Menginspirasi sekali kisahnya. Jadi pengen kenalan juga sama orang2 hebat kayak gini.

    Salam kenal juga mbak girindra, aku baru aja follow blog kamu.

    www.theamazingjasmi.com

    ReplyDelete
  6. Semoga Ratu sukses ya di Jerman. Ga adil yg diterima si ayah, masa dr teknisi jd tukang kebun bgm bisa menafkai keluarga dg gaji tukang kebun :( .

    ReplyDelete
  7. Salam untuk kak Ratu yah kaaak, salam dari wanita tangguh di Indonesia mwehehehehe.

    Yang kaya gini nih harus sering2 banget di share, supaya bsia jadi pelajaran dan tamparan untuk yang lain. Bahwa apa yang terlihat di depan itu belakangnya trersembunyi dengan rapat. Bahwa bahagia seseorang itu juga diikuti kesedihan dan nestapanya. Hm lah, saatnya wnaita Indonesia bangkit dari keterpurukan pemikiran. Heheheheh.

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers