Sunday, March 19, 2017

Kuliah di Jerman: Gratis Tapi Mahal

gambar di ambil di: Eibsee, Garmisch Partenkirchen, Bayern, Jerman

Sudah sering aku singgung sebelumnya, bahwa kuliah di Jerman dari jenjang TK sampai perguruan tinggi terbilang gratis. Memang banyak universitas dan sekolah yang memungut biaya per semester, tapi sebagian besar sudah gratis. Kalaupun bayar, pihak Universitas tidak memungut biaya semahal di negara lain. Kita harus membayar biaya kuliah dan transportasi selama 6 bulan 300 euro misalnya (sedangkan di Belanda, biaya kuliah master bisa mencapai ribuan Euro).

Ada yang bertanya, bagaimana kuliah di Jerman yang murah itu? Mungkin pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa berkuliah di Jerman dengan harga terjangkau?

Baca: 8 Cara Kuliah di Jerman tanpa beasiswa dan tanpa jaminan 8000 euro

Kuliah di Jerman memang terbilang gratis. Fasilitas kampus pun sangat mendukung. Karena aku kuliah di Universitas Hamburg, maka aku akan berbagi info dan tips seputar kuliah di Hamburg.

Di Universitas Hamburg misalnya, selain fasilitas laboratorioum, gedung perkuliahan, dan perpustakaan yang sangat memadai, kita yang kuliah di sini juga diberi kesempatan kursus bahasa asing gratis. Misalnya aku ingin belajar bahasa Spanyol, aku bisa daftar kursus Bahasa Spanyol di kampus. Begitu pula bahasa Jerman, Inggris, Cina Mandarin, Arab, dan masih banyak lagi. Tapi kalau pemula, kita disuruh bayar 30 euro per semester untuk belajar dasar-dasarnya (masih terbilang sangat murah, karena kalau kursus di luar kampus, paling tidak kita harus membayar 3-5 kali lipatnya).

Meskipun berbagai fasilitas diberikan, kuliah di Jerman itu bisa dibilang sangat berat. Memang perkuliahannya gratis, tapi biaya hidupnya mahal. Aku menyaksikan sendiri perjuangan teman-teman kakak tingkat maupun teman seangkatan yang benar-benar membuat aku salut. Mereka yang (meskipun punya jaminan uang 8000 euro), yang hidupnya di Indonesia serba berkecukupan, harus rela tinggal di apartemen sempit, kerja sebagai tukang bersih-bersih dan babysitter.

Kalau aku, karena aku memang dari SD sudah terbiasa hidup tak mampu. Bahkan saat SD dan SMP tiap pulang sekolah, aku keliling kampung dan warung-warung untuk menjajakan gorengan serta kacang goreng, jadi sudah sangat terbiasa hidup susah. Bahkan menurutku, hidup di Jerman jauh lebih enak, tenaga lebih dihargai ketimbang saat aku kerja di Indonesia.

Tapi teman-teman yang aku kenal di Jerman, mereka yang (aku tahu) anak pejabat, raja minyak 😅, pengusaha kaya raya, rela menjadi buruh sortir di pabrik demi bertahan hidup dan melatih kemandirian serta jiwa sosial mereka.

Mengapa mereka seperti itu? Padahal kuliah di Jerman kan gratis? Berikut beberapa alasannya:

1. Akomodasi Mahal

Memang kuliah bisa dibilang gratis, tapi biaya hidup di Jerman bisa 10-20 kali lipat dibandingkan biaya hidup di Indonesia (khususnya bukan di Ibu kota dan kota besar lainnya di Indonesia). Harga kamar yang aku sewa saat ini PERBULAN adalah harga sewa rumah paman dan bibiku PERTAHUN (di Batu). Tapi bukan berarti orang Indonesia tidak bisa menyiasatinya. Mereka biasanya tinggal satu apartemen bertiga atau berempat, dan biaya kamarnya dibagi agar lebih murah. Alternatif lain adalah tinggal di Wohngemeinschaft (baca: WG ) bersama orang Jerman atau tinggal di Studentwohngemeinschaft (baca aja SWG ah, 😀). Problem utama tinggal bergerombol seperti ini adalah:

a. Salah satu atau dua dari mereka nggak bisa anmelden (terdaftar) di kantor imigrasi, mereka harus nyari kenalan yang bisa dimintai tolong alamatnya dipinjam untuk daftar.

b. Harus rela diusir kalau ketahuan. Di Jerman, pemerintah sudah memberi standart tempat tinggal. Kalau kita single, kita bisa tinggal di apartemen dengan satu kamar. Tapi kalau menikah dan punya anak, mau nggak mau kita harus pindah ke apartemen atau rumah yang lebih besar demi kenyamanan anak-anak dan keluarga.

Begitu pula dengan hidup serta tinggal bergerombol. Di Indonesia, tak masalah ada berapa orang di dalam satu rumah atau keluarga, tak ada masalah memasukkan berapa kepala ke sebuah kos putri. Di Jerman, pemerintah  melihat secara detail, berapa kamar di sebuah apartemen, berapa yang tinggal di sana, berapa harga sewa, dan sedetail-detailnya, apakah layak ditempati 2-4 orang, jangan sampai satu orang tidur di sofa ruang tamu dan tidak punya kamar, jangan sampai orang-orang tidur seperti pepes di satu kamar, dsb. Kalau pemilik apartemen sampai tahu satu apartemen yang harusnya diisi 2 orang jadi diisi 4 orang, kita bisa diusir. Dan kejadian ini menimpa beberapa teman juga.

2. Ingin bantu orang tua

Saat tinggal di Indonesia, aku sering menjumpai kesenjangan sosial di masyarakat. Misalnya aku yang berasal dari keluarga penjual jamu ini berteman dengan temanku yang ayahnya pemilik sorum mobil. Tentu saja saat kita jalan bareng, aku akan terlihat lebih 'gembel' daripada dia yang dari ujung rambut ke ujung kaki terawat, lalu hp, gadget yang dipakai, dsb.

Di Jerman, kesenjangan itu, meskipun ada, tapi sudah tipis sekali terlihat, orang yang bekerja sebagai buruh pabrik, atau tukang bersih-bersih juga punya gadget yang sama mahal, bisa merawat diri di salon seperti orang kaya juga. 

Begitupun anak Indonesia yang di Indonesia terlahir beruntung di keluarga mampu, kaya, berkecukupan, di Jerman, mereka harus rela jadi 'gembel' juga. Dari sana, mereka akan terlatih mentalnya untuk hidup mandiri, bekerja, membanting tulang dan punya tekat membantu meringankan beban keluarga karena mereka sadar bahwa hidup di Jerman itu tidak murah. 

Seperti sebelumnya, mahal bukan berarti tanpa solusi. Buktinya, banyak yang bisa bertahan hidup, kuliah sambil kerja di Jerman. Kita bisa menyiasatinya dengan:

1. Cari Universitas di kota dengan biaya hidup murah. Tinggal di kota kecil ada keuntungan dan kerugiannya juga. Di kota kecil memang biaya hidup murah, tapi lowongan kerja lebih sedikit ketimbang kota besar.

2. Tinggal di kota kecil, saat liburan semester, jari kerja sambilan di kota besar. Untuk hal ini, kalian harus rela repot-repot nyari dan pindah atau atau menyewakan kamar selagi kerja di luar kota. Seorang teman ada yang melakukan trik ini juga.

3. Hemat makan
Kalau makan bukan passion kalian, bisa makan apa saja, termasuk makanan Eropa, kalian termasuk beruntung sekali. Karena makanan Eropa seperti kentang, roti, pasta memang murah dan mudah didapatkan di Jerman.

4. Travelling hemat
Kalau sudah tinggal di Jerman tapi tak menyempatkan diri jalan-jalan ke negara-negara tetangga? Wah rugi banget. Travelling di Eropa bisa juga murah, tergantung kita menyiasatinya. Saat travelling keliling Eropa musim panas 2014 lalu, aku menggunakan Couchsurfing. 

5. Pintar-pintar spekulasi
Hidup di negara atau kota yang mahal, syarat dengan kehidupan yang keras. Untuk itu, kita harus pandai-pandai spekulasi. Termasuk dalam hal keuangan dan kuliah juga. Pandai mengatur jadwal dan rajin menyelesaikan tugas tepat waktu. Jangan sampai kita sudah terlanjur masuk kuliah, lalu molor, keenakan bekerja dan lupa tugas. Semua harus seimbang, ingat apa tujuan utama ke Jerman. 

Demikian sharing kita kali ini tentang kuliah di Jerman yang gratis, tapi mahal juga serta cara-cara menyiasatinya. Kalau teman-teman punya ide, pertanyaan, saran, tambahan serta kritik, aku akan dengan senang hati menambahkannya di artikel ini, atau menuliskannya di rubrik selanjutnya. 


Viele Grüße

14 comments:

  1. Thanks ia sharing nya, sangat bermanfaat nih ...

    ReplyDelete
  2. Waw, intinya selalu ada solusi ya Mbak. Hihihi, bahasamu tu bikin mata nggak minggir dari blog ini deh. Suka sekali gaya bahasanya, nggak ngebosenin. Passion di makanan? kalo aku sih yang penting ada ijo2 alias urap udah mencukupi :D tengkyu sharingnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhahah,,,kalau aku sih yang penting ada sambal... :)

      Delete
  3. Ternyata keras juga tinggal di jerman baru tahu saya

    ReplyDelete
  4. Setiap ada niat, pasti ada jalannya mbak. Semangat :-)

    ReplyDelete
  5. ternyata begitu ya, waktu saya kuliah dulu, sempet liat2 pameran pendidikan di Jerman, sempet tertarik :) Dulu itu Jerman suka ngadain pameran pendidikan yg berbeasiswa. tapi entah sekarang

    ReplyDelete
  6. begitu ya pengalaman hiduop yang berbeda dengan tempat yg beda pula

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers