Sunday, April 30, 2017

Kecintaan Orang Jerman Terhadap Orang Utan

Brosur dan Majalah WWF

Beberapa bulan yang lalu, seorang gadis berpakaian setelan hitam putih menghampiriku. Rupanya dia adalah agen WWF yang menawariku untuk berdonasi tiap bulan demi menjaga dan melindungi hutan serta satwa di seluruh dunia.


Gadis tinggi berambut pirang tersebut terlihat sangat antusias setelah mengetahui bahwa aku berasal dari Indonesia. Katanya, "Oh, kebetulan sekali proyek WWF ini juga sangat banyak dilakukan di Indonesia, terutama di Sumatra untuk melindungi orang utan".

WWF adalah organisasi non-profit internasional yang membantu menangani permasalahan tentang lingkungan hidup, termasuk satwa-satwa yang terancam punah. Jerman adalah termasuk negara donatur terbesar untuk menjaga keberlangsungan ekosistem dunia melalui WWF.

Sedikit flashback, beberapa teman Jerman yang kutemui, termasuk si Max, begitu antusias kalau ngomongin masalah keberlangsungan sumber daya alam Indonesia. Suatu kali dia pernah bertekat sebelum umurnya 30 tahun, dia ingin menjelajahi hutan di sekitaran sungai Kapuas di Kalimantan. Beberapa teman Jermannya juga ingin ikut. Saat bertemu pamannya yang pernah tinggal selama 19 tahun di Indonesia saat itu, aku sempat tercengang karena beliau tahu Indonesia, termasuk hutan-hutan dan satwa liar yang ingin orang Jerman lindungi, jauh lebih baik ketimbang diriku.

Baca tentang Max: Pacaran sama cowok Jerman, romantis nggak sih?

Hampir tiap minggu, saat lihat TV di Jerman, pasti ada saja liputan tentang Indonesia, terakhir kulihat, ada liputan soal orang utan di Sumatra yang keberadaannya terancam punah. Orang Jerman dan Australia yang berada di sana juga sempat diwawancarai, dan juga beberapa pemuda Indonesia yang peduli terhadap keberadaan orang utan disana juga ikutan bicara.

Aku sangat kagum atas kepedulian orang Jerman terhadap lingkungan, tak hanya di negaranya, tetapi juga lingkungan di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu alasannya adalah: dunia ini sudah semakin porak poranda, lapisan ozon semakin menipis akibat global warming, kalau hutan lindung dan hutan hujan tropis dibabat habis, habislah sudah keseimbangan ekosistem dunia. Apakah sebagai masyarakat Indonesia, kita sudah sejauh ini menyadari bahwa hutan kita, yang merupakan hutan hujan tropis kedua terbesar seduni setelah Amazon ini tinggal 50% saja keberadaannya? Apakah kita peduli? Apakah kita turut menjaga dan peduli atas keberlangsungan satwa liar yang ada di dalamnya?

Beberapa Video viral di dunia maya tentang beruang yang ada di Kebun Binatang Surabaya yang kurus kering karena jarang dikasih makan. Orang Jerman banyak sekali yang menghujatnya, bahkan aku malu sekali saat host familyku yang mengetahui video tersebut lebih dahulu dan bilang, "Kejam sekali Indonesia menyiksa binatang seperti itu?".

Di Jerman, jangankan manusia, kelinci, bebek, dan tupai di kebun atau taman kota saja dilindungi oleh negara. Eropa adalah surganya para binatang peliharaan seperti anjing, kucing, hamster. Anjing di Jerman bahkan wajib punya paspor.

Kalau di Indonesia, para pengemis akan membawa anaknya untuk menarik simpati para pemberi uang, kalau di Eropa, ada juga pengemis, tapi mereka membawa anjingnya. Ada-ada saja kan?

Orang Jerman nge fans sekali pada orang utan. Kalau nggak percaya, tanya saja pada salah satu turis yang berkunjung, apakah mereka suka. Lima dari lima orang Jerman yang kukenal mengaku bahwa orang utan itu lucu, menggemaskan, cerdas, kreativ dan mirip manusia. Memang DNA orang utan kan 98% mirip dengan manusia. Tapi hanya satu dari 5 orang Jerman itu yang tahu bahwa orang utan itu binatang endemik Indonesia.

Walah,,,kok bisa? Saat aku jelaskan bahwa kata Orang Utan sendiri adalah Bahasa Indonesia, mereka terkejut.

"Wah, aku pikir dari Afrika, haha!" kata salah satu dari mereka.

Mereka tahu bahwa orang utan adalah binatang yang hampir punah keberadaannya, dan mereka ingin menjaga keberlangsungan binatang imut tersebut. Max pernah bilang, "Aku marah banget sama pembabatan liar di Sumatra untuk kebun kelapa sawit. Aku mikirin nasib orang utan di sana gimana!"

Trus pikirku, "Loh, gue aja yang orang Indonesia nggak mikirin, kenapa situ yang ribet, sih?" :D

Mungkin kita akan berpikir, ya iyalah, di Jerman, orang-orang kan sudah pada kaya, di Indonesia, ngapain kita mikirin anjing dan kucing? Buat makan sehari-hari saja masih bingung, lagian banyak juga manusia yang juga butuh bantuan. 

Tapi semakin lama aku tinggal di Jerman, semakin sadar pula aku terhadap lingkungan hidup. Terkadang aku merasa bersalah karena melihat Indonesiaku dari kacamata orang Jerman, yang orang-orangnya masih perlu disadarkan akan kepeduliannya terhadap sampah, lingkungan, hewan, dan keseimbangan ekosistem dunia. Mungkin bisa aku mulai dari diriku sendiri dan dari pembaca sekalian untuk segera sadar akan menjaga lingkungan dan menyelamatkan hutan Indonesia demi keseimbangan ekosistem dunia.

Demikian sharing kita kali ini tentang orang Jerman dan orang utan :D. Semoga sedikit menambah pengetahuan dan informasi seputar Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße



Saturday, April 29, 2017

Ada berapa jenis bus di Jerman?


Di beberapa artikel sebelumnya, aku telah menuliskan tentang beberapa jenis kendaraan umum di Jerman, seperti: Kereta api, mobil milik umum, dan sepeda milik umum. Kali ini, bahasan tentang transportasi umum berlanjut ke Bus.

Baca juga:Mobil milik umum di Jerman

1. Bus Kota
Bus kota di Hamburg bentuknya panjang-panjang, bahkan hampir mirip tram (3 gerbong dan 5 pintu). Yang ini 2 gerbong saja karena melintasi daerah yang tidak sangat padat penumpang

Bus kota adalah salah satu alternatif kendaraan umum selain kereta Subway dan kereta bawah tanah. Di banyak kota kecil tidak ada jalur kereta, yang ada hanya bus kota ini. Bus ini menghubungkan lintasan atau tempat yang tidak dijangkau kereta.

Karena bus kota di Jerman dikelola langsung oleh DB bahn (perusahaan transportasi terbesar di Jerman di bawah naungan pemerintah), jadwal kedatangan bus pun bisa dipantau lewat applikasi yang didownload lewat hp atau website DB. sehingga kita tidak perlu berlama-lama menunggu di halte bus.

Jadwal bus ini juga bervariasi. Di kota besar dan padat penduduknya, bus bisa datang 2-10 menit sekali. Tapi saat aku tinggal di Moosining yang penduduknya tak lebih dari 200 jiwa itu, bus hanya datang dengan menyesuaikan jadwal anak-anak sekolah. Kadang sehari cuma 3 kali.
Berbeda dari kereta api, meski terjadwal dan punya jalurnya sendiri, kadang bus kota juga bisa telat, terutama di jam-jam berangkat dan pulang kerja yang jalanan dipadati mobil-mobil pribadi. Meskipun demikian, bus kota tak akan telat hingga berjam-jam.
jalan raya di Jerman biasanya sangat lebar dan ada jalur ekspress untuk bus

Saat pertama kali naik bus, aku bingung kalau mau turun. Eh aku yang katrok ini nggak tau kalau ada pencetan tombol Stop di seluruh penjuru bus yang bisa dipencet kalau mau berhenti. Bus di Jerman hanya bisa berhenti di halte-halte, tidak bisa memberhentikan penumpang di sembarang tempat.
Alat pemecah kaca, yang juga ada di langit-langit bus, untuk jaga-jaga kalau ada kecelakaan dan harus memecahkan kaca karena bus terbalik contohnya

seperti ini cara menggunakan alat tersebut, tak usah dipukul-pukul :D
symbol larangan makan dan minum di dalam bus, kalau ketahuan bisa kena denda. Juga larangan minum alkohol serta merokok
pelanggaran penggunaan transportasi umum bisa segera dilacak karena ada kamera CCTV. Lihat, di setiap meter terpasang camera CCTV
informasi tentang jalur bus dan kereta juga tersedia di dalam bus
Halte bus selalu ada palang seperti ini, tapi ini halte untuk menurunkan penumpang saja. Jadi jangan salah tempat menunggu
Halte untuk menunggu disertai informasi bus yang akan melaju, nomor berapa, jurusan apa, jam berapa

Bus kota di Jerman sekali lagi dikelola oleh pemerintah, supirnya digaji oleh perusahaan tergantung berapa jam mereka bekerja, bukan berapa banyak penumpang yang mereka dapat dalam sehari. Jadi, meskipun bus kosong melompong, kalau kita telat datang, Pak Supir nggak bakal rela menunggu. Mereka hanya mengejar waktu, bukan setoran.
jadwal keberangkatan bus yang tertera di jadwal digital, kalau tidak ada, bisa dicek online atau manual (di papan haltebus). Kalau telat, supir nggak bakal mau nunggu!

Semua jenis kendaraan umum di Jerman, sudah dikelola dengan sangat baik, bus dan kereta api dikelola oleh pemerintah, sehingga kalau para penumpang lebih memilih bersepeda atau naik car sharing, tak ada supir bus atau masinis yang demo karena kekurangan penumpang.

Berbeda dengan di Indonesia yang pendapatan supir angkot masih tergantung pada banyaknya penumpang yang mereka dapat, sehingga mereka akan demo kalau penumpang mereka beralih ke alternatif baru seperti gojek. :( Padahal logikanya, penumpang toh selalu berhak memilih alternatif mana yang paling cepat dan nyaman untuk mereka.

Di Indonesia, infrastruktur makro yang seperti ini masih kacau balau, ada alternatif baru, alternatif lama demo, hmmm,,,salah siapa?

2. Bus antar kota
Bus antar kota biasanya milik perusahaan swasta. Bus ini menjadi alternatif murah untuk mobilitas dari satu kota ke kota yang lainnya. Perusahaan bus paling terkenal di Jerman adalah: Flixbus yang beberapa tahun yang lalu juga membeli perusahaan meinfernbus dan baru-baru ini membeli perusahaan UK (megabus).
Flixbus menwarkan harga yang cukup terjangkau dengan jadwal yang beragam. Misalnya dari Berlin ke Hamburg, hanya 9 euro saja (kalau pakai ICE, bisa sampai puluhan euro).

Membeli karcis bus yang paling mudah dan murah adalah lewat online. Kalian bisa membandingkan harga banyak bus dengan membuka:  Busliniensuche. Atau bisa kunjungi website flixbus.de dan meinfernbus.de

Beberapa tahun lalu, ada juga penawaran gila dari mega bus, yakni 1,5 euro saja dari Hamburg ke München. Namun, setelah wacana Brexit mencuat, perusahaan dari Inggris itu pun menjual sahamnya ke Flixbus. Sehingga, sekarang tak ada lagi penawaran murah dari Megabus :(

3. Bus Antar Negara
Karena jarak satu negara ke negara lainnya di Eropa itu tidak terlalu jauh dan tidak terhalang pulau-pulau seperti di Indonesia, banyak juga perusahaan bus yang menawarkan jalur lintas antara satu negara ke negara lainnya. Saat aku keliling Eropa tahun 2014 silam, Eurolines menjadi alternatif termurah untuk melintasi Prancis ke Swiss.
Sekarang, tak hanya Eurolines, Flixbus pun melebarkan jalur lintasnya dari Jerman ke berbagai negara tetangga.
Website eurolines tergantung dari mana kalian akan berangkat, kalau dari Jerman, silakan buka: eurolines.de

contoh bus antar kota dan negara yang biasanya terdiri dari dua tingkat. Image credit: wikipedia


Nah, semoga informasi tentang bus di Jerman ini menambah pengetahuan kita tentang transportasi di Jerman.

Baca juga: Sepeda milik umum di Jerman

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)

Liebe Grüße


Wednesday, April 26, 2017

8 Kebiasaan di Jerman yang bertolak belakang dari kebiasaan orang Indonesia


Budaya Jerman dan Indonesia memang kadang bertolak belakang. Hal ini wajar mengingat budaya Jerman berkiblat ke barat sedangkan Indonesia ke timur, sampai kapanpun nggak akan pernah bisa menyatu.

Sebagai orang yang berpikiran terbuka, hal paling baik yang harus kita lakukan hanyalah memahami perbedaan tersebut, lalu mengharagai serta tidak selalu berpendapat bahwa budaya timur adalah budaya yang paling baik (ethnosentris). Yang namanya budaya, atau istiadat, tidak serta merta hadir dan tercipta. Semuanya bisa dipelajari, diakulturasi, dan (mungkin) diterima (mungkin) juga tidak.  Budaya tradisional Indonesia sendiri yang sekarang ada, juga dibawa oleh koloni Belanda, saudagar Arab dan India, pengaruh kebudayaan Malay, dsb. Sedangkan pengaruh pesatnya teknologi dan pengaruh internet serta globalisasi juga mempengaruhi budaya modern Indonesia, seperti pengaruh musik dan film Boolywood, Hoolywood, Korea, Jepang, dan banyak lagi.

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, seperti slogan untuk blog ini, kali ini, aku akan membahas satu dari daftar list tentang adat dan kebiasaan. List yang sudah menumpuk karena kesibukannku kuliah dan jarang menulis blog.  Yakni tentang kebiasaan orang Jerman yang berkebalikan dengan kebiasaan orang Indonesia. Apa saja itu? Berikut ulasannya:

1. Nge-blink lampu depan mobil
Di Indonesia, kalau kita mengendarai mobil dan melihat ada pengendara dari arah berkebalikan akan belok dan memotong laju mobil kita, apa yang harus kita lakukan agar pengendara tersebut berhenti dan menunggu sampai kita lewat? Pastinya nge-blik lampu depan atau tekan klakson 2 kali agar mobil tersebut berhenti.
Tapi kalau di Jerman, sinyal mengedip-kedipkan lampu depan seperti kasus di atas, artinya mempersilakan pengendara yang lain itu untuk memotong terlebih dahulu melaju.
Jadi kalau mengendarai mobil di Jerman, jangan sampai salah ngeblink ya...ntar malah tabrakan karena kalian mikir mau melaju, pengendara yang lain pikir kalian mempersilakan mereka melaju duluan. :)
Oh iya, di Jerman, ngeblink lampu depan seperti ini juga dilakukan pengendara mobil yang mempersilakan penyebrang jalan untuk menyebrang dahulu. Beda kan? Kalau di Indonesia, sinyal ini untuk memperingatkan kalau mobil kita akan terus melaju dan yang lain harus hati-hati.
Lalu kalau sudah di-blink dan dipersilakan untuk melaju terlebih dahulu, biasanya pengemudi atau penyebrang jalan akan melambaikan tangan sembari berkata pelan, "Danke" (terima kasih).

2. Kebiasaan tepat waktu
Wah kayaknya yang satu ini sudah tak usah diperjelas lagi. Di Jerman, semua orang serba menghargai waktu, dan serba tepat waktu. Beda dengan orang Indonesia yang janjiannya jam 8, datangnya bisa jam 9, 10 atau bahkan jam 11.
Apakah ini berarti nggak ada dan nggak boleh telat sama sekali? Tentu saja kadang ada keterlambatan, tapi kalau terlambat dari jam yang ditentukan, seseorang biasanya akan memberi tahu dengan cara menelepon atau sms atau bahkan di hari sebelumnya, agar orang yang lain tidak membuang-buang waktu mereka untuk menunggu.

3. Buang ingus
Srooooottt....sroooottttt..... Kalau di Indonesia, buang ingus di meja makan, atau di tempat umum sampai bersuara seperti itu bisa dipelototin sama orang di sekitarnya, iihhh jorok nian!!
Tau tidak? Di Jerman, hal tersebut amat sangat wajar. Kadang aku juga jijik dibuatnya. Tuh kan? Budaya Jerman nggak melulu superior, ada faktor jorok yang dipelihara juga loh! :D

4. Sendawa
Saat masuk angin atau kerokan, kita biasanya bersendawa sesuka hati, setelah makan juga bersendawa dengan kencang, tanda bahwa kita kenyang dan makanan tersebut nikmat sekali.
Saat pertama kali makan di meja makan bersama host family dulu, aku juga enak saja bersendawa di depan mereka. Semua tertawa melihatku, untungnya mereka tidak marah. Di hari berikutnya, host mom ku bilang bahwa adat di Jerman, sebaiknya kita menahan sendawa agar tidak sampai di dengar orang, seperti juga kentut, yang di Jerman juga sangat tidak sopan untuk di loud speaker :D

5. Minum air
Yang sudah baca postingan tentang air kran yang siap minum di Jerman, pasti sudah tahu kalau orang Jerman itu lebih suka minum air putih bersoda ketimbang air mineral biasa. Katanya sih kalau air bersoda itu lebih ada rasanya (rasa cekit-cekit di lidah kali ya :D), lalu lebih lama menahan dahaga ketimbang air mineral tanpa soda.

Baca juga: Air kran di Jerman siap minum? Kok bisa?

6. Kebiasaan kepo
Orang Jerman itu kalau nggak begitu kenal dan akrab, pasti terkesan cuek. Tapi memang mereka nggak kepo. Kalau di Indonesia (bukan di Jakarta dan kota besar lainnya), tetangga, teman, kerabat, semuanya pada kepo, suka ikut campur urusan orang. Kalau cuek-cuek saja dikatain sombong. Bingung ya?
Di Jerman, yang tahu urusan pribadi kita, hanya orang terdekat (pasangan atau keluarga), selebihnya, mereka nggak mau tahu urusan orang, begitu juga, urusan mereka juga nggak boleh diketahui banyak orang.

Baca juga: German Vs Indonesia Mentality: Cuek Vs SKSD

7. Kepedulian terhadap lingkungan
Lagi-lagi lingkungan menjadi point penting yang membedakan budaya Jerman dan Indonesia. Mulai kepedulian orang Jerman mengelompokkan dan membuang sampah sampai kepedulian mereka terhadap hutan, tumbuhan, dan hewan (di Indonesia) masih sangat jauh dibandingkan kesadaran orang Indonesia terhadap lingkungan sendiri. Tapi aku lihat semakin hari di Indonesia, kesadaran akan lingkungan hidup itu semakin membaik. Semoga kedepannya juga.

Baca juga: 10 Jenis pengelompokan sampah di Jerman

8.  Alat tulis
Ini point tambahan saja sebenarnya, karena dulu aku sempat kaget saat host mom ku yang tulisannya kayak cakar ayam itu menulis selalu menggunakan pulpen warna biru dan di buku kotak-kotak.
Di Jerman, ternyata buku kotak-kotak itu bukan hanya untuk pelajaran matematika dan anak TK supaya belajar menulis, tapi orang dewasa masih menggunakan buku kotak-kotak. Tergantung kesukaan masing-masing sih, ada juga yang suka pakai buku garis.

Sebenarnya, masih banyak lagi perbedaan adat istiadat dan kebiasaan orang Jerman dan orang Indonesia, untuk kali ini, 8 dulu ya. Lain kali di sambung lagi.

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)


Liebe Grüße

Wednesday, April 19, 2017

Ada berapa jenis Kereta Api di Jerman?


Masih berbicara seputar transportasi di Jerman, nggak afdol rasanya kalau belum membahas tentang per-kereta api-an di Jerman.

Seperti yang kita tahu, negara Jerman identik dengan teknologi mesinnnya yang super canggih dan modern. Mobil-mobil buatan Jerman, tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Aku sering sekali iseng bertanya pada teman Jerman, apa mereka bangga dan mempercayakan produk buatan Jerman. Jawabannya pasti iya, orang Jerman lebih suka membeli produk dalam negeri buatan Jerman sendiri. Mulai dari merk sepeda, mobil, kereta api, pesawat terbang, produk Jerman masih jadi unggulan di Eropa, bahkan di dunia. Meskipun demikian, bukan berarti Jerman selalu nomor satu untuk urusan teknologi. Contohnya, untuk urusan teknologi telepon seluler, Jerman masih kalah dengan Korea Selatan, Amerika, dan Finlandia.

Mari kembali ke kereta api. Meskipun sangat cepat, modern dan canggih, ICE (InterCity Express) buatan Jerman masih kalah dari Kereta Api Maglev dan Harmony CRH 380 buatan China, serta AGV Italo buatan Italia. ICE buatan Jerman yang beroperasi di Jerman sendiri malah tidak masuk ranking 10 besar. Tapi, ICE Jerman yang dikembangkan di Spanyol (Siemens Velaro E) masuk sebagai kereta tercepat nomor 4 sedunia (dengan kecepatan 217,4 km/jam). Di Jerman sendiri, ICE beroperasi dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam.

Kereta api di Jerman dikelola oleh pemerintah di bawah perusahaan Deutsche Bahn (biasa disingkat dengan DB).  DB merupakan perusahaan kereta api paling besar di Eropa dengan rekor pencapaian  hingga 2 milliar penumpang  tiap tahunnya (sumber:goeuro). Lalu, apakah di Jerman cuma ada ICE? Tentu saja tidak, DB mengelola berbagai jenis transportasi, tak hanya kereta api, tapi juga Tram, Bus, bahkan car sharing (mobil umum) dan stadtrad (sepeda umum), juga dikelola oleh DB.

Baca juga:
Mobil milik umum di Jerman
Sepeda kota (milik umum) di Jerman

Lalu, ada berapa jenis kereta api sih di Jerman? Berikut ini ulasannya:

1. ICE (Intercity Express)
Seperti yang sudah aku tulis di atas, ICE adalah kereta api super cepat dan canggih, didukung dengan fasilitas super modern, mewah, dan nyaman. ICE adalah kereta api lintas kota dan negara. Tak kurang dari 180 jalur ICE di seluruh Jerman dan beberapa negara tetangga seperti Belanda, Austria, Swiss, Denmark, Belgia, Prancis, Hungaria, Ceko, dsb).
 ICE dari luar. Image credit: railway technology.
image credit: bahnbilder. Ini adalah pemandangan dalam kereta di kelas eksekutif
Saat pulang ke Indonesia dari Jerman pertama kali, dari Jakarta ke Malang, aku memilih kereta Matarmaja yang mengharuskanku duduk di kereta selama hampir 19 jam. Aku sempat juga membayangkan kalau dengan ICE, dari Jakarta ke Malang, kita hanya harus duduk 4 jam saja di kereta. :D

Oh ya, meskipun untuk naik ICE ini kita harus merogoh kocek dalam-dalam, tak jarang perusahaan DB memberikan diskon untuk pelajar dan umum. Saat ke Hamburg dari Nürnberg dulu, aku hanya harus membayar 19 Euro (untuk economy class). 

2. IC (InterCity) dan (EC) Euro City
Meskipun tak secepat ICE, dengan IC, kita bisa dengan nyaman menikmati perjalanan dari satu kota ke kota lainnya di dalam kereta yang super nyaman. IC memiliki kecepatan 185 km/ jam. 

image credit: DB

Suasana di dalam IC. Image credit: DB


IC dan EC ini juga menawarkan tiket murah dari satu kota ke kota lainnya, juga dari satu negara ke negara lainnya di seluruh Eropa. Untuk cek fasilitas yang tersedia dan penawarannya, kalian bisa klik, DB

3. RE, RB (Regional Bahn)

tempat duduk di dalam RE
Berbeda dari IC dan ICE, RB adalah kereta api regional yang membawa kita dari satu kota ke kota lainnya yang masih berada di Jerman. Biasanya tiket Euro City yang kita beli untuk keliling Eropa, bisa juga dipakai untuk RB, karena tiket RB tak semahal ICE.


Biasanya RE bertingkat seperti di gambar ini memiliki jarak tempuh yang cukup jauh. Ada RE yang menyediakan tempat tidur juga.
4. Sbahn (Subway)
Nah, dari ketiga jenis kereta yang membawa penumpang antar kota dan mancanegara, sekarang kita beralih ke kereta di dalam kota. 

Biasanya di kota-kota besar seperti Hamburg, Berlin, München, Frankfurt am Main, Köln, transportasi dalam kota sudah sangat canggih dan terkelola dengan begitu baik. Salah satunya adalah dengan tersedianya Subway yang menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya yang masih di dalam kota. 

Subway di Jerman rata-rata tak melintasi jalur yang dilewati mobil. Rel kereta di bangun di atas jalan raya atau di bawah tanah agar tidak terjadi kemacetan. 

Jadwal kereta Subway ini juga bisa diakses online, sehingga kita tidak harus menunggu kereta datang di stasiun. Kalau kereta mengalami keterlambatan, secara otomatis, applikasi online tersebut menginformasikan kepada penumpang atau menyarankan untuk menempuh alternatif lain (seperti bus, dsb). Ketepatan jadwal kereta api di Jerman masih nomor satu di dunia. Kalau ada kereta yang terlambat satu menit saja, bisa dibayangkan orang-orang Jerman itu ngomel dan protes langsung ke pusat (Deutsche Bahn). Aku kadang hanya membatin dan memaklumi saja, mengingat di Indonesia, jadwal kereta bisa telat berjam-jam.  :D

Oh ya, subway ini biasanya datang tiap 5 menit-20 menit sekali (tergantung rute dan daerahnya, semakin padat dan banyak penumpangnya, semakin sering dilewati subway). 
Bentuknya mirip ya seperti RE, tapi dalamnya sedikit berbeda

ini dalam kereta subway, kotak kecil itu adalah tempat sampah yang terdapat di tiap-tiap bangku penumpang, sehingga kita bisa membuang sampah pada tempatnya.
5. Ubahn (underground train atau kereta api bawah tanah)
Kereta api bawah tanah yang paling aku suka adalah di München. Meskipun ada beberapa kereta lama (tua) yang masih beroperasi, kebanyakan, kereta bawah tanah di München sudah modern. Di Hamburg dan Berlin, kereta bawah tanahnya masih tergolong kecil dan agak sempit. Meskipun demikian, kereta bawah tanah di Jerman masih tergolong super modern dibandingkan dengan kereta di Hungaria atau Italia apalagi Indonesia (yang masih belum punya kereta bawah tanah, ups sorry) :D
Dalam Ubahn di München yang luas dan bersih. Image credit: mymünchen

ini ubahn di Hamburg
Untuk pembanding kereta-kereta di Eropa, kereta ini adalah kereta regional di Italia yang membawaku dari Milan ke Verona. Saat melihatnya, wuduh busyet, kok kotor dan jelek gitu, seperti bukan di Eropa saja. Tapi dalamnya lumayan bagus kok. Di Hungaria juga masih banyak kereta tua atau kereta bekas Jerman yang diusung ke sana. Di Jerman sendiri, kalian hanya akan menemui kereta tua seperti ini di Museum atau untuk hiburan turis.
Di München, rata-rata Ubahn berwarna biru, kalau di Berlin, kuning, dan di Hamburg merah. Tapi untuk Sbahn, semua sama yakni warna DB (merah). 

6. Straßenbahn (baca: strassenban) 
Straßenbahn adalah nama lain dari tram. Di kota kecil yang tidak menyediakan subway dan kereta bawah tanah, biasanya ada Tram sebagai alternatif transportasi dalam kota. Di Hamburg contohnya, kita tak akan menemui Tram, karena pemerintah Hamburg rupanya tidak suka dengan kabel malang melintang di tengah jalan serta rel-rel tram yang mengganggu pengendara mobil. Tapi di München, Berlin, kita akan dengan mudah menjumpai Tram. Begitu juga di kota kecil seperti Augsburg, Jena, Erfurt, dsb. 
Contoh Tram di Augsburg yang beroperasi di jalan raya

kabel-kabel tram yang malang melintang kadang mengganggu pemandangan juga
Di dalam Tram 3 tahun lalu. Sorry ada akunya, nggak ada foto lain sih :P
Sebenarnya masih ada beberapa jenis perusahaan kereta api yang juga bekerja sama dengan DB, seperti di Hamburg ada AKN, Metronom, juga di kota-kota lain. 

Kalau kita naik ICE, IC, RE, Metronom, selalu ada kondektur yang memeriksa tiket, tapi untuk naik Sbahn, Ubahn dan Tram, kadang ada kadang tidak, dan jarang juga ada pengecekan. Meskipun begitu, jangan coba-coba masuk kendaraan umumm tanpa membeli karcis ya, karena bisa kena denda kalau sampai ada pengecekan. 


Nah, semoga informasi tentang kereta api yang beroperasi di Jerman kali ini menambah pengetahuan kita seputar Jerman. 

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)

Viele Grüße










Friday, April 14, 2017

StadtRAD Hamburg (Sepeda Kota: milik umum) di Jerman



Setelah membahas tentang mobil milik umum (car sharing) di Jerman, ada pertanyaan dari pembaca, apakah ada sepeda milik umum juga? Jawabannya: ADA.

Sebenarnya nggak hanya di Jerman, tapi di sebagian besar negara Eropa, terutama kota besar dan kota wisata seperti Roma, Verona, Amsterdam, Paris, punya sepeda umum yang bisa dimanfaatkan pengunjung dengan harga yang bervariasi.

Saat di Paris, aku mencoba menyewa sepeda umum ini. Kalau nggak salah harganya tak lebih dari 1 euro perhari, atau malah gratis karena kita ganti-ganti sepeda dan tiap 30 menitnya gratis (aku lupa). Tapi, saat mengambil sepeda dari stand terminalnya (yang bisa dilakukan sendiri di mesin otomatis), kita harus memberikan data rekening bank yang jumlah uangnya lebih dari 150 euro (untuk penjamin) kalau-kalau sepeda tersebut tak kembali atau rusak, dsb. 

Di Hamburg sendiri, aku tak pernah mencoba memanfaatkan sepeda kota ini karena aku malas bersepeda, alasan sebenarnya, karena aku punya sepeda sendiri yang juga jarang kupakai :D. 

Untuk menyewa sepeda ini, kita harus membayar 5 euro yang digunakan untuk pendaftaran, dan hanya dibeli sekali seumur hidup. 

Untuk menyewa seharian, kita akan dikenakan biaya 12 Euro. Cukup mahal memang, tapi ada cara agar sewa sepeda ini GRATIS:

Di 30 menit pertama, sepeda ini boleh dipakai gratis. Lalu kita menuju terminal (parkir) yang ada dimana saja di penjuru kota, dan ganti sepeda yang lain. Dengan sepeda yang lain tersebut, kita ganti lagi per 30 menit agar gratis. Untuk kelebihan menit, dihitung 6-8 sen per menitnya. Murah bukan?

Untuk cek tarif dan informasi selanjutnya, silakan cek website StadtRAD Hamburg

image credit: hafencity.com
Terminal sepeda seperti gambar di atas nggak hanya ada di satu tempat, lalu kita harus putar arah setelah 30 menit menggunakannya. Terminal tersebut ada di ratusan tempat di seluruh penjuru kota. Sehingga kalau kita mau menggunakan sepeda ini dari A ke C, kita nggak perlu meletakkan atau mengganti sepeda di terminal A, tapi terminal B, C, dsb. Ada mesin otomatis untuk mendaftar dan memilih sepeda, layar sentuh modern ini sangat mudah digunakan, dan bisa diganti dalam Bahasa Inggris juga. 

image credit: wikiwand
Ada ratusan atau mungkin ribuan sepeda yang digunakan pengunjung di Hamburg. Jadi, tak perlu khawatir nggak kebagian sepeda. Alternativ ini juga digunakan bukan hanya turis yang berkunjung ke Hamburg, tapi juga warga sekitar. Karena daftar sekali 5 Euro untuk seumur hidup yang sayang banget kalau nggak dimanfaatkan selama tinggal di Hamburg, membuat warga juga memanfaatkan transportasi ini ketimbang naik kereta atau bus, terutama saat cuaca cerah dan nyaman untuk bersepeda (di Hamburg, cuaca nggak karuan, lebih sering dingin, berangin dan hujan).

image credit: Hamburg.de
Di setiap sepeda, ada kabel colokan ke terminal yang terhubung dengan nomor seri masing-masing. Jadi nggak mungkin sepeda ini hilang dan dicuri karena percuma saja, akan segera terlacak dengan mudah. 


Nah, bagi kalian yang mau mengunjungi atau tinggal di Hamburg, jangan malas seperti aku untuk bersepeda. Manfaatkan fasilitas sepeda kota yang ada. 

Semoga informasi tentang Stadtrad Hamburg ini menambah pengetahuan kita tentang Jerman dan transportasinya.

Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya ya....

Baca juga: Car sharing (mobil milik umum) di Jerman

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)

Viele Grüße

Wednesday, April 12, 2017

Mobil Milik Umum (Car Sharing) di Jerman

Saat tinggal di München dulu, seorang teman pernah menjemputku pakai mobil yang tiap minggunya berganti-ganti. Aku pikir, wah kaya sekali orang ini, mobilnya banyak.

Berbeda dari perspektif diriku saat di Indonesia, di mana aku melihat bahwa orang yang punya mobil itu pasti orang kaya, di Jerman, nyatanya mobil dibeli berdasarkan kebutuhan, bukan untuk pembuktian bahwa mereka mampu membeli mobil, atau untuk pamer-pameran. Orang yang tinggal di kota besar banyak juga yang tidak punya mobil. Tobi sendiri punya dua mobil, satu dari kantor, dan satu pribadi yang membuat dia menyesal dan akan menjual mobil pribadinya karena dirasa tak berguna. Host family ku dulu punya 4 mobil, dan saat aku tinggal di sana, ditawari juga untuk dibelikan mobil, karena rumah kami yang jauh dari stasiun kereta. Sayangnya, aku nggak bisa menyetir dan nggak punya SIM. :D

Baca juga: 16 merk mobil buatan Jerman

Mobil bukanlah indikasi orang kaya di Jerman. Harga mobil sebenarnya sama dengan harga di Indonesia, tapi kurs mata uang dan pendapatan orang Jerman yang tinggi membuat harga mobil terjangkau. Di banyak kota besar, banyak orang berpendapat, "Ngapain beli mobil? parkir mahal, bayar pajak mahal, bensin mahal, mending pakai car sharing!"

Ternyata temanku yang gonta ganti mobil tiap minggu itu memanfaatkan mobil milik umum yang bisa dipakai kapan saja.

Jadi, mobil milik umum ini ada di mana saja dan bisa dipakai kapan saja, tanpa harus membeli bensin dan membayar biaya parkir (yang perjam nya bisa dibuat makan di warteg tiga kali, heheh).

Kalau kalian menemukan mobil seperti di bawah ini di Jerman, itu artinya mobil tersebut bisa dipakai oleh umum:

Lihat stiker oranye tersebut. Itu adalah logo perusahaan car sharing Cambio. Artinya kalian yang sudah mendaftar untuk pinjam mobil ini sewaktu-waktu, bisa langsung mengemudikan mobil ini kapanpun kalian mau. 

Car 2 go, ini juga salah satu mobil milik umum

Rata-rata, mobil car 2 go mungil seperti itu. Di Hamburg banyak tempar parkir mobil khusus mobil milik umum, seperti pada gambar ini, yang dicat hijau. Di sana, kita bisa memakir mobil tersebut tanpa bayar parkir

Drive now adalah perusahaan car sharing yang dipakai temanku saat itu, mobil Drive now biasanya Audi atau BMW dan  besar seperti ini- Cocok untuk berkendara beberapa orang. 
Selain beberapa jenis perusahaan car sharing di atas, di Jerman masih ada beberapa perusahaan car sharing seperti Citee Car, Stadtmobil, Hertz,

Lalu bagaimana cara kerjanya? Kan kita nggak punya kontak mobilnya?

Betul. Kita tak perlu kunci mobil! Jadi, awalnya kita daftar car sharing ini dengan mendatangi kantornya, misalnya perusahaan Drive Now, lalu membayar uang pendaftaran sebesar 29 euro. Uang pendaftaran ini tergantung perusahaannya, misalnya car 2 go biaya daftarnya hanya 19 euro, Cambio 30 euro, dsb.

Setelah mendaftar, mereka akan memberikan chip kecil yang ditempel di Surat Ijin Mengemudi tersebut, yang juga berfungsi untuk membuka dan menjalankan mobil. Jadi kita tak perlu kunci mobil. Oh ya, cara kerja chip tersebut juga unik, jadi kita hanya perlu mendekatkan ujung chip dengan logo car sharing yang biasanya ada di pojok kanan kaca mobil depan. Di bawah logo Drive Now, ada tiga logo: oranye, gambar jam pasir dan lambang senyum. Ujung chip didekatkan ke lampu kecil berwarna oranye itu hingga lampunya berubah jadi hijau. Setelah hijau, lambang smiley itu pun akan menyala dan tersenyum, lalu mobil sudah bisa dibuka. Begitu pun untuk mengoperasikannya, logo Drive Now itu ditempelkan di dekat kemudi dan berfungsi sebagai kontak mobil.

Setelah selesai, kita pun harus kembali menempelkan chip kecil itu ke logo Drive Now, yang menandakan, kita sudah selesai pinjam mobil itu, dan hitungan per menitnya sudah terkalkulasi.


Bayarnya gimana?
Saat daftar, otomatis semua data pribadi dan data bank kita juga ikut terdaftar, kalau kita pakai mobil itu, tiap menit pemakaian akan dikenakan biaya. Misalnya untuk Drive Now, tiap menit bayarnya 31 sen saja. Murah banget. Lalu dari chip tempelan di SIM itu, perusahaan bisa melacak orang ini memakai mobl berapa menit dalam sebulan, yang kemudian akan menarik uang dari rekening bank kita secara otomatis, bisa juga kita membayar per bulan sesuai tagihan yang dikirim perusahaan car sharing ini.

Boleh nggak dibawa ke luar kota?
Car sharing ini sebenarnya dikhususkan untuk dalam kota saja, misalnya kereta api lagi telat, sedang tergesa-gesa ke rumah teman, atau ingin berpergian dari A ke B yang lokasinya nggak ada Bus atau pun Kereta api lewat, dsb.  Bukan berarti kita nggak boleh membawanya ke luar kota, namun jarak tempuh luar kota yang ber-jam jam bisa merugikan kita sendiri.  Meskipun demikian ada juga kok yang meminjam car sharing ini untuk dibawa ke luar kota bahkan ke luar negeri.

Uniknya lagi, untuk menemukan mobil yang bisa dipakai kapan saja ini, kita nggak perlu sibuk mencari sepanjang jalan. Cukup dari rumah.

Lewat aplikasi tersebut, kita bisa mengecek, mobil-mobil itu ada di mana, bensinnya full atau kosong, dekat atau jauh dari lokasi kita berada, dsb.

Mobil milik umum ini akan banyak sekali kita jumpai di kota-kota besar seperti München, Hamburg, Frankfurt am Main, Köln. Kalau kita punya chip itu, bisa langsung pakai.

Enaknya pakai car sharing ini, kita bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain, tanpa harus menunggu bus atau kereta api, murah kalau dipakainya hanya di dalam kota, praktis dan nggak ribet daftar berkali-kali, tak perlu membeli bensin, tak perlu bayar parkir, dsb.

Kalau kecelakaan bagaimana? Car sharing ini pastinya sudah punya asuransi mobil, kalau kecelakaan fatal, kita tak harus menanggung biaya keseluruhan, tapi hanya sebagian dan tak sampai ribuan Euro. Misalnya Drive Now, kita hanya harus membayar 750 euro untuk mengganti kerusakaan akibat kecelakaan.

Aku sempat berpikir, kalau sistem mobil milik bersama ini diterapkan di Indonesia, waduh angkot jadi nggak laku. Gojek saja sudah di demo di Malang, apalagi car sharing. Dan lagi, masih banyak oknum yang curang di Indonesia, yang bisa saja ngakali biar bisa pakai mobil gratis atau lebih murah, di mana di Jerman nggak ada oknum seperti itu. Orang Jerman adalah orang yang fair dan bertanggung jawab, mereka akan membayar sesuai tarif dan kesepakatan bersama.

Mobil milik umum ini nggak bisa dicuri dan nggak bisa hilang, loh! Ya iyalah, kan kemana pun mobil ini berkendara dan terparkir, akan langsung otomatis terkontrol dan masuk ke applikasi yang bisa dilacak nggak hanya perusahaan, tapi semua orang yang punya aplikasi di smartphone mereka.


Semoga informasi tentang mobil milik umum di Jerman ini menambah pengetahuan kita tentang transportasi umum di Jerman.

Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya

Baca juga: mengapa harga iphone lebih murah di Jerman?

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)

Viele Grüße

Sunday, April 9, 2017

Permainan Tradisional Jawa di Jerman



Beberapa tahun lalu aku pernah cerita bahwa di tengah-tengah pesta ulang tahun seorang teman, aku bermain kempyeng (tutup botol). Saat itu aku memang sedang bingung dan kesepian di antara orang-orang Jerman. Tak kusangka, ada beberapa orang yang melihatku bermain, ikut mencoba yang kemudian diikuti hampir kedua puluh orang Jerman, orang Texas, Meksiko, dan orang Inggris yang ada di pesta itu. Semua berusaha keras membolak balik tutup botol itu dari telapak tangan ke telungkup tangan mereka dengan cara yang ku ajarkan. Hingga beberapa hari kemudian aku betemu lagi dengan salah seorang dari mereka, yang minta ajarin main kempyeng itu lagi. Aku yang sejak kecil sudah biasa main ini, tentu saja tidak menyangka bahwa permainan tradisional Jawa ini menarik perhatian para bule, lebih mengherankan menyadari bahwa ternyata bermain kempyeng tak semudah yang aku bayangkan. Seorang gadis Jerman yang aku temui lagi kala itu menuturkan bahwa dia berlatih selama 3 hari setelah pulang dari pesta itu untuk bisa membolak balikkan tutup botol seperti yang aku ajarkan. Di pesta tersebut, aku yang awalnya bete karena nggak ada teman ngobrol jadi pusat perhatian karena semua datang kepadaku minta ajarin main kempyeng.

Saat kerinduan kepada kampung halaman dan masa kecil melanda, aku sering bermain permainan ini. Karena sekarang teman terdekatku adalah Tobi (pacarku), dia yang selalu ikut bermain dan mengumpulkan poin sampai 100 lalu gang aspel. Bersama Amaliya aku pun pernah dikalahkan saat bermain kempyeng.

Suatu kali saat teman Tobi datang berkunjung, kami main kempyeng bertiga. Mereka terlihat antusias sekali ingin bisa. Tobi sendiri sekarang sudah mahir melentik lentikkan jempol dan telunjuknya untuk bermain kempyeng. Harus aku akui, orang Jerman cukup bersungguh-sungguh juga dalam belajar sesuatu meskipun permainan ini kelihatan sepele. Dia sempat menang dengan skor tipis 102-97 minggu lalu melawanku. 


Foto di atas adalah kiriman dari Tobi yang saat ini sedang pulang kampung untuk mengunjungi teman geng SMA nya. Tak kusangka Tobi mengajari mereka maen kempyeng juga. Wkkkkkk

Aku trenyuh sekali saat dia bercerita saat tangan temannya sampai terluka karena saat berusaha menangkap kempyeng, dia menggenggamnya terlalu kuat.

Lalu bagaimana dengan anak-anak Indonesia, terutama anak Jawa sekarang ini? masihkah mereka menikmati masa kecilnya seperti diriku menikmati masa kecilku bermain kempyeng, bekel, loncat tali, dsb?

You have no idea banyak sekali orang asing yang justru tertarik dengan keunikan budaya Indonesia, kalau kalian mencoba membuka mata dan pikiran, lalu mencari tahu, banyak sekali video yang mempertontonkan para bule belajar wayang, gamelan, alat musik tradisional. Di Hamburg sendiri, grup gamelan terdiri dari orang dari berbagai manca negara (Indonesia, Jepang, Jerman, Swiss, Australia).

Lha kok, di Jawa, wayang malah dicekal nggak boleh dimainkan?. Merenunglah, banyak sekali kawan-kawan kalian yang berada di luar negeri mati-matian mempopulerkan budaya nasional kita, yang di Indonesia kok malah seperti ini? Kalau sudah diklaim sama tetangga, baru teriak-teriak.... Indonesia...oh....Indonesia....
 Viele Grüße

Rincian Biaya Hidup Paling Irit di Jerman



Sebuah pertanyaan dari teman membuatku menulis tentang biaya hidup di Jerman. Seperti di Indonesia, di Jerman biaya hidup juga tergantung dari daerah tempat tinggal kita. Ada kota dengan biaya hidup murah, tak jarang juga kota (terutama kota besar) yang mematok harga kebutuhan pokok lumayan tinggi.

Pernah kubaca bahwa München adalah salah satu kota dengan biaya hidup paling tinggi di dunia. Tapi dibandingkan Oslo dan Zurich, harga pangan di München masih terbilang murah. Mungkin seperti banyak orang Indonesia lainnya yang menjadi penggemar berat Döner (kebab), aku biasanya mematok harga pangan atau mahal tidaknya sebuah kota dari harga döner setempat. :D . Seperti di Hamburg, Döner dipatok harga 4,50 euro, tapi di Berlin hanya 2,5 atau 3 euro saja. Yang membuatku langsung tahu bahwa biaya kebutuhan hidup di Hamburg lebih mahal daripada di Berlin. :P

Aku kebetulan selalu tinggal di Kota dengan biaya hidup mahal, contohnya München dan Hamburg. Saat di München, aku tak perlu memikirkan soal biaya menyewa apartemen dan makan, karena sudah ditanggung host family. Namun, begitu pindah ke Hamburg dan berjuang seorang diri tinggal di kota yang serba mahal dengan gaji yang amat pas pasan membuatku belajar ngirit seirit-iritnya.

Tahun pertama tinggal di Hamburg. Di sini, aku akan mencoba blak-blakan tentang berapa pemasukan dan pengeluaran perbulan selama aku tinggal di Hamburg di tahun pertama:

Pemasukan:
Gaji FSJ plus uang apartemen : 621 euro

Pengeluaran bulan pertama dan kedua:
Sewa apartemen:         300 euro
Jatah makan per bulan: 80 euro (yang artinya perminggu aku harus belanja maksimal 20 euro)
Jatah kebutuhan selain makan: 20 euro (seperti beli sabun, pembalut, pasta gigi, dsb)
Jatah kebutuhan lain-lain dan tak terduga: 50 euro (seperti pengen makan di resto, beli baju, dsb)

Sisa uang satu bulan: 171 euro

Di bulan kedua, setelah mencari kerja sampingan sebagai babysitter, aku mendapat satu keluarga yang membutuhkan seseorang untuk menjaga anaknya selama 2 jam perminggu, yang artinya aku mendapat uang tambahan 20 euro perminggu (80 euro perbulan).

Sisa uang di bulan kedua dan ketiga: 251 euro

Di bulan ketiga, salah satu temanku mengalihkan pekerjaan babysitter nya padaku karena dia harus pulang ke Indonesia, jadi aku punya 2 keluarga unuk babysitter. Satu keluarga 2 jam perminggu, keluarga yang baru butuh 3 jam per minggu di akhir pekan. Jadi perminggu aku menghasilkan uang tambahan 50 euro, yang artinya perbulan 200 euro (dari kerja sampingan saja).

Sisa uang perbulan mulai bulan ketiga: 371 euro

Terkadang, satu keluarga tersebut menyewaku di akhir pekan untuk ikut berlibur dan menjaga anaknya selama sabtu dan minggu dan aku mendapat gaji 250 euro untuk satu akhir pekan saja.

Aku masih ingat, di bulan ke 6 saat menjadi FSJ, aku bisa menghasilkan 600 euro hanya dari gaji babysitter saja, yang akhirnya aku gunakan untuk membeli laptop dan kamera baru.

Katakanlah aku khilaf dan banyak pengeluaran di satu bulan itu (misalnya ada tamu, atau banyak jajan), paling boros, aku masih bisa menabung sebesar 250 euro perbulan. Kalau dikumpulkan selama aku bekerja menjadi FSJ selama 18 bulan, aku bisa memiliki tabungan sebesar 4500 euro.

Itulah sebabnya, tulisanku tentang 8 cara kuliah di Jerman tanpa uang jaminan 8000 euro menjadi masuk akal.

Nah, sekarang mari kita bahas bagaimana aku bisa bertahan hidup di kota yang serba mahal dengan biaya makan hanya 20 euro per minggu:

Apa yang aku makan?
Nasi:
Beras: satu kilonya 1,89 euro (beras basmati, belinya di Lidl atau Aldi yang murah! Jangan di toko asia)

Satu kilo ini biasanya untuk makan seminggu. Mau yang lebih murah dan praktis? Beli beras dalam sachet (beutel), Harganya cuma 80 sen saja, isinya 8 sachet, bisa untuk makan 16 kali.

Aku kebetulan suka sekali makan dan masak. Juga berinovasi membuat masakan. Aku membuat sambal bajak sendiri ketimbang beli di toko asia yang mahal, atau di toko Jerman yang rasanya cuma asam doank.

