Sunday, July 16, 2017

IASI JERMAN

Berkesempatan untuk hadir dalam acara diaspora Indonesia di Jerman merupakan hal yang luar biasa mengharu biru bagi seorang anak rantau seperti saya yang sudah lebih dari 3 tahun tak berkesempatan pulang kampung. Sabtu lalu, tepatnya tanggal 17 Juli 2017, pukul 13.00-18.00 (waktu Jerman) diadakan rapat tahunan IASI di Universitas Hamburg. Pasti kalian penasaran apa itu IASI Jerman. Dalam artikel singkat kali ini, saya akan sedikit memberi gambaran tentang perkumpulan luar biasa yang didirikan oleh orang-orang hebat Indonesia di Jerman ini.

Apa itu IASI?

IASI adalah singkatan dari Ikatan Ahli Sarjana Indonesia, yakni sebuah perkumpulan diaspora di Jerman yang bertujuan untuk menghimpun segenap tenaga ahli dan akademisi di Jerman dari berbagai bidang dan akademis. Dengan terhimpunnya para ahli tersebut, IASI diharapkan menjadi wadah yang mendukung kegiatan-kegiatan budaya, sosial, pariwisata yang mengusung tema Indonesia di Jerman serta mengembangkan potensi-potensi dari para tenaga ahli di Jerman demi membangun bangsa Indonesia.

Jadi, kalau ada orang yang berpikir, mengapa para tenaga ahli di Indonesia, terutama teknisi pesawat terbang, IT, insinyur, dokter, dkk itu pada hijrah ke Jerman? Mengapa mereka meninggalkan dan mengkhianati Indonesia dan malah tinggal di Jerman? Itu persepsi yang sangat keliru. Para tenaga ahli di Indonesia tersebut memang bekerja di Jerman. Hal ini masuk akal, karena keahlian mereka lebih dihargai ketimbang di Indonesia. Meskipun demikian, mereka tidak serta merta melupakan Indonesia. Hati dan jiwa mereka tetaplah seperti dalam lagu 'Tanah Airku' karya Ibu Sud: Tetap Indonesia. Bukti dari itu semua adalah sumbangsih pemikiran mereka dalam mengelola dan membentuk komunitas seperti IASI ini, tujuannya apa? Lagi-lagi untuk membangun Indonesia, sekalipun membangunnya dari jauh, dari Jerman.

Kapan IASI didirikan?

IASI bukan sebuah organisasi baru. Pada tahun 21 Februari 1976 di Bonn IASI didirikan. Tiga tahun kemudian,  IASI terdaftar resmi di badan hukum Jerman dengan nama: Verband Indonesischer Fachkräften und Akdemiker in Deutchland.  Saat itu, markasnya sudah bukan di Bonn lagi, tapi di Hamburg, tepatnya di Blankenesse.

Karena pusat IASI hingga kini masih berada di Hamburg, maka tak aneh jika banyak orang yang menyebut bahwa Hamburg adalah rumah bagi orang Indonesia. Banyak sekali orang Indonesia dan komunitas diaspora Indonesia di Hamburg, salah satunya komunitas budaya Gamelan, Angklung, kemudian even budaya Indonesia terbesar di Jerman (Pasar Hamburg) yang setiap tahunnya sukses diselenggerakan demi mempromosikan Indonesia di kancah internasional, khususnya di Jerman.

Baca juga:  Hamburg, Gamelan di Kancah Internasional

Siapa tokoh di balik IASI?

Pendiri IASI Jerman ada tiga tokoh, salah satu diantaranya merupakan tokoh yang sudah sangat terkenal dan mungkin diantara kalian sudah bisa menebak. Yup, B. J Habibie, Achmad Tirtosudiro, dan J.W Sulandra.

Lalu siapa anggota IASI?

Anggota IASI mencakup beberapa kalangan, seperti para tenaga ahli yang bekerja di perusahaan penerbangan Jerman (airbus), Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Penerjemah, para anggota ini terbagi menjadi 3 kelompok, yakni anggota biasa, anggota institusi dan anggota istimewa. Untuk menjadi anggota IASI, para anggota diwajibkan membayar iuran sebesar 15 euro per tahun, sedangkan mahasiswa sampai umur 35 tahun yang menjadi anggota IASI hanya wajib membayar setengahnya, yakni 7,5 euro per tahun.

Kalau kalian ingin mengetahui lebih lanjut tentang kabar berita seputar IASI, bisa buka di website resminya: IASI Jerman

Semoga info seputar IASI ini menambah pengetahuan kita seputar orang-orang Indonesia yang ada di Jerman ya!

Salah satu topik menarik yang dipresentasikan dalam open house IASI
Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße
Location: Hamburg, Germany

1 comment:

  1. Wih kerennya. Anakku dah kurayu2 tuh biar gugling Jerman. Hehehe, asyik ya Mbak, bisa ketemuan sesama warga Indonesia. Terus, kapan trecana pulang, lama loh udah 3 tahun?

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers