Thursday, January 19, 2017

Sebelum Jadi Au Pair di Jerman Part 2: Tak Ada Yang Kebetulan, Semua Telah Tertakdirkan



Seperti cerbung alias cerita bersambung, akan aku lanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku. Aduh kayak orang penting aja, padahal nggak banget. Diharapkan, para pembaca bisa mengambil sedikit hikmah dari semua hal yang telah aku tulis di blog ini. 

Kalau kalian belum tahu cerita awal, baca dulu Part 1 sebelum ke Jerman ya: Semua Berawal Dari Patah Hati , biar nggak kaget ini sebenarnya postingan apa :D

Saat semester akhir kuliah S1 adalah saat yang paling mengubah hidupku. Saat pebimbing skripsiku menolak mentah-mentah judul yang kuajukan, dengan sedikit berputus asa, aku mencari referensi di perpustakaan, kutemukan judul skripsi yang sangat menggugah hati, ” Cross Cultural Understanding Between Indonesian and Dutch Experienced by Indonesian Au-Pairs During Their One Year Living in the Netherlands” ada juga versi Bahasa Indonesianya, "Kultur Shock dan Akulturasi Budaya Belanda" yang diteliti lewat pengalaman Au pair. Penulisnya waktu itu pernah menjadi au pair di Belanda dan sekarang jadi dosen di salah satu universitas swasta di Malang. Penasaran menggelayutiku,  apaan sih au pair?

Sejak kelas 6 SD, teman se geng ku heboh banget punya cita cita suatu hari nanti pengen banget ke Menara Eiffel, cuma gara-gara pas pelajaran IPS, guru kami menjelaskan kalau menara Eiffel itu menara tertinggi di dunia (saat itu belum ada menara Tokyo kali :P) dan indah banget (padahal guru kami juga belum ke sana). Aku yang terbiasa ngikut mereka, spontan pengen banget deh ke menara Eiffel. Dari situ, mimpi ingin menjelajah Eropa dan luar negeri ku muncul. Ditambah dengan membaca buku tentang anak-anak di Bullerbyn karangan Astrid Lindgren.

Semenit setelah aku membaca judul skripsi itu, langsung ku sms teman sekampusku, Dina agar datang ke perpus saat itu juga. Dina salah satu teman yang punya ambisi sama sepertiku, ke luar negeri. Tak lama kemudian dia datang dan segera googling tentang au pair. Kami agak kecewa karena ternyata au pair hanyalah hidup di Eropa sebagai seorang pembantu, gak lebih dari TKW. Aku tetap mempelajari skripsi itu sebagai sumber referensi. Dari skripsi itu pula, aku menemukan judul untuk skripsiku sendiri yang langsung di acc oleh pembimbingku.

Setelah banyak membaca,  kutemukan bahwa pekerjaan sebagai au pair sama sekali bukan seperti seorang pembantu dan sama sekalibukan pekerjaan yang buruk. Beberapa bulan aku rajin membaca blog yang ditulis rekan-rekan yang sudah pernah menjadi au pair dan berbaik hati membagikan pengalamannya kepada kami serta sembari mencari buku untuk menulis skripsi, kutemukan buku karangan Icha Ayu yang sangat-sangat menggugah ku kembali untuk mencoba peruntungan ke Eropa.

Tiada hari tanpa mencari info tentang au pair. Setelah kutunjukkan buku petualangan Icha di Eropa, Dina kembali bersemangat dan kami pun bikin akun di www.aupair-world.net . Dina dan aku melamar ke lebih dari 70 keluarga. Tak terhitung banyaknya respon negatif yang kami terima.

Selang seminggu, aku dikejutkan oleh satu keluarga dari Jerman yang melamar ke profilku. Tentu saja ini sangat mengejutkan bagiku karena itu pertama kali dapat tawaran (meskipun setelahnya, aku juga dapat 3tawaran dari keluarga di Berlin, Belanda, dan Australia). Selama beberapa malam aku tidak bisa tidur saking senangnya, saking groginya dan saking tidak tahu harus bagaimana. :D

Dapet keluarga, bukan berarti udah aman. Setelah video call selama setengah jam, mereka bertanya apa aku sudah yakin dengan mereka kalau iya mereka nggak perlu nyari au pair lain. Aku jawab aku sudah sangat yakin. Setelah itu mereka menghilang selama sebulan.

Karena aku sudah sangat yakin dan merasa bakal ke Jerman nih, aku putuskan untuk menutup akunku di au pair world. Sebelum akun kututup, aku dapat lamaran dari keluarga di Berlin dengan 3 orang anak dan sebelumnya mereka udah berpengalaman dengan au pair. Dalam surat yang mereka kirim, mereka menulis namaku dengan sangat jelas, dan bilang kalau mereka sangat tertarik padaku, sudah minta alamat email dan skype (menandakan mereka sangat serius dan tertarik), dengan sopan aku menjawab kalau aku sudah mendapat keluarga di Munich, dan kusarankan padanya untuk memilih temanku (barangkali mereka mau), tapi nggak ada balasan.

Dengan sangat bodohnya aku berpikir, ngapain juga akun ini aku tutup? Akun ini kan kayak jejaring sosial aja? Dina kan belum dapat keluarga, aku ganti aja namaku menjadi namanya, dan fotoku menjadi fotonya. Beres, dengan gitu aku bisa dapetin keluarga buat Dina juga. Akhirnya apa yang terjadi? Akunku keblokir, sejam kemudian, aku mendapat sms dari Dina yang berbunyi, “Rin, rasanya aku nyerah deh ke luar negeri, aku udah dapet respon postiv dari satu keluarga di Italy tapi akunku keblokir.”. 

Deg! Aku langsung berpikir, berarti gak hanya aku aja yang keblokir, mereka menemukan nama yang sama dan memblokirnya karena mungkin kami dianggap scammer. Aku mencoba segala cara untuk membuat akun kembali, mengirim email ke pihak au pair world, tapi nihil. Aku bahkan membuat akun samaran, dengan nama lain di kemudian hari, dengan email baru, dengan computer di warnet, tetap nihil. Au pair world emang sangat hati-hati terhadap scammer, jadi bisa dipastikan baik au pair atau pun keluarga di au pair world adalah nyata dan bukan scammer. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya, karena bukan hanya aku yang sedih, tapi aku seperti memutuskan mimpi sahabatku yang sangat ingin ke Eropa bersamaku. Aku bercerita pada ibu apa yang terjadi, beliau hanya bilang, “Semua bukan kebetulan, pasti Tuhan punya rencana di balik semua ini, kamu dan Dina pasti berangkat, hanya mungkin waktunya yang nggak sama, kamu nggak bisa memutuskan apa yang Tuhan kehendaki,”. Tetap saja aku merasa bersalah dan seperti nggak bisa memaafkan kebodohan yang aku lakukan. Bodoh!!

Selang dua minggu setelah video call, aku memberanikan diri bertanya pada Nadja, di email itu aku menulis: “Dear Nadja, semoga kalian baik&sehat semua. Sudah selang dua minggu sejak kita video call, aku sudah yakin akan keputusanku untuk bekerja sebagai au pair di keluarga kalian. Bagaimana dengan kalian? Aku menunggu kabar darimu”. Nggak ada balasan!...Saat itu aku berpikir, aah mungkin Nadja merubah pikirannya dan aku iseng menengok profil mereka di sites aupair world, aku lihat last loggin nya hari ini. Aku semakin kecewa dan berprasangka negatif, mungkin mereka mendapat banyak lamaran dan sudah memutuskan satu yang terbaik.

Tetap nggak ada kabar sampai 3 minggu, aku menyerah. Mungkin aku juga tidak ditakdirkan ke Eropa. Aku lagi-lagi bodoh, profil skype aku log out agar aku tidak selalu berharap ada kabar dari Nadja saat membuka computer.

Akhir pekan di akhir bulan Juni, sahabat terbaikku, Chrisant, seperti biasa sepulang kerja maen ke rumah untuk sekedar ngobrol dan bercerita. Di sela-sela ceritanya, nggak tau kenapa dia bilang,

“Gir, kamu berteman ama aku nggak di Skype? Bisa minta tolong buka akun skype kamu? Aku pengen tahu akun aku kelihatan gimana di akun orang lain”.

“Buat apa sih? Kamu ya kelihatan gitu-gitu aja di akunku”, jawabku. Dia maksa banget, padahal aku takut buka skype (takut ada email dari Nadja yang isinya meminta maaf karena dia udah memilih au pair lain. Akhirnya, aku log in kembali di Skype dan benar,,,ada pesan dari Nadja. Isinya bukan seperti yang aku pikirkan, melainkan sebaliknya. Dia minta maaf karena sebulan ini mereka berlibur dan jarang punya waktu untuk membalas email. Mereka memutuskan aku yang jadi au pair mereka dan meminta data-data pribadiku untuk mengurus segala dokumen yang diperlukan. Sore itu, rasanya aku ingin memeluk dan mencium Chrisant. :D

Bersambung......


Part 3: Jangan Menyerah

Pelajaran yang aku dapat dari ibu saat itu: Beliau benar, Dina saat itu memang belum ditakdirkan ke Eropa, karena ibunya yang sakit, jikalau dia benar ke Eropa denganku saat itu, mungkin dia tidak bisa merawat dan mendampingi ibunya yang wafat selang beberapa bulan setelah aku sampai di Jerman. Semua memang tak ada yang kebetulan, sudah tertulis, sudah tertakdir.

Location: Hamburg, Germany

13 comments:

  1. wahh ceritanya menarik sekali ya, memangnya mungkin kita kira mereka berbohong karena menghilang begitu lama tapi ternyata mereka punya alasan pribadi sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dari sini, kita harus selalu berpikir positif :)

      Delete
  2. Aku mbaca dengan penuh peasaran. Wah, lumayan lama juga ya nunggunya...70 keluarga...

    ReplyDelete
  3. banyak juga pelajaran yang didapat dari cerita ini

    ReplyDelete
  4. Geng ikut-ikutan, khas anak SD, hahaha

    Btw, kalo au pair gitu kebanyakan cewek yah? Soalnya rata-rata ngerawat anak kecil. Kalo aku sabar cuman sama keponakan aja, kalo sama anak lain bawaannya pengen jitak, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha,,, nggak juga kok,,,aku punya banyak teman cowok au pair di Jerman, 5 persen sih cowok,,,kalo memang mereka telaten ngrawat anak sih :)

      Delete
  5. Sekali lagi, selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang Tuhan beri ya...
    Adik ipar saya pernah jadi au pair di Jerman, itu pun atas rekomendasi kakak kelasnya.

    ReplyDelete
  6. Apapun yang terjadi tetap berpikiran positif ya. Ada hal yang kita tidak tahu dibalik seseuatu.

    ReplyDelete
  7. "Kamu nggak bisa memutuskan apa yang Tuhan kehendaki." Indah ya nasihat Ibu. Semoga beliau disehatkan selalu ya. Au Pair saya pun baca dari bukunya mba Icha, walau belum selesai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,,,betulll semua terjadi memang bukan kebetulan

      Delete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers