Tuesday, February 28, 2017

Asuransi Kesehatan Di Jerman

Beberapa hari yang lalu, saya sempat dibuat sedih karena membaca berita tentang fasilitas asuransi kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah baru-baru ini, BPJS, tak berjalan semulus yang diharapkan. Saat update status di facebook tentang hal itu, dari sekitar 20 komentar, hanya 2 saja yang merasa puas dengan layanan BPJS. Sisanya? Banyak yang mengeluh karena penanganan dokter yang enggan melayani pasien kalau mereka memakai BPJS. Mengapa hal ini bisa terjadi? Saya tidak mengerti. Saya harap ke depannya pelayanan asuransi kesehatan BPJS di Indonesia ini semakin membaik dan tidak ada oknum yang memanfaatkan pelayanan ini untuk mencari keuntungan pribadi.

Baca juga : kisah  ambulan dan pertolongan pertama di Jerman

Saya harus menekankan kembali bahwa di Jerman, tak ada dokter atau petugas kesehatan yang menolak pasien dengan alasan menggunakan polis asuransi tertentu. Di Jerman, setiap individu mempunyai asuransi kesehatan dan itu hukumnya wajib. Meskipun ada juga pendatang yang tidak mau membayar polis asuransinya dan akhirnya tidak memiliki kartu asuransi. Meskipun demikian, sekalipun orang tidak punya uang dan tidak punya asuransi kesehatan, begitu orang itu sekarat dan lari ke rumah sakit, wajib hukumnya bagi para petugas medis menolong orang tersebut dan negara yang akan mengurus administrasinya. Jangankan orang, anjing, tikus, kucing dan peliharaan lainnya saja punya asuransi kesehatan masing-masing, loh!.

Lalu, bagaiman asuransi kesehatan di Jerman itu? Apakah seperti BPJS yang dicanangkan dan dikelola oleh pemerintah? Berikut ulasannya:

1. Gesetzliche Krankenversicherung (baca: gezetslikhe krankenversiherung) atau GKV

Gesetzliche Krankenversicherung bisa dibilang  polis asuransi umum. GKV bahkan sudah dicanangkan di Jerman sejak tahun 1883 oleh Otto von Bismarck sebagai bentuk kesetaraan buruh dan pekerja pada saat itu. GKV jangan dibayangkan hanya satu perusahaan raksasa yang menaungi jutaan orang. GKV hanyalah nama dari jenis asuransi itu sendiri. Perusahaan asuransi yang beroperasi dan menjalankan program pemerintah ini ada lebih dari 110 perusahaan (data dari wikipedia menyebutkan ada 117 perusahaan asuransi kesehatan pemerintah). AOK (Allegemaine Ostkrankenkasse) adalah salah satu yang paling populer, TK (Technische Krankenkasse), BKK, dan masih banyak lagi. Aku sendiri memakai HEK (Hanseatiche Krankenkasse) karena tidak begitu banyak pelanggannya dan selama ini pelayanan customer service nya sangat cepat tanggap.


Tiap-tiap warga negara berhak memilih sendiri mereka mau daftar di polis asuransi umum yang mana. Harga perbulannya, meskipun tidak terpaut jauh, namun terkadang ada yang lebih mahal sedikit dari yang lainnya. Untuk pelajar hingga umur 30 tahun contohnya, aku membayar polis sebesar 90 euro (1,3 juta) per bulan.

Berapa besarnya asuransi kesehatan yang wajib dibayar untuk para pekerja? Untuk pekerja, bisa berkali-kali lipatnya, tergantung berapa penghasilan mereka perbulan.  7,3% dari penghasilan kotor akan langsung dipotong dari penghasilan mereka, lalu perusahaan tempat mereka bekerja juga wajib membayar polis asuransi kesehatan untuk masing-masing pekerjanya sebesar 7,3%. Jadi sebenarnya satu pekerja membayar 14,6% untuk asuransi kesehatan, separuh dari gaji mereka, separuh yang lainnya dibantu perusahaan. Rumit, ya? Yah begitulah Jerman.

Asuransi ini membayar semua biaya termasuk periksa dokter, terapi kesehatan, juga biaya pengobatan. Untuk biaya pengobatan, tergantung obat yang disarankan oleh dokter. Terkadang dokter bilang, "Anda wajib minum obat ini dan menebusnya di apotek!". Kalau demikian, kita menebus obat tersebut di apotek, berapapun mahalnya obat tersebut, kita hanya perlu membayar 5 euro saja, sisanya ditanggung pihak asuransi.

Jika dokter bilang, "Anda bisa menebus obat ini, bisa juga tidak, tidak wajib.". Kalau seperti ini, biasanya dokter akan menuliskan resepnya di kertas yang berbeda dan kita harus membayar sepenuhnya (bukan hanya 5 euro saja), karena bukan obat wajib. Asuransi juga tidak mau membayar biaya pengobatan yang bertujuan untuk kecantikan. Misalnya, terapi untuk mempercerah kulit, mempercantik gigi, dsb. Namun, para remaja yang giginya morat-marit, sebelum mereka berusia 18 tahun, dianjurkan untuk memasang kawat gigi dan biayanya ditanggung pihak asuransi. Kalau kawat gigi sekedar untuk gaya-gaya an saja, mereka tidak mau mengganti. Begitu juga dengan jerawat, pemuda di masa pubertas yang mempunyai masalah dengan jerawat, mengganggu, gatal, dan membengkak, dianjurkan ke dokter kulit untuk melakukan perawatan. Operasi tahi lalat yang dicurigai berpotensi menjadi kanker kulit juga ditanggung biayanya, namun jika hanya untuk alasan kecantikan dan senang-senang saja, kita harus bayar sendiri.

2. Private Krankenversicherung (PKV)

Private Krankenversicherung adalah asuransi kesehatan pribadi. Kalau kita asumsikan kata 'Private' disini, tentunya tak jauh dari arti yang sesungguhnya, yakni pribadi, eksklusif, privat, dsb. Perusahaan asuransi pribadi ini merupakan perusahaan asuransi swasta yang berdiri dibawah naungan pemerintah juga. Bedanya, perusahaan asuransi ini, lebih mengutakamakan keuntungan atau laba yang akan diperolehnya dari nasabah, sedangkan polis umum tidak.

Kalau polis umum, gaji kita akan langsung dipotong dari perusahaan, sebaliknya kalau polis pribadi,  perusahaan akan memberikan uang gaji kita dan kita membayar sendiri dengan mentransfer ke perusahaan asuransi pribadi ini. Kita pastinya sudah tak asing dengan perusahaan Allianz, AXA, SIGNAL IDUNA. Beberapa perusahaan tersebut merupakan perusahaan asuransi privat.

Besarnya nominal yang harus dibayar ke asuransi privat ini tidak tergantung pada persentase gaji kita. Tapi sudah ditentukan oleh perusahaan asuransi. Perusahaan tentu saja tetap membantu 7,3% dari gaji kotor untuk asuransi tersebut.

Para dokter juga mendapat uang lebih dari pasien yang terdaftar di asuransi privat. Sehingga, terkadang pasien-pasien tersebut lebih diutamakan, tapi bukan berarti pasien dari GKV lalu diabaikan.

Sebelum daftar PKV, biasanya kita harus tes kesehatan dulu. Kalau kita ada riwayat penyakit, misalnya TBC atau kanker, PKV tidak akan mau membayar atau mengcover biayanya. Tapi jika kita sudah lama terdaftar di PKV, dan tiba-tiba sakit kanker, PKV akan mengcover. Mengapa? karena perusahaan ini tidak mau rugi. Berbeda dengan GKV, yang tetap mengcover biaya pasien meskipun sebelumnya sudah beriwayat sakit.

Oh iya, sebagai info tambahan, biaya asuransi anak-anak biasanya langsung dipotong bersama gaji orang tuanya (kalau GKV), kalau di PKV, ada kemungkinan mereka medaftar asuransi keluarga untuk istri dan anak-anak dan transfer ke perusahaan asuransi sendiri (tidak langsung dipotong gaji).

Sejauh pengalamanku di Jerman, meskipun selalu terdaftar di polis asuransi kesehatan umum, aku tak pernah mempunyai pengalaman buruk diabaikan dokter atau ditolak. Semua orang Jerman sadar akan pentingnya kesehatan dan bekerja untuk kesejahteraan bersama. Tak bisa dipungkiri, orang Jerman rata-rata hidup 80 hingga 90 tahun lamanya, setelah pensiun di usia 65, mereka masih terbilang segar bugar karena sehat, tak khawatir akan sakit dan mahalnya biaya pengobatan, berlibur ke manca negara, dsb.

Sampai jumpa di topik menarik berikutnya,

Viele Grüße

Sunday, February 26, 2017

Makan di Restoran ala Jerman: 10 Hal ini Harus Diperhatikan!!


Di Jerman, ada budaya makan di restoran bersama. Karena makan siang biasanya dilakukan di sela-sela jam kerja, sarapan, brunch (breakfast and lunch), atau makan malam yang biasanya dilakukan bersama. Di konteks ini, bersama maksudnya bersama pasangan atau keluarga, bukan teman. Makan malam bersama teman di restoran, terkadang juga jadi agenda bagi orang Jerman. Mereka suka janjian untuk pergi ke restoran dan mencicipi makanan atau restoran yang baru dibuka.

Banyak hal yang membedakan cara makan di restoran Jerman dengan Indonesia. Terus terang, seumur hidup, baru sekali aku makan malam bersama keluarga besar. Itu pun saat ada teman Jerman datang berkunjung dan mengajak kami semua untuk makan malam di sebuah restoran. Ibuku paling anti makan di restoran alias marung (makan di warung) dengan alasan mahal, uang yang dihabiskan, bisa jadi jatah makan seminggu, bla bla bla. Jadi, aku paling sering makan sama teman-teman atau mengajak adik, dengan syarat dia nggak memberitahu ibu. :D

Kalau kalian kebetulan berada di Jerman dan ingin mencoba makan di restoran Jerman, tak ada salahnya memperhatikan hal-hal di bawah ini agar tidak dianggap aneh atau pun tidak sopan:

1. Reservasi Tempat

Ada banyak restoran favorit yang pengunjungnya bejibun, sehingga reservasi tempat dengan menelepon terlebih dahulu itu jadi kewajiban. Tapi kalau ide makannya mendadak, kita bisa langsung singgah ke restoran tersebut tanpa reservasi. Tentunya bertanya kepada pihak restoran (pelayan), apakah masih ada tempat.

2. Jangan langsung duduk

Begitu masuk di pintu restoran, sebaiknya menunggu pelayan nyamperin dan memilihkan tempat duduk untuk kita. Biasanya, mereka akan bertanya, untuk berapa orang, mau di dekat jendela, di area bebas rokok, dsb. Terutama kalau restorannya besar, kita nggak bisa langsung nyelonong dan memilih tempat duduk sendiri, karena kalau demikian, pelayan nggak bisa mengetahui kalau ada orang yang baru masuk dan harus segera dilayani. Kalau nggak ada pelayan yang melayani dan mengatur tempat duduk, tanya saja atau beritahu bahwa kalian ingin pesan makanan untuk dua orang (misalnya).

3. Bilang Hallo saat datang dan Tchuß (baca: cuss) saat pergi

Seperti di Alfamart atau Indomaret, orang Jerman berbudaya menyapa saat datang dan mengucapkan selamat tinggal saat pergi. Kalau kita masuk ke sebuah restoran, sapa paling tidak pelayan atau penjaga yang ada di sana dengan sapaan, "Hallo". Kemudian setelah selesai dan pergi meninggalkan restoran tersebut, jangan lupa bilang, "Tchuß" yang artinya daadaaag.

4. Pikirkan Minuman Dulu Sebelum Memesan Makanan

Kalau di Indonesia, makanan disediakan terlebih dahulu baru minuman. Tapi sebaliknya kalau di Jerman, minuman disajikan sebelum makanan. Saat di restoran Indonesia di Hamburg, temanku (orang Jerman) protes. Katanya, "Duuuh mentang mentang ini resto Indo, minuman baru datang saat makanan hampir selesai dimakan."
Di Jerman, orang biasa memesan minuman dulu. Lalu saat minuman datang, baru mereka memesan makanan. Bukan sebaliknya. Jadi, pikirkan minuman dulu yang akan dipesan, lalu cari daftar makanan.

5. Tutup Buku Menu Kalau Sudah Siap Memesan

Menu restoran biasanya berbentuk buku. Pelayan akan menyadari kalau kita sudah siap memesan saat kita sudah menutup buku menu. Jadi kalau sudah yakin mau pesan apa, tutup buku dan letakkan di atas meja tanda kalian sudah siap memesan. Kalau kalian masih membolak balik buku, tandanya masih butuh waktu untuk berpikir.

6. 3 Kata Ajaib

Sekali lagi, 3 kata ajaib: Bitte, Danke, dan Entschuldigung (Tolong, Terima Kasih, dan Maaf) adalah elemen penting bersosialisasi di Jerman. Saat pesan, jangan lupa sisipkan kata, "Bitte", saat makanan datang, jangan lupa bilang, "Danke", saat mau tanya kepada pelayan, angkat tangan dan bilang, "Entschuldigung" (baca: enshuldigung)

7. Menjawab Pertanyaan Pelayan

Pernahkan kalian berada di sebuah restoran dan merasa benar-benar dilayani oleh sang pelayan? Di Jerman, pelayan restoran biasanya akan bertanya di sela-sela mekan seperti, "Apakah anda butuh sesuatu?" atau saat membayar, "Bagaimana makanannya? Apakah semuanya okay? Enak? Baik-baik saja?.
Tiap restoran di Jerman menjaga reputasinya karena mereka nggak mau ada orang yang menulis review jelek di internet, selain itu, pelayanan juga harus bagus agar pelanggan bersedia kembali lagi serta ngasih tips.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kalian yang puas dengan makanan dan pelayanannya, cukup bilang, "Ya, semuanya baik, enak". Kalau nggak enak? Ya berarti kalian salah pesan makanan, kenapa nggak tanya sebelumnya? Kalau layanannya lelet dan tidak memuaskan? Kalian bisa protes sampai lapor manager. Kalau ada benda asing di makanan? Bisa protes dan akan diganti baru atau makanan digratiskan.

8. Bertanya, Memesan, dan Membayar

Semuanya bisa dilakukan di meja makan. Cukup acungkan tangan, pelayan akan datang melayani. Kalau bill datang, biasanya kita akan langsung ditanya, "Bayar sendiri-sendiri atau bersama?". Kalau bayar sendiri-sendiri, pelayan akan menghitung masing-masing makanan yang kita pesan, kita membayarnya (plus tips) di saat itu juga. Pelayan biasanya membawa dompet atau kantong berisi uang kemana-mana. Jadi kita nggak perlu ke kasir.

9. Meletakkan peralatan makanan

Kalau piring sudah nampak bersih dan kalian ingin pelayan mengambilnya dari meja, letakkan sendok dan pisau seperti gambar di bawah ini dan pinggirkan. Kalau kalian ingin memesan makanan penutup, bisa minta daftar menu lagi kepada pelayan.

Ini tandanya kita belum selesai makan
Ini Tandanya Kita sudah selesai makan

10. Budaya Memberi Tips

Ini penting di Jerman. Nggak semua negara Eropa memiliki budaya memberi tips kepada pelayan restoran. Seperti di Italia, tips sudah tercantum di bill. Tapi kalau di Jerman? Tips tidak tercantum di bill tapi kesediaan pengunjung sendiri untuk memberinya. Bekerja sebagai pelayan restoran di Jerman biasanya digaji dengan upah paling minimum, sehingga orang-orang mengandalkan pendapatannya dari Tips yang diberi oleh pengunjung (seperti di Amerika juga).
Lalu berapa TIPS yang harus kita sisihkan untuk pelayan? Tergantung kedermawanan kalian dan tingkat kepuasan kalian terhadap layanan dan makanannya. Paling aman, ngasih tips 10% dari jumlah bill. Kalau kalian nggak ngasih tips atau ngasih tips sedikit sekali, artinya kalian sama sekali nggak puas dengan layanan restoran tersebut. Orang Jerman, sebagai informasi, cukup dermawan dalam memberi Tips ini, karena mereka menghargai pekerjaan orang lain yang melayani mereka.


Semoga sepuluh tips di atas bermanfaat. Oh iya, tentu saja tips di atas nggak berlaku kalau kalian makan di Mc. Donalds,  KFC, restoran siap saji lainnya karena kita bayar duluan dan mencari tempat duduk sendiri-sendiri.

Sampai jumpa di topik menarik berikutnya

Viele Grüße

Saturday, February 25, 2017

Bagaimana Orang Jerman Menghargai Pendapat Anak Kecil?

Kita tak pernah tahu dari mana dan dari siapa kita akan belajar, oleh karenanya hargai pendapat orang lain, siapapun itu. Di negara maju seperti Jerman, hak asasi dan pendapat orang lain sangat dihargai. Tanpa terkecuali, termasuk pendapat anak kecil juga.

Saat kecil dulu, aku sering bertanya-tanya dan tak pernah menemukan jawaban dari apa yang aku tanyakan. Misalnya: kenapa perut ibu jadi buncit? Loh, kok tiba-tiba ada adik bayi lahir? Dari mana? Kenapa perut ibu kempes kembali? Tiap kali aku bertanya, tiap kali itu pula orang-orang dewasa di sekitarku, seperti paman, bibi, dan nenek bilang, "Bocah ijo bau kencur, jangan tanya kayak gitu! Pamali! Kurang ajar! Nggak sopan!"

Sebagai anak normal, aku sering kecewa dan sakit hati karena layaknya semua anak di dunia ini, aku juga punya rasa ingin tahu yang mendalam dan tak terbendung. Sehingga apa akibatnya? Saat aku mulai bisa membaca,  aku sering mencuri novel-novel dewasa milik bibi dan membacanya.

Pernah suatu kali saat aku masih kelas satu SD, salah satu teman laki-laki yang juga masih bocah, malah umurnya masih 4 tahun saat itu, mengajakku, dan dua anak lainnya (cewek cowok), bertelanjang ria, lalu bermain tumpang tindih secara bergantian di sebuah gang sempit di kampung kami. Kami sama sekali nggak ada ide permainan apa itu, yang jelas, teman kami itu bilang, bapak ibunya sering bermain seperti itu.

Memprihatinkan sekali bahwa (mungkin sampai sekarang), para orang tua masih menganggap anak-anak mereka kecil, tak tahu apa-apa. Justru karena mereka tak apa-apa, asupilah pengetahuan yang baik dengan membangun mental mereka agar tumbuh jadi anak yang berwawasan luas. Kita tidak harus menjelaskan blak-blakan tentang pertanyaan yang mengacu menjurus ke seksualitas, tapi kita bisa memperhalusnya tanpa harus berbohong. Bukannya malah dibantai dengan bilang, "Bocah bau kencur!". Dari situ, dulu kalau aku ingin bicara sesuatu, aku sering berpakaian, pakaian nenek agar terlihat lebih dewasa, dan agar orang-orang mendengarkanku. Efek yang ditimbulkan pendidikan penjatuhan mental seperti itu juga terasa sampai sekarang. Akibatnya, orang-orang Indonesia sering tidak PD berbicara di depan orang dari negara maju, merasa minder, takut salah omong, takut diketawakan, dicaci, dibully, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan di Jerman. Anak-anak Jerman cenderung berani mengemukakan pendapat dan para orang tua tidak pernah menghakimi mereka dengan bilang, "Shhhhh ini tabu! Kurang ajar!". Pernah suatu kali di sebuah restoran, yang terdapat patung dewa neptunus telanjang, seorang anak kecil kudengar berkata keras-keras, "Lihat deh, ada patung pria telanjang, apakah ini hari telanjang, mama?"Menanggapi hal itu, keluarga yang duduk di meja tersebut malah tertawa dan menciumi anaknya. Aku membayangkan kalau aku yang berkata saat itu, pasti udah ditampar sama nenek.

Aku bahkan sempat terharu sekali menyaksikan betapa orang Jerman benar-benar memanusiakan anak. Anak-anak itu tidak bodoh, bahkan mereka lebih cerdas dari kita, daya tangkap dan pikir mereka melebihi kemampuan orang dewasa. Bahkan sampai usia 13 tahun, seorang anak masih dalam tahap golden age untuk belajar sebuah bahasa, sehingga apapun yang ditangkap otak, akan langsung kecantol di sana. Masing-masing anak juga punya hukum dan undang-undang yang melindunginya. Kalau anak gadis tidak mau dikuncir rambutnya atau tidak mau disentuh pipi dan bagian tubuh lainnya, para orang dewasa akan menerima dan meminta maaf karena membuat mereka sudah merasa tidak nyaman. Orang tua bahkan tidak bisa memaksa keputusan anak.

Suatu kali, aku pernah sharing sama orang Indonesia yang mengajar TK di Jerman. Dia bilang, "Anak-anak di sini lebih kreatif karena tidak ada batasan untuk berkreasi. Untuk menggambar pun, kita dulu selalu diberi contoh, seperti menggambar dua gunung, lalu anak sungai dan sawah-sawah. Kalau di Jerman, para guru TK membiarkan saja anak-anak tersebut menggambar sesuai apa yang mereka inginkan. Ada yang mewarnai buku gambarnya dengan bola-bola hitam kelam tanpa bentuk yang jelas, ada juga yang mewarnai dedaunan dengan warna pink atau bahkan hitam. Saat aku bilang kepada anak itu supaya mewarnai daun-daun itu dengan warna hijau, anak tersebut ngeyel dan aku malah ditegur oleh guru TK lain katanya, biarkan saja, jangan membatasi atau mengatur kreatifitasnya seperti itu, nanti malah tidak bisa berkembang! Lantas anak tersebut menegurku dan bilang, bukankah di musim gugur, daun-daun bukan berwarna hijau saja?. Dari situlah aku sadar dan belajar dari anak TK, yang bahkan jauh lebih kreatif daripada gurunya sendiri."

Karena aku sempat tinggal di sebuah keluarga Jerman, aku jadi paham betul dan membandingkan bagaimana para orang tua memperlakukan serta mendidik anak-anak mereka. Contohnya, seorang ibu yang mengetahui kehamilannya, akan memberitahukan kepada anak-anak mereka bahwa mereka akan mempunyai anggota keluarga baru. Cara memberitahukannya juga unik, seperti diberi hadiah, kaos yang bertuliskan: Selamat, kamu akan jadi kakak! atau saat diajak makan malam, dsb. Anak-anak adalah anggota keluarga, sehingga apapun yang terjadi di sebuah keluarga, mereka juga berhak tahu. Anak-anak akan merasa dihargai dan disayangi serta dianggap. Saat aku kecil, tak terhitung banyaknya orang berkata bahwa aku ini gadis brutal yang bandelnya setengah mati. Para guru pun menyerah menghadapiku. Tapi tak sadarkah mereka mengapa anak-anank didik mereka menjadi nakal?. Semua anak-anak butuh disayangi dan diperhatikan. Kurangnya perhatian orang tua dan saudara padaku membuatku mencari perhatian dengan membuat kenakalan dan kekacauan di rumah maupun di sekolah.

Di Jerman, saat seorang anak, yang bahkan masih belum bisa berceloteh dengan sempurna, kalau dia ingin bicara sesuatu (misalnya di sebuah meja makan besar bersama keluarga besar yang sedang berkumpul), semuanya akan hening mendengarkan mereka bicara, dan menanggapinya dengan serius, bukan hanya berpikir, alah anak-anak tahu apa.

Contohnya, kakak dari temanku memutuskan untuk pindah perusahaan. Saat aku bertemu dengannya di sebuah restoran, dia bersama anaknya yang berusia 3 tahun. Saat kami ngobrol, anaknya sering menyela dengan bertanya, "Papa bilang apa sih?".

Menanggapi pertanyaan anak itu, dia menjelaskan ulang apa yang dijelaskan kepada kami, dengan berkata, "Papa cerita kepada tante Indra bahwa papa pindah kerja.".

Lalu anak itu bertanya, "Kenapa?".

Dijawabnya seperti ini, "Iya karena diperusahaan baru, papa mendapat uang lebih banyak dari pada perusahaan sebelumnya, dan berbagai tunjangan,,,," . Bayangkan, seorang anak umur 3 tahun dihargai dengan diajak berdiskusi masalah keuangan, pekerjaan.

Meskipun anaknya tak begitu menanggapi, bahkan dia mendengarkan sambil memainkan sendok dan piringnya, tapi pria tersebut menjelaskan dengan detail.

Lalu dia berkata kepada kami, "Padahal aku sudah cerita kepadanya lebih dari 5 kali, loh!".

Kami pun tertawa, dalam hati aku salut sama kakak temanku ini atas penghargaannya kepada anaknya. Bisa saja, dia berkata, "Ya ampun, kemarin kan papa sudah cerita! Ah, tahu apa kamu anak kecil! Ini urusan orang tua!"

Mengapa orang Indonesia yang sebenarnya pandai dan berbakat kalah bersaing dengan orang barat? Karena mereka tak terlalu PD untuk mengemukakan pendapatnya, apalagi di depan orang yang dianggapnya lebih pandai atau orang tua, pejabat, aparat yang disanjung dan dielu-elukan. Di Jerman, tak ada pejabat yang terlalu dipuja, bahkan orang nomor satu di Jerman, perdana menterinya, tak pernah luput dari berita parodi yang mengolok-oloknya. Apalagi pejabat korup, pejabat yang tak sengaja korup saja (lupa bayar pajak) tanpa tedeng aling akan diproses dan dijebloskan ke dalam penjara, serta hartanya akan disita, tak peduli seberapa besar pengaruhnya terhadap negara atau bahkan dunia, kalau dia salah dan tidak jujur, tak akan pernah luput dari hukuman.

Di Jerman, tak ada pertanyaan yang bodoh untuk ditanyakan, kalau tidak mengerti, anak-anak akan bertanya, sekalipun itu pertanyaan yang aneh dan tidak masuk akal. Tak akan ada yang menertawakan mereka. Oleh sebab itu, anak Jerman kalau sudah dewasa akan terbiasa bebas mengemukakan pendapatnya tanpa adanya tekanan dari orang lain dan tak khawatir dicemooh, mereka juga tak malu kalau ternyata pertanyaannya itu sudah terjawab. Mereka akan biasa saja bilang, "Oh, berarti aku kelewatan tadi. Ya sudah!"

Hargailah pendapat anak-anak. Jangan bungkam mereka dengan mengatakan, "Anak kecil tau apa!". Mereka memang belum tahu apa-apa, jadi tugas kitalah yang memberi informasi dengan benar agar keingin tahuan mereka terpenuhi dan tidak mencari-cari kesempatan terlarang seperti diriku dulu.

Viele Grüße

Friday, February 24, 2017

Pacaran Sama Cowok Jerman: Siap Bayar Sendiri-Sendiri!


Saat pacaran dengan orang Indonesia, semua beban keuangan ditumpahkan kepada cowok. Kencan, makan, maen dan jalan-jalan, apa-apa cowok. Pasalnya, cowokku dulu punya prinsip, kalau cowok ya harus berani modalin cewek. Begitu di Jerman, segala sesuatunya sangat berbeda.

Di Jerman, paling tidak seminggu sekali aku makan malam bersama pacar di restoran. Dulu, host family juga sering mengajak makan di restoran. Tapi mereka lebih sering makan malam berdua. Dari situ, aku belajar bahwa di Jerman, makan malam dengan pasangan itu merupakan salah satu budaya mereka.

Kalau makan malam bersama pacar, jangan dikira aku dibayarin. Budaya Eropa yang mengedepankan emansipasi wanita, cewek harus bayar sendiri. Loh?? Iya, Saat di München, aku punya pacar orang Nürnberg, seorang mahasiswa S2 yang nyambi kerja sebagai DJ. Darinya aku belajar banyak hal tentang bagaimana pacaran dengan orang Jerman.

Dia berasal dari keluarga yang cukup berada, kedua orang tuanya dokter dan dia anak satu satunya yang masih dibiayai, adiknya sudah kerja. Kebiasaan hidup mewah terbawa juga saat dia bersamaku (yang kadang nggak kuat juga aku imbangi). Contohnya, makan di restoran mewah. Sekali makan bersama, dia bisa memesan hidangan yang mahalnya minta ampun. Perbandingan harga makanan yang kita bayar untuk sekali makan saja bisa untuk mentraktir orang sekampung. Pernah kita makan malam bersama satu orang temannya. Kita bertiga menghabiskan uang sekitar 200 euro (3 juta rupah) di restoran mewah di Hamburg. Tentu saja kalau seperti itu aku marah dan nggak mau membayar, karena tak sanggup dan yang memilih restoran kan dia, kalau aku yang memilih, pasti aku pilih yang terjangkau saja.

Meskipun sering mentraktir makan, dia juga sering bilang kalau cewek Jerman itu biasanya bayar sendiri. Ya ampun, bikin makanan nggak enak ditelan, benar nggak sih?. Aku sadar kalau dia kan masih mahasiswa dan uang jajannya terbatas dari orang tua, jadi aku juga sering bayar sendiri. Tapi bukan berarti cowok Jerman itu pelit. Mereka bukannya pelit, tapi teliti soal keuangan dan pengeluaran. Meskipun sering bayar sendiri saat makan, aku sering juga dibantu dalam hal keuangan. Contohnya saat mau apply Visa, orang tua, paman dan bibinya bersedia jadi penjamin keberadaanku di Jerman. Kalau aku ada masalah uang, dia nggak segan-segan membantu.

Dengan Tobi (pacarku yang sekarang), meskipun dia sudah kerja dan penghasilannya sebagai konsultan IT lumayan besar, jangan dikira aku dengan enak nangkring di Jerman. Kalau makan malam, ya bayar sendiri-sendiri, liburan juga bayar sendiri, aku juga kerja keras untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Karena aku ingin dia melihatku sebagai wanita Asia yang bukan pemalas, melainkan pekerja keras yang mandiri seperti wanita Jerman. Kalau aku mengandalkannya di segala aspek, sama saja aku menjatuhkan harga diriku, pertama sebagai wanita yang lemah, cengeng, manja, needy, kedua sebagai orang Asia, terutama Indonesia, yang mana terkenal di Eropa dengan orang-orangnya yang malas dan mencari bule untuk hidup enak.

Satu hal yang berbeda saat makan di restoran bersama orang tua pacar. Dari DJ itu, aku diajari sebuah tips. Ceritanya dulu, meskipun aku sudah bertemu orang tuanya beberapa kali, namun kami belum berkesempatan makan malam bersama di sebuah restoran. Akhirnya saat dia mengunjungi si DJ dan aku (yang saat itu di Hamburg), kami bertemu di sebuah restoran. Aku pun bertanya pada mantanku itu apa aku harus bayar sendiri atau gimana.

"Mereka pasti membayarkan makanan kita. Scara aku kan anaknya dan kamu pacarku, otomatis kamu juga dianggap anak, jadi dibayarin. Tapi ada basa-basi ala Jerman juga,"

"Apa"

"Saat mereka minta bill ke pelayan, kamu bilang sama mereka kalau kamu ingin bayar sendiri sambil pura-pura ngeluarin dompet. Pasti mereka ketawa dan bilang kalau kamu sopan sekali tapi mereka akan membayar makanan kamu,"

"Jadi itu trik disayang mertua?" tanyaku.

"Hhaha"

Jadi kalau makan bersama, kita jangan ujug-ujug PD dibayarin, siapa tahu kita kudu bayar sendiri-sendiri. Berbeda dengan gaya pacaran di Indonesia, dimana cowok harus berani modal. Tapi aku tekankan di sini, ada banyak juga cowok Jerman yang paham dan mau menerima budaya Asia, sehingga dia terus-terusan membayarkan saat makan. Tapi budaya Jerman yang sesungguhnya, cewek dan cowok punya hak dan derajat yang sama di lingkungan sosial. Mengapa cowok Jerman terkesan pelit seperti ini? Sebenarnya ini demi menjaga harga diri sang wanita sendiri, agar tidak dianggap cewek yang manja, karena sejatinya cowok Jerman itu suka cewek yang kuat, mandiri, dan nggak manja.
 

Viele Grüße

Thursday, February 23, 2017

Mengapa Meskipun Jam Kerjanya Dikit, Jerman Jauh Lebih Produktif Dibanding Negara Lain?: 10 Alasan


Di Jerman, tidak ada budaya mengabdi kepada pejabat, atasan, pimpinan perusahaan, cari muka, cari pangkat, terlalu mencintai perusahaan, dsb. Bekerja ya bekerja, mereka sadar bahwa suatu saat mereka akan pensiun dan digantikan oleh generasi baru. Meskipun demikian, orang Jerman bekerja dengan penuh dedikasi.

Jerman adalah negara yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia,  pemimpin Industri di Eropa, penyelamat krisis pada beberapa negara di Eropa, dengan pengelolaan ekonominya yang luar biasa terkendali, di tahun 2012, Jerman sempat memulihkan perekonomian Eurozone yang hampir collapse saat itu.

Hal ini tak tak luput dari kebijakan pemerintah untuk pekerja di Jerman serta etos kerja masyarakat Jerman juga.

Artikel ini terinspirasi dari artikel knote, yang menjabarkan alasan mengapa meskipun para pekerja di Jerman, jam bekerjanya sedikit, liburnya, banyak, tapi tetap bisa lebih produktif dibanding Amerika dan negara maju lainnya.

1. Bekerja ya Bekerja

Di Jerman, karena orangnya nggak begitu suka berbasa-basi, kalau mereka bekerja ya bekerja. Melakukan aktifitas di luar konteks pekerjaan sangat dilarang. Aku sendiri bekerja bersama orang Jerman selama lebih dari 2 tahun. Mereka paling anti ngegossip, membicarakan rekan kerja, boss, senior, bawahan, anak baru, dsb. Di Amerika dan di Inggris rupanya masih banyak orang yang melakukan aktivitas lain selain yang berhubungan dengan pekerjaan di jam-jam kerja. Sehingga jam kerja kurang efektif. Di Indonesia, meskipun sistem layanan masyarakat sudah lebih membaik, namun masih saja ada pegawai pemerintahan yang bertugas melayani masyarakat bekerja dengan lelet dan tidak profesional serta banyak ngerumpi di jam-jam kerja.


2. FOKUS adalah KUNCInya

Orang Jerman amat sangat fokus dan teliti. Bayangkan saja ketelitiannya dalam mengatur pajak, membuat infrastruktur , dalam berbahasa, dan bersosialisasi dengan sesama. Kalau sudah ada renovasi jalanan beraspal di Jerman, jangan dibayangkan malam dikerjakan, pagi sudah jadi. Mereka membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan agar jalanan itu tidak mudah rusak lagi, mengukur komposisi, ketepatan, tidak mengkorupsi bahan, dan tidak tergesa-gesa. Sehingga kalian bisa mempercayakan buatan Jerman dalam hal manufaktur, teknologi, dan obat-obatan, serta banyak hal lainnya dengan pertimbangan fokus dan ketelitian mereka ini.
Baca Juga: Jerman Vs Indonesia: Saklek Vs Cerdik

3. Blak-blakan

Bukan hanya di lingkungan kerja, orang Jerman memang suka blak-blakan. Kalau suka ya bilang suka, kalau nggak ya langsung dibicarakan terus terang, tidak nggrundel di belakang. Sesudah itu, ya selesai urusan, mereka bukan tipe pendendam, dan menyimpan kekesalan sendiri. Contoh kecilnya, di budaya negara Berbahasa Inggris, seperti di Amerika, bos akan berkata, "It would be great if you get this to me by 3pm", atau di Indonesia, "Kalau bisa, kamu kasih ke aku jam 3 ya!". Tapi orang Jerman, akan berkata, "Aku butuh ini jam 3!". Dulu aku juga sering kaget kalau bos di institusiku bilang, "Ini kamu isi aku butuh segera!". Lalu aku berpikir segera ya bukan berarti sekarang, lalu aku taruh saja formulir tersebut, eh dianya marah dan bilang, "Sekarang!". Meskipun sering sakit hati karena dulu masih kaget dengan budaya orang Jerman yang terkesan frontal ini, sekarang aku jadi ikut-ikutan kayak gitu.

4. Bekerja bukanlah segalanya

Para pekerja Jerman meskipun sangat mencintai pekerjaannya, mereka tidak mencintai perusahaannya. Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Belum pernah aku menjumpai orang Jerman yang rela lembur berjam-jam tanpa kompensasi dari perusahaan, sekalipun mereka menyukai apa yang mereka lakukan. Kalau mereka bekerja melebihi waktu yang ditentukan, mereka akan mendapat hari libur lebih di kemudian hari atau gaji lebih misalnya, dan orang Jerman tak segan-segan menindak perusahaan sampai ke pengadilan kalau mereka mendapati adanya kecurangan, misalnya forsir tenaga kerja.

5. Kehidupan diluar pekerjaan

Kalau di Indonesia, sepulang kerja, kita bisa konkow-konkow dengan rekan kerja, ngrumpi, ngemall, makan bareng, ngegosip bareng, dsb. Di Jerman, rekan kerja ya rekan kerja, bukan sahabat, atau saudara. Hubungan mereka ya sebatas hubungan kerja, meskipun di tempat kerja mereka juga bercanda dan bercerita satu sama lain. Ini yang menjadikan pekerja Jerman lebih produktif, karena mereka (lagi-lagi) fokus dan tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan.
Baca juga: Cara orang Jerman mengelompokkan pertemanan

6. Hari LIBUR

Aku pernah bertemu dengan salah satu orang Jerman yang magang di Washington DC, dia bilang, "Busyet aku nggak mau lagi kerja di Amerika. Jatah libur per tahunnya cuma 5 hari doank, libur natal pun termasuk di dalamnya."
Di Jerman, para pekerja mendapat jatah libur 30 hari dalam satu tahun, hari libur nasional dan tanggal merah tidak termasuk di dalamnya.
Untuk menghasilkan para pekerja yang produktif, pemerintah mencanangkan program libur tersebut agar para pekerja bisa bersenang-senang dan tidak stress dengan pekerjaan mereka.

7. Tunjangan para pekerja

Gaji 13, bonus, dan juga tunjangan lainnya seperti tunjangan ibu hamil dan orang tua merupakan tunjangan bukan untuk pegawai negeri saja di Jerman, melainkan kepada semua pekerja di bidang apapun.
Baca juga: Tunjangan Orang Tua dan anak di Jerman

8. Taat Kebijakan

Orang Jerman merupakan orang yang paling taat pada peraturan dan kebijakan pemerintah. Mereka percaya, kebijakan yang dicanangkan pemerintah itu bertujuan baik untuk mensejahterakan negara dan orang banyak. Masih ingat bagaimana tertibnya para pekerja membayar pajak?. Di segala aspek, orang Jerman itu paling anti melanggar peraturan. Di lampu penyebrang jalan saja, meskipun nggak ada mobil lalu lalangm kalau nggak ijo, ya mereka nggak nyebrang.
Baca juga: 6 Tingkatan Pajak Penghasilan di Jerman

9. Jujur dan Bertanggung Jawab

Orang Jerman itu frontal dan kadang terlalu jujur, sehingga di lingkungan pekerjaan pun, mereka anti korupsi. Waktu adalah uang, jadi mereka menghargai waktu bekerja itu untuk bekerja, bukan untuk hal lain. Ada banyak kasus di mana perusahaan membolehkan pekerjanya masuk kerja sesuka hati mereka asalkan bekerja 8 jam sehari dan pulang kalau jam kerjanya sudah selesai. Satu kenalan yang punya masalah insomnia masuk kerja jam 14.00 (padahal peraturan perusahaan masuk kerja jam 08.00), dan pulang jam 22.00. Tapi dia jujur, kalau belum waktunya pulang ya nggak pulang.
Baca juga: Sebuah kisah tentang kejujuran di lingkungan kerja orang Jerman

10. Orang Cacat Boleh Bekerja

Apakah di Indonesia masih ada pengecualian bagi penyandang cacat untuk bekerja sebagai pegawai sipil dan pelayan masyarakat? Pemerintah Jerman mencanangkan peraturan bahwa setiap perusahaan, institusi, dan yayasan baik negeri maupun swasta, WAJIB hukumnya menerima orang yang cacat dan terkualifikasi untuk bekerja di perusahaan mereka layaknya orang normal. Sebuah perusahaan bisa saja menolak mempekerjakan orang cacat, tapi perusahaan tersebut harus membayar dendan dan pajak yang lebih besar kepada pemerintah.
Baca juga: 7 Hal Seputar Pajak di Jerman


Nah, pemerintah Indonesia dan para pekerja di Indonesia? Kapan mempertimbangkan hal-hal seperti ini?

Viele Grüße

Wednesday, February 22, 2017

6 Tips Prasmanan di Jerman



Terus terang, saat di Indonesia, aku SAMA SEKALI belum pernah menginap di sebuah hotel. Maklum saja, aku dan keluargaku bukan tipe orang yang mengutamakan liburan atau menikmati hidup dengan melancong dan menginap di hotel, kami belum punya cukup dana untuk itu. Bisa makan tiap hari saja syukur-syukur loh.

Wajar saja saat di Jerman, diajak menginap di hotel oleh host family atau saat seminar FSJ merupakan hal yang baru buat aku. Di sebuah hotel minimal bintang 3 maupun halbpension, biasanya, kita akan mendapat jatah sarapan gratis. Sarapan tersebut berupa prasmanan dimana kita bisa ambil sendiri makanan yang biasa kita ambil.

Agar tidak canggung dan membuat kesalahan seperti aku, 6 hal ini mungkin akan berguna kalau kalian makan prasmanan, baik di hotel, di undangan keluarga, maupun di sebuah restoran:

1. Perhatikan jadwalnya

Sarapan prasmanan di restoran biasanya ada jadwal khususnya. Ada yang mulai jam 7 dan berakhir jam 11 pagi. Ada juga yang jam 8 sampai jam 10.30. Kita harus perhatikan jadwalnya agar kita bisa sarapan dan memilih-milih menu dengan tenang.
Kalau makan di restauran pun juga demikian, ada restauran all you can eat yang menawarkan menu apa saja bisa di makan di jam-jam tertentu dengan membayar harga tertentu.

2. Ambil makanan piring demi piring

Sebaiknya jangan ambil makanan sepenuh-penuhnya. Restoran kan menyediakan ratusan piring. Kita bisa memenuhi piring demi piring tersebut dengan porsi yang wajar, jangan seperti orang kalap, ambil banyak banget di satu piring. Piring demi piring tersebut bisa kita letakkan di meja, akan kelihatan rapi, ketimbang banyak makanan di satu piring.

3. Pinggirkan piring kotor

Jangan bawa piring kotor kembali untuk mengambil makanan baru!. Sebaiknya kalau sudah makan dengan satu piring, pinggirkan piring tersebut biar diambil pelayan, lalu ambil piring bersih yang baru untuk makanan baru. Aku pernah digumam sama tante-tante Jerman cerewet yang mungkin berpikir aku nggak bisa Bahasa Jerman. Begini katanya saat melihatku mengusung piring bekas makanku untuk mengambil makanan baru, "Seumur hidup aku nggak pernah melihat ada orang yang prasmanan membawa piring bekasnya untuk makanan baru. Jorok banget." Nah lo, dari pada digumam seperti aku, lebih baik kalian tahu dan belajar kan?

4. Jangan pinggirkan peralatan makan

Piring kotor harap dipinggirkan, tapi peralatan makan seperti sendok, garpu, pisau jangan. Alat-alat makan ini akan terus kita gunakan sampai titik darah penghabisan. :D. Saat sudah selesai dengan satu piring, pinggirkan piring kotor, lalu letakkan peralatan makan di tempatnya semula (depan kursi makanmu), lalu ambil piring baru. Kalau kamu melihat di barisan hidangan prasmanan itu ada sendok, garpu baru, kamu bisa juga menyertakan peralatan makan kotor itu bersama piring agar diambil pelayan. Tapi ambil makanan beserta sendok garpu itu akan menimbulkan kegaduhan kalau alat-alat itu terjatuh, jadi lebih aman bila kita menyimpan bekas peralatan itu untuk makan selanjutnya.

5. Jangan sentuh makanan seenaknya

Aku juga membuat kesalahan ini saat mau mengambil roti. Aku mengambil satu roti, tapi berubah pikiran mau makan telur, lalu aku letakkan kembali roti tersebut. Robert yang melihatku marah besar, katanya roti itu sudah aku sentuh, jadi harus aku makan. Kita nggak bisa menyentuh makanan lalu mengembalikannya dan dimakan orang, itu nggak hieginis, dsb. Orang Jerman selalu menjaga kebersihan demi kesehatan diri dan keluarga. Jadi, jangan sentuh makanan yang nggak akan kita makan. Pikir dulu apa yang mau kita makan baru mengambil.

6. Bilang terima kasih pada pelayan

Saat pelayan mengambil piring kotor kita, atau menghidangkan kopi, telur atau hidangan lain yang kita pesan, jangan lupa bilang terima kasih. Sudah aku jelaskan sebelumnya bahwa terima kasih adalah kata penting di Jerman, kata yang menunjukkan tingkat peradaban tertinggi. Sekecil apapun yang orang lakukan untuk kita, budayakan bilang terima kasih. Jangan sampai kita dicap orang yang tidak tahu berterima kasih. Meskipun kita membayar pelayan, dan tugasnya melayani, kita wajib mengucapkan terima kasih. Bahkan host familyku yang sehari-harinya mencucikan bajuku itu tak terhitung banyaknya mengucapkan terima kasih kepadaku saat aku membantu mereka mencuci piring, padahal nyucinya di mesin pencuci piring. LOL

Apakah kalian punya tips prasmanan ala Jerman yang bisa ditambahkan?

Sampai jumpa di topik menarik selanjutnya ya...

Viele Grüße

Tuesday, February 21, 2017

Berada di Trasportasi Publik di Jerman: 10 Hal ini harus diperhatikan!!!

Masih ingat dengan apa yang aku sebutkan berkali-kali mengenai orang Jerman? Teratur, tertib, terorganisir. Yup, begitulah Jerman, semuanya serba terkendali. Tapi aturan dari pemerintah ini pastinya tak akan berjalan kalau rakyatnya membangkang, bukan? Kabar baiknya, meskipun pembangkang ada juga di Jerman, tapi kebanyakan masyarakatnya tertib dan sadar hukum. Orang Jerman cenderung EKTRIM taatnya pada peraturan.

Kalau kalian jalan-jalan atau pertama kalinya ke Jerman, nggak ada salahnya membaca dulu 10 hal berikut yang mungkin akan sangat berguna diterapkan kalau kalian berada di tempat umum. Khususnya di kereta api, bis, terminal, stasiun, dsb.

1. Keluar Masuk Kendaraan Umum (Utamakan Yang Keluar Dulu)

Orang Jerman begitu tertib dan sadar akan pentingnya antri dan mengutamakan hak orang lain. Bis dan kereta api di Jerman masih nomor satu mengenai ketepatan waktunya. Begitu kereta, bis, tram atau pun kendaraan umum lainnya datang, para orang yang antri menunggu kendaraan tersebut akan dengan tertib minggir ke kanan dan ke kiri pintu masuk, lalu membiarkan orang yang ingin keluar, keluar dulu, kemudian membiarkan anak kecil, orang cacat berkursi roda, ibu.ibu dengan kereta dorong masuk dulu, baru yang lainnya masuk.

Penumpang kereta yang mau masuk, nggak saling serondol
penumpang yang mau masuk minggir ke samping agar yang mau keluar leluasa jalannya

2. Turun Naik Eskalator (jika tidak tergesa-gesa, hendaknya minggir ke kanan)

Saat pertama kali menggunakan kendaraan umum, terutama kereta api bawah tanah, aku begitu terkesima dengan orang-orang naik eskalator yang begitu tertib minggir ke kanan, lalu membiarkan sebelah kiri eskalator itu kosong agar orang yang tergesa-gesa (mungkin mengejar kereta lain, dsb) bisa segera lewat mendahului mereka yang tidak tergesa-gesa. Kalau kalian diam di eskalator itu tapi mengambil jalur kiri, orang-orang yang mau lewat akan mengumpat, jadi sebaiknya ambil jalur eskalator sebelah kanan. Seperti kalau berkendara di jalan raya atau tol di Jerman, yang pelan-pelan sebaiknya di jalur kanan, yang mendahului, sebaiknya lewat jalur kiri (karena jalur di Jerman berbeda dari Indonesia, yakni jalur kanan)
Minggir ke kanan kalau nggak tergesa-gesa

orang-orang sadar akan tertibnya berada di sarana umum

Jalur kiri kosong agar orang yang mau nerobos, bisa leluasa


3. Utamakan Wanita/Manula untuk duduk

Di bus terutama, karena tak banyak tempat duduk yang tersedia. Biasanya di bus, terdapat juga anjuran untuk mengutamakan orang tua, wanita hamil untuk duduk. Sedangkan orang yang masih muda, sehat, segar bugar, kuat berdiri silakan berdiri. Aku pernah juga melihat wanita Asia, muda, masih segar duduk dengan enaknya main hp, sedangkan orang tua disampingnya dibiarkannya berdiri, lalu ada orang Jerman yang menegurnya agar berdiri serta membiarkan orang tua duduk. Orang Jerman menyebutnya Rücksicht nehmen (respek atau toleran terhadap sesama).

4. Penyandang Cacat 

Sangat mengesankan sekali bahwa insfrastruktur di Jerman dibangun dengan tidak melupakan bahwa orang yang hidup di dunia ini, tidak semuanya terlahir sempurna. Banyak orang yang tidak seberuntung kita, yang duduk di kursi roda, yang tuna rungu, netra, wicara, dsb. Tuna netra yang sama sekali tidak bisa melihat jalan, masih bisa hidup dan jalan-jalan di tempat umum tanpa khawatir akan tertabrak saat menyebrang jalan karena di setiap lampu lalu lintas atau zebra cross, akan ada tombol khusus yang bisa dipencet agar berbunyi dan mobil-mobil akan berhenti membiarkan mereka menyebrang.
Lalu penyandang cacat di kursi roda yang ingin naik kereta atau bis, akan dibantu supir untuk masuk. Bis yang berhenti itu akan dimiringkan otomatis, lalu melalui pintu tengah, kursi roda itu akan masuk, penyandang cacat itu punya tempat khusus di tengah-tengah bus dan punya tombol khusus untuk memberitahu supir bis bahwa mereka ingin berhenti di halte berikutnya. Saat mereka mau turun, supir bis juga wajib membantunya turun. Seperti digambar ini:
sumber: stadtwerke osnabrück
Kalau mereka ingin naik kereta api, mereka akan menunggu di gerbong paling depan agar masinis bisa membantu mereka masuk dan keluar dengan segera. Para masinis, supir bis dan pekerja di transportasi umum ini WAJIB hukumnya membantu mereka. Ada satu kejadian baru beberapa hari yang lalu, bahwa orang cacat yang diabaikan supir Hochbahn (perusahaan transportasi umum di Jerman), lalu update status di sosial media, pihak Hochbahn sampai menemuinya untuk meminta maaf. Perusahaan Jerman, terutama yang melayani orang banyak sangat menjaga reputasinya agar tidak cemar di mata masyarakat umum. Meskipun cacat, orang tersebut bisa melaporkan perusahaan itu di koran atau sampai ke pengadilan. Oleh karena itu, pihak Hochbahn secara pribadi menanggapi suara orang itu dan meminta maaf.

5. Jangan Heboh di Kendaraan Umum

Orang Jerman dimana-mana suka ketenangan, mereka biasanya duduk tenang, bicara pun pelan-pelan kalau di kendaraan umum agar tidak mengganggu orang lain. Oleh karena itu, mereka juga mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain. Kalau kita berisik dan susah dibilangin untuk diam, orang Jerman yang jengkel bisa melapor pada polisi. Polisi di Jerman akan benar-benar datang kalau di perlukan, bahkan mereka juga datang ke tempat bermain anak-anak ketika ada laporan ada anak usil dan sebagainya. Kalau polisi di Indonesia mungkin akan berpikir, kurang kerjaan amat yak. :D

6. Dilarang Merokok atau Minum Alkohol

Di Subway atau kereta bawah tanah larangan ini merupakan larangan keras dan hukumannya juga denda yang cukup besar. Tapi di kereta jarak jauh seperti ICE, orang-orang bisa memesan wine di restorannya. Aku pernah melihat dua orang wanita yang duduk di sampingku saat berada di kereta ICE, mengobrol, menikmati pemandangan di luar kaca sambil minum Wine (anggur), tentunya pesan di dalam bistro ICE tersebut, tidak bawa sendiri dari rumah.
tanda larangan minum alkohol dan merokok

7.  Buanglah sampah pada tempatnya


kotak kecil itu tempat sampah
Kebangetan kalau sudah disediakan tempat sampah tapi masih saja buang sampah di lantai. Tiap kereta ini nge-tem, akan ada petugas khusus yang membersihkan sampah-sampah ini, sehingga kereta tetap bisa bersih. Kalau di bis tidak ada tempat sampah, kita juga tidak diperbolehkan makan dan minum, kalau makan permen, sampahnya kantongin dulu, baru dibuang kalau nemu tempat sampah.

8. Jangan USIL (CCTV ada di mana saja)


mesin informasi dan darurat
Jangankan di tiap stasiun, di tiap platform (tempat turun naiknya orang dari kereta) akan kita temui mesin SOS seperti ini, mesin ini akan terhubung kepada seseorang yang bertugas memberikan informasi atau pertolongan. Sehingga kalau kita kesulitan, tersesat, atau menemui orang pingsan di stasiun, bisa pencet tombol SOS, kalau butuh informasi, sesorang akan menjawab pertanyaan yang kita ajukan lewat mesin tersebut, sehingga kita nggak perlu jauh-jauh ke pusat informasi, kalau ada orang yang butuh pertolongan, bisa memanfaatkan mesin ini untuk memanggil SOS. Tapi jangan coba-coba usil pencet sana pencet sini, karena di setiap sudut tempat umum, khususnya kendaraan umum, kereta api, bus, stasiun terminal ada CCTV, kalian akan mudah saja tertangkap dan dikenai sangsi. Di dalam kereta, juga ada tombol SOS, rem darurat, dsb. Keamanan berkendara merupakan hal yang paling diperhatikan di Jerman sehingga pemerintah bisa memperkecil kemungkinan kematian karena kecelakaan. Ingat, satu nyawa begitu berharga di Jerman, jangankan nyawa manusia, nyawa pinguin saja diselamatkan sampai memanggil helikopter. Ckckckck.

tanda-tanda di dalam kereta bawah tanah

9. Gunakan Lift Kalau bawa barang atau sepeda saja


Lift di stasiun yang ada di bandara
Di tiap stasiun, akan ada lift yang bisa kita gunakan. Tapi, sebenarnya ada anjuran agar penggunaan lift sebaiknya digunakan untuk orang yang membawa banyak barang bawaan, orang tua, atau para pengendara sepeda.

10. BELI KARCIS!!!!

Ini point yang paling penting. Apa kalian sudah tahu bahwa bahwa di Jerman, beli atau nggak beli karcis bisa saja masuk ke dalam kereta api atau transportasi umum? Di bus, biasanya kita dianjurkan untuk masuk melalui pintu depan dan menunjukkan karcis yang telah kita beli di mesin otomatis kepada supir.  Tapi di kereta api, subway atau tram, kita bisa masuk tanpa beli karcis. Di Köln, kita bisa membeli  karcis di dalam kereta, tapi di kebanyakan kota seperti München, Hamburg, dan Berlin contohnya, kita wajib membeli sebelum masuk kereta. Kalau nggak ada yang tahu kenapa harus beli karcis? Kalau ketahuan nggak beli karcis, kita bisa kena denda 60 euro. Padahal harga karcis cuma sekitar 1,7-12 euro saja (tergantung jarak tempuh). Jadi mendingan beli, kan? Bukan hanya kena denda, kita juga jadi terdaftar di orang yang pernah jadi penumpang gelap. Di mana beli karcis kereta? Di mesin otomatis. Mesin touch screen ini ada di mana-mana, dan terdapat beberapa bahasa juga kok. Nggak susah menggunakannya. Kalau bingung, bisa beli karcis di pusat informasi sambil tanya-tanya agar nggak salah.

Ini mesin pembeli karcis otomatis yang tersebar di seluruh penjuru stasiun

Petugas yang mengisi ulang tiket. Tiket juga bisa dibeli di pusat informasi
Bagaimana bisa kena dan bayar denda? Akan ada orang, kadang berseragam, kadang menyamar, yang akan mengecek masing-masing penumpang, apakah mereka beli karcis atau tidak. Kalau tidak membeli, mereka akan diturunkan di stasiun berikutnya dan diberi surat tilang. Mereka nggak harus membayar seketika itu juga, tapi diberi waktu 2 minggu untuk membayarnya, bisa ditransfer atau bayar langsung ke kantor pembayaran tilang.
Kalau punya tiket, tapi lupa? Di beberapa kota, akan tetap kena tilang 60 euro, tapi di Hamburg, kita akan mendapat surat tilang 60 euro, tapi saat menebusnya, kita bisa membawa tiket tersebut dan menunjukkannya kepada petugas, lalu, kita hanya akan dikenai denda 2,5 euro. Karcis ini penting sekali, kalau kalian sudah lebih dari 3 kali ketahuan tidak membeli karcis, bisa dideportasi. Mungkin tentang karcis dan kejujuran yang diuji di Jerman ini bisa kita bahas lebih lanjut di lain waktu.

Sampai jumpa di topik menarik berikutnya....

Viele Grüße

Monday, February 20, 2017

Verona, Italia: Review Restaurant L'Orologio


Setelah seharian jalan-jalan mengelilingi kota Verona, kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang menyediakan spagetti dengan saus bebek. Sebenarnya aku saja yang memutuskan, karena Tobi lebih memilih ikut dan bisa makan apa saja. Kata Tobi, "Makan kan passionmu, apapun yang bikin kamu senang, itu bikin aku senang juga." Hhaha cowok Jerman itu sebagai info saja, kadang romantis. Meskipun banyak juga yang ngeyel dan egosentris.

Daripada jalan jauh lagi, aku memutuskan untuk makan di dekat hotel saja, meskipun jarak hotel dengan Restoran yang aku pilih ini lumayan jauh juga (sekitar satu kilo). Busyet, saat nulis ini, kakiku masih alang kepalang pegalnya. Karena kemarin lusa, aku berjalan 8 jam lamanya, kalau ditotal bisa 14 kilometer jauhnya mengelilingi kota Verona. Tapi pegal itu terbayar kok kalau travelling. Karena travelling itu menyegarkan pikiran dan menambah wawasan, serta menggoreskan kenangan yang nggak akan dilupakan seumur hidup.

Oke, sekarang kembali ke Restaurant. Nama restoran ini L'Orologio. Terletak persis di gerbang masuk Pentagona (Torre Pentagona). Restoran kecil yang hampir mirip bar ini menyediakan menu yang lumayan bervariasi.

Torre Pentagona
Aku memesan Spagetti with Duck Sauce seperti yang aku inginkan sebelumnya
Harga Spagetti ini terbilang murah: 8,5 euro atau sekitar 130 ribu rupiah. Kalau di Jerman, spagetti dengan saus non-bolognese bisa dibandrol harga 15 euro an. Tapi porsi spagetti di Jerman jauh lebih gede. Aku senang bisa makan di Itali karena porsinya nggak begitu besar, pas untuk porsiku. Kalau di Jerman, aku lebih sering pesan Kinderportion atau porsi untuk anak-anak. Wkkkk 


Spagetti dengan saus Bebek

Oh iya, kami juga memesan hidangan pembuka khas Italia, Roti Bruchetta dengan Irisan tomat saus basilikum. Aku termasuk penggemar Bruchetta. Dan selalu memesan hidangan pembuka ini kalau ke restoran Italia.
Harga Roti Bruchetta: 3,5 Euro

Roti Bruchetta

Ravioli dengan isian daging dan saus keju
Tobi memesan Ravioli. Harga Ravioli di restoran ini terbilang cukup mahal karena porsinya yang sedikit. Harganya: 11 euro. Tentu saja tidak cukup untuk perut orang Eropa. Lalu untuk hidangan penutup, kami ingin memesan Buffallo Ricotta dengan saus coklat, tapi karena keju khas Italia itu habis, kami terpaksa memilih hidangan penutup lainnya. Pilihan akhirnya jatuh ke Puding Coklat.

Puding Coklat

 Puding coklat 2 potong tersebut dibandrol harga 5 euro. Cukup mahal juga. Tapi karena Tobi baik hati dan tidak sombong, kami pesan juga puding itu, alasan sebenarnya karena dia masih lapar, 

Yang aku suka dari restoran ini, karena mereka menghidangkan makanannya dengan cepat, tapi kami kurang suka kalau saat lihat-lihat menu di depan restoran, pelayannya langsung datang nyepik kami biar masuk. Oh iya, di Eropa, di depan sebuah restoran selalu ada menu dan daftar harga agar para pengunjung bisa lihat dulu apakah menu dan harga dari restoran tersebut cocok sebelum memutuskan untuk masuk restoran dan memesan. Jadi sah-sah saja berdiri berlama-lama di depan restoran sambil memandangi daftar menu dan harga. Biasanya, pelayan nggak langsung nyamperin, kalau disamperin, pengunjung merasa nggak enak dan risih karena mereka (orang Eropa) ingin memutuskan untuk makan di sebuah restoran tanpa tekanan.

Baca juga ulasan tentag restoran lainnya di Verona: Ristorante Olivo

Sampai Jumpa lagi (Arrivederci bahasa Italianya hehe)

Viele Grüße

Sunday, February 19, 2017

Sehari Di Verona

Kalau kebetulan jalan-jalan ke Italia dan sempat mampir ke Verona, jalan-jalan satu hari saja cukup kok buat menyusuri kotanya. Berikut foto-foto rute perjalanan yang kumulai dari Gerbang Pentagona

Terra Pentagona
 Lalu ke Arena....

Arena di malam hari

Palazzo Barbieri Mura Comunali dan Arena yang semuanya terletak di Piazza Bra
Arena: baca ulasannya di Arena Verona
Pusat Rumah Makan di Pusat Kota (Centro Storico)
pertokoan dan pusat perbelanjaan
Bangunan Renaisance sekitaran Piazza Delle Erbe

Piazza Delle Erbe
Menyusuri jalanan sempit
Pergi Ke Rumah Juliet: Baca Ulasan lengkapnya di Rumah Romeo dan Juliet

Gambar sepeda yang diparkir disebelah peninggalan situs bersejarah jaman Romawi. Kalau kalian ke Italia, kalian akan menemukan jalanan-jalanan yang berlubang dan dipagari seperti ini karena ditemukannya situs bersejarah jaman purba. Hebatnya, pemerintah melindungi dan menjaganya. Banyak juga situs yang sebesar kota yang juga dilindungi dan dijaga agar tetap terjaga keaslian dan kekunoannya.

Kalau ingin, naik sepeda, kita bisa menyewa sepeda ini gratis untuk setengah jam pertama. Baca info lengkapnya: Verona Citybike
jalan-jalan di tepian sungai Adige

Rumah Warna-Warni di Tepian Sungai

Sungai yang Luar Biasa Bersih dan Indah

Dari Jembatan satu ke Jembatan Lainnya di Sungai Adige

Museum Archeologi di Tepi Sungai Adige
Pemandangan dari Puncak Bukit
Menyusuri Verona dari pusat kota ke puncak bukit bukan perkara susah kalau kalian suka jalan kaki atau mendaki. Dan jaraknya juga lumayan dekat. Jangan lupa bawa minum dan camilan agar bisa dinikmati sambil menikmati pemadangan di atas bukit.

Kabar gembiranya, selain museum dan situs sejarah serta atraksi utama, semua bisa kita kunjungi Gratis, seperti naik ke puncak bukit dan mengambil foto sebanyak banyaknya di sana. Pokoknya taman, danau, laut, dan keindahan yang bersumber dari alam, di Eropa, semuanya nggak ada yang bayar dan hebatnya lagi, di semua tempat tersebut bersih bukan main. Para pengunjung tidakk hobi merusak alam dan meninggalkan jejak berupa sampah yang merusak pemandangan. Jadi, kalau kalian membaca ini, tolonglah jaga keindahan lingkungan hidup di Indonesia. Dari ratusan negara di dunia, Indonesia merupakan salah satu negara tercantik sedunia (voted by you), Indonesia nomor 6 dan Italia nomor 4. Jadi, sayang banget kalau dirusak oleh vandalisme oknum-oknum yang nggak bertanggung jawab.

Jangan lewatkan: artikel tentang Rumah Romeo dan Juliet


Sampai jumpa lagi (Arrivederci)

Viele Grüße

P.s: Foto-foto ini aku ambil dengan kamera iphone6 dan diedit pakai Snapseed (FYI aja)... semoga bermanfaat :)

Saturday, February 18, 2017

Verona: Arena

Arena di Verona ini dibangun bahkan seribu tahun sebelum Colloseum di Roma dibangun. Meskipun tak sebesar Colloseum, Arena ini cukup melelahkan juga untuk dijelajahi. Kurang lebih satu jam setengah kami mengelilingi gedung bundar terbuka yang sejak seratus tahun lalu berfungsi sebagai amphiteather ini.

Arena Amphiteather Verona

Pada tahun 1117 bangunan megah ini pernah sempat hancur karena gempa bumi. Lalu dibangun kembali. Dan sejak tahun 1913, amphiteather ini difungsikan kembali dengan gelaran opera Musik dari Giovanni Zenatello. Tiap tahunnya, Arena ini selalu melakukan gelaran opera musik yang dihadiri lebih dari 15 ribu pengunjung tiap kali pertunjukan. Dulunya, gedung ini bisa memuat lebih dari 30 ribu pengunjung, namun karena alasan keamanan, sekarang hanya dibatasi 15 ribu pengunjung saja.

Kita bisa masuk gedung ini dan melihat-lihat ke dalamnya serta membaca informasi di lorong-lorongnya dengan membayar 10 euro. Kalau pelajar usia 14-30 tahun membayar 7,5. Paling asik kalau ke sini di hari minggu di awal bulan, karena kita hanya harus membayar 1 euro saja.

rincian harga karcis masuk Arena


Gambar-gambar di dalam Arena


lorong-lorong arena


Cuaca yang cukup hangat membuatku melepas kurungan baju dingin

sembunyi di sayap bangunan arena
Verona dari Arena
Kalau kalian sempat ke Italia dan berkunjung ke Verona, Arena adalah salah satu object wajib untuk dikunjungi. Letaknya tepat di pusat kota dan pusat perbelanjaan. Sekitar 10-15 menit jalan dari stasiun utama. Oh iya, sebagai info tambahan, saat di Rome, temanku yang berkuliah di jurusan arsitek, tidak perlu membayar tiket masuk ke bangunan kuno manapun. Kalau kalian kebetulan kuliah di jurusan arsitektur, Italia adalah surga buat kalian yang ingin mempelajari bangunan-bangunan kuno karena pemerintah memudahkan para calon arsitek untuk mengunjungi bangunan tuanya dan belajar dari arsitekturnya.

Baca juga Rumah Romeo dan Juliet di Verona 
Artikel yang memuat kumpulan foto di Verona: Sehari di Verona

Arrivederci (sampai jumpa lagi)

Viele Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers