Sunday, April 9, 2017

Rincian Biaya Hidup Paling Irit di Jerman



Sebuah pertanyaan dari teman membuatku menulis tentang biaya hidup di Jerman. Seperti di Indonesia, di Jerman biaya hidup juga tergantung dari daerah tempat tinggal kita. Ada kota dengan biaya hidup murah, tak jarang juga kota (terutama kota besar) yang mematok harga kebutuhan pokok lumayan tinggi.

Pernah kubaca bahwa München adalah salah satu kota dengan biaya hidup paling tinggi di dunia. Tapi dibandingkan Oslo dan Zurich, harga pangan di München masih terbilang murah. Mungkin seperti banyak orang Indonesia lainnya yang menjadi penggemar berat Döner (kebab), aku biasanya mematok harga pangan atau mahal tidaknya sebuah kota dari harga döner setempat. :D . Seperti di Hamburg, Döner dipatok harga 4,50 euro, tapi di Berlin hanya 2,5 atau 3 euro saja. Yang membuatku langsung tahu bahwa biaya kebutuhan hidup di Hamburg lebih mahal daripada di Berlin. :P

Aku kebetulan selalu tinggal di Kota dengan biaya hidup mahal, contohnya München dan Hamburg. Saat di München, aku tak perlu memikirkan soal biaya menyewa apartemen dan makan, karena sudah ditanggung host family. Namun, begitu pindah ke Hamburg dan berjuang seorang diri tinggal di kota yang serba mahal dengan gaji yang amat pas pasan membuatku belajar ngirit seirit-iritnya.

Tahun pertama tinggal di Hamburg. Di sini, aku akan mencoba blak-blakan tentang berapa pemasukan dan pengeluaran perbulan selama aku tinggal di Hamburg di tahun pertama:

Pemasukan:
Gaji FSJ plus uang apartemen : 621 euro

Pengeluaran bulan pertama dan kedua:
Sewa apartemen:         300 euro
Jatah makan per bulan: 80 euro (yang artinya perminggu aku harus belanja maksimal 20 euro)
Jatah kebutuhan selain makan: 20 euro (seperti beli sabun, pembalut, pasta gigi, dsb)
Jatah kebutuhan lain-lain dan tak terduga: 50 euro (seperti pengen makan di resto, beli baju, dsb)

Sisa uang satu bulan: 171 euro

Di bulan kedua, setelah mencari kerja sampingan sebagai babysitter, aku mendapat satu keluarga yang membutuhkan seseorang untuk menjaga anaknya selama 2 jam perminggu, yang artinya aku mendapat uang tambahan 20 euro perminggu (80 euro perbulan).

Sisa uang di bulan kedua dan ketiga: 251 euro

Di bulan ketiga, salah satu temanku mengalihkan pekerjaan babysitter nya padaku karena dia harus pulang ke Indonesia, jadi aku punya 2 keluarga unuk babysitter. Satu keluarga 2 jam perminggu, keluarga yang baru butuh 3 jam per minggu di akhir pekan. Jadi perminggu aku menghasilkan uang tambahan 50 euro, yang artinya perbulan 200 euro (dari kerja sampingan saja).

Sisa uang perbulan mulai bulan ketiga: 371 euro

Terkadang, satu keluarga tersebut menyewaku di akhir pekan untuk ikut berlibur dan menjaga anaknya selama sabtu dan minggu dan aku mendapat gaji 250 euro untuk satu akhir pekan saja.

Aku masih ingat, di bulan ke 6 saat menjadi FSJ, aku bisa menghasilkan 600 euro hanya dari gaji babysitter saja, yang akhirnya aku gunakan untuk membeli laptop dan kamera baru.

Katakanlah aku khilaf dan banyak pengeluaran di satu bulan itu (misalnya ada tamu, atau banyak jajan), paling boros, aku masih bisa menabung sebesar 250 euro perbulan. Kalau dikumpulkan selama aku bekerja menjadi FSJ selama 18 bulan, aku bisa memiliki tabungan sebesar 4500 euro.

Itulah sebabnya, tulisanku tentang 8 cara kuliah di Jerman tanpa uang jaminan 8000 euro menjadi masuk akal.

Nah, sekarang mari kita bahas bagaimana aku bisa bertahan hidup di kota yang serba mahal dengan biaya makan hanya 20 euro per minggu:

Apa yang aku makan?
Nasi:
Beras: satu kilonya 1,89 euro (beras basmati, belinya di Lidl atau Aldi yang murah! Jangan di toko asia)

Satu kilo ini biasanya untuk makan seminggu. Mau yang lebih murah dan praktis? Beli beras dalam sachet (beutel), Harganya cuma 80 sen saja, isinya 8 sachet, bisa untuk makan 16 kali.

Aku kebetulan suka sekali makan dan masak. Juga berinovasi membuat masakan. Aku membuat sambal bajak sendiri ketimbang beli di toko asia yang mahal, atau di toko Jerman yang rasanya cuma asam doank.

Untuk membeli sayur, buah dan daging, aku beli di toko Turki Steindamm. Di sana, satu kilo sayap ayam kesukaanku dibandrol dengan harga 3 euro (sedangkan di discounter sekitar 5 euro). Selain daging, buah dan sayur juga bisa dibeli bijian, dan murah sekaleee.

Yang bikin mahal paling kalau belanja bumbu asia di toko Indonesia atau toko Asia, tapi itu pun nggak aku beli setiap minggu. Beli sekali bisa dipakai sampai 6 bulan (seperti saus tiram, kecap, saos, dsb).

Karena makan adalah salah satu passion ku, aku sebenarnya rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk makan makanan enak. Salah satunya pergi ke restoran. Kalau aku ingin pergi ke Restoran, aku cek penawaran diskon di Groupon, biasanya ada penawaran hingga 50% dari restoran yang baru buka, lalu aku pergi ke sana.

Kemudian untuk kebutuhan membeli barang-barang seperti alat masak, lemari, selimut, aku sudah dapat dari pemberi sewa, jadi 300 euro itu uang sewa bersih yang aku keluarkan.

Sebenarnya, kalau dibilang biaya hidup mahal itu tergantung bagaimana cara kita mengatur keuangan. Kalau nggak bisa masak, beli saja makanan instan. Atau kalau mau lebih hemat lagi, masak makanan Eropa seperti pasta, pizza, kentang goreng. Tinggal beliin cabe biar pedas (kalau suka pedas).

Untuk mengatur pengeluaran di kebutuhan lain-lain, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak membeli baju, tas, sepatu yang bermerek. Trik andalanku, aku beli ke pasar loak di mana penjualnya menjual barang-barang mereka sendiri yang sudah bosan dipakai dengan harga yang sangat murah. Kalau beruntung, aku bisa mendapat jaket Zara atau Mango dengan harga 4 euro saja.

Selain itu, banyak alternatif lain yang bisa dicoba seperti berburu barang yang dihibahkan di ebay kleinanzeigen, lalu join di grup facebook: free your stuff Hamburg,  di mana orang-orang suka menghibahkan barang-barang mereka dan kita bisa mendapat barang-barang bagus, seperti tupperware, gelas, panci, secara cuma-cuma (cek juga free your stuff di kota lain).

Untuk mendapat gaji tambahan saat FSJ ini, kalian bisa mencoba peruntungan di betreut.de (banyak temanku yang berhasil, sayangnya aku tidak, hehe). Aku dapat keluarga pertama itu dari internations.org (di forum pencari kerja). Ada banyak cara untuk mendapatkan kerja sampingan ini. Tambah kenalan, jangan menutup diri dari orang Indonesia (mereka juga sumber rejeki), tanya dan cerita ke kolega. Atau pasang iklan di ebaykleinanzeigen seperti yang aku lakukan. Kalau mau tahu tipsnya, baca:

Cara mendapatkan nebenjob di ebaykleinanzeigen

Nah, semoga informasi yang aku tulis ini bisa memotivasi kalian yang mungkin saat ini ingin hidup, tinggal, belajar, atau bahkan sudah menetap di Jerman.

Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya ya...

Viele Grüße


Location: Hamburg, Jerman

14 comments:

  1. Selalu suka sama topiknya. Dulu pernah pengen kuliah s2 di Jerman tapi dipikir lagi masih trauma kuliah, gegara skripsi. Eh, kok malah curhat 😶

    Hmm enak ya jagain anak keluarga yang lagi liburan. Bisa sekalian jalan jalan dan dapet gaji. Ya meskipun gak puas puas banget sih.. soalnya sambil jagain anak ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga ada rezekinya mbak arum, kesana, kalau bisa sama keluarga lah. kan ada mbak rindra yang jadi petunjuk tuh, heheheh

      Delete
    2. Hhahha...iya kalau mau maen ke Hamburg mah,,,ayooo aku sambut dengan senang hati :)

      Delete
    3. Semoga bisa ke Jerman, aamiin.

      Wah! Senangnya ada yang mau nyambut. 😊

      Delete
  2. Antara prihatin dan perjuangan..... Inspiratif banget sharingnya mbak,.... kece...

    ReplyDelete
  3. Kayaknya bakalan betah dis ana kamu mbak hahahahha.

    ReplyDelete
  4. Hai ka, salam.kenal aku zahra dari bandung. Aku ikut FSJ juga dan.dapetnya di kassel. Aku masih galau mau ambil soalnya ga dapet uang miete. Aku cuma dapet gaji 320€ sama uang makan 80€ sama asuransi. Menurut kaka dengan uang segitu plus misalnya kita cari part time bakal cukup ga sih buat tinggal di.jerman? Makasih sebelumnya. Kalo bisa aku pengen tukeran kontak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmmm...kalau tinggal di Kassel, mungkin nggak semahal di Hamburg,,tapi kalau nggak dapat akomodasi dan uang miete,,,bakal kelabakan di bulan pertama. Apalagi kalau nggak dapat kerja sampingan, masalahnya bukan disitu,,tapi di Ausländerbehörde...apakah mereka meloloskan visa kamu kalau mereka menghitung dengan gaji segitu tidak mampu hidup? Hmmm...sebaiknya cari träger lain Zahra. :)

      Delete
  5. kalo temen pas cerita masalah harga2 di eropa mesti bilang : jangan dikurskan
    tapi apa memang toko asia lebih mahal ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener...kalau apa-apa dikurs kan uang Indo,,,wah nggak jadi beli kita :D

      Delete
  6. Mantab mba . Insya Allah n bismillah. Tahun depan lanjut master d jerman. Amin. Nanti bantuin aku ya mba :) #berjuang #nabung #etc

    ReplyDelete
  7. Waduh, aku makin komporin anakku yang masih imut dan lucu alias masih kecil supaya bisa ke Jerman...hihihi, maksa pake bange. Doaku amin amin ya robbal alamin.
    Penisirin banget dg kisah2mu Mbak. Bisa irit, tapi bisa berpenghasilan. bisa sekolah juga, mauuu...

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers