Saturday, May 27, 2017

Bring doch den Reis mit, mein Sohn! Man weiß ja nicht, ob es in Deutschland Reis gibt!


Jedes Mal, wenn ich mich an diese Geschichte erinnere, habe ich mich sofort totgelacht. Die nächste Reisegeschichte ist von Putri erzählt, aber nicht über sie selbst, sondern über ihren besten Kumpel, Joko, mit dem sie zusammen aus Jakarta nach Deutschland geflogen ist.


Siehe auch: zum ersten mal im Flugzeug: ich habe so getan als ob ich schlafe

Joko war 19 Jahre alt, als er endlich mit dem Flugzeug fliegen musste. Da er der jüngste Sohn der Familie ist, hatte seine Mutter wirklich Angst, dass irgendetwas passiert mit Joko, während er so weit weg von der Familie ist. Zum Glück war Putri dabei. Die Beiden haben das gleiche Flug gebucht. Eigentlich war es für Putri auch das erste Mal, dass sie mit dem Flugzeug geflogen ist. Und dann auch noch nach Deutschland, 12.000 km weit entfernt von Indonesien. Die Beiden waren sowohl nervös als auch neugierig. Sie waren in DE nicht nur zum reisen, sondern um ein Jahr Sprachkurse zu machen.

Mitte Juli 2013 waren Putri und Joko am Jakarta International Airport, um einzuchecken. Ihre Familien waren auch vor Ort, um sie zu verabschieden. Sie haben schon gelesen, dass man maximal 30 kg Koffer Gepäck mitnehmen darf, mehr geht nicht. Putri hat ihren Koffer auf die Waage gehoben. Trotzdem noch zu viel.

"Verdammt, ich habe ihn doch schon gewogen!", sagte Putri. Sie musste dann ihrer Mutter ein paar Klamotten geben, damit der Koffer leichter wurde. Zum Glück hatte sie 4 T-shirts, 2 Pullis und 1 Winterjacke angehabt, damit ihr Koffer nicht so schwer war. Diesen Trick hat Joko auch gemacht.

Danach war Joko endlich dran, seinen Koffer zu wiegen.

"Sein Koffer war wirklich groß! Ich konnte sogar rein passen." erzählte Putri uns.

Tätsachlich war der Koffer zu schwer. Er musste die Sachen raus holen, um seiner Mutter ein paar Sachen zugeben.

"Ich habe mich so erschrocken, als er seine Sache raus geholt hat!"

"Was gab's denn drin?" fragte ich.

"Ihr werdet es wirklich nicht glauben!"

"Ja was denn?"

"Eine große Packung Reis. Ich schätze, es waren 5kg, oder so. Zwölf Teller! Könnt ihr euch das vorstellen? Teller! Wofür??"

Putri hat mir und Tobi (mein Freund) die Geschichte erzählt. Tobi konnte gar nicht aufhören, zu lacheln. Dann hat er gefragt, "Nur das?"

"Oh nein! Nicht nur die! Besteck war auch dabei, einen Reiskocher hat er natürlich nicht vergessen, und ein Ding, das ihr euch wirklich nicht vorstellen könnt!"

Wir waren so neugierig, und warteten, bis sie weiter erzählte, "Eine größe Plastiktüte mit Toastbrot drinnen!"

"Toastbrot???" fragte ich.

"Was hat er denn gedacht? Dass es in Deutschland kein Brot gibt, oder wie?" fragte Tobi.

"Er musste allerdings den Reis seiner Mama wiedergeben."

"Es war eine gute Entscheidung!" sagte ich.

Putri lachte so lang und dann sagte sie, "Aber seine Mutter hat ihn dann doch überzeugt, dass er den Reis mitbringen sollte. Sie hatte lieber seine Klamotten zurückgenommen als den Reis!"

"Was? Wirklich?"

"Bring doch den Reis mit, mein Sohn! Man weiß ja nicht, ob es in Deutschland Reis gibt! Bitte!" immitierte Putri Jokos Mutter.

In Indonesien sollte man auf das hören, was die Mutter sagt. Was die Mutter sagt, ist ein Gebot und sollte befolgt werden. Wie seine Mutter sagte, ließ Joko seine Klamotten in Indonesien und nahm lieber mehr Essen mit. Eine große Plastiktüte mit Toastbrot hatte er in die Hand genommen und als Handgepäck mitgenommen.

Als sie in Deutschland gelandet sind, waren es in Berlin 40 Grad. Und sie hatten ein paar T-shirts, ein paar Pullis, plus Winterjacke angehabt. Könnt ihr euch das vorstellen, wie heiß ihnen war?

Habt ihr auch eine lustige Geschichte während einer Reise zu erzählen?

Salam
Indra

Übrigens: Diese Geschichte ist von Putri genehmigt worden. Joko ist ein fiktiver Name. Ich habe ihn in Hamburg persönlich kennengelernt, allerdings war es nur für kurze Zeit und seitdem habe ich ihn weder getroffen noch Kontakt gehabt. Von Putri habe ich gehört, dass er jetzt wieder in Bandung (West Java) ist, um sein Studium an der Uni weiterzumachen.

Wednesday, May 24, 2017

9 Jenis Kendaraan Umum di Jerman



Sebelum kita membahas kendaraan umum di Jerman (lagi), seperti biasa, aku akan sedikit mengulas tentang kendaraan umum di Indonesia. Karena aku tinggal di Batu-Malang, kendaraan umum yang paling hits adalah angkot, ojek, taxi pun jarang ada (dulu), kalaupun ada, itu pasti taxi dari Malang kota yang mengantar penumpangnya ke Batu, bis kota apa lagi, cuma dilewati doang ama Bus Puspa Indah. Tapi kalau kita membandingkan transportasi di kota kecil seperti Batu dan kota metropolitan seperti Surabaya atau Jakarta, pasti  Batu masih kalah. Meskipun, di Jakarta ataupun Surabaya, sarana transportasi juga nggak maju-maju amat. Paling ketambahan Transjakarta, Bis Kota (Damri), Kereta commuter. Masuk akal juga, karena di kota besar, penduduknya pasti jauh lebih banyak, dan kebutuhan akan infrastruktur juga makin ketat. Meskipun sarana transportasi serta infrastruktur di Jakarta kalau dibandingkan dengan ibukota negara tetangga (seperti Kuala Lumpur, Bangkok, dan Hanoi, Manila), masih jauh tertinggal.

Seperti di Indonesia yang punya beragam sarana transportasi mulai dari gojek sampai kereta api, di Jerman pun demikian. Bedanya, di Jerman nggak ada tukang ojek :D.

Nah, apa saja transportasi umum yang ada di Jerman? Berikut ulasannya:

1. Bis Kota



 Ulasan tentang Bus Kota, bisa dibaca di: Ada berapa jenis bus di Jerman?

2. Sepeda Milik Umum
 


Ulasan tentang sepeda yang bisa dipakai bersama-sama (umum), bisa dibaca di: Stadtrad Hamburg: Sepeda kota milik Umum di Jerman

3. Mobil Milik Umum (Car Sharing)

 Ulasan tentang mobil yang bisa dipakai oleh semua orang ini, bisa dibaca di: Mobil Milik Umum di Jerman

4. Kereta Api
Mulai dari kereta api bawah tanah, subway, kereta api antar kota, dan antar negara ada di Jerman. Ulasan tentang canggihnya per-kereta api-an di Jerman, bisa dibaca di: Kereta Api di Jerman

kereta api di Jerman
5. Kapal
Jenis transportasi kapal ini tidak ada di semua kota, melainkan di Hamburg dan (mungkin) beberapa kota yang banyak kawasan perairan serta pelabuhannya. Jenis kapal pun bervariasi, ada yang kita harus bayar untuk tour keliling kanal, sampai tidak bayar (alias sudah termasuk tiket bus dan kereta api).

kapal ini ada kapal tour keliling sungai alster, untuk naik, kita harus bayar 13 euro

Tapi kalau kapal-kapal ini adalah kapal umum yang untuk menaikinya kita tak harus membayar tiket ekstra (jika kita sudah punya tiket kendaraan umum harian). Kapal ini adalah kapal umum pengantar penumpang dalam kota. Jenis kapal seperti ini bisa kita temui juga di Amsterdam.
6. Taxi
Meskipun ada banyak sekali pilihan kendaraan umum yang harganya terjangkau, masih banyak orang yang naik taxi yang harganya cukup mahal. Yah, namanya rejeki, kan udah ada yang ngatur yak :D. Mungkin orang yang tergesa-gesa atau malas jalan kaki dari halte ke rumah, lebih memilih naik taxi.


7. Rickshaw


image credit: daily photo stream
Rickshaw adalah sejenis becak atau bajaj yang kalau musim panas sering beroperasi untuk membawa turis keliling kota. Dengan mengendarai Rickshaw ini, penumpang diajak berkeliling santai. Harga yang ditawarkan tergantung perusahaan Rickshaw itu sendiri, bisa sekitar 10-20 euro sekali keliling, atau perjam. Tuh kan, di Jerman juga ada loh becak :). Bedanya, becak jenis ini hanya beroperasi di musim panas, dan yang 'mancal' para pemuda-pemuda (mungkin juga pelajar yang kerja sampingan di musim panas) bukan orang-orang tua.

8. Pesawat Terbang

Pesawat terbang bisa nggak sih dikatakan kendaraan umum? Bisa dong ya, kan kendaraan ini membawa penumpang dari satu kota ke kota lainnya, sama aja kayak kereta api, bedanya hanya jalur darat dan udara.

Jerman punya perusahaan pesawat terbang terbaik di seluruh Eropa (air bus). Perusahaan ini bekerja sama dengan Prancis dan banyak memperkerjakan tenaga ahli dari mancanegara. Banyak juga orang Indonesia yang bekerja di sana. Kabarnya, Insinyur dan teknisi yang dulunya lulusan ITB yang di Indonesia nggak dihargai keahliannya, memilih untuk bekerja di Jerman. Pasalnya kerja di Airbus ini gajinya nggak main-main.

Luftansa, salah satu maskapai yang menggunakan pesawat airbus. Luftansa sendiri adalah perusahaan maskapai nomor satu di Jerman yang punya beberapa anak cabang.
 Menurut pengalaman pribadi, aku lebih suka naik perusahaan penerbangan Irlandia (Ryan Air), karena banyak tawaran yang murah banget, ketimbang Luftansa yang lebih exclusiv dan berkelas tapi mahal. Hhehhe, namanya juga nggak punya duit :D, kalau mau rekreasi ngirit, ya pilih yang murah-murah ajalah. XD

9. Cable Car 


Cable car atau kereta gantung seperti ini juga tidak ada di semua tempat. Di dataran rendah seperti Hamburg yang dekat pelabuhan contohnya, tidak akan ditemukan kereta gantung yang fungsinya membawa penumpang dari dataran rendah ke tinggi (begitupun sebaliknya). Di daerah pegunungan seperti di Allgäu (Bayern), Harz (Sachsen-Anhalt) masih bisa kita jumpai kereta gantung. Kereta ini biasanya membawa penumpang yang ingin bersepeda di gunung atau seluncur salju. Meskipun demikian, kereta gantung yang fungsinya untuk melihat-lihat pemandangan kota dari atas saja (seperti di Köln), juga bisa kita temukan, namun jenis gondola seperti di Köln itu adalah untuk wisata, bukan untuk sarana transportasi penumpang. 

Nah, semoga informasi tentang 9 jenis kendaraan umum yang ada di Jerman ini menambah wawasan kita tentang Jerman. Tentunya, seperti di Indonesia, banyak juga wilayah pedesaan di Jerman yang tidak dilintasi jalur kereta api bahkan tidak dijangkau bus. Yang tinggal di sana haruslah punya mobil pribadi.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße



Friday, May 19, 2017

Belajar Bahasa Jerman? Jangan Takut Salah Grammatik!


Kalau dibilang mampu berbahasa Jerman, rasanya aku masih jauh dari kesan 'mahir' atau 'ahli' apalagi 'sempurna'. Ngomong juga masih banyak salah-salah dan terbata-bata, begitupun dengan menulis dalam Bahasa Jerman. Menulis blog dalam bahasa Jerman sebenarnya adalah sarana untukku demi memperbaiki grammatik dan kesalahan dalam penulisan bahasa. Setelah menulis, biasanya aku baca puluhan kali sampai aku benar-benar yakin untuk menyerahkan pada editornya. Meskipun sudah sering membaca dan menulis, ternyata masih saja ada banyak kesalahan bahasa dan penggunaan tata letak kalimat yang morat-marit. Ya sudahlah, namanya juga belajar, siapa tahu pembaca yang juga sama-sama masih dalam proses belajar Bahasa Jerman, akan notice dan belajar dari kesalahan yang aku buat.

Baca juga: 10 Fakta Mengejutkan Tentang Bahasa Jerman

Satu hal yang WAJIB diketahui oleh semua orang yang saat ini sedang belajar bahasa Jerman adalah:
ORANG JERMAN SENDIRI SERING BIKIN KESALAHAN DALAM BERBAHASA!!!

Kali ini aku akan berbagi fakta dan kisah yang menurutku sedikit lucu dan aneh tentang orang Jerman yang sering kali berbuat salah dalam menggunakan bahasa ibu mereka.

Cerita 1: 
Saat masih tinggal di host family, Nadja (host mother) ku kerap bertanya padaku tentang apa yang aku pelajari saat kursus Bahasa Jerman. Aku bilang, "Yah, tentang konjugation, akusativ, dativ, nominativ, genitiv"

Dia terlihat mengerutkan alis, lalu bilang, "What the hell are those?" (apaan tuh?)

Aku pikir dia pura-pura nggak tahu, karena apa yang aku sebutkan diatas adalah dasar-dasar grammatik dalam Bahasa Jerman. Eh, ternyata dia emang sama sekali nggak tahu. Saat suaminya pulang kerja, dia tanya lebih lanjut tentang grammatik bahasanya sendiri. Batinku, "Kemana aja saat sekolah dulu, bu'e?" ^_^

Cerita 2: 
Kolega di tempatku kerja pernah bercerita seperti ini:
"Saat aku melakukan kegiatan sukarelawan di sebuah TK, aku pernah satu kali bilang pada muridku bahwa dia harus makan makanannya sampai habis. Alih-alih makan, anak TK itu malah mengkoreksi grammarku seperti ini: 'Kamu tadi bilang Ess doch mal dein Essen auf! Bukan Ess itu mah, tapi Iss!"

info: Iss doch mal dein Essen auf (Baca: Is doh mal dain essen auf) adalah bentuk kalimat perintah (imperativ) yang artinya: habiskan makanmu!

Tuh kan, orang Jerman yang bahkan udah gede aja sering perlu dikoreksi loh grammarnya, bahkan sama anak TK.😀 Untungnya orang Jerman yang memang direk dan frontal mau dikritik oleh muridnya. Bahkan dianggapnya hal itu lucu. Kalau guruku di Indonesia dulu, pasti aku sudah dibilang, "Ihhh bocah sok tua, keminter (sok pintar), metuek (lagaknya kayak orang tua)!" :D

Cerita 3:
Aku pernah menanggapi obrolan dengan Chef di tempat kerjaku seperti ini, "Ja, vielleicht wegen des Wetters"(baca: ya, vilaikht wegen des weters, artinya: Ya, mungkin karena cuacanya). Alih-alih menanggapi obrolanku, dia malah tepuk tangan sambil bilang, "Wow, gila ya, orang Jerman aja sering salah loh bilangnya, kamu orang asing malah bener!"

Aku yang kebingungan saat itu langsung bertanya apa maksudnya. Lalu Chefku itu menjelaskan bahwa, biasanya orang Jerman lupa menggunakan genitiv dalam penggabungan kalimat yang menggunakan kata 'Wegen'. Genitiv memang masih digunakan, tapi orang Jerman seperti malas memformulasi kalimat dengan bentuk genitiv, jadi mereka sering membuat kekeliruan dalam grammatik mereka sendiri. Jadi, yang benar memang wegen des Wetters, (Genitiv: pakai des lalu ditambah huruf s di akhir kata Wetter), tapi orang Jerman kadang memformulasi kalimat yang harusnya pakai genitiv dengan dativ jadinya; wegen dem Wetter (baca: wegen dem weta).

Cerita 4:
Beberapa waktu yang lalu, kami para pekerja yang bukan dari Jerman, sempat dipusingkan dengan kata-kata: Abräumen (baca: abroimen), aufräumen (baca:aufroimen), dan wegräumen (baca:wegroimen). Arti dari ketiga kata tersebut sebenarnya mirip yakni membereskan atau merapikan sesuatu. Bedanya, kata pertama digunakan untuk merapikan sesuatu dari meja (seperti merapikan meja makan dengan menaruh gelas dan piring ke tempat cucian). Kata kedua, aufräumen, digunakan untuk beres-beres yang tujuannya untuk merapikan barang yang awalnya berantakan. Lalu kata ketiga, wegräumen, juga untuk beres-beres barang, menyingkirkan, atau meletakkan barang ke tempat semula.

Aku, salah satu FSJ yang juga dari Indonesia, lalu salah satu pekerja dari Polandia kemudian bertanya kepada 3 orang pekerja dari Jerman. Sangat mengejutkan mendengar jawaban mereka yang berbeda beda. Ada yang bilang, aufräumen itu untuk mengorganisir barang-barang yang semula berantakan, ada yang bilang, menyingkirkan barang-barang, lalu yang lain bilang kata-kata itu digunakan untuk menata sebuah ruangan yang semula sangat berantakan kayak kapal pecah. Akhirnya, kita ber-enam tanya mbah google bersama-sama. :D dan definisi kata-kata diatas yang benar ya yang aku tulis diatas (berdasarkan jawaban orang-orang di google).

Tuh kan, orang Jerman aja bingung, apalagi kita, coba? :D

Cerita 5: 
Cerita ini baru terjadi tadi siang saat aku bekerja. Salah satu pekerja Jerman (wanita) ada yang menikah dengan orang Ghana. Kemudian kami (aku, istri orang Ghana tersebut, dan satu lagi orang Jerman (yang juga wanita)) terlibat obrolan seputar hubungan antar budaya.

Kolega aku (orang Jerman asli) bertanya kepada istri orang Ghana tersebut seperti ini, "Oh, ist dein Mann ein Ghanese?" (Oh, suami kamu orang Ghana toh?)

Lalu istri orang Ghana tersebut membetulkan grammatik kolega kami yang keliru, katanya, "Bukan Ghanese tapi Ghanaer!"

Kami tertawa terbahak-bahak. Lalu komentarku, "Kalian berdua yang sama-sama orang Jerman saja bingung loh, gimana dengan aku?"

Lalu salah satu dari mereka menjawab, "Iya ya, Bahasa Jerman memang aneh bin membingungkan. Bayangin, untuk menyebut orang Cina, kita bilangnya 'Chinesen' bukan 'Chinaer'. Tapi untuk menyebut orang Jepang, kita bilang 'Japaner' bukan 'Japanese'"

Lalu aku menyahut, "Untuk bilang orang Indonesia, kalian bilangnya 'Indonesier' tapi untuk bilang orang Vietnam, kalian bilangnya 'Vietnamesen'"

Kedua rekan kerjaku pun tertawa.

Tuh kan, orang Jerman aja masih banyak salah-salah dan keliru dalam menata bahasa mereka sendiri, bahkan banyak sekali yang tak tahu menahu tentang grammatik. Ya iyalah, kita juga sebagai orang Indonesia, mana peduli S-P-O-K? Ngomong ya ngomong, saat menyampaikan sesuatu mana mungkin kita mikir, nih kalimat sesuai dengan kaedah Bahasa Indonesia yang baik dan benar nggak ya? :D

Jadi, kalau kalian saat ini sedang mempelajari bahasa asing, terutama Bahasa Jerman, jangan takut salah grammatik, kalau kalian beruntung, akan ada yang membetulkan kesalahan-kesalahan itu, kalau nggak, dengan berkomunikasi, kita akan selalu terlatih untuk mendengarkan, lalu mengoreksi kesalahan yang telah kita lakukan, sehingga kedepannya tak mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam berkomunikasi, selama pesan atau maksud tersampaikan dengan baik, artinya komunikasi itu berjalan lancar, kendati dengan bahasa yang berantakan. Tak mengapa, namanya juga belajar!. Semua pasti pernah berbuat kesalahan. :)

Semoga artikel yang berisi tentang cerita-cerita orang Jerman ini bisa sedikit memberi informasi seputar Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

7 Tempat Nongkrong Favorit Orang Jerman

Di mana tempat nongkrong kesukaan kalian? Saat aku SMA dulu, tempat nongkrong favoritku adalah rumah Agus, yakni rumah sahabatku yang paling deket dari sekolah. Saat kuliah, kalau pas berjaya dan baru dapat kiriman, biasanya sih ke mall, meskipun akhirnya nggak beli apa-apa, tapi kalau ada duit, paling nggak bisa jajan lah di food court, tapi pas bokek, cukup ke kantin belakang kampus makan ceker pedes sampe nangis-nangis.

Baca juga: Mall Jerman Vs  Mall Indonesia

Kalau orang Jerman, mereka suka nongkrong dan kongkow-kongkow nggak sih? Pastinya. Untuk melepas penat seusai kerja, atau mencari kenalan baru, di tempat-tempat ini, orang Jerman biasanya nongkrong:

1. Bar/Club
Bar atau club adalah tempat nongrong paling hits di Jerman karena di sana mereka bisa dansa, mabuk, colek sana colek sini, senggol sana senggol sini. Kadang terbesit rasa kasihan juga sama orang Jerman yang saking pengennya dianggap cool atau mungkin pengen dapet pasangan, mereka yang nggak suka nge-dance jadi ikutan ke bar. Padahal di kehidupan normal, mereka nggak suka kebisingan, tetangga berisik dikit aja dilaporin polisi :D. Tapi begitulah orang Jerman, mereka selalu menempatkan sesuatu benar-benar pada tempatnya. Kalau di kehidupan nyata mereka nggak boleh ini itu, takut ini dan itu, begitu di bar, mereka melampiaskan dengan berjoget dan nyepik lawan jenis.
Bersyukur deh di Indonesia, orangnya sangat ramah dan nggak perlu datang ke bar untuk mabuk agar bisa dapat pasangan. Tapi banyak juga yang datang ke bar atau club untuk berdansa bersama kawan-kawan sejenak mengalihkan suasana hati yang sedih, atau merayakan pesta, nggak melulu mencari pasangan.
suasana di Reeperbahn dan bar-bar sekitar


2. Tatort Cafe
Siapa bilang orang Jerman nggak hobi nobar (nonton bareng)? Banyak cafe yang menyediakan fasilitas nobar sepak bola, Tatort (sejenis drama seri detektif), sehingga sambil nyemil dan minum, mereka juga bisa nongkrong, teriak, ngakak, seneng, atau bahkan jengkel bareng.
cafe tempat nobar drama seri 'tatort'


3. Bäckerei dan cafe
Bäckerei adalah toko roti. Toko roti di Jerman kebanyakan menyediakan kue, kopi, teh, sekaligus tempat nongkrong untuk menikmatinya. Saat pagi hari, orang-orang biasanya sarapan bareng di toko roti sambil ngobrol, kalau nggak, di sore hari (tea time), mereka janjian ketemuan di toko roti atau cafe untuk sekedar makan kue dan minum kopi bersama.
Minum kopi dan makan kue adalah tipikal aktivitas favorit orang Jerman. Kemana pun mereka pergi, sekedar jalan-jalan atau berlibur, yang dicari ya tempat buat ngopi dan makan kue. Apalagi kalau cuaca buruk, dingin dan hujan, orang-orang suka nongkrong di dalam cafe, melihat orang lalu lalang dan menikmati kopi sambil membaca buku atau ngobrol dengan teman. Kalau matahari bersinar, mereka biasanya beli ice cream dan duduk atau jalan-jalan sambil menikmati cahaya matahari dengan riang.


4. Restoran
Mungkin ini juga tipikal tempat nongkrong favorit orang Indonesia. Makan, ngobrol, ngrumpi, foto-foto, nyobain makanan baru. Sama, orang Jerman juga kok. Mereka hobi mencoba cita rasa makanan baru, apalagi kalau baru buka dan ada promo, mereka pasti antusias untuk nyobain.
Selain itu, restoran juga salah satu alternatif nongkrong dan ngobrol bareng temen di Jerman. Bahkan untuk kegiatan bisnis seperti ketemu klien, atau interview, makan siang, atau makan malam di sebuah restoran lazimm dilakukan.

Baca juga: 6 Tips Prasmanan di Jerman

5. Rumah
Rupanya apartemen dan rumah juga menjadi salah satu alternatif mudah dan murah untuk nongkrong dan kumpul bareng temen. Tapi perlu diingat, kalau diundang makan ke rumah orang Jerman, harap membawa makanan sendiri-sendiri, kecuali kalau mereka bilang mau dibuatin masakan. Kalau seperti itu, hal paling sopan dilakukan adalah membawa minuman, anggur, atau camilan.

Baca juga: 10 adab bertamu di Jerman

6.Tempat penyalur hobi
Fitness center, klub membuat keramik, klub masak, klub nari, dan banyak club club lainnya adalah salah satu tempat nongkrong dan alternatif mencari teman (bahkan mungkin mencari jodoh) di Jerman. Selain bisa menyalurkan bakat dan kesenangan, mereka juga jadi bertemu dengan orang yang punya ketertarikan yang sama di bidang tersebut. Oleh karena itu, tempat ini ramai dikunjungi.

7. Alam
Pinggir sungai, di pantai, atau di taman kota juga menjadi salah satu alternatif nongkrong dan kumpul, terutama kalau cuaca sedang bagus, matahari bersinar cerah :D. Karenanya jangan heran kalau taman bermain dan taman kota jadi penuh sesak kalau musim panas tiba. Karena orang Jerman sedang berlomba-lomba men-charge kebutuhan supply matahari mereka. :P
lihat betapa penuhnya tepian sungai Eisbach ini kalau cuaca cerah

Nah, salah satu tempat nongkrong yang membedakan antara orang Jerman dan orang Indonesia adalah tempat ibadah. Mungkin kita sudah familiar bahwa biasanya kita ikut pengajian, kebaktian, atau acara sembahyang di pura dan kegiatan ibadah lainnya selain untuk beribadah, juga sarana bertemu dan berkomunikasi dengan teman (meskipun tujuan utamanya adalah beribadah, sambil beribadah juga untuk menyambung tali silaturahmi). Tapi orang Jerman tidak, kalau mereka beragama Kristen atau Katolik, mereka biasanya ke gereja untuk sembahyang saja, ada yang rutin, ada juga yang cuma sesekali, bahkan ada yang nggak ke gereja sama sekali.  Dan gereja atau tempat ibadah di Jerman, fungsinya juga tak melulu sebagai tempat peribadatan, melainkan banyak fungsi yang menyertainya, contohnya tempat wisata, galeri seni, tempat pertunjukan seni, dsb. Minggu lalu saat jalan-jalan ke tepian sungai Alster, ada sebuah Masjid besar dan banyak orang di sana, aku pikir mereka mau masuk masjid untuk sholat, ternyata, di dalam masjid itu ada acara diskusi bersama kaum muslim, yahudi dan nasrani tentang keagamaan di lingkungan sekolah.

Semua memang tergantung persepsi individu masing-masing. Semoga informasi tentang tempat nongkrong orang Jerman ini menambah pengetahuan kita tentang Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, May 15, 2017

10 Hal Yang TABU dibicarakan di Jerman tapi tidak di Indonesia


Postingan ini sebenarnya sudah aku tulis jauh-jauh hari dalam Bahasa Jerman: 10 Sachen, die in Deutschland beim Gespräch Tabu sind, aber NICHT in Indonesien 

Nah, bagi pembaca setia Denkspa yang mungkin tidak paham bahasa Jerman, dengan senang hati aku akan menulis ulasannya dibawah ini.

Jadi, seperti yang kita tahu bahwa antara budaya Jerman dan Indonesia banyak sekali perbedaan, yang bahkan mungkin mendasar dan sulit untuk dimengerti, kecuali kalau kita mempelajari budaya kedua negara tersebut. Sepuluh hal di bawah ini adalah sepuluh dari ribuan bahkan jutaan hal yang membedakan budaya ketimuran dan kebaratan antara Indonesia dan Jerman.

Sepuluh hal yang TABU untuk dibicarakan di kalangan orang Jerman, tapi di Indonesia wajar saja membicarakannya, antara lain:

1. Seputar Tubuh
Pernah nggak pertama kali ketemu dengan seseorang, lalu dikomentari, "Eh kok gendut sih, diet donk!"

Di Jerman, meskipun berteman cukup dekat, kalau niatnya tidak untuk kebaikan, kata-kata mubazir yang menyinggung bentuk tubuh, sebaiknya dihindari. Ada satu pengalaman berharga saat aku berusaha memuji adik host family ku dulu saat mereka berkunjung ke Munich. Aku berkata, "Jasmine, aku pengen deh agak gendutan kayak kamu!"

Tau nggak? Ternyata sampai 5 bulan berikutnya aku ketemu dia lagi di Austria, Jasmine cerita padaku, "Indra, aku tak akan melupakan pertemuan pertama kita di Munich saat itu. Kamu bilang aku gendut! Setelah itu semalaman aku nangis, dan pacarku sampai bingung karena aku sedih banget dibilang gendut!"

OMG, ternyata kata-kataku sangat menyinggungnya. Lalu Nadja, hostmom ku bilang, "Padahal kita sebelumnya bilang kalau kita pengen banget kurus kayak kamu!"

Aku segera meminta maaf dan menjelaskan bahwa kalau di Indonesia tuh biasa aja untuk lebih mengakrabkan diri, itu tandanya aku bener-bener pengen agak gendutan. Aku juga menjelaskan kalau aku tuh susah gendut, jadi saat itu, bukan maksudku untuk mengomentari dia gendut, tapi memujinya. Sebenarnya, Jasmine juga nggak gendut-gendut amat kok.

2.Seputar Wajah

Pernah nggak kita dikomentari oleh saudara atau bahkan teman dekat seperti ini, "Eh, jerawatnya udah banyak tuh, kangen siapa tuh?" Atau, "Lo iteman deh, abis dari mana aja?"

Di Jerman, membahas seputar wajah dan kulit rupanya sangat sensitif. Kalau ngobrol dengan orang Jerman, sebaiknya kita menghidari membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wajah mereka, warna kulit, rambut dan sebagainya, karena belum tentu mereka suka. Hal ini juga merupakan hal yang tabu untuk diobrolkan saat kumpul bareng.

3. Kapan Nikah?

Busyet, meskipun pertanyaan ini amat menohok terutama bagi wanita Indonesia yang usianya sudah hampir 30 an, rupanya banyak juga yang usil menanyakannya.

Di Jerman, pertanyaan seperti ini bahkan sangat tidak dianjurkan ditanyakan, meskipun hubungan kekeluargaan atau persahabatan mereka cukup dekat, karena ini sudah melanggar batas privasi individu dan akan menyinggung orang yang ditanya.

4. Tentang Agama

Kamu agamanya apa? Loh Islam tapi kok nggak solat? Kamu puasa nggak? Ke Gereja?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini lumrah ditanyakan di Indonesia, bahkan kepada orang yang pertama kali dikenal sekalipun. Tapi di kalangan orang Jerman, pertanyaan seperti ini adalah hal yang sangat tabu untuk ditanyakan, karena mereka menganggap agama adalah hubungan vertikal mereka dengan Tuhan, cukup mereka saja yang tahu. Kalau mereka tak percaya Tuhan, itu bukan urusan kalian. Begitu pikir mereka. Jadi wajib hati-hati kalau ingin bertanya kepada orang Jerman perihal ini.

5. Soal Gaji

Di Indonesia, kedengarannya biasa aja ya membicarakan pendapatan per-bulan. Atau tanya, "Gaji elu udah UMR belum?"

Di Jerman, bahkan orang satu kantor pun tak pernah membicarakan gaji mereka, entah itu gajinya sama atau beda. Bahkan ada kode etik kerja yang melarang pegawainya membocorkan gaji yang diterimanya kepada siapapun. Sampai saat ini aku berpacaran dengan Tobi selama lebih dari setahun, aku tak tahu pendapatannya perbulan berapa dan aku tak mau tahu, diapun juga tak pernah tahu pendapatan ayahnya, ibunya. Hanya mengira-ngira saja.

6. Tentang hubungan asmara

"Udah punya pacar belum?" , "Wah jomblo nih!"

Komentar seperti ini bisa dirasakan pedas bagi orang yang belum mempunyai pasangan. Di Jerman, meski saling dekat satu sama lain, seorang teman TABU hukumnya menyinggung teman lainnya dengan pertanyaan semacam ini. Kecuali kalau sang teman tersebut cerita kalau dia baru putus, lalu curhat nggak punya pacar, minta saran soal kisah asmara dan lain sebagainya.

7. Tentang umur

Orang Jerman, terutama laki-laki: PALING BENCI ditanya oleh wanita seperti ini, "Coba tebak berapa umur saya?"

Pasalnya, mereka harus berbohong, kalau ngliat dari fisik udah keliatan tua, lalu dibilang tua, ntar tersinggung, kalau dibilang muda, nah udah keliatan tua. Duh, kenapa harus ditanya sih. Perempuan memang aneh dan rumit!

Di Jerman, kita biasanya nggak bertanya langsung berapa umur lawan bicara kita. Tapi menebak-nebak sendiri dengan bertanya dia sudah kerja di sebuah perusahaan ini lebih dari 20 tahun, dan tahun berapa dia mulai bekerja, ditotal dan dispekulasi sendiri. Ribet ya, atau kalau nggak gitu pas dia cerita anaknya lahir di tahun ini, dia hamil pas umur segini, sekarang anaknya umur sekian tahun. Tebak sendiri deh!

Tapi kalau penasaran banget, bisa tanya kapan lawan bicara kita ulang tahun, lalu sambil sedikit bercanda tanya juga, di tahun berapa?? Trus, itung deh dia umur berapa.

8. Tentang Penyakit
Kalau kita sakit, hamil, atau menderita sakit parah, misalnya HIV/AIDS, adalah hak kita untuk tidak membicarakannya kepada orang lain selain dokter pribadi kita. Begitu pun seperti sakit kanker, jantung, dsb.

Di Indonesia, saat tetangga sakit sampai disantet, seluruh kampung bakalan tau dia menderita apa, sejak kapan, lalu menyarankan berobat kemana, dan lain sebagainya.

9. Tentang uang dan biaya

Di Jerman, bertanya secara langsung berapa harga rumah dan sewa apartemen sampai harga sebuah handphone adalah Tabu. Sebaiknya kita menghindari pertanyaan semacam ini.

10. Ngliat handphone teman atau pasangan

Saat di Indonesia, aku terbiasa menengok hp teman untuk sekedar lihat fotonya atau bahkan membuka smsnya. Parah ya?

Di Jerman, kebiasaan ini harus segera dihilangkan. Pasalnya, hp merupakan barang vital dan sangat pribadi yang mungkin juga berisi hal-hal yang bersifat rahasia. Seperti yang kita ketahui, orang Jerman sangat menghargai privasi orang lain.

Bahkan selama berpacaran, tak pernah satu kalipun Tobi atau mantan pacarku (orang Jerman) yang dulu mengecek hpku. Padahal aku kadang bandel juga liat hp mereka lalu iseng liat-liat smsnya. LOL.

Nah, sekarang kita tahu hal-hal apa saja yang tabu untuk dibicarakan atau dilakukan di Jerman, tapi normal dilakukan di Indonesia.

Semoga dengan membaca ini, kita jadi sedikit tahu tentang orang Jerman dan budayanya yang kadang sangat bertolak belakang dengan budaya kita.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, May 13, 2017

Zum Ersten Mal im Flugzeug: Ich habe so getan als ob ich schlafe

Indonesier haben immer was lustiges zu erzählen. Ich habe Nata in Hamburg kennengelernt. Sie hatte als au pair in einer deutschen Familie (in Hamburg) gearbeitet. Als wir uns zum ersten Mal getroffen haben, habe ich sofort gemerkt, dass wir uns gut verstehen werden. Tatsächlich waren wir danach sehr oft verabredet zum kochen, essen, Geschichte über ihr Leben und Liebe zu erzählen. Wir sind auch manchmal durch den Kanal in Kellinghusenstraße zusammen mit den anderen indonesischen Freunden Kanu gefahren. Das Kanu gehört ihrer Gastfamilie, allerdings konnte Nata es frei benutzen. Zusammen mit ihr und 2 anderen Freunden sind wir sehr mutig gefahren (zur Info: wir können gar nicht schwimmen und hatten weder Schwimmweste noch Schwimmflügel, Natas Gastfamilie haben wir natürlich gesagt dass wir schwimmen können). Oh Nein, so bekloppte Indonesier, nicht wahr?

Diese Geschichte ist meine Lieblingsgeschichte, die Nata uns erzählt hat. Die Geschichte ist über ihr erstes Mal im Flugzeug von Jakarta, Indonesien, nach Holland. Bevor sie in Hamburg als Au Pair gearbeitet hatte, hatte sie schon ein Jahr in Holland (auch) als au pair gearbeitet. Im Dezember 2012 ist Nata zum ersten Mal im Flugzeug gewesen. Aus Bandung, da wo sie herkommt, war sie sehr selten unterwegs. Mit dem Flugzeug, war sie noch nie unterwegs.

Ihr Flug war damals aus Jakarta geflogen. Aus Bandung sind sie und ihre ganze Familie und Freunde mit dem Auto gefahren. Ein Flug mit einer Fluggesellschaft aus dem Mittleren Osten ist von ihrer Gastfamilie gebucht worden.

Alleine und nervös ist eine Kombination, die manchmal passiert, wenn man zum ersten Mal irgendwo sein muss. Das passierte auch bei Nata.

Das Flugzeug ist erst nach Dubai geflogen. Es hat 8 Stunden aus Jakarta gedauert. Im Flugzeug hat Nata damals etwas unglaublich Lächerliches getan.

"Ich hatte so großen Hunger, aber ich habe immer so getan, als ob ich schlafe, als die Stewardesse mit dem Essen vorbeikam", erzählte Nata uns.

"Warum? Du kannst doch die Stewardess fragen, dir ein Essen zu bringen!" sagte Putri.

"Das war nicht das Problem!" antwortete Nata.

"Na und?"

"Ich hatte Angst, dass ich das Essen bezahlen muss!"

Wir haben sie ausgelacht.

"Das war mein erstes Mal. Ich dachte, es wäre wie im Zug oder im Bus."

"Warum hast du nicht gefragt?" fragtete ich.

"Ich war schüchtern. Jedes Mal, als sie zu mir kam, habe ich so getan als ob ich schnarche. Verdammt! Überall roch es nach dem leckeren Essen. Ich hatte echt Hunger. Ich konnte weder Essen noch die Zeit genießen, weil ich musste immer so tun, als ob ich schlafe. Ich konnte sogar kein Film angucken."

"Hast du nicht einmal Wasser bekommen?" fragte ich wieder.

"Doch...doch... Als ich im Flugzeug von Dubai nach Amsterdam war, eine Stewardess hat das Wasser und eine portion Essen auf meinem Tisch hingelegt. Es hat nach Curry gerochen."

"Na dann, hattest du doch etwas!"

"Nein! Ich habe gar nichts angefasst. Ich hatte Angst, wenn ich aussteige, geben Sie mir einen Bon, den ich bezahlen musste!"

"Ohhhhh... Nata!"

"Und wisst Ihr was? Es hat 24 Stunden gedauert, bis ich endlich bei meiner Gastfamilie war!"

"Und endlich hast du Essen gekriegt, oder?"

"Nein, obwohl ich fast ohnmächtig war, habe ich ihnen gesagt, dass ich keinen Hunger hatte!"

"Waruuuuummmmmm???"

"Ich war schüchtern!!!!"

Obwohl Nata keine Javanerin ist, die immer so oberschüchtern sind, ist sie trotzdem viel, viel zu schüchtern. Sie kann eigentlich gut English sprechen, allerdings war sie so nervös und ängstlich, weil das ihr aller erstes Mal im Flugzeug war.

Das ist Nata, als sie endlich essen konnte

Habt ihr auch eine lustige Reisegeschichte zu erzählen? 

Salam
Indra

Übrigens: Diese Geschichte ist von Nata genehmigt worden. Sie hat sogar ihr eigenes Bild ausgesucht und mich gebeten, in diesem Artikel zu posten. Nachdem sie 3 Jahre in Europa gewohnt hatte, ist sie zurück nach Indonesien und hat geheiratet. Sie wohnt jetzt in Bandung (West Java) mit ihrem indonesischen Mann.

Nächste Geschichte: Bring doch den Reis mit, mein Sohn! Man weiß ja nicht, ob es Reis in DE überhaupt gibt!

Friday, May 12, 2017

Selera Humor: orang Jerman Vs Indonesia


Masih dalam bahasan obrolan dan nongkrong, seperti yang aku singgung di topik beberapa hari yang lalu: Apa yang dibicarakan orang Jerman saat mereka nongkrong bareng?, orang Jerman, berbeda dari orang Indonesia,  kalau nongkrong bareng, rupanya bicara masalah-masalah yang berat, seperti politik, ekonomi, dsb. Itu sebabnya kalau kita cermati meme-meme atau parodi yang beredar seputar orang Jerman atau Bahasa Jerman (contohnya di 9gag), pasti banyak kita temukan bahwa orang Jerman itu kaku, serius, nggak humoris, dsb. Kalau nggak percaya, coba ketik kata kunci di google: fun in Germany, yang kita dapat adalah gambar seperti ini:

Iklan mug dan kaos yang viral tentang etos kerja dan budaya Jerman, menggambarkan seolah-olah orang Jerman itu kaku dan pekerja keras banget sehingga sampai nggak bisa have fun :D

Tapi bukan berarti juga orang Jerman semuanya seperti itu, banyak juga kok yang humoris dan lucu, meskipun selera humor mereka dan humor kita berbeda. Kita suka ketawa ketiwi dan melontarkan ejekan satu sama lain, misalnya: nih yang jomblo nih, kapan dilamar? Noh yang badannya paling kecil maju gih biar keliatan!. Kalau orang Jerman nggak bakalan ada yg ketawa karena tema single, warna kulit dan bentuk fisik yang sudah bawaan dari sononya itu tabu untuk dibicarakan, apalagi dibuat bahan ketawaan. Yang ada malah menyinggung.

Lalu, orang Jerman, selera humornya kayak gimana?

Terus terang, aku juga kadang bingung. Aku banyak berkutat dengan orang Jerman, tapi sampai sekarang, masih belum menemukan titik terang bagaimana menyelaraskan selera humorku dengan mereka. Mungkin Tobi yang paling mengerti situasi yang aku alami, sehingga dia kini agak ketularan humorku yang suka ngebully satu sama lain. Dulu, kalau aku berusaha membuat lelucon, harus aku jelaskan dulu dari A sampai Z, kalau di Indonesia tuh, yang kayak gini lucu, aku tau kalau di Jerman , kesannya menyinggung, tapi kalau di Indonesia, semakin kita membully satu sama lain (dalam konteks bercanda dan nggak kasar), itu tandanya kita sayang. Lalu Tobi setuju dan bilang, "Wah di Jerman ada juga kok istilah kayak gitu!"

Was sich neckt, das liebt sich
Yang suka mengolok-olok itu biasanya yang cinta (sayang)

Saat kumpul sama keluarga Tobi, kadang aku bingung, nih orang ketawa-ketawa padahal menurutku nggak lucu banget. Giliran yang menurutku lucu, mereka malah nggak ketawa. Haduuuh. Contohnya, baru kemarin lusa, kami merayakan ulang tahun mamanya di sebuah restoran Jerman. Kita datang di Restoran lebih cepat 5 menit, sedangkan orang tuanya benar-benar datang tepat waktu (pukul 13.00 tet). Lalu, kakaknya Tobi yang datang bersama istri dan 2 orang anaknya datang terlambat sekitar 7 menit. Bayangkan 7 menit!!! Kita yang menunggu di dalam sudah membuat lelucon tentang orang yang telat. Nah, aku bilang, "Tujuh menit mah nggak telat, masih tergolong tepat waktu. Belum satu jam juga!". 

Hanya Tobi yang ketawa di meja besar itu, sedangkan ayahnya berpikir keras mencerna perkataanku. Kemudian Tobi menjelaskan panjang lebar, kalau janjian sama orang Indonesia lebih parah lagi, janjinya jam 13.00, bisa datang jam 14.00 jam 15.00, makanya Indra bilang kalau 7 menit itu masih sangat tepat waktu. Barulah mereka ketawa. Aaaaahhh, syusyaaahh...

Orang Jerman yang tinggal di bagian selatan (Bayern, Baden-Wuttemberg, dan sekitarnya), masih punya selera humor yang lebih ketimbang orang yang tinggal di Utara (Hamburg, Schleswig-Holstein, Niedersachsen). Meskipun selera humor mereka terkadang terkesan sarkastis dan nggak lucu bagi kita, tapi saat tinggal di Bayern dulu, aku lebih melihat orang-orangnya lebih fresh dan ceria. Lagi-lagi kalau aku analisis, semua karena faktor cuaca. Di wilayah Utara Jerman, cuaca sangat tidak menentu, berangin, hujan, kalau dingin, dingin banget, matahari terbit jarang banget, jadi pengaruhnya ke jiwa juga naik turun. Alah apa sih, kok jadi ngomongin tentang kejiwaan. 

Baca juga:10 gejala winter depressi

Nah, semoga bahasan kita tentang selera humor yang berbeda ini menambah pengetahuan kita tentang budaya Jerman, sehingga kalau kita kebetulan kenal sama orang Jerman, jadi nggak salah pengertian dan memahami satu sama lain dengan lebih baik. 

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Tuesday, May 9, 2017

Apa yang dibicarakan orang Jerman saat nongkrong bareng?


Masa-masa kangen rumah dan kampung halaman adalah saat terberat yang dihadapi anak rantau, terlebih rindu kumpul bersama teman-teman. Di Indonesia, apa yang biasanya kita bicarakan saat nongkrong sama teman akrab dan keluarga?

Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja tergantung individu dan daerah asalnya di Indonesia. Orang Jawa, kalau nongkrong bareng biasanya suka masak-masak dan makan, sedangkan orang Batak suka nyanyi bareng. Aku mengenal Indonesia jauh lebih baik justru saat tinggal di Jerman, karena di sini aku mempelajari Budaya Indonesia serta mengenal banyak kawan (Indonesia) yang berasal dari suku yang berbeda. Beberapa teman dari suku Batak, Papua, banyak yang dari Sunda dan juga Betawi.

Satu hal yang aku cermati saat kumpul sama mereka, kita suka melontarkan lelucon, saling ngebully dan cerita lucu atau bahkan cerita-cerita horor. Kalau ngobrol berdua aja, kita biasanya curhat masalah pribadi, keluarga, sharing soal cinta dan perjuangan hidup, tapi kalau kumpul bareng, kita lebih suka ngebully satu sama lain. Entah dari mana asal kita, selama kita masih berasal dari wilayah Indonesia, kebiasaan ngakak dan cerita hal-hal konyol itu tak bisa hilang. Lalu bagaimana halnya dengan orang Jerman? Apa sih yang mereka bicarain kalau nongkrong sama teman? Atau kumpul keluarga? Simak info selengkapnya:

1. Nongkrong sama teman
Mungkin aku sudah menulis berkali-kali kalau orang Jerman tuh punya teman maksimal 2 biji saja 😄. Mungkin terdengar berlebihan dan terkesan kesepian, tapi memang begitulah adanya.


Orang Jerman terkesan tertutup dan kurang bisa percaya terhadap orang lain. Seorang yang dianggap teman oleh orang Jerman biasanya yang sudah melewati masa-masa senang dan susah selama bertahun-tahun. Tapi ada juga orang Jerman yang merasa cocok berteman dengan seseorang sejak pertemuan dan ngobrol pertama kali.

Lalu apa sih yang biasanya mereka bicarakan saat ngobrol?
Kalau teman akrab yang sudah lama sekali tak bertemu, mereka akan minum bir sama-sama dan bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, tentang pasangannya, tentang anak-anaknya, tentang pekerjaannya, tentang politik, perekonomian negara, berlibur kemana, dan obrolan santai hingga paling serius lainnya.

Kalau tak begitu akrab dan belum tahu kehidupan masing-masing, mereka biasanya tak banyak tanya, tapi kalau ditanya dan dikepoi, akan dijawab juga, meskipun orang Jerman terkadang tak begitu suka dikepoi masalah-masalah pribadi. Topik obrolan paling hits sepanjang masa untuk mencairkan suasana adalah tentang cuaca. Karena di Jerman cuaca selalu berubah setiap saat. Bayangkan kalau di Indonesia, kita mulai obrolan, "Eh kok cuaca hari ini panas ya?". Pasti lawan bicara akan heran dan membatin, "Nah kan tiap hari panas? Gimana sih, lu? Basi banget!".

Saat duduk di kereta atau di sebuah restoran, kadang aku mendengar orang di sebelah lagi ngobrol. Selalu dan selalu saja aku menangkap pembicaraan mereka yang melulu seputar cuaca kemarin, hari ini, esok, kemudian obrolan dilanjutkan ke topik lainnya.

Satu rahasia dari orang Jerman, terutama pemuda-pemuda yang kadang susah mencari teman atau pasangan karena budaya Jerman yang jauh dari kepo dan masing-masing individu tertutup serta menjaga privasi orang lain: Mereka biasanya mabuk dulu baru bisa cerita ngalor ngidul tentang ini itu, tentang hal-hal tabu yang dalam kehidupan sehari-hari tak boleh dipertanyakan (contohnya: udah punya pacar belum?). Kalau nggak mabuk, mereka akan amat sangat malu untuk tanya hal semacam itu. Kalau nggak mabuk, mereka mengkonsumsi ganja dan ekstacy supaya pikiran rileks dan enteng untuk saling cerita dan tanpa ada rasa sungkan dan malu. Kasihan banget ya?

Kadang aku diskusi dengan Tobi masalah ini. Dia sebagai orang Jerman juga mengakui hal itu. Orang Jerman punya rasa cemas dan takut yang luar biasa kalau sudah menyinggung dan melampaui batas privasi orang lain. Jadi mereka cenderung hati-hati untuk kepo dan cerita masalah pribadinya kepada orang yang baru kenal.

Nah kalau di Indonesia? Walah, tak perlu dalam pengaruh alkohol mah, kita biasanya langsung cerita ngalor ngidul dan asik aja. Ini yang kadang aku rindukan dari budaya kepo Indonesia yang membuat kita merasa bebas dan gampang nyari teman.

2. Kumpul Keluarga

Bekerja bersama host family, serta berpacaran dengan orang Jerman membuatku mau tak mau menghadapi situasi dimana aku harus berada di sebuah acara keluarga dan mengetahui bagaimana orang Jerman berinterkasi dengan keluarga.

Mungkin sama juga seperti di Indonesia, keluarga bagi orang Jerman adalah yang paling utama dan nomor satu. Saat kumpul acara keluarga, mereka biasanya makan siang atau makan malam bersama, baik di rumah pengundang ataupun di restoran. Adat di Jerman, orang tua biasanya mentraktir anak-anaknya makan. Sekalipun anak dan cucunya sudah mandiri dan berpenghasilan lebih, yang paling tua masih merasa berkewajiban menyayangi dan menafkahi yang lebih muda, contohnya ya dengan memberi makan. Meskipun Tobi dan kakaknya sudah bekerja dan berpenghasilan cukup besar, kalau orang tuanya mengunjungi kami di Hamburg, tetap saja mereka memberi amplop berisi sejumlah uang untuk keperluan kami. Bahkan neneknya yang membelikan segala perabotan mewah untuk apartemen Tobi saat pindahan.

Banyak orang Jerman yang juga broken home dan punya masalah dengan keluarga. Tapi kebanyakan orang Jerman tak memiliki masalah finansial yang berarti, dan mereka itu praktis. Orang Jerman tak menimbun harta, rumah, dsb. Mereka yang tinggal di rumah besar seorang diri, biasanya lebih memilih pindah ke apartemen yang lebih kecil, lalu menyerahkan rumah itu kepada anaknya yang mau menempati, terutama anaknya yang sudah berkeluarga dan punya anak sehingga butuh kamar dan rumah yang besar untuk ditinggali.

Aku sempat heran saat Tobi bilang bahwa ayahnya mendapat bagian warisan rumah dan tanah saat orang tuanya wafat tapi ayahnya tak mau. Tak hanya ayahnya yang tak mau, saudara-saudaranya juga tak mau. Akhirnya rumah dijual dan uangnya dibagi, lalu tanahnya dibiarkan begitu saja. Bahkan tanah yang cukup luas tersebut ditawar-tawarkan kepada cucu-cucu yang mungkin mau membangun rumah disana, tapi malah nggak ada yang mau. Nggak habis pikir banget kan? Coba di Indonesia? Orang tua belum meninggal saja sudah berebut warisan, tanah dan rumah bisa jadi penyebab geger hingga pembunuhan. Nah ini, tanah dan harta sudah di depan mata malah nggak ada yang mau. Mereka malah beli tanah di tempat lain dan membangun rumah di sana.

Sekarang kembali ke obrolan seputar apa yang dibicarakan keluarga saat kumpul bareng. Apa sebenarnya yang mereka obrolin saat kumpul keluarga?

Mereka biasanya betah ngobrol berjam-jam untuk cerita hal-hal di masa lalu, mengenang kejadian saat masih muda atau anak-anak masih kecil, liburan, dan masa-masa sekolah. Selain itu, mereka juga suka ngobrolin seputar politik, ekonomi, dan dunia. Orang Jerman sangat kritis terhadap perkembangan dan kemajuan zaman. Terkadang aku yang bodoh dan tak tahu apa-apa ini merasa amat minder, lalu kangen keluargaku sendiri yang kalau kumpul lebih sering ngobrol seputar tetangga, ngegossip masalah selebriti dan membahas tentang makanan yang enak-enak.

Aaah, namanya juga beda negara, beda budaya, pasti beda adat istiadatnya bukan?

Semoga bahasan kita soal obrolan orang Jerman ini sedikit memberikan informasi seputar Jerman dan budayanya kepada para pembaca sekalian.


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Sunday, May 7, 2017

Aparat Kepolisian: Jerman Vs Indonesia


Sedikit tergelitik dengan status seorang dosen di Universitas Hamburg beberapa waktu yang lalu, aku ingin sedikit menulis tentang polisi dan aparat keamanan di Jerman. Status beliau di facebook kurang lebih seperti ini:

"Teman saya memarkir mobil di dekat universitas. Mobil pun ditinggal beberapa saat. Tetapi dia lupa menutup jendela mobil.
Ketika teman saya kembali ke mobilnya, dia lihat ada kartu kecil dari polisi. Kartu itu terletak di sebelah setir mobil. Sehingga langsung terlihat dan terbaca.
Isi pesan di kartu: "Kaca jendela mobil Anda terbuka. Tas Anda yang berisi laptop dan barang lainnya berada di kantor polisi. Alat navigasi mobil Anda juga kami ambil. Silakan hubungi alamat kantor polisi yang tercantum di kartu ini!"
Teman saya pun langsung ke kantor polisi tsb. Sesampai di sana, benarlah, seluruh barangnya ada dan masih utuh. Setelah menunjukkan kartu identitas dan kartu rebowes mobil kepada polisi, maka kembalilah seluruh barang ke tangan teman saya sebagai pemiliknya.
Sungguh beruntung teman saya hari itu!
Maka semakim kagumlah saya kepada Bapak/Ibu polisi Jerman. Luar biasa!!"

Ada banyak cerita tentang polisi di Jerman. Beberapa temanku juga sempat menuturkan bahwa hp dan dompetnya hilang, saat ia menangis tersedu dan datang ke kantor polisi. Sang polwan pun segera mengerti dan membuatkan laporan kehilangan untuknya. Dengan sigap, tim kepolisian segera menyisir daerah yang telah dilalui temanku tersebut. Hp dan dompet sayangnya tidak ketemu. Untungnya, hp yang dibeli kredit tersebut masih ada asuransi dari perusahaan, sehingga bisa digantikan. Satu bulan kemudian, dompetnya ditemukan oleh pihak kepolisian dan mereka menghubungi temanku agar segera mengambilnya di kantor polisi. Semua uang amblas, tapi kartu-kartu berharga masih utuh. Temanku tersebut rupanya kecopetan.


Baca juga: Kasus Kriminalitas di Jerman, darimana datangnya?

Sebuah cerita juga datang dari Tobi beberapa bulan yang lalu yang sempat kehilangan mobilnya. Mobil yang diparkir dekat taman serta agak jauh dari apartemen tersebut tiba-tiba lenyap. Kontan saja dia panik dan cerita padaku bahwa mobilnya hilang. Ini bukan pertama kalinya dia kehilangan sesuatu, sepeda nya juga pernah dicuri saat belanja di sebuah supermarket beberapa tahun lalu. Sepeda kesayangannya tersebut sangatlah berharga. Pasalnya, dengan sepeda onthel hitam itu, dia pernah keliling Eropa. Sepeda tangguh itu menempuh jarak hampir 12.000 kilometer (sejauh Jerman dan Indonesia). Kalau hilang begitu saja, tentu saja dia akan nangis darah.

Sesaat setelah sepedanya hilang, Tobi menelepon polisi. Selang beberapa hari, sepedanya ditemukan oleh pihak kepolisian dan Tobi menjemput sepeda itu dalam keadaan utuh. Dari sepeda, beralih ke mobil. Mobil tua pemberian kakeknya ini juga mengukir sejarah keluarga. Mobil pertama dalam keluarga yang diwariskan ke cucu bungsunya ini tentu saja tak boleh hilang begitu saja. Tobi pun menelepon polisi.

Pihak kepolisian mengabarkan bahwa, mobilnya diamankan pihak polisi karena seseorang telah merusak kaca belakang mobil dan berusaha mengambil piala kejuaraan sepak bola yang tertinggal di mobil. Piala itu lenyap dan kaca mobil rusak. Polisi yang mengetahui ada mobil pasca percobaan pencurian itu pun segera menugaskan pihak kepolisian untuk mengamankan mobil itu dengan mengirim petugas pengangkut kendaraan (sejenis truk besar pengangkut mobil).

Polisi menuturkan kepada Tobi, mereka melakukan hal tersebut agar mobilnya aman dari serangan lain yang mungkin bisa dilakukan penjahat kalau mengetahui kaca jendela pecah seperti itu. Selang beberapa jam, mobil tersebut sudah bisa diambil dan dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.

Kasus pencurian dan keteledoran memang tak dapat terhindarkan. Seorang teman yang hpnya ketinggalan di kereta api juga kembali utuh. Karena ada seseorang yang baik hati mengembalikan hp tersebut dan membawanya ke pihak kepolisian untuk dikembalikan kepada temanku. Ada juga hp, dompet dan barang berharga yang tak pernah kembali meski sudah lapor polisi, karena yang menemukannya memang berniat mengambil. Semua tergantung keberuntungan.

Nah, mari kita kita berbicara tentang kepolisian di Jerman.

Daftar kepolisian?
Berbeda dari kepolisian di Indonesia, yang untuk masuk menjadi anggotanya, mereka harus membayar sejumlah uang tertentu, di Jerman, sebaliknya, polisi malah dicari, iklan-iklan pun bertebaran di sepanjang jalan, menawarkan orang-orang untuk bergabung menjadi anggota kepolisian.

Berapa penghasilan polisi?
Penghasilan polisi sama dengan penghasilan orang kantoran lainnya. Tentang tunjangan dan sebagainya, buruh pabrik, supir bus, teknisi, pekerja sosial,  guru (PNS dan honorer), semua berpenghasilan yang tak berbanding jauh satu dengan yang lainnya. Juga membayar pajak penghasilan sama dengan pekerja lainnya.

Kalau penghasilannya sama, apa mereka juga korupsi dan melakukan praktek pungli seperti di Indonesia?
Simak cerita-ceritaku di atas, adakah aku menyebutkan bahwa mereka membuat laporan kalo korban menyerahkan sejumlah uang tertentu? Sama sekali tidak!! Tugas polisi di Jerman, murni membantu orang yang tertimpa musibah, kesusahan, menertibkan lalu lintas (polisi turun tangan langsung saat lampu merah rusak), menertibkan seseorang yang melanggar hukum dan lalu lintas tanpa pandang bulu, tanpa pungli.

Apa pihak kepolisian juga banyak dibenci oleh masyarakat?
Sama seperti di Indonesia, banyak orang yang benci dengan pihak kepolisian dan aparat keamanan, di Jerman, polisi rupanya juga banyak yang tidak suka. Karena polisi Jerman terlalu saklek, terlalu tertib, dikit-dikit sanksi, dikit-dikit tilang!

Apakah polisi pekerjaan keren dan jadi pusat perhatian wanita?
Sama sekali tidak. Polisi dan aparat keamanan lainnya mempunyai derajat yang sama dengan pekerjaan non-pemerintah. Orang Jerman sendiri melihat polisi sebagai seseorang yang terpanggil untuk menegakkan hukum dan membantu orang lain, bukan untuk keren-kerenan agar digemari para wanita. Wanita yang punya tipe idaman seperti aparat kepolisian yang gagah dan heroik pastinya ada juga di Jerman. Tapi mereka mendekati polisi karena wibawanya, bukan karena polisi berpenghasilan besar, sekali lagi, mereka jadi polisi karena panggilan hati, masuk tanpa menyogok, bertugas pun anti pungli.

Demikian bahasan kita kali ini tentang kepolisian di Jerman yang semoga menambah pengetahuan bagi pembaca sekalian.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Thursday, May 4, 2017

Budaya Antri di Jerman


Lihat betapa tertibnya orang Jerman dalam menunggu antrian. Antri apa mereka ini sebenarnya?
Foto di atas aku ambil sebulan yang lalu saat cuaca mulai menghangat, saat aku ke Ratzeburg.

Baca juga: Ratzeburg, Biergarten di Sekitar Hamburg

Saat matahari bersinar, orang Jerman semangat sekali keluar rumah untuk sekedar jalan2, bersepeda, dan piknik atau mungkin barbeque di taman kota. Di taman kota, kita bisa bebas berpiknik bahkan ber-barbeque ria tanpa harus membayar dan dilarang oleh petugas satpol pp. Yang terpenting, setelah bakar-bakar dan piknik, semua sampah dibuang pada tempatnya, dan saat selesai, taman kembali bersih seperti sedia kala. Hebatnya, orang Jerman amat sangat sadar akan pentingnya menjaga kebersihan taman dan tidak meninggalkan jejak kotor setelah menggunakan fasilitas umum tersebut.

Baca juga: Bagaimana Cara Pemerintah Jerman Mengatasi Sampah Plastik

Tak hanya di taman, di kebun raya, pantai dan semua tempat umum non-buatan, alias berasal dari alam, kita tak harus membayar biaya masuk. Di taman bermain anak-anak pun yang banyak sekali tersebar di kota maupun desa, semuanya gratis, bisa dimanfaatkan oleh siapapun. Tentu saja, syarat utama: JAGA KEBERSIHAN!!

Bayangkan kalau di Indonesia, di kebun raya yang sudah disediakan tempat pembuangan sampah di mana saja, di pantai, di puncak gunung, perkemahan, masih saja oknum vandalisme yang tak bertanggung jawab, merusak alam, mengotori lingkungan, dan tak peduli akan sampah-sampah yang mereka buang. Jadi wajar dong kalau mereka membayar untuk biaya masuk, agar petugas bisa membersihkan ulah mereka yang seenaknya sendiri itu.

Kembali ke budaya antri orang Jerman. Ternyata gambar di atas adalah gambar antrian membeli es krim. Antriannya sangat panjang hingga hampir ke trotoar. Meskipun begitu, mereka rela menunggu tanpa desak2an ingin duluan, sambil nunggu, sambil menikmati hangatnya mentari




Bisa nggak orang Indonesia antri kayak gini?
Padahal ini hanya di toko roti dan pastinya nggak pakai nomor antrian, tapi Orang Jerman, dengan tertibnya berdiri sampai sepanjang ini dan rela menunggu sampai satu persatu dilayani.
Jika kita lihat, toko roti itu luas, bisa saja orang datang dari kanan dan kiri untuk menyerobot.
Dari sini bisa kita lihat dengan jelas, bahwa negara yang high-civilized orangnya benar-benar menghargai orang lain, menghargai haknya dan tidak seenaknya sendiri. Setiap orang punya urusannya masing-masing yang juga sama mendesaknya. Kalau mau didahulukan, ya datang lebih dulu. Bagaimana dengan kita?
Ini adalah contoh kecil budaya antri dan menghargai orang lain di Jerman. Orang Jerman sadar bahwa tak hanya mereka yang urusannya mendesak, orang lain pun punya urusan yang tak kalah penting, jadi mereka yang datang terakhir, ya harus rela menunggu dan antri, kalau ingin duluan, ya datang lebih dulu.

Sejak kecil, orang Jerman sudah dididik seperti ini agar mereka terbiasa hidup disiplin, jujur dan menghargai orang lain.

Hal lucu terjadi saat minggu lalu ke konser angklung di Hamburg. Saat break, kita dipersilakan untuk mencicipi kudapan nusantara. Jajanan itu disusun demikian rapi oleh panitia di meja yang panjangnya kurang lebih 2 meter.

Meja itu terletak di tengah-tengah hall, sehingga orang yang ingin mengambil kudapan bisa datang dari sebelah kanan dan kiri. Tapi, karena banyaknya orang Jerman dan orang Indonesia yang sudah terbiasa dengan budaya antri Jerman, semua orang berbaris rapi dari sebelah kanan untuk menunggu orang mengambil kudapan tersebut satu per satu.

Sang panitia (orang Indonesia) sampai berteriak-teriak, "Kalian bisa kok ngambil dari sebelah sini (kiri)". Tapi orang-orang di sana tetap antri dan menunggu, dan tidak datang dari sebelah kiri atau pun menyerobot. Dengan tertib mereka menunggu hingga orang-orang di depannya selesai mengambil.

Aku sangat kagum dengan sikap mereka yang sangat menghargai keberadaan orang lain yang terlebih dahulu berada di sana. Di Indonesia, kalau berhasil menyerobot dan mengambil hak orang lain, orang akan bangga dan merasa, "Ini loh, gue, gue bisa duluan! Keren nggak gue?". Parahnya, mereka mengajari anak-anak mereka untuk berbuat yang sama.

Menyerobot dan menginjak-injak hak orang lain adalah TIDAK KEREN! Sama sekali tidak. Itu sebabnya pejabat, kepala sekolah, guru, dan masih banyak sekali oknum yang korupsi dan tidak jujur. Coba saja kita lebih menerapkan budaya antri di Indonesia, karena dari budaya antri ini, kita bisa belajar banyak hal, beberapa di antaranya:

1. Jujur
Jujur bahwa kita memang datang belakangan, jadi kita tidak punya hak untuk menyerobot orang lain yang datang lebih awal, tidak menikung dan tidak membully orang lain yang sudah berusah payah antri di depan kita.

2. Sabar
Pejabat yang korupsi adalah mereka yang tidak sabar untuk menjadi kaya. Makanya mereka menyerobot hak orang lain dengan mencuri uang negara. Dengan membudayakan antri, kita dilatih untuk sabar. Sabar untuk menjadi kaya, sabar untuk sukses, tidak menikung, tidak mencuri, sabar  dalam berbagai askpek.

3. Menghargai orang lain
Di mana nilai-nilai PPkn yang telah kita pelajari selama 12 tahun di sekolah, kalau kita masih juga tidak bisa antri dan hidup dengan menghargai hak orang lain. Orang Indonesia memang terlalu banyak teori, prakteknya NOL besar. Mulai sekarang, belajar antri, dan ajarilah anak kita untuk antri dan menghargai hak orang lain. Tak hanya kita yang punya banyak urusan, semua orang juga punya. Jadi, kalau kita tergesa-gesa, datanglah lebih awal, jangan menyerobot.

Memang terkadang menjengkelkan kalau kita sudah berusaha tertib dan antri, tapi ada orang lain yang menyerobot dan menginjak-injak hak kita. Mereka yang bisa diberitahu, beritahulah dengan baik-baik. Yang tidak bisa dinasehati, ya sudah tidak usah ikut-ikutan untuk seperti mereka, apalagi terpancing emosi. Belajar itu butuh proses.

Terutama terhadap anak. Latihlah anak-anak kita untuk hidup disiplin, membudidayakan antri dan menghargai hak orang lain. Sehingga aset masa depan itu bisa merubah bangsa ini menjadi bangsa yang tak egois, hanya mementingkan kehidupan pribadi, dan hanya belajar teori PPKn di sekolah, tapi juga benar-benar diterapkan di lingkungan masyarakat.

Semoga bahasan kita tentang budaya antri di Jerman ini sedikit memberi pencerahan dan pengetahuan terutama tentang Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, May 1, 2017

Mall di Jerman vs Mall di Indonesia

Europa Passage di Hamburg

Apa yang ada di bayangan kita kalau mendengar kata Mall? Pusat perbelanjaan? Food court? Shopping? Tempat ngadem?

Saat pertama kali datang ke Jerman, semua tampak serba modern dan wah, sampai suatu hari host family mengajakku berkunjung ke Passing Arcaden, yakni sebuah mall di kota München. Bayanganku tentang Mall Jerman yang kusangka lebih wow dari Mall di Indonesia itu pun langsung lenyap.

"Ini mah gak ada apa-apanya dibanding galaxy mall di Surabaya, apalagi di Jakarta" batinku.

Lalu bagaimana bentuk mall di Jerman?

Mall di Jerman mah paling mentok 5 lantai. Passing Arcaden yang aku kunjungi saat itu saja hanya terdiri dari 4 lantai, di mana satu lantai paling bawah adalah tempat parkir. Memang lumayan luas sih, tapi tak beralpis lapis seperti mall di Indonesia.

Aku membatin lagi, "Hmmm Matos ini mah!" (matos: malang town square)

Ternyata ada sesuatu yang lebih wah dan heboh di Indonesia dibanding Jerman, yakni mall kita. Salah satu mall di Hamburg, yang terletak tepat di tengah kota, Europa Passage juga tak bisa dibandingkan dengan mall di Indonesia, bentuknya kotak dan hanya terdiri dari 5 lantai.

Salah satu teman Jerman bahkan berkelakar, "Kalau berlibur ke Jakarta, hal yang paling sering aku lakukan adalah nge-mall!"

Aku terbahak-bahak. Wahh, dia jadi Indonesia banget, suka ngemall. Tapi nggak semua orang Jerman seperti dia sih, atau mungkin di Jakarta, dia jengah dengan kemacetan dan terik matahari yang menyengat sehingga memutuskan untuk ngadem di mall saja.😆

Mengapa mall di Jerman tak seheboh di Indonesia, aku merangkum alasannya di bawah ini:

1. Aturan pembangunan gedung
Tau nggak sih, di Bavaria, aturan membangun gedung tak boleh lebih tinggi dari gereja?

Pemandangan kota München. Coba lihat, puncak menara di gereja ini lah yang menjadi tolok ukur bangunan gedung yang lainnya. Lebih tinggi dari gereja, tidak diperbolehkan. Bavaria adalah kota di Jerman yang masih mengusung norma agama dan adat istiadat setempat. Karenanya, negara bagian Jerman yang satu ini unik serta konservatif.
 Baca juga:10 alasan orang Jerman membenci Bayern

2. Tingkat konsumtif
Rupanya, orang Jerman, meski konsumtif, tapi tidak separah orang Indonesia. Pernah dengar pendapat orang luar negeri tentang gaya belanja kita? Aku pernah baca, di Arab Saudi, jamaah haji yang paling banyak belanja adalah dari Indonesia. Di Eropa, turis yang paling suka belanja, adalah dari Malaysia dan Indonesia.

Orang Jerman, termasuk perhitungan dan pelit sekali dalam menghambur-hamburkan uang mereka. Tentu saja mereka juga suka belanja dan menghabiskan uang, mall-mall di Jerman juga dipenuhi toko dan pusat perbelanjaan, tapi di Jerman tak ada budaya membelikan oleh-oleh untuk keluarga, teman dan orang terdekat saat berpergian. Sehingga, paling mereka membeli untuk diri mereka sendiri. Kalau ada orang yang jalan-jalan, orang Jerman biasanya hanya bilang, "Viel Spaß!" (Baca: viel spass, artinya: selamat bersenang-senang), tak pernah sekalipun meminta oleh-oleh. Dikasih syukur, nggak dikasih ya biasa aja.

Di Jerman juga marak jual beli online, memanfaatkan jasa tukang pos. Jadi, para pebisnis yang sibuk, tak perlu datang ke mall untuk berbelanja. Apalagi ditambah pikiran orang Jerman yang skeptis dan takut berada di pusat keramaian, terorism dan sebagainya, membuat orang-orang malas keluar.

Baca juga: Mental Orang Jerman Vs Indonesia Part 1: Skeptis Vs Pragmatis

3. Kembali ke alam
Kalau cuaca cerah dan matahari bersinar, orang Jerman lebih suka berjemur diri, ke taman, pantai, bersepeda, melakukan aktivitas yang berbau alam ketimbang berada di dalam gedung. Jadi, berpergian ke mall bukan hal yang wow untuk dilakukan di Jerman, mereka ke sana kalau butuh beli baju, buku, pengen cuci mata, atau makan di food courtnya.

Demikian sharing kita kali ini tentang perbedaan mall di Jerman dan di Indonesia. Alasan-alasan yang aku kemukakan adalah alasan pribadi menurut pengalaman serta pengamatan sendiri, yang pastinya berbeda dari pendapat orang lain yang pernah tinggal di Jerman.

Semoga memberi informasi dan menambah pengetahuan seputar Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers