Tuesday, August 29, 2017

Tarian Dari Aceh Berhasil Menyihir Penonton di Hamburg



Video ini aku ambil saat acara 'Lange Nacht Der Konsulat', Mei 2017 di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hamburg. Sampai saat ini, video ini merupakan video favorit aku. Tarian ini ditampilkan demi memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman di Hamburg. Selain tarian ini, juga ada penampilan dari Gamelan dan tari merak, dan banyak lagi. Sebenarnya durasi tarian ini cukup panjang, tapi bagian yang terakhir lah yang paling aku suka.

Sampai jumpa di info menarik selanjutnya ya.... :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Saturday, August 26, 2017

Farbige Wasserlichtkonzerte: Konser Air Menari di Planten un Blomen Hamburg


Berkunjung ke Hamburg di musim panas? Jangan lewatkan konser air mancur menari di Planten un blomen yang satu ini, ya :)

Di artikel kali ini, aku akan memberi informasi sedikit tentang konser air menari yang aku datangi beberapa hari yang lalu ini.

Farbige Wasserlichkonzerte ini ternyata sudah ada sejak tahun 1938, loh! Musik yang mengiringi konser ini pun bervariasi. Kita bisa lihat jadwal musiknya di website planten un blomen itu sendiri.

Tips untuk ke sana?

Kalau kalian berada di stasiun utama (HBF), naik lah subway di gleis (platform) no 2 (karena kereta di platform no 1, lewat Jungfernstieg). Sekitar 2 menit, kereta itu akan mengantarkan kalian di stasiun Dammtor. Dari sana, carilah exit dengan arah ke Planten un Blomen.

Kebun raya seluas 47 hektar ini memang menyulitkan kita untuk mencari di mana letak konser air menari tersebut berada. Namun, kalian tak perlu khawatir, setelah menemukan pintu masuk, ikuti saja petunjuk jalan ke arah Parksee. 

Kapan konser ini digelar?

Setiap hari di musim panas, dimulai pada tanggal 31 Mei-31 Agustus yang diadakan tiap jam 22.00, lalu pada tanggal 01 September hingga 30 September, diadakan pada pukul 21.00. 
Usahakan datang 1 jam sebelumnya agar bisa mencari spot yang bagus untuk menikmati konser ini.

Biaya MASUK? 

Kabar baiknya, untuk melihat konser ini, kita tak perlu membayar sepeser pun alias gratis :)  

Di bawah ini adalah video konser air mancur menari yang aku upload di youtube. Enjoy :)


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Liebe Grüße

Friday, August 25, 2017

Bagaimana Bisa Sampai Ke Jerman?

Aku datang ke Jerman dengan program Au Pair. Selama satu tahun tinggal di keluarga Austria, aku mendapat banyak sekali pengalaman tentang budaya, terutama adat istiadat Jerman. Cita-citaku datang ke Jerman adalah untuk mewujudkan mimpi -sejak kecil- untuk tinggal dan sekolah di Eropa.  Aku berasal dari Batu-Malang-Jawa Timur, karena itu aku benar benar orang Jawa tulen :D.

Saat menulis ini, aku sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Hamburg. Tentang perjalanan dari au pair sampai kuliah, pasti akan aku ceritakan di artikel lain, di bawah ini, adalah sepenggal kisah sebelum ke Jerman, yang juga belum semuanya aku ceritakan. Tapi semoga sedikit memberi motivasi.


Sebelum datang ke Jerman, aku sudah puluhan kali mencoba berbisnis (berdagang) tapi gagal, menikah tapi gagal, dan kegagalan demi kegalalan itu yang mengantarkanku ke sini. Tak terhitung banyaknya aku berdagang. Dimulai dari kelas 5 SD, aku menjajakan kue ote-ote, jemblem, pisang goreng dan tahu isi keliling kampung, lalu jualan rujak bersama adik tersayang. Kami saat itu tinggal di rumah nenek. Alm. nenekku adalah pedagang jamu keliling. Kalau pagi beliau berjualan jamu, menjelang sore berjualan gorengan.

Pagi-pagi buta, aku membantu nenek berbelanja di pasar batu untuk membuat jamu dan gorengan. Kalau tak membantu, aku tak diberi uang saku. Sepulang sekolah, aku masih harus membantu menumbuk singkong rebus untuk dibuat jemblem, lalu menjajakannya keliling kampung (nenek menjajakan di pasar Batu). Kami membagi teritori agar nenek bisa memproduksi gorengan lebih banyak. Sedikit maupun banyak, aku tetap saja mendapat upah 300 rupiah tiap hari untuk naik angkot ke Beji (les tambahan demi mengikuti olimpiade IPS). Kalau gorenganku tak habis terjual, aku bisa dicambuk sampai babak belur, dan setelahnya harus jalan kaki dari Temas ke Beji, jaraknya sekitar 5 km.

Ketika SMP, aku sempat dibully karena jelek, miskin dan sepatu sering jebol. Di kala itu, mereka yang membullyku tak tahu bahwa sebelum dan sepulang sekolah, aku berjalan menyusuri sepanjang pasar Batu becek mencari warung-warung yang bersedia aku titipi kacang goreng, karenanya sepatu murahan yang dibeli ibu dari toko klontongan di pasar loak itu pun mudah jebol. Selain kacang goreng, aku juga pernah berjualan nata de coco di malam hari (juga di Pasar Batu). Pernah juga selama beberapa bulan berjualan bubur kacang ijo di depan Bank Rinjani, dengan gerobak dorong. Kadang tak laku sama sekali. Kalau pun laku, pembelinya terkadang hanya kasihan melihat wajahku yang memelas duduk di pojokan gapura itu. Akhirnya, karena semakin hari bubur kacang ijo semakin tak laku, aku hanya bertahan dengan jualan kacang goreng saja.

Kemudian saat SMA, aku bekerja selama 2,5 tahun di sebuah wartel dan foto kopi dengan gaji 100 ribu per bulan setiap hari mulai dari sepulang sekolah (pukul 15.00 hingga pukul 21.00). Dari Gaji tersebut yang membuat aku bertahan dan lulus dari SMA.

Dibilang cantik, nggak, pintar dan kaya juga nggak. Betapa malangnya nasib diriku hehehe 😅. Apa yang membuat aku pantas sukses kalau begitu?

Tak ada jaminan orang kaya, pintar dan cantik itu akan selalu sukses, itu yang aku percayai. Bukankah Tuhan Maha Adil? Siapa yang gigih, dia yang akan menuai kesuksesannya sendiri. Lulus SMA, sebenarnya, aku ingin sekali kuliah. Namun, apa daya, keluarga tak punya modal. Lulus SMA saja sudah untung-untung an.

Saat itu, ada sebuah penawaran dari kampus baru, namanya Stimmindo (Sekolah Tinggi Multimedia Indonesia). Penawaran dari pihak kampus adalah dengan kuliah selama satu tahun (D1), kita bisa mendapat jaminan kerja di perusahaan multimedia, dan program D2 (2 tahun), kita bisa dikontrak kerja oleh proyek film kartun Kak Seto di Jakarta.

Lagi-lagi kendala dana membuatku tak bisa memilih keputusan. Aku ingin kuliah saja dan kerja. Karena biaya untuk D1 lebih murah (saat itu biaya masuknya sekitar 2,5 juta), dan jangka waktunya tidak terlalu lama, aku pun memutuskan untuk menempuhnya.

Ternyata semua kesempatan kerja dan proyek yang dijanjikan Stimmindo adalah omong kosong belaka. Setelah lulus, ijazahku itu pun tak diakui oleh perusahaan manapun karena Stimmindo belum ter-akreditasi. Akhirnya aku pun mencoba melamar kerja ke mana pun asalkan tidak terlihat nganggur di rumah.

Aku sempat bekerja di kantor telemarketing kartu kredit di Malang. Tapi mungkin memang bukan bakatku untuk merayu pelanggan, aku hanya bertahan 2 hari saja di sana. Tak ber putus asa, dibantu oleh seorang saudara di Surabaya, aku melamar ke Perusahaan Ekspor Udang di KIG (Kawasan Industri Gresik), nama perusahaannya adalah Indumanis.

Aku jatuh cinta pada Gresik dan semua yang aku temui di sana. Teman-temanku, rekan kerja yang sering membully ku, makanannya, athmosfer keagamaannya, Bakso dan ciloknya, semuanya. Aku seperti menemukan rumahku yang sebenarnya.

Saat itu, aku melihat adanya jarak serta kesenjangan sosial antara pekerja di kawasan KIG dengan pekerja Petrokimia dan Semen Gresik. Pekerja di Petro dan Semen terlihat lebih bergengsi ketimbang pekerja sepertiku di KIG ini. Aku pun ingin sekali bekerja di sana. Sayang sekali, untuk bekerja di kedua perusahaan bonafit itu, minimal harus lulus S1, sedangkan ijazah D1 ku pun tak diakui di perusahaan kecil, apalagi perusahaan tersebut. Aku pun memilih untuk tidak terlalu berharap.

Sebuah keajaiban datang saat di tahun ke tiga aku bekerja di Gresik. Ayahku ingin bertemu denganku di Surabaya dan melihat keadaanku di Gresik. Oh ya, aku ceritakan sedikit background keluargaku:

Orang tuaku sudah cerai sejak aku kelas 6 SD. Ayah adalah seorang pemandu wisata di Bali dan mempunyai pacar orang Perancis (saat itu). Sedangkan ibu sudah menikah lagi dengan seorang lelaki dari Batu Malang -ayah tiriku, seorang supir truk- mereka berdua dikaruniai seorang anak laki-laki, adikku, Daniel. Dengan ayahku yang di Bali, ibu mempunyai satu anak gadis lagi, adik perempuanku, yang cantik (yang membuat aku sering dibully karena dia putih aku item :P), Reni.

Balik lagi ke Gresik. Saat ayah mengunjungiku, dia membawa serta pacarnya, Helene. Mereka berdua terlihat prihatin dengan keadaanku di Gresik yang membuatku semakin kurus dan item (padahal, seperti yang kuceritakan, aku bahagia dengan pekerjaanku, entah kenapa mereka kasihan terhadap orang yang bahagia :D).

Saat makan siang di sebuah restoran, Helene iseng bertanya apakah aku tak punya mimpi selain bekerja di Gresik sebagai penyortir udang. Tentu saja aku punya, tapi aku sadar bahwa buat apalah arti mimpi tinggi-tinggi kalau keadaanku seperti ini. Aku pun tak bisa berharap padanya untuk dibawa ke Prancis. Bapak saja tak bisa dibawanya apalagi aku. Kemudian dia bertanya apakah aku berencana untuk kuliah. Aku mengiyakannya dan bilang kalau sebenarnya aku ingin kuliah. Helene bertanya berapa biaya kuliah di Malang. Aku yang saat itu belum mengecek biayanya, berspekulasi seadanya saja dengan bilang, "Kemungkinan 3 juta untuk biaya masuk, per semesternya, mungkin sekitar sejuta."

Helene begitu terkejut akan nominal yang katanya murah tersebut. Lalu dia menyuruhku untuk daftar kuliah, dia yang akan membiayai per semesternya. Semangatku untuk belajar pun membara.

Aku tak mengetahui bahwa sistem perkuliahan di Indonesia sangat aneh.Yakni setelah lulus lebih dari 3 tahun dari SMA, siswa tidak bisa ikut SMPTN dan masuk Universitas Negeri. Pupus sudah harapanku untuk kuliah di Univ. Brawijaya, UIN Malang, atau UM. Dulu aku sering ikut-ikutan temanku mendaftar di UB dengan harapan suatu saat aku bisa kuliah di sana juga.

Satu-satunya harapanku adalah Univ. Muhammadiyah, karena dekat Batu. Aku ingin mengambil jurusan Bahasa Inggris, terserah entah itu sastra atau pendidikan, yang penting bisa memperbaiki kemampuan Bahasa Inggrisku dan bisa berkomunikasi dengan Helene dengan lebih baik. Setelah mencari tahu sana sini tentang UnMu, aku semakin putus asa. Karena biaya masuk Universitas swasta tersebut sangatlah mahal (kalau nggak salah saat itu 8 atau 10 juta, sedangkan aku bilang Helene hanya 3 juta). Pilihan berikutnya adalah Universitas Merdeka. Namun, saat itu, Unmer belum punya program S1 untuk jurusan bahasa inggris, hanya D3. Kemudian, aku menemukan satu-satunya Universitas dengan biaya terjangkau, tapi jauhnya minta ampun dari Batu, yakni Universitas Kanjuruhan. Biaya daftar masuknya pun tepat seperti yang aku utarakan ke Helene, kurang lebih 3 juta saat itu.

Singkat cerita, aku pun kuliah di Universitas Kanjuruhan. Ternyata, kehidupan kuliah sangatlah berat bagiku. Aku punya sedikit tabungan dari bekerja di Gresik yang langsung habis di semester pertama, karena aku harus PP Batu-Malang setiap hari (kurang lebih 48 km) dengan sepeda motor.

Aku memutuskan untuk mengambil kredit sepeda motor Honda Revo saat itu, dengan uang muka tabunganku (kalau nggak salah 2 juta). Helene ternyata hanya mau memberi bantuan tiap semester. Makanya aku harus mencari tambahan sendiri untuk biaya kehidupan sehari-hari. Ayah tiriku tak bisa banyak membantu karena dia dan ibu juga harus membayar setoran untuk truknya tiap hari dan menyekolahkan kedua adikku. Ayah kandungku tak tahu menahu kalau aku kredit sepeda motor. Tapi aku bilang kalau aku butuh uang untuk hidup selama kuliah. Kemudian ayahku menyetujui untuk mengirimkan uang sebesar 500 ribu rupiah setiap bulan. Biaya kredit motor selama 3 tahun terselamatkan.Tapi bagaimana dengan biaya kuliah, buku, bensin, dan tugas-tugas selama 4 tahun itu?

Kredit motorku saat itu adalah 420 ribu. Ayah mengirimiku uang 500 ribu per bulan. Sisanya 80 ribu. Dengan 80 tersebut aku harus bertahan tiap bulan. Itulah alasanku mengapa aku tidak ngekos di Malang dan tinggal di Batu, karena: pertama, aku bisa punya motor, kedua, aku bisa kerja sambilan di Batu, ketiga, aku tak punya sisa uang untuk biaya kos dan cicilan sepeda motor tiap bulan.

Di Batu, setiap pulang kuliah, aku kerja di BNS (Batu Night Spectacular) sebagai penjaga sebuah stand pulsa dan aksesoris hp, dan dibayar 10 ribu tiap kali datang. Dengan 10 ribu tersebut, aku membeli bensin pulang pergi Batu-Malang.

Tuhan rupanya punya rencana sendiri mengapa aku dibiarkan merugi kuliiah di Stimmindo. Rupanya aku juga tak serugi itu. Aku dapat ilmu tentang editing, photoshop dan corel draw, yang bisa aku manfaatkan selama aku kuliah itu.

Tiap minggunya, entah dari mana datangnya, aku mendapat order pembuatan banner, spanduk, editing foto dari tetangga dan warung-warung di sekitar Pasar Batu. Aku mengeditnya dari komputer Daniel dan membawanya ke Malang (kalau aku pergi kuliah) untuk dicetak. Aku juga menerima orderan pembuatan mug, kaos, dan foto ulang tahun. Semua yang aku pelajari selama di Stimmindo ternyata ada gunanya juga. Dari orderan tersebut, aku bertahan hidup dan bisa membeli jajan atau makan selama di kampus, serta bisa fotokopi, nge-print, dan membeli buku.

Ternyata, hidup tak semudah rencanaku. Di semester kedua, aku sering cek cok dengan ayahku di Bali, Helene pun tak mau mengirimiku uang untuk semester kedua. Akhirnya aku memutuskan untuk terminal dan bekerja sebagai graphic designer di sebuah perusahaan percetakan di Malang. Beberapa teman kuliahku sangat kecewa. Mereka silih berganti membujukku untuk kembali ke kampus dan mengurungkan niatku untuk terminal.

Dua bulan setelah bekerja di percetakan, aku merubah niatku untuk kembali ke kampus. Tapi ternyata pihak kampus tak mau menerima pembayaran semesterku yang telat itu. Aku menghubungi pihak dekan bersama salah satu dosen dan beberapa teman. Tau apa katanya? "Saya tidak tahu menahu dan tidak bisa membantu, kalau anda tidak bayar tepat waktu, resikonya adalah D-O alias Drop Out!"

Aku menangis tersedu-sedu. Beliau tak tahu bahwa aku telah mengumpulkan uang dan behutang sana sini demi membayar kuliahku ini. Tak berputus asa, aku tetap ikut kuliah seperti biasa dan semua nilaiku di semester kedua tak bisa diakses karena aku tidak terdaftar alias terminal di semester tersebut. Masalah ini, ternyata bisa aku atasi dengan menghubungi masing-masing dosen dan mereka berkenan memasukkan nilaiku.

Semester ketiga, rupanya Helene mau membantuku kembali sehingga aku bisa sedikit bernafas. Tapi, aku harus melunasi hutang-hutangku yang menumpuk untuk membayar semester 2. Akhirnya, aku cuti kerja di BNS dan pergi ke Situbondo untuk membantu paman berdagang stroberi keliling. Paman membutuhkan tenagaku untuk berjaga di sebuah mall di Situbondo sementara dia keliling menjajakan stroberi di sebuah karnaval. Kadang sebaliknya, aku yang harus berpanas-panas keliling menjajakan stroberi kepada para penonton karnaval.

Paman yang menjanjikan gaji satu juta satu bulan saat itu, ternyata mengalami kerugian, sehingga aku hanya digaji 300 ribu untuk jerih payahku selama liburan. Hutang-hutangku belum terbayar juga. Tapi Tuhan punya tangan kepanjangan lain. Saat masuk kuliah, ketua kelas membutuhkan perwakilan kelas untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris. Entah mengapa tak ada yang mau, sehingga aku harus ditunjuk. Aku tak punya banyak persiapan untuk lomba itu, tapi bisa menjuarai dan berhasil mengantongi uang 500 ribu dari pihak kampus.

Hutangku masih belum sepenuhnya lunas. Tapi di semester 3 tersebut, aku mempunyai satu pencerahan, untuk dua semester ke depan, yakni beasiswa bebas uang semester dan uang saku sebesar 1 juta per-semester selama satu tahun. Yang artinya, aku tak harus mengemis kepada Helene selama semester 4 dan 5, dan masih terus bekerja keras mengumpulkan uang untuk semester 6, 7, dan 8. Dari sisa beasiswa itu, aku bisa membayar hutang-hutangku kepada teman-teman.

Di semester 6, cicilan sepeda motorku lunas dan aku jadi bisa mengumpulkan uang yang dikirimkan ayah tiap bulan (500 ribu) untuk membayar biaya semester. Suatu hari, ayah mengunjungiku ke Malang lagi dan menemukan fakta bahwa aku mempunyai sepeda motor Revo (yang masih terlihat baru) dari uang-uang yang selama ini dikirimkannya padaku. Dia mengklaim bahwa itu adalah motornya.

Ayah tiriku pernah bilang bahwa kuliahku bukan tanggung jawabnya, dia juga tak bertanggung jawab atas cicilan motor. Dan memang selama aku kuliah dan mencicil motor itu, sepeser pun dia tidak pernah membantu. Hanya kadang memberiku 5000 rupiah untuk uang bensin. Aku sangat berterima kasih kepadanya, dan bisa mengerti keadaan dan kekurangannya. Dia juga harus menghidupi keluargaku (memberi makan aku dan Reni yang sebenarnya bukan darah dagingnya). Namun, ini ayah kandungku yang membantuku selama 3 tahun dengan memberi uang 500 ribu perbulan dan mengklaim bahwa itu motor miliknya? Bagaimana perasaanku waktu itu? Bagaimana mungkin dia tidak berpikir bahwa aku hanya hidup dari sisa 80 ribu yang dikirimkannya, dan bagaimana bisa semua itu cukup untuk hidup? Yang kuinginkan hanyalah sebuah kebanggaan bahwa aku bisa mengatur uang yang sedikit dan jungkir balik mengaturnya sehingga motor bisa lunas dan aku tetap bisa kuliah. Bukan kebanggaan yang aku dapat, malah sakit hati.

Selama 4 tahun aku kuliah, ayah tak pernah menanyakan satu kali pun apakah aku dapat nilai bagus atau lulus ujian atau apapun seputar kuliah, acap kali mengirimkan uang pun dengan harus bertengkar terlebih dahulu. Saat itu, hanya ibu dan teman-temanku yang menguatkan aku. Masalah dengan ayah dan kunjungannya ke Batu saat itu, meski agak pelik dan menguras air mata, bisa aku atasi dan memberinya sedikit pengertian tentang keadaanku.

Di Semester 7, aku mulai dihadapkan dengan penulisan skripsi, di saat itulah, aku menemukan cara untuk menggapai mimpiku ke Eropa, mimpi yang selama ini bercokol dalam hatiku. Di semester ini pun, atas jasa Reni (adikku), kami membuka les privat murah untuk anak-anak SD di sekitar rumah yang kesulitan mengerjakan PR. Sepulang kuliah, aku dan Reni, terkadang teman gerejanya, memberikan les privat kepada lebih dari 20 orang. Ada dari mereka yang membayar 1000, ada yang 2000, ada yang tak membayar sama sekali. Uang-uang itu untuk membeli boardmarker dan kalau sisa, oleh Reni diberikan padaku untuk membeli bensin dan biaya penelitian (skripsi), ngeprint, dsb. Ayahku yang tahu kalau aku tak mencicil motor lagi, mulai jarang-jarang mengirimiku uang. Tapi aku tak pernah kekurangan.

Saat aku sudah memutuskan untuk ke Jerman, motor Revo yang kunamai Shahrukh Khan itu kujual untuk uang saku berangkat ke Jerman.

Perjuangan sebelum berangkat ke Jerman yang hanya sepenggal ini belum 100% aku ceritakan. Sisanya, sebenarnya sudah aku tuliskan di kisah 'Sebelum ke Jerman'. Semoga aku punya waktu untuk menceritakan perjuanganku mulai au pair sampai kuliah di Jerman.

Dari semester 6 sampai ke Jerman, bisa kalian baca perjuanganku dari: semua berawal dari patah hati

Semoga apa yang aku ceritakan kali ini bisa diambil hikmahnya, dan memberi sedikit semangat kepada kalian semua yang saat ini sedang berputus asa dalam menggapai mimpi. Kalian tak sendiri. Mimpiku pun belum sepenuhnya terwujud, tapi setidaknya aku sudah menggapai salah satu diantaranya, yakni tinggal di Eropa. Mimpiku yang lainnya sebenarnya adalah membangun sebuah sekolah bahasa gratis (Jerman dan Inggris) untuk anak-anak yang tidak mampu di Indonesia dan rumah sosial anti diskriminasi untuk penyandang cacat, terutama anak-anak dan pemuda dengan penderita cacat fisik dan mental. Doakan semoga cepat terwujud ya :)

Sampai berjumpa lagi di cerita menarik selanjutnya.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Wednesday, August 16, 2017

Mimpi Ke Jerman: Cinta Itu...Datangnya Tak Pernah Salah Waktu, Apalagi Salah Kamar!

Aku ini penggemar berat cerita Chicken Soup for the Teenager Soul. Tak mengherankan juga kalau aku suka tergila-gila pada kisah unik, menarik dan inspiratif dari orang-orang yang kukenal, atau yang tak kukenal, dari motivator atau ulama misalnya. Selama kisah itu memberikan inspirasi, motivasi, dan berkesan, pasti akan selalu menancap di otak. Seperti kisah yang akan aku ceritakan kali ini.

Aku punya sahabat yang berasal dari Medan. Meski kadang menjengkelkan karena wataknya yang keras, hatinya lembut dan penyabar. Bisa kubilang dia seorang yang agamis, karena tiap minggu dia ke gereja dan aktif dalam acara kebaktian. Suatu ketika, karena sebuah kecelakaan yang mematahkan lengan kanannya, aku disuruh bantu-bantu membersihkan rumahnya, yang bayar gajiku adalah pihak asuransi.

Baca juga: Mengapa saat sakit di Jerman, kita tak perlu pusing-pusing membersihkan rumah?

Yang aku suka dari temanku itu, dia senang berbagi kisah-kisah yang inspiratif, sama denganku. Dia sudah lebih dari 14 tahun tinggal di Jerman, menikah dengan orang Jerman, dan bekerja di tengah-tengah orang Jerman. Jadi bersamanya, aku lebih sering jadi orang yang haus akan ilmu dan cerita, dia juga penasehat yang baik. Meski kadang dia seperti radio rusak, ngoceh tanpa henti, aku rela saja jadi pendengar yang setia. Aku suka kebijakannya memandang sebuah masalah, tak sepertiku yang selalu saja sembrono dan gegabah dalam berkeputusan.

Suatu hari, saat aku diminta membantunya merapikan almari, dia bercerita tentang kisah salah satu teman gerejanya. Ini adalah kisah favoritku sepanjang masa, yang hampir kubuat novel saking gilanya aku pada kisah nyata yang mirip drama korea ini. Ceritanya begini:

Sebut saja namanya Maria. Seorang gadis cantik yang merantau ke Jerman meninggalkan Medan sekitar tahun 2007 lalu dengan menjadi au pair. Maria punya harapan yang besar untuk bisa menikah dengan orang Jerman. Banyak alasan yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut, selain karena pria Jerman yang baginya sangat rupawan, dia juga jatuh cinta pada budaya Jerman. Maria ingin tinggal dan menetap di Jerman.

Satu tahun pun berlalu. Tak ada tanda bahwa dia akan punya sosok suami orang Jerman. Tak putus asa, dia pun tetap bertahan di Jerman dengan beralih profesi menjadi FSJ. Kejadian memilukan menimpa Maria ketika dia jadi FSJ. Ayahnya sang tulang punggung keluarga meninggal. Kini ibunya harus mengambil alih tanggung jawab keluarga dan Maria pun tergerak untuk membantu menyekolahkan ke 5 adiknya.

Selama 2,5 tahun dia tinggal di Jerman, kesibukannya hanya diisi oleh bekerja dan bekerja sambilan. Karena dia merasa tanggung jawabnya membantu keluarga amatlah besar. Tak terasa, waktu berlalu meninggalkannya yang sendiri dan kesepian di Jerman. Ia pun sebenarnya selalu ingat untuk mencari jodoh. Tapi Maria tak percaya pada biro jodoh. Dia rajin datang ke gereja. Hadir ke acara kumpul jemaat dan kebaktian, serta memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kalau sudah jodoh, tak akan lari kemana, pikirnya.

Tiba saatnya dia harus mengakhiri kegiatan FSJnya. Ia tak mau pulang, karena ia sadar, lulusan SMA, merantau ke Jerman, lalu pulang setelah FSJ, akan sama saja dengan sama sekali tak ke Jerman. Akhirnya, dia pun mengambil alternativ untuk sekolah sambil kerja di bidang kesehatan (Ausbildung). Selama 3 tahun, dia mendapat banyak pelajaran yang bisa dia petik dari pendidikan itu. Selama itu, lebih dari 5 tahun dia tinggal di Jerman. Sayangnya, tanda-tanda penampakan pangeran berkuda putih itu belum muncul. Dia pun sedikit geram dan akhirnya berusaha mencoba peruntungan lewat biro jodoh (dating sites).

Bukannya pria baik-baik yang dia dapat, malah pria Jerman yang hanya tertarik pada fisiknya saja yang ingin berkenalan. Maria, seperti namanya, adalah seorang gadis baik yang menjaga kesuciannya. Setelah bertemu beberapa pria brengsek, Maria akhirnya kapok dan tak mau lagi berurusan dengan dating sites. Dia pun pasrah dan tetap percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuknya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu. Maria cemas. Terlebih ketika dia hampir 6 tahun tinggal di Jerman, sudah lulus program Ausbildung dan mencoba melamar kerja ke sana kemari, tapi tak ada yang cocok. Akhirnya, karena suatu keadaan yang sangat mendesak, maria terpaksa harus dipulangkan ke Indonesia. Tabungannya habis, dan dia semakin putus asa serta skeptic akan masa depannya di Indonesia. Untuk daftar di Universitas di Jerman, dia membutuhkan sebuah jaminan, atau paling tidak uang sebesar 8000 euro, yang mana sangat mustahil ia dapatkan. Selama ini, uangnya selalu ia gunakan untuk membantu keluarganya di Indonesia.

"Aku masih ingat tangisnya, Rin!" kata temanku menceritakan kisah Maria. "Di depan kami, di depan jemaat gereja itu dia berlinang air mata. Esok harinya dia harus pulang. Dia minta supaya kami mendoakan masa depannya. Agar dia didekatkan jodohnya, agar dia dapat pekerjaan di Indonesia. Aku tahu benar dia terisak-isak dan sebenarnya tak mau pulang ke Indonesia. Tapi apa daya, Rin. Kami juga tak bisa membantunya. Oh, kasihan anak itu."

Aku menunggu kelanjutan kisah itu sambil terus melipat-lipat baju temanku itu.

"Tahu nggak, Rin! Sebuah keajaiban terjadi!"

"Keajaiban?" kataku sambil melongo menoleh kepadanya, seperti anak anjing menunggu majikannya memberinya makan.

"Iya, keajaiban! Coba tebak, apa?"

Kali ini aku benci sekali pada temanku itu. Aku yang sudah penasaran itu malah dibuat semakin penasaran karena diajakin main tebak-tebakan.

"Udah ah, langsung cerita saja!"

"Ihh, nggak mau! Ayo tebak!"

Aku menggerutu dan bilang, "Ya sudah, kalau gitu kasih clue, apa keajaibannya."

"Si Maria itu akhirnya bertemu dengan pujaan hati, suaminya yang sangat baik hati dan rupawan!"

"Nah, itu sudah kamu jawab sendiri keajaibannya, aku nggak perlu menebak lagi, donk?"

"Tebak lah, di mana si Maria bertemu lelaki itu?"

Yah mana gue tau. Kali itu, ingin rasanya aku melempar pakaian-pakaian temanku yang sudah aku lipat itu keluar jendela agar dia tahu betapa gusarnya aku menunggunya membocorkan tempat di mana si Maria bertemu suaminya. Akhirnya, asal ceplos, aku jawab, "Di Indonesia?"

"Salah"

"Di Jerman?"

"Bisa jadi"

"Iiiihhhh, kamu ngeselin banget sih. Cepetan kasih tau di mana! Kalau nggak aku buang nih baju-baju kamu keluar jendela!"

"Oke...oke.... Jadi begini, Rin! Tuhan memang selalu punya rencana indah dibalik semua ujian yang menimpa kita. Semalam suntuk Maria menangisi kepulangannya. Di Bandara dia tak tega untuk pulang dan berpikir bahwa dia tak akan bisa kembali lagi ke Jerman. Nggak taunya, di dalam pesawat, Rin! Ada seorang pemuda bule yang kebetulan duduk di sebelah dia."

"Itu suaminya?" selaku.

"Ih, tunggu dulu sampai aku selesai cerita, napa?" temanku memang tak suka pembicaraannya dipotong, terlebih kalau sudah cerita hal yang seru. Lalu lanjutnya, "Bule yang duduk di samping Maria itu memang aneh. Saat itu adalah pertama kali penerbangannya ke Indonesia. Dia tak tahu mengapa dia ingin sekali pergi ke Indonesia. Dia hanya pernah sekali melihat berita tentang Jakarta di layar kaca, tentang macet dan demo, tapi tak tahu mengapa hatinya sangat tergerak untuk terbang ke Jakarta. Nah, Tuhan rupanya sudah merancang pertemuan mereka, TEPAT di saat Maria sangat putus-asa."

Aku masih terus saja mendengarkan cerita temanku itu. Kali ini kuhentikan sejenak aktifitas melipat-lipat kolor di tanganku. Kelanjutan kisah Maria bisa aku uraikan seperti ini:

Pemuda itu, karena bosan duduk di pesawat, mencoba menyapa Maria dan bertanya dari mana dia berasal. Saat itu, Maria memang kelihatan sangat sedih dan putus asa. Tapi aura kecantikannya mampu menyihir sang pria hingga dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat tahu Maria berasal dari Indonesia, di penerbangan menuju Dubai itu, sebut saja namanya Nico, langsung bersemangat dan cerita bahwa dia juga mau ke Indonesia. Maria pun juga akhirnya sedikit bersemangat dan sepanjang penerbangan Dubai-Jakarta (kebetulan lagi, pesawat mereka sama, hanya tempat duduk yang terpisah bisa mereka atur sehingga mereka kembali duduk bersama), Maria dan Nico tak henti-hentinya cerita. Tentang Nico yang tiba-tiba terilhami untuk ke Jakarta, tentang Maria dan kehidupannya di Jerman, dsb.

Begitulah, akhirnya, Nico, sejak pertemuan pertama itu, tak ingin satu hari pun terpisah dari Maria. Begitu pun sebaliknya. Kini, mereka telah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu. Mereka tinggal di Jerman. Oleh pemuda tampan itu, Maria tak hanya dinikahi, tapi semua adiknya disekolahkan, keluarganya dibantu, dan kehidupan Maria terpulihkan.

Kisah ini seperti di dalam dongeng saja. Tapi benar-benar nyata. Temanku tak pernah menyangka seajaib itu kisah cinta mereka. Saat acara pernikahan diselenggarakan di Jerman, temanku pun datang dan kepada para jemaat, Maria (sekali lagi) dengan berlinang air mata, bersaksi akan kisah cintanya dengan Nico yang terjadi seperti sebuah mukjizat.

Bayangkan kalau Maria tak harus kembali ke Indonesia, pasti dia tak akan bertemu Nico di pesawat itu. Ah, cinta memang selalu datang tepat pada waktunya, cinta tak pernah salah waktu, apalagi salah kamar 😁.

Kisah ini, adalah paling menginsiprasiku di sepanjang tahun 2016. Tentu saja, aku tak kenal dengan temannya temanku itu. Nama Nico dan Maria pun aku rekayasa. Meski alurnya si wanita sendiri yang paling tahu,  tapi kisah cinta mereka asli dan semoga kalian juga terilhami olehnya. (Terutama para jomblo yang sedang patah hati atau patah semangat, 😅)

Baca juga kisah inspiratif 'frische Luft' lainnya: Kisah Ratu Cempreng!

Salam

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Cara Hidup Hemat di Jerman

Hai balik lagi dengan aku Alvita di sini. Kali ini aku mau sharing tentang hal-hal bermanfaat yang aku rasakan selama tinggal di kota Hamburg, khususnya menyangkut biaya sehari-hari. 

Baca juga: 8 Hal Yang Mahal di Indonesia, tapi murah di Jerman!

Bisa dibilang, selama tinggal di sini aku bisa banget berhemat loh dibandingkan waktu tinggal di Jakarta. Waktu tinggal di Jakarta, dikarenakan budaya kita yang doyan hangout alias nongkrong, sering banget makan dan belanja di luar. Memang pada dasarnya biaya hidup di sini kalo dibandingkan dengan Indonesia jelas di sini lebih mahal dan sebagai FSJ (Freiwiliges Soziales Jahr) atau sukarelawan, kita akan dibayar pas-pasan untuk biaya makan, tempat tinggal, dan transportasi. Setelah beberapa bulan tinggal di Hamburg, aku menemukan banyak cara hidup hemat, sehingga pendapatan yang pas-pasan tadi bisa aku tabung. Yuk disimak caranya!

Masak di Rumah

Mengenai hal ini pasti sebagian besar dari kalian juga udah ngerti. Masak sendiri di rumah memang membuat perbedaan besar dalam urusan kantong dengan makan atau jajan di luar. Kenapa? karena harga-harga di supermarket jauh lebih murah dengan harga restaurant maupun imbiss (sebutan warung makanan di Jerman). Contohnya, beli pizza di warung sini seharga 2 Euro cuma dapat 1  potong segitiga begitu, sedangkan dengan harga yang sama, dari supermarket kita bisa dapat adonan pizza 1 loyang plus saus tomatnya, tinggal ditambah topping (malah bisa kreasi sendiri toppingnya) seperti daging/sayur yang juga ga mahal. Atau ada juga pizza instan yang dibekukan, jadi tinggal dipanaskan dalam oven, harganya berkisar antara 2-4 Euro. Dan buat yang ga bisa makan tanpa nasi, dengan harga 2 Euro tersebut bisa kalian belikan beras 1 kg di sini hehe

Coba kalau kita beli bihun goreng seperti ini di restoran? Patokan harga di Hamburg (non mittagtisch) adalah 7,5 euro.  Sedangkan kalau masak sendiri, beli bihun, cuma 45 sen dan udang 9 euro dapat sekilo bisa dipakai berkali-kali sesuai kebutuhan.


Zu Verschenken = Give Away = Bagi-Bagi Gratis

Tips selanjutnya adalah ikutan grup yang suka kasih barang secara cuma-cuma. Awalnya aku menemukan grup di facebook yang bernama "Free Your Stuff Hamburg". Di dalamnya banyak member grup yang posting untuk kasih barang atau cari barang GRATIS! dan barang-barang yang dikasih juga ga cuma barang kecil, ada banyak yang kasih peralatan rumah tangga seperti sofa, meja, bangku, lemari, Handphone, baju, aksesoris, dsb. Iya kamu ga salah baca! Enaknya lagi itu khusus kota aku, jadi aku tinggal jemput aja barangnya.  


Aku pikir "Waahh orang sini baik hati banget yah, kalo di Indonesia mana ada yang mau bagi-bagi gratis, yang ada dijual". Kalo ada yang posting mau kasih barang, tinggal kirim pesan ke orangnya, terus diskusi deh apakah barangnya mau dijemput sendiri atau dikirim. 

Ternyata kalo udah nemu 1 grup bakalan nemu lagi grup lain yang mirip-mirip. Aku sendiri udah gabung sama 2 grup macam ini. Cuma karena gratisan, biasanya rebutan sama member lain sih, siapa cepat dia dapat. Kemudian di Ebay Kleinanzeigen (iklan kecil Ebay) juga ada bagian yang bernama "Zu Verschenken" nah itu sama aja, cuma tentunya kita harus punya account Ebay biar bisa kirim pesan. Kota pencarian barang pun bisa di sortir sesuai kota kita tinggal.
screenshoot dari app ebaykleinazeigen yang bisa didownload di smart phone. Gambar ini hanyalah khusus barang-barang yang diberikan secara cuma-cuma alias zu verschenken.


Memburu Makanan Gratis

Nah kalo ini mirip dengan tips di atas, karena menemukan grup-grup tadi maka ketemu juga lah grup ini. Cuma bedanya grup ini khusus bagi-bagi makanan dan minuman aja. Malah ada yang suka bagi makanan di garasinya secara rutin loh 3 kali seminggu. Jadi, dulu aku rutin datang dan ga perlu belanja sama sekali. 


Orang yang suka membagikan makanan ini kebetulan seorang ibu rumah tangga yang suka "menyelamatkan" makanan sisa dari supermarket atau toko, bahkan dari kantin sekolah anaknya. Soal pentingnya "menyelamatkan makanan" di Jerman akan aku bahas di artikel blog selanjutnya. Selain grup Facebook, ada juga website resmi bernama "Food Sharing" dimana kita bisa bikin account dan cari orang yang mau kasih makanan sesuai lokasi yang kita mau.


Belanja di Pasar Loak


Flohmarkt adalah bahasa jerman dari Flea Market alias pasar loak. Di pasar loak, banyak orang yang buka gerai dan biasanya menjual barang bekas dengan harga miring, kadang bisa nawar juga (walaupun ga se-gila di Indonesia sih nawarnya :p). Kelebihannya Flohmarkt di sini itu kita bisa membeli barang-barang bermerek asli dengan harga murah, secara di sini barang palsu tidak diijinkan masuk. Flohmarkt ini biasanya diadakan pada periode tertentu, ada yang cuma beberapa hari atau setiap sabtu-minggu.


Nongkrong Murah


Mau nongkrong tapi lagi irit? Di sini, kita bisa piknik dengan nyaman, memang di Indonesia juga bisa sih tapi entah kenapa banyak orang lebih memilih ke mall mungkin karena tamannya dikit dan cuacanya panas😀. Tapi kalo piknik di sini masih banyak penggemarnya (jika cuaca cerah), menurut aku karena di sini banyak taman umum yang bersih, nyaman, dan aman. Terus kita tinggal bawa makanan dari rumah deh yang pasti lebih hemat daripada jajan di luar. 




Atau kita juga bisa cuma duduk-duduk aja di rumput, menikmati matahari, udara bersih, baca buku. Bahkan saat musim panas, banyak yang cuma berjemur dengan pakaian dalam/bikini. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah mengunjungi atau mengundang teman datang. Biasanya acara yang berlangsung yaitu masak-masak, nonton bareng, atau sekedar ngobrol haha. Untuk yang suka pergi Clubbing, di Hamburg punya banyak Club gratis loh, tinggal masuk dan joget ;)


Public Event


Hamburg mempunyai cukup banyak acara rakyat dengan harga murah sampai gratis. Ini bisa jadi acara nongkrong bersama teman maupun sendiri. Contohnya yaitu "Lange Nacht der Museen" (Malam panjang untuk museum-museum), untuk ikutan kita tinggal bayar 10 Euro dan bisa mengunjungi hampir semua museum di Hamburg yang jumlahnya banyak banget. Biasanya 10 Euro itu harga masuk 1 museum. 


Terkadang tempat-tempat atraksi turis juga suka terbuka untuk umum. Ada gedung Elbphilharmonie, gedung untuk konser musik dimana kita bisa naik gratis ke atas dan lihat pemandangan Hamburg dari atas. 

Baca juga: Elbphilharmonie Hamburg

Atau museum miniatur yang mengijinkan orang-orang yang "tidak mampu" untuk masuk gratis, kenapa di tanda kutip? Karena peraturannya cuma berbunyi kira-kira begini "Jika anda tidak mampu membayar, cukup bilang ke kasir dan anda boleh masuk gratis". Dan itu beneran aku coba bersama teman-temanku, walaupun sebenarnya kami mampu, tapi kami dikasih masuk tanpa diminta bukti ketidakmampuan kami. Tapi aku kurang tahu apakah itu berlaku selamanya atau hanya Periode tertentu.

Jadi aku rasa tinggal di Jerman bisa hemat kok kalau kita tahu celah-celahnya dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Semoga tulisanku kali ini bermanfaat untuk kalian.

Baca juga artikel menarik lain yang aku tulis: Pengalaman memalukan saat jadi au pair di Jerman

Sekian!

Sunday, August 13, 2017

Mimpi Ke Jerman: Kisah Ratu Cempreng

"Mbak, kamu tuh wanita hebat! Aku kalau mendengar kisah-kisah kamu, diriku serasa menjadi butiran debu, ih! Tak ada apa apanya dibandingin kamu, aku beruntung sekali, mbak kenal kamu!"



Aku sering sekali membenci kata-kata sahabatku yang satu ini. Dia selalu saja seperti ini setelah kita bercerita ngalor ngidul tentang kehidupan dan penderitaan kita saat tinggal di Jerman, termasuk patah hati dan sulitnya bertahan untuk tidak patah arang di negara yang orang-orangnya serba gesit ini.

Semua kata-katanya salah. Salah besar.

Namanya Ratu. Sebut saja begitu. Kalau kalian bertemu dengannya pertama kali, dia pasti bilang dengan endelnya, "Hallo, nama aku Queen!! atau " Hallo, ich heiße Königin!" (yang artinya memang "Hallo, nama aku Ratu").

Dia selalu bilang bahwa kami ketemu pertama kali di pantai palsu Övelgönne, padahal dua minggu sebelumnya, saat berkunjung ke apartemen Astri, dia datang bersama Aldy dan sudah cerita ngalor ngidul tentang kegiatan FSJ dan pacarnya. Saat itu aku berpikir, "Nih cewek, udah suaranya cempreng, banyak omong pula! Mimpi apa aku semalam bisa kenal cewek cempreng ini?"

Tak ada kesan mendalam selain ke-cemprengan suaranya saat pertama kali bertemu. Tak kusangka, kita bisa jadi sahabat dekat. Terima kasih, Astri.

Baca kisah tentang Astri: Mimpi Kartini Masa Kini

Ratu adalah gadis yang sama keras kepalanya denganku, sama-sama ingin mempertahankan pendapatnya kalau berdebat, sama-sama tak ingin tersisih. Tapi kami juga sama-sama penyayang, sama-sama manja, sama-sama supel (kurasa dia lebih supel), dan sama-sama sering sok pinter!

Aku percaya pada sebuah kata-kata bahwa kadang wanita yang terlalu kuat itu adalah wanita yang selalu bisa tersenyum padahal hatinya diliputi duka.

Ratu adalah salah satu diantaranya. Jika kalian kenal dia dan ngobrol bareng-bareng, kalian tak akan pernah menyangka bahwa Ratu adalah gadis remaja umur 19 tahun (saat aku kenal dia pertama kali). Karena dari cara bicaranya, dari cara dia mengemukakan pendapatnya, dari pengalaman hidupnya, dia seperti 15 tahun lebih tua dari umurnya. Sering aku menganggap dia lebih tua dariku karena dia lebih tahu soal mengatur hidup di Jerman ketimbang diriku. Tapi seketika aku langsung melihat umurnya yang memang masih 19 tahun saat dia ngeyel ingin nonton konser Bruno Mars, lalu berimajinasi naik ke atas panngung, menciumnya, dan bilang bahwa Bruno Mars lah yang menjadi salah satu alasannya ke Eropa, karena dirinya lah, Ratu sanggup hidup di sini, dia lah yang Ratu nanti-nanti, kemudian si Bruno luluh dan mempersuntingnya menjadi istri. Ah, dia kan memang remaja yang butuh bersenang-senang.

Kata-kata dia yang aku tulis sebagai kata-kata pembuka adalah sebuah ironi. Aku ini sudah lebih tua darinya 9 tahun. Sedangkan beban hidup dan pengalaman serta pelajaran yang diserapnya jauh lebih banyak dari diriku. Aku ini tak ada apa-apanya ketimbang si Ratu cempreng itu.

Ratu, adalah satu dari jutaan wanita yang dengan tidak sengaja (atau kasarnya, dengan terpaksa) menjadi dewasa sebelum umurnya. Cita-citanya jelas: Yakni sekolah di Eropa. Jerman menjadi satu satu negara tujuannya.

Secara singkat bisa kugambarkan kehidupan Ratu sebelum ke Jerman seperti sebuah roller coaster sepanjang 100 meter, 50 meter awalnya naik ke atas, sisanya turun menghujam terbanting, tak terkendali.

Orang tuanya menyiapkan segala sesuatu demi pendidikan Ratu di Jerman. Dia bisa dibilang anak orang berada kala itu. Rumah, mobil, uang, dan segalanya. Les bahasa yang mahal pun tak jadi kendala, asalkan Ratu bisa ke Jerman.

Kehidupan kadang memang seperti sebuah roller coaster, kadang bisa sangat kejam membanting kita tanpa ampun, membuat jantung hampir copot, tapi toh tak menghabisi nyawa kita, malah bikin ketagihan. Di saat sedang jaya-jayanya, bisnis orang tua Ratu ditipu oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Uang investasi para tetangga, karyawan kantor tempat ayahnya bekerja yang kalau dihitung bisa mencapai 3 milyar jumlahnya, pun turut dibawa kabur.

Keluarga Ratu kocar-kacir. Ratu hanya bisa diam saat kalung emas, anting, dan semua tabungannya turut disita bank. Dia tak henti-hentinya menangis melihat orang tuanya yang jadi bahan hinaan karena dituduh menggelapkan uang. Padahal mereka semua tahu, bahwa orang tuanya pun adalah korban. Bagi Ratu, tak apa kehilangan perhiasan atau tabungannya, tapi harkat martabat orang tuanya yang runtuh itu lebih membuat hatinya teriris-iris.

Seperti yang aku bilang, apapun yang tak membunuh kita, malah menjadikan kita lebih kuat. Ratu yang saat itu sebenarnya sudah siap berangkat ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan bahasa demi persiapan ke Universitas, harus banting stir menjadi Au Pair dulu. Harus rela menangis sepanjang malam karena rindu ibu bapak di rumah, harus bersedia tinggal di rumah sebuah keluarga asing, dan pindah-pindah keluarga karena tak krasan.

Bisa apa diriku kalau jadi Ratu? Umurnya masih 17 kala itu. Cobaan berat yang bertubi-tubi mengangkat dia menjadi wanita yang super duper tangguh seperti tempaan baja yang tak akan melepuh didera api 1000 derajat sekalipun. Lalu dia bilang, aku ini wanita yang lebih kuat darinya, memangnya dia Cleopatra? Atau Dewi Kwan Im?. Mungkin Cleopatra pantas untuk namanya. :D

Kita ini adalah bentuk dari pengalaman kita di masa lalu (Ayu Ashari). Sama seperti saat aku melihat Ratu. Siapa yang menyangka, dia yang senyum sana senyum sini, tebar cerita lucu tentang si Anu dan tentang si Ani, adalah sebuah jiwa wanita perkasa yang luar biasa tangguh. Dia menebarkan keceriaan, padahal hatinya sendiri hampir hancur. Sedangkan aku di umur dia dulu, masih sering mau-maunya dibodohi pacarku yang ternyata tukang 'jajan' dan selingkuh.

Tak banyak anak muda yang rela merubah hidupnya, dari yang serba berkecukupan, dari yang di rumahnya dilayani seorang pembantu, menjadi seorang yang rela jadi seperti pembantu demi sebuah cita-cita. Meski Ratu adalah anak bungsu, dia bersedia membantu kakak-kakaknya untuk lanjut kuliah. Sedangkan dia di Jerman menunda kuliahnya, dan bekerja membanting tulang untuk hidupnya dan pemulihan hidup keluarganya di Indonesia.

Tiga tahun lebih dia di Jerman, dia bisa mencicil membeli rumah yang baru untuk ditinggali ibu bapaknya. Rumah mereka yang lama harus disita, tiap bulan selama 10 tahun ke depan, bapaknya harus rela kerja suka rela karena gajinya, secara otomatis akan diserahkan kepada para investor yang merasa ditipu. Parahnya, secara tidak profesional, kepala divisi tempat ayahnya bekerja menurunkan jabatan sang ayah, dari Teknisi menjadi tukang kebun, karena urusan pribadi dan karena dianggap ayahnya sudah menipu karyawan. Padahal sekali lagi, orang tuanya hanyalah korban. Pihak yang membawa kabur uang mereka ke Singapura itulah pelakunya. Orang tuanya pun berinvestasi, uang mereka pun juga dibawa lari. Mengapa mereka yang harus menanggung semua ini?

"Ibu aku mbak, beliau adalah seorang motivator yang luar biasa. Makanya, ibu masih bisa bertahan. Orang yang kehilangan uang 3 milyar bisa gila, lo, mbak! Tapi orang tuaku adalah orang tua yang beriman, mbak. Aku salut sama mereka. Makanya tekatku, tak apa aku hidup susah di Jerman. Toh, ini mimpiku juga. Hidup di Eropa adalah impian banyak orang dan aku hidup dalam mimpi mereka. Meskipun mereka tak tahu menahu betapa aku harus berjuang dalam peluh dan air mata demi hidupku di sini."

Ratu. Kadang aku tak habis pikir, hatinya terbuat dari apa. Dia, meski kekurangan, tak pernah berhenti membantu teman lain (yang juga kekurangan). Kami di Jerman memang suka merasa senasip sepenanggungan.

Pernah suatu kali, teman kami menjual rice cookernya dengan harga 20 euro. Ratu tahu kalau teman itu butuh uang, dibelinya Rice Cooker itu dengan harga 30 euro. Saat aku bilang padanya, "Ratu, jual saja deh Rice Cooker kamu itu padaku! Aku lagi butuh rice cooker!". Dijualnya padaku dengan harga 5 euro, karena dia tahu aku sedang membutuhkan rice cooker itu. Bahkan dia bilang, "Bawa aja mbak e, rice cookernya, toh aku bisa numpang masak nasi di tempat Riski!"

Terlalu banyak yang ingin kuceritakan tentang gadis cempreng ini, belum lagi soal patah hatinya, dan kehidupan cintanya yang juga menginspirasi dan membuatnya jadi wanita tangguh. Tapi biarlah cerita itu disambung di kisah Frische Luft yang lain.

Saat ini, si Ratu telah melanjutkan Ausbildung di bidang kesehatan, dan kerja sana sini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di Jerman juga di Indonesia, untuk membantu kakaknya kuliah, juga untuk persiapannya kuliah setelah dia lulus Ausbildung nanti.

Lihatlah, betapa kerasnya kehidupan. Tapi selalu ada saja alasan bagi kita untuk bertahan. Ambillah pelajaran dari kisah Ratu yang 100% nyata dan tak kubuat-buat ini. Teruslah berjuang. Kehidupan anak muda itu masih panjang, jangan menyerah, gapailah mimpi, selalu ada jalan, bertemanlah dengan orang-orang baik, dan dengarkan kisah mereka, dan jadilah hebat karena belajar dari pengalaman-pengalaman hebat mereka.

Semangat!!!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Artikel Blog Kehapus


Beberapa hari yang lalu, aku sempat dibuat kecewa setengah mati oleh keteledoran diriku sendiri. Tak tahu harus marah kepada siapa, bingung harus berbuat apa. Masalahnya, dua artikel frische Luft yang kutulis dengan susah payah, tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Tak tahu apa sebabnya.

Gambar diatas sebenarnya adalah gambar diriku yang mengekspresikan kesedihan dan kegalauan. Hhaha, padahal saat mengambilnya, aku sedang bersenang-senang di pasar malam Hamburger DOM tahun 2015 lalu. Lebay ya, diriku :D

Sebenarnya, aku sudah pernah mengalami hal yang sama beberapa bulan lalu, saat menulis Orang Jerman: Termin!!Termin!!! Termin!!!,, tapi lagi-lagi aku tak belajar dari kesalahanku itu. Hampir 5 jam aku berusaha mengembalikan artikel yang telah lenyap ditelan (entah ditelan apa) :D.

Ahirnya aku menyerah. Rata-rata, aku hanya menemukan artikel untuk mengembalikan artikel ter-publish yang tak sengaja kehapus. Sedangkan artikelku yang hilang tersebut belum ter-publish. Sebenarnya kesalahan apa yang aku lakukan?

Aku mencoba menyematkan penutup 'Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)' yang aku copy paste dari artikel-artikel sebelumnya ke 2 artikel yang baru tersebut. Alih-alih hanya kalimat penutup, ternyata seluruh artikel lama tersematkan ke dalam artikel baru tanpa aku menyadarinya. Dua artikel pun tercover oleh tulisan yang sama. Sehingga aku punya 3 artikel dengan tulisan dan judul yang sama.

Beberapa bulan yang lalu, aku mencoba ctrl+z dan akhirnya artikel kembali seperti semula, namun kali ini trik itu tidak berhasil. Aku seperti kebakaran jenggot. Dua hari kuhabiskan daya dan upaya untuk menulis dan setelah selesai tinggal publish, semuanya lenyap. Tentu saja aku galau hidup segan mati tak mau. Hhaha.

Akhirnya, aku pun mencoba menghibur diri dengan membaca artikel-artikel tentang orang yang kecewa dan menemukan salah satu artikel yang memuat tentang hal yang sama, malah dia telah menulis puluhan artikel dan lenyap karena kesalahan server. Huhh, ternyata aku tak sendiri. Merasa sedikit terhibur.

Belajar dari kesalahn tersebut, kini aku mulai menyusun rencana untuk menduplikatkan tulisanku di media lain, open office, notepad, atau ms. word, juga back up rutin berkala tiap minggu/tiap bulan, agar kejadian buruk yang mengecewakan tak terjadi lagi. Apalagi, aku baca banyak blogger (terutama yang pakai blogspot) yang blognya di shut down oleh google karena melanggar Term Of Service atau karena kesalahan-kesalahan lain yang tak bisa ditolerir. Betapa mengenaskannya. Salah satu blogger Amerika yang sudah menggunakan jasa blogger selama 14 tahun terpaksa harus meratapi nasib karena blognya ditutup oleh google. Meskipun sudah menuntut google sampai ke pengadilan dan meminta agar karyanya dikembalikan, google tetap bersikeras menutup blog tersebut. Hufft, semoga kejadian yang sama tak akan menimpa kita. Amin.

Bagaimana kabar kalian kawan blogger? Apakah pernah mengalami hal yang sama? Semoga tetap semangat nge-blog dan  nantikan kabar tentang Jerman selanjutnya dariku (semoga secepatnya).

Salam Hangat dari Hamburg

Thursday, August 10, 2017

Kisah Au Pair: Mimpi Kartini Masa Kini

 "Apapun yang terjadi hari ini, seburuk dan sepahit apapun itu, tesenyumlah! Ini pun akan berlalu!"

Kalau kita punya sebuah mimpi, aku yakin, Tuhan akan mengarahkan kita untuk bertemu dengan orang-orang (yang seperti diberi sinyal oleh-Nya), untuk menunjukkan jalan kita meraih mimpi itu. Seperti pertemuanku dengan sahabatku di München, sebut saja namanya Astri.

Kalian tak akan percaya bahwa dibalik senyum termanis yang dipunyai seseorang seperti Astri, terkadang menyimpan duka pahit yang menjalar, kompleks dan hampir membunuh otak serta jiwanya. Aku tak paham, dan sampai sekarang pun tak bisa paham, bagaimana bisa wanita ini begitu kuat.

Aku bertemu Astri di München. Lagi-lagi lewat sebuah sosial media. Berbeda dari Yola yang kutemukan lewat Facebook, Astri kukenal lewat Couchsurfing. Berbeda lagi dari Yola yang biasa saja saat pertama kali bertemu denganku, dari text pertama yang dia kirim kepadaku, kulihat Astri sama antusiasnya untuk bertemu denganku. Umurnya sama denganku, bersamanya, aku malah merasa menjadi adik yang perlu sebuah nasehat, karena pengetahuannya tentang Jerman (dan cowok Jerman) sudah lebih matang. Aku dan Yola berguru padanya, semenjak hari pertama kami bertemu.

Hari itu, satu minggu setelah aku bertemu dengan Yola. Bersama Yola pula, aku menemui Astri. Alasannya satu: Aku dan Astri buta jalan, kami tak tahu harus naik apa, harus ke mana, sedangkan Yola sudah seperti sesepuh dan juru kuncinya München. Tanpa ngecek app dan melihat peta, dia langsung tahu, kami harus digiring ke mana. Kami seperti dua ekor bebek, dan Yola yang 8 tahun lebih muda dari kami itu seperti gembalanya.

Meski kita tak bisa menilai kedewasaan seseorang lewat umurnya, tapi saat kami bertiga ngobrol, Yola lebih sering diam dan mendengarkan, ketimbang menimpali, dia memang terlihat masih sangat bocah. Aku dan Astri yang sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan pun saling cerita ngalor ngidul, tentang pacarnya, tentang kehidupannya di Semarang dulu, dan tentang mimpinya ke Jerman. Yola seperti gembala bebek yang mendengarkan kami ber-kwek kwek ria.

Yola kali ini lebih waras ketimbang minggu lalu. Dia tak lagi mengajak kami window shopping, dan tak menyesatkan kami dengan belanja ke Kult Fabrik. Hari itu, kami jalan-jalan ke Alianz Arena, stadion mewahnya Bayern München, dan ke Museum BMW, serta naik ke puncak towernya, sehingga kami bisa menikmati pemandangan kota München yang rapi dari atas.

Satu hal yang paling aku salutkan dari Yola adalah kebaikan hatinya. Dia kami bully sepanjang waktu, tapi dia masih saja bersedia menjadi gembala kami dan menunjukkan kota München yang indah. Pada Astri aku cerita, "Kamu tahu nggak, mbut?" (Aku memanggilnya jembut sejak pertemuan pertama, karena kami tak sengaja menemukan kecocokan bercerita hal-hal lucu berbau porno. Memang memalukan punya kebiasaan seperti itu, apalagi menemukan seseorang yang punya hobi sama. Tapi karena kegilaan itulah kami menjadi dekat dan bebas cerita apapun)

"Si Yola, dengan judesnya bilang, aku nggak mau 'boso jowo', aku kan setengah 'Londo'." lanjutku cerita pada Astri yang kulebih-lebihkan sambil melirik Yola. Kali ini Yola yang tersenyum kecut, karma dariku yang minggu lalu yang dengan kecut tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang berkutu. Dendam kesumatku terbalas, kisanak! Batinku!

Akhirnya, karena aku dan Astri berbahasa Jawa seharian, Yola ikut juga berbahasa Jawa. Aku memang kejam, apalagi kepada orang yang kusayang. Memang aneh terdengar, mungkin jiwa dan otakku perlu diperiksakan. Aku memang sudah sayang pada Yola sejak minggu lalu, tapi dendam itu tak ingin aku hapus, sampai aku puas menganiayanya. Untungnya Yola bukan orang yang gampang tersinggung, sepertiku. Ya, sifat burukku yang lain adalah tersinggung. Aku suka membully, tak mau dibully, suka melontarkan kata-kata pahit, tapi tak suka disinggung. Ah, aku memang butuh psikiater. 😅

Astri, yang dari pertemuan pertama sudah kuketahui bahwa kami akan dekat, kami akan bersahabat, adalah salah satu sahabat yang kisahnya wajib dibagi. Menyimpan kisah dia untukku sendiri rasanya seperti Pak Tua yang menemukan peti harta karun dan hampir mati. Aku harus memberikan harta karun itu sesegera mungkin, agar penemuanku tidak sia-sia sebelum ajalku menjelang. Apa sih, nglantur deh 😎

Wanita muda tangguh yang dari gurat-gurat di wajahnya sudah langsung tampak bahwa dia berasal dari Jawa ini, datang ke Jerman dengan menjadi au pair. Di sebuah desa yang letaknya sekitar 50 km dari München, dia tinggal di sebuah host family yang baik hati. Dia kenal host family itu lewat aupairworld, sama denganku. Cita-cita sebenarnya pun juga sama denganku, yakni menempuh pendidikan S2 di Eropa.

Astri datang dari keluarga sederhana. Ibunya hidup dari uang pensiunan ayahnya yang telah meninggal semenjak dia SMP. Dia pernah tinggal di rumah bibinya yang kaya dan demi bisa melanjutkan sekolah sampai jenjang S1, dia rela jadi seperti pembantu di rumah bibinya itu. Kedua kakak laki-lakinya telah berumah tangga dan tinggal jauh dari mereka. Astri yang memang terbiasa hidup mandiri itu tak suka menggantungkan hidupnya dari orang lain, termasuk keluarganya. Jadi, tinggal di rumah bibinya pun, dia tak mau berdiam diri, dia harus melakukan sesuatu demi sekolahnya.

Saat datang ke Jerman, Astri sudah punya pacar orang Jerman. Mungkin itu salah satu dari banyak tujuan hidupnya untuk datang ke Jerman, agar lebih dekat dengan sang kekasih. Tapi takdir berkata lain, dua minggu datang di Jerman, kekasihnya mengunjunginya di rumah host family nya, dan memutuskan tali kasih mereka secara sepihak. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba, Astri harus terhujam oleh keputusan pria brengsek yang beralasan ingin konsentrasi kuliah saja itu.

Saat menceritakannya padaku, saat itu 2 bulan setelah dia diputus. Dia terlihat sangat segar dan ceria, seperti tak pernah mengalami sakit hati. Berbeda denganku yang nangis bombay sampai turun berat badan 9kg, 2 bulan saat diputus mantan tunangan dulu.

"Beda to, mbut! Aku sama stupido (sebutannya kepada mantannya itu) kan masih pacaran, belum tunangan! Lagian kowe ngerti nggak? Kita ini eksotis, loh! Kulit kita ini banyak dicari. Kita ini meskipun gembel dan rakyat jelata di Indonesia, di Eropa, kita primadona, mbut, jangan salah, kowe!" kata Astri sambil melontarkan senyumannya yang khas itu. Ah, senyum itu yang selalu mengingatkanku bahwa seburuk apapun hidup kita hari ini, selalu ada hal positif yang bisa kita ambil. Ambil hikmahnya, tersenyum, lanjutkan perjalanan, hidup kita tak harus berhenti karena si brengsek stupido itu, kan? Begitu kata Astri berulang-ulang yang diiringi anggukan olehku dan Yola.

Dari Astri, aku belajar bahwa mimpi itu, meskipun jalannya berputar-putar, akan ada titik terang yang diperlihatkan oleh Tuhan, yang membuka jalan kita ke arah itu. Aku ini seorang yang penakut, apalagi kalau ditakut-takuti oleh masa depan, aku bukan seperti Astri yang langsung percaya diri dan percaya pada kemungkinan apapun demi meraih mimpinya. Buktinya seperti ini.

Host familyku bersedia menjadi penjaminku untuk kuliah S2, aku pun bahagia. Tinggal test Toefl dan daftar sana sini. Suatu hari, Nadja (host mom) bilang, "Kami dengan senang hati menjamin kamu, Indra, tapi apa kamu yakin bisa hidup sebagai pelajar dan bekerja membanting tulang untuk kehidupanmu? Belajar itu berat, loh! Belum lagi kamu harus menyewa apartemen, membayar asuransi kesehatan, makan, belanja, berlibur! Siapa yang akan menanggungnya? Sekolah di Jerman memang gratis, tapi pikirin lagi, deh!"

Aku langsung patah semangat dan banting setir jadi FSJ. Berbeda dengan Astri. Dia beruntung karena host familynya juga mau menjadi Verpflichtungserkärung (penjamin) selama dia kuliah S2 di Jerman. Setelah daftar puluhan universitas dan ditolak, setelah beberapa kali test TOEFL dan menghabiskan semua tabungannya, dia dengan semangatnya terus membara daftar kuliah di semua universitas, hingga jerih payahnya membuahkan hasil. Dia diterima untuk menempuh pendidikan Master di Universitas Hamburg. Dia dengan lantang menolak kata-kata negatif yang bilang bahwa kuliah itu berat, bla, bla, bla. Setelah jadi Au pair 10 bulan, dia pindah ke Hamburg untuk melanjutkan S2, di sela-sela kuliahnya yang (memang berat), dia bekerja sambilan sebagai babysitter, kadang bersih-bersih. Kalau liburan semester tiba, dia menghabiskan seluruh jatah liburnya untuk bekerja full time di sebuah panti jompo.

Astri baru saja menyelesaikan pendidikan Masternya beberapa bulan yang lalu, terbilang cepat, hanya 2,5 tahun, sedangkan banyak seniornya yang masih molor bertahun-tahun. Dia meyakinkanku, bahwa kalau kita konsentrasi dan fokus, semua bisa dipercepat, "Lagian aku udah bosen, mbut hidup susah, pengen cepet kerja, nyenengin orang tua, bisa ngajak emak liburan dan jadi anak yang berguna."

Proses pencapaian Astri tak semudah membalikkan telapak tangan. Jangan dipikir dijamin oleh orang Jerman itu selalu enak. Astri sudah dianggap anak sendiri oleh host family nya, tiap liburan, dia masih diajak liburan. Tapi jaminan hitam di atas putih itu membebani jiwa raga untuk selalu beriktikat baik kepada penjaminnya. Dia tak mau seperti kacang lupa kulitnya.

Meskipun kita bersahabat dekat, dan akhirnya aku pindah ke Hamburg, kami malah jarang ketemu, kadang ketemu sesekali karena kesibukan masing-masing yang padat. Dia lebih sering pulang ke Bayern, ke rumah host family nya untuk bekerja di sebuah panti jompo, selain itu juga masih bantu ini itu. Terkadang konflik kecil terjadi diantara mereka yang membuatnya nelangsa dan pedih. Tapi Astri bukan Astri namanya kalau menyerah begitu saja. Sertifikat S2 dari Universitas terkemuka di Jerman adalah salah satu bukti kegigihannya dan hasil dari peluh serta air matanya. Tak ada yang sia-sia. Astri telah membuktikan, bahwa kesedihan, sakit hati karena ditinggal pacar, tak perlu dijadikan ajang berlama-lama terpuruk dalam kehidupan yang galau. Justru sakit hati dan kesendirian itu adalah potensi kita untuk tampil lebih memukau. Coba saja kalau dia sedih lebih lama dan merengek agar stupido kembali? Mungkin Astri tak akan menemukan dirinya yang sekarang.

"Percayalah," kata-kata Astri yang selalu kuingat. "Kamu itu cantik, kita ini, setiap wanita terlahir dengan kecantikannya sendiri-sendiri, tak perlu menyesali seseorang yang membuangmu, itu kerugiannya, bukan kerugianmu! Suatu saat dia yang akan menyesal, bukan dirimu! Sayangi dirimu, karena di saat semua menjauh, hanya kamu, hanya dirimu yang jadi sahabat terbaik!"

Melihatnya berjuang seperti itu, aku berani menentang semua anggapan bahwa kuliah di Jerman yang kata host family ku berat itu, bisa dilakukan kalau kita percaya. Aku pun berani mengikuti jejak Astri, dan darinya aku mendapat banyak masukan, petuah bagaimana bekerja dan belajar, bagaimana mengatur waktu dan keuangan, darinya pula aku mendapat sebuah pekerjaan. Saat itu anak yang diasuhnya tiap minggu dilimpahkan kepadaku karena dia harus magang di Jakarta selama 6 bulan. Astri adalah sahabat yang sangat dermawan. Di tengah kekurangannya, dia tak pernah mau aku traktir makan. Malah dia sering mentraktirku, dia juga tak pernah pelit informasi. Tak satu pun pertanyaan yang tak dia jawab kalau kita minta info seputar pendidikan, pekerjaan di Jerman, dsb. Darinya lah aku belajar agar hidup ini paling tidak bisa sedikit saja memberi guna kepada orang lain, menjadi sumber yang bisa dipercaya, menjadi sahabat yang bisa diandalkan, dan menjadi telinga yang siap mendengarkan keluhan. Astri tak pernah menutup hatinya untuk ide-ide baru, tak pernah mengeluh dan meratap, meski aku tahu (sangat tahu) bahwa hidup dibalik senyumnya itu sangat berat.

Astri adalah Kartini ku, kartini sejati masa kini. Senyumnya, matanya, semangatnya, mimpinya, thesisnya pun tentang Kartini, eh 😃. Dari Astri dan dari kisah yang aku ceritakan tentangnya ini, semoga menjadi inspirasi. :)

Silakan tebak sendiri mana aku, mana Astri, mana Yola. Ini foto pertama kami di depan stadion Bayern-München (Allianz Arena)


Semangat!!!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, August 7, 2017

Plus Minus Jadi Au Pair di Jerman


Banyak jalan menuju Roma Jerman. Sekalipun jalan yang kutempuh untuk mengejar cita-cita kuliah di Jerman tidak semudah aku menuliskan kalimat pertama, tetap saja aku berhasil menggapainya. Sekarang giliran kalian!

Baca kisahku sebelum ke Jerman: Semua berawal dari patah hati

Kali ini, aku akan sedikit berbagi pengalaman seputar Au Pair yang telah aku lalui, agar (mungkin) kalian yang saat ini sedang galau, ingin ke Jerman, nggak tau harus memilih jalan yang mana, bisa sedikit tercerahkan. Pengalaman ini bisa jadi terjadi tak hanya di Jerman, tapi di negara lain juga.

Baca juga: Au Pair, 5W 1H???

Saat aku berangkat ke Jerman dulu, aku hanya tahu program Au Pair, tapi sekarang, informasi tentang program selain Au Pair untuk ke Indonesia sudah mulai banyak, jadi kalian juga punya beberapa pertimbangan dalam memilih. Dari situ, aku jadi merasa beruntung karena dulu aku tidak punya pilihan lain, jadi tak usah galau :D. Sekarang, bagi yang galau, mari menyimak artikel ini sampai tuntas!

Baca juga:
Seputar FSJ dan BFD di Jerman
Melamar FSJ dari Indonesia
Apa itu Ausbildung di Jerman??

PLUS MINUS PROGRAM AU PAIR

Aku akan sangat mengerti kebimbangan kalian yang ingin ke Jerman. Pertama, Jerman itu jauh, yang secara otomatis menjauhkan kalian dari zona nyaman (orang tua, sahabat, dkk), kedua, karena jauh, kalian takut kalau terjadi apa-apa nantinya tak akan bisa pulang dan kesulitan di negara orang. Aku beritahu sebuah rahasia yang bisa menenangkan: Sejauh apapun itu, percayalah, orang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik pula, kalian pun akan bertemu sahabat baru, mendapat pengalaman baru, berada di universitas kehidupan yang baru. ! Jadi tak perlu takut!

Sekarang, mari berbicara tentang kelebihan program au pair yang aku dapat dari pengalaman pribadi:

+ Lebih mudah karena sudah ada website gratis yang menyediakan ribuan host family. Selain itu, sudah ada agen untuk au pair ke Jerman yang mungkin bisa membantu kalian mempermudah pengurusan ini itu.

+ Tidak memakan banyak biaya. Bagi kalian yang bernasip sama miskinnya seperti diriku :P, pilihan menjadi au pair adalah pilihan paling tepat. Karena, kita bisa berkompromi dengan host family untuk menanggung biaya tiket, atau hutang dulu dan dibayar kalau kita sudah bekerja nanti.

+ Bahasa tak jadi kendala utama. Kalau kalian tak ada basic bahasa Jerman yang mumpuni (sama seperti diriku dulu), kalian bisa mencari keluarga yang bisa berbahasa Inggris. Meskipun demikian, kalian harus tetap lulus ujian sertifikat A1, karena kedubes mensyaratkannya. Info tambahan: Aku dulu tidak les di Goethe untuk lulus, cukup les dengan guru bahasa Jerman SMA untuk belajar dasar-dasar bahasa Jerman dan rajin melatih kemampuan dengan nonton you tube.

+ Tidak perlu ribet soal akomodasi. Kalau jadi au pair, secara otomatis sudah dapat jaminan dari akomodasi dari pihak keluarga.

+ Belajar budaya Jerman lebih intensiv. Mau tak mau, kalian harus dihadapkan dengan situasi bersama keluarga Jerman. Dari situ, kalian bisa belajar bagaimana orang Jerman itu mengatur rumah tangga dan membesarkan anak. Pengalaman ini sungguh tak ternilai harganya dan tak bisa dipelajari di Universitas manapun.

+ Hari libur. Banyak kasus sebenarnya yang terjadi pada au pair, bahwa mereka hanya dapat jatah libur sehari seminggu. Pengalamanku dulu, aku libur sabtu dan minggu. Kemudian selama satu tahun, aku mendapat jatah libur satu bulan full dan digaji penuh, yang lalu aku manfaatkan untuk keliling Eropa.

Baca kisah perjalanan keliling Eropaku yang seru, dimulai dari:
Berlin dan kenangan yang mengendap di sana

+ Mencoba kuliner asing secara gratis. Bayangkan, selama hampir setiap hari selama satu tahun, aku mencoba makanan ala Eropa, kadang dibelikan, kadang dimasakin oleh host family. Meskipun banyak yang cocok di lidah, banyak juga yang bikin aku hampir muntah :D. Tapi, dengan begitu, aku merasa amat sangat beruntung, karena diantara banyak orang Indonesia di Jerman, aku lumayan paham dan kenal banyak makanan Jerman, termasuk budaya Jerman yang aku dapat selama menjadi au pair. Saat suatu kali bertemu dengan orang Amerika yang berkunjung ke Hamburg, aku bisa menjelaskan mulai A sampai Z, apa itu Schnitzel, apa bedanya Schnitzel ala Jerman dan Austria, apa itu Gulasch, Roullade, Senfeier, Franzbrotchen, Bretzel, dan banyak lagi makanan lainnya, termasuk FKK, sejarah Jerman, orang-orang Jerman, dan banyak hal lain tentang Jerman.

Sekarang kekurangan menjadi Au Pair:

- Merasa jadi pembantu. Kalau kalian mendapat keluarga yang tidak tepat (seperti banyak kasus terjadi di Jerman), keberadaan kita di sebuah host family, bisa kita rasakan tak lebih dari pembantu dan babysitter dengan jam kerja yang (kadang) tak masuk akal. Pengalamanku dulu, aku kerja hanya 6 jam per hari dan selama 6 bulan pertama, aku merasa malah seperti anak, seperti kakak dari anak kembar yang aku asuh. Tapi begitu mereka melihat aku rajin dan ringan tangan, membantu membersihkan dapur, dan tak pernah protes kalau disuruh kerja lembur, mereka memanfaatkan aku.

- Culture Shock. Pengalaman tinggal bersama keluarga asing adalah sebuah pengalaman yang di satu sisi sangat berharga, tapi di sisi lain juga memunculkan sebuah duka. Kita merasa asing di tengah-tengah keluarga bahagia, merasa terkurung di sebuah negara yang bebas, merasa terisolasi, tak punya kehidupan. Oleh karenanya, faktor penting mencari host family, adalah kenali dulu di mana mereka tinggal. Kalau bisa cari yang tinggal di kota besar agar kalian bisa sering hang out, cari teman, kesempatan bertemu dengan orang Indonesia pun lebih mudah ketimbang di kota kecil.

Baca pengalamanku bertemu dengan sahabat sesama au pair di Jerman pertama kali:
Aku kutu dan sahabatku

- Gaji sedikit. Kerja banyak, gaji sedikit menjadi hal yang sangat problematis. Memang kalau di rupiahkan, 260 euro itu terbilang banyak (hampir 4 juta rupiah), tapi untuk tinggal dan jalan-jalan di Jerman, seperti hidup senin kamis. Aku dulu, saat au pair, perbulan bisa mendapatkan gaji tambahan dengan bersih-bersih dan jaga anak ekstra di tetangga dan di host family yang sama.

- Akomodasi yang tidak memadai. Bagiku yang terbiasa tinggal sekamar 9 orang dengan adik dan tante-tanteku, tinggal atau tidur sekamar bersama si bocah tak jadi masalah. Tapi ini sudah menentang aturan pemerintah Jerman. Banyak au pair ang tak mendapat kamar sendiri sehingga harus tidur bersama anak-anak.

- Tertekan. Perasaan ini muncul kalau kita merasa diperlakukan tidak adil. Ingin memberontak takut, kalau tidak memberontak, merasa dirugikan, apalagi kendala bahasa asing yang memungkinkan kita untuk kalah dan malas capek-capek debat dan menunggu sampai semuanya usai.

Nah, begitulah plus minus menjadi Au Pair, tentu saja beda orang beda pengalaman. Mungkin ada tambahan dari kalian? Atau pertanyaan?

Semoga informasi ini membantu mengatasi perasaan bimbang dan mencerahkan kalian yang akan berangkat ke Jerman dengan program Au Pair, ya :)

Penting untuk kalian baca: 5 Cara (Tips) Memilih Host Family!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, August 5, 2017

Jutaan Telur Terinfeksi Friponil di Jerman, Ditarik Dari Peredaran

© droomafoobeno wikimedia commons

Pekan ini Jerman sempat dihebohkan oleh pembuangan jutaan telur serentak di seluruh kota, serta penarikan stok telur dari discounter seperti REWE, Aldi, dan Penny. Distribusi telur fipronil ini dikabarkan sudah menyebar ke seluruh penjuru Jerman, termasuk Nordrhein-Westfalen, Niedersachsen, Hessen, Bremen und Bayer. Himbauan kepada masyarakat lewat berita TV agar untuk sementara tidak mengkonsumsi telur pun bermunculan. Pertanyaannya, mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Jerman begitu ketat dan sangat memperhatikan distribusi bahan makanan? Bagaimana bisa kecolongan?

Mengapa Telur Dicekal Untuk Sementara Waktu?

Hingga saat aku melihat berita di TV dan membaca koran 2 hari yang lalu, Jerman punya stok telur yang diimpor dari Belanda sekitar sebanyak 2,9 juta butir, dan sebanyak 875.000 telah terbukti terinfeksi Fipronil. Sekitar 1,3 juta sudah tersebar di berbagai daerah seperti di Niedersachsen. Telur-telur pun ditarik dari supermarket dan dihancurkan. Kabarnya, di Belanda, telur yang terinfeksi jauh lebih banyak.

Kita untuk sementara waktu dihimbau agar tidak membeli telur, tidak makan telur, termasuk tidak makan produk YANG TERDAPAT KANDUNGAN TELUR di dalamnya, seperti mayonaise, puding, kue, dsb. Mengapa? Karena telur-telur yang beredar di Jerman, terutama yang diimpor dari Belanda dikabarkan terinfeksi Fipronil.

Apa itu Fipronil? Berbahayakah?

Fipronil adalah semacam Zat Pestisida yang digunakan untuk melindungi tanaman dari hama dan binatang ternak dari kutu. Sejak tahun 1980, Prancis menemukan bahwa Fipronil yang digunakan untuk melindungi tanaman tidak hanya membahayakan hama, namun juga lebah. Oleh karena itu, sejak tahun 2013, pemerintahan Uni Eropa sepakat untuk tidak menggunakan pestisida ini untuk menyemprot jagung, karena lebah yang mungkin hinggap dan memproduksi madu juga akan menginfeksi madunya.

Apa dampak yang ditimbulkan jika kita mengkonsumsi zat ini?

Dikutip dari beberapa sumber, juru bicara Bundesinstituts für Risikobewertung (BfR), menyebutkan bahwa sebenarnya tak ada dampak langsung yang ditimbulkan, zat ini sebenarnya tidak begitu berbahaya untuk orang dewasa, namun untuk anak-anak, sebaiknya sangat dihindari. Konsumsi jangka panjang dan berlebihan bisa menyebabkan gatal dan rasa tidak nyaman pada kulit dan mata, muntah, pusing, dan lain sebagainya.

Lalu mengapa hanya telurnya yang harus dihindari? Bagaimana dengan ayamnya?

Untuk sementara ini, menteri pertanian dan lingkungan Niedersachsen dari Partai Die Grüne (Christian Meyer) menyatakan bahwa konsumsi daging unggas masih aman, meskipun pihaknya masih terus meneliti dan membuktikan keamanannya, serta membatasi impor bahan pangan dari negara tetangga yang dicurigai tidak aman. Pihaknya juga akan menindak secara tegas distributor telur-telur ke Jerman tersebut. Seharusnya residu tersebut tidak digunakan untuk menyemprot hewan ternak penghasil pangan, kata Meyer.

Yang juga jadi pertanyaan adalah, mengapa ayamnya aman, tapi telur yang terdapat di dalamnya justru berbahaya? Untuk stok daging ayam sendiri kemungkinan Jerman tidak mengimpornya dari Belanda dan Belgia, hanya telur. Jadi daging ayam masih aman dikonsumsi.

Mengapa Jerman impor telur dari Belanda dan mengapa Belanda menggunakan Fipronil untuk hewan ternak?

Belanda dan Jerman letaknya sangat berdekatan. Jadi wajar saja kalau kedua negara ini saling bekerja sama impor, ekspor bahan pangan. Belanda sendiri mengakui bahwa tercemarnya produksi telur juga berasal dari Belgia. Setelah ditindak lanjuti, Belanda dan Belgia mengimpor residu berbahaya itu dari Romania. Jadi menjalar ke mana-mana kan? Impor telur juga tidak datang dari Belanda saja, tapi dari Polandia. Setelah skandal Fipronil ini menyebar, pemerintah Belanda dan Belgia kabarnya lebih ketat dalam menyidik dan memeriksa peternakan.

Meskipun banyak discounter menarik telur dari peredaran, EDEKA tetap bersikukuh mengedarkan dengan alasan telur-telur dan bahan pangan yang dijual di EDEKA murni dari Jerman dan terbukti aman. Semoga skandal ini cepat berlalu sehingga kita bisa mengkonsumsi telur lagi.

Sumber: NDR, Tagespiegel

Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam

Thursday, August 3, 2017

Siapa Bilang Tinggal di Jerman Itu Selalu Enak?


Bukannya bermaksud menakut-nakuti, tapi kisah yang akan aku ceritakan di bawah ini ada baiknya untuk dipahami benar-benar dan diambil hikmahnya.

Suatu petang di awal musim dingin, aku merasa dunia ini membenciku. Aku pulang ke rumah dan menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas. Jerman terasa begitu gelap. Seasing-asingnya aku saat tersesat di kawasan gunung Panderman di Kota Batu, bagiku saat itu, Jerman lebih asing.

Tangisku tak pernah berhenti sampai beberapa bulir air mata menetes, kadang, untuk mengalihkannya agar tak terdengar tetangga, aku mandi saja di bawah shower berlama-lama sambil mendramatisir sesuatu yang sampai kini tak pernah aku ketahui apa sebabnya. Mungkin aku terkena sindrom winter depressi. Entahlah.

Saat itu, aku baru saja masuk kuliah. Aku daftar beberapa kegiatan di kampus seperti les bahasa gratis, kegiatan sosial seperti Amnesty Internasional, dan AIESEC. Pikirku saat itu, karena jam kuliahku yang relativ sedikit (8 jam per minggu), aku bisa mengikuti semua kegiatan itu. Tak hanya itu, aku juga melamar kerja di kantor pos, babysitting di beberapa keluarga, dan ditambah kegiatan budaya seperti  gamelan yang kuikuti setiap selasa malam.

Saat semua dengan perlahan berjalan mengiringi minggu-minggu awal kuliah, aku selalu merasa seperti dikejar anjing yang terus menerus melolong di belakangku, yang menuntutku untuk berlari secepat mungkin mengejar waktu. Dua puluh empat jam per hari kurasa tak cukup lagi mengejar ketertinggalanku. Akhirnya, hampir setiap hari aku ngos-ngosan. Puncaknya, aku merongrong di bawah shower, menangis, dan menjerit hampir gila.

Sekarang aku baru sadar satu hal: Tinggal di Jerman itu tak seenak yang orang bayangkan. Ini memang impianku, tapi siapa bilang hidup dalam mimpi itu terus menerus menyenangkan? Bukankah kita juga pernah mimpi dicekik, tersandung sampai masuk jurang? Bukankah mimpi itu tak selamanya manis?

Aku senang sekali bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan yang sama-sama menderitanya denganku, sama-sama harus bekerja keras siang dan malam demi bertahan hidup di Jerman, sama-sama harus rela menahan pedih ketika presentasi yang sudah dipersiapkan dengan matang harus dibantai habis oleh para professor, atau essay yang ditulis sampai bergadang berhari-hari harus dikritik mati-matian karena kurang ini itu. Bukannya aku senang melihat mereka juga menderita, tapi kalian pasti tahu bagaimana rasanya berkumpul dengan seseorang yang senasip sepenanggungan? Kita bisa (paling tidak) menyemangati satu sama lain, bersendau gurau, saling menguatkan, dan saling ngebully lagi setelahnya. :D

Suatu hari, lama setelah kejadian tangis menangis di bawah shower itu, aku bertemu dengan seorang kenalan. Kami (seperti biasa) janjian untuk masak-memasak dengan salah seorang teman di kelasku. Kami semua orang Indonesia pecinta masakan nusantara :D. Entah dimulai dari obrolan apa, tiba-tiba kenalanku itu menceritakan sebuah kisah yang sampai kini harus aku ingat, dan tiap detik aku mengingatnya, di detik yang sama itu pula aku harus mensyukuri hidupku.

"Tau nggak, sih? Setelah kejadian mahasiswa di Berlin bunuh diri, ada satu kejadian lagi, seorang mahasiswa yang gila di satu kota di daerah Bayern!" kata kenalanku itu.

"Orang Indo?" tanyaku

"Ya iya, lah, masak ya iya donk?" jawab kenalanku yang hobinya nonton film sang ratu misteri 'Susanna' itu. Lalu lanjutnya, "Makanya jeung, hidup di negara orang tuh harus pinter-pinter nyiasati. Udah lah, semua pasti tau kalau elu juga setress, sama, gue juga, tapi kalau kita bisa ngobrol kayak gini kan enak, ya nggak? Ketimbang stress masalah kuliah di bawa ke rumah, di pendam sendiri, lalu gantung diri, mending kita potong-potong daun seledri buat masak sop iga sapi!"

"Ah, elu sok jadi motivator, lu! Udah deh, ga usah begaya, ceritain gih, siapa dan gimana tuh anak bisa jadi gila?" sahut teman sekelasku yang membawa kenalanku itu di acara masak-masak yang kami lakukan hampir tiap minggu itu.

"Iya, say, jadi anak itu namanya Siti (anggap saja begitu). Dia tuh, introvert banget. Tertutup dan perfeksionis. Sebenarnya, dibilang ga punya teman, nggak juga. Buktinya, gue pernah mergokin dia di acara PPI bareng ama teman-temannya. Dia cewek yang cukup alim. Nggak tau juga sih, bener apa nggak, gue kan cuma berspekulasi gitu karena dia pakai jilbab. Tapi dia kecantol bule Jerman, trus denger-denger, dia udah nyerahin keperawanannya, say. Kasihan banget, ya. Gue sampai pengen nangis, loh.!"

Saat itu, aku agak geregetan juga ngedengerin kenalanku itu cerita. Pertama karena terlalu bertele-tele, kedua, karena logat endelnya yang terkesan agak alay. Tapi aku dengarkan saja karena menarik.

"Dia datang ke Jerman dengan beasiswa LPDP apa Dikti gitu gue lupa, tapi karena dia molor dan prestasinya menurun, beasiswanya itu dicabut oleh pemerintah. Orang tuanya di Indonesia tak sanggup membayar biaya hidup di Jerman yang serba mahal, sedangkan bule Jerman yang dia percaya itu, akhirnya mencampakkannya gitu aja. Jelas lah dia stress berat."

"Emang langsung stress gitu? Tahu dari mana sih kamu cerita begituan? Jangan-jangan bo'ong lagi?" komentar temanku. Temanku ini satu kelas denganku. Dia orangnya kritis dan tak percaya akan berita-berita tanpa adanya bukti atau fakta yang mendukung.

"Ya, terserah aja mau percaya atau nggak! Yang jelas, udah beberapa, loh say kejadian kayak gini. Aku taunya dari teman Indo juga yang satu apartemen sama dia. Katanya, Siti beberapa hari mengurung diri di kamar, trus terdengar jeritan-jeritan aneh gitu dari dalam kamarnya. Akhirnya karena penasaran, beberapa orang berinsiatif mendobrak kamar dan menemukan dia sudah kuyu, rambutnya acak-acakkan, megang gunting. Semua ketakutan. Takut kalau dia bunuh diri, atau ngebunuh salah satu dari mereka. Akhirnya dipanggillah 112, dan dia akhirnya diberi penenang. Dia sempat diajak naik bus ke Berlin, loh. Gue heran juga, gimana temannya ngajak dia naik Flixbus ke Berlin dalam keadaan seperti itu. Nah, gue nggak tau kelanjutan di Berlin itu. Tapi yang gue tau, Siti udah dibawa pulang ke Indonesia. Miris banget, ya say. Aku ngebayangin gimana perasaan orang tuanya....."
*
Memang tinggal di luar negeri itu terlihat seperti menyenangkan. Bisa juga sangat menyenangkan memang kalau kita bisa menyiasatinya. Tapi tinggal di luar negeri itu, sebenarnya sama saja dengan tinggal di mana pun. Kadang ada suka, kadang ada duka. Ingat, luar negeri itu bukan surga. Kita masih hidup layaknya manusia yang selama hayat masih dikandung badan, kita akan selalu ditimpa ujian dan cobaan dari Sang Maha Kuasa.

Di Jerman sendiri, seperti yang aku ceritakan di atas, tak pernah luput dari persoalan hidup. Bahkan bisa dibilang lebih kompleks. Kalau di Indonesia, mau kelaparan tengah malam, ada penjual nasi goreng, PKL, atau kalau di Kota Batu, ada pasar malam yang jualan mulai pukul 01.00 dini hari. Malas jalan atau keluar beli makan, ada gojek. Kalau di Jerman? Jangankan gojek yang serba bisa itu, untuk naik bus saja, kalau kita telat semenit, nggak bakalan si supir mau membukakan pintu. Mereka kan nggak nyari uang atau ngejar setoran, tapi ngejar ketepatan waktu. Di Jerman? Kadang mau ngeyel malah takut kalah, karena bahasanya susah. Terkadang kalau kita sudah senyum tapi dibalas sewot atau dianggap aneh, jadi sakit hati sendiri, jadi kalau melihat orang-orang duduk cemberut di dalam kereta, mending kita pura-pura tidur atau baca buku saja.

Tak ada perbandingan enak dan tak enak. Di Jerman enak untuk berkarya dan cari uang, karena buruh digaji puluhan kali lipat dari pada di Indonesia, tapi untuk mental yang sehat dan jiwa yang kuat, kita perlu senyuman dan keramahan orang-orang Indonesia.

Yah, lagi-lagi ini hanyalah sebuah uneg-uneg, sebuah perspektiv berdasarkan kisah nyata dan pengalaman pribadi. Selalu saja berbeda dengan pengalaman orang dengan latar belakang yang berbeda pula. Aku harap, cerita kali ini sedikit menginspirasi dan bisa diambil hikmahnya.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße



Join Facebook

Followers

Google+ Followers