Tuesday, January 31, 2017

Sebelum ke Jerman Part 6 (Akhir): Jawaban dari Kegalauan...

Tak kusangka aku sudah sampai di penghujung cerita. Kisah sebelum petualangan di Eropa kumulai. Yup, hari ini aku akan menyelesaikan kisahku yang kumulai dari patah hati, sampai akhirnya Tuhan benar-benar menunjukkan bahwa aku memang harus ke Eropa, bahwa takdirku memang harus di sini. 

Bagi kalian yang belum membaca kisah sebelumnya, diwajibkan membaca dulu, agar tidak bertanya-tanya tentang apa yang akan aku tulis di sini. 

Part 1: Semua Berawal Dari Patah Hati  
Part 2: Tak Ada Yang Kebetulan
Part 3: Jangan Menyerah! 
Part 4: Sahabat baruku yang cantik
Part 5: Percaya Saja!  

Pengurusan visa di Kedubes Jerman untuk Au Pair itu memakan waktu kurang lebih 6 hingga 8 minggu lamanya. Aku apply pada akhir November, tepatnya tanggal 22 November 2013. Sedangkan kontrak kerjaku mulai tanggal 10 Januari 2014. Belum beli tiket pesawat, nyiapin ini itu dan lain sebagainya. Kalau tiket pesawat sudah dibeli, lalu visa ditolak? wah,,,

Mari kita flashback ke tanggal 7 Desember 2013 (2 minggu setelah aku apply visa).

Akhir pekan di awal bulan Desember kala itu adalah akhir pekan yang paling mencemaskan dan paling menentukan dalam hidupku. Singkat cerita, sebelum aku pacaran, tunangan, diputuskan, patah hati dan sebagainya itu, aku pernah kerja di Gresik seelama satu tahun setengah (setelah lulus SMA). Ketiadaan biaya kuliah membuatku memilih kuliah yang murah tapi ternyata kampusnya murahan. Aku kuliah D1 di jurusan animasi (jurusan yang sama sekali tak kuminati) dan tak terpakai untuk hidupku. Pikirku saat itu, karena iming-iming pihak kampus (yang sekarang sudah dibubarkan), kerja setelah dapat diploma, aku jadi tertarik dan hutang sana-sini untuk kuliah. Ternyata, semuanya bohong. Akhirnya aku banting stir, kerja jadi penyortir udang di sebuah pabrik di Kawasan Industri Gresik (KIG)

Tinggal di Gresik merupakan sebuah kenangan mengesankan yang tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Aku cinta Gresik. Kota kecil yang panas, tapi sejuk dengan nuansa rohaninya yang sangat kental. Aku selalu merindukan Gresik. Hidupku di Gresik bisa dibilang bahagia. Aku seperti menemukan tempat di mana aku akan settle down. Yaitu Gresik. 

Meskipun pekerjaan yang kujalani bisa dibilang berat, aku sangat menikmati hidupku saat itu. Aku saat itu menilik sebuah kesempatan untuk bekerja di pabrik yang besar seperti Petrokimia Gresik atau PT. Semen Gresik. Tapi sayangnya, mereka membutuhkan lulusan sarjana. Aku pun tak bermimpi kerja di sana lagi, boro-boro jadi sarjana, jadi buruh pabrik di Mie Sedap aja sudah bisa dibilang cukup bergengsi bagiku saat itu. Aku pasrah. 

Tuhan ternyata punya kehendak lain. Ayahku yang saat itu punya pacar orang Prancis menawariku untuk kuliah lagi. Aku pun bersemangat. Pacarnya yang membiayai tiap semester, ayahku yang mengirimiku jatah tiap bulan. Faktor umur yang sudah menua tak bisa membuatku masuk jalur SMPTN ke Universitas Negeri, akhirnya aku memilih kuliah di kampus swasta. Meski dengan terseok-seok, aku akhirnya lulus juga dari Universitas. 

Aku sempat kembali lagi pada mimpi dan tujuanku kuliah saat itu: untuk melamar kerja di Gresik dan kembali ke kota favoritku itu. Dan aku masih ingat dilema yang mengguncang pikiran serta membingungkanku pada tanggal 7 Desember saat itu adalah: 

Temanku, salah satu teman di kampus tiba-tiba menelepon, sebut saja namanya Inez:

"Hey Girin! Kamu sudah dapat kerja belum?" 
"Belum, Nez, emang kenapa?"
"Gini, aku kan udah kerja nih!"
"Wahh,,, cepet banget, baru juga lulus, udah dapat kerja aja! Ngajar di mana?" tanyaku. Kami dengan titel sarjana pendidikan, pasti asumsi pertama kalau dapat kerja ya di sekolahan. 
"Nggak ngajar. Aku kerja di Gresik. Di Petrokimia. Nah, berhubung ini ada lowongan, aku ingin kamu masuk juga. Kan kamu pernah kerja di Gresik, jadi diantara banyak teman, aku pilih kamu, gitu!"

Deg. Aku terhenyak. Tawaran kerja di Petrokimia. Ini kan pekerjaan yang aku impi-impikan 4 tahun yang lalu. Pekerjaan yang membuatku bersemangat kuliah lagi. Begitu lulus dan dapat kerjaan ini, aku malah dilema setengah mati. Akhirnya aku ceritakan ke Inez kegalauanku, tentang rencanaku ke Jerman dan tentang aku yang menunggu diijinkannya visaku.

"Emang sudah pasti kamu bakal ke Jerman? Sayang banget loh, lowongan ini cuma ada satu, Rin!" 
"Aku belum tahu juga, Nez. Kemarin waktu interview di Kedubes ancur banget."
"Kira-kira kamu dapat kepastiannya kapan?"
"Enam minggu lagi!"
"Waduh, Rin. Kita butuhnya cepet. Kalau minggu depan kamu belum ngasih kepastian, aku lempar ke kawan yang lain!"

Ya Tuhan, bagaimana ini. Aku seperti berjudi, bertaruh dengan nasibku sendiri. Kalau aku menunggu visaku itu dan menolak pekerjaan impianku ini, sama saja dengan aku bodoh melewatkan kesempatan emas di depan mata. Ya kalau visa itu diijinkan? Kalau ditolak?
Di sisi lain, kalau aku menerima pekerjaan ini dan mengabaikan visaku, berarti aku tidak konsisten dengan mimpi dan tujuan hidupku. Tapi dua-duanya mimpiku. Kalau aku sudah menolak pekerjaan ini, lalu visaku ditolak? Aku kehilangan dua mimpi sekaligus di waktu yang bersamaan. Pasti akan menyakitkan sekali. 

Aku merenung meratapi dilema semalaman. Ibuku juga ikut bingung, karena beliau tahu bahwa nggak mungkin kedubes Jerman memberikan visa itu dalam kurun waktu 2 minggu saja. Kalau kita tanya kejelasannya, seperti seolah memaksa kedubes saja. Nanti malah benar-benar ditolak. Aku galau, benar-benar galau. Hidup dan masa depanku ditentukan oleh satu keputusan saja. 

Tuhan rupanya tak membiarkan aku berlama-lama hidup dalam kegalauan, setelah sebelumnya hidupku diliputi kegalauan karena patah hati selama hampir 2 tahun. Dia rupanya memberiku kemudahan saat itu. 

Satu hal yang sangat mustahil terjadi. TEPAT DUA HARI, setelah Inez telepon, aku masih ingat, waktu itu hari Senin, tanggal 9 Desember 2013, pagi pukul 08.47, sebuah telepon dari kedubes Jerman memberi jawaban atas kegalauanku. 

Kedubes Jerman di Surabaya menerangkan bahwa Visaku telah disetujui, paspor yang aku tinggal di Jakarta sudah dikirim ke Surabaya dan bisa diambil scepat mungkin. 

Bayangkan. Hanya 15 Hari pengurusan, Visaku sudah di tangan. Padahal, Della membutuhkan waktu hampir 2 bulan, dan rata-rata pengurusan Visa Au Pair (seperti yang aku jelaskan sebelumnya) memakan waktu 6-8 minggu. Seperti sebuah keajaiban dan jawaban agar aku memang memantapkan jalan ke Jerman. Menggapai satu mimpi, yakni berada di Eropa, bukan mimpiku yang lain (di Gresik). 

Di saat dua mimpi akan terwujud secara bersamaan, aku harus memilih satu mimpi yang harus kuwujudkan. Namun saat aku tidak tahu mimpi mana yang harus aku pilih, Tuhanlah yang akan memilihkannya untukku. Akhirnya, Nadja memesankan tiket pesawatku, dan satu bulan setelahnya, aku berada di Jerman, memulai mengarungi benua ini, dan mewujudkan mimpi-mimpi lain yang masih belum terwujud. 

Selesai.....

Saturday, January 28, 2017

Sebelum ke Jerman Part 5: PERCAYA SAJA!!!

Akhir pekan ini (akhirnya) merupakan akhir pekan yang bebas dari tugas membaca jurnal dan artikel dari professor, sehingga ku bisa melanjutkan kisah sebelum aku berada di tanah Eropa ini. 

Kalau kalian belum sempat membaca kisahnya mulai dari awal, silakan dibaca dulu:  

Part 1: Semua Berawal Dari Patah Hati  
Part 2: Tak Ada Yang Kebetulan
Part 3: Jangan Menyerah! 
Part 4: Sahabat baruku yang cantik

Flashback: 22 November 2013

Lagi-lagi keajaiban atau memang keberuntunganku saja tiba di kota metropolitan yang konon katanya kehidupannya keras ini. Aku tidak punya sanak saudara yang tinggal di Jakarta, teman juga tak ada. Agus punya saudara yang bisa ditumpangi menginap, tapi mereka sibuk bekerja. Mau nginap di hotel? Alamak, duitnya siapa?...

Bukan aku namanya kalau menyerah begitu saja. Lewat situs Couchsurfing, aku mencoba peruntunganku mencari tumpangan menginap gratis di Jakarta yang semuanya serba mahal.

Sebut saja namanya Robert. WNA asal Swedia yang sudah tinggal 13 tahun di Jakarta. Robert seumuran ayahku. Dia menikah dengan wanita Indonesia sekitar tahun 2003. Kisah sedihnya, wanita itu meninggal karena kanker paru-paru.

Aku mendapat tawaran menginap gratis dari Lusiana dan Robert. Awalnya, aku menerima Lusiana karena kupikir aku lebih nyaman tinggal dan berkenalan dengan cewek asli Jakarta, bukan bule ekspat yang lagi-lagi aku harus menyesuaikan diri dengan ngobrol pakai bahasa planet. Hhehehe. Aku pun menolak tawaran Robert dengan halus.

Dua hari sebelum keberangkatan, Lusiana membatalkan tawarannya untuk jadi hostku karena alasan tertentu (yang aku sudah lupa), seingatku, paman atau saudaranya mendadak datang dan membutuhkan inapan juga. Tapi saat di Jakarta, aku sempat bertemu dengan Lusiana, diajak ke kantornya, makan mie ayam Jakarta yang enak dan sempat ngobrol banyak dengannya.

Akhirnya, aku bertanya lagi kepada Robert apakah ia masih mau menjadi hostku selama aku di Jakarta. Dia menyayangkan karena aku telah membatalkan permintaanku, jadi dia menerima tamu dari couchsurfing yang lain. Huuuftt...

Tapi lagi-lagi keberuntungan berpihak padaku. Tamu Couchsurfing itu menunda kedatangannya ke Jakarta hingga dua hari. Jadilah aku diterima di tempat Robert.

Tak hanya diberi tumpangan menginap, Robert dan supirnya bahkan menjemputku di stasiun Gambir dan membawaku ke rumahnya di kawasan elit Menteng.

Woooow,,, gila. Aku seumur hidup belum pernah masuk ke rumah sebesar dan semewah rumah Robert. "Ini mah tinggal di hotel," batinku. Rumah luas nan mewah itu berlantai tiga, dengan dua kolam renang di pinggir-pinggirnya. Kamarnya kurang lebih ada enam. Pembantu Robert sudah menyiapkan makan dan minum untukku.

Setelah tour keliling rumah yang membuatku terkesima itu, aku diantarkan menuju kamarku. Sungguh, aku ini katrok abis. Aku malah nggak bisa tidur semalaman gara-gara kamar ini terlalu mewah. Seumur-umur, kamarku di rumah cuma berukuran 2x3 meter, waktu ngontrak dulu, malah berbagi kamar dengan kedua bibi dan adikku. Nggak cuma berbagi kamar, kami juga tinggal bersama 4 keluarga lain di satu atap, satu kamar mandi, satu dapur, kadang kalau sangat kebelet, atau WC mampet, aku numpang 'lapor' ke tetangga. Hidupku tak pernah punya privasi sendiri. Eh tiba-tiba aku dihadapkan oleh situasi dimana rumah segede ini cuma ditempati Robert dan pembantunya, ketambahan aku yang berada di sebuah kamar luas nan mewah, dengan kamar mandi dalam, bath tube, kran dengan air panas, handuk, peralatan mandi, TV yang segede bioskop, view yang menghadap ke birunya kolam renang dan lemari besar berjajar-jajar yang bisa kugunakan menaruh pakaianku selama aku tinggal. Aku yang harusnya senang, malah bingung sendiri harus bagaimana. Aku bahkan kaget setengah mati saat menyalakan air, dan keluar air hangat dari kran. POKOKNYA, bayangkan orang purba masuk kota, itulah gambaran diriku saat itu. Aku nggak mandi, selama dua hari menentang panasnya Jakarta, karena aku takut bath tubenya rusak kalau kuinjak, alasan sebenarnya, aku yang terbiasa mandi di kamar mandi penuh kecoak ini, nggak tahu harus gimana menggunakan shower dan bath tube tersebut. :D

Ya Tuhan, aku merasa aku ini beruntung sekali. Bayangkan kalau aku menginap di hotel yang mewah, berapa ongkos yang harus aku bayar. Belum lagi aku diantar supir ke kantor kedubes Jerman oleh Robert. Tak hanya itu, dia menjemputku juga mengantarkanku tour keliling Jakarta, ke Museum Fatahillah dan kota lama, lalu menaiki perahu di Pelabuhan (aku lupa namanya), pelabuhan ini dulunya pelabuhan peti kemas tersibuk sebelum Tanjung Priuk. Robert tak hanya mengajakku, dia juga menjelaskan tentang sejarah-sejarah serta kejadian di Jakarta. Seperti pembantaian kaum China pasca orde baru saat kami menyusuri pecinan yang dimaksud. Hotel, transportasi, guide? Kalau diuangkan semua? Bisa berjuta-juta. Dan aku dapat semua itu gratis-tis. dari orang asing yang sebelumnya tak kukenal sama sekali.Terima kasih, Robert. :)
Robert dan aku di jalan masuk rumahnya

ini pemandangan pelabuhan tua dari atap mercusuar



Lalu bagaimana nasib pengajuan Visaku di Kedubes Jerman?. Sangat mendebarkan.

Setelah antri di depan pintu gerbang kedubes, aku pun masuk dan antri di loket. Semuanya berjalan lancar. Dokumen dan syarat-syarat yang dibutuhkan sudah ada, lengkap. Tiba-tiba, mbak-mbak cantik itu memanggilku kembali dan berkata, "Oke, sekarang saatnya interview".

Aku sudah tahu kalau akan diinterview, batinku aku bakal di interview oleh mbak cantik tersebut, nggak taunya, selang beberapa menit, datang seorang bule di balik loket dan memanggil namaku. OMG, yang interview bule? Asli Jerman? Native Speaker? Ini sama sekali diluar dugaanku. Kacau!!!!kacau!!!!udah gitu, pria muda berdasi yang ramah dan suka tersenyum ini kalau diamati tampan juga. Buyar deh konsentrasi dan hafalan kosa-kata Jermanku. Alamaaak.

"Was haben Sie vorhin gemacht?" (Apa yang anda lakukan sebelumnya?> sebelum memutuskan menjadi au pair<) tanya bule itu.
Otakku miring sedikit dan berputar-putar. Apa yang dia maksud? Gemacht? Apa itu gemacht? Aku kan masih A1, belum belajar präteritum saat itu, aku nggak ngerti bentuk lampau yang ditanyakannya. Jantungku berdegup kencang. Rasanya akan gagal deh. Pertanyaan pertama saja sudah nggak bisa jawab. Ohhhh maaakkk, tolong toloooong.

"Heee... eeengggg...Ich? Ich studiere....." (aku? aku belajar) jawabku terbata-bata. Berharap jawaban itulah yang dia inginkan. Ngawur saja.

"Was haben Sie studiert?" (apa yang telah anda pelajari?)

"Ich....ichhhh...Englisch!". Sudahlah, pasrah saja. Aku yang deg deg gan karena menatap matanya yang biru itu jadi lemas dan otakku rasanya mau semburat keluar dari kerangkanya. Tak ada tataan grammar yang keluar dari mulutku.

"Oh, really? So, you can speak English then?" (Sungguh? Kalau begitu, anda bisa bicara bahasa Inggris donk?) tanyanya sambil tertawa lebar. Sepertinya dia sudah lelah dan putus asa mewawancaraiku yang sedari tadi cuma bisa ich ich ich saja.

Dia akhirnya tanya kenapa aku memutuskan untuk menjadi au pair, apa yang aku inginkan setelah jadi au pair, dan sebagainya.

Tips: Jangan bilang kalau ingin tinggal dan lanjut menetap di Jerman. Karena program Au Pair ini cuma program satu tahun saja yang dijembatani oleh pemerintah Jerman agar para Au Pair bisa mempelajari bahasa dan budayanya lalu kembali pulang dan mengaplikasikannya.

Aku menjawab, "Ayahku seorang tour guide, dia bisa Bahasa Jerman juga. Sedangkan anda tahu, bahasa Jerman saya masih pas-pas an. Jadi, di Jerman saya ingin belajar Bahasa, lalu sekembalinya dari Jerman nanti, saya mungkin ingin jadi tour guide juga atau guru Bahasa Jerman untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari di sana."

Meskipun terlihat cukup puas dan tersenyum atas jawabanku. Tapi aku pulang dengan kaki lemas dan tak bertenaga. Pasalnya, aku dengar interview di kedubes juga menentukan diterima atau tidaknya visa kita. Au Pair paling tidak kudu bisa Bahasa Jerman, agar kalau terjadi sesuatu, misalnya kebakaran saat orang tua tidak di rumah, au pair bisa telepon pemadam kebakaran dan menyelamatkan anak-anak. Nah kalau aku cuma bisa 'ich' saja, mana mungkin dia meloloskan visaku? Oh,,, harusnya tadi aku bilang Ich liebe dich (I love you) saja, pasti tak hanya visa yang ditolak, tapi aku kemungkinan digotong security lalu dilemparkan ke tengah-tengah bundaran HI. Ihhhh lebay... :D

Aku bercerita pada Robert, dia menyemangatiku dan percaya bahwa dia melihat diriku sudah ada di Jerman. Oh Robert baik sekali. Sepulang dari keputus-asaanku mengurus Visa di Kedubes, Robert memasakkan masakan daging khas Swedia, Beef Stroganoff, yang dimakan dengan Mustard Prancis.



Beef Stroganoff

 Photo yang aku ambil dari Beef Stroganoff yang dibuat Robert terselip entah kemana. Foto diatas, bukanlah buatan Robert saat di rumahnya (buatan Robert jauh lebih artistik dan menggugah selera). Beef Stroganoff diatas adalah photo yang aku ambil saat di Swedia tahun 2014. Memang benar kata Robert, rendangnya Swedia ini, adalah makanan populer di Swedia sana. Aku bisa dengan mudah menemukannya di mana-mana.

Robert bercerita tentang kisah cintanya dan istrinya. Mereka bertemu di Paris tahun 2000, lalu menikah di Thailand. Selang beberapa tahun setelah menikah, istrinya wafat. Robert terlihat sedih dan selalu menyalahkan dirinya sendiri.

"Mungkin kalau aku bukan perokok berat, istriku tak akan jadi perokok pasif dan menderita kanker paru-paru karena aku"

Tapi yang namanya takdir kematian, tak ada yang bisa merubahnya. Dia telah berpulang, tenang di sana. Aku meyakinkan Robert bahwa itu bukan salahnya. Robert kini menjadi donatur tetap yayasan anti kanker dan giat sebagai penyumbang anak-anak serta wanita yang menderita kanker, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Aku menginap di tempat Robert selama 2 hari, lalu aku masih punya sisa hari untuk jalan-jalan sebelum tanggal pulang (sebenarnya cuma satu hari saja) hehe. Aku menginap di rumah saudara Agus. Mereka yang sudah beberapa kali kutemui di Batu itu terlihat senang sekali aku di sana. Ditengah kesibukan mereka bekerja, aku masih merasa menjadi tamu yang sangat disambut dan dimuliakan kedatangannya. Kakak ipar Agus yang mengantar kepulanganku ke stasiun saat itu. Aku juga harus berterima kasih pada mereka. :)

Sepulangnya dari Jakarta, aku cerita pada ibu tentang wawancara di kedubes yang semrawut itu. Kata beliau, "Percaya saja. Apa-apa yang telah tertakdir untukmu, pasti jadi milikmu, yang tidak, meski kau telah berusaha meraihnya, tak akan kembali padamu. Lihatlah, Tuhan telah memudahkan semua urusan Indra, tak ada yang sulit bagi-Nya untuk membuat kedubes meloloskanmu."

Memang benar, aku dapat visa itu. Tapi, masih ada satu kisah seru penutup dari cerita ini, yang membuat aku selalu percaya keajaiban takdir. Detik-detik diloloskannya Visa ke Jerman. Bagaimana kisah selanjutnya?

Bersambung.....
Part 6 (Akhir): Jawaban Dari Kegalauan

Viele Grüße

Wednesday, January 25, 2017

Sebelum ke Jerman Part 4: Sahabat Baruku Yang Cantik


Beberapa hari yang lalu, aku bertemu teman yang menyampaikan kata-kata dari Ayu Azhari:
"Kita ini adalah hasil dari tempaan pengalaman yang kita dapat di masa lalu.  Jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Kita bahkan tidak tahu pengalaman apa dan bagaimana yang membawanya sampai ke titik ini."

Aku merenungkan kembali kata-kata itu. Memang benar, semakin kita ditempa cobaan yang kuat dalam hidup, semakin kuat pula kita menyongsong masa depan. Kali ini, aku akan melanjutkan cerita sebagian perjalanan hidupku sebelum berangkat ke Jerman. Semoga dengan membaca ini, kita bisa mengambil pelajaran dan lebih semangat dalam mencapai cita-cita.

Kalau kalian belum membaca kisah sebelumnya, silakan dibaca dulu ya:
Part 1: Semua Berawal Dari Patah Hati  
Part 2: Tak Ada Yang Kebetulan
Part 3: Jangan Menyerah! 

Setelah satu keajaiban datang dari pihak kedubes Jerman yang mengubah kebijakan umur au pair menjadi maksimal 26 tahun, aku mulai bersemangat lagi. Lalu, aku mulai les Bahasa Jerman di guru adikku di kota Batu. Karena dengar-dengar ujian Bahasa Jerman itu syusyahnya minta ampun, aku sempatkan diri untuk mendengarkan percakapan lewat you tube, dan terus melatih diri untuk menghafal kosa kata sebanyak mungkin. 

Datang keajaiban lain pada hidupku saat itu. Aku bertemu Lotte, mahasiswa Stuttgart yang saat itu magang melalui AIESEC di Blitar. Saat ada konferensi AIESEC di Malang, Lotte ikut jadi salah satu peserta di sana. Bersama Anne, aku menyempatkan diri ngobrol dan akhirnya kami berteman. Bersama dia, aku rutin sms pakai bahasa Jerman. Saat berkunjung ke Malang, aku juga menemaninya jalan-jalan sambil melatih bahasa Jermanku yang masih kacau balau. 

Saat sudah mendaftar ujian di Goethe Institut, aku mempertaruhkan hidup dan matiku pada hasil ujian itu. Pasalnya, untuk menempuh ujian itu tidak murah juga. Saat itu (di tahun 2013), aku harus membayar 850 rupiah untuk sekali ujian. Kalau gagal? uangnya tak bisa kembali. Bukan masalah uangnya, kalau aku gagal, aku harus menunggu di bulan berikutnya untuk bisa ujian lagi, sedangkan aku sudah harus apply visa di bulan berikutnya. 

Aku mendapat gelar S.Pd dan wisuda di tanggal 23 Oktober 2013, dua hari setelahnya, aku meluncur ke Surabaya berperang demi sertifikat A1. Diiringi doa dari ibu, kerabat, dan kawan dekat, aku berangkat sendiri ke Surabaya. Ujian diadakan pukul 10.00 WIB. Aku tidak ingin mengambil resiko datang terlambat dengan naik kereta api. Oleh karena itu, aku rela membayar agak mahal demi datang lebih awal dengan menyewa jasa travel. Datang-datang malah kepagian. Akhirnya aku yang datang pukul 07.00 itu harus rela menunggu di depan pintu gerbang sampai Goethe dibuka.

Aku percaya Tuhan telah menyiapkan takdir yang baik. Meskipun jalannya tak selalu lurus. Takdir baik itu juga termasuk takdir dipertemukannya sahabat-sahabat yang baik. Seperti takdir bertemu sahabat berkeliling Eropa saat aku menunggu Goethe dibuka. 

Sebut saja gadis cantik itu Della. Sejak awal bertemu sampai sekarang, aku tak pernah memungkiri kecantikannya yang mengalahkan model korea. Semoga kalau dia baca ini, tidak akan marah fotonya kupajang di sini. 
My best Euro Travel Mate
Della yang cantik itu baru lulus SMA saat aku bertemu dengannya pertama kali. Dia yang awalnya kukira sombong itu ternyata memang sombong. Hahha, kalau belum kenal. Aslinya dia pemalu, tapi kalau sudah akrab, lebih sering malu-maluin. Dia sering saja marah kalau aku bilang, "Kon iku ayu! Wong lanang endi ae pasti langsung seneng ndelok awakmu!" (kamu itu cantik, pria mana saja pasti langsung terpikat kalau lihat kamu!).


Tak seperti kebanyakan remaja yang lulus SMA, Della punya jiwa juang yang harus selalu aku acungi jempol. Dia bukan berasal dari keluarga miskin sepertiku. Dari pertama kali bertemu saja, aku sudah langsung tahu kalau dia berasal dari keluarga yang berada. Tapi dia ingin mencoba hidup mandiri, jauh dari orang tua, keliling Eropa dengan jerih payah sendiri dengan menjadi Au Pair. 
Saat bertemu di Goethe Institut, dia ditemani guru bahasa Jermannya  jadi kami tak banyak ngobrol. 

Keakrabanku dengan Della adalah saat kami sudah sama-sama berada di Jerman. Dia mendapatkan host family di Münster (NRW), sedangkan aku di München (Bayern). Jarak keduanya bisa ditempuh bis dalam waktu 8 jam. Tapi kami sering ngobrol lewat whatsapp untuk merencanakan keliling Eropa berdua. Kisah keliling Eropa kami yang penuh dengan kegilaan bisa dibaca di sini. Mulai dari dikasihani orang karena dianggap gembel jalanan di Jerman, ditipu bapak-bapak di Belanda, dikibuli sama supir Arab di Belgia, bertengkar dan membenci Paris, sampai hampir di perkosa saat kembali ke Jerman lagi. Saat di Jerman, Della sama gembelnya sepertiku. Tapi saat kami pulang dan kembali ke Malang, terlihat jelas kalau dia bukan gembel. Sedangkan aku masih saja gembel. :D. Dia yang pulang duluan karena kontrak kerjanya sudah habis, menjemputku di stasiun kota baru Malang dengan mobilnya. Beberapa hari kemudian, kami menghabiskan waktu bersama di kediamannya di daerah gunung kawi. Kulihat Della sama sekali tak kekurangan apapun, rumahnya besar, rumah, mobil dan motornya banyak, toko, warnet, hotel, dan segala kemewahan juga ada. Dia benar-benar gembel yang menyamar, batinku. :D. Della oh Della, sahabatku itu saat ini (detik ketika aku menulis ini) sedang menempuh kuliah kedokteran di Rusia. Kami masih sering ngobrol meski terpaut waktu 8-9 jam Jerman-Rusia. Dia masih sangat muda, tapi  kedewasaannya membuatku saat bersamanya, merasa bisa jadi seumuran, kadang kakak, kadang adik, kadang malah seperti ibuku. Hehhehe...

Kembali ke ujian di Goethe Institut. Tak hanya aku dan Della, seingatku, ada beberapa peserta ujian lain di sana. Setelah ujian selama 3 jam itu berlangsung, kami ingin menunggu hasil lulus tidaknya di hari itu juga. Panitia ujian bilang bahwa hasilnya bisa diketahui pukul 16.00. Jadi, aku, Della, guru lesnya, dan 2 orang cowok lainnya yang tadi juga ikut ujian, memutuskan untuk berjalan-jalan sambil nyari makan siang. 

Saat makan siang itulah, Della mulai cerita-cerita, ngalor ngidul mulai dari sekolahnya, keinginannya ke Eropa, dan mimpi-mimpinya serta kisah cintanya. Kami mulai sedikit akrab, tukar nomor whatsapp dan facebook. Aku yang nge add dia saat itu baru diterima setelah 2 bulan. Dasar!

Hasil ujiannya pun keluar. Aku dan Della lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku bahkan kaget setengah mati, karena aku hampir yakin, kemampuan berbicaraku masih NOL besar. Tapi hasil itu tercover oleh kemampuan menulis, membaca dan mendengarkan. Ada beberapa orang yang nggak lulus juga. 

Sertifikat kemampuan bahasa itu aku ambil seminggu setelahnya. Aku menghubungi Nadja bahwa aku telah lulus test dan mendapat sertifikat A1, mereka senang sekali. Sekarang tinggal membuat janji di kedutaan Jerman di Jakarta untuk apply Visa. 

Membuat janji untuk Apply Visa di Kedubes Jerman kalau kata Syahrini itu: SESUATU. Janji dibuat hari ini, janji didapat kemungkinan 2 bulan lagi. Tapi yang namanya orang sudah beruntung itu, selalu saja dipermudah jalannya. 

11 November 2013, dokumen-dokumen yang dikirim Nadja datang, tepat 5 hari setelah dikirimnya dari Jerman. Nggak telat, nggak molor seperti sebelumnya. Saat aku merasa semua dokumen sudah lengkap, kontrak kerja, asuransi kesehatan dan perjalanan, penerimaan sekolah bahasa di Jerman,  sertifikat bahasa, paspor, foto dan sebagainya sudah di tangan, aku mencoba membuat janji di kedubes. 

Saat bertemu Della, dia mengingatkanku: Nggak mungkin kamu dapat termin (janji) di kedubes dengan cepat, kecuali kalau ada seseorang yang membatalkan janjinya, kamu bisa menyusup!. Aku coba saja membuat janji, ndilalah kok ada orang yang membatalkan janjinya di tanggal 22. November pukul 09.00. Aku langsung saja menyusup menggantikan orang tersebut. Jadilah aku berangkat ke Jakarta untuk apply Visa. 

Proses apply Visa adalah fase puncak yang paling membuat frustasi. Bagaimana kisahku di kedubes yang sempat memalukan dan membuatku putus asa? Nantikan kisah selanjutnya ya...

Bersambung.....
Part 5: Percaya Saja!!!!

Viele Grüße

Saturday, January 21, 2017

Sebelum ke Jerman Part 3: JANGAN MENYERAH!!!!

Masing-masing kisah hidup manusia adalah rangkaian skenario alam, sehingga apapun itu, selalu menarik untuk diceritakan. Semoga kisah lanjutan sebelum aku ke Jerman kali ini bisa membuka wawasan dan paling tidak memberi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.

Banyak sekali daftar list yang ingin kutulis di blog, juga permintaan pembaca tentang Jerman. Tapi, rasanya uneg-uneg hati belum terpuaskan kalau aku belum menyelesaikan kisahku tentang perjalanan ke Jerman. Bagi kalian yang ketinggalan, simak:

Part 1: Semua Berawal Dari Patah Hati
Part 2: Tak Ada Yang Kebetulan

Aku merasa, kedatanganku ke Jerman ini merupakan sebuah keajaiban. Hatiku seperti ditarik maju mundur oleh keadaan dan takdir. Setelah bahagia mendapat keluarga, sedih karena mereka menghilang selama sebulan, bahagia lagi karena mereka memberi kabar, sekarang, setelah semua data yang aku berikan dan dokumen sedang diurus,  aku membaca di websites kedubes Jerman, syarat menjadi au pair ke Jerman, maksimal 24 tahun. Sedangkan umurku saat itu sudah 25 tahun.

Lagi-lagi aku down dan putus asa. Mungkin segala sesuatu bisa diusahakan, uang bisa dicari, bahasa bisa dipelajari. Tapi umur?? Siapa yang bisa merubah takdir umurku dan menjadikanku 1 tahun saja lebih muda?. Aku seketika merasa tua, terlalu tua untuk memulai segala sesuatu. Saat itu aku berpikir, "Sebaiknya aku memberi tahu Nadja tentang hal ini. Tapi aku juga berpikir, mungkin dia akan sadar sendiri dan menghubungiku di kemudian hari dan membatalkan kontrak kami. Ya sudahlah."

Lagi-lagi ibu. Ibu adalah orang yang paling berjasa dalam hidup dan mimpiku. Kepadanya aku harus selalu berterima kasih. Ibu bilang, "Jangan menyerah, kalau ini memang yang ditakdirkan untukmu, pasti Tuhan memberikan jalannya. Tak ada yang mustahil."

Kalian ingin tahu keajaiban apa yang aku dapatkan saat ibu bicara seperti itu? Ibu adalah malaikat Tuhan yang berwujud manusia, doa dan kata-kata beliau tak ada tedeng aling-aling. Semua langsung tembus dan mustajab.

Tepat di bulan itu juga, tepatnya tanggal 13 Juli 2013, pemerintah Jerman mengubah KEBIJAKAN penerimaan au pair ke negaranya dari yang semula maksimal umur 24, menjadi umur 26 tahun. Yang  artinya, Tuhan masih memberikanku kesempatan 1 tahun lagi untuk berangkat ke Jerman.

Tapi hal itu tentu saja tidak kuketahui secara langsung, karena kedubes Jerman di Indonesia tidak seketika menggubah UU yang tercantum di websitesnya, kucek berkali-kali, tetap saja maksimal umurnya 24 tahun. Namun Tuhan tak pernah kekurangan jalan untuk memberitahuku. Ceritanya begini:

Di awal bulan Agustus 2013, aku daftar situs travelling internasional, Couchsurfing,  yang aku dapatkan infonya dari membaca bukunya Icha Ayu (Au Pair). Di bulan itu juga, aku mendapatkan pesan dari seorang mahasiswa Universitas Brawijaya bahwa akan ada mahasiswa asal Rusia yang akan tinggal di Malang selama 6 bulan untuk magang. Mereka menawarkanku untuk menjadi Buddy dari lembaga AIESEC. Aku dengan senang hati menjadi buddy orang Rusia tersebut.

Sebut saja namanya Anne. Anne berasal dari Moskow. Dengan menjadi buddynya, aku banyak cerita tentang mimpiku dan keinginanku ke Eropa, serta keterbatasan otak dan ekonomiku. Aku merasa nggak pede dan malas daftar beasiswa yang ribuan saingannya. Jadi, au pair adalah satu-satunya alternatif termudah dan termurah, namun umurku sudah kadaluarsa.

"Loh, kamu sudah dapat host family di Jerman?", tanya Anne.

"Sudah, di Munich. Mereka bahkan sudah mengurus dokumen-dokumen yang aku perlukan untuk mengurus visa. Tapi umurku sudah kadaluarsa. Sudah 25 tahun.", jawabku.

"What? Kan batasan umurnya 26 tahun?", kata Anne lagi.

Aku tentu saja nggak percaya pada Anne.

"Mungkin itu buat kamu saja, yang bukan berasal dari Asia."

"NO WAY!!. Kamu tahu? Umur kita sama. Tahun lalu aku juga sempat ke Munich satu bulan untuk les Bahasa Jerman dan sempat ingin jadi au pair juga. Makanya aku tahu. Itu peraturan untuk semua negara, bukan untuk aku yang dari Rusia saja", kata Anne.

Aku masih belum percaya. Namun, di tengah-tengah kekalutanku, aku iseng saja mengirim email ke kedubes Jerman di Jakarta dan menanyakan berapa batasan umur untuk au pair dari Indonesia ke Jerman. Selang satu minggu, mereka membalas: 26 Tahun.

Aku jingkrak-jingkrak bukan main. Aku tak perlu menghubungi Nadja untuk membatalkan kontrak kami. Tapi ada satu masalah baru: Kemampuan Bahasa Jerman.

Saat itu, aku baru bisa 3 kata dalam Bahasa Jerman: Ich liebe dich. Sisanya? NOL besar. Di Malang ada les Bahasa Jerman yang menurutku lumayan mahal. Sekali lagi aku merasa tak sanggup membayar, apalagi aku yang saat itu tengah sibuk wisuda, harus dibebani dengan biaya kelulusan yang seabrek. Sejak semester satu aku hanya mengandalkan kiriman uang dari bapak yang bekerja di Bali yang perbulannya ngirim 400-500 ribu rupiah, lalu 420 ribu rupiah harus langsung masuk bank untuk nyicil motor bebek yang aku buat pp Batu-Malang tiap hari. Dengan 80 ribu rupiah dan kerja srabutan sana sini, aku bisa kuliah bulan demi bulan sampai 4 tahun. Jadi, aku berpikir, untuk membayar biaya kuliahku persemester aja aku harus nguli sana sini, gimana bisa aku les Bahasa Jerman yang biayanya 2-3 kali lipat biaya per semester? Apa yang harus aku gadaikan? Ahhhh...

Jangan menyerah!!! Di setiap kemauan, pasti akan ada jalan.

Adikku, yang juga sangat mendukung mimpiku, yang tiap pagi kadang menemaniku jalan-jalan ke bukit panderman sambil memilih-milih rumah atau villa untuk diimpikan, tiba-tiba membawa kabar baik. Di SMAnya dulu, dia sempat belajar Bahasa Jerman dan dia dengar, gurunya juga memberikan les kepada umum dengan biaya yang terjangkau. Kabar itu layaknya oase bagiku. Dengan biaya murah serta letak yang tidak terlalu jauh dari rumah, aku bisa belajar Bahasa Jerman. Akhirnya pertengahan bulan September, aku mulai les dengan jadwal 2 kali seminggu selama 6 minggu untuk persiapan test A1 (Syarat wajib jadi Au Pair). Pertanyaannya, bisakah aku lulus test A1 yang kudengar-dengar susah karena harus test berbicara, menulis, mendengar serta membaca, tak hanya multiple choice saja? Aku bertekat mencoba. Tak ada salahnya mencoba. Masalah nanti gagal atau berhasil, aku akan tahu kalau aku sudah mencoba.

Dokumen yang dikirim Nadja dari Jerman pada bulan Juli, baru datang di rumahku pada awal Oktober. Mereka sempat marah-marah, bukan padaku, tapi pada pos Indonesia. Pasalnya, mereka sebenarnya ingin aku datang di tanggal 10 November.  Satu hal yang memalukan lagi: Passport saja belum punya.  Aduh aduh aduh....

Begitu aku yakin aku berkesempatan berangkat ke Jerman, di akhir September, di sela-sela les Bahasa Jerman, aku mengurus Passport, yang akhirnya jadi di tanggal 8 Oktober, satu hari setelah dokumen dari Jerman datang.

Di Goethe Institut Surabaya, test kemampuan Berbahasa Jerman A1 diadakan tiap bulan. Saat itu, aku rajin mengecek jadwalnya. Kuakui aku cukup berani mengambil resiko dengan apply test di tanggal 25 Oktober. Padahal, aku masih les 8 pertemuan saja. Pada tanggal 23 Oktober aku wisuda dan mendapatkan gelar S.Pd dari Universitas Kanjuruhan Malang, dua hari berikutnya aku meluncur ke Surabaya untuk test Bahasa yang bermodalkan nekat. Saat itu aku bahkan tidak tahu apa Bahasa Jermannya 'ada' (es gibt).

Nadja dan Robert dengan sabar menungguku untuk mengurusi semuanya di Indonesia. Mereka juga membayarkan tiket berangkat ke Jerman yang nantinya akan aku bayar separuh saat aku sudah dapat uang saku dari mereka. Dari rencana kedatanganku yang harusnya tanggal 10 November, mereka mengirim kontrak lagi dan diganti tanggal 10 Januari 2014.

Bagaimana nasib kontrak kedua yang dikirimkan Nadja ke Indonesia, apakah molor seperti sebelumnya? Dan bagaimana kisah test A1 dan interview oleh penutur bahasa Jerman di kedubes yang kocar kacir? Nantikan kisah selanjutnya ya....

Bersambung (karena di Jerman, ini sudah larut malam hehehe)

dari tepian sungai Elbe (gaya niru-niru tulisan ala senior :p)...... Hamburg, pukul 00.40

Part 4: Sahabat Baruku Yang Cantik
Viele Grüße

Thursday, January 19, 2017

Sebelum Jadi Au Pair di Jerman Part 2: Tak Ada Yang Kebetulan, Semua Telah Tertakdirkan



Seperti cerbung alias cerita bersambung, akan aku lanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku. Aduh kayak orang penting aja, padahal nggak banget. Diharapkan, para pembaca bisa mengambil sedikit hikmah dari semua hal yang telah aku tulis di blog ini. 

Kalau kalian belum tahu cerita awal, baca dulu Part 1 sebelum ke Jerman ya: Semua Berawal Dari Patah Hati , biar nggak kaget ini sebenarnya postingan apa :D

Saat semester akhir kuliah S1 adalah saat yang paling mengubah hidupku. Saat pebimbing skripsiku menolak mentah-mentah judul yang kuajukan, dengan sedikit berputus asa, aku mencari referensi di perpustakaan, kutemukan judul skripsi yang sangat menggugah hati, ” Cross Cultural Understanding Between Indonesian and Dutch Experienced by Indonesian Au-Pairs During Their One Year Living in the Netherlands” ada juga versi Bahasa Indonesianya, "Kultur Shock dan Akulturasi Budaya Belanda" yang diteliti lewat pengalaman Au pair. Penulisnya waktu itu pernah menjadi au pair di Belanda dan sekarang jadi dosen di salah satu universitas swasta di Malang. Penasaran menggelayutiku,  apaan sih au pair?

Sejak kelas 6 SD, teman se geng ku heboh banget punya cita cita suatu hari nanti pengen banget ke Menara Eiffel, cuma gara-gara pas pelajaran IPS, guru kami menjelaskan kalau menara Eiffel itu menara tertinggi di dunia (saat itu belum ada menara Tokyo kali :P) dan indah banget (padahal guru kami juga belum ke sana). Aku yang terbiasa ngikut mereka, spontan pengen banget deh ke menara Eiffel. Dari situ, mimpi ingin menjelajah Eropa dan luar negeri ku muncul. Ditambah dengan membaca buku tentang anak-anak di Bullerbyn karangan Astrid Lindgren.

Semenit setelah aku membaca judul skripsi itu, langsung ku sms teman sekampusku, Dina agar datang ke perpus saat itu juga. Dina salah satu teman yang punya ambisi sama sepertiku, ke luar negeri. Tak lama kemudian dia datang dan segera googling tentang au pair. Kami agak kecewa karena ternyata au pair hanyalah hidup di Eropa sebagai seorang pembantu, gak lebih dari TKW. Aku tetap mempelajari skripsi itu sebagai sumber referensi. Dari skripsi itu pula, aku menemukan judul untuk skripsiku sendiri yang langsung di acc oleh pembimbingku.

Setelah banyak membaca,  kutemukan bahwa pekerjaan sebagai au pair sama sekali bukan seperti seorang pembantu dan sama sekalibukan pekerjaan yang buruk. Beberapa bulan aku rajin membaca blog yang ditulis rekan-rekan yang sudah pernah menjadi au pair dan berbaik hati membagikan pengalamannya kepada kami serta sembari mencari buku untuk menulis skripsi, kutemukan buku karangan Icha Ayu yang sangat-sangat menggugah ku kembali untuk mencoba peruntungan ke Eropa.

Tiada hari tanpa mencari info tentang au pair. Setelah kutunjukkan buku petualangan Icha di Eropa, Dina kembali bersemangat dan kami pun bikin akun di www.aupair-world.net . Dina dan aku melamar ke lebih dari 70 keluarga. Tak terhitung banyaknya respon negatif yang kami terima.

Selang seminggu, aku dikejutkan oleh satu keluarga dari Jerman yang melamar ke profilku. Tentu saja ini sangat mengejutkan bagiku karena itu pertama kali dapat tawaran (meskipun setelahnya, aku juga dapat 3tawaran dari keluarga di Berlin, Belanda, dan Australia). Selama beberapa malam aku tidak bisa tidur saking senangnya, saking groginya dan saking tidak tahu harus bagaimana. :D

Dapet keluarga, bukan berarti udah aman. Setelah video call selama setengah jam, mereka bertanya apa aku sudah yakin dengan mereka kalau iya mereka nggak perlu nyari au pair lain. Aku jawab aku sudah sangat yakin. Setelah itu mereka menghilang selama sebulan.

Karena aku sudah sangat yakin dan merasa bakal ke Jerman nih, aku putuskan untuk menutup akunku di au pair world. Sebelum akun kututup, aku dapat lamaran dari keluarga di Berlin dengan 3 orang anak dan sebelumnya mereka udah berpengalaman dengan au pair. Dalam surat yang mereka kirim, mereka menulis namaku dengan sangat jelas, dan bilang kalau mereka sangat tertarik padaku, sudah minta alamat email dan skype (menandakan mereka sangat serius dan tertarik), dengan sopan aku menjawab kalau aku sudah mendapat keluarga di Munich, dan kusarankan padanya untuk memilih temanku (barangkali mereka mau), tapi nggak ada balasan.

Dengan sangat bodohnya aku berpikir, ngapain juga akun ini aku tutup? Akun ini kan kayak jejaring sosial aja? Dina kan belum dapat keluarga, aku ganti aja namaku menjadi namanya, dan fotoku menjadi fotonya. Beres, dengan gitu aku bisa dapetin keluarga buat Dina juga. Akhirnya apa yang terjadi? Akunku keblokir, sejam kemudian, aku mendapat sms dari Dina yang berbunyi, “Rin, rasanya aku nyerah deh ke luar negeri, aku udah dapet respon postiv dari satu keluarga di Italy tapi akunku keblokir.”. 

Deg! Aku langsung berpikir, berarti gak hanya aku aja yang keblokir, mereka menemukan nama yang sama dan memblokirnya karena mungkin kami dianggap scammer. Aku mencoba segala cara untuk membuat akun kembali, mengirim email ke pihak au pair world, tapi nihil. Aku bahkan membuat akun samaran, dengan nama lain di kemudian hari, dengan email baru, dengan computer di warnet, tetap nihil. Au pair world emang sangat hati-hati terhadap scammer, jadi bisa dipastikan baik au pair atau pun keluarga di au pair world adalah nyata dan bukan scammer. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya, karena bukan hanya aku yang sedih, tapi aku seperti memutuskan mimpi sahabatku yang sangat ingin ke Eropa bersamaku. Aku bercerita pada ibu apa yang terjadi, beliau hanya bilang, “Semua bukan kebetulan, pasti Tuhan punya rencana di balik semua ini, kamu dan Dina pasti berangkat, hanya mungkin waktunya yang nggak sama, kamu nggak bisa memutuskan apa yang Tuhan kehendaki,”. Tetap saja aku merasa bersalah dan seperti nggak bisa memaafkan kebodohan yang aku lakukan. Bodoh!!

Selang dua minggu setelah video call, aku memberanikan diri bertanya pada Nadja, di email itu aku menulis: “Dear Nadja, semoga kalian baik&sehat semua. Sudah selang dua minggu sejak kita video call, aku sudah yakin akan keputusanku untuk bekerja sebagai au pair di keluarga kalian. Bagaimana dengan kalian? Aku menunggu kabar darimu”. Nggak ada balasan!...Saat itu aku berpikir, aah mungkin Nadja merubah pikirannya dan aku iseng menengok profil mereka di sites aupair world, aku lihat last loggin nya hari ini. Aku semakin kecewa dan berprasangka negatif, mungkin mereka mendapat banyak lamaran dan sudah memutuskan satu yang terbaik.

Tetap nggak ada kabar sampai 3 minggu, aku menyerah. Mungkin aku juga tidak ditakdirkan ke Eropa. Aku lagi-lagi bodoh, profil skype aku log out agar aku tidak selalu berharap ada kabar dari Nadja saat membuka computer.

Akhir pekan di akhir bulan Juni, sahabat terbaikku, Chrisant, seperti biasa sepulang kerja maen ke rumah untuk sekedar ngobrol dan bercerita. Di sela-sela ceritanya, nggak tau kenapa dia bilang,

“Gir, kamu berteman ama aku nggak di Skype? Bisa minta tolong buka akun skype kamu? Aku pengen tahu akun aku kelihatan gimana di akun orang lain”.

“Buat apa sih? Kamu ya kelihatan gitu-gitu aja di akunku”, jawabku. Dia maksa banget, padahal aku takut buka skype (takut ada email dari Nadja yang isinya meminta maaf karena dia udah memilih au pair lain. Akhirnya, aku log in kembali di Skype dan benar,,,ada pesan dari Nadja. Isinya bukan seperti yang aku pikirkan, melainkan sebaliknya. Dia minta maaf karena sebulan ini mereka berlibur dan jarang punya waktu untuk membalas email. Mereka memutuskan aku yang jadi au pair mereka dan meminta data-data pribadiku untuk mengurus segala dokumen yang diperlukan. Sore itu, rasanya aku ingin memeluk dan mencium Chrisant. :D

Bersambung......


Part 3: Jangan Menyerah

Pelajaran yang aku dapat dari ibu saat itu: Beliau benar, Dina saat itu memang belum ditakdirkan ke Eropa, karena ibunya yang sakit, jikalau dia benar ke Eropa denganku saat itu, mungkin dia tidak bisa merawat dan mendampingi ibunya yang wafat selang beberapa bulan setelah aku sampai di Jerman. Semua memang tak ada yang kebetulan, sudah tertulis, sudah tertakdir.

Wednesday, January 18, 2017

Sebelum Ke Jerman Part 1: Semua berawal dari Patah Hati


Akhirnya aku menulisnya juga...haha. Banyak sekali yang bertanya bagaimana sih kok bisa ke Jerman, proses awal sampai berada dan tinggal di sana. Well, kalau diceritakan bisa jadi novel donk. Tapi oke, aku ceritakan mulai dari awal dan bersambung ya.

Semua berawal dari patah hati


Mengenang diriku di tahun 2012, mungkin sekarang aku bisa tertawa sendiri. Bagaimana tidak, tepat di awal bulan Februari 2012, tunanganku meninggalkanku demi wanita lain. Aku saat itu sudah dipastikan hidup segan mati tak mau. Pasalnya, kita berencana menikah di Agustus 2012, dan 5 bulan sebelum itu terlaksana, dia pergi.

Betapa sekarang aku harus berterima kasih sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya dan seikhlas-ikhlasnya kepada mantan tunanganku dan pacarnya (saat itu, sekarang sudah menjadi istri), karena mereka lah sekarang aku bisa melihat dunia yang indah ini. Paling tidak, hingga saat ini, aku sudah menjelajahi lebih dari 15 negara dan 50 kota di seluruh Eropa. Di Musim panas 2014 saja, aku sudah keliling 12 negara dan 25 kota di Eropa.

Ceritanya seperti ini:

Sakit hati itu sebenarnya bukan hanya dari mantan tunanganku. Tapi jauh jauh hari sebelum itu, saat aku SMP, dari guru Bahasa Inggrisku. Saat SD, aku sama sekali nggak pernah diajari Bahasa Inggris, begitu masuk di SMP favorit, semua murid-muridnya pada pandai-pandai. Aku bahkan nggak bisa membedakan fungsi He dan She saat itu. Saat aku tanya, aku dibully. Bukan hanya teman-teman, tapi gurunya juga. Suatu kali, Ibu Guru itu berkata padaku SATU hal yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku:

"Kamu ini, tiap giliran kamu menerjemahkan satu kalimat, selalu saja tidak bisa. Membacanya salah, menerjemahkannya salah. Nggak punya bakat berbahasa kamu ini. Ya sudah, lanjut ke teman yang lainnya."

Beliau mengatakan itu di depan satu teman sekelas, yang tak hanya membuatku malu dan ditertawakan, tapi juga membuatku patah arang. Namun patah arang hanya terjadi dalam hitungan detik saja, di detik selanjutnya, saat air mata hampir menetes, aku berjanji, bukan untuk membuktikan bahwa ucapan Ibu Guru itu salah, tapi untuk memotivasi diriku sendiri bahwa aku harus bisa bahasa Inggris, kalau perlu, aku akan ke negara asing. Aku yang saat SMP sering dibully karena kebodohanku itu, akhirnya menghibur diri sendiri dengan membaca buku karangan Astrid Lindgren (pengarang buku anak-anak asal Swedia), tentang Musim Semi di Bullerbyn. Aku ingin sekali menjadi anak-anak penghuni desa Bullerbyn dan selalu membayangkan betapa enaknya tinggal di desa itu. FYI, aku sudah mengunjungi museum Astrid Lindgren di Stockholm tahun 2014 silam dan puas sekali sudah mencapai impianku ke kotanya Bu Astrid tersebut.

Saat aku berpacaran dengan seseorang yang aku pikir akan menjadi pendamping hidupku kala itu, aku memupus semua harapan, impian dan cita-citaku untuk pergi ke luar negeri. Aku pernah bertanya kepadanya, "Aa' bagaimana kalau aku akhirnya dapat beasiswa ke Australia atau Eropa, maukah kau ikut bersamaku ke sana?". Dia menjawab, "Hidup matiku hanya untuk bumi Arema, mending kita di sini saja, nggak usah jauh-jauh dari sanak family."

Aku sebenarnya tipikal pemimpi yang mudah berkompromi dengan kondisi. Aku pun mengalah dengan situasi kami saat itu. Bayanganku, setelah lulus kuliah, dia kerja di pabrik, aku mungkin jadi guru honorer dan mengabdikan diriku pada suami dan keluarga.

Semua tiba-tiba berubah. Total. Dia pergi bersama wanita lain. Saat itu, bisa dipastikan aku depressi. Bagaimana tidak? Kami sudah punya mimpi-mimpi. Aku bahkan sudah membayangkan desain undangan, berapa yang akan diundang. Semua tetangga, teman, keluarga jauh maupun dekat tahu kalau kami akan menikah. Kalau dibayangkan, aku seperti membangun sebuah rumah, yang tinggal diberi atap, tapi kemudian dihancurkan berkeping-keping tak tersisa lagi. Malam tak bisa tidur, siang tak bisa makan. Aku yang sudah kurus ini, kehilangan berat badan hingga 9 kilo saat itu.

Ibu dan sahabat-sahabatku adalah saksi bagaimana hancurnya aku saat itu hingga bagaimana aku bangkit kembali. Silih berganti hingga satu dua tahun lamanya mereka memotivasiku. Hingga aku pun bisa menyelesaikan kuliah. Oh ya, saat dia pergi, aku masih semester 6.

Aku merasa aku belum bisa membalas budi sahabat-sahabatku saat itu. Mungkin dengan membaca ini, mereka akan tahu betapa aku sangat merindukan dan menyayangi mereka dan berterima kasih atas apa yang mereka lakukan untukku selama ini.

Selang dua minggu setelah aku putus, saat aku tahu mantan tunanganku itu nge-tweet 'Selamat Hari Valentine, sayang', tak ada ibu dirumah tempatku curhat dan menangis. Sebelumnya mantanku itu bilang kalau kita harus berpisah karena sudah tak cocok lagi dan tidak cinta lagi. Tapi tweet nya saat itu membuktikan bahwa ada wanita lain. Aku pun telepon, salah satu sahabatku, sebut saja namanya Agus. Agus adalah sahabat terbaikku hingga saat ini meski kami terpisah jarak dan waktu.  Dia sedang di luar kota untuk bekerja saat itu. (Diam sebentar, menangis mengingat apa yang dia lakukan untukku saat itu).

Agus mendengarkan keluhanku yang panjang di telepon tanpa berkata sepatah katapun. Dia yang saat itu bekerja, masih menyempatkan diri mendengarkanku. Hanya beberapa kalimat yang dikatakannya saat aku menangis menjerit-jerit di tlp saat itu. Sekarang aku sudah lupa.  Dia hanya diam mendengarkanku. Sampai aku menutup telepon itu dia masih tak banyak menghibur.

10 menit kemudian, sahabatku yang lain, sebut saja namanya Fadli, datang ke rumahku. Dia melihat mataku yang sembab setelah menangis. Dia tak banyak berkata juga, hanya mengemasi barang-barangku. Dimasukkannya handuk dan diambilnya beberapa potong pakaianku dari lemari. Aku bertanya-tanya, kesurupan apa anak ini. Dia tak menjawab pertanyaanku, langsung saja menggandeng tanganku menuju motor bebeknya yang diparkir di depan rumah. Dia hanya berkata,"Wes meneng o, meluo ae!" (Sudah diam, ikut saja!)

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Ternyata dia mengajakku ke pemandian air panas, Cangar. Aku, Agus, Fadli, Chrisant dan sahabat-sahabatku lainnya suka sekali ke sana sejak SMA. Aku pun merasa terhibur, seharian kuhabiskan waktuku bersamanya. Dia juga mengajakku ke rumahnya untuk makan, nonton film dan ngobrol. Hingga sebelum diantar pulang, akhirnya aku ingin bercerita padanya bahwa alasan tunanganku memutuskanku adalah demi wanita lain. Ini yang dikatakannya padaku, yang membuatku selalu bercerita tentang mereka kepada siapapun yang aku temui, termasuk ke orang Jerman juga:

"Bodoh! Memangnya untuk apa aku seharian ini bersamamu kalau tidak untuk menghiburmu!"

Dia sudah tahu, Agus meneleponnya. Aku selalu menangis mengingat hal itu. Selain Agus dan Fadli, ada sahabat kami yang lain, sebut saja Chrisant, juga tak pernah absen menemaniku dan mendukungku. Hampir tiap akhir pekan selama 2 tahun, dia tak pernah sekalipun menutup telinganya untuk mendengarkan keluh kesahku. Pintu rumahnya, keluarganya juga tak pernah sekalipun keberatan kurepoti.

Kami bersahabat sudah lebih dari 10 tahun dan setiap kali aku ingat siapa yang ada bersamaku saat aku terpuruk saat itu, aku akan mengangis mengingat ketiga sahabatku dan dengan apa yang mereka lakukan untukku. Tanpa mereka, aku tak akan pernah bisa seperti ini. Oh, rindunya....

Dua tahun pun berlalu. Di saat aku mencari ide untuk menulis skripsi, aku menemukan sebuah skripsi dari kakak kelas yang judulnya menarik sekali, 'Kultur Schock dan Akulturasi Budaya Belanda'. Aku kemudian menamatkan thesis itu hanya dalam beberapa jam saja. Dari thesis itu, aku jadi tahu bagaimana cara ke Belanda tanpa harus bersusah payah berburu beasiswa.

Ibuku yang mungkin selama dua tahun masa kelamku itu juga sering menangis melihat penderitaanku, jadi sangat gembira mendengar kabar bahwa aku ingin melanjutkan mimpiku ke luar negeri yang sempat terhalang takdir kala itu.

Ibu selalu memotivasi dan mendoakanku agar aku bisa mencapai impianku. Hiks jadi kangen ibu.

Saat aku pulang ke Indonesia tahun 2015 silam, aku menyempatkan diri bersilaturahmi dengan mantan tunanganku dan istrinya. Kami berteman dan menjalin hubungan baik hingga sekarang, bahkan dengan istrinya, aku sering berbbm ria. Aku bersyukur telah menjalani masa-masa tersulit saat itu yang membuatku berada di sini sekarang. Berkat doa ibu, sahabat dan semua yang menyayangiku.

Buat pembaca yang sedang sakit hati, bebahagialah. Sungguh, karena melalui sebuah penderitaan, kita akan belajar dan berkembang. Ibuku selalu bilang, ulat yang jelek dan menjijikkan itu, melalui cobaan dan siksaan yang teramat kuat saat dia bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Saat ia keluar dari kepompong, tekanan, tempaan dan dorongan hebat didapatkannya demi bisa keluar dari kempompong dan mengepakkan sayapnya yang indah dan menjadi kupu-kupu. 

Belajar dari kupu-kupu, kalau kita tidak dicobai dan ditekan serta ditempa oleh pengalaman hidup, kita akan selalu jadi orang yang biasa-biasa saja, jelek, menjijikkan seperti ulat :D. Dan percayalah satu hal, sesakit apapun kamu hari ini, waktu terus berjalan, suatu hari nanti, kamu akan menengok ke belakang dan akan menertawakan dirimu sendiri yang hancur, tapi kamu akan bangga karena bisa bangkit dari kehancuran itu. Buatlah orang tua dan sahabat-sahabat yang menyayangimu bangga. Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Bukankah dibalik kesusahan ada kemudahan?


Bersambung......
Part 2: Tak Ada Yang kebetulan




Viele Grüße

Sunday, January 15, 2017

10 Alasan Orang JERMAN Membenci Musim Dingin


Pertama kali menginjakkan kaki di Jerman adalah saat musim dingin 2014 (tepatnya, 11. Januari. 2014). Ekspektasi saya saat itu adalah salju di München yang memadati jalan atau butiran lembutnya yang melebur menyentuh jari-jemari. Eh, nggak taunya, meski musim dingin, saat itu, München sama sekali nggak ada salju. Sampai harus menunggu 11 bulan berikutnya, benda putih dingin yang kuimpi-impikan itu akhirnya datang juga, yakni saat Desember 2014.

Sekarang, kalau musim dingin, bawaannya malah pengen pulang ke Indonesia dan menikmati matahari sepuas-puasnya sampai gosong. Kini baru sadar mengapa, tak hanya orang Jerman saja sebenarnya, tapi banyak sekali orang yang membenci musim dingin. Itu sebabnya, di musim dingin,  banyak dari mereka yang travelling ke negara tropis, seperti Indonesia untuk menghindari winter.

Meski musim dingin kerap kali menarik bagi kita, yang notabene tak pernah dihampiri salju, namun banyak sekali alasan untuk membencinya. Berikut adalah alasan-alasannya:

1. Dingin

Pastinya doonk. Gimana nggak dingin, judulnya saja musim dingin. Kalau orang yang terbiasa hidup di negara beriklim sedang dan bermusim dingin, pasti sudah terbiasa dengan dinginnya musim dingin, tapi bayangkan saja kita hidup, tidak hanya di dalam kulkas (kulkas mungkin setara dengan musim gugur), tapi di suhu minus, yang sampai membekukan apapun, bayangkan hidup di FREEZER dan itu nggak hanya sehari dua hari, tapi 3 bulan non-stop ditambah angin yang bukan sepoi sepoi lagi, tapi dingin ngin.

2. Salju

Wah, pasti kesan salju itu putih, murni, cantik romantis. Meski turunnya salju bisa menenangkan jiwa dan butirannya mampu menyihir alam pikiran kita, tapi banyak orang Jerman yang juga membenci turunnya salju. Kalau salju itu turun trus putih berhari-hari, akan kelihatan indah dan menawan, tapi kalau cuma sebentar, lalu disertai turunnya hujan, walah, bakal kotor dan menjijikkan. Kita bakal menginjak es serut coklat dimana-mana,

kotor, becek, dan sama sekali nggak indah kalau kayak gini
nginjek-nginjek es dimana-mana

3. Dingin diluar panas di dalam

Kalau musim dingin, pastinya di rumah-rumah, toko, kendaraan umum akan memasang penghangat ruangan. Kalau di Indonesia kan, di luar panasnya minta ampun, begitu masuk ke mall, nyessss, adeem. Nah kalau di musim dingin kebalikannya, di luar dinginnya minta ampun, begitu masuk ke dalam, hmmmm, angeeet. Tapi, kalau musim dingin kan kita kemana-mana kudu pakai baju rangkap-rangkap plus jaket tebal lengkap dengan aksesoris syal, kupluk, dsb yang bikin anget, nah kalau masuk mall yang anget, dijamin kepanasan pakai kayak gitu. Kalau dicopot bawanya berat, kalau dipakai keringetan. Ahhh...

4. Ribet kemana-mana

Berat dan ribet. Kalau di Indonesia, mau pergi ke warung, tinggal pakai sandal jepit, meluncur balik lagi. Nah kalau di Jerman, pas musim dingin, jangankan ke warung, buang sampah ke depan rumah aja ya, pakai jaket tebal, kaos kaki dan sepatu boot anget, syal, biar nggak masuk angin, pakainya, trus bongkar pasangnya itu loh, ampun nggak sepadan dengan apa yang kita lakukan (cuma buang sampah doank).

5. Waktu siangnya pendek

Bayangkan, di musim dingin, matahari terbit sekitar pukul 8.30 pagi. Sedangkan kita mesti di kantor pukul 08.00. Masih gelap gulita udah berangkat ngantor. Trus matahari tenggelam sebelum pukul 4 sore, dan kita pulang ngantor jam 4 sore, pulang ngantor, nyampe rumah udah gelap gulita lagi. Ampun, kerja 8 jam rasanya kayak kerja mulai dari dini hari sampai tengah malam.

6. Matahari dan Vitamin D

Seperti yang saya tulis di artikel-artikel sebelumnya tentang winter depressi, pentingnya cahaya matahari buat keseimbangan tubuh hampir tidak bisa kita dapatkan di musim dingin. Makanya, kalian bisa membayangkan betapa sumringah dan gembiranya orang Jerman kalau melihat matahari muncul.
Tapi kalau mereka sudah sangat muak dengan musim dingin, biasanya mereka akan lari ke negara tropis demi memperoleh asupan Vitamin D.

7. Depressi mengancam

Ini juga ada hubungannya dengan point 5 dan 6. Kalau orang sudah stress kerja, nggak bisa menikmati hari-hari dengan hangatnya sinar mentari, mereka bisa terancap depressi berat. Saat aku kerja, banyak sekali yang ijin sakit sampai 2 minggu karena depressi, stress, butuh psikiater, dan lain sebagainya. Orang-orang pada merengut, muka ditekuk, dan nggak ramah pada siapapun.

8. Nggak asik buat travelling

Memang saat musim dingin, kita bisa jalan-jalan ke bukit-bukit bersalju untuk main ski, dan mendaki gunung misalnya. Olah raga musim dingin juga sangat populer di Jerman, seperti skiing dan ice skating, tapi kalau mau jalan-jalan melihat keindahan kota, widiih males banget. Selain dingin dan harus bawa baju berat untuk ber-backpaker ria, foto-foto juga jadi nggak asik. Apalagi yang mau dinikmati kalau dingin kayak gitu di kota,

9. Jalanan licin

Minggu lalu, di Hamburg saja, tercatat lebih dari 200 orang yang tergelincir di permukaan air yang mengkristal. Licinnya jalanan, membuat kita harus ekstra hati-hati dan pandai memilih sepatu. Sepatu yang bagus untuk musim dingin sekaligus stylish juga nggak karuan harganya. Udah gitu, bawanya berat kemana-mana. Tak hanya untuk pejalan kaki, pengendara mobil juga tak kalah bahayanya, kalau musim dingin dan jalanan tertutup salju, pasti orang-orang pada bete karena untuk mengeruk salju, juga memakan waktu, dan, kalau nggak ada salju tapi air mengkristal karena dingin, bisa bikin licin dan menggelincirkan pengendara mobil.

10. Biaya musim dingin

Tak hanya pakaian musim dingin yang berbahan bagus, namun juga semua aksesorisnya mulai dari sepatu, syal, kupluk, penghangat telinga, kaos kaki, sarung tangan, harganya juga sesuai dengan kualitasnya. Dan pastinya lebih mahal ketimbang aksesoris musim panas. Selain pakaian, biaya menghangatkan ruangan (Heizungskosten) juga tak sedikit. Ditambah kalau punya mobil, tiap musim semi dan musim gugur, ban-ban mobil harus segera diganti agar tidak membahayakan untuk pengendara. Untuk mengganti ban itu juga perlu ekstra biaya ke bengkel yang tak sedikit.


Demikian 10 alasan, yang sebenarnya bukan hanya untuk orang Jerman saja, untuk membenci musim dingin, tapi untuk semua yang pernah merasakan tidak enaknya musim dingin. Namun, penilaian subjektif ini semata-mata bisa dibantah, mengingat saya sebagai penulis, masih sering mengagumi keindahan salju di musim dingin. Hhehhe. Tapi kadang benci juga kalau udah meleleh.

Oh ya, baca artikel menarik lainnya tentang gejala-gejala depressi yang menyerang saat musim dingin
Sampai jumpa di topik seru lain. Semoga segera. :)


Viele Grüße

Thursday, January 12, 2017

Hamburg: BOM, PD2, dan Kemerdekaan Indonesia


Kemarin lusa, tepatnya Selasa, 10 Januari 2017 telah ditemukan (lagi) bom di Hamburg, tepatnya di kawasan Berliner Tor dan Hammerbrook City Süd. Kejadian ini tak cuma sekali dua kali terjadi di Hamburg. Selama hampir 2 tahun saya tinggal di Hamburg, sering kali jalan-jalan diblokir karena ditemukannya bom oleh orang yang mengkonstruksi jalan. Bom apa sebenarnya ini? Bahayakah?

Bom seberat 500 kilogram atau setengah ton ini pasti membuat heboh dan resah warga. Bayangkan kalau meledak, sudah pasti Hamburg hancur. Tak bisa kalian membaca tulisan ini saat ini karena aku ikut hancur bersamanya :D . Bom ini adalah bom bekas perang dunia kedua. Tepatnya bom yang diterjunkan Inggris pada PD2 (Perang Dunia 2)  ke daratan Jerman yang memporak-porandakan kota.

Baiklah, mungkin diantara kalian ada yang sudah tau dan ada juga yang belum tau tentang sejarah perang dunia kedua. Mau tak mau, PD 2 ini membawa dampak pada kemerdekaan Indonesia. Aku ceritakan dengan mudah saja ya agar tidak bingung.

Sebelum Hitler jadi diktator di Jerman, Inggris dan Prancis sebenarnya sudah ingin membentuk persatuan dan perdamaian di Eropa. Hitler yang bengis dan tamak itu masih saja ingin memperluas wilayah kekuasaan Jerman.





Peta diatas menunjukkan wilayah kekuasaan Jerman pada Maret 1940. Warna biru adalah daerah kekuasaan Jerman. Hijau adalah daerah kekuasaan Rusia, lalu merah adalah daerah kekuasaan Inggris, dan Putih adalah negara netral.


Padahal Inggris dan Perancis sudah membuat wacana perdamaian untuk Uni Eropa, Hitler malah rakus menyerang tentara Prancis dan menguasai Prancis. Pada Januari 1941, lihatlah, Jerman sudah menaklukkan Nowegia dan Prancis.




Hitler menyalahi janji kepada Rusia. Sebelumnya kedua belah pihak bersepakat untuk menyerahkan separuh dari Polandia ke Jerman dan separuh ke Rusia, setelah itu Jerman tidak boleh utak atik wilayah kekuasaan Rusia lagi. Namun lihatlah, pada Juli 1941, Hitler membuat kesalahan besar  dengan menyerang rusia, yang membuat Inggris murka. Pada peta di atas, kita bisa lihat, hampir seluruh Eropa merupakan wilayah Jerman (Biru), dan Warna Hijau (Rusia) telah lenyap. Inggris (Merah) mengambil alih kekuasaan, membuat taktik untuk menghancurkan Jerman. Dari semenanjung bawah, Inggris merayap naik, lewat laut dan daratan menguasai Malta, lalu Italia, kemudian lewat jalur udara, Inggris membumi hanguskan semenanjung pantai Utara Jerman yang mencakup Hamburg, Lübeck dan sekitarnya.


Di Peta tersebut, pada Maret 1945, Inggris (sekutu) menguasai hampir seluruh wilayah Eropa dengan warna merah.
Lalu pada Mei 1945, semua wilayah kekuasaan Jerman yang tadinya biru, berubah menjadi kekuasaan Sekutu (Merah). Jerman pun kalah telak dan menyerah.
ini Hamburg 1945. Sumber: Hamburg


Nah, sekarang, mari kita analisa hubungannya dengan kemerdekaan Indonesia. Setelah 350 Tahun Belanda menjajah Indonesia, di tahun 1941, belanda dibombardir Jerman yang membumi hanguskan Rotterdam dan membuat orang Belanda sampai sekarang benci Jerman. Pernah beberapa kali aku mengunjungi Belanda, dan bilang, 'Danke schön' (ucapan terima kasih Jerman) bukan 'Dank je well' (Ucapan terima kasih Belanda). Eh, orang-orang itu marah dan bilang, ini Belanda, simpan Bahasa Jerman kamu!! Ya ampun segitunya ya, memang sih Belanda pernah dibom dan dikuasai Jerman tapi cuma bentar banget. Nah bayangin, gimana kalau aku bilang ke orang itu, "Eh, pikir deh lu, lu kompeni dikuasai Jerman setaun aja udah misuh-misuh, bukan ke orang Jerman lagi, nah gimana kita yang elu jajah 350 tahun! Geregetan juga lama-lama :D".

Kembali ke topik. Karena Belanda dikuasai Jerman, otomatis Belanda tidak punya kekuasaan atas negaranya sendiri, oleh karena itu di tahun 1942, Jepang datang ke Indonesia. Jepang sebelum dan saat PD2 adalah kawan Jerman, jadi Hitler tak keberatan Jepang menguasai wilayah bekas jajahan Belanda, toh Jerman fokusnya saat itu Eropa, bukan Asia.
raf-bombing

Saat Inggris murka, bersekutulah dia dengan Amerika dan Soviet menyerang Jerman. Meskipun Jerman saat itu telah menguasai sebagian besar wilayah Eropa, rupanya masih kekurangan tentara, karena untuk mengivasi daerah baru, Jerman membunuh banyak tentara, contohnya di Belanda dan Prancis. Inggris berhasil menaklukkan Jerman, dan Amerika berhasil membuat Jepang menyerah, sehingga di akhir perang, karena kekalahan tersebut, Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaannya.

Luncuran bom Inggris terhadap kota-kota di Jerman membuat para penggali dan pembangun jalan kerap kali mendulang BOM. Bom-bom bekas perang dunia kedua ini masih banyak ditemukan di Hamburg dan Lübeck, mungkin juga di kota lain. Apa tidak berbahaya? tentu saja berbahaya. Mungkin, dulu bom-bom ini jatuh tapi tidak meledak karena kandungan zat kimianya yang masih belum sempurna. Tapi zat kimia cair di dalam bom itu masih terus aktif dan bisa meledak kapan saja. Makanya saat tukang renovasi jalan menemukan bom, semua lalu lintas bisa ditutup dan dialihkan hingga beberapa kilo meter, agar radiasi bom yang akan dijinakkan tidak membahayakan banyak orang.

Hingga saat ini, para penjinak bom itu berhasil menjinakkan ranjau-ranjau darat yang ditemukan secara tidak sengaja oleh pe-renovasi jalan atau saluran listrik dan air. Syukurlah.

ini Hamburg sekarang. Sumber: Viator

Sekian sharing kita tentang sejarah. Membosankan ya? Hhehe. Yang penting sudah aku bagikan, semoga kita segera bertemu di topik menarik selanjutnya.

Liebe Grüße

ps: Peta-peta diatas aku ambil dari Animasi pemetaan pada sebelum, saat dan sesudah perang dunia 2. Kalau kalian ingin melihat animasinya, ada di Wikipedia

Wednesday, January 11, 2017

München, Dachau: Kepahitan orang Jerman

Siapa yang menyangka kalau negara Jerman yang sampai tahun 2014 kemarin tercatat sebagai satu-satunya negara di Eropa yang perekonomiannya paling stabil ini, juga memiliki kisah sejarah pahit yang melatar belakanginya.

Mungkin yang belum mengenal Jerman, sejarahnya, dan orangnya, akan beranggapan kalau negara yang sempat menjadi negara diktator di bawah pimpinan Hitler ini akan bangga terhadap negaranya. Siapa yang tidak kenal Jerman? Kecanggihan teknologinya, para ilmuwan dan Komposernya, sejarah sastra dan budayanya yang terkenal di selurh dunia. Namun, Deutsche sind doch nur Menschen (orang Jerman tetaplah manusia), banyak orang Jerman, mungkin sebagian besar dari masyarakat Jerman, amat sangat malu terhadap apa yang dilakukan Hitler, orang kelahiran Austria itu, di Jerman.

Satu orang yang membuat jutaan orang tercoreng nama baiknya, satu orang yang membawa dampak kekejian bagi warga dunia. Tercatat lebih dari 6 juta orang  Yahudi yang tewas karena pembantaian di bawah kekuasaan Hitler, tak hanya itu, hampir 30 juta orang tewas akibat perang dunia kedua yang disebabkan kebengisan dan ketamakan Hitler. Orang yang mengaku bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan itu tak layak disebut manusia. Bagi orang Indonesia yang belum tahu sejarah Eropa dan perang dunia kedua, sebaiknya amat sangat hati-hati dalam membicarakan atau menyebut nama Hitler dihadapan orang Jerman. Tak terhitung banyaknya orang Jerman yang masih menaruh kebencian terhadap nama itu. Sampai nama 'Adolf' atau 'Hitler' DILARANG keras dipakai menamai anak di Jerman. Kasian anaknya kalau dia tahu siapa Adolf Hitler itu, begitu pertimbangan pemerintah Jerman.

Aku mengunjungi kamp konsentrasi Dachau saat aku sudah 2 bulan berada di München dulu, tepatnya Maret 2014. Kamp Konsentrasi Dachau merupakan kamp konsentrasi yang dulunya tempat tinggal para tahanan Yahudi dan juga tempat pembantaian mereka. Kalau kalian melihat sendiri bagaimana di kamp ini orang tak bersalah dianiaya, disiksa cuma karena kebencian dan dasar yang tidak jelas, kalian pasti akan jijik mendengar nama Hitler. Sangat tidak manusiawi.


Ini Dachau zaman dulu (1933-1945)
Gambar di atas adalah gambar blok-blok di kamp konsentrasi ini, sebanyak 9000 orang tinggal di lahan luas yang di atasnya dibangun 34 blok untuk menampung para tahanan.
satu kamar bisa penuh sesak seperti ini
ini toilet para tahanan

Lihatlah mayat mayat yang menunggu dibakar ditumpuk sedemikian rupa. Mayat-mayat tersebut adalah orang Yahudi yang dibenci Hitler atau orang yang dianggap tidak berguna lagi untuk negara, orang cacat, orang sakit, dsb. Orang-orang seperti itu akan dikumpulkan per kelompok dan ditempatkan di sebuah kamar kecil lalu diasapi dengan gas beracun sampai semuanya mati. Kemudian jasatnya ditumpuk seperti gambar di atas dan dibakar.

ini tempat pembakaran mayat-mayat tersebut
ini Dachau sekarang (blok-bloknya sudah dibongkar)
Dulunya kawasan kamp ini dikelilingi pagar tinggi berduri berlistrik agar para tahanan tidak kabur
Sorry, ada foto saya di lambang Yahudi. Bukan berarti saya Yahudi, hanya kebetulan warna-warni saja
Kamp konsentrasi ini pastinya tidak cuma di Dachau, München saja, tapi banyak sekali. Saya juga sempat mengunjungi di Berlin, Rostock, di Bergerdorf, Hamburg dan Lübeck juga. Pastinya masih ratusan kamp konsentrasi lainnya yang bertema sama. Mengerikan dan kasihan sekali. Itulah sebabnya, orang Jerman MALU. Malu sekali terhadap dunia, terutama bangsa Yahudi dan keluarga yang sempat menjadi korban pembantaian biadab itu.

Salah satu teman Jerman yang pernah tinggal di Indonesia sampai nangis dan bertekat membangun sekolah untuk anak-anak di Surabaya dan Jember gara-gara dia melihat ada seorang anak SMP (anak Indonesia), yang memajang foto Hitler sebagai foto profil facebooknya. Kalau di Jerman, atau sampai ketahuan oknum tertentu, bisa dibunuh anak itu, begitu katanya.

Banyak, mungkin termasuk aku juga sebelum ke Jerman, yang belum mengenal kepahitan orang Jerman yang harus menanggung malu sepanjang masa karena sejarahnya ini. Oleh karena itu, saya mohon untuk yang membaca ini, tolonglah bilang kepada orang yang belum tahu, wartakan siapa Hitler itu dan mengapa kejadian itu tidak boleh terulang kembali, seperti kejadian G30S/PKI dan pembantaian terhadap komunis setelahnya.

Viele Grüße

Monday, January 9, 2017

Au Pair: 5 Cara Agar Host Family Tertarik Padamu

SALAH BESAR, kalau ada yang beranggapan kerja sebagai au pair sama dengan TKW atau TKI. Well, memang jadi TKI atau TKW pun tidak ada buruknya namun banyak kisah miris jadi TKW menjadikan sebagian pemuda gentar juga mencoba peruntungan menjadi Au pair, tidak boleh sama ortu lah, sama pacar lah, takut dianiaya lah. Helooo,,,

Kerja sebagai au pair adalah cara TERBAIK mengenal suatu budaya. Gak hanya untuk au pair, tapi juga untuk host family. Gimana nggak, kita tinggal se atap, kita melihat secara langsung bagaimana mereka mendidik anak, bekerja, mengatur rumah tangga, memasak, bersikap kepada pasangan, dsb. 

Kalau kalian masih belum tahu tentang au pair, silakan baca: All about Au Pair. Salah satu cara untuk jadi au pair ke Jerman adalah dengan mendaftar ke salah satu situs pencari au pair dan juga keluarga host family. Contohnya: www.aupairworld.com. Di sana, kita harus membuat sebuah profil yang nantinya akan dilihat calon-calon host family. Ini beberapa tips agar keluarga tertarik sama profil kamu:


1. Profil Text

Profil text, ini salah satu point yang sangat penting agar profilmu berbobot. Tulis profil kamu paling nggak ada satu kalimat yang menyatakan kamu suka anak-anak. Memang sangat perlu mengatakan sejujurnya kalau kamu nggak suka anjing misalnya, atau kamu perlu waktu untuk menunaikan ibadah di profil. Tapi alangkah baiknya kalau kamu katakan hal itu setelah kamu berkomunikasi dengan keluarga. Pengalamanku, aku tulis semua hal tentang kecintaanku pada anak-anak, hobi menulisku, tentang keinginanku mengenal budaya barat, dan impianku untuk berkeliling Eropa. Setelah aku video call dengan Nadja (host mother), aku mengutarakan kalau aku islam, tidak makan babi, tidak minum alcohol, butuh waktu untuk beribadah, dan saat hari raya islam datang, aku ingin dapat cuti satu hari, saat ramadhan, aku berpuasa, dan sebagainya. Orang barat itu memang frontal dan nggak pake sungkan, tapi mereka sangat menghargai apa yang orang lain ingin lakukan selama mereka memenuhi kewajiban bekerja. Robert (host father) menjawab, kami menghargai apa yang kamu yakini selama kamu juga menghargai kami untuk melakukan apa yang kami yakini.

2. Foto Profil

Jangan bikin foto kamu secantik atau se alay mungkin. Kata Nadja, aku nggak akan melirik au pair kalau nggak ada foto sama anak-anak. So, meskipun profil text kamu puanjang lebar pakai 5 bahasa sekalipun, kalau kamu cuma pasang foto selfie alay, bakal nunggu lama deh dapet keluarga (kecuali kalau ada keluarga yang sama alay nya :P ). Saat mendaftar, aku pasang foto bersama keponakanku saat mandiin dia, mendorong kereta dorongnya, saat dia mencium pipiku, dsb. Foto-foto itu menandakan bahwa kamu suka anak-anak dan anak-anak pun suka padamu.

 3. Ramah

Tulislah profil seramah mungkin. Pilihan kata menjadi tolak ukur keramahan profil. Pilihlah kata-kata yang tdak terlalu akademis, tapi sopan dan memudahkan mereka untuk membacanya. Orang Eropa yang tidak tinggal di Inggris juga belajar Bahasa Inggris seperti kita. Kadang mereka juga tak tahu arti sebuah kata yang terlalu akademis. Tak hanya di profil, tapi kalau mengirim aplikasi. Hal ini mungkin agak konyol untuk ditulis tapi keluarga Nadja tertarik padaku karena dalam profilku dan selama kita berkomunikasi lewat dunia maya, aku sering menambahkan emoticon smiley atau ketawa.


4. Pilihan Bahasa

Alangkah baiknya kalau menulis dalam bahasa mereka. Misalnya targetmu jadi au pair ke Jerman, kalau kamu bisa bahasa Jerman juga, tulis pakai Jerman. Bisa juga dalam dua sampai 3 bahasa sekaligus kalau kamu memang menguasai bahasa-bahasa tersebut Tapi JANGAN GOOGLE TRANSLATE!!!. Mereka pasti akan tahu: Dan jangan copy paste!


5. Terlihat Open Minded

Kamu boleh saja berjiwa patriotisme, hidup berlandaskan asas nasionalisme. Tapi menjadi ethnosentris tak akan membantumu hidup di negeri orang. Apa itu Ethnosenstris? Ethnosentris adalah sifat yang terlalu mengagungkan budaya negaranya sendiri lalu menganggap bahwa budaya bangsa lain itu membawa dampak buruk, merusak moral, jelek, dan sebagainya. Simpanlah semua itu dalam dirimu dan tunjukkan pada dunia bahwa kamu itu terbuka pada budaya asing. Tulis di profilmu bahwa kamu suka anak-anak, suka masak, ingin mempelajari budaya dan semua hal tentang Eropa.

Maaf sekali aku tak sempat menulis banyak kali ini. Liburan tahun baru telah usai, aku kembali disibukkan oleh presentasi dan menulis essay. Yang semuanya dalam Bahasa Planet hhaha. Menulis blog satu-satunya alternatifku berkomunikasi lewat dunia maya dan memperbaiki koreksi bahasa Indonesiaku. :D 

Baca juga: Dilarang Melakukan 5 Hal ini Dalam Membuat Motivation Letter Untuk Mengajukan Visa Au Pair/FSJ Ke Jerman


Viele Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers