Thursday, June 29, 2017

Budaya Jerman? Apa itu Freikörperkultur? (FKK)


Tentang tulisan ini, sebenarnya ada perasaan yang kuat untuk menuliskannya,tapi di sisi lain, ada perasaan yang menarikku untuk TIDAK menuliskannya. Kenapa? Karena kita tahu banyak orang Indonesia yang masih belum berpikiran terbuka terhadap budaya Jerman yang satu ini. Memangnya kenapa sih? Karena budaya yang satu ini amat sangat tabu untuk dibicarakan dan ketakutan kadang menghantui untuk menuliskannya juga. Aduh apa sih, nggak penting deh paragraf pembukanya, kita lanjutin aja. 😫

Freikörperkultur. Mari kita pilah-pilah istilahnya. Frei artinya bebas, körper artinya tubuh, kultur artinya budaya. Jadi Freikörperkultur (atau biasa disingkat FKK), adalah Free Body Culture atau Budaya Tubuh Yang Bebas alias budaya bertelanjang alias nudity alias naturism. Nah dari sini, sudah bisa ada bayangan mengapa paragraf pembukanya seperti itu?

FKK merupakan budaya bertelanjang di muka umum tanpa ada kaitannya dengan hubungan seksual manusia. Jadi, penganut paham naturism atau yang biasa disebut naturist adalah seseorang yang suka membebaskan tubuhnya sebebas-bebasnya alias mengumbar semuanya (termasuk organ vital) di depan umum tanpa rasa malu dan aneh. Nyebut...nyebut euuy :D

Seminggu datang di Jerman, saat itu masih musim dingin. Nadja mengajakku keliling danau Unterföhring yang dekat dari rumah. Kami menelusuri tepian danau tersebut dan tiba pada sebuah area yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Di depan area tersebut, ada sebuah tulisan seperti gambar di bawah ini:

Artinya: Kawasan FKK, dilarang ambil Foto! image credit: dawanda.
Aku sebenarnya tak begitu tertarik pada papan kecil itu sampai Nadja bilang padaku, "Indra di kawasan ini, kamu harus telanjang".

"What???" aku pun memekik.

Nadja tertawa melihatku heran. Lalu katanya, "Kawasan ini adalah kawasan FKK". Kemudian dia menjelaskan apa itu FKK. Untuk masuk ke dalam kawasan itu, mau tidak mau kita harus TELANJANG. Kalau mau sekedar melihat-lihat orang bugil, kita tidak bisa masuk ke dalam sampai kita ikut-ikutan bugil seperti mereka. Saat itu tak ada seorang pun di sana, karena musim dingin seperti itu, mana ada orang mau telanjang di tepian danau? Bisa mati bugil, eh beku.

Saat pertama kali menyadari betapa ekstrimnya budaya ini, aku pun selalu penasaran, apakah mereka saling melihat satu sama lain? Apakah mereka ada yang terangsang dan kemudian bersetubuh juga di depan umum? Apakah mereka tidak malu? Apakah ada yang mengomentari 'anu' nya? Dan banyak lagi pertanyaan lain.

Ternyata, Nadja tak begitu suka budaya FKK. Katanya, "Banyak orang-orang tua dan gembrot obrot-obrot di sana, ngapain telanjang ama mereka, nggak asik".

Setelah sekitar 3 bulan aku di Jerman, aku berjalan-jalan ditemani salah seorang Couchsurfer di Englischer Garten München.

Baca juga: apa itu Couchsurfing?

Tak sengaja, kami melewati kawasan 'Nacktbadegelände' (baca: naktbadegelende), yakni kawasan mandi telanjang di tepian sungai. Secara spontan, aku lari kocar-kacir karena mataku tak kuasa melihat 'anu' nya orang di mana-mana. Perempuan dan laki-laki yang campur baur itu berjalan ke sana kemari tanpa ada rasa canggung, biasa saja. Malah aku yang terbirit-birit.

Rasa penasaranku terjawab setelah aku bertanya kepada Max yang ternyata pernah ke kawasan FKK di Kroasia. Dia bilang, "FKK itu nggak ada hubungannya sama gairah seksual! Kamu datang ke sana telanjang. Semua orang telanjang, apanya yang aneh? Malah kalau kamu sendiri yang berpakaian rapi, mereka bakal melototin kamu, karena sudah berani masuk area telanjang tapi nggak telanjang."

Baca juga: pacaran sama orang Jerman, romantis nggak sih?

"Sebenarnya maunya orang-orang telanjang itu apa sih? Kenapa di jaman yang serba canggih ini mereka malah kembali ke peradaban manusia purba?"

Max pun tertawa, lalu katanya, "Mereka itu ingin membebaskan tubuhnya. Seperti hewan-hewan yang berkeliaran di alam bebas kan telanjang, dan mereka bisa bebas seperti itu, jadi manusia juga kadang ingin bebas juga, tanpa ada kain yang menutupi dan membelenggu, sehingga antara manusia satu dan manusia yang lainnya tak ada perbedaan derajat, karena tak ada yang memakai perhiasan, baju bermerek, dsb"

Meski aku tak habis pikir mengapa ada budaya ini di Jerman, rasa penasaranku tentang awal mulanya tercipta FKK membuatku membaca beberapa artikel tentang FKK dan menuliskannya di sini, agar kalian semua tahu bahwa Jerman itu benar-benar campur aduk, di satu sisi, dia 'LIAR', di sisi lain, dia indah dan menawan. Banyak orang yang menentang, tapi mereka tak melarang. Masalah orang lain mau telanjang di depan umum, selama tak mengganggu mereka, akan dibiarkan saja. Helllo,, bagaimana denganku yang lari tunggang langgang ketakutan melihat benda-benda bergelantungan tak karuan itu. Bagaimana bisa mereka tidak terganggu.

Bagaimana Sejarah FKK di Jerman?

Sebelum abad ke 18, sebenarnya sudah banyak orang yang mandi telanjang di sungai dan danau, meskipun ada pemisah antara pemandian pria dan wanita saat itu. Aku jadi ingat, di Jember dan di Batu rupanya ada juga FKK, di mana aku, dan keluargaku saat kecil dulu terbiasan mandi telanjang di kali-kali dekat rumah.

Di Jerman, di awal abad ke 18, mandi telanjang di muka umum seperti itu dinilai sangat tabu dan dilarang dilakukan. Meski demikian, ada juga yang bandel tetap telanjang di muka umum.

Di tahun 1898, FKK pertama kali diasosiasikan di Essen, lalu berkembang ke utara, ke Berlin, Swedia, Denmark, hingga ke sekitaran laut Baltic, bahkan di Prancis, orang-orang juga mulai mengenalnya. Pantai telanjang pertama di Jerman ada di Sylt (dekat Hamburg) pada tahun 1920.

Saat Hitler berkuasa, budaya FKK dicekal, namun setelah tahun 1945 hingga sekarang, budaya FKK masih saja ada. Terutama di wilayah bekas Jerman Timur. Di tahun 1949, Ikatan Organisasi FKK Nasional, dikenal dengan istilah Deutscher Verband für Freikörperkultur (DFK) malah didirikan dan diikuti banyak orang. Malahan, sampai sekarang banyak camping area telanjang di Prancis, Yugoslavia, Kroasia,  Jerman dan banyak negara-negara Eropa lain. Banyak orang beranggapan bahwa budaya FKK ini merupakan budaya bawaan Jerman Timur. Hal ini tidak sepenuhnya salah, mengingat latar belakang perkembangan sejarah dan sekulerisme di sana. Bahkan DFK juga mengadakan olimpiade olah raga telanjang yang diikuti banyak peserta dari berbagai negara. Di sana, pastinya ratusan bahkan ribuan orang sama-sama telanjang. Aduh, nggak bisa membayangkan. Di Australia dan Amerika, budaya naturism dan nudity juga berkembang pesat. Jadi, kalau kalian kenal sama seseorang dan dia menganut paham naturism, bisa dipastikan dia suka telanjang, baik di rumah maupun di luar rumah. Waspadalah...waspadalah!!! Hehhehe :D

Sengaja aku tidak menyertakan foto area FKK, karena memang aku nggak punya fotonya, tapi kalau kalian ingin tahu sendiri, ya silakan saja google dengan kata kunci FKK in Germany, di sana pasti akan kalian temukan banyak orang telanjang. Selamat mencoba :D

Okay, semoga informasi sedikit vulgar tentang FKK ini tidak membuat kalian jadi membenci Jerman apalagi mengutukku sebagai blogger budaya amburadul. Yah, yang namanya budaya, seperti yang selalu aku kecamkan, tidak ada yang salah, dan tidak ada yang paling bagus, semuanya tergantung persepsi masing-masing orang dalam menilainya. Semoga kita selalu berpikiran terbuka dan sampai jumpa di topik menarik selanjutnya.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Wednesday, June 28, 2017

Dialog Im Dunkeln Hamburg: Gimana Rasanya Menjadi Orang Buta 90 Menit Saja?


Pernahkah kalian membayangkan menjadi tuna netra barang sehari saja?

Saat aku kecil dulu, ada seorang tetangga yang kemana-mana membawa tongkat untuk penunjuk jalannya. Bapak separuh baya itu ternyata tuna netra sejak lahir dan luar biasa hafal jalan sepanjang prapen dan rungkut Surabaya. Perlu diketahui bahwa aku kecil adalah manusia yang super duper usil dan nakal. Seperti kebanyakan anak lain, aku selalu mengamati sekitar dan penasaran. Suatu hari, kucoba berjalan di gang sempit di Jalan Prapen menggunakan tongkat seperti bapak itu dengan mata terpejam. Alhasil, aku tercebur got hitam dengan lumpur pekat sedalam satu meter. Aku minum air lumpur yang sampai sekarang tak bisa kujelaskan rasa serta aroma basin yang menyengat kala itu.

Lupakan masa kecilku yang gokil itu, sekarang beralih ke Hamburg. Kota hujan yang penuh dengan kejutan-kejutan menariknya. Di artikel kali ini, aku akan mengajak kalian untuk sekedar merasakan menjadi orang buta selama 90 menit dengan mengunjungi dialog im dunkeln Hamburg.

Dialog im Dunkeln artinya berdialog dalam kegelapan. Kalau sampai di sini kalian bingung, mari kujelaskan dulu apa itu berdialog dalam keadaan gelap gulita mulai dari awal.

Juli 2014, saat aku masih jadi BFD, setiap bulan pasti ada seminar unik yang diselenggarakan pihak Träger (penyalur tenaga FSJ/BFD). Saat itu, kami ber sembilan diajak mengunjungi musim gelap gulita. Sebelumnya, kami diberi pengetahuan dulu tentang tuna netra.

Aku pikir, pasti bakal nggak asik dan aneh banget berdialog dengan orang-orang di dalam kegelapan. Nggak taunya, berbeda dari apa yang aku duga sebelumnya, mengunjungi museum ini sangat asik dan amat mengesankan.

Museum itu terletak di Alter Wandrahm 4, 20457 Hamburg
Jam buka: Senin: Tutup
                 Selasa-Jumat: 09.00-18.00
                 Sabtu: 10.00-19.00
                 Minggu: 10.00-17.00

Untuk masuk dan booking tiketnya, kalian bisa klik di websitenya langsung, di sini.

Saat itu aku bayar 15 Euro karena aku sukarelawan di Jerman. Tapi kalau bukan pelajar atau sukarelawan, harganya cukup mahal, yakni 21 Euro. 

Sekarang akan aku ceritakan kesanku saat berada di sana.

Sebelum masuk museum, kita dibekali dengan tongkat yang dirancang khusus untuk orang buta agar membantu kita supaya tidak selalu meraba-raba dan sanggup mengukur dengan kepekaan tongkat yang kita pegang dan arahkan ke kanan dan ke kiri. Di sana, kita bahkan tak bisa melihat setitik pun cahaya alias gelap gulita, kalau bahasa jawanya: peteng ndedhet :D. Seorang pemandu, tuna netra, akan mengarahkan kita, menuntun dan membawa kita agar tidak tersesat. 

Seorang pemandu pria menyambut kami di pintu masuk yang sudah gelap. Dia menyalami kami ber sembilan satu persatu sambil memperkenalkan namanya. Dengan sangat lincah dan humoris, dia menuntun kami. Perasaan yang luar biasa berkecamuk dalam hati. Aku begitu kagum dan tidak mengerti bagaimana pria buta itu dengan sekali saja bisa hafal nama-nama kami. Padahal dia tak bisa melihat kami. Apakah mungkin dari bau kami? Atau dari suara kami?. Dia suatu kali, menarik tanganku agar tidak terlalu jauh tersesat sambil menyebut namaku dengan benar. 

Gedung itu dirancang sedemikian rupa, gelap gulita tapi merepresentasikan dunia nyata. Kita ditunjukkan bagaimana keseharian orang buta seperti menyebrang di lampu merah, berjalan dan naik kereta. Bagaimana bertahan hidup di kota besar seperti Hamburg. Bagaimana mengunjungi museum, bagaimana mereka sekolah, belanja, makan, masak, dan berbagai kegiatan layaknya orang normal (bahkan pergi ke sebuah bar). Di dalam gedung itu, kami merasakan betapa susahnya jadi orang buta. Kami tak mungkin bisa bertahan hidup tanpa melihat apa yang ada di depan kami. Bagaimana mungkin mereka bisa masak tanpa takut panasnya api dan kebakaran. Bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain. Aku merasa terisolasi dari dunia, karena aku dituntut berjalan tapi semua serba gelap.

Saat berada di ruangan yang setitik cahaya pun tak bisa kulihat, aku jadi jauh jauh jauh lebih bersyukur bahwa aku terlahir sempurna, tanpa cacat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Aku hanya mengandalkan pemandu itu untuk menuntun jalanku. Jika kudengar suaranya menjauh, aku jadi takut sekali. Untuk pria itu, tak ada bedanya di dalam museum maupun di luar museum, karena dia toh tak bisa melihat dunia ini sedikit pun.

"Aku sudah buta sejak lahir. Di dalam museum maupun di luar, tak ada bedanya sama sekali bagiku. Bahkan cahaya setitik tak akan bereaksi lewat pupil mataku. Aku sepenuhnya buta."

Saat salah seorang dari kami bertanya apa yang membuatnya kesulitan, dia menjawab.

"Aku terlihat seperti orang normal yang menggunakan tongkat saja. Tapi kadang kalau aku mau duduk di sebuah bangku atau di kereta, aku bertanya dulu apakah ada orang yang duduk di sana. Biasanya aku bertanya agak keras, tak kupedulikan orang-orang yang melihatku, toh aku tak tahu ada orang atau tidak, dan aku tak bisa melihat mereka. Kalau tak kudengar suara, aku duduk saja. Tak jarang aku duduk di atas paha orang dan dimarahi. Padahal aku sudah bertanya sebelumnya dan dia tak menjawab. Jadi ya bukan salahku menduduki pahanya seperti itu."

Kami tertawa mendengar ceritanya yang jenaka itu. 

Pemuda yang sama sekali tak kuketahui wajahnya, seberapa tinggi, bagaimana perawakannya itu memberi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku dalam 90 menit berada di sana. 

Aku sempat buta selama 90 menit dan sudah menggerutu karena semua terasa sangat susah bagiku. Aku harus meraba-raba dan kadang terdesak-desak di tengah kerumunan. Bagaimana dengan pria yang selama hidupnya sudah tak bisa melihat itu?. Sembilan puluh menit saja, aku sudah merasakan hidupku akan berakhir karena semua serba gelap dan tak indah, bagaimana dengan  dia? 

Dalam 90 menit itu, aku merasa duniaku hanyalah sepanjang tongkat yang menuntunku melangkah. Batas naluri penglihatanku hanyalah sepanjang 2 meter saja. Aku tak bisa melihat lebih jauh lagi. Tak bisa membaca, hanya mendengar dan merasakan. Ohhhh,,,aku benar-benar takjub sekeluarnya dari museum gelap gulita itu. Kurasakan dunia begitu indan nan mempesona.

Jika berkunjung ke Hamburg, kalian bisa juga merasakan menjadi orang buta dengan mengunjungi Dialog im Dunkel. Museum ini juga menawarkan Dialog im Stillen, yakni berdialog dalam Kebisuan. Aku tak pernah mencobanya, tapi konsepnya mirip. Yakni kita diajak merasakan bagaimana menjadi orang bisu dan tuli dalam 60 menit. Selain itu ada juga dinner in the dark. Wah pasti belepotan sekali makan dalam gelap. :D

Nah, bagaimana? Tertarik berkunjung ke sini? Jangan lupa booking tiketnya online ya, karena biasanya penuh.

Semoga informasi tentang dialog im dunkeln ini menambah pengetahuan kita seputar Hamburg, Jerman.
Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Sunday, June 25, 2017

Lebaran di Jerman, Gimana sih Rasanya?

image source: fotolia
Bulan puasa yang jatuh pada musim panas bisa sangat menyiksa secara fisik, tapi bagi umat muslim yang taat, puasa di Eropa dengan cuaca yang sangat ekstrim begitu akan sangat menantang dan menambah keimanan bila menjalankannya dengan ikhlas.

Baca juga: bagaimana umat muslim menjalankan ibadah puasa di Jerman?

Masih di suasanya lebaran, kali ini aku akan membocorkan sedikit tentang suasana lebaran di Jerman.

Di Jerman, lebaran biasanya disebut dengan istilah Zuckerfest. Kalau diterjemahkan, akan sangat nggak nyambung dan gak ada kesan Islamnya. Iya, Zucker artinya Gula, Fest artinya Perayaan. Ya masak sih, idul fitri diartikan perayaan gula. Bisa diabetes semua donk orang-orang. :D

Mungkin mereka tahu bahwa Ramadhan, bulan puasa yang mungkin mereka pikir sangat berat untuk dijalani, dan akhir dari bulan Ramadhan itu dirasa sangat manis semanis gula, jadi mereka merayakannya dengan makan yang manis-manis. Atau mungkin orang Turki yang banyak tinggal di Jerman suka merayakan Idul Fitri dengan makan makanan yang manis? Ah, silakan diduga-duga saja sendiri. Yang pasti, kalau kalian bicara tentang Zuckerfest, mereka nyambungnya akhir dari bulan Ramadhan, yakni lebaran. Lalu lebaran sendiri apa artinya? Ada yang tau?

Apakah lebaran termasuk hari libur nasional di Jerman?

Jawabannya, sayang sekali tidak. Kecuali kalau harinya bertepatan dengan hari libur, misal hari buruh atau hari ayah. Jadi, setelah sholat Ied, kalau hari itu hari kerja, para pekerja akan kembali ke kantor. Kasihan sekali bukan?

Apakah Dapat THR?

Tentu saja tidak. Banyak kantor yang memberikan gaji ke 13 atau THR, tapi tentu saja bukan di momen lebaran, melainkan Natal.

Baju baru? Ketupat? Halal Bihalal? Mudik?

Apapun bayangan kalian tentang suasana lebaran di Indonesia, lupakan saja kalau sudah di Jerman! Semua tidak ada.

Trus?

Meskipun demikian, bukan berarti umat Islam, terutama umat Islam Indonesia kekurangan cara untuk mensiasatinya. Orang Indonesia biasanya akan sholat Ied dan makan-makan bareng di tempat yang telah ditentukan. Kalau di München dulu, ada sebuah gedung semacam Islamic Center, di mana salah satu ruangannya disewa untuk kegiatan keagamaan orang Indonesia. Di ruangan yang sama sekali tak mirip mushola ataupun masjid itu, kami sholat Ied, mendengarkan ceramah, dan saling bersalam-salaman. Di Hamburg, biasanya dilakukan di KJRI. Kalau mereka tau bahwa Zuckerfest jatuh di hari kerja, biasanya mereka akan minta libur agar bisa sholat Ied dan ber-lebaran dengan tenang.

Sedih ya tak ada kumpul dengan sanak family, tak ada kunjungan ke tetangga-tetangga, tak ada icip mencicip jajanan hari raya. Ada kok!

Memang bukan main sedihnya bila membayangkan saat lebaran yang biasanya digunakan untuk ajang kumpul keluarga, saling bermaaf-maafan, dan bersuka cita karena melihat keluarga besar duduk dan berbincang bersama (kadang juga dapat amplop :D), sekarang jadi sendirian dan jauh dari keluarga.

Oleh karena itu, menjalin komunitas sesama orang Indonesia bisa sangat membantu mengatasi kekecewaan dan kerinduan sakralnya Idul Fitri di kampung halaman tersebut. Kita biasanya masak-masak dan bikin kue bareng, atau jalan-jalan seharian ke luar kota.

Nah, gimana lebaran kalian tahun ini?

Semoga informasi tentang lebaran di Jerman tersebut menambah wawasan kita tentang Jerman ya.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, June 24, 2017

Orang Jerman: Termin!!! Termin!!! Termin!!!


Bicara tentang orang Jerman, pasti tak luput dari keteraturan dan ketelitian mereka dalam mengatur waktu dan merencanakan segala hal, termasuk membuat termin. Termin artinya appointment atau janji.

Di Jerman, sekalipun sudah sangat akrab dengan seseorang, kita tidak bisa begitu saja berkunjung tanpa membuat janji terlebih dahulu. Masih ingat ceritaku tentang sahabat Nadja yang berusaha membuat kejutan tapi malah diusir karena berkunjung di saat yang tidak tepat?

Baca kisahnya di: German Vs Indonesian Mentality Part 4: Individualism Vs Gotong Royong-ism

Nah, mumpung ada mood untuk berbagi cerita, kali ini aku akan menyambung cerita tentang sifat orang Jerman yang menurutku jauh berbeda dengan orang Indonesia dalam bikin janji.

Tentu saja kita tidak bisa men-stereotype semua orang Jerman saklek dan semua orang Indonesia easy going dan spontan. Ada juga kok orang Jerman yang bisa dimintai tolong secara spontan, kalau mereka bisa, mereka tak akan segan-segan membantu. Tapi kalau tidak bisa, mereka tidak akan SUNGKAN bilang kalau tidak bisa, capek, habis kerja, dsb. Beda dengan orang Indonesia yang masih sungkan-sungkan, meskipun udah loyo habis kerja, kalau ada tetangga yang kelihatan butuh bantuan, pasti sungkan kalau nggak membantu, agar tidak dicap sombong di masyarakat, atau agar kalau mereka butuh bantuan, tetangga juga tak segan membantu. Meskipun demikian, tak jarang juga orang Indonesia yang cuek dan individualism, terutama yang hidup di kota besar atau metropolitan.

Tentang orang Jerman....Satu hal yang sampai saat ini selalu menjadi poin penting hidup di Jerman setelah kuamati bertahun-tahun tinggal di sini, yakni TERMIN atau janji. Luar biasa penting bagi mereka untuk membuat janji dan untuk menepatinya. Sekalipun menunda atau membatalkannya, juga amat penting untuk berkomunikasi sebelumnya.

Aku mulai dengan cerita di dokter ginekologi (dokter kewanitaan)

Salah seorang teman, orang Indonesia, sebut saja namanya Ani. Dia sudah buat janji di dokter ginekologi pada hari Rabu untuk melakukan papsmear. Karena berhalangan datang, dia alihkan janjinya itu kepadaku, karena dia tahu aku sudah waktunya periksa apakah ada tumor/kanker di daerah kewanitaan, atau di payudara, dsb. Periksa seperti ini di Jerman sangat dianjurkan sebelum terlambat dan dibayar sepenuhnya oleh asuransi.

Aku pikir si Ani sudah menelepon dokternya untuk mengalihkan janjinya kepadaku. Ternyata dia lupa telpon. Alhasil, saat aku datang dan bilang bahwa aku mengambil janji untuk Nona Ani, dia marah besar. Katanya, "Seperti ini tidak bisa anda lakukan! Anda tidak bisa seenaknya mengambil janji orang lain!"

Kataku, "Loh bukannya janji untuk Nona Ani sudah kosong? Kan bisa digantikan saya?"

Jawabnya, "Tidak bisa! Semua harus bikin baru, bikin janji baru"

Ya elah, ribet banget sih. Kalau dipikir-pikir, kan sama saja, memeriksa si Ani atau aku, ada janji yang kosong, kenapa tidak bisa diisi secara langsung sih?

Akhirnya, aku buat janji baru di hari yang lain.

Cerita kedua: Jangan bawa teman tambahan kalau sudah janji mau datang sendiri!

Dulu, aku sudah pernah cerita kalau host family ku marah besar gara-gara aku bilang mau datang sama satu teman, nggak taunya aku bawa 2 orang. Kali ini, kejadian yang sama terulang.

Ceritanya, aku punya kenalan orang Thailand yang menikah dengan pemuda Jerman. Aku sudah pernah diundang ke rumah mereka sebelumnya. Mereka mengundangku untuk kedua kalinya dalam rangka masak-masak.

Karena aku tahu betapa pentingnya membuat janji, aku bilang sama dia bahwa aku bawa teman satu lagi, yang juga dari Indonesia. It was fine.

Teman Indonesiaku itu ternyata ingin ngajak teman cowoknya, orang Jerman. Aku bilang kepada orang cewek Thai itu, bolehkah dia bawa teman cowok. Ternyata boleh. Okay.

Nggak tahunya, cewek Thai itu lupa bilang kepada suaminya (orang Jerman), kalau temanku bawa satu orang lagi. Alhasil suaminya sepanjang acara makan itu cemberut dan ngomong hal-hal yang ngeselin. Apalagi temanku sempat nyinggung dia dengan bilang bahwa dia dan teman cowoknya itu mirip. Suami orang Thai itu sempat bilang kepada cowok Jerman yang dibawa temanku seperti ini, "Siapa kamu? Oh temannya Nia (temanku)? Aku nggak kenal Nia, cuma kenal Girind (aku)"

Suasana makan dan maen kartu saat itu pun jadi tegang dan serba nggak enak. Aku sampai heran, kenapa sesama orang Jerman, bukannya seneng dapat kenalan baru, malah bersitegang.

Akhirnya sejak saat itu sampai sekarang, mereka tak pernah mengundangku lagi, tak juga menghubungiku sama sekali. Menyedihkan bukan?

Cerita 3: Jangan membuatku menunggu!!

Seorang teman Indonesia, sebut saja namanya Ida yang pernah janjian sama temannya, orang Jerman pukul 20.00, tapi datang 30 menit telat. Ida sudah bilang sebelumnya dan dia berpikir dia sudah sangat akrab dengan temannya tersebut. Saat datang, tetap saja temannya itu marah dan bilang, "Hargailah waktuku, jangan buatku menunggu, kalau kamu tahu akan telat, bilang sebelum aku berangkat dari rumah. Kamu tahu menunggu itu tidak enak, kedinginan. Aku sudah berusaha tepat waktu, tau gitu kan aku juga datang agak telat menyesuaikan waktumu!"

Cerita 4: Tak ada tempat untuk pacarmu!!

Saat diundang ke pesta pernikahan temannya 6 bulan sebelumnya, Tobi bilang akan datang sendiri. Setelah 2 bulan, Tobi bertemu denganku dan ingin mengajakku ke pesta pernikahan itu. Satu bulan sebelum acara, Tobi mengutarakan maksudnya untuk mengajakku dan bertanya apakah ada seseorang yang membatalkan kehadirannya di pesta itu. Teman Tobi bilang, semua penataan kursi sudah diatur, memang ada si Gio yang tak jadi membawa ceweknya datang, tapi kursi untukmu sudah diatur tidak berpasangan, ya masak cewekmu disuruh duduk sama Gio?"

Akhirnya, aku tak jadi diajak merayakan pesta itu. Bayangkan kalau di Indonesia, kita pasti berupaya dong agar kursi-kursi itu diotak atik supaya bisa muat satu orang lagi, atau tempat untuk Gio ditukar dengan tempat untuk Tobi. Saklek luar biasa orang-orang ini, batinku.

Baca juga: Pernikahan Jerman Vs Indonesia

Sifat orang Jerman nomor satu: Tepati kata-kata dan janji yang telah diucapkan. Kalau kita bilang, pukul 07.00 akan tiba, datang pukul 07.00 lewat 7 menit saja sudah bisa jadi hal besar. Kalau kita bilang bawa teman satu orang, nggak bisa datang dengan 5 orang.

Beda dengan di Indonesia, yang makin rame makin asik, makin nambah teman, nambah pengalaman. Ya, nggak?

Tentu saja, kita bisa ngajak 5 orang kalau itu acara kita sendiri.

Apakah kita boleh membatalkan janji?

Tentu saja boleh, kalau kita berhalangan hadir, ada hal yang mendadak harus dilakukan, sakit, dsb. Orang Jerman akan sangat mengerti, tapi lebih baik bilang sehari atau beberapa jam sebelum ketemuan, jangan membuat menunggu.

Nah, semoga cerita-cerita yang aku alami diatas menambah pengetahuan kita tentang budaya Jerman, terutama memahami karakter orang-orangnya agar tidak salah paham. Masing-masing orang memang beda, beda negara, beda juga budayanya, beda pula adat-istiadatnya. Tak ada yang unggul satu dengan yang lain, karena masing-masing orang punya karakter dan pembawaannya masing-masing. Jadi, sebaiknya tahu saja dan tidak men-judge. Okay?

Jadi, masih penasaran dengan orang Jerman? Baca seputar orang Jerman yang lain di blog ini, ya....

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Friday, June 23, 2017

Elbtunnel Hamburg: Spot Gratisan, Bersejarah dan Unik di Hamburg


Ngomongin tentang Hamburg, pasti ngomongin tentang Elbe. Ya, sungai ini memang menjadi ikon menarik kota Hamburg yang menghubungkan satu destinasi ke destinasi yang lainnya, sungai yang sekaligus menjadi pusat wisata dengan berbagai atraksi unik yang selalu dipadati pengunjung setiap harinya sepanjang tahun. Kali ini, masih di seputar sungai Elbe, kita akan jalan-jalan gratis ke tempat bersejarah. Elbtunnel.

Dari namanya saja, kita sudah pasti tahu apa itu Elbtunnel. Elb (diambil dari kata Elbe atau sungai Elbe), lalu Tunnel (terowongan). Elbtunnel adalah terowongan di bawah air, atau bawah sungai yang menghubungkan Landungsbrücken dengan Steinwerder.

Jadi begini, terowongan ini dibangun bukan mengambang di air yang bisa ditabrak ikan atau kapal selam, namun pembangunan dilakukan di tanah dasar permukaan dalam sungai. Jadi, sungai Elbe ini kedalamannya mencapai 24 meter, lalu tanah dibawah air itulah yang digali, dikeruk, dan difungsikan menjadi terowongan penghubung antara Landungsbrücken dan Steinwerder. Seperti gambar di bawah ini:

image credit: wikipedia. Dari gambar ini kita bisa melihat kedalaman air yang berwarna biru, lalu tanah di dasarnya yang berwarna coklat. Tanah itulah yang digali dan dibuat terowongan sepanjang hampir setengah kilometer.


Bolehkah masuk ke terowongan ini?

Boleh sekali donk. Terowongan ini juga menjadi salah satu alternatif favoritku jalan-jalan serta menunjukkan kota Hamburg gratisan kepada teman yang berkunjung ke Hamburg. Panjang terowongan ini 426,5 meter (hampir setengah kilometer) dengan diameter 6 meter.

Mengapa terowongan ini menarik untuk dikunjungi?

Elbtunnel adalah salah satu tempat wisata gratis di Hamburg yang syarat akan keunikan dan sejarahnya. Pembangunan terowongan ini dimulai tahun 1907 dan selesai pada tahun 1911, di kala itu, Hamburg yang merupakan kota maritim (Hansestadt) mengalami kemajuan perdagangan sehingga mengharuskan pemerintah memikirkan cara mengalihkan tata administrasi agar tidak hanya terpusat di sebelah utara sungai Elbe, namun juga di selatan. Karena itu, banyak kantor dan rumah penduduk di bangun di Steinwerder, dan untuk menjangkaunya dari wilayah sebrang sungai (St.Pauli atau Landungsbrücke), awalnya pemerintah ingin membangun jembatan (mungkin jembatan yang bisa dibuka tutup kalau ada kapal lewat). Tapi itu pun dinilai kurang efisien. Sehingga tanah bawah sungai pun digali dan dijadikan terowongan yang menjembatani para pekerja untuk menyebrang sungai dari Landungsbrücken ke Steinwerder.

Saat ini pun, terowongan ini masih aktif digunakan. Untuk kendaraan pribadi yang ingin melewati terowongan ini, mereka harus memperhatikan jadwal.

terowongan ini kalau di luar jam kantor bakal sepi banget, kesannya angker :D


Ini adalah lift untuk mengangkut mobil dari atas ke bawah dan sebaliknya

Hari Senin-Jumat: Pukul 08.00-13.00 tunnel ini dibuka untuk jalur dari St. Pauli ke Steinwerder
                              Pukul 13.00-18.00 untuk jalur sebaliknya.
Untuk mobil pribadi, kita diharuskan membayar 2 euro, tapi untuk sepeda dan pejalan kaki, gratis.

Ketika sudah sampai Steinwerder, ada spot menarik dan indah untuk dilihat, yakni di belakang gedung tunnel. Dari sana, kita bisa melihat Landungsbrücken dan kota Hamburg di tepi sungai Elbe.

Bagaimana Cara Ke Sana?

Dari stasiun utama kota Hamburg (Hbf), kita bisa naik Underground train (U3) jurusan Schlump/Barmbek nanti turun di Landungsbrücken. Saat turun dan ketemu dengan jembatan penuh gembok cinta, kalian ambil exit dengan jalan ke bawah tangga kanan.

begitu keluar stasiun Landungsbrücken, pasti ketemu rentetan gembok ini
Lalu jalan lurus sekitar 200 meter, di sana, kalian akan menemukan bangunan seperti benteng pertahanan. Memang tidak ada tulisan atau informasi kalau itu Elbtunnel. Tapi akan ada lift dan tangga yang membawa kita naik turun ke bawah tanah. Masuk saja dan kalau sudah di bawah, telusuri terowongan gelap itu hingga ke ujung.

image credit: ssk. Nah, bangunan ini adalah pintu masuk menuju terowongan bawah tanah, ketiga gerbang yang kita lihat itu adalah untuk lintasan mobil, sedangkan kalau kita jalan kaki, kita harus lewat pintu di samping kanan dan kiri. Kita bisa naik tangga atau lift untuk turun sedalam 24 meter.


lift bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda

tangga untuk naik dan turun baik pejalan kaki

Tips: terowongan ini biasanya sepi, terkesan serem dan kayak di dunia lain (apa lagi memikirkan bahwa kita berada 24 meter di bawah tanah, bisa begidik juga)😊. Saran aku, ke sini, sebaiknya rame-rame atau sama teman biar seru. Tapi kalau di jam-jam kerja, banyak juga orang lewat, dan ada juga penjaga.

Kalau sudah di ujung tunnel, naik lagi ke atas dengan lift. Lalu, temukan haltebus namanya Steinwerder di sebelah gedung lift tersebut. Di sana, akan ada petunjuk menuju spot untuk nongkrong dan melihat sungai.

ikuti petunjuk Aussichtpunkt (spot pemandangan)
Jalan ke arah utara sekitar 100 meter, di sana kalian bisa menemukan spot buat nongkrong.

Ini pemandangan Landungsbrücken dari Steinwerder di siang hari

tuh, banyak orang nongkrong

Nah, gimana? Mau berkunjung ke Hamburg tapi Budget terbatas? Cari yang gratis tapi unik saja. Salah satunya ya ke Elbtunnel ini.

Semoga informasi tentang Elbtunnel ini memberi informasi tentang Jerman, terutama Hamburg dan sekitarnya ya.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße




Saturday, June 17, 2017

Kangen Pantai di Jerman? Main ke Elbstrand Hamburg aja!


Elbstrand (baca: elb strand) adalah sebuah pinggiran sungai Elbe yang menyerupai pantai di Hamburg. Yah, jadi pantainya nggak di pinggir laut donk? Yup memang benar. Bahkan konon katanya, pantai yang selalu ramai pengunjung ini, pasirnya bukan pasir alami ciptaan Tuhan, alias pasir yang didatangkan berton-ton dari pabrik pasir, untuk ditata sedemikian rupa sehingga pinggiran kali Elbe ini bisa dinikmati warga sekitar dalam bentuk pantai, seperti pantai di laut.

IMG_0443
Kasihan ya? Memang. Dari sini, kita harus bersyukur loh, ada ribuan pantai di Indonesia, dengan gelombang ombak yang alami, begitu pun dengan pasir dan pohon kelapanya. Di Jerman, saking pinginnya orang pergi ke pantai dan berjemur, mereka harus pergi ke luar negeri. Untungnya, orang Jerman dengan segala akal dan kecanggihannya bisa memberi alternatif bagi warganya agar bisa menikmati matahari (yang hanya beberapa hari/minggu dalam setahun itu😂) dan tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, yakni dengan mendesain tepian danau dan sungai dengan pasir buatan pabrik. Ada-ada saja kan?
IMG_0462
Elbstrand, Elb diambil dari kata Elbe (Sungai Elbe), Strand artinya pantai. Tak usah diterjemahkan lagi donk ya, dari penggabungan dua kata itu saja, kita sudah bisa langsung menebak nama pantai ini (Nggak kreatif banget sih ya, orang Jerman, gampang ditebak). Elbstrand ini ada di beberapa tempat, seperti di Blankenesse, juga di Övelgönne.

Di postingan kali ini, aku akan bahas Elbstrand yang ada di Övelgönne. Pantai yang awalnya kukira bernama Neumühlen ini berada di Stadtteil Othmarschen. Stadtteil itu artinya kota bagian. Jadi, Hamburg itu banyak Stadtteil, yang membagi wilayah-wilayahnya dan Othmarschen adalah salah satu bagiannya. Nah, nama Neumühlen ini adalah nama pelabuhan kecil menuju pantai ini.

Dulunya, wilayah ini adalah kampung nelayan, namun saat ini, daerah Elbufer sudah disulap menjadi kampungnya orang-orang kaya dengan banyaknya rumah-rumah mewah di sepanjang tepian pantai (sungai) dari Teufelsbrücke ke Övelgönne. Tepian pantai ini semakin ke Barat (ke arah Blankenesse), akan semakin terlihat kawasan elit rumah-rumah di pinggiran pantai dengan pemandangan yang sungai Elbe yang menawan.

A view arround Övelgönne Elbstrand Saat pertama kali ke sana, aku benar-benar tidak bisa menikmati suasana pantai yang syarat dengan keindahan air dan semilir angin sepoi-sepoi. Pasalnya, aku ke sana pada akhir musim dingin (sekitar akhir Februari), di mana suhu udara masih berkisar nol-7 derajat, ditambah angin dingin dari arah pantai yang bertiup tak henti-hentinya. Selain itu, kunjungan pertamaku tersebut sebenarnya, kunjungan mendadak, karena si Max ingin menunjukkan kalau di Hamburg itu ada pantai juga (nggak cuma di Indonesia), aku memakai sepatu boot tinggi tebal khas musim dingin. Bayangin aja, jalan di pasir dengan memakai sepatu winter yang berat. Bruk....bruk...bruk...gedebuk. 😂. Tak ada pilihan lain selain memakainya, karena kalau sepatu kulepas, kakiku bisa beku.

Kunjungan kedua, masih mending. Saat itu, bersama keempat kawan dari Indonesia yang tinggal di Hamburg, kami memutuskan untuk menikmati matahari di tepi pantai ini. Waktu itu musim panas (yang sebenarnya juga nggak panas-panas amat). Puas banget menikmati pantai waktu itu, meskipun tak menyentuh air sama sekali, hanya duduk-duduk saja ngobrol di tepi pantai. Alasan pertama, karena kami males berbasah-basah. Alasan kedua, karena aku tak bisa renang dan tak membawa baju ganti. Alasan ketiga, meskipun musim panas, air sungai tetap dingin banget (sekitar 15-17 derajat). Males banget. 😂

Bagaimana cara ke sana?

Cara paling mudah untuk ke sana dari stasiun utama adalah: naik Underground Train (U3) jurusan Schlump/Barmbek lalu turun di Landungsbrücken. Kemudian, dari sana, kita menuju pelabuhan dan naik kapal Ferri no 62, jurusan Finkenwerder dan turun di pelabuhan Neumühlen (tak usah bayar karcis lagi, karena karcis ferri sudah termasuk HVV).
A Ferry number 62 in the direction of Finkenwerder
Ini kapal yang membawa penumpang dari Landungsbrücken
Do not forget to purchase your ticket! Unless you'd bought your HVV daily ticket

Kalau belum punya tiket kereta HVV, sebaiknya beli tiket di mesin tiket ini. Selain lewat jalur laut, kita juga bisa naik bus no 112 atau car to go (mobil milik umum).
IMG_0432
Ada apa aja di sana?

Pastinya ada pantai, ada Museumhafen Övelgönne yang menampilkan sejarah perkapalan.
IMG_0426 IMG_0429
Lalu Cafe dan Restoran (cukup mahal), juga penjual ice cream. IMG_0435 Kalau mau santai dan menikmati suasana pantai ala orang Jerman, jalan saja terus ke arah barat. Di sana, akan ada sebuah Cafe atau Restoran namanya Strandperle dan Strandkiosk yang harganya meskipun mahal, tapi kita bisa beli waffel atau hotdog seharga 2 euro, lalu duduk di bangku di depan cafe sambil menatap kapal-kapal lewat. Di dekat bar Strandperle, ada sebuah tangga naik, yang bisa kita telusuri (meskipun tidak beli apa-apa). Naik saja ke atas, di sana ada WC (kalau pas kebelet, hehe), kemudian perkampungan nelayan (yang sekarang disulap jadi rumah penduduk, homestay dan penginapan dengan harga yang sangat mahal), juga museum Oevelgönne Seekiste yang menarik untuk dilihat.
IMG_0454 IMG_0467 IMG_0458 IMG_0464 IMG_0478 IMG_0469
Bayar nggak masuknya?

Untuk masuk ke pantai ini, seperti di pantai manapun di Eropa, tentu saja tidak bayar, alias GRATIS. Bahkan kita bisa bawa peralatan Barbeque dan piknik, lalu bakar-bakar di pinggir pantai. Pasti asik tuh bakar sate tanpa mengipas, karena angin sudah gencar menghembus. 😊

Jangan lupa untuk membuang sampah pada tempatnya! Ada puluhan tempat sampah di sepanjang pantai, juga tempat khusus untuk membuang bekas arang. Jadi kebangetan banget kalau masih membuang sampah sembarangan.
IMG_0442 IMG_0479 IMG_0452

Nah, semoga info tentang pantai di Hamburg ini bisa memberikan sedikit informasi tentang Jerman, khususnya Hamburg.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Wednesday, June 14, 2017

Puasa di Jerman: Buka Bersama di KJRI Hamburg

Kalau ditanya apa kegiatan paling menarik selama jadi mahasiswa pas-pasan di Hamburg? Jawabannya adalah mengunjungi KJRI. 😁

Pertama, KJRI adalah tempat di mana kita bisa bertemu banyak orang Indonesia. Seperti mengobati kerinduan akan kumpul keluarga dan berbicara bahasa Indonesia kalau datang ke KJRI.

Kedua, di KJRI, di mana ada event, di situ ada makan. Makanannya khas nusantara. Gimana nggak tertarik coba? Kalau makan di Restoran Indonesia kan mahal, hehhe

Baca juga: Restoran Jawa di Hamburg: Jangan Pergi Sendiri

Ketiga, banyak kegiatan diaspora, sosial budaya yang diselenggarakan di KJRI, jadi selain nambah teman, kita juga bisa turut mempopulerkan budaya Indonesia di kancah Internasional dengan datang dan tanya-tanya langsung ke sana.

Baca juga: Hamburg: Gamelan di Kancah Internasional

Kali ini, berhubung bulan puasa, aku akan membahas sedikit tentang kegiatan buka puasa yang diselenggarakan KJRI Hamburg setiap Jumat dan Sabtu selama bulan ramadhan.

Aku terkadang ikut-ikutan teman untuk datang ke KJRI dan buka puasa bareng. Buka puasa di KJRI dimulai dengan acara pengajian pukul 08.00 hingga Maghrib. Acara pengajian yang biasanya diisi ceramah ini juga merupakan ajang diskusi dan tanya jawab seputar agama. Acaranya seru dan ustadnya tentu saja berbahasa Indonesia (meskipun banyak juga yang bukan orang Indonesia ikut buka bersama di KJRI), mau nggak mau mereka harus mendengarkan bahasa asing, atau tanya kepada orang yang duduk disamping mereka.


Sesaat sebelum adzan Magrib berkumandang, Takjil dan kurma dibagikan. Kemudian membaca doa bersama dan para hadirin dipersilakan untuk membatalkan puasa. Setelah itu, sholat maghrib berjamaah di Aula KJRI.


Dan tara,, makan besar.


Yang tidak puasa, biasanya ikut menata hidangan, membawanya dari dapur menjuju ke ruang prasmanan. Setelah itu dengan tertib antri mengambil makanan.


Setelah makan, akan ada sholat Isya dan sholat Tarawih berjamaah. Kalau musim panas gini, sholat Isya dan Tarawih dilaksanakan sekitar pukul 11.30. Tengah Malam baru Isya. Kalau di Indonesia, jam segitu pasti udah tidur, tapi di Jerman, umat muslim baru saja harus menunaikan ibadah sholat Isya. Dan harus rela tidur hanya 2 jam, karena pukul 02.30 sudah harus sahur, atau kadang mereka memilih untuk tidak sahur, karena perut masih sangat penuh akibat buka jam 22.00-23.00.

Baca juga: Bagaimana Umat Muslim Menjalankan Ibadah Puasa di Jerman?

Demikian sekilas info 😆 seputar kegiatan ramadhan, khususnya umat muslim Indonesia yang tinggal di Hamburg dan acara buka bersama di Konsulat Jendral Republik Indonesia tiap Jumat dan Sabtu di Hamburg.

Untuk pergi ke sana, baca: Konjen Indonesia di Hamburg

Tips: Aku yang memang bisa dibilang cerdik sekaligus licik, biasanya membawa Tupperware kosong dari rumah untuk membungkus makanan yang biasanya sisa banyak. Tak perlu malu kalau memang sisa, para ibu-ibu akan dengan senang hati menyumbangkan makanannya kepada anak kos dan pelajar miskin seperti aku ini. 😀. Kalau nggak sisa, berarti bukan rejeki kita. Hhehe, tapi kalau nggak bawa tupperware, plastik juga disediakan untuk membungkus makanan, kok. Jangan khawatir, kalau memang mau bungkus untuk sahur dan persediaaan makan di hari-hari selanjutnya, ambil saja. 😉

Liebe Grüße

Monday, June 12, 2017

KJRI di Hamburg

Informasi ini mungkin akan sangat berguna bagi kalian semua yang baru pindah ke kota Hamburg dan ingin lapor diri ke KJRI. Selain itu, di KJRI adalah tempat di mana kita bisa menambah teman dari Indonesia serta melestarikan budaya Indonesia di kancah internasional dengan mengikuti kegiatan-kegiatan kebudayaan yang diselenggarakan (seperti angklung, gamelan, tari, dsb) yang biasanya akan dipentaskan di kegiatan promosi Indonesia seperti Lange Nacht der Konsulat atau Pasar Hamburg, dsb. Di sana juga tempat untuk bersilaturahmi dengan warga Indonesia lainnya di Hamburg dan sekitarnya. Di KJRI, diadakan juga acara seperti dharma wanita, pengajian, diskusi politik dan budaya, yang bisa diikuti oleh siapapun. Saat Ramadhan, setiap hari jumat dan sabtu, akan ada acara buka bersama dengan puluhan hidangan khas nusantara. Acara buka bersama juga meliputi acara pengajian, sholat magrib sampai sholat tarawih. Jadi nggak cuma acar makan bersama saja. Meskipun demikian, banyak juga teman non-muslim yang ikut datang dan makan. Tentu saja tidak apa-apa.

Alamat KJRI di Hamburg:

Bebelalle 15
22299 Hamburg

Bagaimana cara ke sana?
Kalau kalian berada di central station (Hbf), tinggal naik U1 jurusan Norderstedt Mitte lalu turun di Lattenkamp. Begitu turun tangga, ambil exit ke kanan (ke arah jalan Bebelalle). Setelah ketemu jalan besar dan perempatan, kalian tinggal mengikuti jalan besar itu dan lurus ke arah berlawanan dari arah datangnya Ubahn (ke kiri). Jalan sekitar 4-6 menit, pasti ketemu rumah besar dengan bendera merah putih di depannya. Nah itu KJRI Indonesia.

Pagar di KJRI biasanya tertutup siang malam. Mobil pun tak diperbolehkan parkir di dalam pagar (sekalipun mobil karyawan KJRI). Di dalam pagar, hanya mobil diplomat yang boleh parkir. Tapi di sana ada bel. Security biasanya sudah melihat kedatangan kita lewat CCTV, lalu saat kita sudah memencet bel, kita baru dibukakan pintu pagar. Pintu pagar akan berbunyi selama beberapa detik, dan kita harus mendorongnya dari luar agar terbuka, baru kita bisa masuk.

Jam pelayanan bisa dilihat di pintu depan pagar. Silakan pencet tombol yang berwarna putih agar segera dibuka pintu pagarnya
Untuk masuk ke dalam gedung, kita tidak perlu memencet bel lagi, karena meskipun pintu terlihat tertutup rapat dan susah dibuka, sebenarnya kita sudah bisa masuk dengan mendorong pintu itu kuat-kuat (agak berat memang pintunya). Nah, barulah kita mengisi buku tamu dan bertanya kepada resepsionis di sana apa keperluan kita. Kalau mau lapor diri, memperpanjang paspor, atau legalisir ijazah, langsung masuk ke lorong sebelah kiri, di sana loket konsuler. Jangan lupa membawa dokumen yang disediakan serta uang (di KJRI juga bisa menerima pembayaran dengan kartu).

Untuk info kegiatan, kita bisa tanya atau mengecek langsung di website kjrihamburg.de tapi kegiatan di sana kadang berubah-ubah jadwalnya. Kemarin aku sempat foto kegiatan mingguan di KJRI yang mungkin bisa kalian ikuti juga.

Jadwal kegiatan di Aula KJRI tiap Minggunya

Untuk mengecek sendiri informasi seputar KJRI, silakan klik link kjrihamburg.de. Semoga info ini bermanfaat.

Liebe Grüße

Saturday, June 10, 2017

Bagaimana Umat Muslim Menjalankan Ibadah Puasa di Jerman?

Gambar diambil di depan Masjid Iran di Hamburg
Di Jerman, tidak ada halangan bagi umat muslim untuk beribadah, termasuk menjalankan ibadah puasa. Banyak teman di Indonesia yang bertanya padaku berapa jam puasa di Jerman. Mungkin mereka tahu, pernah mendengar atau membaca, bahwa puasa di negara beriklim sedang seperti di Jerman ini lebih lama ketimbang di Indonesia (kalau musim panas), kalau musim dingin, justru lebih pendek.

Baca: Mengapa di Eropa, jam dimajukan menjelang musim panas?

Tahun ini, Ramadhan bertepatan dengan musim panas, yakni dimulai tanggal 27 Mei dan berakhir pada tanggal 24 Juni 2017. Puncak siang terpanjang di musim panas, secara resmi jatuh pada tanggal 22 Juni, setiap tahunnya. Yakni matahari terbit sekitar pukul 02.30 dini hari dan tenggelam sekitar pukul 22.00. Waktu awal-awal puasa kemarin, tepatnya masih akhir bulan Mei, imsak jatuh pada pukul 02.57 dan buka pada pukul 21.37 (jadi, sehari puasa sekitar 18 jam 30 menit). Tapi semakin ke bulan Juni, siang makin panjang, yang artinya, puasa juga makin panjang. Menjelang lebaran, (sekitar tanggal 21 dan 22 Juni), umat Islam berpuasa sekitar 19 jam 20 menit, karena bertepatan dengan puncak siang terpanjang di musim panas.

Kalau musim dingin? 

Kalau Ramadhan jatuh pada bulan-bulan di musim dingin (November-Februari), akan sangat menguntungkan. Pasalnya, di puncak siang terpendek di musim dingin, yang secara resmi jatuh pada tanggal 22 Desember, matahari terbit sekitar pukul 08.30-09.00 dan tenggelam pukul 15.30-16.00. Jadi, umat Islam hanya berpuasa 7 jam saja. Selain itu, karena cuaca dingin, tubuh tidak merasa kepanasan dan kehausan selama berpuasa.

Jenis-jenis puasa yang dilakukan Umat Muslim di Jerman

Lucunya, kadang aku mendengar bahwa di musim panas, karena jam puasa yang menyiksa, panjang dan terik matahari menyengat (di musim panas, suhu bisa mencapai 40 derajat, loh), umat muslim memilih cara mereka sendiri untuk berpuasa. Apa saja itu? simak liputannya berikut ini:

1. Puasa mengikuti jam di Arab Saudi
Karena tidak sanggup menahan rasa haus dan lapar sepanjang hampir 20 jam sehari, ada juga yang memutuskan untuk berpuasa mengikuti jam di Arab Saudi, Turki, Iran atau negara asal mereka. Yakni sekitar 14-15 jam saja sehari, meskipun mereka tinggal di Jerman.
Pertanyaanku: kalau musim dingin, apa mereka juga mengikuti jam Arab?

2. Puasa nyahur di musim dingin
Kerja ditambah puasa di musim panas terkadang membuat orang lunglai. Karena itu beberapa teman memutuskan untuk tidak puasa, atau puasa jika sanggup (asal tidak menyiksa dan membuat diri sendiri sakit), lalu melunasi hutang-hutang puasa di musim dingin.

3. Puasa semampunya
Urusan ibadah adalah urusan vertikal kita dengan Yang Maha Kuasa. Termasuk puasa, karenanya terserah kita atau mereka puasa seperti apa, di Jerman, baik orang Indonesia maupun orang Jerman sendiri tidak ada yang memaksa, mereka pun tidak sungkan mengatakan bahwa: Aku tidak puasa, karena tidak kuat. Ada yang puasa sampai jam 18.00 (mengikuti jam Indonesia) ada yang sampai 20.00 (kalau sudah hampir pingsan, lalu makan) ada yang puasa benar-benar sampai maghrib.

Di Jerman, puasa tidak puasa, sholat tidak sholat, beragama tidak beragama, tidak ada orang yang peduli. Seperti contoh jenis puasa nomor satu, mereka yang berkeyakinan seperti itu, ya dipersilakan saja berpuasa dan beribadah seperti itu. Tidak ada yang menghakimi, menghujat aplagi mengkafir-kafirkan :D

Bersyukur sekali teman-teman di Indonesia yang setiap tahunnya, puasa dengan jam yang sama, matahari terbit dan tenggelam di jam-jam yang sama setiap hari sepanjang tahun.

Selamat menjalankan ibadah puasa :)

Liebe Grüße

7 Spot Unik di Reeperbahn

Mengunjungi Hamburg, tak lengkap rasanya kalau berkunjung ke Reeperbahn. Berbeda dari postingan sebelumnya yang berisi tentang kemaksiatan di jalanan ini, di postingan kali ini, aku akan memberi sedikit tips supaya berkunjung ke Reeperbahn lebih asik.

Baca: Mil-Mil Penuh Dosa 'Reeperbahn'

Tentu saja, tipsnya bukan untuk mengunjungi prostitusi ya, tapi tempat-tempat yang menurutku unik dan menarik untuk dilihat, sarat akan sejarah dan keanehannya. Apa saja itu? Simak ulasannya berikut ini:

1. Beatles-Platz

Siapa sih yang tak kenal grup legendaris asal Liverpool 'The Beatles'? Sebelum begitu terkenal dan mendunia, siapa yang menyangka, grup band legendaris ini dulunya menyanyi di cafe-cafe dan club di Reeperbahn. The Star Club, Kaiserkeller, Top Ten dan Indra tercatat sebagai Club yang pernah memperkerjakan The Beatles.
Apalagi sang gitaris John Lennon bernah berujar, "Aku memang lahir di Liverpool, tapi aku besar di Hamburg", menjadikan grup band ini sangat digemari juga di Jerman.
Beatles-Platz ada di ujung timur jalan Reeperbahn, tepatnya di Große Freiheit yang ditandai dengan patung lempengan besi yang menyerupai personil-personil the Beatles.


2. Große Freiheit
Letaknya juga di sekitaran Beatles Platz. Große Freiheit artinya Big Freedom atau Kebebasan yang sebebas-bebasnya, yakni sebuah gang sepanjang kurang lebih 150 meter yang berisi bar, club, discotik. Di gang ini juga dulu The Beatles manggung (di Star Club). Uniknya, di ujung jalan ini, ada sebuah gereja, yang bersebelahan dengan club penari telanjang pria (Male Stripper Club). Pernah satu kali membawa teman ke gang ini dan melihat-lihat betapa banyak tempat prostitusi dan toko sex, nggak taunya pas mau balik, kita dipertemukan segerombolan orang yang baru saja melangsungkan misa pernikahan di gereja ini. Kenapa juga mereka melangsungkan pernikahan di gereja dekat Reeperbahn. Kenapa juga aku kepo? :D



3. Club MOJO
Sebenarnya, aku kurang suka mengunjungi club-club atau disco. Club Mojo ini pun aku juga tidak pernah masuk ke dalam. Hanya saja, Club yang satu ini sangat unik. Club Mojo dibuka pada April 2003. Saat siang hari, club ini terlihat datar seperti trotoar biasa. Seperti di gambar ini:

Ini pintu tangga masuk Mojo Club di siang hari
Begitu malam tiba, club ini dibuka dan memuat sekitar 800 tamu di bawah tanah. Saat trotoar dengan lambang M itu dibuka, akan terlihat seperti gambar di bawah ini. Kita bisa masuk ke bawah tangga, menari, berdansa dan bersenang-senang. Bahkan disediakan 17 toilet unisex (cewek cowok) dengan pengeras suara untuk dimanfaatkan oleh pengunjung yang ingin ber 'ah ah' ria memuaskan hasrat dengan pengunjung lain. Aduh...

Ini pintu tangga masuk Mojo yang sudah dibuka
Mojo cafe ini, terletak sekitar 50 meter di sebrang jalan (selatan) dari St. Pauli.

3. PANOPTIKUM

Ulasan seputar Museum lilin orang-orang terkenal di Hamburg dan di Jerman ini, bisa kalian baca di:
Hamburg Panoptikum: Mengenal orang Terkenal di Jerman Lewat Panoptikum

Letaknya hanya 10 meter dari Mojo Cafe.

4. Herbertsraße
Herbertstraße adalah nama sebuah gang yang bisa dikatakan gang pelacuran konservativ. 😀 Pasalnya, tak seperti di tempat lain di Reeperbahn, yang juga boleh dikunjungi wanita, di gang ini, wanita dilarang masuk. Pengunjung pria di bawah umur 18 tahun juga tak boleh masuk. Ada apa sebenarnya?
Aku yang selalu penasaran, pernah menyuruh temanku (laki-laki) untuk masuk dan melihat ada apa sebenarnya di dalam gang ini. Kata temanku yang orang Indonesia itu, "Wuduh busyet, melambaikan tangan dah, kagak kuat!". Katanya, wanita-wanita telanjang di balik jendela yang siap untuk di'hajar' menyembul nyembulkan kemaluannya, payudaranya kepada pengunjung yang lewat demi mendapatkan pelanggan.
Kalau ada wanita ketahuan masuk, mereka akan disiram air, diludahi, dan dicaci maki sampai keluar kembali.

5. DAVIDWACHE
Davidwache adalah sebuah kantor polisi yang megah di jalanan menuju Herbertstraße. Kantor polisi ini menjadi pusat perhatian karena keberadaannya yang unik dan mencuat di tengah-tengah jalanan prostitusi. Keberadaan kator polisi ini memang penting karena berbagai macam tindak kriminal sering terjadi di Reeperbahn. Davidwache kalau diartikan juga lucu, jadi 'David yang Bangun'. Tapi, pengambilan nama ini, sebenarnya karena kantor polisi ini terletak di Davidstraße (Jalan David).


6. Operettenhaus, Bar dan Club
Konser musik atau Opera House juga menjadi icon unik dan menarik di Reeperbahn. Kalau kalian suka dugem. Ketemu Reeperbahn adalah surga. Di sini, kalian bisa masuk ke tempat dugem mana pun, dengan jenis musik apapun (dari Techno, electro, Schlager). Sayangnya dangdut nggak ada :(.

7. Sex Shop dan Souvenir Shop
Di sepanjang jalanan Reeperbahn, dipenuhi dengan pernak pernik toko yang menjual peralatan Sex. Terus terang, sekali pun aku belum pernah masuk ke salah satu toko ini. Meskipun untuk melihat-lihat saja, aku tak mau (ada toko yang mengharuskan kita membayar 1 euro untuk masuk). Kalau kalian tertarik, boleh saja masuk.
Selain Sex Shop, souvenir shop juga tak ketinggalan. Beberapa toko souvenir menawarkan pernak pernik ala Hamburg dan FC St. Pauli, mulai dari kartu pos sampai tas ada di sana. Harganya juga lebih terjangkau ketimbang membeli di stasiun.

gambar ini sebenarnya bukan sex shop, entah apa yang ada di dalamnya, mungkin pelacuran, atau live show sex

Nah, bagaimana? tertarik mengunjungi Reeperbahn?

Liebe Grüße

Friday, June 9, 2017

Mil-Mil Penuh Dosa 'REEPERBAHN'


Sebelum aku menulis panjang lebar tentang Reeperbahn, semoga para pembaca sekalian (apalagi yang saat ini puasa), segera menyiapkan doa-doa, bacaan, dzikir, dan pikiran terbuka tentang budaya barat yang sangat kental dengan perbuatan maksiat yang satu ini. Apa sih, lebay ih daku 😁. Dua hal saja yang aku ingatkan sebelum membaca: Pertama, PELACURAN di Hamburg itu LEGAL alias diperbolehkan oleh pemerintah, kedua, kalau anda tidak kuat dengan bacaan ini, silakan lambaikan tangan di kolom komentar. 😛

REEPERBAHN (baca: Re:perban) adalah sebuah nama jalan sepanjang 930 meter di pusat kota Hamburg, yang sekaligus sebagai salah satu Red Light District dan Pelacuran terbesar di Jerman. Tak ada tempat seperti Reeperbahn yang bisa kita jumpai di kota selain Hamburg.


Saat pertama kali ke Hamburg, aku menumpang nginap di rumah pacar Rabea, namanya Christ. Christ kebetulan tinggal di kawasan St. Pauli, tepat berada di jalanan sekitar Reeperbahn. Aku yang saat itu sudah pernah ke Red Light District di Amsterdam, masih belum juga ngeh kalau Reeperbahn juga kawasan pelacuran (meskipun aku datang di malam hari, dan menyusuri jalanan penuh kelap kelip lampu khas Reeperbahn yang meriah). Mungkin sudah capek saat itu, sehingga aku tak begitu memikirkan ada di belahan neraka mana aku ini. 😀

Baca kisah tentang pertemuanku dengan Rabea: Köln: Petir dan Sempitnya Dunia Ini

Christ bersama Rabea begitu semangat mengantarkan aku jalan-jalan keesokan harinya ke Reeperbahn. Mereka sudah pernah Tour bersama rombongan turis secara gratis sebelumnya dan dengan senang hati menjelaskan tentang Reeperbahn kepadaku. Aku tak tahu harus berkata apa saat melihat-lihat apa yang ada di sepanjang jalanan maksiat itu.

Reeperbahn sendiri terkenal dengan nama Kiez (baca: Kietss). Orang Hamburg asli, biasanya akan bilang, "Aku pergi ke Kiez", yang artinya mereka akan bersenang-senang di Reeperbahn. Jalanan sepanjang hampir satu kilometer ini juga dikenal dengan sebutan 'MIL-MIL PENUH DOSA' (Die Sündigste Meile). Wah, kalau tau jalanan ini bergelimang dosa, masih juga padat pengunjungnya. Dasar manusia, ya :D

Dulunya, sekitar abad ke 17 dan 18, jalanan ini adalah tempat pembuatan tali. Dari namanya, Reep (dari Jerman kuno yang berarti Rope (tali) dan Bahn (Kereta, sarana, alat). Aku berasumsi bahwa tali-tali ini diproduksi untuk kegiatan pelayaran, seperti tali jangkar untuk kapal dan sebagainya. Hal ini wajar karena letak Reeperbahn yang begitu dekat dengan Landungsbrücken dan Altona (pelabuhan peti kemas di Hamburg). Sebelum tahun 1620 an, produksi pembuatan tali ini berada di Neustadt, dekat Elbe. Karena kepadatan penduduk di daerah Neustadt, kemudian jalanan inilah yang digunakan untuk produksi tali-tali itu, sehingga jalanan ini dinamakan Reeperbahn, kalau bahasa Jerman yang baik dan benar akan dinamakan Reiferbahn.

Lalu mengapa jalanan ini disebut mil-mil penuh dosa? Yang sudah berkunjung ke Reeperbahn pasti sudah melekat kuat di ingatan tentang apa saja yang ada di sepanjang jalan ini. Dari ujung jalan daerah St. Pauli, kita bisa menyusuri jalanan yang penuh dengan Bar, Club, Restoran, Toko-Toko peralatan Sex, Bioskop Sex, Live Show Sex (nonton orang nge-sex dengan membayar 2 euro saja), Bar-bar yang menawarkan tarian erotis (table dance dan stripper), tak ketinggalan Male Stripper buat para wanita yang haus akan gairah laki-laki, lalu zur Ritze (yakni sebuah bar erotik dengan simbol wanita mengangkang. Saat masuk ke dalam bar, para pria diistilahkan masuk ke Ritze (ke dalam vagina wanita, yang artinya masuk ke dalam jebakan kenikmatan). Tak hanya itu, sepanjang jalan, akan kita temui puluhan pelacur, baik di dalam kawasan Red Light atau pun di jalanan. Sebagai info, para pelacur ini bekerja resmi dan membayar pajak kepada negara, loh, seperti Dolly jaman dulu, kali ya. Para wanita penggoda setengah telanjang menari-nari dan mendekati kaum pria sudah tak menjadi pemandangan yang asing di jalanan ini. Bahkan saat berjalan-jalan bersamaku, Dendi (sahabat dari Indonesia) juga digodai dan dipegang-pegang oleh para wanita itu sambil bilang, "Konichiwa!". Eh, mbak, emang tampang kami Jepang banget, yak? Batinku. Atau jangan-jangan mereka bilang Konichiwa ke semua orang Asia. Kayaknya sih begitu. 😂

Di sepanjang jalan ini, ada peringatan larangan membawa senjata tajam, pistol, dsb. Kalau malam minggu, kita naik kereta dan nggak sengaja melintasi stasiun Reeperbahn, bisa dipastikan bertemu dengan banyak orang mabuk. Sehingga malam minggu dan hari libur kawasan ini dijaga ketat oleh polisi.

Uniknya, tak seperti Red Light distric di Amsterdam, kawasan Reeperbahn ini benar-benar mentereng tanpa tedeng aling-aling bahwa kawasan ini merupakan kawasan maksiat, dengan lampu-lampu warna warni sepanjang jalan menghiasi toko-toko peralatan mesumnya. Meski demikian, seperti di kawasan Red Light  lainnya, di Reeperbahn, juga bisa kita jumpai pemukiman penduduk yang juga dihuni anak-anak, kantor polisi, museum, perkantoran, taman, dsb. Tak melulu tempat maksiat, kok. Bahkan St. Pauli Kirche (Gereja St. Pauli) juga terletak di sekitaran Reeperbahn. Tuh kan :D

Kalau berkunjung ke Hamburg. SANGAT AMAT TERAMAT disarankan untuk sekali saja berkunjung ke Reeperbahn. Kenapa?

1. Untuk mengenal Budaya Hamburg
Reeperbahn, meskipun kental dengan maksiatnya, tapi ada beberapa spot unik dan menarik yang kental dengan sejarah yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Hamburg. Sehingga, buat apa berkunjung jauh-jauh ke Hamburg kalau cuma ingin melihat Katedral atau taman indah yang gitu-gitu aja?. Akan malu banget kalau kita cerita kepada orang Jerman bahwa kita sudah pernah ke Hamburg, tapi tidak mampir ke Reeperbahn. Nah, kemana aja?

2. Icon Hamburg
Saat pertama datang ke Hamburg, meskipun kurang suka dengan kawasan pelacuran, Rabea meyakinkanku bahwa Reeperbahn ini begitu terkenal dan merupakan Icon Hamburg, sehingga rugi banget kalau kalian tidak mampir ke sini. Bahkan ada lagu yang begitu terkenal sepanjang masa 'Auf die Reeperbahn Nachts um Halb Eins' yang juga soundtrack Film dengan judul yang sama pada tahun 1954. Jadi, tak ada orang Jerman yang tak kenal tempat legendaris ini.

3. Mengenal Hamburg dari sisi yang lain
Di setiap kota atau daerah, pasti punya sebuah nuansa yang berbeda. Yang membuatku jenuh dengan München adalah nuansa kotanya yang SELALU terkesan rapi, bersih, tentram, tak menantang. Tapi begitu ke Berlin yang memadukan antara kemegahan dan keindahan bangunan dengan para gembel rusuh sepanjang jalan itu, aku jadi lebih terkesan. Jadi tak melulu indah menurutku lebih seimbang.

Bagaimana cara ke Reeperbahn

Saat ada teman yang berkunjung ke Hamburg, wajib buatku untuk mengantarkan mereka jalan-jalan. Aku suka menjadi guide gratisan di Kota Hamburg. Hhehe. Sehingga aku pun tahu bagaimana cara terbaik untuk pergi ke Reeperbahn.

1. Cara pertama, kalau kalian ada di Hbf (stasiun utama), naiklah Underground Train (U3) jurusan Schlump/Barmbek, lalu turun di stasiun St. Pauli. Ambil Exit ke arah Reeperbahn, nyebrang perempatan jalan satu kali dan kalian akan menyusuri jalanan Reeperbahn mulai ujung Barat sampai ke Ujung Timur. Setelah puas di gang Große Freiheit, ambil laju jalur sebrang untuk menyusuri gang yang akan membawa kita ke Landungbrücken. Di sana, ada objek yang sangat menarik untuk dilihat.

2. Cara Kedua, masih dari Hbf, ambil platform (gleis, atau jalur kereta) nomor 1, naik Subway S3 jurusan Pinneberg (jangan Altona), atau S1 jurusan Blankenese. Lalu turun di stasiun namanya Reeperbahn. Di sana, kalian akan tiba di ujung jalan paling timur. Dari sana, kalian bisa menyusuri jalanan Reeperbahn dari ujung timur ke barat.

turun di stasiun ini, lalu ikuti exit ke kanan (ke arah Beatles Platz atau Große Freiheit)

3. Cara ketiga, masih dari Hbf, kita bisa naik S3 (Jurusan Pinneberg) atau U3 jurusan Schlump/Barmbek, lalu turun di Landungsbrücken. Dari sana, kita bisa jalan ke tangga yang di Hotel Hafen Hamburg (hotelnya berada di atas bukit gitu). Lalu, menyusuri jalan di belakang (atau di depan, aku nggak pernah masuk hotelnya, hehhe). Jalan saja ke arah Utara (atau Barat Daya), lewat gang-gang dan taman, gedung-gedung, lalu akan ketemu jalan besar. Jalan itu adalah jalan Reeperbahn. Cara ini agak membingungkan, tapi aku suka lewat sini karena sekalian jalan-jalan. Kalau pertama kali ke Hamburg, lebih baik pakai cara pertama atau kedua.

Reeperbahn berada di pusat kota. Jadi, sebenarnya kalian tak perlu khawatir kesusahan untuk menemukannya. Yang bikin susah, kalau pas ke sana, nggak ada teman atau pun guide untuk di ajak bicara.

Meskipun Reeperbahn tergolong kawasan aman, kalian juga harus hati-hati terhadap barang bawaan kalian. Di sana, akan banyak gelandangan dan tuna wisma. Mereka nggak bahaya kok, tapi seringnya mereka mabuk dan berkelahi dengan orang lain. Jangan sampai kita terlibat dan terkena imbasnya.

Nah, di postingan berikutnya, aku akan jelasin spot-spot unik dan menarik yang bisa dikunjungi di Reeperbahn.

Baca: 7 Spot Unik di Reeperbahn

Liebe Grüße



Join Facebook

Followers

Google+ Followers