Untuk membeli sayur, buah dan daging, aku beli di toko Turki Steindamm. Di sana, satu kilo sayap ayam kesukaanku dibandrol dengan harga 3 euro (sedangkan di discounter sekitar 5 euro). Selain daging, buah dan sayur juga bisa dibeli bijian, dan murah sekaleee.

Yang bikin mahal paling kalau belanja bumbu asia di toko Indonesia atau toko Asia, tapi itu pun nggak aku beli setiap minggu. Beli sekali bisa dipakai sampai 6 bulan (seperti saus tiram, kecap, saos, dsb).

Karena makan adalah salah satu passion ku, aku sebenarnya rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk makan makanan enak. Salah satunya pergi ke restoran. Kalau aku ingin pergi ke Restoran, aku cek penawaran diskon di Groupon, biasanya ada penawaran hingga 50% dari restoran yang baru buka, lalu aku pergi ke sana.

Kemudian untuk kebutuhan membeli barang-barang seperti alat masak, lemari, selimut, aku sudah dapat dari pemberi sewa, jadi 300 euro itu uang sewa bersih yang aku keluarkan.

Sebenarnya, kalau dibilang biaya hidup mahal itu tergantung bagaimana cara kita mengatur keuangan. Kalau nggak bisa masak, beli saja makanan instan. Atau kalau mau lebih hemat lagi, masak makanan Eropa seperti pasta, pizza, kentang goreng. Tinggal beliin cabe biar pedas (kalau suka pedas).

Untuk mengatur pengeluaran di kebutuhan lain-lain, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak membeli baju, tas, sepatu yang bermerek. Trik andalanku, aku beli ke pasar loak di mana penjualnya menjual barang-barang mereka sendiri yang sudah bosan dipakai dengan harga yang sangat murah. Kalau beruntung, aku bisa mendapat jaket Zara atau Mango dengan harga 4 euro saja.

Selain itu, banyak alternatif lain yang bisa dicoba seperti berburu barang yang dihibahkan di ebay kleinanzeigen, lalu join di grup facebook: free your stuff Hamburg,  di mana orang-orang suka menghibahkan barang-barang mereka dan kita bisa mendapat barang-barang bagus, seperti tupperware, gelas, panci, secara cuma-cuma (cek juga free your stuff di kota lain).

Untuk mendapat gaji tambahan saat FSJ ini, kalian bisa mencoba peruntungan di betreut.de (banyak temanku yang berhasil, sayangnya aku tidak, hehe). Aku dapat keluarga pertama itu dari internations.org (di forum pencari kerja). Ada banyak cara untuk mendapatkan kerja sampingan ini. Tambah kenalan, jangan menutup diri dari orang Indonesia (mereka juga sumber rejeki), tanya dan cerita ke kolega. Atau pasang iklan di ebaykleinanzeigen seperti yang aku lakukan. Kalau mau tahu tipsnya, baca:

Cara mendapatkan nebenjob di ebaykleinanzeigen

Nah, semoga informasi yang aku tulis ini bisa memotivasi kalian yang mungkin saat ini ingin hidup, tinggal, belajar, atau bahkan sudah menetap di Jerman.

Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya ya...

Viele Grüße


Friday, April 7, 2017

Ratzeburg: Biergarten di Sekitar Hamburg

Budaya München tak bisa terlepas dari budaya minum bir orang-orangnya. Bahkan daerah Bavaria, khususnya München terkenal dengan produsen pembuatan bir lokalnya. Tak heran kalau kita banyak menemui Biergarten di daerah Bavaria.

Biergarten adalah salah satu tempat nongkrongnya orang-orang Jerman. Dari namanya, sudah bisa ditebak Bier dari kata Bir, Garten dari kata taman, Bier Garten artinya Taman Bir :D. Biergarten akan banyak sekali kita jumpai di München dan sekitarnya. Namun semakin ke atas (Jerman Utara), akan semakin jarang ada biergarten, karena budaya minum bier yang ekstrim itu adanya di München. Untuk sarapan saja, mereka bisa loh minum bir. Busyeet.

Baca juga: 10 Alasan orang Jerman membenci Bayern

Aku sendiri tak suka minum bir, tapi sangat suka ke Biergarten. Dulu saat di München, aku sempat mampir ke Biergarten paling mahal, namanya Hofbräuhaus (baca: hofbroihaus), demi apa? Demi liat gimana suasana di dalamnya. Saat di sana, aku pesan coca cola dan ayam goreng. Tak hanya di Hofbräuhaus, saat di München, aku sering sekali diajak gf atau pacar (yang sekarang sudah jadi mantan) untuk makan di Biergarten. Yang paling aku suka, dari bier garten ini adalah penyajian makanannya yang warna warni, dan selalu nampak wow sekali untuk difoto wkkk. Meskipun judulnya taman bir, di Birgarten ini kita tak harus pesan bir, tapi bisa juga pesan yang lain, seperti coca cola, radler. Minuman hangat seperti susu coklat, kopi, dsb itu jarang ada sayangnya (mungkin ada di beberapa Biergarten tapi nggak semuanya).

Nah, karena sudah lama nggak ke München, lama-lama kangen juga dengan Biergarten. Tahun lalu, aku dan Tobi sempat menemukan Biergarten di kawasan Ratzeburg (sekitar 53 km dari Hamburg). Beberapa minggu yang lalu, kami ke sana lagi untuk menyambut musim semi dengan menikmati pemandangan danau Ratzeburg yang indah dan mampir ke Biergarten lagi.

Kalau kalian kebetulan di Hamburg, untuk mencapai Ratzeburg, kalian bisa ke Hbf lalu mengambil RE (Regional Bahn) jurusan Lübeck atau Rostock lalu turun di stasiun Büchen. Dari sana, akan ada RE lagi jurusan Kiel (kali ini RE nya lebih kecil, cuma dua gerbong saja). Turun saja di Ratzeburg. Dari stasiun menuju danau bisa jalan kaki sekitar 20 menit. Tanya orang saja kalau bingung arahnya. :)


Danau Ratzeburg



Sama seperti akhir Maret tahun lalu, tahun ini kami juga menjumpai banyak pengendara motor besar di Ratzeburg ini

Tobi menikmati matahari, kebiasaan orang Jerman yang kalau ketemu matahari seperti ketemu harta karun :D

Pemandangan seperti di pesisir Indonesia ini wajib aku abadikan, hehe

Matjesfille, ikan matjes mentah dengan saus yogurt dan kentang. Aku menyesal sekali pesan ini di Bier Garten, karena ekspetasiku awalnya ikannya digoreng, nggak taunya mentah. Huaaaa,,,

Ini foto dari tahun lalu, aku udah lupa pesan apa waktu itu, tapi ikannya digoreng, nggak mentah... kalau nggak salah ikan Schorle goreng,,,Enak banget sayang nggak ada sambel dabu-dabu (waaah ngimpi)

Pemandangan tepi danau

Sebenarnya, aku pertama kali ke sini saat seminar tahun 2014, aku harus bercapek-capek ria mengelilingi tepian danau dengan kereta manual, lalu sepeda, dan kembali ke kota dengan mengayuh perahu. Sampai sekarang, program 3Muskel Tour itu pun masih ada di Ratzeburg. Bagi yang suka danau dan alam, Ratzeburg bisa jadi alternativ kunjungan. 

 Baca juga

München, Dachau dan kepahitan Orang Jerman

Viele Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers