Monday, July 31, 2017

Pengalaman Bikin Asuransi Perjalanan, Syarat Bikin Visa Ke Jerman

Saat berangkat ke Jerman dengan menjadi au pair dulu, aku tak perlu mengurus asuransi perjalanan. Cukup bukti pendaftaran asuransi kesehatan yang diurus host family sebagai persyaratan. Namun, saat kembali ke Indonesia dan mengurus visa FSJ, pihak kedubes memberi syarat Visa perjalanan terlampir.

Aku mencoba googling bagaimana mengurus Visa perjalanan tersebut. Salah satu kawan blogger Jerman yang sudah terkenal, Mbak Nella, pernah mengupas tuntas tentang Asuransi Perjalanan tersebut. Silakan baca penjelasannya di blog pursuingmydreams: Asuransi Perjalanan Ke Negara Schengen.

Ada banyak perusahaan asuransi yang menyediakan layanan praktis dan murah yang sudah disesuaikan dengan syarat kedubes, salah satunya mindestdeckung (cover) hingga 30.000 euro.

Di artikel ini, aku akan berbagi info sedikit saja tentang asuransi perjalanan yang aku pakai saat melamar FSJ dulu.

Aku berpikir, aku sudah punya asuransi KESEHATAN yang sudah ditanggung pihak pemberi kerja, jadi ngapain mengeluarkan uang lagi untuk asuransi perjalanan? Ternyata, memang syarat dari kedubes yang mewajibkanku mengurus asuransi tersebut, agar: Sebelum sampai di Jerman, jiwa ragaku sudah sepenuhnya, terasuransi😆😆, kalau ada kejadian menimpa diriku (idih amit-amit), pihak asuransi sudah siap 30.000 euro yang diwariskan kepada ahli warisku. Hiks.

Nah, karena aku orangnya pelit alias irit, aku tak mau membayar mahal asuransi perjalanan tersebut. Aku cari yang paling murah tapi dipercaya oleh pihak kedubes. Nama perusahaan asuransinya MAWISTA.

Aku jelaskan dulu. Rencana kedatanganku di Jerman waktu itu adalah tanggal 27 Februari 2015. Sedangkan asuransi kesehatanku dimulai tanggal 1 Maret 2015 (dimulai saat aku mulai kerja). Perjalanan dari Indonesia saat itu adalah dari tanggal 26 Februari 2017. Otomatis, aku harus punya asuransi selama beberapa hari dari tanggal keberangkatan hingga tanggal mulai kerja (sekitar 4 hari saja). Hanya 4 hari, adakah pihak asuransi yang mau menerima pendaftaran selama 4 hari?

Jawabannya, tidak ada. Tapi, salah seorang kawanku menyarankan asuransi Mawista ini. Mawista menawarkan jasa asuransi harian yang cukup terjangkau, yakni 1,25 euro saja per hari. Tapi daftarnya minumal 10 hari (12,5 euro).

Ya sudah, aku daftar saja (online) dan bukti premi asuransiku juga dikirim online, aku print, aku tunjukkan ke pihak kedubes, dan tak ada masalah sama sekali. Visaku diterima dan berangkatlah diriku ke Jerman.

Yang bagian kanan (warna kuning itu yang aku pilih), tinggal masukkan biodata kita setelah klik 'Direkt zum Antrag, lalu kalian akan dikirimi bukti asuransi lewat email. Kalau tak bisa Bahasa Jerman, ada pilihan Bahasa Inggris di pojok kanan atas.

Kalau visa tak dikabulkan, apakah uang bisa kembali?

Bisa untuk visa Turis. Tapi asuransi perhari seperti kasusku tersebut tidak bisa, makanya aku hanya ambil resiko dengan beli 10 hari saja, toh tak mahal-mahal amat. Untuk visa turis, jika sudah bayar, tapi visanya ditolak dari kedubes, uang bisa kembali 100% asalkan memberikan bukti penolakan dari pihak kedubes tersebut.

Bagaimana? Sudah siap ke Jerman? Silakan pilih-pilih asuransi perjalanan yang terbaik, ya. Mawista ini cuma salah satu alternatif saja, karena aku dan beberapa teman pernah menggunakannya. Keputusan tetap ada di tangan kalian.

Untuk daftar Mawista, silakan klik di sini

Semoga tips ini memberikan informasi seputar Jerman. Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, July 29, 2017

10 Karakter Wanita Jerman


Tergelitik dengan pertanyaan Mbak Nella (pursuingmydreams) beberapa waktu yang lalu tentang karakter wanita Jerman, kali ini aku akan mencoba menulis tentang beberapa sifat atau karakter dari wanita Jerman yang paling menonjol.

Aku pribadi punya seorang teman, cewek Jerman, yang sudah pernah tinggal lama di Indonesia. Kepadaku, dia cerita bahwa dia pernah jatuh cinta dan menjalin hubungan cukup serius dengan pemuda asal Jember. Sayangnya, mereka harus putus karena LDR dan ketidakcocokan.

Baca kisah pertemuanku dengan temanku itu: Köln: Petir dan sempitnya dunia ini

Secara pribadi, aku memang suka meneliti perbedaan karakter dan sifat yang terbentuk dari faktor budaya atau bangsa. Meskipun sebisa mungkin aku tidak men-stereotip, karena masing-masing orang, entah dari mana pun asal, ras, agama, dan adat yang dibawa, mereka toh juga individu yang punya karakter unik dari diri mereka sendiri. Perbedaan-perbedaan unik itulah yang selalu menarikku untuk menulis dan membagikannya kepada kalian. Tentu saja tidak semua hal yang aku tulis di bawah ini seratus persen mutlak karena sekali lagi, semua orang (terutama wanita) adalah makhluk yang punya keindahannya dan keunikannya masing-masing, oleh karena itu mereka tak suka digeneralisasi.

Karena tak banyak wanita Jerman yang aku kenal dekat, aku pun beinisiatif bertanya kepada seseorang yang punya kedekatan secara lahir batin dengan wanita Jerman. Oleh karena itu, selain dari temanku tersebut, salah seorang sumber terpercaya, yakni teman sekelasku, pemuda asal Jawa Timur yang menikah dengan wanita Jerman, juga menuturkan beberapa ide dan dengan senang hati berbagi kisah pernikahan beda budaya itu. Berikut adalah opini yang kami himpun berdasarkan pengalaman pribadi. Sepuluh karekter wanita Jerman itu adalah:

1. SETARA/INGIN SETARA

Poin penting yang sangat menonjol dari wanita Jerman adalah kesetaraan. Di Jerman, kita akan dengan mudah menemui wanita yang bekerja sebagai tukang bangunan, masinis, supir bus, supir truk, bahkan komentator sepak bola. Di Indonesia, mungkin pekerjaan tertentu masih dikerjakan berdasarkan pengelompokkan gender, misalnya saat aku kerja di Gresik dulu, para wanita hanya boleh mengupas udang, sedangkan laki laki yang packing. Wajar saja karena pertimbangan fisik laki-laki yang lebih kuat. Di Jakarta dan kota metropol yang lain, sudah sering aku jumpai para wanita menjadi supir bus atau transjakarta, tapi tidak di sebagian besar wilayah Indonesia.

Di Jerman, isu feminisme dan emansipasi wanita sudah digencarkan puluhan tahun yang lalu. Wanita Jerman pun sudah familiar dengan hal itu. Mereka tidak mau dianggap lebih rendah dari lelaki. Di dalam rumah tangga pun, wanita Jerman tidak akan mau di suruh diam di rumah, melayani suami, masak, macak, manak seperti semboyan orang Jawa. Di dalam rumah tangga, meskipun suami bertugas mencari nafkah, dia juga punya kewajiban lain, misalnya membersihkan dapur, menata meja makan atau mengeringkan baju.

Dulu, saat Robert (Host Fatherku) pulang kerja, kelihatan letih, dia masih harus membersihkan dapur yang berantakan dan mainan anak-anak yang menumpuk, lalu membawa anak-anak ke tempat tidur, mendampingi mereka gosok gigi dan membacakan cerita sebelum tidur. Aku sering menawarkan bantuan membersihkan dapur, tapi dia bilang, "Ini sudah tugasku, kok. Biasa saja"

2. MANDIRI

Wanita Indonesia pun juga tak sedikit yang mandiri, banyak diantara mereka yang bahkan menjadi pejuang hebat untuk diri dan ibu pertiwi. Namun, tak sedikit juga wanita Indonesia yang lebih memilih pasrah dan tunduk pada suami. Sebagian dari mereka, terutama yang aku tahu dari budaya jawa, wanita akan suka kalau sejak pertemuan pertama sudah dielu-elukan dan dimanjakan. Kalau kalian berkenalan dengan wanita Jerman, jatuh hati padanya, lalu memperlakukannya seperti itu, mentraktirnya, menjadi supirnya, memujanya secara berlebihan, memanjakannya dan mau mati demi dirinya. Aku jamin, dia malah kabur!

Wanita Jerman memang suka hal-hal di atas, kalau dia juga sudah jatuh hati. Mereka pun toh juga wanita yang punya sisi kelembutan dan ingin dimanja. Temanku pernah bilang, "Aku suka banget sama pacarku itu, dia romantis. Orang Indonesia memang lebih romantis daripada orang Jerman. Baru 3 hari pacaran sudah bilang cinta, kalau pacaran sama orang Jerman, nunggu 3 tahun deh"

Baca juga: Jatuh cinta ala Jerman atau Indonesia??

Wanita Jerman adalah wanita yang mandiri. Kalau kalian terlalu melayaninya, mereka malah tidak suka. Dia ingin dianggap kuat dan tegar. Jadi berikaplah cool saat PDKT, jangan terlalu merangsek.

3. TEGAS

Salah satu ciri yang membedakan dari wanita Indonesia adalah, mereka tegas sejak awal menjalin hubungan. Misalnya, wanita Indonesia, sebagian besar kalau memulai hubungan akan berorientasi pada pernikahan atau kelanjutan yang serius. Berbeda dengan wanita Jerman. Banyak diantara mereka yang dengan tegas dan yakin seyakin yakinnya, bahwa di hidupnya, tak ada konsep pernikahan. Jadi kalau bertemu dengan laki-laki, dia akan mencari tipe yang juga tak suka menikah. Ada juga yang saat melihat lelaki tertentu, dia melihat macho pada dirinya dan hanya ingin hubungan sex semata, masalah jatuh cinta dan serius itu masalah belakangan, dan mereka akan tegas kepada lelaki itu, bahwa dia suka tapi dia tak ingin serius. Kalau jadi laki-laki Indonesia yang melankoli dan berharap pada keajaiban cinta, jangan berharap wanita Jerman seperti ini akan berubah mencintaimu, cari wanita Jerman yang tegas ingin mencintai dan dicintai, yang serius dan orientasi hubungannya sama denganmu. Wanita Jerman, seperti kebanyakan orang Jerman, yakni orang yang tegas, teguh dan punya prinsip. Tapi, yang namanya manusia, pasti ada titik di mana dia akan digerakkan hatinya oleh Tuhan menjadi orang yang bisa berubah (berusaha optimis)😋

4. Nggak Suka digombalin atau Digodain

Sebuah kesalahan fatal kalau kamu bersiul-siul menggoda cewek Jerman supaya mendekat dan tertarik padamu. Yang ada mereka malah ilfil!

Kata temanku, cewek Jerman bukanlah tipikal cewek yang suka digombalin. Mereka tak suka basa-basi cinta, kata-kata mutiara, apalagi puisi sang pujangga. Tunjukkan iktikat yang sewajarnya, tidak seronok, baik tapi tidak terlalu baik, jangan merayu dan melambungkan angan-angan terlalu berlebihan, mereka bakal tau kalau semua itu hanya omongan angin. Gunakan trik tarik ulur agar dia penasaran, jangan ditarik terus, nanti dia terkekang, kalau terlalu diulur, dianya ditarik yang lain. 😁

5. Nggak mau dijadikan objek cinta atau Seksual

Berkaitan dengan poin ke empat, seperti disiulin, di suit-suitin atau dijadikan objek goda-menggoda, tak akan menarik cewek Jerman. Mereka paling anti pati sama cowok yang hobinya menggoda wanita dan menjadikan mereka sebagai objek seksual. Namanya melecehkan dan merendahkan wanita. Ingat poin pertama, wanita Jerman suka dianggap setara, dia tidak suka berada satu tingkat dibawah pria!

6. Diskusi Dua Arah

Yang satu ini adalah ciri wanita Jerman di dalam sebuah hubungan. Entah itu pacaran atau sudah menikah. Wanita Jerman tak suka diatur dan cenderung tak ingin mengatur. Meskipun mereka lebih dominan dan suka mengatur urusan rumah tangga, tapi mereka tak akan memaksa apa yang tidak disukai pasangannya. Contohnya, kalau di Indonesia, kulihat ibuku sering meyakinkan ayah agar ikut kerja bakti di RW setempat, kalau nggak ikut, nanti dianggap sombong, sehingga ayahku pun meskipun capek pulang kerja, masih ikut membantu membersihkan kampung. Atau ibu suka ngatur keuangan dan menyelip-nyelipkan uang tabungan agar uang bisa bersirkulasi dengan lancar tanpa berdiskusi dengan ayah terlebih dahulu.

Di Jerman, perihal keuangan, pekerjaan, atau apapun WAJIB didiskusikan terlebih dahulu. Dalam kasus ibu dan ayahku, kalau ibuku wanita Jerman, dia akan mengerti kalau suaminya capek dan tak ingin kerja bakti. Wanita Jerman cenderung lebih membela suami, atau keluarga terdekat daripada memusingkan omongan orang. Masalah keuangan rumah tangga, tak ada aturan, suami kerja, yang ngatur perekonomian sang istri. Atau kalau dua-duanya kerja, yang ngatur suami. Semuanya terjadi berdasarkan kesepakatan dan hasil diskusi bersama. Jadi, diskusi dan transparan itu penting adanya.

7. NGGAK BAPER!!

Setuju tidak kalau aku bilang orang Indonesia, terutama wanita Indonesia suka baper dan berujung galau?
Wanita Jerman, seperti poin nomor 3, adalah pribadi yang tegas dan anti baper. Misalnya, lewat sebuah situs biro jodoh, sang wanita sudah menemukan sang pria pujaan hati. Setelah tidur bersama berhari-hari, nggak taunya si pria bilang bahwa dia hanya ingin cari partner sex saja, tak cari hubungan serius. Meskipun sang wanita ini sudah ditiduri dan terlanjur suka, dia tak akan segan menjauhi pria tersebut karena yang dicarinya adalah pria serius. Atau kalau sang wanita cintanya bertepuk sebelah tangan, mereka tak akan mendayu-dayu menangis berkepanjangan. Wanita Jerman seiring dengan kekuatan yang timbul karena keinginan setara tersebut, membentuk mereka menjadi pribadi yang gampang move on dan sangat tegar. Meskipun pada banyak kasus, kalau sudah tak kuat, karena tak punya Tuhan dan iman, mereka pada akhirnya stress dan lari ke psikiater.

Dalam sebuah kehidupan sosial di masyarakat pun, meskipun bergaul dengan teman laki-laki, mereka akan murni menganggap teman kalau tak ada chemistry yang terpantik dari pertemanan mereka. Tak ada istilah baper kalau sudah dekat banget. Lalu bagaimana kalau laki-lakinya yang baper? Atau ternyata salah satu dari keduanya baper?

Kalau dari sebuah hubungan pertemanan, ada salah satu diantara mereka yang jatuh cinta, tapi yang dicintai menolak, dia yang ditolak akan dengan tegas pada diri sendiri dan pada yang menolak bahwa untuk sementara waktu, sampai perasaan bapernya hilang, kita sebaiknya menjauh satu sama lain. Kalau aku dan perasaanku ini sudah siap berteman lagi denganmu (tanpa embel-embel jatuh cinta), aku akan kembali menghubungimu dan berteman lagi. Bisa loh seperti itu orang Jerman!

8. Tau Apa Yang Dia Mau

 Wanita Jerman tau apa yang dia mau. Seperti di Poin nomor 3, kalau wanita Jerman sudah maunya ini, dia akan sulit melunak. Temanku yang telah jatuh cinta pada pemuda Jember itu pernah bilang, "Sebenarnya aku sangat mencintainya, tapi aku tak mau kerja dan tinggal di Indonesia, sedangkan dia nggak bisa kerja di Eropa. Jadi lebih baik kita putus saja."

Bisa kita lihat, wanita Jerman memang cenderung keras dan kaku (memang sifat orang Jerman seperti itu). Urusan hati, kalau memang tak menemukan titik terang, memang lebih baik disudahi. Kalau wanita Indonesia, pasti sudah galau dan baper setengah mati.

9. Seperti orang Jerman pada umumnya

Wanita Jerman itu seperti apa? Ya seperti orang Jerman. Kalau ingin mendekati wanita Jerman, pahami budaya dan sifat orang-orangnya. Tak ada sifat yang jauh berbeda antara laki-laki dan wanita di Jerman, karena wanitanya ingin setara dan tak ingin dibedakan.

10. LOGIS

Kisah roman yang tak jadi picisan ini datang dari temanku. Istrinya (wanita Jerman), pernah cerita bahwa saat magang di Indonesia, ada salah seorang teman laki-laki (orang Indonesia), yang memboncengnya dengan sepeda motor. Saat hujan turun, si laki-laki tersebut mengeluarkan mantel dan menyerahkannya pada wanita yang diboncengnya itu. Wanita Jerman itu marah karena dia berpikir, dia kan yang dibonceng, kenapa dia yang pakai mantel, harusnya kan mantel dipakai oleh sang laki-laki yang membonceng. Sedangkan laki-laki Indonesia itu hanya berusaha melindungi sang wanita agar tidak basah kuyup dan rela berhujan-hujanan demi teman wanitanya. Akhirnya wanita Jerman itu memaksanya memakai mantel karena lebih logis, dia yang pakai mantelnya, karena dia yang bonceng.

Kalau wanita Indonesia, pasti sudah trenyuh dan terharu biru ada seorang pria yang rela berbasah-basah dan sakit demi dirinya. Di mata orang Jerman, yang ada adalah sebuah logika, bahwa di situasi seperti di atas, tak ada yang namanya wanita dan pria, dibonceng, dan membonceng. Logikanya, kalau si pria kemudian sakit karena membela wanita agar tidak basah, sangat tidak masuk akal. Toh, yang dibonceng tetap dapat pelindung dari pembonceng, sehingga keduanya bisa selamat. LOGIS.

Semoga informasi ini memberikan sedikit wawasan seputar Jerman, terutama orang-orangnya. Ingat, opini yang aku tulis di atas adalah opini pribadi yang mungkin berbeda dari sudut pandang dan pengalaman orang lain. Jadi jangan terlalu diambil hati, ambil hikmahnya saja 😉

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Wednesday, July 26, 2017

MELAMAR FSJ/BFD dari Indonesia


Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah pertanyaan mendetail tentang melamar FSJ dari. Berhubung kesibukan kuliah yang amat padat, aku baru sempat mengupasnya sekarang.

Baca juga: Seputar FSJ/BFD di Jerman 

Artikel yang aku tulis ini adalah opini pribadiku yang mungkin berbeda dengan pengalaman FSJ-ler lain. Semoga membantu :)

Ini pertanyaannya

Aku pengen FSJ di bidang kultur (budaya), bagaimana?

Begini, dulu aku niat banget pengen FSJ di museum atau di TK, karena aku suka mempelajari perbedaan budaya antara Jerman dan Indonesia, pertimbangan FSJ di TK adalah karena aku suka sama anak kecil. Saat kulihat kesempatan menjadi FSJ di bidang tersebut mendapat gaji yang rendah, aku mulai mencari peluang lain. Di München, aku mendapat tawaran menjadi FSJ di sebuah TK, dengan gaji yang cukup besar (650 euro), tapi keinginanku untuk pidah dari München membuatku menolak tawaran tersebut.

Untuk melamar FSJ dari Indonesia, terlebih di bidang kultur, kalian harus jeli melihat gaji yang ditawarkan. Mengapa?

* Pihak kedubes akan mempertimbangkan berapa gaji kalian, apakah cukup untuk biaya hidup, makan, akomodasi, dan kebutuhan lain per bulannya di Jerman. Kalau dirasa tidak mencukupi, kemungkinan besar visa kalian akan ditolak. Pengecualian, kalau di kolom apply visa, kalian mencantumkan bahwa biaya hidup di Jerman ditanggung oleh orang tua di Indo atau punya penjamin di Jerman, atau punya uang deposit 8700 euro, jadi gaji berapa pun yang didapat dari FSJ tak jadi masalah.

* Berapa gaji yang mencukupi dan berpotensi untuk dikabulkan visanya oleh pihak kedubes? Lihat kota dimana kalian tinggal. Kalau tinggal di kota besar seperti Hamburg atau München, gaji 300 atau 400 dijamin kurang, minimal 600 (kalau tak dapat apartemen dari pihak Träger), kalau dapat tunjangan akomodasi dari pihak Träger, gaji 300 atau 400 pun cukup (jangan lupa saat apply visa bilang bahwa gajinya bersih tanpa membayar uang sewa apartemen)

Cara daftarnya?

Untuk daftar FSJ atau pekerjaan apapun di Jerman (termasuk au pair), memang sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari. Cantumkan di surat lamaran yang kalian kirim lewat email itu, bahwa kalian ingin daftar FSJ untuk bulan September.

Daftar sebanyak-banyaknya!!! Dulu, saat aku mendaftar FSJ, aku kirim lamaran ke lebih dari 50 lowongan yang ada, dan mengikuti 6 kali interview sampai aku benar-benar diterima. Memang melelahkan dan menegangkan, tapi yang namanya berjuang, pasti tak ada yang langsung mudah, kecuali hidup kita diliputi keberuntungan.

Untuk melihat contoh surat lamaran, klik di sini.

Untuk Interview? Apakah harus datang atau bisa Skype?

Teknologi modern memang memudahkan kita untuk berinteraksi dengan dunia global. Oleh karena itu, kita bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada dengan skype. Pertama, kalau lamaran kita sudah dapat tanggapan, jangan ragu bertanya: Saya masih tinggal di Indonesia, bisakah interview kita lakukan lewat skype?

Orang Jerman adalah orang yang sangat terus terang. Waktu aku di München, aku dapat panggilan kerja dari IB Ulm. Jarak Ulm dan München terbilang dekat karena Ulm masih terletak di Bavaria. Tapi saat itu, aku tak dapat libur dari Host Family untuk pergi interview, akhirnya aku beranikan diri bertanya dan berterus terang akan keadaanku yang sebenarnya. Mereka mau  kok melakukan Skype denganku.

Untuk datang Interview? Biaya ditanggung siapa?

Sekali lagi hal ini tidak bisa ditanyakan kepadaku, karena masing-masing penyedia kerja berbeda. Biasanya biaya ditanggung sendiri, apalagi biaya datang dari Indonesia, kemungkinan besar, mereka tak mau menanggung resiko untuk memberikan ratusan euro secara cuma-cuma demi undangan interview FSJ saja (yang mungkin bisa juga disalah gunakan oleh kita). Orang Jerman itu sangat teliti dan perhitungan, logikanya, mereka akan berpikir, "Ini kan cuma interview, lagi pula, dia mungkin juga interview di tempat lain juga, jadi mengapa bukan tempat lain itu yang membayar biaya perjalanannya? Kalau kita yang bayar, dia kerjanya di tempat lain? Wah rugi, dsb!"

Untuk proses melamar FSJ, ada tahapan interview dan hospitation. Interview memang bisa dilakukan lewat skype, tapi hospitation harus datang melihat-lihat tempat kerja dan berkenalan dengan para pekerja serta melihat bagaimana mereka bekerja. Untuk hospitation ini, mereka juga biasanya sudah mewanti-wanti agar datang dengan biaya sendiri. Aku dulu diberitahu lewat email bahwa untuk datang ke Hamburg dan melakukan hospitation, biaya aku tanggung sendiri.

Nah kalau dari Indonesia? Penyedia dan penyalur FSJ yang menerima WNA, biasanya lebih tahu bagaimana menangani hal ini. Ada sebuah informasi, bahwa untuk melamar dari Indonesia, kita tidak perlu melakukan hospitation alias cuma interview lewat skype saja.

Visa yang dipake untuk interview apa?

Kalau memang ada panggilan interview atau hospitation di pihak penyelenggara FSJ, kalian harus konfirmasi ke pihak pengundang dan pihak kedubes visa apa yang harus diajukan. Karena visa undangan interview saja tidak ada kategorinya. Menurutku, datang ke Jerman hanya untuk interview saja sangat menyita waktu, tenaga dan uang. Saranku, minta pihak Träger untuk interview lewat skype saja dan skip hospitation. Kalau mereka tidak mau, cari Träger lain yang lebih membuka diri terhadap kesempatan FSJ buat orang asing yang belum tinggal di Jerman!


Perihal jadwal kerja?

Kalau misalnya sudah diterima, bisa nggak jadwal kerja dimajukan agar kita tak usah repot-repot pulang ke Indonesia dan langsung memperpanjang visa di Jerman? 

NO WAY! AUF KEINEN FALL!! Di Jerman, semua serba ada aturan dan jadwal masing-masing. Kalau kalian melamar untuk bulan September, lalu minta dimajukan April, tentu saja mereka tak akan mau. Mengapa?

* Saat mempertimbangkan untuk mengundang kalian interview, mereka sudah punya bayangan untuk menerima orang tertentu di bulan tertentu.

* Tiap lowongan, tak bisa lebih tak bisa kurang! Ingat, orang Jerman itu saklek! Di tiap-tiap lowongan kerja, mereka sudah menyusun anggaran, pekerja, dan jam kerja masing-masing orang. Misalnya, di sebuah TK, mereka butuh 1 tenaga ahli, satu asisten, satu pekerja magang, satu sukarelawan. Mereka tak akan memasukkan, menyelip-nyelipkan 2 sukarelawan di sana. Jadi kalau kalian misalnya diterima interview di bulan Maret, lalu minta langsung kerja di bulan April, sedangkan di bulan April tersebut, posisi FSJ masih ada yang menempati? Mau ditempatkan di mana kalian? Masak iya, FSJ yang lama dipecat begitu saja demi memasukkan kalian? :D

*Orang Jerman itu konsisten dan suka orang yang konsisten. Jadi mereka benar-benar terencana, kalau rencana awal mulai kerja bulan September, lalu berubah bulan Maret atau Mei, mereka nggak bakalan menerima hal itu.

Baca juga: Jerman Vs Indonesia: Saklek Vs Cerdik

Mau bertahan di Jerman sampai mulai kerja bulan September?

Kalau misalnya kalian diterima bulan September sedangkan nggak mau pulang ke Indonesia, maunya nunggu di Jerman saja, bagaimana? 

Sulit!!. Pertama, visa apa yang kalian punya saat interview? Visa Turis? Kalau iya, kalian harus tetap pulang ke Indonesia untuk ganti visa FSJ. Kedua, kalau datang ke Jerman pakai visa Sprachkurse, dan ingin memperbaiki bahasa Jerman (kursus) sambil menunggu kerja, juga sulit. Untuk mengganti visa dari Sprachkurse ke visa FSJ, kalian tetap harus pulang ke Indonesia. Itu aturannya, karena visa Sprachkurse merupakan visa persiapan studienkollege atau kuliah, jadi kalau pindah haluan jadi FSJ, harus pulang dulu ke Indonesia.

Warning: Temanku mengganti visa au pairnya menjadi visa sprachkurse, ketika dia ingin FSJ, pihak kedubes mewajibkan dia kembali ke Indonesia. Meskipun telah mengantongi dokumen lengkap FSJ, kontrak kerja dsb, dia ditolak kedubes. Dalam surat penolakannya yang panjang, pihak kedubes menyebut bahwa temanku itu PLIN-PLAN dan tak tahu apa tujuannya datang ke Jerman. Jadi, kalian harus hati-hati. Pemerintah Jerman merekam semua track record kita.

Jadi, cara paling baik adalah pilih Träger yang hanya menerima interview lewat skype, sekalipun kalian bersikukuh datang ke Jerman untuk hospitation, konfirmasikan dulu dengan pihak kedubes dan Träger dengan sejujur-jujurnya agar kita bisa leluasa bergerak dan tak takut salah karena kita sudah yakin bahwa apa yang kita lakukan sudah benar.

Kalau setelah interview, kalian mau tetap tinggal di Jerman, tak ada visa yang paling masuk akal untuk dilakukan, karena visa kunjungan sementara, harus tetap pulang ke Indonesia untuk memperpanjang visa tinggal (FSJ). Kecuali kalian punya kenalan yang mau menjamin (jadi Verpflichtungserklärung), kalian bisa buat visa kunjungan dengan undangan dari mereka. Untuk masalah ini, lagi-lagi, kalian harus konfirmasi dengan pihak pengundang dan kedubes. Pokoknya, semua harus clear sebelum kalian salah ambil keputusan. Ingat: Salah spekulasi hidup di Jerman bisa berantakan. Kalian harus cermat dan teliti serta yang paling penting, jujur&transparan, karena di Jerman, pemerintahannya nggak bisa disogok. Sekalipun kenalan kalian itu perdana menteri, kalau kalian harus pulang dideportasi, ya tetap saja dipulangkan! :D

Kalau nunggu FSJ dengan kerja sambilan?

Aku harus bertanya lagi. Visa yang digunakan itu visa apa? Visa Turis, FSJ, Au Pair, dan Visa Kunjungan, dilarang keras untuk bekerja sambilan! Kalaupun mau kerja saat au pair atau FSJ, kalian harus kerja gelap, dengan resiko (kalau ketahuan) dideportasi dan tak bisa balik ke Jerman minimal 20 tahun. Kalau visa sprachkurse, setahuku bisa minimal 20 jam per minggu (ini juga tergantung kantor imigrasi setempat, memperbolehkan atau tidak). Kalau kalian tidak punya izin kerja, tapi nekat kerja (sekalipun kerja sambilan), siap-siap nggak balik ke Jerman kalau ketahuan.

Nah, semua pertanyaan, sudah aku jawab, sekarang giliranku ngasih TIPS yang aku dapat dari Grup Facebook Au Pair, FSJ, dan Azubi di Jerman (gabung gih! Gratis kok :P).

TIPS PERTAMA: Bagaimana melamar FSJ dari Indonesia?

Salah satu kawan blogger yang ingin melamar FSJ dari Indonesia menceritakan kisahnya padaku bahwa seorang temannya berhasil melamar FSJ dari Indonesia, prosesnya memang panjang, tapi dia berhasil berangkat ke Jerman. Kawan bloggerku itu pun mencoba kesempatan yang sama. Dia sudah mahir berbahasa Jerman karena pernah kuliah di sastra Jerman.

Sudah sekitar 8 bulan dia mendaftar, belum juga dapat panggilan. Dari sini, aku sedikit pesimis akan kesempatan melamar FSJ dari Indonesia. Tapi bukankah tak ada hal yang mustahil dilakukan selama kita berusaha? Ingat kisah-kisahku sebelum ke Jerman yang penuh keajaiban? Kalian pun berhak atas keajaiban yang sama jika mau berupaya.

Baca kisahku: Sebelum au pair part 1: Semua berawal dari patah hati

Sabar dan terus mencoba. Melamar terus dan terus berupaya. Kalau memang takdir kalian ke Jerman, tak akan ada satu halangan pun yang merintanginya, bukan?

Lalu di mana daftar FSJ yang memungkinkan kita diterima jika melamar dari Indonesia? 

Salah satu komentar yang menyegarkan dari salah satu anggota Grup FB. Coba di Diakoni RWL

Aku tahu, kalian pasti mau linknya aku bagi. Tentu saja, aku bagikan linknya. Kalau mau mencari tahu tentang Diakonie RWL, silakan buka websitenya di sini! 

Untuk like atau kirim pesan lewat FB, silakan like fb fanpage nya di sini

Ini juga ada saran dari anggota Grup fb,


Link yang dibagikan untuk melamar FSJ, silakan klik di sini.

TIPS 2: Jangan sungkan tanya!

Begitu dapat informasi, silakan bertanya. Kalau gabung di Grup Fb, bisa tanya sama anggota yang sudah pengalaman, atau tanya langsung kepada pihak pemberi kerja (Träger)!. Usahakan sambil tanya, sambil bersungguh-sungguh berusaha. Puluhan email datang padaku untuk bertanya-tanya, kadang saking sibuknya, aku lupa membalas, kalau sempat, aku balas singkat saja. Kalau terlalu banyak tanya, juga kadang menjengkelkan bagi orang yang ditanyai, bukan? Jadi usahakan pertanyaannya mengena, dan tidak membingungkan. Kalian bisa juga pakai bahasa Inggris kok kalau kirim email atau bertanya kepada Träger tersebut.

TIPS 3: Kalau tak mau ribet, pakai AGEN!!

Aku bukanlah agen penyalur FSJ ataupun au pair. Apa yang aku tulis di blog mau pun di fb fanpage adalah semata-mata aku ingin share info, pengetahuan, dan liputan yang berkenaan dengan Jerman dan hidup di Jerman (termasuk kesempatan kerja dan kuliah). Kadang sakit hati juga, kalau share di fb, lalu ada yang nyeletuk bahwa aku nyari keuntungan. Keuntungan apa? Aku bahkan rela menulis, mengumpulkan info, membaca, dan membagikannya kepada kalian dengan cuma-cuma, sehingga (mungkin) ada yang terbantu atau terpecahkan masalahnya. Mengingat aku dulu juga sering kebingungan nyari info.

Ada beberapa agen penyalur FSJ, Au Pair, dan Ausbildung dari Indonesia. Dengan membayar sejumlah uang tertentu, kalian mungkin dimudahkan untuk mencari tahu, mengurus keperluan sampai berangkat ke Jerman. Aku pribadi lebih percaya kerja kerasku sendiri dan tak suka agen. Tapi keputusan ada di tangan kalian. Untuk info agen penyalur FSJ, kalian silakan cari sendiri di google :)

Semoga informasi tentang FSJ ini membantu kalian dan menjawab sebagian pertanyaan yang masuk.

Semoga tips ini memberikan informasi seputar Jerman. Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Tuesday, July 25, 2017

TRINKGELD: Kapan Harus dan Tak Harus Memberikan Tips Kepada Pelayan Jerman?


Max pernah bercerita padaku sebuah hal yang menggelikan. Saat traveling ke Indonesia, dia dan salah seorang temannya suka kalap kalau lagi makan di warung. Padaku, dia menuturkan bahwa saking sukanya masakan Indonesia dan saking murahnya harga makanan di sana (dibandingkan dengan harga kios atau restoran di Eropa), Max suka pesan 2 sampai 5 porsi sekaligus. 

Hal lucu yang membuatku terkesan adalah ketika dia makan di sebuah warung kaki lima di kawasan Gunung Bromo. Di Jerman, adat masuk sebuah restoran adalah mengucapkan salam, seperti: GUTEN TAG, MOIN, GRÜß GOTT, Hallo, dsb. Kemudian saat keluar restoran, mereka biasanya melemparkan salam lagi dengan mengucapkan Tschüß (daag daag) atau Aufwiedersehen (sampai jumpa lagi). Max yang masih membawa adat Jerman saat jalan-jalan ke Indonesia ini pun sedikit kagok saat masuk dan keluar restoran. Ketika bercerita padaku, sambil ngakak dia bilang, "Tau nggak? Aku masuk warung tenda mini (PKL mungkin yang dia maksud) dan bilang pada orang-orang yang sudah duduk di sana 'Selamat Pagi'. Eh nggak ada yang jawab malah mereka menatap aneh padaku. Saat keluar restoran, aku bilang kepada mereka, 'sampai jumpa lagi', bukannya dijawab, seisi warung malah ketawa ngakak. Aku berpikir kenapa!"

Perutku mulas membayangkan betapa anehnya bule setinggi 2 meter masuk membungkuk-bungkuk ke warung tenda dan ikutan makan di situ, lalu dipandang aneh oleh penjual dan orang lain. Meskipun aku salut dengan kesopanan Max, kujelaskan padanya bahwa cukup tersenyum dan bilang daag daag saja sudah dianggap sopan. Justru akan aneh kalau dia terlalu sopan sampai bilang seperti itu, tak heran kalau orang-orang menertawakannya.

Yang lebih mengherankan lagi, Max bilang, "Tak hanya itu! Aku pun tak tahu menahu adat orang Jawa Timur seperti apa. Saat aku makan, di mana pun itu, aku selalu memberikan tips 10% kepada pelayan restoran. Mereka kadang menerima, kadang malah mengembalikan padaku. Aku takut dianggap kurang ajar kalau tak memberikan tips." Ah Max, kadang dia suka blo'on dan polos. Di balik sifat cool ala Jermannya, rupanya dia juga manusia biasa yang berusaha menyesuaikan diri dengan adat dan lingkungan saat dia traveling.

Di Jerman, seperti yang aku sering sebutkan, ada sebuah adat memberi tips kepada pelayan restoran. Kalau kalian datang ke Jerman, hal ini perlu diperhatikan agar tidak dianggap pelit atau kurang sopan. Tak heran kalau Max bersikukuh memberikan tips kepada penjual nasi di PKL, karena budaya Jerman mengajarkan padanya seperti itu.

Baca juga: Mengapa harus memberi tips saat makan di Restoran Jerman?

Meskipun demikian, budaya memberi tips ini sebenarnya cukup tricky untuk dilakukan. Pasalnya, kita sebenarnya tak harus memberikan tips di semua restoran. Lalu, di mana dan kapan kita harus dan TAK HARUS memberikan tips?

1. Restoran Cepat Saji

Restoran cepat saji seperti Mc. D, KFC, Burger King, dsb, kita TAK HARUS memberikan tips. Karena kita yang melayani diri kita sendiri di resto ini.

2. IMBISS

Imbiss adalah semacam warung. Ada imbis yang menyediakan tempat duduk untuk makan di tempat, ada yang tidak. Kalau kita ke Imbiss, apakah perlu memberikan tips? Tergantung apakah kalian mau bungkus atau makan di sana, dan kalau makan di tempat, tergantung apakah pelayannya melayani dengan maksimal atau kita di suruh menunggu makanan kita lalu mencari tempat duduk sendiri.

Aku pernah makan di sebuah Imbiss kebab di Hamburg dan memutuskan untuk makan di sana. Kupikir aku akan ambil makanannya sendiri dan langsung menyantap makananku. Nggak taunya, datang seorang pelayan dan mempersilakan aku duduk, mengantarkan pesananku, dan melayaniku dengan baik layaknya di sebuah restoran. Untuk kasus seperti ini, aku rela memberikan tips kepadanya. Tapi kadang (seperti di kebanyakan Imbiss) kita di suruh menunggu, dan ambil sendiri makanan yang telah disiapkan, untuk kasus semacam itu, tak perlu memberi tips.

3. Restoran (termasuk Biergarten)

Makan di restoran, apalagi restoran mewah dengan pelayan yang memakai seragam, tentu saja kita wajib memberi trinkgeld (tips). Kecuali kalau kita sangat kecewa dengan pelayanannya yang lama atau tidak puas dengan makanan yang dihidangkan. Salah pesan makanan bukan termasuk kecewa ya, karena itu kesalahan kita sendiri mengapa tidak tanya di awal. Tidak puas di sini aku artikan sebagai pelayanan yang kurang cekatan, atau hidangan yang tidak higienis, dsb. Untuk kasus seperti ini, kita sah-sah saja protes bahkan minta dipanggilkan manajer.

Sebuah restoran di Jerman sangat tergantung dari kepuasan konsumen. Mereka akan melakukan segala cara agar pelanggan kembali lagi ke restoran tersebut. Terlebih, para pengunjung juga bisa leluasa memberi referensi positif atau negatif di internet untuk rekomendasi kepada pelanggan lain, jadi kalau pelanggan tidak puas atau kecewa, mereka akan berusaha memperbaiki kesalahan, menawarkan jasa atau makanan baru untuk menebus rasa kecewa itu. Itu sebabnya, tips adalah salah satu indikasi kepuasan konsumen. Tips yang besar tandanya puas, lagi pula pantas diberikan karena pihak restoran (terutama pelayan) telah berusaha melayani konsumen layaknya raja dan ratu.

4. Cafe

Di Cafe, kasusnya seperti di Imbis, tergantung bagaimana kita melihat dan menilai pelayanan mereka. Kalau dirasa pantas diberi tips dan terlihat mereka sangat berupaya ramah agar diberi tips, tak ada salahnya memberi 10% dari bill kita.

5. Di Bar

Biasanya kita tak perlu memberi tips kepada pelayan diskotek atau bar, kecuali kalau kita ingin dan malas menyimpan recehan uang kembali. Karena pesan minuman di Bar biasanya kita lakukan berjubel-jubel dan kita memilih tempat duduk sendiri atau minum sambil dansa (berdiri). Kecuali di bar-bar tertentu di mana kita pesan dan pelayan membawakan minuman kita, lalu secara rutin mengunjungi meja dan menawarkan minuman baru seperti pelayanan di restoran.

6. Kiosk dan Bäckerei

Di sebuah kiosk (kios) atau Bäckerei (toko kue dan roti), kita tak perlu memberikan tips.

Nah, dari artikel ini, apa kesimpulan kalian tentang budaya memberikan tips di Jerman? Menurutku, budaya ini adalah budaya ada harga ada rupa (pelayanan yang baik disertai tips yang baik pula). Kalau berkunjung ke Jerman, kita sebenarnya tak usah bingung masalah memberi tips, kalau kita lihat pelayanannya baik, ya diberi, kalau tidak, ya tak usah diberi. Begitu saja.

Bagaimana? Tertarik ke Jerman? Jangan lupa baca artikel lain tentang kebudayaan Jerman dan kisah-kisah pengalaman pribadiku yang menyertainya.

Semoga tips ini memberikan informasi seputar Jerman. Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, July 24, 2017

TRINKGELD: Mengapa Harus Memberi Tips Kalau Makan di Restoran Jerman?


Saat baru sebulan menginjakkan kaki di Jerman, aku mulai bersekolah bahasa. Di dekat tempat kursus bahasa Jerman tersebut terdapat sebuah restoran India. Berkali-kali melewati resto itu, rasanya tergoda untuk sekali-kali mencicipi cita rasa masakan India, terlebih aku adalah penggemar Boolywood yang amat setia. Akhirnya, suatu siang sepulang dari kursus, kusempatkan mampir ke restoran india yang terletak tak jauh dari Tor (gerbang)nya Sendlinger Tor, München tersebut.

Aku dipersilahkan duduk dengan ramah, dilayani dengan penuh suka cita. Rasanya seperti ratu saat itu. Aku pun puas. Tak hanya pelayanannya, tapi cita rasanya pun luar biasa, pedas, wangi, dan sangat menggugah selera. Aku pun memutuskan untuk ke sana lagi seminggu setelahnya, pokoknya jam makan siangku kuhabiskan di sana.

Kunjungan kedua kurasakan begitu berbeda. Aku dilayani pelayan yang sama, tapi dia terkesan agak judes kepadaku. Meskipun senyumku masih tersungging seperti minggu sebelumnya, tapi dia agak acuh kepadaku. Saat membayar pun, aku merasa sangat dicuekin, malah aku agak kesal, dan akhirnya membayar langsung di kasir (minggu sebelumnya, pelayan memberikanku bon di meja).

Kuceritakan hal ini kepada host family dan pertanyaan mereka nomor satu: KAMU BERI TIPS BERAPA SAAT PERTAMA KALI KE SANA?

Aku pun melongo dan bingung. Aku yang polos dan memang koplo ini kemudian memutar otak dan mengingat-ingat. Jangankan memberi tips, apa itu tips saja aku tak tahu. Akhirnya kubilang sejujurnya kalau aku tak tahu apa itu tips dan bagaimana memberikannya. Host motherku pun tergelak. Akhirnya aku pun penasaran seberapa pentingkah memberikan tips saat makan di sebuah restoran di Jerman.

Setelah tinggal beberapa bulan di Jerman, aku bertemu pacar pertamaku, sebut saja namanya John. Dia suka sekali makan di restoran. Bahkan, kami berkenalan saat kami berdua berada di sebuah restoran klasik paling terkenal di München, Münchner Hofbräuhaus. Darinya pun, aku belajar bagaimana orang Jerman memberikan tips saat makan di restoran.

Bagi teman-teman yang sedang jalan-jalan di Jerman, tak ada salahnya membaca artikel ini hingga tuntas agar tak mengalami kejadian yang sama denganku.

Baca juga: Makan di Restoran ala Jerman? 10 Hal ini Wajib diperhatikan!!

Tak semua negara di Eropa memberlakukan budaya pemberian tips kepada pelayan restoran. Contohnya di Italia, kita tak harus memberikan tips, TAPI, tips tersebut sudah termasuk di dalam bill. Jadi, saat membayar, jumlah yang tertera di bill sudah termasuk Coperto (uang sendok garpu).

Baca juga: Verona, Italia: Review Restoran Restorante Olivo

Di Jerman, tips yang diberikan kepada pelayan disebut trinkgeld. Kalau diterjemahkan, trinkgeld artinya uang minum. Di Indonesia, terutama di Batu, setahuku, kita tak harus memberikan tips kepada pelayan, aku kurang tahu bagaimana di kota lain? Mungkin kalian bisa memberi tahu bagaimana budaya makan di restoran di kota kalian pada kolom komentar.

Mengapa kita harus memberikan trinkgeld?

1. Gaji pelayan itu sedikit

Meskipun ada beberapa sumber yang menampik hal ini, tapi banyak sumber lain yang mengatakan bahwa gaji pelayan restoran di Jerman itu memang disetting pas-pasan. UMR di Jerman adalah 8,5 euro per jam. Jika bersih-bersih rumah dibayar 12-15 euro/jam, babysitting 10 euro/jam, di panti jompo 10,50-11,40/jam euro, nyortir surat di kantor pos 10,50-14 euro/jam, maka di restoran gaji memang nge press 8,5 euro per jam, belum lagi kalau mereka bekerja di bawah tangan, alias ilegal, gaji cuma 5-7 euro saja per jam.

Dengan demikian, para pelayan bisa hidup dari trinkgeld tersebut. Host motherku pernah bekerja sebagai pelayan restoran di sebuah hotel, dia pun menuturkan hal yang sama padaku, bahwa kerja sebagai pelayan itu beratnya minta ampun, ke sana kemari, senyum sana sini, tapi upahnya mini.

2. Jumlah tips menentukan kualitas pelayanan

Pelayan restoran di Jerman biasanya luar biasa ramah, dikit-dikit datang ke meja makan menanyakan apakah kita butuh sesuatu, apakah makanannya enak, apa ada keluhan, mau pesan lagi, dsb. Meski kadang kurasa cukup berlebihan, tapi rasional juga, karena mereka mengharapkan tips dari senyum sapa dan ramah tamah (ingat! orang Jerman itu aslinya kaku :P).

Pemberian tips menentukan kualitas pelayanan mereka. Kalau kita memberikan tipsnya sedikit, tandanya kita kurang puas dengan pelayanan atau makanannya, bisa jadi kita dianggap tidak menghargai keramahan mereka atau mungkin kita marah kalau sama sekali tidak memberikan tips. Tapi kalau terlihat baik-baik saja, kok tidak memberikan tips, kita dianggap kurang sopan dan kurang tahu diri. Seperti diriku di resto India waktu itu. :D

3. Budaya

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung bukan? Di mana pun kita berada, tak ada salahnya turut menghargai budaya di tempat tersebut, selama itu baik, agar kita tidak dianggap kurang ajar.

Lalu berapa tips yang harus kita berikan?

Paling normal adalah 10% dari jumlah total bill. Kadang aku harus secepat kilat menghitung dan membulatkan nominal bill yang diberikan agar aku tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak memberikan tips. Contohnya, kalau billnya 22,5 euro, aku akan bayar 25 euro, sekalipun billnya 23 euro, aku malas nambahin, akan aku bulatin saja 25 euro.

Menurut penuturan beberapa teman yang pernah kerja sebagai pelayan di restoran Indonesia (Resto Jawa di Hamburg), orang Asia biasanya pelit memberi tips, beda sama orang Jerman, mereka memberi tips tak tanggung tanggung. Makan cuma habis 20 euro, beri tipsnya 10 euro. Ya elah, dermawan banget ya :D.

Nah, bagaimana? Sudah siap ke Jerman? Sudah siap berkuliner di Jerman? Jangan lupa siapkan trinkgeld kalau mampir ke restorannya ya!

Semoga tips ini memberikan informasi seputar Jerman. Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Tuesday, July 18, 2017

My first flight experience: Please bring rice with you, my son! You have no idea whether there is rice in Germany or not!!

If you are German, see the original article written in German: Bring doch den Reis mit, mein Sohn! Man weiß ja nicht, ob es in Deutschland Reis gibt!

Every time I remember this story, I'll immediately laugh by myself. One of best travel story I have ever heard is told by Putri, not about her, but about her best mate, Joko, with whom she had flown together from Jakarta to Germany. 

See also: My First Flight Experience: I'd rather pretend to sleep the whole time! 

Joko was 19 years old when he finally had to have his first flight. Since he is the youngest son of the family, his mother was really afraid that something happened with Joko while he was so far away from the family. Fortunately, Putri was there. They both booked the same flight. Actually it was also the first time for Putri that she was flown by plane. Plus the fact that she had to go to Germany, 12,000 km away from Indonesia. Both of them were nervous as well as curious. The purpose of going to Germany for both of them were  not only to travel, but doing one year of German language courses. 

In mid-July 2013, Putri and Joko were at Jakarta International Airport to check-in. Their families were also there to say goodbye. They have already read that they can only carry a maximum of 30 kg luggage, heavier is not possible. Putri put her suitcase on the scales. Still too much. 

"Damn, I've already weighed it!" Putri said. She had to give her mother a couple of clothes to make the suitcase lighter then. Fortunately, she had managed to wear 4 t-shirts, 2 sweaters, and 1 winter jacket, so her suitcase was not so heavy. Joko also did this trick. 

Then Joko was finally ready to weigh his suitcase. 

"His suitcase was really big, I could even fit in." Putri told us. 

The suitcase was too heavy. He had to get the things out to give his mother a few things. 

"I was so frightened when he got his thing out!" 

"What's the matter?" I asked. 

"You will not believe it!" 

"Why? What was in there?" 

"A large pack of rice, I guess it was 5 kilos, or so plus twelve plates! 

Putri told me and Tobi (my boyfriend) the story. Tobi could not stop laughing. Then he asked, "Only that?" 

"Oh, no, not only that! The cutlery was there, of course he did not forget to bring a rice cooker as well, and a thing you really cannot even imagine!" 

We were so curious, and waited until she went on to say, "A big plastic bag with toast bread inside!" 

"Toast???" I asked. 

"What did he think? He thought that there's no bread in Germany, didn't he?" Tobi asked. 

"But he had to give his mummy's rice." 

"It was a good decision!" I said. 

Putri laughed so long and then she said, "But his mother convinced him to bring the rice, she'd rather take his clothes than the rice!" 

"What?? Really?" 

"Bring the rice, my son, you don't know whether there is rice in Germany, please!" Imitated Putri Joko's mother. 

In Indonesia, a child should listen to what the mother says. What the mother says is a commandment and should be obeyed. As his mother said, Joko left his clothes in Indonesia and preferred to bring his packs of rice. He had taken a large plastic bag with toast bread and carried it as a hand bag all along. 

When they landed in Germany, it was 40 celcius degrees in Berlin. And they had a few t-shirts, a few sweaters, plus winter jackets on. Can you imagine how hot they felt? 

Do you have a funny travel story to tell?

Salam


Indra 


By the way: this story has been approved by Putri. Joko is a fictional name. I've actually met him personally in Hamburg, but it was only for a short time, and since then I have neither met him nor keep in touch with him. I heard from Putri that he went back to in Bandung (West Java) to continue his studies at the university after doing a year courses and internship in Germany.

Monday, July 17, 2017

Schlagermove: Warna-Warni Hamburg dan Festival Musik Rakyat

Ein Fest der Liebe (sebuah festival cinta)

Masih ingat tentang dangdutnya Jerman? Masih ingat Schlager? Masih ingat Helene Fischer? Kalau sudah lupa, mari aku ingatkan lagi. Schlager adalah salah satu jenis musik yang bisa dikategorikan musik rakyat di Jerman. Dalam artikel sebelumnya, aku sebutkan, schlager itu dangdutnya Jerman, meskipun intonasi nada dan remix-nya sama sekali tidak menyerupai dangdut. Schlager merupakan jenis musik gembira yang cenderung beraliran pop.

Untuk tahu lebih jelasnya, coba baca artikel sebelumnya tentang schlager:
Musik Rakyat di Jerman Vs di Indonesia: Dangdut Vs. Schlager

Apa yang unik dari festival musik rakyat ini?

Setiap tahunnya, orang Jerman, khususnya penggemar musik schlager membuat festival akhir pekan di musim panas. Demi bisa berjoget dan berkumpul dengan para penggemar schlager lainnya, para fans ini memakai kostum warna-warni seperti orang berkarnaval. Tahun ini, tercatat setidaknya sebanyak 300.000 orang turut merayakan pesta musik rakyat ini.

schlager fans yang siap menggoyang Hamburg sedang berkumpul di stasiun kereta utama (hbf). Mereka berangkat sendiri-sendiri ke sebuah tempat yang telah ditentukan, misalnya jalanan penuh dosa Reeperbahn atau stadion St. Pauli.

lihatlah dengan PD nya pria ini memakai wig mencolok. Kalau tak ada acara schlagermove, dia pasti dianggap banci keliling deh :D
Di mana schlagermove diadakan?

Schlagermove diadakan di banyak kota di Jerman. Mengingat begitu banyak penggemar musik Schlager, banyak juga yang berinisiativ mengadakan festival musik ini. Di Hamburg sendiri, tiap tahunnya selalu ada schlagermove. Tahun 2017 ini, diadakan di Heiligengeistfeld dekat stadion St. Pauli.

Apakah semua suka festival musik rakyat ini diadakan?

Apakah semua suka ketika konser dangdut digelar? Jawabannya sama dengan pertanyaan ini. Tentu saja tidak semua suka festival warna-warni musik rakyat ini. Tahun ini contohnya, seperti dilansir di sebuah majalah online, spiegel.de, banyak warga St. Pauli muak akan hingar bingar yang terjadi (lagi) di daerah sekitar tempat tinggal mereka. Lebih-lebih setelah kejadian demo KTT G20 belum lama ini.

Baca juga: Demo KTT G20 dan Kapitalisme

Meskipun demikian, festival musik schlager yang kali ini diberi tema: Ein Festival der Liebe (sebuah festival Cinta) berjalan dengan meriah dan tetap heboh seperti tahun-tahun sebelumnya.

Apa yang dilakukan orang-orang di festival ini?

Menari, menyanyi, berdansa, dan yang paling umum adalah mabok, pesta bir di siang bolong.  Begitu masuk ke area festival, bau bir campur keringat orang lalu lalang yang kelelahan karena menari akan segera tercium.

ini tempat DJ yang mengatur musik. Selain di tempat ini, musik-musik yang semua berjenis schlager juga diputar di bus-bus, seperti gambar di bawah ini:
bus-bus yang dihiasi balon bernuansa cinta ini keliling area pelan pelan sambil diiringi orang-orang yang berjoget mengikuti irama schlager yang diputar
para wanita yang memakai kostum warna-warni seragam minum bersama. Untungnya cuaca sedang bagus-bagusnya, kalau tidak, acara schlager di kota hujan Hamburg bisa berantakan
aku ikut berjoget di tengah-tengah orang Jerman. Setelah menari, mereka menyalamiku, bahkan ada yang meminta foto denganku, katanya aku berani dan lucu. :D
perhatikan gantungan tali di kejauhan. Itu adalah bungee jumping yang dilakukan orang-orang untuk menguji adrenalin. Selain berdansa dan mabok, mereka rupanya ingin berdebar-debar juga dengan loncat di ketinggian puluhan meter seperti itu.
Kedai-kedai makanan juga tersedia

Terutama orang-orang separuh baya yang sangat menggemari musik schlager. Mereka ikut berpesta dan berkostum warna-warni seperti di gambar ini. Niat banget ya? :D

Sekian artikel singkat tentang schlagermove tahun ini. Semoga menambah informasi tentang Hamburg dan Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Sunday, July 16, 2017

IASI JERMAN

Berkesempatan untuk hadir dalam acara diaspora Indonesia di Jerman merupakan hal yang luar biasa mengharu biru bagi seorang anak rantau seperti saya yang sudah lebih dari 3 tahun tak berkesempatan pulang kampung. Sabtu lalu, tepatnya tanggal 17 Juli 2017, pukul 13.00-18.00 (waktu Jerman) diadakan rapat tahunan IASI di Universitas Hamburg. Pasti kalian penasaran apa itu IASI Jerman. Dalam artikel singkat kali ini, saya akan sedikit memberi gambaran tentang perkumpulan luar biasa yang didirikan oleh orang-orang hebat Indonesia di Jerman ini.

Apa itu IASI?

IASI adalah singkatan dari Ikatan Ahli Sarjana Indonesia, yakni sebuah perkumpulan diaspora di Jerman yang bertujuan untuk menghimpun segenap tenaga ahli dan akademisi di Jerman dari berbagai bidang dan akademis. Dengan terhimpunnya para ahli tersebut, IASI diharapkan menjadi wadah yang mendukung kegiatan-kegiatan budaya, sosial, pariwisata yang mengusung tema Indonesia di Jerman serta mengembangkan potensi-potensi dari para tenaga ahli di Jerman demi membangun bangsa Indonesia.

Jadi, kalau ada orang yang berpikir, mengapa para tenaga ahli di Indonesia, terutama teknisi pesawat terbang, IT, insinyur, dokter, dkk itu pada hijrah ke Jerman? Mengapa mereka meninggalkan dan mengkhianati Indonesia dan malah tinggal di Jerman? Itu persepsi yang sangat keliru. Para tenaga ahli di Indonesia tersebut memang bekerja di Jerman. Hal ini masuk akal, karena keahlian mereka lebih dihargai ketimbang di Indonesia. Meskipun demikian, mereka tidak serta merta melupakan Indonesia. Hati dan jiwa mereka tetaplah seperti dalam lagu 'Tanah Airku' karya Ibu Sud: Tetap Indonesia. Bukti dari itu semua adalah sumbangsih pemikiran mereka dalam mengelola dan membentuk komunitas seperti IASI ini, tujuannya apa? Lagi-lagi untuk membangun Indonesia, sekalipun membangunnya dari jauh, dari Jerman.

Kapan IASI didirikan?

IASI bukan sebuah organisasi baru. Pada tahun 21 Februari 1976 di Bonn IASI didirikan. Tiga tahun kemudian,  IASI terdaftar resmi di badan hukum Jerman dengan nama: Verband Indonesischer Fachkräften und Akdemiker in Deutchland.  Saat itu, markasnya sudah bukan di Bonn lagi, tapi di Hamburg, tepatnya di Blankenesse.

Karena pusat IASI hingga kini masih berada di Hamburg, maka tak aneh jika banyak orang yang menyebut bahwa Hamburg adalah rumah bagi orang Indonesia. Banyak sekali orang Indonesia dan komunitas diaspora Indonesia di Hamburg, salah satunya komunitas budaya Gamelan, Angklung, kemudian even budaya Indonesia terbesar di Jerman (Pasar Hamburg) yang setiap tahunnya sukses diselenggerakan demi mempromosikan Indonesia di kancah internasional, khususnya di Jerman.

Baca juga:  Hamburg, Gamelan di Kancah Internasional

Siapa tokoh di balik IASI?

Pendiri IASI Jerman ada tiga tokoh, salah satu diantaranya merupakan tokoh yang sudah sangat terkenal dan mungkin diantara kalian sudah bisa menebak. Yup, B. J Habibie, Achmad Tirtosudiro, dan J.W Sulandra.

Lalu siapa anggota IASI?

Anggota IASI mencakup beberapa kalangan, seperti para tenaga ahli yang bekerja di perusahaan penerbangan Jerman (airbus), Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Penerjemah, para anggota ini terbagi menjadi 3 kelompok, yakni anggota biasa, anggota institusi dan anggota istimewa. Untuk menjadi anggota IASI, para anggota diwajibkan membayar iuran sebesar 15 euro per tahun, sedangkan mahasiswa sampai umur 35 tahun yang menjadi anggota IASI hanya wajib membayar setengahnya, yakni 7,5 euro per tahun.

Kalau kalian ingin mengetahui lebih lanjut tentang kabar berita seputar IASI, bisa buka di website resminya: IASI Jerman

Semoga info seputar IASI ini menambah pengetahuan kita seputar orang-orang Indonesia yang ada di Jerman ya!

Salah satu topik menarik yang dipresentasikan dalam open house IASI
Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Wednesday, July 12, 2017

My First Flight Experience: I'd rather pretend to sleep the whole time!

I have been thinking of writing articles about Indonesia and Germany (in English) too. So, here I would like to start from translating one of German article I have written and that my blogger friends asked for. 

To see this story in German, please kindly click: zum ersten Mal im Flugzeug: Ich habe so getan als ob ich schlafe


Indonesians always have something funny to tell. I have met Nata in Hamburg. She had worked as an au pair in a German family (in Hamburg). When we met for the first time, I immediately realized that we would understand each other very well (because we both are one crazy person in two separated bodies). In fact, after that, we were very often arranged to cook, eat, tell stories about our life and love. We are also sometimes canoeing through the canal in Kellinghusenstraße together with the other Indonesian friends. The canoe belongs to her host family, but Nata could use it freely. Together with her and 2 other friends we went very courageously (for the info: we can not swim and had neither life jacket nor swimming pool, to Nata's host family, of course, we said that we can swim). Oh, no, Indonesians are tricky, aren't they?

This story is my favorite story that Nata told us. The story is about her first time on the plane from Jakarta, Indonesia to the Netherland. Before working as an au pair in Hamburg, she had already worked as an au pair in Holland for a year. In December 2012, Nata was for the first time on the plane. From Bandung, where she comes from, she actually hardly travelled, moreover by plane, she had never done it before.  

Her flight had flown from Jakarta. From Bandung, she, her family and her friends went by car. A middle east airline company has been booked by her host family. Alone and nervous is a combination that sometimes happens when you have to be somewhere for the first time. This also happened to Nata.The first plane has only flown to Dubai. It took 8 hours from Jakarta.

In the plane, Nata had done something incredibly ridiculous.

"I was so hungry, but I always pretended to be asleep when the stewardess passed the food," Nata told us. 

"Why? Couldn't you ask the stewardess to bring you a meal!" said Putri.

"That was not the problem!" answered Nata.

"So what?"

"I was afraid that I had to pay the food!"We laughed at her. 

"It was my first time, I thought it would be like on the train or on the bus, where we have to buy a meal on board."

"Why didn't you ask?" I asked. 

"I was shy, every time she came to me, I was pretending to snore. Damn it!! It smelled of food after all, everywhere. I was really hungry, I could neither eat nor enjoy the time because I always had to pretend that I'm sleeping, I could not even watch a movie. " 

"Haven't you even got water?" I asked again. 

"Yeah, sure...but ... well ... When I was on a plane from Dubai to Amsterdam, a stewardess had put the water and a portion of food on my table, and it smelled of curry."

"Well then, you did have something?" 

"No, I didn't get anything, I was afraid when I got off, she would give me a bon which I had to pay. That's why I didn't grab them!"

"Ohhhhh ... Nata!" 

"And you know what? It took me 24 hours to finally get to my host family!" 

"And you finally got food, didn't you?"

"No, even though I was almost dying, I told them I was not hungry!" 

"What the hell did you do? Why ???" 

"I was shy!!!!" 

Although Nata is not a Javanese who is always so shy, she is much, much too shy. She can actually speak English well, but she was so nervous and frightened because that was her first time on the plane.

This is Nata when she could finally eat
Do you have a funny travel story to tell? 

Salam

Indra 

By the way: This story has been approved by Nata. She has even picked her own picture and asked me to post in this article. After living in Europe for 3 years, she returned to Indonesia and married. She now resides in Bandung (West Java) with her Indonesian husband.

Monday, July 10, 2017

13 Hal Yang AMAT PENTING bagi Orang Jerman, namun BIASA SAJA bagi Orang Indonesia

Kepentingan orang per orang pastinya beda sesuai kebutuhan individu masing masing. Satu orang kolot yang berasal dari desa nun jauh di pelosok negeri berpikir bahwa bekerja dan mempunyai keturunan jauh lebih penting ketimbang mengenyam pendidikan, sedangkan orang lain yang meskipun tinggal di desa, ada juga yang merasa menyekolahkan anaknya jauh lebih penting ketimbang punya harta seluas samudra sekalipun. Beberapa orang merasa sebuah hal sangat penting, sedangkan yang lain tidak. Orang Indonesia merasa agama itu penting banget, sedangkan orang barat tidak.

Baca juga: 8 hal yang Sepele di Indonesia tapi Mahalnya Lebay di Jerman

Nah, membahas perbedaan memang selalu menarik. Diambil dari sudut penting nggak penting, apa saja sih yang penting banget buat orang Jerman, tapi biasa saja bagi orang Indonesia? Di bawah ini, aku sertakan 13 dari banyak kepentingan yang berbeda antara Indonesia dan Jerman.

1. FRISCHE LUFT!!!!
Aje gileee,, pertama kali datang di Jerman (sampai sekarang sebenarnya), aku sering dibuat sebal sama istilah ini. Frische Luft artinya udara segar. Kok sebel sama udara segar?

Begini, orang Jerman itu paling nggak suka sama pengap. Sedingin apapun udara dan setebal apapun salju menumpuk, angin bertiup kencang, pohon-pohon kering membeku di musim dingin, paling tidak setiap jam sekali, mereka akan membuka jendela, dan bilang, "Wir brauchen frische Luft, ne?!" (Kita butuh udara segar, ya nggak sih?"

Asyeeem, aku yang udah nyaman dan hangat karena penghangat ruangan pun hanya bisa tersenyum kecut dan menggigigil, sampai mereka menutup jendela itu kembali. Kadang ada juga yang membuka jendela di musim dingin itu sampai sejam lamanya, ditutup sebentar, lalu lagi-lagi bilang, "Frische Luft brauchen wir, oder?". Grrrr.....

Tapi banyak juga loh, orang Indonesia di Jerman yang udah terbiasa, bahkan mereka lebih suka dingin-dingin dan udara segar di musim dingin menyusup masuk lewat jendela. Sayangnya, aku bukan termasuk di antaranya. :(

2. MATAHARI

Ya iyalah, orang Indonesia mana penting sih? Kecuali musim hujan kali, ya? Di mana matahari selalu dirindukan?

Orang Jerman, matahari tak hanya penting bagi kesehatan tubuh, tapi juga ketenangan jiwa dan kecantikan. Seputar ini, aku sering banget menulisnya.

Baca juga: Mengapa Kulit Gelap Lebih Digemari di Jerman?

3. LINGKUNGAN HIDUP dan PERDAMAIAN DUNIA

Jangankan berpikir tentang pentingnya menjaga perdamaian dunia, buat makan sehari-hari saja sudah jungkir balik senin kamis. Itu pikiran orang Indonesia, terutama orang yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kita tentu saja tidak bisa menyalahkan mereka. Orang Jerman, secara ekonomi memang sudah lebih mapan ketimbang orang Indonesia, jadi mereka bisa memikirkan hal-hal lain di luar urusan finansial, seperti turut menjaga lingkungan hidup, membuang sampah pada tempatnya, juga ikut memelihara satwa langka di Indonesia, di Afrika, di hutan Amazon dengan cara mendonasikan sebagian hartanya ke organisasi sosial seperti WWF.

Baca juga: Kecintaan orang Jerman terhadap orang Utan

4. PRIVACY

Sampai jari keriting, tak pernah satu kata ini luput dari bahasan seputar orang Jerman. Yup! Privasi memang salah satu hal terpenting buat orang Jerman. Mereka suka sekali dihargai privasinya, tidak dikepoi, dihargai keputusannya, dan juga keputusannya dalam menjalani hidup (misalnya keputusan untuk menikah atau tidak, untuk menjadi gay atau lesbi dan sebagainya). Untuk orang Indonesia? Hmmmm,,, rasanya masih menjadi momok besar buat para remaja putri yang sudah hampir kepala tiga tapi tak segera menunjukkan tanda-tanda akan menikah. Di Indonesia, semua memang terbuka, kita biasanya tahu latar belakang dan kecenderungan seksual rekan kerja kita, meskipun tidak tahu secara pribadi, tapi banyak yang tahu dari mulut ke mulut. Di Jerman, apa yang sekiranya jadi privasi orang, itu adalah batas pembicaraan yang sebaiknya tidak terkuak atau tidak diceritakan di khalayak umum. Mereka benar-benar menjaga privasi orang lain.

Bahkan kalau ada seseorang yang hamil (baik di dalam maupun di luar nikah), mereka tidak akan pernah bertanya tentang kehamilannya dan mereka juga punya HAK untuk tidak menceritakannya kepada rekan kantor bahkan bos sekalipun kalau mereka tidak mau.

5. KETEPATAN WAKTU

Harusnya ini jadi poin nomor satu yang membuat garis perbedaan antara budaya Jerman dan Indonesia. Yup, ketepatan waktu. Amat sangat penting bagi orang Jerman untuk tepat waktu dan untuk disiplin. Bagaimana dengan kita?

Baca juga: 8 Kebiasaan di Jerman yang Bertolak Belakang dengan Indonesia

6. SOLIDARITAS

Masih ingat pancasila sila ke 5 nggak? KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA (bener nggak sih? maklum udah lama nggak hafalan pancasila :)

Apakah kita sebagai orang Indonesia sudah mampu mempraktekkannya? Atau masih menjadi sila yang tegak di sana?

Orang Jerman, meskipun tak kenal pancasila, mereka RELA!!! Sekali lagi kutekankan kata ini: RELA!! Dipotong gajinya PERBULAN sepanjang tahun, seumur hidup untuk solidaritas dan keadilan sosial merata bagi pembangunan dan membantu rakyat kurang mampu di wilayah bekas Jerman Timur, untuk membantu pengungsi, dan orang cacat, dsb. Bukan main. Bahkan untuk solidaritas ini, ada uang yang harus dipotong ekstra (bukan pajak).

Aku pernah tanya mengapa mereka mau membayar uang solidaritas tersebut? Kata salah satu informan, "Kami yang hidup di Jerman (terutama Jerman Barat), tak pernah merasakan getirnya penderitaan orang Jerman Timur, kami paham kalau mereka menuntut keadilan setelah dibebaskan dari DDR, makanya kami membantu, kalau kami tak membantu pembangunan dan rakyat di sana, kami takut mereka akan memberontak dan hal itu tak baik untuk keamanan negara kami".

Lalu bagaimana dengan orang Indonesia dan sila ke 5 nya? Kalau aku yang harus menjawab: Yah, di Indonesia kan masih banyak yang harus dibantu, harusnya kami donk yang dapat uluran solidaritas tersebut? Ya...ya memang, tapi maksud aku, harusnya pejabat-pejabat dan orang-orang kotor koruptor kaya raya itu, mau donk berbagi solidaritas seperti orang Jerman, Ah...jangan deh kalau bagi-baginya uang korupsi 😌

Baca juga: 6 Tingkatan Pajak Penghasilan di Jerman

7. Termin

Masih ingat nggak artinya Termin apa? Yup, artinya adalah janji atau appointment. Untuk membaca betapa pentingnya Termin bagi orang Jerman, kalian bisa baca lebih lengkapnya di: Orang Jerman;Termin!!!Termin!!!Termin!!!

8. Binatang Peliharaan

Pernah nggak melakukan hal sekeji aku? Saat aku kecil, karena kenakalanku, aku sering melemparkan anak-anak kucing yang baru saja dilahirkan itu dari ketinggian tertentu dan melihat apa yang terjadi. Sampai induk kucing itu memindahkan bayi-bayinya, tak henti-hentinya sepulang sekolah aku melempar-lemparkan anak kucing itu karena asik.

Di Jerman, mulai dari anak-anak, mereka diajarkan untuk menyayangi sesama dan mencintai binatang, terutama binatang peliharaan. Itulah sebabnya banyak vegan dan vegetarian di Jerman, karena mereka tak tega membunuh binatang. Penting bagi mereka untuk menjaga satu nyawa seekor binatang.

Baca juga: 10 Hal mengejutkan tentang lingkungan yang bakal kamu temui di Jerman

9. URLAUB!!!

Apa itu Urlaub? Urlaub adalah liburan. Dari zaman bahula, orang Jerman memang memprioritaskan liburan, mereka suka melihat dunia dan mempelajari sejarah-sejarah serta budayanya, sehingga mereka sudah terbiasa berpikiran terbuka terhadap perbedaan yang ada. Liburan tak hanya sekedar untuk berfoto-foto selfie dan posting di sosmed, tapi mereka benar-benar bercapek-capek ria masuk museum, membaca, menyewa guide untuk TAHU tentang sejarah dan keunikan sebuah tempat.

Di Indonesia, aku bersyukur sekarang liburan juga menjadi sebuah tren dan prioritas bagi banyak orang. Tapi banyak juga yang masih sayang menghabiskan uangnya untuk bertamasya dan memilih untuk di situ situ saja. Tapi kendala utama orang Indonesia adalah aturan bagi buruh yang cenderung tidak mendapat libur maksimal. Tidak seperti di Jerman yang memang difasilitasi. Semoga kedepannya lebih baik, yah...

10. RAMALAN CUACA

Di Indonesia, prakiraan cuaca akan seputar hujan atau panas. Meskipun demikian, ramalan cuaca tetap menjadi vital bagi sebagian orang Indonesia. Sevital-vital nya ramalan cuaca di Indo, nggak bakal sevital di Jerman, deh. Di Jerman, apalagi di Hamburg yang cuacanya bisa mendadak berubah dan bergonta-ganti seenak udel, mengecek ramalan cuaca adalah sebuah keharusan dan ngobrolin seputar cuaca adalah topik paling hits sepanjang masa di Jerman.

Baca juga: apa yang dibicarakan orang Jerman saat nongkrong bareng?

11. MENTAATI PERATURAN DAN HUKUM

Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar bagi orang Jerman. Beda prinsipnya sama orang Indonesia, bukan? Bahkan, salah satu contoh kasus kecil yang terjadi padaku membuktikan bahwa orang Jerman itu anti pati sama nepotisme.

Pacarku (Tobi) punya sahabat yang bekerja sebagai inspektor restoran. Inspektor tersebut tugasnya mengecek restoran-restoran apakah sesuai standart kesehatan atau tidak. Saat aku bilang ke dia, "Eh, gue kemarin makan nih di restoran A, pelayanannya eek banget, udah gitu jorok, banyak lalatnya dan aku denger-denger banyak pekerja gelap di situ, bisa elu ciduk tuh!".

Dengan entengnya dia bilang, "Yah itu kan urusan elu, lagian karena sakit hati eluw, gue gak bisa main ciduk restoran, harus ada prosedurnya, selain itu resto itu juga bukan area inspeksi gue!". Jleb!!

Orang Jerman akan malu banget kalau main slinthat slinthut, meskipun kenal orang dalem, kalau harus antri, mereka akan berdiri sampai berjam-jam menunggu dan menyapa temannya yang bekerja di sana dengan normal, dengan sapaan "Hallo", tanpa embel-embel minta didahulukan, dsb. Coba di Indonesia? Hmmm?

12. KUCHEN ESSEN dan KAFFE TRINKEN

Artinya: Makan kue dan minum kopi. Kalau orang Indonesia, kemana-mana nongkrongnya pasti makan, atau kalau nggak gitu, mereka bakal masak-masak, dan lagi-lagi makan. Kalau orang Jerman, rupanya sedikit berbeda, mereka suka makan kue sambil minum kopi yang biasanya mereka lakukan di tea time sambil nongkrong dan janjian sama teman. Bahkan di tempat aku bekerja pun, ada jam makan kue dan minum kopi, yakni pukul 11.00 dan pukul 13.30. Nama jam istirahatnya pun Kaffe Pause atau Coffe Break.

Penilaian ini memang subjektif, tapi orang Jerman memang merasa penting untuk sekedar bersantai sejenak, minum teh atau kopi. Saat berjalan-jalan ke Stolberg, sebuah kota tua nan unik di Sachsen Anhalt, aku bertemu segerombolan orang Jerman yang begitu kecewa karena mereka mendapati sebuah cafe yang menyediakan kue dan kopi tutup. Sedangkan cafe tersebut adalah cafe satu-satunya di kota kecil itu. Mereka terlihat marah. Aku yang juga sebenarnya ingin masuk, merasa biasa aja dan malah membeli hot dog di sebelah cafe itu.

Baca juga: Stolberg: Travelling ke Ratusan Tahun Lalu

13. TIGA KATA AJAIB

Pasti masih ingat donk apa saja 3 kata ajaib yang paling penting di Jerman? Yup, Maaf (Entshuldingung), Terima Kasih (Danke), dan Tolong (Bitte).

Tiga kata ini adalah 3 kata ajain yang penting banget buat orang Jerman. Bahkan 3 kata ini merupakan kata-kata pertama diajarkan orang tua kepada anak-anaknya. Di Indonesia, sudahkah kita menerapkannya? Kalau sudah, syukurlah, kalau belum, ayo belum terlambat!!!

Baca juga: Bagaimana Orang Jerman Menghargai Pendapat Anak Kecil?

Nah, demikian artikel yang lumayan panjang tentang penting dan tak penting. Semoga menambah informasi tentang budaya Jerman, ya!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers