Tuesday, August 1, 2017

Di Jerman (Yang Penting Hieginis), di Indonesia (Yang Penting Enak)

Pernahkah kalian mendengar istilah orang Jawa, kalau masak terlalu bersih, malah makin tidak sedap. Di Jawa, aku sering melihat penjual makanan di pinggir jalan yang memasak dengan menjumput garam atau bumbu-bumbu dengan tangan telanjang, katanya lebih sedap kalau campur keringat penjual. 😁

Baca juga: Tata krama berjabat tangan di Jerman

Kuakui, karena sugesti yang mendarah daging akan ketidak bersihan cara memasak di Jawa itu, makanan di Indonesia terasa jauh lebih sedap kalau dimasaknya dengan cara seperti itu. Tak pernah sekalipun aku sakit perut atau punya masalah setelah makan rujak uleg yang tangan penjualnya dengan penuh keringat menjumput garam, memotong mentimun dan menguleg rujak dengan peluh yang mencucur.

Aku masih orang Indonesia. Bagiku, saat masak dan makan, masalah rasa adalah yang paling utama dibanding apapun. Semenjak tinggal di Jerman, aku sering dibuat jengkel oleh ulah host motherku yang dikit-dikit membuang makanan, karena dirasa sudah HAMPIR busuk. Olehku, apel yang terdapat satu spot hitam kecil itu, aku cungkil dan aku makan sisanya yang masih bagus. Tak ada istilah membuang makanan. Bahkan dia pernah membeli jamur champignon yang kelihatan masih segar, tapi ada satu jamur (diantara 12 yang lain), yang sedikit lebih hitam dan terdapat bercak kecil. Langsung saja satu bungkus dibuangnya. Aku mengeluh bukan main. Kupunguti jamur itu sambil menangis di dalam hati, mengingat dulu aku sering melongo di pasar Batu saking pengennya beli jamur champignon, tapi tak kesampaian karena terlalu mahal.

Tobi (pacarku) pun tak jauh berbeda dengan Nadja (host momku). Makanan apapun, yang pinggirnya sudah terlihat kusam, jelek, langsung dibuang, bukannya dihilangkan sisi jeleknya saja, tapi langsung buang semuanya. Minyak jelantah 1 liter bekas menggoreng tahu, langsung dibuang, tak bersisa. Dalam hati kadang aku nelangsa memikirkan bekas minyak yang mungkin masih bisa aku pakai untuk goreng cabai, trasi atau ikan, karena minyak bekas untuk menggoreng tahu, sebenarnya tak terlalu jelek untuk menggoreng yang lain.

Masalah kebersihan antara orang Jerman dan orang Indonesia masih sangat jauh berbeda. Sebuah restoran di Jerman, sebelum dibuka, mereka (pemilik) harus lolos tahap inspeksi yang meliputi kebersihan, ke sterilan alat masak, bahan yang digunakan, pakaian atau seragam koki, sampai identitas para pekerja, digaji berapa, punya ijin kerja atau nggak, dsb. Tak hanya sampai di situ. Inspektor tersebut suatu kali akan datang ke sebuah restoran dan menyamar menjadi pembeli, lalu mengecek makanan (dibawa ke laboratorium) agar mereka tahu, apakah dalam perkembangan bisnis sebuah restoran itu ada kecurangan dengan mengganti produk yang kurang sehat, tidak sesuai standar, dan menipu pembeli dsb. Para pembeli pun bisa dengan bebas lapor ke pihak berwajib kalau setelah makan di sebuah restoran, mereka sakit perut. Pihak dokter akan mengevakuasi apakah memang sakit perut yang timbul akibat makan di restoran tertentu, atau karena faktor lain. Inspeksi ini tak hanya berlaku di restoran besar, namun juga imbis, warung, catering rumahan, toko kue dan roti, bahkan pabrik-pabrik pemroduksi makanan beku, kaleng dan kemasan.

Kita tilik di Indonesia. Mana ada inspektor mengecek penjaja nasi bungkus. Aku pernah berinisiatif berjualan sambal trasi untuk orang Indonesia di Hamburg, karena saat itu, aku lihat stock import sambel trasi ABC sudah jarang di Toko Indonesia, dan kalaupun ada harganya sangat mahal. Tobi serta merta melarangku dengan alasan dia tak mau aku terlibat inspeksi yang rumit. Aku meyakinkan bahwa aku hanya akan memasarkannya di kalangan teman dan orang Indonesia saja, tak dipasarkan secara luas. Dia bersikukuh agar aku tidak berjualan, karena kalau sampai ketahuan, aku bisa dideportasi. Kalau pun mau berjualan, aku harus menghubungi pihak inspektor makanan itu agar mengecek bahan-bahan yang aku gunakan, lalu mendaftar di pemerintah bahwa aku berjualan agar mendapat surat ijin resmi, dsb. Ahhhh, ribet banget sih. Akhirnya aku yang masih sibuk sama tugas kuliahku pun mengurungkan niat untuk berjualan sambal. 😂

Baca juga: 5 aturan konyol dan tak masuk akal di Jerman

Kadang peraturan di Jerman terkesan menjengkelkan. Di Jerman, makanan selain enak, juga harus hieginis. Mereka bisa makan dua keping roti gandum diisi tomat, timun, dan keju untuk sepanjang siang. Kalau aku, tak akan sanggup kalau tak makan besar dengan nasi dan lauk yang melimpah. Kupikir, mereka kok bisa kenyang, ya?. Tobi sendiri, terbiasa makan hanya dengan merebus penne (mie italia yang bentuknya seperti kepingan pensil kecil-kecil), yang rasanya tawar, hanya dengan saos tomat atau mayonaise. Kalau nggak gitu, dia bakal beli kartofelpuffer (yakni parutan kentang yang digoreng seperti perkedel), lalu dimakan dengan apfelmuss (parutan apel mirip selai). Aduuuh, aku nggak bisa membayangkan betapa datar dan membosankannya hidupku kalau harus makan makanan seperti itu. Huaaa...😓. Kata orang Jerman, makan yang penting sehat, bersih, masalah rasa kan selera orang beda-beda.

Orang Indonesia (termasuk diriku) adalah orang yang paling susah beradaptasi dengan makanan orang barat. Memang kita bisa makan (kadang-kadang) makanan yang didominasi kentang dan keju, tapi aku jamin, kita pasti akan rindu nasi, rindu makanan nikmat yang menggugah selera, rindu keanekaragaman cita rasa nusantara. Orang Jerman? Ada keuntungannya makanan mereka bercita rasa hambar, karena lidah mereka sudah terbiasa dengan makanan yang hambar, sehingga makanan bercita rasa warna-warni seperti makanan Indonesia, Thailand, India, Arab, akan mengejutkan lidah mereka. Jadi lidah merasa dimanjakan, dikejutkan, dan mereka jadi lebih terbuka dengan cita rasa makanan dari negara manapun (termasuk negara mereka sendiri) 😀.

Salah satu kerugian orang Jerman yang terlalu menjaga kehieginisan sebuah makanan adalah saat mereka traveling ke Asia. Satu keluhan yang sering aku dengar dari siapapun (orang Jerman), yang pernah makan di warung di Indonesia atau street food di Thailand, akan mengalami sakit perut luar biasa dan untuk menyesuaikannya, butuh waktu beberapa hari. Enzim perut mereka tak terbiasa akan makanan yang tak terlalu hieginis atau pedas. Jangankan orang Jerman, beberapa teman yang tinggal di Jerman pun juga menuturkan hal yang sama saat kembali mengunjungi Indonesia.

Baca juga: Mengapa harus memberikan Tips kalau makan di Restoran Jerman?

Semoga tips ini memberikan informasi seputar budaya Jerman. Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße
Location: Hamburg, Germany

3 comments:

  1. Hihihi, bener2 higienis ya Mbak. Memang sudah dasarna gitu kjali ya, sampai minyak, makanan jelek sedikit ya buang. Hem.. di sini masih dieman2...

    ReplyDelete
  2. Membiasakan menikmati makanan hambar itu susah banget rasanya ahhahaha.

    ReplyDelete
  3. Miris banget dengan perbedaannya, sama halnya mengabaikan kesehatan ya hehe ..

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers