Wednesday, March 1, 2017

Perawatan Kesehatan Gigi di Jerman

Dokter gigi terbilang mahal di Jerman. Meskipun demikian, pihak asuransi mengcover biaya kontrol tiap 6 bulan sekali ke dokter gigi. Saat di Indonesia, untuk membersihkan karang gigi di puskesmas, aku harus membayar 40 ribu. Di Jerman, aku beruntung berkenalan dengan seorang dokter gigi yang baik. Beliau melihat gigiku sudah banyak berlubang, dan berkarang. Sebelumnya, aku sering sebal kalau sakit gigi, karena hidup jadi kacau, makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.

Dokter gigiku tersebut pertama-tama merontgen tulang rahang dan bagian gigiku lalu menambal sementara gigiku yang berlubang, aku harus datang beberapa kali karena kanan kiri berlubang. Kemudian, beliau menemukan bahwa aku punya gigi bungsu tumbuh di belakang gigi geraham yang harus dicabut. Tak main-main, jumlahnya empat. Kanan atas bawah, kiri atas bawah. Semua harus dicabut, saran beliau. Wisdom teeth atau gigi bungsu tumbuh ini bukan gigi geraham, melainkan gigi tambahan yang tumbuh di masa remaja menginjak dewasa (di usia sekitar 18-30 tahun). Kalau tidak dicabut, gigi-gigi tersebut akan memaksakan diri keluar gusi, mengganggu gigi geraham bahkan menjadi sarang bakteri yang akan merusak gigi geraham. Selain itu, dari yang aku baca dan info dari dokter gigi di Jerman, gigi bungsu ini juga mempengaruhi metabolisme tubuh dan kesehatan jantung.

Mencabut gigi tersebut bukan dilakukan oleh dokter gigi, melainkan atas rujukan beliau, dilimpahkan ke Chirurgi yakni ahli bedah mulut. Satu gigi bungsu tersebut nyempil ke dalam hingga hampir tersalur ke arah saluran pernafasan. Operasi pencabutan satu gigi saja memakan waktu 45 menit. Akhirnya, aku harus kembali satu bulan berikutnya untuk mencabut gigi kedua. Dua bulan berikutnya, gigi bungsu tersebut dicabut 2 sekaligus. Dalam waktu 4 bulan, aku operasi pencabutan gigi 3 kali. Saat itu, aku masih bekerja di yayasan penyandang cacat dan mengambil cuti masing-masing 10 hari setelah operasi. Rekan kerjaku bilang, "Kamu harus segera mencabut gigi bungsu tersebut, sudah jangan memikirkan pekerjaan, ambil cuti sakit."

Aku sempat mencari tahu berapa biayanya kalau kita melakukannya di dokter gigi Indonesia? Satu gigi saja yang dicabut, kita harus bayar 850 ribu. Tapi di Jerman, karena pencabutan gigi tumbuh tersebut bertujuan demi kesehatan, maka aku tak mengeluarkan sepeser pun.

Setelah bebas dari gigi tumbuh, dokter gigiku mulai menangani gigiku yang bolong-bolong. Dokter menyarankan agar aku menambal gigiku dengan tambal krone (crown), yakni tambalan gigi yang warnannya mirip dengan gigi, dari porselen, lebih awet, tapi mahal. Pihak asuransi akan membayar penuh kalau gigiku ditambal dengan silver, tapi kalau tersenyum akan terlihat perak dan tidak indah.

Banyak dokter gigi di Jerman yang masih mengambil keuntungan dari pasiennya dengan menyarankan mereka ini itu, profesional reinigung misalnya, yakni pembersihan menyeluruh bagian-bagian gigi yang pihak asuransi tidak mengcovernya, atau tambal gigi yang mahal sekali.

Dokter gigiku tersebut untungnya orang baik. Asisten beliau yang juga saudara dari dokter gigi tersebut pernah mengunjungi adik mereka di Jakarta. Asisten yang ramah tersebut menuturkan pengalamannya mengunjungi klinik umum dokter gigi dan sangat prihatin dengan alat-alat kesehatan yang katanya masih belum mumpuni serta kurang hieginis. Mereka rupanya kasihan melihatku dan membantuku untuk meminta pihak asuransi memberi pengecualian untuk tambal gigi dengan keramik tapi membayar dengan biaya minim.

Akhirnya, pihak asuransi pun menyetujuinya. Kedua gigiku yang bolong ditambal dengan keramik yang satu gigi saja biayanya 600 euro (10 jutaan). Dari 20 juta yang harus aku bayar, asuransi hanya memintaku membayar 183 euro (sekitar 2 juta), sisanya ditanggung asuransi. Gigi tersebut akan bertahan hingga 25 tahun kedepan lamanya.

Sekarang, aku hampir tidak mempunyai masalah dengan gigi dan rongga mulut. Selain itu, aku juga sangat memanfaatkan fasilitas asuransi kesehatan di Jerman, karena tak mau rugi, hehhee. Tiap 6 bulan sekali, selain ke dokter gigi, aku juga rutin pergi ke Ginekologi atau ahli kesehatan wanita, mengecek kanker payudara dan kesehatan kewanitaan serta papsmear. Semuanya ditanggung pihak asuransi. Selain itu, Aku juga sempat check up kesehatan menyeluruh di radiologi untuk kanker dan penyakit dalam lainnya dengan rujukan dari dokter.

Aku selalu berharap agar suatu saat di Indonesia, BPJS bisa semakin terorganisir dengan baik dan maksimal, agar pelayanan kesehatan bisa dirasakan menyeluruh bukan untuk kalangan yang punya uang saja, tapi juga rakyat miskin juga.

Jangan lewatkan artikel menarik seputar asuransi kesehatan di Jerman 
dan gejala winter depressi di Jerman

Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya,,,

Viele Grüße
Location: Indonesia

10 comments:

  1. Entah kenapa aku takut sama dokter gigi ya hahahah.
    Pernahs akit gigi sih sebenarnya.

    ReplyDelete
  2. Yang saya pernah dengar dari cerita dosen yang pernah tinggal di Jerman, biaya ke dokter gigi di Jerman cukup mahal ya (bukan dibandingkan dengan rupiah ya). Enak ya kalau punya kenalan yang mau menolong, jadi bisa mengurangi biaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhhaha tpi syangnya di Jerman, knalan ga bisa mnolong,,, saat itu cuma kbetulan tampangku yg kasihan ini mmbuat mreka mnolong :D

      Delete
  3. Ya ampun, murahnya ya Mbak bisa ditanggung banyak gitu ma asuransi. Mau dong periksa gigi di sana. Secera gigiku juga banyak yg nggak sehat. Di sini mihil, kadang nggak tertanggung bpjs juga.

    ReplyDelete
  4. Ya ampun mbak, lengkap banget bisa cek ini-itu? Jadi ngiri deh aku, huhuhu...

    ReplyDelete
  5. Uwowwww... Segitu mahalnya tambal gigi rin??? Kalo ngomongin askes indonesia mah.. G ada apa2nya d banding dsna. Aku paling rajin control. Bhkn pas kuliah s1 dl prn tiap mau presentasi deg2annya g kyk biasanya.. Jd aq periksa jantung. Dg rujukan APS (atas permintaan sendri) dan bayarnya Ya Allah.. Tp akhirnya d tolong org RS, dganti pke askes. Apa salahnya kn kontrol. Oh god! Aq tiap bulan jg bayar askes. Skrg dsni tambal gigi keramik d klinik swasta 200rb. Dsna kok 10jt Ya Allah.. Beruntunglah kau dsana riiin.. Asuransi yg sangat membantu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun,, kamu periksa jantung di radiologi kudu bayar? OMG,,,padahal kamu juga bayar askes....hiks...

      Delete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers