Saturday, June 10, 2017

Bagaimana Umat Muslim Menjalankan Ibadah Puasa di Jerman?

Gambar diambil di depan Masjid Iran di Hamburg
Di Jerman, tidak ada halangan bagi umat muslim untuk beribadah, termasuk menjalankan ibadah puasa. Banyak teman di Indonesia yang bertanya padaku berapa jam puasa di Jerman. Mungkin mereka tahu, pernah mendengar atau membaca, bahwa puasa di negara beriklim sedang seperti di Jerman ini lebih lama ketimbang di Indonesia (kalau musim panas), kalau musim dingin, justru lebih pendek.

Baca: Mengapa di Eropa, jam dimajukan menjelang musim panas?

Tahun ini, Ramadhan bertepatan dengan musim panas, yakni dimulai tanggal 27 Mei dan berakhir pada tanggal 24 Juni 2017. Puncak siang terpanjang di musim panas, secara resmi jatuh pada tanggal 22 Juni, setiap tahunnya. Yakni matahari terbit sekitar pukul 02.30 dini hari dan tenggelam sekitar pukul 22.00. Waktu awal-awal puasa kemarin, tepatnya masih akhir bulan Mei, imsak jatuh pada pukul 02.57 dan buka pada pukul 21.37 (jadi, sehari puasa sekitar 18 jam 30 menit). Tapi semakin ke bulan Juni, siang makin panjang, yang artinya, puasa juga makin panjang. Menjelang lebaran, (sekitar tanggal 21 dan 22 Juni), umat Islam berpuasa sekitar 19 jam 20 menit, karena bertepatan dengan puncak siang terpanjang di musim panas.

Kalau musim dingin? 

Kalau Ramadhan jatuh pada bulan-bulan di musim dingin (November-Februari), akan sangat menguntungkan. Pasalnya, di puncak siang terpendek di musim dingin, yang secara resmi jatuh pada tanggal 22 Desember, matahari terbit sekitar pukul 08.30-09.00 dan tenggelam pukul 15.30-16.00. Jadi, umat Islam hanya berpuasa 7 jam saja. Selain itu, karena cuaca dingin, tubuh tidak merasa kepanasan dan kehausan selama berpuasa.

Jenis-jenis puasa yang dilakukan Umat Muslim di Jerman

Lucunya, kadang aku mendengar bahwa di musim panas, karena jam puasa yang menyiksa, panjang dan terik matahari menyengat (di musim panas, suhu bisa mencapai 40 derajat, loh), umat muslim memilih cara mereka sendiri untuk berpuasa. Apa saja itu? simak liputannya berikut ini:

1. Puasa mengikuti jam di Arab Saudi
Karena tidak sanggup menahan rasa haus dan lapar sepanjang hampir 20 jam sehari, ada juga yang memutuskan untuk berpuasa mengikuti jam di Arab Saudi, Turki, Iran atau negara asal mereka. Yakni sekitar 14-15 jam saja sehari, meskipun mereka tinggal di Jerman.
Pertanyaanku: kalau musim dingin, apa mereka juga mengikuti jam Arab?

2. Puasa nyahur di musim dingin
Kerja ditambah puasa di musim panas terkadang membuat orang lunglai. Karena itu beberapa teman memutuskan untuk tidak puasa, atau puasa jika sanggup (asal tidak menyiksa dan membuat diri sendiri sakit), lalu melunasi hutang-hutang puasa di musim dingin.

3. Puasa semampunya
Urusan ibadah adalah urusan vertikal kita dengan Yang Maha Kuasa. Termasuk puasa, karenanya terserah kita atau mereka puasa seperti apa, di Jerman, baik orang Indonesia maupun orang Jerman sendiri tidak ada yang memaksa, mereka pun tidak sungkan mengatakan bahwa: Aku tidak puasa, karena tidak kuat. Ada yang puasa sampai jam 18.00 (mengikuti jam Indonesia) ada yang sampai 20.00 (kalau sudah hampir pingsan, lalu makan) ada yang puasa benar-benar sampai maghrib.

Di Jerman, puasa tidak puasa, sholat tidak sholat, beragama tidak beragama, tidak ada orang yang peduli. Seperti contoh jenis puasa nomor satu, mereka yang berkeyakinan seperti itu, ya dipersilakan saja berpuasa dan beribadah seperti itu. Tidak ada yang menghakimi, menghujat aplagi mengkafir-kafirkan :D

Bersyukur sekali teman-teman di Indonesia yang setiap tahunnya, puasa dengan jam yang sama, matahari terbit dan tenggelam di jam-jam yang sama setiap hari sepanjang tahun.

Selamat menjalankan ibadah puasa :)

Liebe Grüße
Location: Hamburg, Jerman

11 comments:

  1. Salut untuk muslim di eropa. Walau durasinya panjang, tapi mereka tetap istiqomah melaksanakan ibadah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang istiqomah dan ada yang tidak pastinya,,, :D

      Delete
  2. Kalo gitu mah enak mbak. Hidup damai. Gak kayak disini, suka ngejudge amalan orang lain. Hello, siapa kamu berani mengoreksi cara ibadah saya-__-'

    ReplyDelete
  3. Girin, aku terharu baca ini. Iyah ya ibadah emang urusan vertikal, ama tuhan langsung yang lain mah seharusnya ga boleh kepo karena itu bener-bener privasi. aku terharu sama model puasa cara ketiga, puasa semampunya, treharu banget, ttep usaha puasa kuat ga kuat mah urusan belakangan dan pas ga kuat ya udah dibatalkan. seruuuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aq juga salut sama mereka, May,,, kalau memang nggak kuat ya dari pada pingsan, mending dibatalkan,,,

      Delete
  4. Wahhh kereeen *.* bisa dinamis gitu ya waktu puasanya wkwkw xDDD

    Kitamah yang di Indonesia dari jaman Sukarno sampai Jokowi ya gitu gitu aja jam sahur sama bukanya xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Zahra,,, sebuah tantangan tersendiri jadinya,,, 🤣,,,

      Delete
  5. Keren, sebagai umat musim sudah seharusnya mentaati aturannya, termasuk menjalankan ibadah puasa. Aku terkadang suka berfikir pengen ngerasain puasa diluar negeri, pengen ngerasain waktu yang lama itu..hehe

    Nambah pengalaman lagi nih aku, selain bagaimana puasaanya saat musim dingin dan tahu juga macam-macamnya.

    Oh,ya,Teh, kalau di Jerman sendiri terbilang mudah gak sih cari masjid?
    Maksudnya di sekitaran orang jalan atau jalan umum itu ada?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah pastinya, masjid nggak ada di tiap jalan atau tikungan kayak di Indonesia. Dan nggak besar2, paling bangunan biasanya atau rumah dijadikan tempat ibadah sekaligus acara keagamaan. Tapi Masjid ada juga kalau kita mencari,, cari di internet dulu baru datangi tempatnya,,,

      Delete
    2. Oh, gitu. Pengetahuan lagi nih :)
      Yang jelas tak susah untuk melaksanakan ibadah yang sudah jadi kewajiban ya, Teh :)

      Delete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers