Wednesday, June 28, 2017

Dialog Im Dunkeln Hamburg: Gimana Rasanya Menjadi Orang Buta 90 Menit Saja?


Pernahkah kalian membayangkan menjadi tuna netra barang sehari saja?

Saat aku kecil dulu, ada seorang tetangga yang kemana-mana membawa tongkat untuk penunjuk jalannya. Bapak separuh baya itu ternyata tuna netra sejak lahir dan luar biasa hafal jalan sepanjang prapen dan rungkut Surabaya. Perlu diketahui bahwa aku kecil adalah manusia yang super duper usil dan nakal. Seperti kebanyakan anak lain, aku selalu mengamati sekitar dan penasaran. Suatu hari, kucoba berjalan di gang sempit di Jalan Prapen menggunakan tongkat seperti bapak itu dengan mata terpejam. Alhasil, aku tercebur got hitam dengan lumpur pekat sedalam satu meter. Aku minum air lumpur yang sampai sekarang tak bisa kujelaskan rasa serta aroma basin yang menyengat kala itu.

Lupakan masa kecilku yang gokil itu, sekarang beralih ke Hamburg. Kota hujan yang penuh dengan kejutan-kejutan menariknya. Di artikel kali ini, aku akan mengajak kalian untuk sekedar merasakan menjadi orang buta selama 90 menit dengan mengunjungi dialog im dunkeln Hamburg.

Dialog im Dunkeln artinya berdialog dalam kegelapan. Kalau sampai di sini kalian bingung, mari kujelaskan dulu apa itu berdialog dalam keadaan gelap gulita mulai dari awal.

Juli 2014, saat aku masih jadi BFD, setiap bulan pasti ada seminar unik yang diselenggarakan pihak Träger (penyalur tenaga FSJ/BFD). Saat itu, kami ber sembilan diajak mengunjungi musim gelap gulita. Sebelumnya, kami diberi pengetahuan dulu tentang tuna netra.

Aku pikir, pasti bakal nggak asik dan aneh banget berdialog dengan orang-orang di dalam kegelapan. Nggak taunya, berbeda dari apa yang aku duga sebelumnya, mengunjungi museum ini sangat asik dan amat mengesankan.

Museum itu terletak di Alter Wandrahm 4, 20457 Hamburg
Jam buka: Senin: Tutup
                 Selasa-Jumat: 09.00-18.00
                 Sabtu: 10.00-19.00
                 Minggu: 10.00-17.00

Untuk masuk dan booking tiketnya, kalian bisa klik di websitenya langsung, di sini.

Saat itu aku bayar 15 Euro karena aku sukarelawan di Jerman. Tapi kalau bukan pelajar atau sukarelawan, harganya cukup mahal, yakni 21 Euro. 

Sekarang akan aku ceritakan kesanku saat berada di sana.

Sebelum masuk museum, kita dibekali dengan tongkat yang dirancang khusus untuk orang buta agar membantu kita supaya tidak selalu meraba-raba dan sanggup mengukur dengan kepekaan tongkat yang kita pegang dan arahkan ke kanan dan ke kiri. Di sana, kita bahkan tak bisa melihat setitik pun cahaya alias gelap gulita, kalau bahasa jawanya: peteng ndedhet :D. Seorang pemandu, tuna netra, akan mengarahkan kita, menuntun dan membawa kita agar tidak tersesat. 

Seorang pemandu pria menyambut kami di pintu masuk yang sudah gelap. Dia menyalami kami ber sembilan satu persatu sambil memperkenalkan namanya. Dengan sangat lincah dan humoris, dia menuntun kami. Perasaan yang luar biasa berkecamuk dalam hati. Aku begitu kagum dan tidak mengerti bagaimana pria buta itu dengan sekali saja bisa hafal nama-nama kami. Padahal dia tak bisa melihat kami. Apakah mungkin dari bau kami? Atau dari suara kami?. Dia suatu kali, menarik tanganku agar tidak terlalu jauh tersesat sambil menyebut namaku dengan benar. 

Gedung itu dirancang sedemikian rupa, gelap gulita tapi merepresentasikan dunia nyata. Kita ditunjukkan bagaimana keseharian orang buta seperti menyebrang di lampu merah, berjalan dan naik kereta. Bagaimana bertahan hidup di kota besar seperti Hamburg. Bagaimana mengunjungi museum, bagaimana mereka sekolah, belanja, makan, masak, dan berbagai kegiatan layaknya orang normal (bahkan pergi ke sebuah bar). Di dalam gedung itu, kami merasakan betapa susahnya jadi orang buta. Kami tak mungkin bisa bertahan hidup tanpa melihat apa yang ada di depan kami. Bagaimana mungkin mereka bisa masak tanpa takut panasnya api dan kebakaran. Bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain. Aku merasa terisolasi dari dunia, karena aku dituntut berjalan tapi semua serba gelap.

Saat berada di ruangan yang setitik cahaya pun tak bisa kulihat, aku jadi jauh jauh jauh lebih bersyukur bahwa aku terlahir sempurna, tanpa cacat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Aku hanya mengandalkan pemandu itu untuk menuntun jalanku. Jika kudengar suaranya menjauh, aku jadi takut sekali. Untuk pria itu, tak ada bedanya di dalam museum maupun di luar museum, karena dia toh tak bisa melihat dunia ini sedikit pun.

"Aku sudah buta sejak lahir. Di dalam museum maupun di luar, tak ada bedanya sama sekali bagiku. Bahkan cahaya setitik tak akan bereaksi lewat pupil mataku. Aku sepenuhnya buta."

Saat salah seorang dari kami bertanya apa yang membuatnya kesulitan, dia menjawab.

"Aku terlihat seperti orang normal yang menggunakan tongkat saja. Tapi kadang kalau aku mau duduk di sebuah bangku atau di kereta, aku bertanya dulu apakah ada orang yang duduk di sana. Biasanya aku bertanya agak keras, tak kupedulikan orang-orang yang melihatku, toh aku tak tahu ada orang atau tidak, dan aku tak bisa melihat mereka. Kalau tak kudengar suara, aku duduk saja. Tak jarang aku duduk di atas paha orang dan dimarahi. Padahal aku sudah bertanya sebelumnya dan dia tak menjawab. Jadi ya bukan salahku menduduki pahanya seperti itu."

Kami tertawa mendengar ceritanya yang jenaka itu. 

Pemuda yang sama sekali tak kuketahui wajahnya, seberapa tinggi, bagaimana perawakannya itu memberi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku dalam 90 menit berada di sana. 

Aku sempat buta selama 90 menit dan sudah menggerutu karena semua terasa sangat susah bagiku. Aku harus meraba-raba dan kadang terdesak-desak di tengah kerumunan. Bagaimana dengan pria yang selama hidupnya sudah tak bisa melihat itu?. Sembilan puluh menit saja, aku sudah merasakan hidupku akan berakhir karena semua serba gelap dan tak indah, bagaimana dengan  dia? 

Dalam 90 menit itu, aku merasa duniaku hanyalah sepanjang tongkat yang menuntunku melangkah. Batas naluri penglihatanku hanyalah sepanjang 2 meter saja. Aku tak bisa melihat lebih jauh lagi. Tak bisa membaca, hanya mendengar dan merasakan. Ohhhh,,,aku benar-benar takjub sekeluarnya dari museum gelap gulita itu. Kurasakan dunia begitu indan nan mempesona.

Jika berkunjung ke Hamburg, kalian bisa juga merasakan menjadi orang buta dengan mengunjungi Dialog im Dunkel. Museum ini juga menawarkan Dialog im Stillen, yakni berdialog dalam Kebisuan. Aku tak pernah mencobanya, tapi konsepnya mirip. Yakni kita diajak merasakan bagaimana menjadi orang bisu dan tuli dalam 60 menit. Selain itu ada juga dinner in the dark. Wah pasti belepotan sekali makan dalam gelap. :D

Nah, bagaimana? Tertarik berkunjung ke sini? Jangan lupa booking tiketnya online ya, karena biasanya penuh.

Semoga informasi tentang dialog im dunkeln ini menambah pengetahuan kita seputar Hamburg, Jerman.
Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße
Location: Hamburg, Germany

1 comment:

  1. Tem[at yang aneh ya Mbak. Tapi kita jadi lebih bisa bersyukur, sehat bisa melihat mendengar sejak lahir, alhamdulillah

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers