Tuesday, May 9, 2017

Apa yang dibicarakan orang Jerman saat nongkrong bareng?


Masa-masa kangen rumah dan kampung halaman adalah saat terberat yang dihadapi anak rantau, terlebih rindu kumpul bersama teman-teman. Di Indonesia, apa yang biasanya kita bicarakan saat nongkrong sama teman akrab dan keluarga?

Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja tergantung individu dan daerah asalnya di Indonesia. Orang Jawa, kalau nongkrong bareng biasanya suka masak-masak dan makan, sedangkan orang Batak suka nyanyi bareng. Aku mengenal Indonesia jauh lebih baik justru saat tinggal di Jerman, karena di sini aku mempelajari Budaya Indonesia serta mengenal banyak kawan (Indonesia) yang berasal dari suku yang berbeda. Beberapa teman dari suku Batak, Papua, banyak yang dari Sunda dan juga Betawi.

Satu hal yang aku cermati saat kumpul sama mereka, kita suka melontarkan lelucon, saling ngebully dan cerita lucu atau bahkan cerita-cerita horor. Kalau ngobrol berdua aja, kita biasanya curhat masalah pribadi, keluarga, sharing soal cinta dan perjuangan hidup, tapi kalau kumpul bareng, kita lebih suka ngebully satu sama lain. Entah dari mana asal kita, selama kita masih berasal dari wilayah Indonesia, kebiasaan ngakak dan cerita hal-hal konyol itu tak bisa hilang. Lalu bagaimana halnya dengan orang Jerman? Apa sih yang mereka bicarain kalau nongkrong sama teman? Atau kumpul keluarga? Simak info selengkapnya:

1. Nongkrong sama teman
Mungkin aku sudah menulis berkali-kali kalau orang Jerman tuh punya teman maksimal 2 biji saja ๐Ÿ˜„. Mungkin terdengar berlebihan dan terkesan kesepian, tapi memang begitulah adanya.


Orang Jerman terkesan tertutup dan kurang bisa percaya terhadap orang lain. Seorang yang dianggap teman oleh orang Jerman biasanya yang sudah melewati masa-masa senang dan susah selama bertahun-tahun. Tapi ada juga orang Jerman yang merasa cocok berteman dengan seseorang sejak pertemuan dan ngobrol pertama kali.

Lalu apa sih yang biasanya mereka bicarakan saat ngobrol?
Kalau teman akrab yang sudah lama sekali tak bertemu, mereka akan minum bir sama-sama dan bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, tentang pasangannya, tentang anak-anaknya, tentang pekerjaannya, tentang politik, perekonomian negara, berlibur kemana, dan obrolan santai hingga paling serius lainnya.

Kalau tak begitu akrab dan belum tahu kehidupan masing-masing, mereka biasanya tak banyak tanya, tapi kalau ditanya dan dikepoi, akan dijawab juga, meskipun orang Jerman terkadang tak begitu suka dikepoi masalah-masalah pribadi. Topik obrolan paling hits sepanjang masa untuk mencairkan suasana adalah tentang cuaca. Karena di Jerman cuaca selalu berubah setiap saat. Bayangkan kalau di Indonesia, kita mulai obrolan, "Eh kok cuaca hari ini panas ya?". Pasti lawan bicara akan heran dan membatin, "Nah kan tiap hari panas? Gimana sih, lu? Basi banget!".

Saat duduk di kereta atau di sebuah restoran, kadang aku mendengar orang di sebelah lagi ngobrol. Selalu dan selalu saja aku menangkap pembicaraan mereka yang melulu seputar cuaca kemarin, hari ini, esok, kemudian obrolan dilanjutkan ke topik lainnya.

Satu rahasia dari orang Jerman, terutama pemuda-pemuda yang kadang susah mencari teman atau pasangan karena budaya Jerman yang jauh dari kepo dan masing-masing individu tertutup serta menjaga privasi orang lain: Mereka biasanya mabuk dulu baru bisa cerita ngalor ngidul tentang ini itu, tentang hal-hal tabu yang dalam kehidupan sehari-hari tak boleh dipertanyakan (contohnya: udah punya pacar belum?). Kalau nggak mabuk, mereka akan amat sangat malu untuk tanya hal semacam itu. Kalau nggak mabuk, mereka mengkonsumsi ganja dan ekstacy supaya pikiran rileks dan enteng untuk saling cerita dan tanpa ada rasa sungkan dan malu. Kasihan banget ya?

Kadang aku diskusi dengan Tobi masalah ini. Dia sebagai orang Jerman juga mengakui hal itu. Orang Jerman punya rasa cemas dan takut yang luar biasa kalau sudah menyinggung dan melampaui batas privasi orang lain. Jadi mereka cenderung hati-hati untuk kepo dan cerita masalah pribadinya kepada orang yang baru kenal.

Nah kalau di Indonesia? Walah, tak perlu dalam pengaruh alkohol mah, kita biasanya langsung cerita ngalor ngidul dan asik aja. Ini yang kadang aku rindukan dari budaya kepo Indonesia yang membuat kita merasa bebas dan gampang nyari teman.

2. Kumpul Keluarga

Bekerja bersama host family, serta berpacaran dengan orang Jerman membuatku mau tak mau menghadapi situasi dimana aku harus berada di sebuah acara keluarga dan mengetahui bagaimana orang Jerman berinterkasi dengan keluarga.

Mungkin sama juga seperti di Indonesia, keluarga bagi orang Jerman adalah yang paling utama dan nomor satu. Saat kumpul acara keluarga, mereka biasanya makan siang atau makan malam bersama, baik di rumah pengundang ataupun di restoran. Adat di Jerman, orang tua biasanya mentraktir anak-anaknya makan. Sekalipun anak dan cucunya sudah mandiri dan berpenghasilan lebih, yang paling tua masih merasa berkewajiban menyayangi dan menafkahi yang lebih muda, contohnya ya dengan memberi makan. Meskipun Tobi dan kakaknya sudah bekerja dan berpenghasilan cukup besar, kalau orang tuanya mengunjungi kami di Hamburg, tetap saja mereka memberi amplop berisi sejumlah uang untuk keperluan kami. Bahkan neneknya yang membelikan segala perabotan mewah untuk apartemen Tobi saat pindahan.

Banyak orang Jerman yang juga broken home dan punya masalah dengan keluarga. Tapi kebanyakan orang Jerman tak memiliki masalah finansial yang berarti, dan mereka itu praktis. Orang Jerman tak menimbun harta, rumah, dsb. Mereka yang tinggal di rumah besar seorang diri, biasanya lebih memilih pindah ke apartemen yang lebih kecil, lalu menyerahkan rumah itu kepada anaknya yang mau menempati, terutama anaknya yang sudah berkeluarga dan punya anak sehingga butuh kamar dan rumah yang besar untuk ditinggali.

Aku sempat heran saat Tobi bilang bahwa ayahnya mendapat bagian warisan rumah dan tanah saat orang tuanya wafat tapi ayahnya tak mau. Tak hanya ayahnya yang tak mau, saudara-saudaranya juga tak mau. Akhirnya rumah dijual dan uangnya dibagi, lalu tanahnya dibiarkan begitu saja. Bahkan tanah yang cukup luas tersebut ditawar-tawarkan kepada cucu-cucu yang mungkin mau membangun rumah disana, tapi malah nggak ada yang mau. Nggak habis pikir banget kan? Coba di Indonesia? Orang tua belum meninggal saja sudah berebut warisan, tanah dan rumah bisa jadi penyebab geger hingga pembunuhan. Nah ini, tanah dan harta sudah di depan mata malah nggak ada yang mau. Mereka malah beli tanah di tempat lain dan membangun rumah di sana.

Sekarang kembali ke obrolan seputar apa yang dibicarakan keluarga saat kumpul bareng. Apa sebenarnya yang mereka obrolin saat kumpul keluarga?

Mereka biasanya betah ngobrol berjam-jam untuk cerita hal-hal di masa lalu, mengenang kejadian saat masih muda atau anak-anak masih kecil, liburan, dan masa-masa sekolah. Selain itu, mereka juga suka ngobrolin seputar politik, ekonomi, dan dunia. Orang Jerman sangat kritis terhadap perkembangan dan kemajuan zaman. Terkadang aku yang bodoh dan tak tahu apa-apa ini merasa amat minder, lalu kangen keluargaku sendiri yang kalau kumpul lebih sering ngobrol seputar tetangga, ngegossip masalah selebriti dan membahas tentang makanan yang enak-enak.

Aaah, namanya juga beda negara, beda budaya, pasti beda adat istiadatnya bukan?

Semoga bahasan kita soal obrolan orang Jerman ini sedikit memberikan informasi seputar Jerman dan budayanya kepada para pembaca sekalian.


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe GrรผรŸe
Location: Hamburg, Germany

16 comments:

  1. Kita mah kalo kumpul selalu gosipin orang, wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gosipin yang baik baik ya... Jangan yg buruk

      Delete
  2. Masalah utama anak rantau itu kangen!!

    Aku yang beda pulau aja sering kangen apa lagi mba Indra yang beda negara. Padahal aku juga setahun kadangkala 2 kali pulang ehehe

    Kesian juga orang Jerman mau ngobrol pribadi aja sungkan. Harus mabuk baru bisa "curhat". Coba di Indonesia? Gak ditanya udah nyerocos ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetapi tidak semua begitu mbak ada juga lhoo orang yg diam mulut baru mau ngomong kalau di ajak ngomong

      Delete
    2. Mas trik pos: itu org Jerman apa org indonesia?? Iya ada banyak juga kok org pendiam dan pemalu di manapun itu...

      Arum: iya aku kadang prihatin juga sama org Jerman,,,tpi krn budayanya memang sudah seperti itu,,, mau gmn lagi :D

      Delete
  3. Kalau aku sudah ngumpul bareng teman, pantang rasanya ngomongin kerjaan. Mending cerita-cerita seru hahhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama,,, kerjaan mah biarlah jadi urusan di tempat kerja nggak usah dibawa2 ke mana2,,, klo org Jerman,,, yg dubicarain kerjaan mulu, makanya nggak seru ih,,,

      Delete
  4. Cuaca menjadi obrolan utama ya Mbak. Tapi salut buat orang Jerman yang nggak peduli sama warisan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya nggak semua seperti itu mbak,,, yg nmanya org, psti ada yg baik ada yg nggak :D

      Delete
  5. sekarang topik cuaca juga in mbak di sini, tapi obrolannya:
    "eh yang lagi ada hajatan di mana ya, hujannya dibuang ke mana ya?"
    #efekpncaroba hehe

    ReplyDelete
  6. Weee ternyata gaya hidup orang jerman nafsi nafsi ya... Memang gaya hidup dipengarui dari lingkungan serta budaya setempat, biasanya tipe yg seperti ini mereka yg ekonominya sdh mapan mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas,,,benar sekali,,, lingkungan itu yg pling berpengaruh

      Delete
  7. Wahh mbaakk jd kerasaa kangen Indonesia banget ya kalau kumpul" dengan teman Indo disanaa :D Paham banget gmna rasanya tinggal jauh dr tanah kelahiran apalagi di negeri orang :')

    Baguss ya mbak pemikiran org jerman ndak mau nimbun harta, ndak pakai berebut masalah warisan ataupun harga gono-gini hehehe makasih sharingnyaaa :D

    ReplyDelete
  8. Ternyata disana memiliki batasan dalam membuat topik pembicaraan ya mbak. Sangat beda dengan indonesia yang kadang tanpa harus mabuk dulu agar dapat informasi yang mungkin seharusnya hanya dia yang tahu. Kok baku banget ya ?! wkwkw

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers