Thursday, February 23, 2017

Mengapa Meskipun Jam Kerjanya Dikit, Jerman Jauh Lebih Produktif Dibanding Negara Lain?: 10 Alasan


Di Jerman, tidak ada budaya mengabdi kepada pejabat, atasan, pimpinan perusahaan, cari muka, cari pangkat, terlalu mencintai perusahaan, dsb. Bekerja ya bekerja, mereka sadar bahwa suatu saat mereka akan pensiun dan digantikan oleh generasi baru. Meskipun demikian, orang Jerman bekerja dengan penuh dedikasi.

Jerman adalah negara yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia,  pemimpin Industri di Eropa, penyelamat krisis pada beberapa negara di Eropa, dengan pengelolaan ekonominya yang luar biasa terkendali, di tahun 2012, Jerman sempat memulihkan perekonomian Eurozone yang hampir collapse saat itu.

Hal ini tak tak luput dari kebijakan pemerintah untuk pekerja di Jerman serta etos kerja masyarakat Jerman juga.

Artikel ini terinspirasi dari artikel knote, yang menjabarkan alasan mengapa meskipun para pekerja di Jerman, jam bekerjanya sedikit, liburnya, banyak, tapi tetap bisa lebih produktif dibanding Amerika dan negara maju lainnya.

1. Bekerja ya Bekerja

Di Jerman, karena orangnya nggak begitu suka berbasa-basi, kalau mereka bekerja ya bekerja. Melakukan aktifitas di luar konteks pekerjaan sangat dilarang. Aku sendiri bekerja bersama orang Jerman selama lebih dari 2 tahun. Mereka paling anti ngegossip, membicarakan rekan kerja, boss, senior, bawahan, anak baru, dsb. Di Amerika dan di Inggris rupanya masih banyak orang yang melakukan aktivitas lain selain yang berhubungan dengan pekerjaan di jam-jam kerja. Sehingga jam kerja kurang efektif. Di Indonesia, meskipun sistem layanan masyarakat sudah lebih membaik, namun masih saja ada pegawai pemerintahan yang bertugas melayani masyarakat bekerja dengan lelet dan tidak profesional serta banyak ngerumpi di jam-jam kerja.


2. FOKUS adalah KUNCInya

Orang Jerman amat sangat fokus dan teliti. Bayangkan saja ketelitiannya dalam mengatur pajak, membuat infrastruktur , dalam berbahasa, dan bersosialisasi dengan sesama. Kalau sudah ada renovasi jalanan beraspal di Jerman, jangan dibayangkan malam dikerjakan, pagi sudah jadi. Mereka membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan agar jalanan itu tidak mudah rusak lagi, mengukur komposisi, ketepatan, tidak mengkorupsi bahan, dan tidak tergesa-gesa. Sehingga kalian bisa mempercayakan buatan Jerman dalam hal manufaktur, teknologi, dan obat-obatan, serta banyak hal lainnya dengan pertimbangan fokus dan ketelitian mereka ini.
Baca Juga: Jerman Vs Indonesia: Saklek Vs Cerdik

3. Blak-blakan

Bukan hanya di lingkungan kerja, orang Jerman memang suka blak-blakan. Kalau suka ya bilang suka, kalau nggak ya langsung dibicarakan terus terang, tidak nggrundel di belakang. Sesudah itu, ya selesai urusan, mereka bukan tipe pendendam, dan menyimpan kekesalan sendiri. Contoh kecilnya, di budaya negara Berbahasa Inggris, seperti di Amerika, bos akan berkata, "It would be great if you get this to me by 3pm", atau di Indonesia, "Kalau bisa, kamu kasih ke aku jam 3 ya!". Tapi orang Jerman, akan berkata, "Aku butuh ini jam 3!". Dulu aku juga sering kaget kalau bos di institusiku bilang, "Ini kamu isi aku butuh segera!". Lalu aku berpikir segera ya bukan berarti sekarang, lalu aku taruh saja formulir tersebut, eh dianya marah dan bilang, "Sekarang!". Meskipun sering sakit hati karena dulu masih kaget dengan budaya orang Jerman yang terkesan frontal ini, sekarang aku jadi ikut-ikutan kayak gitu.

4. Bekerja bukanlah segalanya

Para pekerja Jerman meskipun sangat mencintai pekerjaannya, mereka tidak mencintai perusahaannya. Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Belum pernah aku menjumpai orang Jerman yang rela lembur berjam-jam tanpa kompensasi dari perusahaan, sekalipun mereka menyukai apa yang mereka lakukan. Kalau mereka bekerja melebihi waktu yang ditentukan, mereka akan mendapat hari libur lebih di kemudian hari atau gaji lebih misalnya, dan orang Jerman tak segan-segan menindak perusahaan sampai ke pengadilan kalau mereka mendapati adanya kecurangan, misalnya forsir tenaga kerja.

5. Kehidupan diluar pekerjaan

Kalau di Indonesia, sepulang kerja, kita bisa konkow-konkow dengan rekan kerja, ngrumpi, ngemall, makan bareng, ngegosip bareng, dsb. Di Jerman, rekan kerja ya rekan kerja, bukan sahabat, atau saudara. Hubungan mereka ya sebatas hubungan kerja, meskipun di tempat kerja mereka juga bercanda dan bercerita satu sama lain. Ini yang menjadikan pekerja Jerman lebih produktif, karena mereka (lagi-lagi) fokus dan tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan.
Baca juga: Cara orang Jerman mengelompokkan pertemanan

6. Hari LIBUR

Aku pernah bertemu dengan salah satu orang Jerman yang magang di Washington DC, dia bilang, "Busyet aku nggak mau lagi kerja di Amerika. Jatah libur per tahunnya cuma 5 hari doank, libur natal pun termasuk di dalamnya."
Di Jerman, para pekerja mendapat jatah libur 30 hari dalam satu tahun, hari libur nasional dan tanggal merah tidak termasuk di dalamnya.
Untuk menghasilkan para pekerja yang produktif, pemerintah mencanangkan program libur tersebut agar para pekerja bisa bersenang-senang dan tidak stress dengan pekerjaan mereka.

7. Tunjangan para pekerja

Gaji 13, bonus, dan juga tunjangan lainnya seperti tunjangan ibu hamil dan orang tua merupakan tunjangan bukan untuk pegawai negeri saja di Jerman, melainkan kepada semua pekerja di bidang apapun.
Baca juga: Tunjangan Orang Tua dan anak di Jerman

8. Taat Kebijakan

Orang Jerman merupakan orang yang paling taat pada peraturan dan kebijakan pemerintah. Mereka percaya, kebijakan yang dicanangkan pemerintah itu bertujuan baik untuk mensejahterakan negara dan orang banyak. Masih ingat bagaimana tertibnya para pekerja membayar pajak?. Di segala aspek, orang Jerman itu paling anti melanggar peraturan. Di lampu penyebrang jalan saja, meskipun nggak ada mobil lalu lalangm kalau nggak ijo, ya mereka nggak nyebrang.
Baca juga: 6 Tingkatan Pajak Penghasilan di Jerman

9. Jujur dan Bertanggung Jawab

Orang Jerman itu frontal dan kadang terlalu jujur, sehingga di lingkungan pekerjaan pun, mereka anti korupsi. Waktu adalah uang, jadi mereka menghargai waktu bekerja itu untuk bekerja, bukan untuk hal lain. Ada banyak kasus di mana perusahaan membolehkan pekerjanya masuk kerja sesuka hati mereka asalkan bekerja 8 jam sehari dan pulang kalau jam kerjanya sudah selesai. Satu kenalan yang punya masalah insomnia masuk kerja jam 14.00 (padahal peraturan perusahaan masuk kerja jam 08.00), dan pulang jam 22.00. Tapi dia jujur, kalau belum waktunya pulang ya nggak pulang.
Baca juga: Sebuah kisah tentang kejujuran di lingkungan kerja orang Jerman

10. Orang Cacat Boleh Bekerja

Apakah di Indonesia masih ada pengecualian bagi penyandang cacat untuk bekerja sebagai pegawai sipil dan pelayan masyarakat? Pemerintah Jerman mencanangkan peraturan bahwa setiap perusahaan, institusi, dan yayasan baik negeri maupun swasta, WAJIB hukumnya menerima orang yang cacat dan terkualifikasi untuk bekerja di perusahaan mereka layaknya orang normal. Sebuah perusahaan bisa saja menolak mempekerjakan orang cacat, tapi perusahaan tersebut harus membayar dendan dan pajak yang lebih besar kepada pemerintah.
Baca juga: 7 Hal Seputar Pajak di Jerman


Nah, pemerintah Indonesia dan para pekerja di Indonesia? Kapan mempertimbangkan hal-hal seperti ini?

Viele Grüße

8 comments:

  1. Kok bule-bule di kantor gue sukanya gosip ya kaya gue? Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,, bule Jerman juga? Wah pengecualian tuch...

      Delete
  2. Mau dong ke jerman. Hehee... *Mimpi kali ye

    ReplyDelete
  3. Wah.. sebegitunya ya. Keren deh, gabisa bayangin kalo diterapin di Ind betapa apiknya Mbak

    ReplyDelete
  4. Keren ya. Coba bisa diterapkan di Indonesia gitu ya. Salam kenal mbak, dari blogger baru Pekanbaru. Jadi tambah pengin banget ke Jerman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga :) terima kasih sudah mampir,,,

      Delete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers