Friday, March 31, 2017

Teufelsmauer: Tembok Setan di Harz


Hari minggu dengan cuaca buruk memang paling enak dihabiskan di rumah sambil membaca buku atau makan sup pedas. Tapi akhir pekan kali ini, aku dan Tobi nekat keluar kota. Setelah puas mengunjungi desa yang di sana serasa berada di zaman ratusan tahun yang lalu, kemudian naik gondola ke tebing temmpat nenek sihir menari, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Tapi masih ada satu destinasi lagi yang ingin aku kunjungi, tembok setan.

Baca juga:  Stolberg: Traveling ke ratusan tahun yang lalu 
Harz: Perjalanan Tak terduga ke tebing nenek sihir

Dari katanya: Teufelsmauer (baca: toifelsmaua(r)), Teufel (toifel) yang artinya setan, lalu Mauer (maua(r)) yang artinya tembok, nggak salah donk kalau aku artikan kawasan ini menjadi kawasan tembok setan. :)

Letaknya di Blankenburg, masih satu wilayah di Harz, Sachsen-Anhalt. Layaknya legenda yang menyertai candi-candi dan sebagian besar tempat di Indonesia, rupanya ada juga legenda yang menyertai terciptanya tembok setan ini, dari banyak versi, ada satu yang menarik perhatianku, yang mirip dengan kisah candi prambanan.

Konon katanya, saat Tuhan menurunkan setan ke muka bumi, dia disuruh membuat sebuah tembok batasan untuk menandai daerah kekuasaannya. Untuk membangun tembok itu, si setan hanya diberi waktu satu malam saja, yakni sejak matahari tenggelam sampai ayam berkokok. Di malam pembangunan tembok tersebut, rupanya ada seorang nenek yang hendak membawa ayam peliharaannya untuk dijual ke pasar malam. Nenek tersebut melewati daerah setan membangun temboknya. Karena malam gelap gulita, sang nenek pun tersandung batu dan ayam yang dibawanya semburat keluar, gaduh dan berkokok. Menyadari bahwa ada ayam berkokok, si setan pun menyerah dan membiarkan temboknya begitu saja karena mengira malam sudah berakhir, sehingga kalau kita melihat tembok ini, akan nampak seperti tebing tebing yang disusun memanjang dan belum jadi. (sumber: Harzlife)

Tembok ini berjajar sekitar 20 km dari daerah Hallenstedt ke Blankenburg. Karena kami datang dari Blankenburg, kami bisa melihat bagian dari tembok itu sepanjang daerah Blankenburg.

Gerbang tembok setan di Blankenburg

kami harus naik bukit dan melewati jalanan seperti ini

Tembok pertama yang kami lihat, namanya Großvater (kakek), jadi aku namain saja tembok kakek, aku juga bingung kenapa namanya seperti itu

Kami naik ke atas tebing tersebut, untungnya ada semacam pegangan untuk memudahkan kami. Tapi tetap harus ekstra hati-hati karena bebatuan terjal itu agak licin setelah hujan seharian ini


tembok kedua setelah kami turun dari tembok kakek, tembok yang agak hijau, mungkin karena lumut dan fungi ini, namanya tembok nenek

jalanan dari tembok kakek ke tembok nenek, nggak tau namanya apa. Apa sebaiknya aku namain tembok paklek saja ya :P

hanya terlihat terjal, tapi sebenarnya aman
menemukan tulisan ini di tembok nenek, yang artinya kurang lebih: Siapapun pahlawan yang berjasa, jika orang-orang tidak menemukan (mengabadikan) apa yang telah diperbuatnya, maka tak akan ada generasi penerus yang tahu bahwa dia adalah seorang pahlawan
Karena membentang sepanjang 20 km, kami tak sanggup menyusurinya sampai akhir, padahal tembok setan yang juga sering dijadikan setting pembuatan film di Jerman ini juga menarik untuk dilihat dari arah kota Hellenstedt atau Quedlinburg.

 penampakan tembok setan ini dari kota Quedlinburg


Akhirnya, setelah capek naik bukit, mendaki tebing, dan mengunjungi tebing curam ini, kami pun kembali ke mobil dan pulang ke Hamburg.

Sampai jumpa lagi di topik menarik berikutnya...

Viele Grüße


Thursday, March 30, 2017

Harz: Perjalanan Tak Terduga Ke Tebing Nenek Sihir dan Tembok Setan



Masih di Harz dengan cuaca yang cukup membuat frustasi, dingin, mendung, hujan, angin. Setelah sarapan, pukul 10.00, waktu setempat, kami segera cabut dari Stolberg.

Baca juga: Stolberg: Traveling ke ratusan tahun yang lalu

Tobi yang bekerja di perusahaan IT tersebut pernah sesekali dinas ke Harz, karena perusahaannya punya cabang di sana. Dia ingin menunjukkan padaku di mana kantor dan hotel tempat dia dinas tahun lalu.

Oh ya, Harz terletak di negara bagian Sachsen-Anhalt yang dulunya Jerman Timur. Bertolak dari Stolberg, kami mengunjungi Thale, yang juga masih di Harz. Setelah naik ke puncak gunung dan turun dari mobil, kulihat ada wahana menarik di sebelah hotel yang harus kami coba. Kereta gantung.

Saat kami datang, hampir tak ada pengunjung yang terlihat naik kereta gantung tersebut, mungkin faktor cuaca buruk

Tobi kaget melihat harga yang ditawarkan untuk naik kereta gantung itu, karena cukup murah, yakni 4 euro saja turun dan naik. Akhirnya kami memilih paket ke tebing nenek sihir juga dengan harga 9,5 euro

Pemandangan dari puncak bukit yang aku ambil saat naik Gondola
Gondola ini ada juga yang terbuka seperti itu, aku pikir rusak, ternyata memang sengaja dibuka untuk mengangkut sepeda, Jadi, roda sepeda yang ingin dinaikkan akan dikaitkan di gantungan belakang gondola.
Setelah sampai bawah, kita berjalan sekitar 200 meter untuk sampai ke gondola yang lain yang membawa kita ke Hexentanzplatz (Baca: heksentansplats), kata ini kalau diterjemahkan menjadi, tempat nenek sihir menari. Konon katanya, ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa di tempat ini, dulunya adalah tempat dimana para penyihir berkumpul dan mengadakan ritual-ritual seperti menari, menyanyi, dsb. Tentu saja banyak orang Jerman yang tak percaya, karena pada dasarnya mereka tak percaya tahayul. Tebing ini sangat tinggi dan curam. Meski demikian, untuk mencapai tebing ini, kita bisa berjalan kaki atau panjat tebing (kalau nggak mau naik gondola).


Kali ini gondola nya benar-benar tertutup rapat, kalau sebelumya hanya bisa ditutup dan dibuka sendiri. Gondola dengan model seperti ini, juga aku jumpai saat di  Zurich, Swiss, dan zugspitze, Bayern. Saat di atas, angin berhembus sangat kencang, sehingga gondola ini terombang-ambing. Mungkin pertimbangan ketinggian di tebing ini, yang membuat gondola ini dipasang khusus dan berbeda dari gondola sebelumnya

Angin mengoyak ngoyak dari atas tebing

Pagar yang dibangun untuk membatasi tebing agar pengunjung bisa lihat ke bawah dan tidak jatuh kalau terpeleset, 

Restoran dan Cafe di puncak tebing

Wahana rumah terbalik juga ada di sini. Sayangnya kami tidak bisa masuk karena wahana ini hanya dibuka pada musim panas.

tebing-tebing curam

ada juga toko souvenir yang menjual boneka-boneka nenek sihir


Hexentanzplatz ini terletak di puncak tebing dan di tengah hutan. Menarik sekali untuk dikunjungi dan tidak seram sama sekali. Dari puncak tebing, kita bisa lihat betapa curamnya di bawah. Saking curamnya, pemandangan bagus seperti di negeri dongeng tersebut tidak bisa tampak dari foto hp yang aku bawa.
hujan rintik-rintik, pemandangan dari dalam gondola

tebing curam yang bisa kita lihat dari kaca gondola
Setelah puas mengelilingi puncak tebing nenek sihir ini, kami pun turun dan kembali dan naik gondola ke puncak tebing yang lain untuk menjemput mobil yang akan membawa kami pulang ke Hamburg. Tapi, di tengah perjalanan, Tobi bilang pernah mengunjungi Tembok setan di Blankenburg (masih di Harz), aku yang penggila tempat-tempat unik ini segera saja membujuknya untuk mengajakku ke sana.

Baca lanjutan ceritanya: Teufelsmauer: Tembok Setan di Harz

Wednesday, March 29, 2017

Stolberg: Traveling ke ratusan tahun yang lalu!!

Aaaahhhh,,, rasanya ingin meluapkan kegembiraanku karena telah bebas dari belenggu tugas akhir semester, sehingga bisa nulis blog lagi. Akan aku tuntaskan dulu daftar yang ingin aku tulis sejak seminggu yang lalu. Dimulai dari liburan rutin akhir pekan 2 minggu yang lalu.

STOLBERG

Kerinduanku pada nuansa Bayern membuat Tobi berinisiatif mengajakku ke sebuah kota kecil di selatan kota Hamburg, Stolberg. Sekitar 4 jam perjalanan dengan mobil, kami tiba di sebuah rumah besar bernuansa klasik, yang ternyata di dalamnya dialih fungsikan sebagai hotel dan restoran. Karena kami datang pada malam hari, hari itu kami tak sempat jalan-jalan lagi. 
Rumah yang juga hotel. Tulisan itu bacanya: Gasthaus Kupfer. Tradisional banget kan? Rumah-rumah bernuansa kayu seperti ini akan banyak kita jumpai di Jerman selatan, dan Tyrol, Austria, sangat tradisional.

Pagi hari, sayang sekali cuaca tidak mendukung, mendung dan gerimis sepanjang pagi. Setelah sarapan, kami yang sudah penasaran dengan keidahan Kota Stolberg pun tak peduli lagi. Payung di tangan, cap cuuusss keluar. 
Sarapan yang disediain hotel, Jerman bangeeettt. Roti, puten salami (sosis ayam), keju paprika, timun, mentega dan jus jeruk. Sarapan ini disediakan secara prasmanan. Harapanku ada nasi pecel gitu. Hihihi

Stolberg terletak di Sachsen-Anhalt. Dulunya wilayah ini merupakan bagian dari Jerman timur yang juga dibatasi oleh tembok (tembok Berlin). Kalau kalian jalan-jalan ke Jerman dan menyempatkan diri ke kota yang dulunya merupakan wilayah Jerman Timur, kalian akan merasakan sekali perbedaan infrastrukturnya. Di Jerman Barat, jalur kendaraan sudah rapi, teratur, canggih, ada Subway, kereta bawah tanah, bus, tram, dsb. Di wilayah Jerman timur, paling ada regional Bahn yang menghubungkan kota tersebut dengan kota lain, bus, dan paling canggih, Straßenbahn (tram), kadang malah tidak ada. Itulah sebabnya sejak penyatuan wilayah Jerman timur dan barat pada tahun 1989, para pekerja wajib menyisihkan sebagian dari gajinya untuk pembangunan di wilayah Jerman Timur (Sumbangan solidaritas namanya). 


Kembali ke Stolberg. Sebenarnya desa kecil yang terletak di kota Harz ini lebih bagus kalau dikunjungi pas musim dingin bersalju. Di Hamburg, kalau orang-orang ingin main salju di pegunungan dan malas turun ke bawah (Bayern, atau Austria), biasanya mereka pergi ke Harz. Daerahnya benar-benar di pegunungan dan mirip sekali dengan jalan ke arah Garmisch atau Allgäu di Bayern, berliku-liku. 

Tulisan Jerman kuno yang juga menjadi ciri khas Bayern. Sampai sekarang, aku masih saja kesulitan membacanya. Huruf yang mirip F itu adalah huruf S. Jadi nama jalan ini dibaca: Niedergasse.


Jalannya juga bebatuan. Jalan yang terletak tepat di gang sebelah hotel ini membawa kita ke puncak bukit, di mana Kastil Stolberg bisa dikunjungi
Mari Berkunjung ke Kastil

Di Dalam Kastil
Kastil yang sudah berumur ratusan tahun ini merupakan kastil di mana Putri Juliana zu- Stolberg Wernigerode dilahirkan. Ratu Juliana dulunya tinggal di Stolberg hingga umur 13 tahun, sebelum akhirnya menikah dengan Pangeran Grafen Philip II dari Hanau Münzenberg pada umur 14 tahun dan mempunyai 5 anak. Sayang sekali 6 tahun setelah pernikahan, sang pangeran meninggal dunia. Dua tahun setelahnya, Juliana menikah lagi dengan Graf Wilhelm dari Nassau Dillenburg dan mempunyai 5 orang putra dan 6 orang putri (wooow produktif sekali ya). Sampai pada akhirnya wafat pada tahun 1580, beliau dikabarkan mempunyai 160 cucu dari ke enam belas anak-anaknya. Dua putra tertuanya dikabarkan menjalin hubungan dengan Ratu dari Belanda, sehingga Juliana juga mempunyai hubungan silsilah keluarga dengan kerajaan Belanda.
ranjang bayi ini merupakan bukti banyaknya anak yang lahir di kastil ini, sedikitnya 50 bayi silih berganti menggunakan ranjang ini. Semuanya keturunan Juliana.

Di Dalam kastil

dari luar kastil

Patung Juliana, yang sama sekali tidak mirip aslinya. Aku pikir patung anak-anak. Hihihi.
Untuk masuk ke dalam museum dan kastil, tidak dipungut biaya, tapi kita bisa menyumbang beberapa euro untuk pemeliharaan kastil. Oh ya, pada tahun 2006, Ratu Juliana berulang tahun ke 500, dan sejak itu Stolberg dinobatkan sebagai Frauenort (kota wanita), mungkin karena sejarah banyaknya anak dan cucu yang dilahirkan dari rahimnya. 

Stolberg meninggalkan kenangan mendalam karena kota kecil ini begitu bersih, indah dan terawat. Mengunjungi Stolbeg serasa kembali ke ratusan tahun yang lalu. Aku sungguh-sungguh takjub dengan arsitektur kuno dan sejarah kota ini. Tinggal di Hamburg yang serba canggih dan modern membuatku serasa berkunjung ke lorong waktu saat berada di Stolberg. Tak ada kereta, mobil pun jarang, bus cuma lewat 12 jam sekali, bayangkan! Padahal di Hamburg, bus datang tiap 5-10 menit sekali. 


Halte bus satu-satunya yang sepi orang

Sungai yang aku suka sekali suara aliran airnya ditambah kicau burung di sekitarnya

Lihat, seperti kota mati, bukan? Sepiiiii mamring, padahal belum hari minggu


Serasa tidak di Jerman lagi melihat jalan bebatuan seperti ini. Hihihi
Aku dan Tobi bertanya-tanya, siapa ya yang tinggal di kota ini, untuk belanja dan isi bensin saja harus nyetir 30 km ke kota. Kami juga mengunjungi danau yang terletak tak jauh dari sana.

Sayang sekali cuaca buruk dan angin membuatku tak begitu menikmati pemandangan danau yang indah ini
Demikian sharing kita kali ini tentang kota kecil Stolberg yag masih tradisional. Semoga aku bisa ke sana lagi pas musim salju. 

Sampai jumpa lagi 

Viele Grüße



Tuesday, March 28, 2017

Jadi FSJ di Jerman: Butuhkah Uang Jaminan?

Pertanyaan-pertanyaan seputar Au Pair dan FSJ sering muncul, termasuk pertanyaan yang satu ini: Apakah kalau kita jadi FSJ di Jerman, butuh uang jaminan 8000 euro seperti kalau kita kuliah?

Jawabannya: Tidak

Karena sebagai sukarelawan di Jerman, kita juga diberi tunjangan dan berbagai fasilitas. Fasilitas finansial yang akan menunjang kehidupan kita di Jerman antara lain:

- Uang saku

Besarnya uang saku tergantung Träger dan Arbeitgeber serta di kota mana kalian bekerja. Misalnya, satu Träger (Internationaler Bund  atau IB) bisa berbeda dalam memberikan gaji kita. Contohnya di Hamburg, IB memberi kita uang saku 400 euro, tapi di München hanya 375 euro. Di Hamburg, kita harus nyari apartemen sendiri, tapi di München dicarikan oleh pihak IB.

- Asuransi Kesehatan

Asuransi Kesehatan di Jerman merupakan hal yang mutlak dipunyai bagi siapapun, baik warga Jerman maupun pendatang. Menjadi sukarelawan atau pekerja sosial di Jerman, kita tidak perlu membayar asuransi kesehatan karena sudah ditanggung pemerintah melalui pihak pemberi kerja.

Baca juga seputar Asuransi Kesehatan di Jerman

- Unterkunft (akomodasi atau tempat tinggal)

Ada instansi yang tidak memberikan akomodasi, sehingga kita harus mencari sendiri. Yang jadi masalah, kalau kita nyari sendiri dan bayar sendiri dari uang saku. Untuk itu, kita harus jeli sebelum melamar FSJ di sebuah lembaga.

Di Hamburg misalnya, masih dari träger IB, kalau kita melamar di yayasan penyandang cacat, kita akan dapat tambahan uang 231 euro tiap bulannya untuk menyewa kamar (apartemen). Tapi selain di instansi tersebut, kalau kita melamar di sebuah TK, Museum, Rumah Sakit, kita harus membayar kamar sendiri. Kamar di Hamburg mahalnya minta ampun, uang saku yang diberi oleh pihak IB dan arbeitgeber nggak akan cukup untuk itu. Hal ini nantinya juga akan jadi pertimbangan pemerintah untuk mengabulkan Visa yang kamu ajukan. Kalau kamu hanya dibayar 400 perbulan tanpa uang tambahan, nggak bakal cukup untuk tinggal di Hamburg. Karena harga kamar di Hamburg berkisar antara 250-400 (kamar kecil, WG, bukan satu apartemen, loh!). Sedangkan makan, dan kebutuhan lain-lain juga harus diperhitungkan. Jadi, sebaiknya pilih yang gajinya banyak atau gaji sedikit tapi sudah dapat akomodasi.

Adakah yang menyediakan akomodasi? Oh Pasti ada. Seperti temanku di München, Heidelberg, Köln, pihak Träger atau Arbeitgeber sudah menyediakan akomodasi atau kamar untuk para sukarelawan mereka, sehingga tidak perlu susah susah bayar. Uang saku yang diterima pun sudah bersih dipotong biaya akomodasi biasanya.

- Tiket Kereta

Ada Arbeitgeber yang memberi tiket kereta tahunan (seperti di tempatku dulu bekerja), ada juga yang tidak, sehingga kita harus membelinya sendiri. Tiket kereta terbilang mahal di Jerman. Untuk membeli bulanan, paling tidak kita harus merogoh kocek hingga 60 Euro (tergantung di kota mana kamu tinggal).

Jadi, untuk mendaftar FSJ baik dari Indonesia maupun dari Jerman, kita tidak perlu memberi uang jaminan kepada Deutsche Bank seperti kalau kita melamar Visa Sprachkurse dan kuliah.

Kalau tidak percaya: baca syarat kedubes Jerman yang tidak melampirkan kewajiban uang jaminan tersebut: di sini.

Tahun 2015 silam, aku juga melamar visa FSJ dari Indonesia dan tidak perlu melampirkan uang jaminan beberapa rekan FSJ juga berbagi pengalamannya. Mereka menyebutkan, bahwa kita tidak perlu memberi uang jaminan.

Kalau kalian tertarik ke Jerman dengan menjadi Au Pair, FSJ atau BFD, atau Ausbildung, mari bergabung di Grup Facebook: Au Pair, FSJ, Azubi aus Indonesien. Di sana, banyak member yang mungkin bisa membantu menjawab pertanyaan seputar itu semua. Begitu juga kalau kalian sudah pernah atau sedang menjadi Au Pair, FSJ, Azubi di Jerman, silakan bergabung agar kita bisa saling membantu dan berkomunikasi nantinya.

Link Grup FB: Au Pair, FSJ, Azubi aus Indonesien

Sekian sharing kita kali ini seputar FSJ dan uang jaminan. Sampai bertemu lagi!

Viele Grüße

Friday, March 24, 2017

Kerja Ke Jerman?

foto diambil di: Poogez, Schleswig Holstein, Jerman

Sejak tahun 2014, pemerintah Jerman mencanangkan pendidikan gratis hingga jenjang S3 kepada semua orang yang ingin belajar di Jerman. Tak hanya untuk orang Jerman, tapi juga untuk warga pendatang. Dari sini, kita pasti berpikir, wah dermawan sekali ya pemerintah Jerman.

Eittts, tunggu dulu. Orang Jerman bukanlah tipikal orang yang rela memberi tak harap kembali seperti slogan guru: pahlawan tanpa tanda jasa! Sebaliknya, mereka selalu merinci dan sangat teliti untuk mengeluarkan sepeser uang dan tak akan dikeluarkan kalau dirasa tidak penting dan tak ada imbalannya di kemudian hari. Terkesan pelit memang, tapi sebenarnya tidak, mereka hanya lebih teliti terutama dalam masalah keuangan.

Seperti orang Jerman, pemerintahan Jerman pun seperti itu. Memang benar Jerman adalah negara kaya dan sangat atraktif bagi warga asing untuk bekerja di sini. Sampai saat ini, Jerman banyak sekali, aku ulangi! BANYAK SEKALI membutuhkah tenaga kerja manusia, sehingga mereka banyak merekrut pekerja dari luar negeri juga. Kesempatan bersekolah gratis untuk para warga asing di Jerman juga salah satu alternatif pemerintah Jerman dalam mencari tenaga kerja. Siapa tahu dari banyak warga asing yang memilih menempuh pendidikan gratis di Jerman, setelah lulus ingin bekerja dan menjadi tenaga ahli di Jerman (tidak kembali ke negaranya).

Kenalanku dari Hungaria contohnya, dia sudah 11 tahun bekerja sebagai dokter umum di sebuah RS di Jerman. Yang bekerja sebagai Konsultan IT juga menyebutkan bahwa 1 dari 5 pekerja di kantornya adalah orang asing (meskipun perusahaan tempat dia bekerja bukan perusahaan multinasional). Selain di bidang ahli seperti dokter, perawat, assisten penyandang cacat dan orang tua, ahli terapi kesehatan, logopedie, ergotherapi, computer, programmer, web developer, Jerman juga menawarkan berbagai kesempatan kerja seperti kerja sebagai tukang bangunan, ahli listrik, pekerja sanitasi, serabutan, dan lain sebagainya.


Beberapa hari yang lalu, ada yang bertanya padaku, bagaimana ya bisa bekerja di Jerman? Kelihatannya di Jerman membutuhkan banyak lowongan kerja, tapi kok susah ya diterima kerja di sana? Aku ingin kerja di Jerman, tapi bagaimana caranya.

Untuk warga negara Eropa (EU-countries), memang tak susah mencari, melamar dan bekerja di Jerman karena mereka tak membutuhkan Visa pekerja. Yang susah itu dari warga asing seperti Indonesia ini, sudah jauh dari Eropa, biaya ke sana mahal, cari info susah, dan kendala-kendala lain.

Susah bukan berarti tidak mungkin. Buktinya banyak pekerja dari Indonesia yang bekerja sebagai tekhniker (teknik) di perusahaan penerbangan raksasa (Air Bus), temanku bekerja di salah satu perusahaan anak cabang BMW sebagai progammer, ada juga yang direkrut bekerja jadi masinis dan kondektur di DB Bahn. Itu tandanya, bekerja di Jerman, bukan hal yang tidak mungkin.

Banyak sekali cara yang bisa ditempuh. Untuk yang masih muda, lulusan SMA, misalnya mencoba peruntungan menjadi Au Pair.

Ada juga yang berkomentar, wah umur sudah lewat 26, tak ada kesempatan lagi menjadi Au Pair. Mereka mencoba peruntungan menjadi sukarelawan dulu atau FSJ.

Untuk FSJ memang ada batasan umur yakni 27 tahun, tapi untuk BFD, batasan umurnya hingga 99 tahun.

Dengan menjadi Au Pair atau FSJ, kita tidak perlu belajar Bahasa Jerman sampai tingkat B1, cukup belajar level A1 saja. Memang menjadi Au Pair terbilang susah karena harus terpaksa tinggal serumah dengan orang asing dan jadi babysitter, kesempatan untuk para pria pun terbilang lebih kecil. Tapi, jadi Au Pair adalah cara termudah dan termurah ke Jerman karena sebagai calon Au Pair, kita bisa nego dengan host family untuk biaya sebelum keberangkatan (seperti aku dulu yang dibayarkan tiket pesawatnya). Kalau FSJ, semua biaya sebelum keberangkatan harus ditanggung sendiri.

Ada lagi yang berkomentar, saya ingin langsung kerja saja. Coba dengan cara Ausbildung. Apa itu Ausbildung?

Baca: Ingin ke Jerman? Kenapa Tak Coba Ausbildung?

Terakhir, ada lagi yang berkomentar, malas ah Ausbildung gajinya masih sedikit dan saya malas untuk belajar sambil kerja seperti itu. Capek, saya ingin langsung terjun ke dunia kerja saja.

Bisa! Asalkan anda bisa berbahasa Jerman level minimal C1 atau paling tidak sudah tinggal di Jerman selama 5 tahun. Belajar Bahasa Jerman memang bisa dilakukan dari Indonesia, tapi menurut saya kurang efektif karena di lingkungan luar, kita masih bicara bahasa Indonesia lagi dan lagi. Selain itu, kalau anda masih belum terampil bekerja dan berbahasa Jerman dengan baik, perusahaan Jerman akan sulit menerima anda.

Saya ingin bekerja di Jerman dengan Bahasa Inggris saja, bisa? Wah nih orang bawel ih :P, Bisa kok. Asalkan anda benar-benar brilliant, jenius, dibutuhkan sangat mendesak oleh perusahaan dan perusahaan tersebut memohon pihak kedubes untuk memberikan Visa anda demi memperkerjakan anda di Jerman, seperti Pak Habibi dan beberapa insinyur dari Indonesia yang bekerja di Air Bus (meskipun mereka juga bisa bahasa Jerman).

Intinya, bekerja di Jerman itu memang bukan hal yang mustahil, tapi tidak diperuntukkan bagi orang yang malas dan mau enaknya saja. Semua butuh proses, kerja keras, dan ketekunan. Hidup di Jerman itu jauh dari kehidupan malas dan santai. Semua serba berlari dan cepat, kalau anda tidak bisa, anda akan tersingkir, tergerus dan terbuang (mungkin yang tinggal di Jakarta atau kota besar lainnya bisa merasakan hal ini). Tapi kalau sudah merasakan betapa enaknya fasilitas pemerintah untuk buruh dan pekerja, jaminan, tunjangan, liburan dan kehidupan yang memadai, banyak yang tak ingin pulang juga.

Semua tergantung keputusan dan kebijakan masing-masing individu. Semoga sharing kita kali ini bermanfaat bagi pembaca.

Viele Grüße

Wednesday, March 22, 2017

Bagaimana Cara Mendaftar Ausbildung?


Setelah menjelaskan panjang lebar, bertanya, membaca dan mencari tahu tentang Ausbildung, kini aku kasih bocoran bagaimana caranya ke Jerman lewat program Ausbildung ini.

Aku menyimpulkan cara pendaftaran Ausbildung ini dalam 3 kategori:

1. Dengan Tinggal Di Jerman Dulu

Yakni dengan menjadi Au Pair lalu FSJ dulu.
Kelebihannya:
+ Lebih mudah,
+ Tidak tergesa-gesa,
+ Dapat informasi lengkap dan mudah karena sudah tinggal di Jerman dulu,
+ Mengenal orang-orang yang sudah berpengalaman, lalu bertanya kepada mereka,
+ Tidak perlu modal banyak,
+ Alur Visa teratur: dari Au Pair-FSJ-Ausbildung. Kalau kita ke Jerman dengan menggunakan Visa turis, kita tidak bisa daftar Ausbildung kecuali balik ke Indonesia lagi dan mendaftar ulang dari sana,
+ Belajar Bahasa Jerman secara langsung dan lebih cepat bisa.

Kekurangannya:
- Lama
- Ekstra sabar
- Harus rela kerja keras dengan tekanan karena harus tinggal dengan host family
- Resiko nggak betah dan homesick lebih besar, sehingga banyak kasus, au pair yang ingin melanjutkan kerja di Jerman menyerah lalu pulang,
- Terbatas umur (au pair: 26 tahun, FSJ: 27 tahun)

Kursus Bahasa Jerman di Indonesia dan Melamar dari Indonesia

Untuk mendaftar Ausbildung, kita harus paling tidak mempunyai kemampuan Bahasa Jerman yang mumpuni, sertifikat Bahasa Jerman B1 juga dibutuhkan. Karena nantinya, kita harus bisa mengikuti pembelajaran di kelas dan kerja dengan Bahasa Jerman. Salah satu cara untuk mendaftar Ausbildung adalah dengan meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman kita dengan kursus di Indonesia lalu, jika sudah yakin siap diinterview dan bekerja di Jerman, baru daftar.

Kelebihan:
+ Tidak tertekan karena masih santai di Indonesia
+ Tidak mahal, kita bisa memilih kursus (tidak harus yang mahal, seperti di Goethe institut). Banyak juga guru Bahasa Jerman, seperti kawan blogger yang dulu pernah tinggal di Jerman, sekarang memberi les bahasa Jerman di Boyolali: Fitri Ananda. 
+ Bisa konsultasi ke guru les, atau tanya-tanya seputar Ausbildung dan cara melamar, juga minta bimbingan membuat surat lamaran, dsb,
+ Kalau pada akhirnya berubah pikiran dan memutuskan untuk pindah haluan, nggak rugi banyak-banyak.

Kekurangan: 
- Lama dan susah belajar bahasa Jerman jika di lingkungan sekitar masih berbahasa lokal,
- Informasi terbatas

3. Kursus Bahasa Jerman di Jerman dan Melamar Dari Jerman

Kalau berani nekad dan modal yang cukup banyak cara yang satu ini bisa juga diambil.

Kelebihan:

+ Cari tahu dan dapat info lebih gampang
+ Bisa langsung ketemu orang Indonesia yang berepengalaman lalu bertanya secara langsung (orang Indo yang sudah di Jerman, nggak mudah ditanyai, selain karena mereka sibuk, juga sudah terpengaruh orang Jerman yang nggak suka orang kepo), tapi banyak juga yang mau membagi keluh kesah dan informasi kalau sudah ketemu dan kenal.
+ interview, hospitation lebih mudah dan hemat karena sudah di Jerman
+ Surat menyurat serta pengiriman kontrak kerja lebih gampang,
+ Perpanjang Visa lebih mudah dan cepat. Misalnya nih, kalian ke Jerman pakai Visa sprachschuler, lalu kursus intensif bahasa Jerman selama 3 bulan penuh hingga lulus B1, kalau masih ada uang deposit di Deutsche Bank di tabungan, bisa memperpanjang Visa hingga satu tahun sambil mencari-cari info serta melamar Ausbildung di Jerman tanpa pulang ke Indonesia.
Memangnya Visa sprachschuler bisa diganti Ausbildung tanpa pulang ke Indonesia dulu? Menurut pengalaman beberapa teman, BISA!. Yang tidak bisa itu kalau Visa Sprachschuler diganti jadi Visa FSJ, karena tujuan dari Visa tersebut adalah sekolah, sedangkan FSJ adalah program sukarelawan atau sosial yang kerja full time. Sedangkan Ausbildung masih nyambung (yakni sekolah sambil kerja),
+  Lebih cepat bisa bahasa Jerman, karena kursus intensif, pengajarnya langsung orang Jerman dan tinggal di lingkungan orang Jerman.

Kekurangan:

- Paling tidak, untuk daftar Visa sprachkurse ke Jerman, kamu harus belajar bahasa Jerman dan lulus test A1, baru dilanjutkan di Jerman.
- Mahal dan perlu modal yang tak sedikit. Kamu harus punya uang tabungan di Deutsche Bank sebagai jaminan selama kamu kursus di Jerman, sebesar 8000 euro,
- Semua biaya ditanggung sendiri, termasuk visa, pesawat, interview, dsb
- Harus cari apartemen sendiri, bahkan sebelum berangkat ke Jerman. Caranya, kalian bisa kontak PPI Jerman dengan gabung di Grup fb lalu posting saja di situ kalau kalian butuh apartemen untuk beberapa bulan, pasti ada yang menyarankan daftar ke situs tertentu, atau gabung ke grup pencarian kamar di kota terkait, dsb.
- Kalau berubah pikiran, biayanya amat disayangkan,
- Daftar kursus di Jerman bisa via online kok. Coba cek Deutschakademie, untuk kursus intensif Bahasa Jerman dengan harga terjangkau di Jerman. Nanti bukti pendaftaran bisa dikirim melalui email untuk syarat pengajuan Visa.

Karena program Ausbildung ini belum begitu terkenal, aku belum menemukan Agen penyalur Azubi dari Indonesia ke Jerman. Sejauh ini, agen penyalur Au Pair dan FSJ sudah ada, tapi untuk Azubi, masih belum. Jika pembaca lebih tahu soal ini, silakan ditambahkan di kolom komentar, pasti akan aku tambahkan dengan senang hati untuk melengkapi informasi. 

Untuk syarat-syarat melamar Ausbildung sama dengan melamar kerja, yakni dibutuhkan:
- Surat Lamaran kerja
- Daftar Riwayat Hidup
- Pas Foto
- Sertifikat pengalaman kerja
- Fotokopi ijazah SMA atau ijazah terakhir, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris atau Jerman dan disetarakan oleh Annerkennungstelle di Jerman. Untuk penyetaraan ini, kalian harus bikin janji dulu dengan pihak Annerkennungstelle (kata temanku, kita harus bikin janji paling tidak 2 bulan sebelumnya), kalau pihak perusahaan mau menunggu, kita bisa melampirkan ijazah terjemahan dulu, penyetaraannya belakangan.

Untuk mengetahui lebih jelas dan lengkap tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk melamar ausbildung, silakan cek di website resmi Ausbildung (dalam Bahasa Jerman) . Di sana banyak tips dan contoh membuat lamaran, mempersiapkan interview, dsb.

Inti dari bagaimana cara pendaftaran Ausbildung di Jerman ini adalah peningkatan kemampuan Bahasa Jerman kalian terlebih dahulu, baru setelah itu mencoba melamar.

Kalau kalian butuh referensi surat lamaran pekerjaan, daftar riwayat hidup serta motivasi dalam Bahasa Jerman, silakan cek punyaku yang aku buat untuk melamar dulu (boleh kalian download gratis dan tinggal edit-edit saja):
Contoh Lamaran Kerja, Daftar Riwayat Hidup, Motivation Letter dalam Bahasa Jerman dan Inggris

Kemudian untuk link pencarian pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat, silakan cek website dinas tenaga kerja Jerman (Bundesagentur für Arbeit)

Kalau kalian masih banyak pertanyaan, silakan gabung grup facebook yang aku buat untuk mewadahi pertanyaan seputar Au Pair, FSJ, dan Ausbildung:
Join grup Fb: Au Pair, FSJ, dan Azubi aus Indonesien

Selamat berjuang, semoga sedikit sharing kali ini bermanfaat untuk para pembaca.

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)

Viele Grüße

Tuesday, March 21, 2017

Apa itu Ausbildung di Jerman?


Salah satu teman penerima beasiswa LPDP mengutarakan keluhannya padaku, "Waktu di Indonesia dulu, aku tak tahu menahu bagaimana cara ke luar negeri, terutama ke Jerman. Yang aku tahu, kalau orang ke luar negeri kerja itu ya jadi TKI ke Arab, Hongkong, Malaysia, kalau ke Eropa, Amerika dan Australia itu ya lewat jalur beasiswa."

Sayang sekali informasi tentang cara-cara ke luar negeri tanpa beasiswa masih sangat minim dan kurang sosialisasi di Indonesia, sehingga banyak orang yang ingin ke Eropa, berpikir satu arah. Bukankah banyak jalan menuju Jerman, eh Roma?😉

Baca juga: Kuliah di Jerman tanpa beasiswa dan tanpa uang jaminan 8000 euro

Tinggal di Jerman selama 3 tahun ini, membuatku berpikir satu hal: Ternyata, kesempatan untuk ke Jerman tidak se-mustahil yang aku bayangkan dulu.

Aku memulai ke Jerman dengan menjadi Au Pair, di tahun ke dua, kucoba peruntungan dengan menjadi FSJ, lalu aku berkesempatan kuliah di Jerman setelah tahu trik-trik kuliah di Jerman dengan mudah dan murah.

Background senasip sepenanggungan dengan menjadi Au Pair lalu FSJ, membuatku bertemu banyak orang dan berkesempatan menjadi telinga mereka saat berkeluh kesah, curhat, berbagi pengalaman tentang dunia kerja di Jerman, dan sebagainya. Banyak diantara mereka yang sulit masuk kuliah akhirnya memilih untuk Ausbildung.

Nah, kalian pasti sudah penasaran apa itu Ausbildung.

Apa itu Ausbildung?

Ausbildung adalah sebuah program pelatihan keterampilan sekolah sambil bekerja di Jerman. Ausbildung berbeda dari Vocational High School atau SMK di Indonesia, karena untuk mendaftar Ausbildung, seseorang harus menempuh pendidikan setara SMA dulu, sedangkan SMK, hanya wajib lulus SMP. Ausbildung bisa diartikan lebih tepatnya, pendidikan diploma D3 setara pendidikan di politeknik, di mana mahasiswa dilatih bekerja, diberi ilmu tentang pekerjaan tersebut, dan enaknya lagi, mereka diberi banyak tunjangan, serta dapat gaji seperti karyawan tiap bulan.

Ausbildung terdiri dari dua kategori:

a. Duale Ausbildung
Yakni lebih kepada berufliche Ausbildung, dari kata 'beruf' berarti pekerjaan. Ausbildung ini adalah jenis di mana praktek kerja lebih diutamakan ketimbang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Seseorang yang menempuh pendidikan duale Ausbildung, akan wajib masuk sekolah 1-2 hari per minggu, lalu 2-4 hari kerja. Atau bisa juga satu bulan full sekolah, lalu 3 bulan berikutnya kerja. Dari sana kita bisa lihat, bahwa duale Ausbildung lebih mengutamakan pelatihan di tempat kerja (praktek) ketimbang teori.

Keuntungan mendaftar duale Ausbildung adalah para pelajar tersebut dibayar oleh perusahaan tempat mereka praktek/magang.

Lamanya duale Ausbildung berkisar 2-3,5 tahun dan selama itu pula kalian mendapat gaji bulanan.

Pekerjaan yang ditawarkan untuk program ini banyak sekali, dari lebih dari 350 jenis pekerjaan, aku sebutkan diantaranya: perhotelan, restoran, bartender, teknik, masinis, perbankan, marketing, design grafik, perhutanan, arsitektur, teknik industri dan mesin, perkebunan dan banyak lagi.

Untuk melihat sendiri jenis pekerjaan apa yang bisa kalian pilih, silahkan buka website dinas ketenagakerjaan di Jerman jobbörse (dalam bahasa Jerman).

b. Schulische Ausbildung
Kebalikan dari duale Ausbildung, dari kata 'Schule' yang berarti sekolah, jenis Ausbildung ini lebih memberikan konsep teori dibanding praktek kerja. Salah seorang yang magang di tempat kerjaku mengambil Ausbildung jenis ini. Dari satu minggu, dia hanya bekerja satu hari saja, sisanya sekolah.

Schulische Ausbildung kebanyakan tidak mendapat gaji. Mereka malah harus membayar uang sekolah. Namun ada pengecualian bagi yang bekerja sebagai perawat, asisten dokter, ahli terapi dan perawat di panti jompo yang juga digaji seperti program duale Ausbildung. (sumber: make it in Germany).

Selain tak harus membayar sendiri, untuk menempuh Ausbildung jenis ini, kita juga wajib punya uang jaminan 8000 euro di rekening bank. Hal ini terjadi pada salah satu teman yang bekerja sebagai perawat di panti jompo. Meskipun pada akhirnya dia digaji, tapi untuk mengabulkan Visanya, pihak kantor imigrasi mengharuskan dia punya tabungan minimal 4000 euro di Bank untuk jangka waktu 6 bulan ke depan, sebenarnya dia harus deposit 8000 euro, tapi karena dia daftar di Jerman (lebih mudah dan cepat), dia bisa nego dengan pihak pengurusan Visa. Kasus lain juga terjadi pada temanku yang menempuh ausbildung sebagai asisten dokter gigi, dia juga harus punya uang tabungan 8000 euro. Untungnya host family tempat dia bekerja sebelumnya mau menjadi penjamin.

Lamanya schulische Ausbildung adalah satu hingga tiga tahun.

Siapa yang bisa daftar Ausbildung?


Banyak asumsi bahwa program Ausbildung ini hanya untuk orang Jerman saja. Ini salah besar. Banyak orang asing yang juga menjadi Azubi (sebutan untuk orang yang menempuh Ausbildung) di Jerman. Jadi, siapa saja bisa daftar. Bahkan 4 dari 5 kenalan yang aku temui di Jerman, dari Indonesia, dulunya Au Pair, sekarang semuanya jadi Azubi.

Kapan kita bisa mendaftar?


Kabar baiknya, Ausbildung tidak ada batasan umur. Tetanggaku (orang Jerman) yang umurnya 47 tahun, baru mendaftar Ausbildung tahun lalu. Kalian bisa mendaftar program Ausbildung dengan melamar langsung di perusahaan atau instansi terkait, lalu jika dinas ketenagakerjaan Jerman mengabulkan, mereka akan mengirimkan kontrak kerjanya untuk mengurus Visa.
Ausbildung biasanya dimulai bulan September, yang berarti, jauh-jauh hari sebelum itu, kalian harus rajin mencari tahu dan melamar ke sana sini. 

Di mana atau dari mana?


Kalau daftarnya dari Jerman, jauh lebih mudah untuk datang dan interview. Meskipun demikian, ada juga yang datang dan interview video call dari Indonesia, surat menyurat, kontrak kerja dikirim dari Jerman, dan mereka mengurus Visa dari Indonesia, serta berhasil sampai di Jerman.


Mengapa Ausbildung?

Mengapa tidak? Sebagai Azubi, kita akan mendapat fasilitas sebagai berikut:

a. Gaji bulanan. Pihak perusahaan akan menggaji Azubi sesuai dengan standart Jerman dan gaji ini akan naik tiap tahunnya. Misalnya, gaji kotor di tahun pertama 900 euro, nanti di tahun kedua akan naik jadi 1100, di tahun ketiga 1300. Gaji kotor ini belum termasuk potongan pajak penghasilan,
Baca juga: 6 Tingkatan Pajak Penghasilan di Jerman

b. Gaji 13. Azubi juga mendapatkan bonus dan gaji ke tiga belas, biasanya diberikan sebelum natal dan libur besar tiba. Tapi ini juga tergantung perusahaan tempat bekerja, ada yang memebri ada yang tidak,

c. Asuransi kesehatan yang tiap bulannya terpotong secara otomatis dari gaji kotor,

d. Masalah Akomodasi? Sayangnya azubi harus mencari Akomodasi dan membayar sendiri, tapi dengan gaji yang lumayan, mereka bisa tinggal dan menyewa apartemen di kota besar sekalipun tanpa kesulitan. Untuk menyewa sebuah apartemen di Jerman, kita juga harus menunjukkan bukti kemampuan membayar dengan slip gaji,

e. Pengalaman berharga, yakni bekerja di lingkungan orang Jerman dengan etos kerja Jerman yang disiplin dan handal serta profesional,

f. Belajar mandiri,

g. Menambah teman, terutama orang asing, karena kita bekerja di Jerman dan bersekolah di lingkungan Jerman juga,

h. Kesempatan direkrut oleh perusahaan terkait. Kalau selama menjadi Azubi, kinerja kita baik dan memuaskan, kita bisa direkrut kerja di perusahaan termpat kita Ausbildung,

i. Sertifikat Ausbildung internasional yang bisa dipakai melamar di seluruh penjuru dunia,

j. Bisa melanjutkan kuliah setelah selesai program Ausbildung,

k. Belajar Bahasa Jerman dan bahasa asing lainnya,

l. Bisa mencari penghasilan tambahan (neben job). Kalau kalian masih sanggup bekerja, kalian bisa seperti teman aku yang menempuh ausbildung, tapi bekerja sambilan di yayasan lain. Dia tak harus membayar kelas pajak tertinggi, karena dia bekerja satu full time, dan satu part time. Kalau kita bekerja di dua tempat full time, atau dua tempat part time, baru harus membayar pajak dengan kelas tertinggi,

Baca juga: 7 Hal Seputar Pajak Di Jerman

Untuk cara mendaftar Ausbildung, baca: bagaimana mendaftar Ausbildung di Jerman?

Semoga informasi ini menjadi informasi tambahan yang berguna bagi siapapun yang ingin ke Jerman.

Like juga facebook fanpage Denkspa kalau ingin mengetahui melihat informasi, foto dan video yang aku update seputar Jerman. Tinggal scroll down atau klik Denkspa. Terima kasih :)

Viele Grüße

Sunday, March 19, 2017

Kuliah di Jerman: Gratis Tapi Mahal

gambar di ambil di: Eibsee, Garmisch Partenkirchen, Bayern, Jerman

Sudah sering aku singgung sebelumnya, bahwa kuliah di Jerman dari jenjang TK sampai perguruan tinggi terbilang gratis. Memang banyak universitas dan sekolah yang memungut biaya per semester, tapi sebagian besar sudah gratis. Kalaupun bayar, pihak Universitas tidak memungut biaya semahal di negara lain. Kita harus membayar biaya kuliah dan transportasi selama 6 bulan 300 euro misalnya (sedangkan di Belanda, biaya kuliah master bisa mencapai ribuan Euro).

Ada yang bertanya, bagaimana kuliah di Jerman yang murah itu? Mungkin pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa berkuliah di Jerman dengan harga terjangkau?

Baca: 8 Cara Kuliah di Jerman tanpa beasiswa dan tanpa jaminan 8000 euro

Kuliah di Jerman memang terbilang gratis. Fasilitas kampus pun sangat mendukung. Karena aku kuliah di Universitas Hamburg, maka aku akan berbagi info dan tips seputar kuliah di Hamburg.

Di Universitas Hamburg misalnya, selain fasilitas laboratorioum, gedung perkuliahan, dan perpustakaan yang sangat memadai, kita yang kuliah di sini juga diberi kesempatan kursus bahasa asing gratis. Misalnya aku ingin belajar bahasa Spanyol, aku bisa daftar kursus Bahasa Spanyol di kampus. Begitu pula bahasa Jerman, Inggris, Cina Mandarin, Arab, dan masih banyak lagi. Tapi kalau pemula, kita disuruh bayar 30 euro per semester untuk belajar dasar-dasarnya (masih terbilang sangat murah, karena kalau kursus di luar kampus, paling tidak kita harus membayar 3-5 kali lipatnya).

Meskipun berbagai fasilitas diberikan, kuliah di Jerman itu bisa dibilang sangat berat. Memang perkuliahannya gratis, tapi biaya hidupnya mahal. Aku menyaksikan sendiri perjuangan teman-teman kakak tingkat maupun teman seangkatan yang benar-benar membuat aku salut. Mereka yang (meskipun punya jaminan uang 8000 euro), yang hidupnya di Indonesia serba berkecukupan, harus rela tinggal di apartemen sempit, kerja sebagai tukang bersih-bersih dan babysitter.

Kalau aku, karena aku memang dari SD sudah terbiasa hidup tak mampu. Bahkan saat SD dan SMP tiap pulang sekolah, aku keliling kampung dan warung-warung untuk menjajakan gorengan serta kacang goreng, jadi sudah sangat terbiasa hidup susah. Bahkan menurutku, hidup di Jerman jauh lebih enak, tenaga lebih dihargai ketimbang saat aku kerja di Indonesia.

Tapi teman-teman yang aku kenal di Jerman, mereka yang (aku tahu) anak pejabat, raja minyak 😅, pengusaha kaya raya, rela menjadi buruh sortir di pabrik demi bertahan hidup dan melatih kemandirian serta jiwa sosial mereka.

Mengapa mereka seperti itu? Padahal kuliah di Jerman kan gratis? Berikut beberapa alasannya:

1. Akomodasi Mahal

Memang kuliah bisa dibilang gratis, tapi biaya hidup di Jerman bisa 10-20 kali lipat dibandingkan biaya hidup di Indonesia (khususnya bukan di Ibu kota dan kota besar lainnya di Indonesia). Harga kamar yang aku sewa saat ini PERBULAN adalah harga sewa rumah paman dan bibiku PERTAHUN (di Batu). Tapi bukan berarti orang Indonesia tidak bisa menyiasatinya. Mereka biasanya tinggal satu apartemen bertiga atau berempat, dan biaya kamarnya dibagi agar lebih murah. Alternatif lain adalah tinggal di Wohngemeinschaft (baca: WG ) bersama orang Jerman atau tinggal di Studentwohngemeinschaft (baca aja SWG ah, 😀). Problem utama tinggal bergerombol seperti ini adalah:

a. Salah satu atau dua dari mereka nggak bisa anmelden (terdaftar) di kantor imigrasi, mereka harus nyari kenalan yang bisa dimintai tolong alamatnya dipinjam untuk daftar.

b. Harus rela diusir kalau ketahuan. Di Jerman, pemerintah sudah memberi standart tempat tinggal. Kalau kita single, kita bisa tinggal di apartemen dengan satu kamar. Tapi kalau menikah dan punya anak, mau nggak mau kita harus pindah ke apartemen atau rumah yang lebih besar demi kenyamanan anak-anak dan keluarga.

Begitu pula dengan hidup serta tinggal bergerombol. Di Indonesia, tak masalah ada berapa orang di dalam satu rumah atau keluarga, tak ada masalah memasukkan berapa kepala ke sebuah kos putri. Di Jerman, pemerintah  melihat secara detail, berapa kamar di sebuah apartemen, berapa yang tinggal di sana, berapa harga sewa, dan sedetail-detailnya, apakah layak ditempati 2-4 orang, jangan sampai satu orang tidur di sofa ruang tamu dan tidak punya kamar, jangan sampai orang-orang tidur seperti pepes di satu kamar, dsb. Kalau pemilik apartemen sampai tahu satu apartemen yang harusnya diisi 2 orang jadi diisi 4 orang, kita bisa diusir. Dan kejadian ini menimpa beberapa teman juga.

2. Ingin bantu orang tua

Saat tinggal di Indonesia, aku sering menjumpai kesenjangan sosial di masyarakat. Misalnya aku yang berasal dari keluarga penjual jamu ini berteman dengan temanku yang ayahnya pemilik sorum mobil. Tentu saja saat kita jalan bareng, aku akan terlihat lebih 'gembel' daripada dia yang dari ujung rambut ke ujung kaki terawat, lalu hp, gadget yang dipakai, dsb.

Di Jerman, kesenjangan itu, meskipun ada, tapi sudah tipis sekali terlihat, orang yang bekerja sebagai buruh pabrik, atau tukang bersih-bersih juga punya gadget yang sama mahal, bisa merawat diri di salon seperti orang kaya juga. 

Begitupun anak Indonesia yang di Indonesia terlahir beruntung di keluarga mampu, kaya, berkecukupan, di Jerman, mereka harus rela jadi 'gembel' juga. Dari sana, mereka akan terlatih mentalnya untuk hidup mandiri, bekerja, membanting tulang dan punya tekat membantu meringankan beban keluarga karena mereka sadar bahwa hidup di Jerman itu tidak murah. 

Seperti sebelumnya, mahal bukan berarti tanpa solusi. Buktinya, banyak yang bisa bertahan hidup, kuliah sambil kerja di Jerman. Kita bisa menyiasatinya dengan:

1. Cari Universitas di kota dengan biaya hidup murah. Tinggal di kota kecil ada keuntungan dan kerugiannya juga. Di kota kecil memang biaya hidup murah, tapi lowongan kerja lebih sedikit ketimbang kota besar.

2. Tinggal di kota kecil, saat liburan semester, jari kerja sambilan di kota besar. Untuk hal ini, kalian harus rela repot-repot nyari dan pindah atau atau menyewakan kamar selagi kerja di luar kota. Seorang teman ada yang melakukan trik ini juga.

3. Hemat makan
Kalau makan bukan passion kalian, bisa makan apa saja, termasuk makanan Eropa, kalian termasuk beruntung sekali. Karena makanan Eropa seperti kentang, roti, pasta memang murah dan mudah didapatkan di Jerman.

4. Travelling hemat
Kalau sudah tinggal di Jerman tapi tak menyempatkan diri jalan-jalan ke negara-negara tetangga? Wah rugi banget. Travelling di Eropa bisa juga murah, tergantung kita menyiasatinya. Saat travelling keliling Eropa musim panas 2014 lalu, aku menggunakan Couchsurfing. 

5. Pintar-pintar spekulasi
Hidup di negara atau kota yang mahal, syarat dengan kehidupan yang keras. Untuk itu, kita harus pandai-pandai spekulasi. Termasuk dalam hal keuangan dan kuliah juga. Pandai mengatur jadwal dan rajin menyelesaikan tugas tepat waktu. Jangan sampai kita sudah terlanjur masuk kuliah, lalu molor, keenakan bekerja dan lupa tugas. Semua harus seimbang, ingat apa tujuan utama ke Jerman. 

Demikian sharing kita kali ini tentang kuliah di Jerman yang gratis, tapi mahal juga serta cara-cara menyiasatinya. Kalau teman-teman punya ide, pertanyaan, saran, tambahan serta kritik, aku akan dengan senang hati menambahkannya di artikel ini, atau menuliskannya di rubrik selanjutnya. 


Viele Grüße

Restoran Jawa di Hamburg: Jangan Pergi Sendiri!

Sebagai orang Indonesia, wajib hukumnya bagiku mampir ke restoran Indonesia di mana pun mereka berada. Kalian pasti sedih banget mendengar ini: tak banyak restoran Indonesia di Jerman. Kalau di Belanda mah jangan ditanya lagi. Di Jerman, restoran Asia dengan titel Resto Jepang (Sushi), Resto Vietnam dengan sup pho andalannya, dan Resto Thailand lebih sering kita jumpai di penjuru kota.

Saat di München, aku sempat mengunjungi Restoran Bali satu kali (sebelum akhirnya tutup karena sepi pengunjung) dan Restoran Garuda beberapa kali (yang masih eksis sampai sekarang). Di Hamburg, Resto Jawa adalah restoran Indonesia yang paling terkenal dan mungkin satu-satunya (sejauh yang aku ketahui, beberapa tahun yang lalu di buka juga Resto Indonesia di sekitar Hafencity, dan akhirnya tutup juga karena sepi pengunjung dan terlalu mahal).

Kalau kalian jalan-jalan ke Hamburg dan pengen nyobain masakan Indonesia, silakan mampir di Restoran Jawa:

Jawa Resto Hamburg
Wendenstraße 29, 20097 Hamburg
Jam buka: Senin- Kamis : 11.30-19-00
                 Jumat dan Sabtu:  11.30- 22.00
                 Minggu TUTUP

Telepon: (+49) 40 23998787

Kalau kalian turun di stasiun utama Hamburg (Hauptbahnhof) ambil Subway (Sbahn nomor S3 atau S31 jurusan Neugraben, Stade, Buxtehude, atau Harburg Rathaus, jangan ke arah sebaliknya (Altona, Pinneberg), hanya satu stasiun saja dari HBF, turun di Stasiun Hammerbrook City Süd. Ambil Exit paling belakang dan keluar, lalu dari sana cari jalan Wendenstrasse, sekitar 3 menit (kalau jalannya orang Indo yang santai manjah, bisa 5-7 menitan hehehe). 

Harus aku akui bahwa Restoran Jawa di Hamburg ini memegang rekor restoran Indonesia ter-enak di Jerman (versi diriku sendiri sih) :D. Beberapa kali mengunjungi restoran Indonesia di seputar Jerman dan Belanda, belum pernah menemukan rasa seotentik restoran Indonesia di Hamburg. Rasa pedasnya, bumbunya, sambal terasinya, baksonya, mienya, martabaknya, semua rasa asli Indo. Harus aku akui aku kesana lebih dari 20 kali dan mencoba banyak makanan (terutama yang paling aku kangenin). :)

Kalau ke sana pas jam makan siang (yakni pukul 12.00-16.00), kita bisa dapat harga miring (bandingkan menunya dengan melihat daftar menu di bawah ini). 

Restoran Jawa ini meskipun tempatnya luas, tapi kalau ke sini pertama kali, pasti dibuat bingung karena penampilan dari luar nampak seperti gedung perkantoran biasa. Kita harus masuk ke dalam dan di lantai dasar gedung pertama sebelah kanan, kita akan menemukan restoran ini.
dari luar

setelah masuk gedung




Kalau ke baru pertama kali ke Resto Jawa ini, saya sarankan bersama teman, alasannya: 


1. Porsinya melimpah

Bisa dimaklumi kalau pas ke restoran Indo di luar negeri, apalagi pas lapar banget, kita pesannya macam-macam yang pada akhirnya, nggak habis. Kalau nggak habis, minta dibungkus saja. 

Aku biasanya ke sana dengan 2-6 orang teman yang hanya pesan 2-4 porsi makanan saja. Karena porsinya yang besar banget (porsi orang Eropa). 

Berikut daftar menu:








 Daftar menu diatas adalah daftar menu makan malam. Berikut adalah daftar menu makan siang (Harga lebih murah, tapi pilihan menunya terbatas):


Kalau ingin pesan dari menu makan malam, kita bisa minta pelayan untuk membawakan daftar menu makan malamnya.


2. Pengalaman Buruk

Datang ke restoran ini sendiri rasanya seperti mimpi buruk. Dalam menulis review, aku akan berusaha menulis sejujur-jujurnya. Pengalaman ini ternyata tak hanya aku alami sendiri, tapi beberapa review di google juga menyebutkan hal serupa.  Memang meskipun aku pernah sangat dikecewakan, tapi karena resto ini merupakan resto Indo satu-satunya di Hamburg, tetap saja aku datang dan datang lagi :). Ceritanya seperti ini:

Entah kenapa waktu itu saya ngidam pengen Bakso. Luar biasa sekali sehingga detik itu juga saya ingin makan bakso. Tak berhasil mengajak teman maupun pacar karena mereka semua kerja, aku akhirnya memutuskan ke Resto Jawa sendirian. 

Di sana seperti orang linglung, aku diacuhkan. Akhirnya aku memilih tempat duduk sendiri (padahal kalau masuk ke Resto di Jerman, pelayannya menyambut dan memilihkan tempat duduk untuk kita). 

Aku duduk sendirian di meja yang terdiri dari 4 bangku. Kulihat di sekitarku, banyak pengunjung dari Indonesia yang datang dengan kawan-kawan dan asik ngobrol (seperti yang biasanya aku lakukan juga). 

Waktu itu jam makan siang sudah habis (aku datang pukul 16.30), tak ada pelayan yang peduli bertanya aku mau pesan apa. Setelah lebih dari 15 menit menanti, akhirnya ada yang menghampiriku dan bertanya aku mau pesan apa. Aku pesan bakso dan es teh. 

Setelah agak lama menunggu, pesananku tak kunjung datang, seseorang dibalik meja bar kudengar meneriakiku dengan bilang, "Yang pesan bakso? Mienya mau mie putih atau mie kuning?". Busyet, memang benar ini restoran Indonesia, tapi di Jerman nggak ada etika pelayan restoran meneriaki pelanggan seperti itu. Karena tak ada yang menjawab, aku pun segera sadar bahwa yang dimaksud itu aku. Aku pun menjawab, "Mie putih".  

Bakso panas yang aku idamkan akhirnya datang. 

Lagi-lagi dari balik meja bar, seseorang meneriakiku, "Es tehnya habis, mau teh biasa?". Aku merasa jengkel sekali DITERIAKI seperti maling seperti itu. Akhirnya aku bilang, "Iya gak apa-apa!"

Pikirku, aku bakal dikasih teh Sariwangi khas Indonesia, ternyata, teh hijau di teko besar yang aku dapatkan. Apa-apaan nih, bakso saja udah kenyang minum kuah, nah ini disuguhin kuah segentong lagi. 

Aku masih menahan amarah sampai akhirnya aku menemukan benang yang nyangkut di sela-sela mie putih baksoku. Aku pun memanggil pelayan dan protes. 

Pelayan itu rupanya hanya bisa bahasa Jerman, untungnya aku juga bisa bahasa Jerman sehingga bisa melampiaskan kemarahanku. 

Aku protes karena disuguhi teh hijau segentong dan ada benang di baksoku. Mereka pun meminta maaf. Seharusnya, di Eropa, aku bisa menuntut restoran ini karena aku masih disuruh membayar setelah dikecewakan dan baksonya tidak diganti secara utuh (alasannya, karena baksonya mau habis, uuh). Tapi karena lagi-lagi aku ingin restoran rasa otentik ini masih eksis, cukup aku kasih review saja di sini. Aku pun membayar, tapi dengan harga separuh. 

3. Pelayanannya kurang ramah

Di banyak restoran Indonesia di Eropa yang pelayannya asli orang Indonesia, pasti kita akan merasakan seperti dilayani dengan ramah dan hangat. Pelayan di restoran ini menurutku jauh dari kesan orang Indo yang ramah dan hangat (bahkan anak dan dari pemilik restoran ini adalah orang Indo-Cina yang lahir dan besar di Jerman, sehingga meskipun dia bisa bahasa Indonesia, dia lebih sering berbahasa Jerman, dan sangat cuek). Mereka juga nggak seperti orang Indo lainnya yang kepo dan berbasa-basi (bisa dimaklumi kalau resto ramai pengunjung). 

Meskipun demikian, sering aku jumpai pelayan orang Jerman yang keturunan Indonesia juga melayani dengan ramah dan lebih sering tersenyum ketimbang pemilik dan anaknya sendiri. Banyak temanku yang juga kerja di sini. Aku pun juga sempat ingin kerja di sini, tapi kuurungkan karena susah mengatur waktu, alasan lain, karena jadi waitress dan kerja di restoran itu gajinya kecil, capeknya setengah mati. 

Saat mengajak teman Jerman ke resto ini, mereka mengomentari beberapa hal soal pelayanan di resto ini: Biasanya kalau di Jerman, pengunjung datang, ditanya mau minum apa, lalu disuguhi minumannya dulu, baru datang makanan pembuka, setelah makanan pembuka habis, baru datang makanan utama, dan baru penutup. Saat kami ke sana. Makanan pembuka dan makanan utama dihidangkan secara bersamaan, setelah sekian lama menunggu baru minuman. Bayarnya juga di meja bar (meskipun kita bisa minta pelayan untuk datang memberi bill di meja kita). Kata temanku: rasa dan pelayanannya sama persis kayak di Indo, ya! Meskipun kita berharap rasa ala Indo, pelayanan ala Jerman. 😀

Jadi, jangan ambil resiko untuk merasa kesepian dan galau dengan datang ke Resto Indo Sendirian. Ajak teman biar seri dan bisa sama-sama heboh menikmati hidangan nusantara di manca negara. Lagi pula, kalau ke sini sendirian, celingukan kayak orang bingung di restoran besar, ngliat ke sana-ke sini orang-orang bersantap makan sambil ngobrol dengan teman-teman, rasanya gimana gitu. (Aku merasakannya), makanya jangan ke sini sendiri! :)


Info dan TIPS:

- Sebaiknya bawa uang tunai, karena mereka nggak menerima kartu kredit atau atm.

- Kalau ke resto ini, jangan lewatkan untuk memesan:

Nasi Goreng Kambing Pedas (Harga aktuel 2017 : 9,5 euro)

Bakso Campur (harap bawa kecap dan saos sendiri karena kecapnya kecap Eropa kurang sedap kalau dicampur bakso :p) harga aktuel: 7,9 euro

Penyet Lele : Nasi putih plus 2 ekor ikan lele besar dengan sambal trasi super pedas (9,9 Euro)

Batagor (7,5 euro)

Banyak menu lain yang sudah kucoba, seperti ikan bakar, sate, martabak, mie baso, mie bebek, dsb, tapi tak sejuara menu yang aku sebutkan di atas. Tentu saja seleraku bisa saja berbeda dari penilaian orang lain.

Untuk minuman, ada es campur yang benar-benar seperti es campur di Indonesia. Lalu es Cendol dan Soda Gembira. Sayangnya Bir Bintang khas Indonesia malah tergantikan Bir München (Erdinger). Teman Jermanku pernah sempat kecewa karena dia kangen sekali dengan Bir Indonesia, mampir ke Resto ini berekspektasi minum bir bintang, malah tak ada. 






porsinya cukup besar; semuanya enak dan otentik


ayam bakar bumbu rujak: harga 11,50euro

Lalapan lele: 9,9 euro

Batagor, aku selalu pesan soalnya enak luar biasa. Harga: 7,5 euro

Suasana di Resto Jawa. Jawa banget :)

Ayam bumbu asam manis. Harga: 8,9 euro
es campurnya super gede dan enak. Bisa buat 2-3 orang!


Sekian review Restoran Jawa di Hamburg versi aku yang cukup panjang. Jangan lupa beri tips kalau memang puas dengan pelayanannya, ya :). 

Semoga bermanfaat, kalau kalian mampir ke sini, jangan lupa kunjungi aku juga di Hamburg ya :). 


Baca juga review restoran Asia di Hamburg:
Makan malam romantis di Maiglückchen Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya....

Viele Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers