Friday, October 20, 2017

Hibah Buku Di Halte Bis


Pemandangan seperti ini sudah biasa sekali aku temui di banyak halte bis di Hamburg. Awalnya saat pulang kerja dan menunggu bis di dekat Altona, aku melihat tumpukan buku-buku di kursi panjang di dalam halte ini. Karena penasaran, aku sengaja skip bis yang lewat dan tidak menaikinya agar aku tahu apakah ada orang yang mengambil buku-buku ini, ataukah dibawa pemulung? Atau malah dibawa truk pengangkut sampah :D.

Belum sampai 10 menit, ada 3 orang yang silih berganti masuk ke halte tersebut dan memilih-milih buku, lalu mengambil satu atau dua buku untuk dibawa pulang. Satu jam aku menunggu di sana, tumpukan buku tersebut berkurang.

Orang memilih buku
Setiap kali pulang kerja, selalu ada saja orang yang membuang buku di halte ini dan ada pula orang yang memungutnya untuk dibaca. Mungkin mereka akan membuangnya lagi kalau sudah selesai dibaca, agar orang-orang yang kehabisan bahan bacaan bisa memungutnya. :D

Sampai saat ini, aku masih tak habis pikir, kenapa halte ini jadi tempat tukar menukar, tempat pemungutan buku ya?. Kalau di Indonesia, di mana kira-kira kita bisa memungut buku-buku gratis seperti ini? Mungkin teman-teman ada yang pernah tahu? Karena di Batu aku belum pernah menemukannya.

Liebe Grüße aus Hamburg

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg 

Monday, October 16, 2017

Diary Au Pair: Aroma Musim Dingin

Kisah sebelumnya: Diary Au Pair: Hari Pertama di München 



Bau musim dingin adalah bau favoritku yang tak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Intinya, baunya dingin :D, tapi dinginnya berbau khas, seperti bau uap es, atau bau-bauan yang belum pernah aku hirup sebelum aku datang ke München, yang membuatku selalu merindukan bau tersebut. Sebenarnya, yang membuatku mencintai bau musim dingin itu adalah bau si kembar di hari pertama kedatanganku di München 11 Januari 2014 silam. Bau mereka, bau banget😕, serius, beda dengan bau bayi Indonesia yang wangi, bau minyak telon, ditambah baby cologne atau shampo bayi yang wanginya lembut. Bau si kembar yang kucium saat mereka menyambutku di bandara adalah bau uap es yang dingin ditambah tomat (atau sejenisnya) yang mungkin mereka makan sebelum menjemputku.

"Mungkin mereka belum mandi pagi ini" pikirku saat itu.

Si kembar terlihat sama antusiasnya denganku, mereka selalu saja jingkrak-jingkrak saat aku datang. Di hari kedatanganku, mereka masih belum bisa jalan. Zoe dan Amy adalah bayi kembar yang bukan identik. Kata Nadja, mereka bukan bayi kembar, hanya adik kakak yang kebetulan tinggal di dalam satu rahim. Zoe kakaknya, Amy adiknya. Zoe lebih mirip Robert, sedangkan Amy lebih mirip Nadja. Tapi aku ngotot Amy dan Zoe mirip satu sama lain, sedangkan Nadja ngotot kalau mereka itu nggak mirip. Kemudian aku bilang, "Sebenarnya, bagiku terlihat mirip, sih, aku aja nggak bisa membedakan Anabel dan Zoe, jangankan bayi, yang dewasa aja, asal putih dan pirang, aku bingung." Nadja tertawa sebentar lalu katanya, "Wah sama donk, bagiku kamu sama orang-orang Asia lainnya juga mirip".

Aku bangun pagi-pagi buta dan nggak bisa tidur lagi karena jetlag yang membuat tubuhku masih mengikuti jam kerja Indonesia. Hampir pukul 08 pagi saat matahari belum sepenuhnya muncul, aku sudah nongol di dapur. Nadja yang baru bangun, kaget mendapatiku tiba-tiba ada di sana seperti kucing, diam duduk dan tak tahu harus berbuat apa.

Aku tak pernah menyesali diriku yang bodoh, konyol, polos, dan benar-benar ndeso. Tak pernah aku berani membayangkan bagaimana nasibku jika aku langsung pergi ke Jerman tanpa ada keluarga ini. Aku tak pernah naik pesawat sebelumnya dan sekalinya naik pesawat di usia yang ke 25 tahun, langsung ke benua yang sama sekali berbeda dari Indonesia. Aku merasa menjadi pribadi yang kurang beradab dan benar-benar seperti manusia purba yang datang dari abad sebelumnya. Saat berada di dapur, dari duduk di tepian meja kayu jati itu, aku memandangi kitchen set dan memutar otak mengingat-ingat bagaimana kemarin Nadja dan Robert masak makan malam sedangkan tak ada kompor di sana.

Saat Nadja melihatku, setelah kaget, dia tersenyum dan bertanya, "Selamat pagi, bagaimana tidurmu? Nyenyak? Kok pagi benar kamu ke atas? Aku aja baru bangun?"

"Aku pikir Amy dan Zoe sudah bangun, soalnya bayi-bayi di Batu bangun pagi-pagi, lalu mandi dan pakai bedak tebal sampai mukanya putih dan dijemur di bawah sinar mentari pagi biar dapat vitamin D"

Nadja berusaha mencerna kata-kataku ditengah mukanya yang masih terlihat mengantuk itu. "Mandi? Amy dan Zoe baru aja mandi 2 hari yang lalu, mereka mandi lagi hari Minggu nanti!"

"Jadi nggak 2 kali sehari?"

"Whatt?" Nadja terlihat makin bingung dengan percakapan kami yang kemudian dia paham setelah aku jelaskan bahwa bayi-bayi di Batu mandi 2 kali sehari dan selalu wangi pakai bedak dan parfum. Nadja pun lalu menjelaskan (yang meskipun aku pahami, aku masih kurang bisa terima) bahwa bayi-bayi di Jerman mandi 2 kali seminggu saja (terutama di musim dingin), pakai shampo juga (yang shamponya tanpa pewangi), pakai minyak bayi (tanpa pewangi), tanpa dibedakin. Kata Nadja, "Kulit bayi kan sensitif, mandi sering-sering malah nggak bagus, produk perawatan bayi di sini rata-rata tanpa parfum, karena kontaminasi bau-bauan itu bisa bikin bayi nggak nyaman, baru kalau dia sudah besar, dia bisa pilih sendiri apakah mau wangi parfum atau nggak."

Aku masih tak habis pikir, yang kutahu, bayi-bayi itu selalu berbedak putih, wangi dan segar.

Amy dan Zoe juga tidak ditindik, tidak pakai anting-anting. Kata Nadja, "Aduh, kasihan banget kalau masih bayi sudah disiksa, itu penganiayaan namanya. Mereka bisa tindik sendiri kalau mereka sudah bisa memutuskan mau pakai anting atau nggak". Pikirku saat itu, justru masih bayi, mereka kan bakal segera lupa rasa sakitnya. Aku saja nggak ingat pernah ditindik, karena waktu itu masih bayi banget. Justru kalau aku tindik saat dewasa, pasti aku ketakutan lihat alat yang akan melubangi telingaku dan membuat berkas seumur hidup itu.

Setelah mengobrol singkat di dapur, kami mendengar salah satu dari si kembar meraung, bangun. "Zoe!" bisik Nadja. Naluri ibu memang kuat banget, suara bayi kembar itu kan sama persis, tapi Nadja tahu persis itu suara siapa.

Nadja dengan sigap membopongnya. Setelah Zoe agak tenang, dia mengganti popoknya. Untuk mengganti popok, terdapat meja setinggi perut manusia dewasa yang disebut 'wickeltisch'. Di bawah wickeltisch tersebut ada peralatan tempur untuk mengganti popok, laci-laci berisi diapers, alas ganti popok, celana dan stocking musim dingin bayi, kaos dalam, tisu basah untuk melap pantat bayi, dsb. Mereka tak diseka dengan air ketika ngompol maupun BAB di popok, melainkan hanya dilap tisu basah saja.

Aku hanya melihat cara Nadja mengganti popok Zoe yang bagiku terlihat aneh itu. Di Batu, aku terbiasa mengganti popok keponakanku yang masih bayi dan menyiram pantatnya dengan air sampai bersih, dilap handuk, dibubuhi bedak 'anu'nya, lalu diganti popoknya. Di sini, hanya dilap tisu basah (bau tisunya aneh banget, aku pikir tisu itu sempat terkena ompol bayi, nggak taunya, emang baunya seperti itu).

Robert pun ikut bangun. Setelah tersenyum, menyapaku dan menanyakan bagaimana tidurku semalam, dia membopong Amy dan mengganti popoknya. Hari itu aku hanya dipersilakan untuk melihat bagaimana keseharian mereka bersama Amy dan Zoe.

"Indra, kamu mau ikut jalan-jalan ke kota? Aku kan janji mau beliin kamu sepatu musim dingin dan kartu perdana buat hp-mu!" kata Nadja.

Aku pun mengiyakannya.

Kami jalan-jalan ke pusat kota, tepatnya di Marienplatz. Aku masih saja tegang di dalam mobil dan untuk mengalihkan ketegangan itu, aku menimang-nimang Amy dan Zoe yang duduk di Maxicosi di samping kanan dan kiriku. Maxicosi adalah kursi duduk bayi di mobil.

Setibanya di Marienplatz, Nadja mengajakku melihat icon kota München, city hall dan frauenkirche. Aku masih saja bego dan tak begitu ngeh kalau kita sudah ada di kota München. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, mungkin mabuk darat gara-gara mobil yang lalu lalang di sebrang kanan jalan.

Saat memilih sepatu, Robert menjaga si kembar di luar Deichmann (toko sepatu di Jerman) agar kami bisa memilih sepatu dengan leluasa. Aku merasa sungkan kalau memilih sepatu kelamaan, padahal biasanya kalau shopping dan urusan pilih memilih, aku bisa berjam-jam. Aku takut si kembar nangis sambil menunggu kami, akhirnya kuputuskan membeli sepatu yang akhirnya sedikit kebesaran untukku. Tak apa, akhirnya toh aku memakainya dengan kaos kaki tebal, jadi nyaman juga (Amy dan Zoe ternyata aman-aman saja bersama papanya dan tak rewel)

Robert dan Nadja memberiku iphone4 yang Nadja pakai agar jadwal keluarga bisa langsung tersambung di icloud dan aku bisa mengecek kapan dan di mana keluarga ini ada janji, butuh aku atau nggak, dsb. Hp samsung slide butut pemberian adikku yang layarnya sudah berwarna merah kekuning kuningan itu pun segera aku museumkan. Nadja pun membeli iphone baru untuknya.

Kami berjalan-jalan menyusuri sepanjang area pejalan kaki dari Marienplatz ke Karlsplatz Stachus. Robert membeli hem yang harganya bisa membeli 100 hem batik bapak di Batu. Mereka boros sekali, batinku.

Kami makan siang di sekitaran Marienplatz. Nadja membawa bekal untuk Amy dan Zoe yang hanya perlu dipanaskan di microwave 30 detik. Kami memesan makanan, Nadja menyuapi Amy, Robert menyuapi Zoe, aku menyuapi diriku sendiri. :D

Malam harinya,

Setelah mandi dan siap untuk makan malam, aku kembali membuntuti mereka yang mengantarkan Zoe dan Amy untuk tidur. Mereka hanya diganti saja popoknya, dilap pantatnya dengan tisu basah, kaos dalam masih bersih jadi tak perlu diganti, lalu memakai piyama dan dimasukkan ke mantel tidur musim dingin yang tebal pengganti selimut. Mereka dikasih sebotol susu, lalu ditidurkan di ranjang masing-masing, dikasih dot, dan sebotol air putih siap kenyot kalau suatu saat haus. Lalu mama papa mematikan lampu, dan memasak di dapur.

Kudengar Amy dan Zoe masih meringik, sedikit menangis tapi Nadja dan Robert membiarkannya. Kata Robert, "Kalau nangisnya nggak kenceng, tandanya nangis karena ngantuk, biarin aja, lama-lama juga tidur sendiri!". Dan memang mereka akhirnya diam dan tidur. Jadwal tidur mereka pun sudah ditentukan. Yakni, selesai main pukul 17.45, makan malam pukul 18.00, selesai makan dan beres-beres mainan (meskipun mereka masih belum bisa jalan, setelah makan, mereka sudah diajarkan untuk merangkak-rangkak mengambil mainan dan memberikannya kepada kami untuk dibereskan). Beberapa bulan setelahnya, saat sudah bisa jalan mereka terbiasa membereskan mainannya sendiri dan tahu di mana tempat mainan-mainan itu harus ditata dan dibereskan seperti sebelum dimainkan. Semuanya selalu selesai pukul 19.00 dan si kembar selalu tidur paling lambat pukul 20.00 setelah diletakkan di ranjang masing-masing.

Pukul 19.00 Nadja dan Robert mulai masak dan menyiapkan makan malam untuk kami bertiga. Di situlah aku tahu bahwa mereka memakai kompor induksi tanpa api, yang segera panas ketika dinyalakan dan segera dingin ketika dimatikan sehingga tak berbahaya dan tak mudah mengundang kebakaran. Ah, aku katrok sekali. Lebih katrok lagi ketika aku mulai membantu mereka mencuci alat-alat masak. Robert bilang, "Indra, ngapain kamu cuci semua? Nggak usah, duduk aja sambil main laptop atau hp. Toh nanti ada mesin pencuci piring!"

Aku melongo sejenak. Sumpah, jangan gregetan ya kalau aku emang kampungan, aku berusaha menceritakan kisahku secara jujur.

"Apa? mesin cuci? Masak piring-pring ini masuk mesin? Apa nggak pecah?" tanyaku.

Robert dan Nadja ngakak. "Bukan mesin cuci baju yang berputar-putar, Indra! Tapi mesin pencuci piring!"

"Emang ada?" tanyaku masih tak percaya.

"Nah, di depan lututmu itu!"

Aku segera menunduk dan menatap kotak besi seukuran mesin cuci. Nadja membuka pintunya dan kulihat di dalamnya terdapat rak-rak piring, gelas dan tempat sendok. Robert meletakkan piring, panci, baskom ke dalamnya dan menutupnya kembali. Aku protes.

"No way! Aku nggak mau barang-barang ini rusak dan hancur!"

"Hhahaha, nggak akan! Kita tiap hari nyuci pakai ini!"

"Noooo!!!"

"Indra, percaya deh! Piring-piring ini nggak akan hancur dan baskom nggak akan meleleh, mereka sudah didesain untuk suhu di mesin pencuci piring. Mereka nggak akan campur aduk jadi satu di dalam! Lagi pula, kalau kita mencuci manual lebih boros air, tenaga, waktu, dan sabun! Biar saja kamu santai, mesin ini yang mengerjakannya buat kita! Okay?" kata Nadja dengan sabarnya menghadapiku.

Akhirnya aku pun menyerah dan di hari-hari selanjutnya aku malah malas mencuci piring, semua aku masukkan saja ke sana. Sungguh praktis dan ternyata bersih juga, meskipun nggak wangi lemon seperti saat aku mencucinya dengan sunlight :D

Begitulah minggu-minggu awalku di München dan kekonyolanku yang masih belum berakhir. Sebaiknya aku lanjutkan di kisah berikutnya ya :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg 


Friday, October 13, 2017

Satu Tahun Nge-Blog: Trafik, Ranking, Pengalaman Blogging di Jerman

Rasanya ingin teriak saking senangnya bisa berkorespondensi kembali dengan kalian semua, para pembaca denkspa. Aku mohon maaf karena 6 minggu terakhir belum sempat membalas semua komentar dan email yang masuk dari kalian semua. Sebagian sudah aku balas, sebagian masih dalam daftar list. Sejak 4 September sampai 11 Oktober 2017 kemarin, aku berlibur ke Thailand, Malaysia dan Indonesia dan bertekat tidak membuka blog sama sekali. Kalau kalian melihat blog ini masih tetap update tiap minggunya, itu sudah aku jadwalkan terbit pada bulan Agustus sebelum berangkat liburan. Jadi saat bulan Agustus, aku menulis puluhan artikel, lalu aku jadwalkan terbit saat liburan. Oleh karena itu, blogger ini masih terlihat aktif, padahal akunya sudah melanglang buana :D.

Akhirnya aku tiba di Hamburg lagi dan tak sabar rasanya menulis banyak hal kembali (masih seputar Jerman, mimpi, cita-cita, dan cinta, 😛). Terima kasih banyak buat semua yang sudah komentar dan membaca blog ini, serta apresiasi yang luar biasa dari kalian yang mengirimiku pesan baik lewat email, facebook messanger, dan instagram. Juga yang sudah like fb fanpage denkspa. Terima kasih sudah memberi pertanyaan, bercerita lewat email seputar keluhan kalian, terima kasih sudah rajin membuka blog dan membaca tulisan-tulisanku dan penulis denkspa yang lain :).

Blogging sudah menjadi bagian dari kehidupanku satu tahun ini. Jadi, tak ada salahnya aku sedikit berbagi pengalaman tentang blogging selama aku di Jerman.

Bulan-bulan pertama ngeblog

Tahun 2015, aku sudah mulai mencoba blogging, tapi bukan lewat blogger melainkan lewat myfreewebsite, namun karena kesibukan FSJ, blog itu jadi terbengkalai dan tak pernah update. Hingga September 2016, di saat aku tak ada kegiatan sama sekali di rumah, aku iseng bikin tulisan seputar Seputar FSJ/BFD di Jerman. Lalu aku membuat blog baru di blogger ini.

Tak kusangka, tulisan tersebut langsung dibaca 11 orang (entah itu orang beneran atau cuma mesin yang jelas aku senang)😁. Dari situ, aku semangat membuat tulisan-tulisan seputar Jerman dan budayanya.

Paling tidak, selama minggu pertama, aku rajin membuat tulisan dan rajin ngecek statistik. Berapa pengunjung blogku hari ini, dari mana saja, apa ada komen, dsb. Komentar pertama aku dapatkan setelah 6 minggu ngeblog😢.

Selama 3 minggu pertama, pembaca blog denkspa masih sekitar 2-10 orang per harinya. Bahkan di minggu kedua (saat itu, artikel masih 7 biji), pageview-nya hanya 1 (orang Jawa bilangnya siji ndil) :D.

Saat pulang kuliah malam-malam, aku ingin mengejutkan diriku sendiri dengan melihat berapa pageview-ku hari itu. Betapa kecewanya aku saat itu, saat melihat pengunjung blogku di minggu ketiga kala itu 0 (tak ada pengunjung sama sekali). Alhasil, aku memang terkejut, kejutan yang menyedihkan :D.

Aku cerita pada Tobi (pacarku) tentang betapa sedihnya aku karena tak ada satu orang pun yang mengunjungi blogku. Hari-hari berikutnya, kulihat ada 5-10 pageview perharinya (yang ternyata kutahu setelahnya adalah Tobi). Tobi yang mengunjungi blogku tiap hari, artikel per artikel agar terlihat ada pageviewnya, agar aku selalu semangat menulis lagi, meskipun dia tidak mengerti Bahasa Indonesia sama sekali. Aku terharu sekali, tapi sekaligus kecewa karena nyatanya yang pageview itu bukan orang yang benar-benar membaca blogku, tapi Tobi yang hanya ingin menghiburku, dengan kata lain, tak ada yang benar-benar membaca blog ini.

Begitu lah seterusnya sampai 1 bulan pertama.

Daftar domain

Salah satu teman yang paling aku kagumi karena ke-piawai-annya menulis adalah Amouraxexa. Dia juga yang menyarankanku untuk mendaftarkan blogku ini agar punya domain sendiri (bukan blogspot.com lagi). Terima kasih untuknya juga yang telah menunjukkan domain host yang murah dan terpercaya. Selama satu tahun ini, aku pakai dracoola.com dan membayar Rp. 130.000,- per tahun untuk domain denkspa.com.

Sampai saat ini, pengetahuanku tentang domain, self hosted dan dunia blogging masih bisa dikatakan amat sangat minim, meskipun tiap hari rajin membaca tutorial blogging, SEO friendly, dsb. Jadi lebih baik aku nggak share seputar domain dan self hosting, takutnya salah :D

Blog walking

Aku rajin membaca tutorial blog dan kusadari bahwa pengunjung blog tidak datang dari langit, melainkan dari ketekunan kita mengunjungi blog orang lain. Dari awal ngeblog, aku sudah berkunjung ke blogger lama, tapi tak pernah berkomentar. Itulah letak kesalahanku. Sejak tahu berkomentar itu penting, aku kunjungi, baca lagi, dan komentar. Lama-lama, blog walking jadi hobi tersendiri. Dari sana, aku jadi bisa dapat pengunjung dan juga teman blogger yang seru-seru.

Share sosmed

Tiga minggu pertama, aku mulai berani membagikan tulisanku di facebook: 80 Kata Yang Mirip Dalam Bahasa Indonesia dan Jerman dan tak kusangka ada beberapa teman yang membagikannya, dari situ, aku mulai semangat lagi untuk menulis hal-hal unik lainnya. Tulisan 15 Hal yang lazim di Indonesia, tapi aneh di Jerman juga mendapat apresiasi yang bagus oleh teman facebook dan di share 17x saat aku posting. Aku menjadi terus semangat menulis.

Tulisan berbahasa Jerman

Beberapa kali, aku ingin menulis artikel tentang Indonesia dalam Bahasa Jerman. Artikel pertamaku selesai aku tulis pada 26 November 2016: 10 Sachen, die in Deutschland Tabu sind, aber nicht in Indonesia dan sejak aku share di forum Orang Jerman yang tertarik pada budaya Indonesia di facebook, tulisan ini sudah dishare sebanyak 10 kali. Tulisan tentang wanita Indonesia, paling banyak di share, yakni: 10 Sachen, die Deutschen wissen müssen, bevor sie eine Indonesische Frau kennenlernen (10 hal yang perlu diketahui pria Jerman sebelum memutuskan untuk pacaran sama wanita Indonesia), yakni sebanyak 33 kali, dan mendapat beberapa protes dari perempuan Indonesia di grup facebook juga 😁.

Karena begitu banyak hal yang ingin aku sharing tentang Jerman (dalam bahasa Indonesia), aku hanya sempat menulis 7 artikel saja dalam Bahasa Jerman. Semoga ke depannya, aku punya banyak waktu untuk menulis artikel tentang budaya Indonesia dalam bahasa Jerman lagi.

Pageview

Berapa pageview blog ini?
Saat aku ganti template bulan Februari 2017 silam, pageview blog ini melonjak dari 40 pv(pageview) perhari sampai sekitar 300 pv/hari. Aku pikir, yah mungkin karena Fajar Herlambang yang sering buka untuk me-lay-out blog ini atau aku sendiri yang ingin memeriksa apakah blog ini lebih keren atau tidak. Hhehhe.

Tapi setelah ganti template bulan Februari sampai Bulan Mei 2017, trafik blog mulai melonjak, minimal 300 di bulan Maret, lalu menanjak menjadi 800 pv/hari, lalu di bulan Mei, tak pernah kurang dari1000 pv/hari. Aku masih ingat di bulan Mei, pageview bisa sampai 1700 per hari.

Aku juga harus berterima kasih kepada Mbak Nella, salah seorang blogger yang amat sangat ramah, yang telah mengijinkan aku menjadi penulis tamu di pursuingmydreams.com. Mbak Nella adalah salah satu inspirator buatku. Di saat aku rajin berkomentar kepada puluhan blogger Indonesia di Jerman, hanya dia saja yang membalas dan mengunjungiku balik. Selebihnya, tak ada blogger Indonesia yang membalas komenku, apalagi mengunjungiku balik. Mungkin karena mereka pakai wordpress dan aku blogspot? Atau karena tulisanku kurang menarik karena mereka sudah tahu tentang Jerman. 😂

Sejak aku menulis di pursuingmydreams.com perlahan-lahan, trafikku mulai meningkat. Dari situlah aku merasakan betapa bergunanya menjadi blog tamu di blog orang yang sudah populer.

Bulan Juli, aku mulai bosan dengan lay out yang lama, kemudian aku ganti lagi, berikut meta tag nya, dari German Culture jadi Denkspa Blog. Alhasil, trafik blog yang semula sudah lebih dari 1500 per hari, dari hari ke hari semakin menurun menjadi 700-1000 per hari. Lalu aku ganti lagi meta tagnya menjadi seperti semula (German Culture Blog) di pertengahan Bulan Agustus, dan masih saja tetap di angka 800 pv per hari. Mungkin google agak bingung karena meta tag blog ini berubah ubah.😀

Bulan Oktober tahun ini tepatnya tanggal 3 adalah tepat satu tahun aku nge blog. Sayangnya, aku tak melihat berapa trafik blogku di tanggal itu. Namun, hari ini, satu hari sepulang dari liburan, dengan tak sabar ku-check lagi trafik blogku, pageviewnya agak meningkat, yakni:

Waktu aku buka pukul 05.30 (waktu Jerman), pageview kemarin 1342, dan pagi ini 534, bulan lalu rupanya agak banyak yang berkunjung karena pv bulan lalu meningkat dari bulan Agustus (sekitar 29 ribu perbulan, bulan September jadi 36 ribu). Saat aku tinggal liburan awal September lalu, pv seluruhnya masih 190 ribuan, setahun ini, sudah 223 ribu.
Ranking Alexa

Ranking Alexa blog denkspa. Entah itu bagus atau tidak untuk usia blog setahun ini. Semoga lebih baik lagi ke depannya. 

Artikel paling popular

Tulisan yang paling populer adalah 16 merk mobil buatan Jerman. Artikel yang saya tulis selama 6 jam itu bahkan tidak pernah saya share di sosmed, tapi berada di peringkat pertama google untuk kata kunci: merk mobil Jerman. :)

Masih banyak lagi hal-hal seputar blogging yang ingin aku sharing dan aku dengar dari kalian. Mungkin kalian yang pembacanya sudah puluhan atau ratusan ribu tiap harinya bisa berbagi pengalaman blogging di komen :). Untuk sementara ini, ini dulu saja yang aku tulis untuk melaporkan statistik denkspa di usianya yang masih bayi ini (mungkin merangkak kalau bayi ya :). Namanya juga masih bayi, jadi perlu dimaklumi kalau masih pelan-pelan jalannya.

Semoga bisa memberi semangat dan sedikit inspirasi.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg


Thursday, October 12, 2017

Diary Au Pair: Hari Pertama di München

Apa definisi sukses menurut kalian? Saat sudah bisa membahagiakan orang tua? Berguna bagi nusa, bangsa dan agama? Punya uang banyak dan bisa traveling ke mana-mana? Atau punya pekerjaan yang menghasilkan uang banyak tiap bulannya?

Aku bukanlah orang sukses, bagiku aku tak akan pernah bisa sukses, karena definisi sukses klise yang sejak kecil tertanam di dalam otakku adalah definisi sukses yang sangat sulit aku wujudkan. Saat ini, kehidupanku di Jerman masih seputar kerja keras dan membanting tulang demi bertahan hidup. Aku masih belum mampu membantu keluargaku yang miskin, aku masih belum sanggup traveling tiap bulannya, pekerjaanku pun hanya serabutan dan gajinya pas-pas an untuk membayar kuliah dan bertahan hidup.

Namun, dua hal saja yang ingin aku capai dalam hidup ini. Pertama, aku ini seorang yang -bisa dibilang- perfeksionis dan menuntut semua terlaksana sesuai kehendakku, sehingga terkadang aku tak bahagia dengan kehidupanku sendiri. Maka aku bertekad untuk BAHAGIA. Sejak tinggal di Jerman, aku belajar mencintai diriku sendiri, memaafkan kebodohanku, memaklumi kekuranganku, tidak menuntut sempurna, dan berusaha melakukan apa yang membuat hatiku ini senang. Karena aku percaya, siapapun yang kita temui, keluarga, adik, kakak, sahabat, bahkan kekasih hati atau anak sekalipun pun, ada kalanya punya hidupnya sendiri, dan ketika semua itu menjauh dan pergi, hanya ada kita dan diri kita sendiri. Maka berdamai dan membahagiakan jiwa raganya adalah kebutuhan yang harus aku penuhi.

Kedua, latar belakang kemiskinan yang telah lama menggerogoti hidupku, membuatku mau tak mau harus bekerja keras. Kisah di balik semua pencapaianku ini membuat aku ingin membagi apa yang sudah aku capai kepada siapapun yang berani berjuang dan bermimpi seperti aku. Kepada siapapun yang sadar bahwa hidup itu bukanlah soal keberutungan dan nasib baik semata, namun kerja keras. Karenanya, keinginanku selanjutnya adalah berguna bagi orang lain. Cukup satu atau dua orang saja yang dapat manfaat dariku, sudah cukup, semoga dari mereka hidupku diberkati.

Aku ini bukan orang cantik, sehingga susah jadi artis dan terkenal, kalaupun jadi artis, pasti artis murahan bahan bullian 😀.  Kalau kalian membaca betapa miskinnya diriku di artikel:  bagaimana bisa sampai ke Jerman?, kalian akan sadar bahwa akan sulit bagi anak miskin sepertiku untuk ke Eropa. Selanjutnya, aku ini tidak pintar. Beberapa mahasiswa yang aku temui di Jerman, mereka sampai di sini dengan beasiswa, otaknya brillian, bisa bersaing mendapatkan beasiswa ke Jerman adalah suatu hal yang mustahil aku lakukan. Sudah kubilang, aku ini tidak pintar. Mungkin saat SD saja aku pernah satu kali rangking 1, waktu kelas 3SD, selebihnya tak pernah lagi. Bahkan saat SMP, aku pernah peringkat 35 dari 40 siswa. Saat SMA, peringkat 20 dari 40 siswa. Baru saat aku menyerah dan masuk kelas Bahasa (yang katanya kelas buangan itu), aku bisa dapat peringkat 3, dan lulus dengan NEM rata-rata 9,1. Tapi, ya karena bukan dari kelas IPA, da aku mah apa atuh, tak dianggap.

Baiklah aku sudahi dulu basa-basinya yang terlalu panjang sampai basi 😀. Kali ini, aku ingin cerita bagaimana perjuanganku untuk bisa kuliah di Jerman dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang aku miliki.

Aku tiba di Bandara Franz Josef Strauß, München pada tanggal 11 Januari 2014. Ekspektasiku di bulan Januari kala itu adalah salju yang menggunung dan pemandangan sekitar yang memutih.

Robert dan Nadja bersama si kembar Amy dan Zoe menjemputku di bandara dengan senyum termanis mereka. Si kembar masih duduk di kereta dorong karena mereka masih berumur 11 bulan saat itu. Nadja menyerahkan seikat bunga indah warna warni sambutan kedatanganku. Baru pertama kalinya seumur hidupku, di usiaku yang ke 25 tahun ini, aku menerima rangkaian bunga seperti itu. Di Indonesia, tak pernah diriku diberi bunga. Aku pun tak tahu untuk apa bunga itu, setelah kering dan layu, pasti toh dibuang saja.

Aku menerima karangan bunga itu, memeluk mereka dan langsung menciumi si kembar. Amy dan Zoe terlihat sangat girang dan langsung mengenaliku. Kata Nadja, biasanya si kembar takut pada orang baru. Padahal aku ini bukan saja orang baru bagi mereka, tapi orang asing dengan warna kulit dan rambut yang sangat berbeda, tapi mereka malah tak takut sama sekali. Amy yang biasanya nangis ketakutan, malah jingkrak jingkrak di kereta dorongnya, seolah dia menunggu kedatanganku, menyambutku dengan cerianya.

Ekspektasi München yang berselimut salju pun lenyap saat aku menuju mobil. Di sekitar bandara, hanya dingin terasa, pepohonan kering berwarna coklat dan langitpun tertutup awan abu-abu. Hmmm, di mana salju itu? Kata Nadja, tahun ini tak ada salju, tak terlalu dingin juga. Rupanya global warming sudah mulai menjalar dan Eropa pun tak luput dari imbasnya.

Kami menuju mobil VW Mini Bus hitam. Setelah meletakkan koperku di bagasi, Robert membuang trolli begitu saja di sekitaran pelataran parkir. Katanya, nanti juga diangkut oleh petugas bandara. Aku duduk di kursi tengah bersama si kembar. Robert tak bisa menyalakan mesin mobilnya karena mobil mendeteksi bahwa salah satu sabuk pengaman belum teepasang, tentu saja itu sabuk pengamanku.

"Indra, tolong kenakan sabuk pengaman kamu!"

"Hah, memangnya ada?"

Robert dan Nadja pun serempak menoleh ke belakang dan terheran-heran. "Coba tengok ke kanan, itu ada ujung sabuk yang harus kamu tancapkan ke dekat paha kiri kamu!" kata Nadja.

Hhehe, aku pun tak bisa menghindari sikap ndesoku di hadapan mereka. Aku bilang, bahwa di Malang, aku biasa ikut ayah tiriku nge-truk, nyari pasir ke sungai-sungai, tapi truk itu tak ada sabuk pengamannya, setahuku, biasanya mobil di Indonesia, sabuk pengaman hanya untuk orang yang duduk di depan. Mereka tak menyalahkan diriku, karena aku tidak tahu.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, aku memegangi kursi sekencang-kencangnya, mukaku tegang sekali dan aku merasa wajahku kaku pucat pasi. Robert yang menyetir mobilpun langsung tahu dari spion tengah, lalu katanya, "Indra, kenapa kamu terlihat begitu tegang? Mabuk darat?"

"Maaf Robert, aku takut sekali kamu menubruk mobil yang lalu lalang. Soalnya, di Indonesia kan aku terbiasa mengendarai motor di jalur kiri, nah sekarang aku melihat ke depan semua di kanan, aku jadi cemas."

Nadja dan Robert menertawakanku tanpa henti tapi aku tetap pucat pasi.

Sesampainya di halaman apartemen, Nadja menurunkan Amy dan Zoe dari mobil. Robert membawa Zoe, Nadja membawa Amy menuju ke dalam rumah. Aku hanya membawa tas ransel besar kumel yang diwariskan bapak padaku, tas ransel yang akan aku gunakan keliling Eropa musim panas nanti. Robert melarangku membawa koper berat di bagasi, setelah membawa Zoe ke dalam rumah, dia membawakan koperku.

Apartemen mereka berada di sebuah bangunan berlantai 3. Mereka tinggal di lantai dasar dengan satu tetangga yang juga punya anak tunggal lebih tua beberapa bulan dari Amy dan Zoe, nama anaknya Anabel. Kadang Anabel dan ibunya maen ke tempat Amy dan Zoe begitu pun sebaliknya.

Apartemen itu tidak terlalu besar. Saat masuk ke dalam, di sebelah kiri, ada kamar Nadja dan Robert, kemudian sebelah kanan toilet kecil untuk tamu. Di sebelah kamar orang tua, ada kamar panjang yang yang terkesan padat karena ada dua ranjang kecil, dua almari dan meja untuk ganti popok serta puluhan mainan anak. Kamar itu adalah kamar Amy dan Zoe yang berhadapan dengan kamar mandi dan kamar perkakas. Menyusuri koridor utama sepanjang kurang lebih 5x2 meter itu, di ujung kirinya akan kita temukan ruang tamu yang luas, yang saat kita menatap jendela, akan terlihat kebun dan tumbuhan di taman, serta alat barbeque yang ditutup mantel abu-abu. Sedangkan ujung kanan sebelah kamar perkakas, di sanalah dapur yang juga luas dan modern.

Aku begitu terkesima melihat apartemen ini. Bukan karena luasnya -karena memang kecil-, tapi karena ditata rapi, serba hitam putih, bersih, baunya wangi, saat masuk ke ruang tamu, ada sofa coklat yang terpajang menghadap TV besar. Di Batu, aku tak pernah melihat apartemen, paling kos-kosan anak kuliah yang satu kamarnya dihuni 2-4 orang. Rumah orang tuaku sendiri luasnya 50 meter yang masih terus dibangun dan selalu terlihat kotor, kumuh dan berantakan. Aku membayangkan, apartemen ini sebenarnya tak lebih besar, tapi mengapa jauh lebih indah dan bagus.

Robert mengantarkan aku melihat-lihat seluruh apartemen. Dan setiap kali dia menjelaskan, aku selalu melotot dan berdecak kagum. Robert sampai heran dan bertanya apa yang terjadi pada diriku ini. Aku ndeso sekali, benar-benar kampungan.

Saat melihat kamar mandi yang lantainya kering dengan Bathtub yang besar dan putih itu, aku bertanya, "Robert, kita boleh nyemplung di situ?"

Robert memanggil Nadja dan tertawa terbahak-bahak sambil mengulangi pertanyaanku untuk diceritakan kepada Nadja kembali. Nadja pun menahan tawa karena dia melihatku tak ketawa. Aku benar-benar polos dan tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk mandi. "Kalau tak ada gayung, bagaimana aku bisa mandi? Apa aku harus mengisi bathtub itu sampai penuh lalu nyebur, atau ada gayung, atau pakai botol, gelas, atau bagaimana"

Kali ini Nadja yang tertawa meledak. "Indra, kalau kamu mau mandi, lihat, itu ada shower, ada kran, mandinya di dalam bathtub, kamu juga boleh berendam!"

"Aku boleh masak air panas dulu biar mandi air hangat?" tanyaku.

Robert tersenyum lagi dan bilang, "Indra, kalau kran kamu nyalakan dan putar tepat di tengah, nggak terlalu ke kanan atau ke kiri dan tunggu sampai beberapa detik, akan keluar air hangat secara otomatis!"

"Sungguh?"

Kalian harus tau bahwa di rumahku di Batu yang cuacanya selalu sejuk itu, kami tak punya penghangat air otomatis. Aku begitu girang saat aku tahu aku tak harus memasak air untuk mandi air panas di sana.

Aku merasa aku menjadi bayi dan terlahir kembali saat itu. Aku tak bisa berbahasa Jerman dan tak mengerti apa yang Robert dan Nadja bicarakan kadang-kadang (kecuali kalau mereka ngomong pakai Bahasa Inggris kepadaku). Mereka sangat sabar dan telaten menghadapi kekonyolan dan kepolosanku. Tak jarang mereka menyebutku sebagai anak nomor 3, adiknya Zoe dan Amy. Padahal aku seumuran dengan Nadja.

Setelah melihat-lihat seisi rumah, aku penasaran kenapa tak ada kamar untukku. Robert pun mengerti kegusaranku. Nadja menggendong Amy dan Robert menggendong Zoe. Aku membopong koperku untuk keluar dari apartemen itu.

"Maaf, Indra, karena ruangan di atas tidak cukup, kamu harus tidur di basement. Tapi ruangan basement itu sudah kami sulap jadi kamar kok, sayangnya tak ada kamar mandi dan toilet untukmu, tapi kamu bisa pakai toilet kami yang juga cuma satu itu kalau di malam hari kamu kebelet. Dulu, pacarnya adikku, saat beberapa bulan kerja di München juga sempat menempati kamar ini, kok. Semoga kamu menyukainya!" kata Nadja.

Kami turun tangga satu lantai dan menuju sebuah koridor gelap yang di kanan kirinya terdapat beberapa kamar tertutup. Lalu di ujung kiri koridor itu, ada sebuah kamar dengan pintu putih. Itu kamarku.

Begitu masuk kamar, aku lagi-lagi tak percaya dengan pemandangan di depanku. Kamarku itu luasnya 2 kali kamar mereka, kira-kira kamar anak-anak dan ruang tamu digabung jadi satu. Kasur berukuran 160x200cm warna merah, meja belajar dan almari besar. Semua yang aku perlukan ada di situ. Dibandingkan dengan kamarku di Batu, yang cuma berukuran 1,5x3m, kamar ini sungguh berlebihan buatku.

"Terima kasih, Nadja, Robert, kamar ini bagus sekali!"

"Kamu suka?" tanya Robert.

"Kamu tau, kamar ini mungkin 8 kali lebih luas ketimbang kamar aku di Batu, dan 100 kali lebih bagus, perabotannya juga lengkap. Di batu, aku cuma punya kasur ukuran 1x2 meter, lalu almari mungil dengan 4 pintu kecil ukurannya mungkin 50x50x100 cm, itu saja. Bajuku saja, tak muat ditaruh di sana. Aku harus menaruhnya di kardus, atau di jemuran, sampai ada tempat di lemari itu untuk baju bersih. Aku suka sekali, kamar ini.!" kataku terharu.

Nadja menunjukkan koleksi jaket musim dinginnya yang sudah ditaruh di almariku. Dia bilang aku boleh memakainya karena dia sudah jarang pakai. Kemudian mereka membiarkan aku sendiri di kamar untuk beristirahat dan memberikan kunci apartemen mereka untukku karena aku boleh masuk kapanpun aku mau.

Aku tak mengalami jetlag yang berarti saat datang di München pertama kali. Aku begitu excited tak sabar ingin menguyel-uyel si kembar rambut pirang yang wajah keduanya mirip barbie itu.

Aku bingung melihat karangan bunga yang diberikan Nadja padaku, yang tergeletak di atas meja belajar itu. Aku pun tak melihat ada tempat sampah di dalam kamarku. Kemudian aku naik ke atas (ke apartemen mereka).

Aku melihat Nadja dan Robert sedang menyiapkan makan malam. Mereka tersenyum senang melihatku datang. Aku pun segera menciumi Amy dan Zoe yang duduk di kursi tinggi di meja makan itu.

"Nadja, mana tempat sampah?"

"Oh, itu tuh, di rak pojokan, buka pintu kecilnya, di sana ada tempat sampah. Oh iya, kamu harus misahin sampah organik, plastik, dan kertas juga ya!"

"Kalau bunga ini, sampah organik kan?" tanyaku lagi.

Nadja menghentikan aktivitas memasaknya dan berbalik ke arahku. Diikuti dengan Robert.

"Indra, kenapa kamu mau buang bunga itu? Kamu nggak suka dengan bunganya?", Nadja terlihat agak jengkel kepadaku.

"Loh, kalau nggak dibuang, terus diapakan, Nadja, seumur-umur aku belum pernah dapat beginian."

Setelah melihatku kebingungan, Nadja pun tersenyum dan bilang, "Ach so, aku nggak tau kalau kamu nggak suka bunga! Tau gitu, tadi kita belikan kado lain!"

"Bukannya aku nggak suka, tapi aku nggak tau untuk apa!!" Lalu aku jelaskan bahwa di Indonesia, buka budaya kami membelikan bunga, kecuali kalau orang itu mati, atau sukses besar, karangan bunga seperti ini mungkin cuma untuk orang kaya, sehingga aku tak pernah berkesempatan menerimanya.

Nadja pun mengerti, kemudian dia memberiku sebuah vas bunga, mengisinya dengan air, lalu meletakkan bunga itu pada vas.

"Kamu mau taruh bunga ini di kamarmu?". Aku pun mengangguk.

Aku letakkan bunga itu di kamarku, dan tak pernah sekalipun menggubrisnya, tak pernah sekalipun memandangnya, hanya meletakkannya saja, sampai layu dan membusuk. Sampai 2 bulan kemudian, Nadja mendapati bunga itu dan marah-marah karena aku tak merawatnya dengan baik. Sampai sekarang pun aku tak pernah bisa merawat bunga,lagi pula, aku juga tak suka bunga. Ada beberapa pot bunga yang oleh Nadja diletakkan di kamarku, sampai kami pindah di rumah baru, pot-pot itu tak pernah sekalipun aku gubris, akhirnya layu dan mati. Nadja pun hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapiku.

Karena cerita ini sudah terlalu panjang, mungkin aku sambung lain kali. Nantikan diary au pair dan kekonyolanku berikutnya, ya :)

Bersambung.....
foto kami di minggu pertama


Jangan lupa baca:
Bagaimana bisa sampai ke Jerman?
Sebelum jadi au pair part 1: semua berawal dari patah hati

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Tuesday, October 10, 2017

Orang Jerman: ANTI BAPER!!!!


Pertama kali mendengar kata baper, ingatanku langsung tertuju pada sebuah onderdil mobil (eh, itu bamper ya :P). Baper atau bawa perasaan adalah istilah yang sebenarnya baru aku ketahui saat aku udah di Jerman. Istilah ini pun muncul belakangan ini, yang entah dari mana sumbernya, aku pun tidak tahu. Yang aku tahu, daya kreativitas orang Indonesia belakangan ini memang sungguh luar binasa, sehingga banyak istilah-istilah gaul baru yang tercipta seiring kebutuhan dan keadaan orang-orang Indonesia itu sendiri. 😀

Nah, ngomongin soal baper dan galau, aku pun tak pernah luput dari gejala menular yang ditimbulkan oleh dua kata tersebut. Aku bukanlah wanita berhati baja yang anti baper dan galau. Dicuekin supir bus yang sudah kukejar-kejar sampai terpontang panting di trotoar aja aku sudah baper dan galau setengah mati. :D

Lalu, bagaimana dengan orang Jerman?

Satu hal yang sungguh membuat pikiranku terbelalak adalah FAKTA bahwa kebanyakan (aku tulis di sini -kebanyakan- yang artinya bukan semua) Orang Jerman adalah orang-orang yang anti baper. Sebelum aku ulas alasannya, mari aku beri contoh yang terjadi di sekitarku:

Diusir karena bertamu

Masih ingat kan ceritaku tentang pengusiran oleh host family ku kepada sahabatnya karena bertamu di saat jam makan malam?. Di Jerman, kejadian seperti ini sudah sangat biasa terjadi dan hebatnya, mereka bisa mengerti dan memahami keadaan temannya (meskipun telah mengusirnya).

Baca juga: German Vs Indonesian Mentality: Saklek Vs Cerdik

Cintaku bertepuk sebelah tangan!

Suatu kali, Max mengajakku menemui salah satu sahabatnya yang dulu pernah jadi satu tim penulisan skripsi dan mengadakan penelitian dengannya. Namanya Helena.

Saat menemui Helena di tepi danau, aku dan Max membawakan kue dan eskrim yang sudah kami beli sebelumnya. Kami ngobrol berjam-jam sampai akhirnya Max dan aku harus pulang karena kami punya janji makan malam dengan teman yang lain.

Di perjalanan pulang. Aku menggoda Max dengan bertanya, "Kenapa ya aku merasa kalau Helena itu suka sama kamu?". Aku terkejut dengan jawaban yang diberikan Max padaku:

"Loh, memangnya aku belum cerita? Dia kan memang pernah suka sama aku? Sudah lama, sejak penelitian tahun lalu, tapi dia bukan tipeku. Dia malah sempat mencari pelarian dengan pacaran dengan Lars (sahabat Max). Tapi dia masih belum bisa melupakanku!"

Nih orang gimana, ya? Aku ini pacarnya. Bisa-bisanya dipertemukan dengan seseorang yang juga menyukainya. Memang dari tatapan Helena, ada terkesan rasa sedih sekaligus pasrah melihat Max bersamaku. Lalu jawabku, "Kamu nggak punya perasaan banget, sih! Kan kasihan Helena! Tau gitu, tadi aku nggak mau diajak ketemuan sama dia!"

"Loh, aku sama Helena kan berteman dan kamu pacarku! Lagipula, dia pernah mengakui di hadapanku bahwa dia suka padaku!"

"Wow, lalu?" jawabku, dengan rasa cemburu.

"Indra! Kejadian itu sudah lama berlalu! Aku menolaknya dengan alasan tak ada rasa (chemistry) yang terjadi di hatiku padanya. Dia pun bilang bahwa dia akan memulihkan hatinya untuk menerimaku hanya sebagai teman! Sekarang, dia mulai bisa berteman denganku!"

Aku nggak habis pikir bagaimana cara orang-orang ini mengatasi tingkat ke-baper-an mereka dan mengendalikannya!

Aku hanya ingin tidur denganmu!

Seorang kenalan (cewek Jerman) yang pernah bekerja di satu divisi denganku menceritakan pertemuannya dengan keturunan Jerman-Iran di sebuah Bar. Aku masih ingat betapa gembiranya kenalanku itu dan tiap hari selama 3 bulan dia menceritakan kebersamaannya dengan pemuda tersebut.

Tiga bulan pun berlalu. Aku masih ingat cerita plesir mereka ke Portugal dan Spanyol yang diceritakannya padaku 2 minggu sebelumnya. Namun, hari itu dia tidak lagi bercerita tentang pemuda itu. Aku pun berinisiatif bertanya tentang hubungan mereka. Ini jawabnya, "Sudah usai!"

Aku pun kaget dan bertanya-tanya. Tapi dia terlihat tak begitu terpukul atau sedih tentang hubungannya itu. Dia bilang, "Akhir pekan lalu, aku ingin tegaskan kepadanya bahwa aku merasa jatuh cinta. Ternyata jawabannya, dia hanya ingin tidur dan bersenang-senang denganku. Ya sudah, aku usir saja dari apartemenku. Hubungan kami sudah usai, dan ini yang terbaik untuk hidupku saat ini. Awalnya sih aku melihat dia ganteng, dan aku juga ingin bersenang-senang saja. Eh, nggak taunya aku jatuh cinta. Kalau dia nggak cinta, aku nggak mau mempertahankannya, donk! Buang saja, cari yang lain!"

Busyettt... Bayangkan kalau ini terjadi pada wanita Indonesia. Ditiduri selama 3 bulan, tidak ada hubungan yang jelas, lalu dengan sangat terus terang bilang bahwa cuma ingin menidurinya saja di saat sang wanita jatuh cinta. Bisa galau dan baper setengah mampus kita!

Dicampakkan bahkan sebelum berkenalan

Dating sites memang marak di Jerman, karena mencari teman atau pasangan di dunia nyata sungguh sulit bagi mereka. Salah seorang temannya Tobi pernah bercerita bahwa dia (sebut saja namanya Domi) pernah kopdar dengan salah satu wanita cantik yang dia temui lewat dating sites. Saat janjian di sebuah Cafe, wanita itu permisi untuk pergi ke toilet dan tak pernah kembali lagi. Rupanya first impresson sang wanita terhadap Domi tak begitu baik.

Saat becerita, Domi memang terkesan kecewa, tapi tak lebih dari satu jam, dia sudah mulai aktiv mencari 'mangsa' baru di situs biro jodoh yang lain.

Kalau aku mau cerita, ada puluhan kejadian yang membuatku terheran-heran terhadap sikap tangguhnya orang Jerman dalam mengatasi persoalan hati. Kalau aku telaah lagi, ada beberapa faktor yang mungkin bisa kita pelajari agar kita juga tak mudah baper dan galau dari orang-orang Jerman ini!

1. Memberi pengertian terhadap diri sendiri

Orang Jerman terlatih sejak kecil untuk mengerti keadaan. Misalnya, seorang adik tidak dibenarkan merebut mainan dari kakaknya. Orang tua biasanya memberi pengertian dan tidak langsung menyalahkan sang kakak. Yang kulihat, orang tua di Jerman itu sangat adil terhadap anak-anaknya. Yang tua tak ada kewajiban untuk mengalah terhadap adiknya seperti yang ditanamkan oleh orang tua di Indonesia. Orang tua di Jerman melihat bahwa adik kakak punya hak dan kewajiban yang sama. Kalau adiknya ngeyel, sang ibu memberi pengertian bahwa apa yang diinginkan kakak itu seperti ini, seperti itu! Kamu harus mencoba mengerti dan menerima bahwa kakakmu tak suka kalau kamu merebut mainannya, kamu bisa minta dengan baik-baik atau menunggu sampai dia bosan dengan mainannya itu!

Dari latihan sejak dini itulah, orang Jerman terbiasa memberi pengertian terhadap dirinya sendiri dan orang lain bahwa kadang hidup memang seperti ini. Bahwa hidup memang tak semulus yang kita inginkan. Das passiert einfach (yang terjadi-terjadilah). Bukankah kita juga punya prinsip seperti itu? Lalu kenapa masih baper? :D

2. Cuek

Sikap tak pandang bulu dan cuek adalah salah satu faktor yang membuat mereka tak mudah baper. Ya sudahlah, lagi pula nggak penting juga, nggak ada urusannya denganku, memang dia siapa?

Baca juga: Indonesia Vs German mentality Cuek vs SKSD

3. Memahami bahwa orang lain itu berbeda

Aku adalah salah satu orang yang paling peka dan gampang menangis karena baper. Sedangkan pacarku Tobi, meskipun dia termasuk orang Jerman yang romantis dan lembut, tapi tingkat cuek dan anti-bapernya masih Jerman banget. Dia mengerti bahwa setiap individu itu tak harus sama dengan kita. Kalau ternyata kita suka, dia tak suka, ya sudah terima saja. Tobi juga yang selalu memberi pengertian bahwa tak baik terlalu memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkan kita. Tak seharusnya kita peduli tentang apa yang dikatakan orang lain. Asal bahagia, jalani saja! Ini hidupmu, kamu yang bertanggung jawab atas kebahagiaan dirimu sendiri!

4. Banyak urusan yang lebih penting

Orang Jerman adalah tipikal orang yang fokus. Urusan hati memang penting, meskipun banyak juga yang mencampur adukkan urusan cinta dan birahi. Di dalam masyarakat, menyandang predikat jomblo pun tak akan jadi bahan gunjingan. Lagi pula banyak urusan yang lebih penting dan lebih harus diutamakan, misalnya karir dan masa depan. Lagi pula, orang Jerman juga tipikal orang yang suka meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Nah, bagaimana? Apakah kalian masih baper juga? Tak apa, baper itu menurutku adalah proses pendewasaan dan pembelajaran yang membuktikan bahwa kita sebagai manusia normal yang berhati lembut serta peduli terhadap kepentingan orang lain. :) Asalkan jangan berlarut-larut ya :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)


Liebe Grüße

Saturday, October 7, 2017

Kebudayaan Indonesia di Jerman

Artikel berikut ini hanya berisi galeri foto yang aku ambil saat menghadiri perayaan seni Indonesia di Jerman. Pastinya hanya sedikit, padahal banyak sekali acara yang diselenggarakan demi memperkenalkan kebudayaan Indonesia di kancah internasional.


Gamelan Rehearsal untuk umum di Hamburg


Konser Tunggal Angklung Hamburg Orkestra yang diselenggarakan demi menggalang dana untuk pengungsi dari Suriah pada bulan Maret 2017
Tari Topeng oleh Kiswanti di Universitas Hamburg
acara stammtisch di München, biasanya disertai acara pertunjukan angklung dan tari

masih di acara stammtisch

Tuesday, October 3, 2017

"Lindungi Badak Jawa!" kata orang Jerman



Iklan yang bisa kita temukan di sekitaran stasiun kereta bawah tanah. Iklan ini merupakan iklan sosial yang berkaitan erat dengan Indonesia.

"Um mein Horn zu Asche zu machen, wird meine ganze Art verpulvert" 

Arti harfiahnya: Demi meleburkan culaku menjadi abu, keseluruhan nilai diriku pun melebur (bersama sang abu)

Kata-kata dalam iklan tersebut sebenarnya adalah spielwort (plesetan atau kiasan). Abu yang dimaksud di sini adalah uang, sedangkan verpulvert sendiri artinya menjadi bubuk atau terlebur (kalau aku artikan sendiri). Jadi kalau kita artikan lagi, lebih tepatnya seperti ini:

"Demi menjual culaku, kau hancurkan pula seluruhnya dari diriku"

Seperti yang kita ketahui sendiri, pemburuan badak di Jawa sudah sampai ke telinga Internasional, sehingga keberadaannya semakin langka. 

Aku pernah membahas kecintaan dan kepedulian orang Jerman terhadap ekosistem dan hutan lindung di Indonesia. Ini berlangsung terus menerus dan semakin banyak iklan-iklan yang disponsori WWF seperti ini di Jerman agar orang-orang sadar dan ikut melindungi badak bercula satu, binatang endemik yang cuma ada di Indonesia yang hampir punah.
Iklan di TV
Selain iklan pamflet, TV, sosial media, surat kabar, banyak yang menghimbau warga agar peduli. 

"Lindungi Badak Jawa!!"


Nah, kalau orang Jerman saja peduli, aku harap, kita sebagai warga negara Indonesia sendiri, sudah sepatutnya ikut peduli, bukan? :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, September 30, 2017

Mari Selamatkan Makanan!



"Makanannya dihabisin ya, kalo nggak nanti dapat suami bopengan loh!" kata mamaku ketika aku sedang makan saat masih kecil dulu. Aku jadi tertawa  mengingat di Indonesia banyak sekali "ancaman" dari orang tua yang tidak masuk akal. Tapi untuk kalimat satu ini, pesan sebenarnya adalah untuk tidak membuang-buang makanan. Ternyata hal ini lebih kuat terasa di masyarakat Jerman daripada di Indonesia dan cocok juga dengan budaya mereka yang suka berhemat. Sampai akhirnya muncul gerakan masyarakat yang berinisiatif membentuk organisasi Food Sharing yang memiliki motto "Bagikan makanan daripada membuangnya"

Food Sharing apaan sih?

Jadi organisasi ini didirikan pada tahun 2012. Mereka bermaksud melawan tindakan pembuangan makanan yang kondisinya masih baik untuk dimakan. Dengan begitu mereka menawarkan solusi dengan membuat website jaringan sosial Foodsharing.de yang dimana pengguna internet dapat berperan maupun sebagai pembagi makanan atau penyelamat makanan. Cara menggunakannya mirip dengan Facebook, kita tinggal buat profil dan upload foto makanan yang ingin dibagikan atau bisa mencari orang yang ingin membagikan makanan sesuai lokasi yang kita inginkan. Untuk mengambil makanan, tentunya kita bisa mengirim pesan satu sama lain dan membuat janji bertemu.


"Foodsharing ingin menyatukan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dan mengilhami mereka untuk berpartisipasi, berpikir bersama dan menangani sumber daya planet kita secara bertanggung jawab". Kalimat tersebut aku ambil dari website mereka dan aku setuju banget dengan niat mereka. Nah buat aku sendiri sebagai orang asing, ini merupakan rejeki hehe, kapan lagi dapat hibah makanan gratis? Untuk kalian yang berencana tinggal atau sudah di Jerman, ini bisa kalian  manfaatkan untuk trik berhemat dalam urusan makanan, ini sudah pernah aku bahas di blog sebelumnya.

Tapi selain Foodsharing, ada juga grup penyelamat makanan lain yang aku ikuti di Facebook. Kalo yang ini grup lokal khusus kota Hamburg, di sana malah ada seorang ibu rumah tangga yang rutin membagikan makanan 3 kali seminggu di garasi rumahnya. Jadi dia menyelamatkan makanan yang akan dibuang oleh toko, supermarket, bahkan sekolah anaknya. Aku respect banget deh sama si ibu!


Semoga informasi kali ini bermanfaat yah buat kalian dan ingat jangan buang-buang makanan, karena masih banyak orang yang kelaparan di belahan dunia lain.

Liebe Grüße,
Alvita

Friday, September 29, 2017

8 Hal yang PENTING bagi orang INDONESIA, tapi biasa saja bagi orang JERMAN

Setelah menulis 13 HAL YANG PENTING BAGI ORANG JERMAN TAPI BIASA SAJA BAGI ORANG INDONESIA, tak adil rasanya kalau aku tidak menuliskan perbandingan terbaliknya. Nah, 8 hal berikut ini adalah hal-hal yang bagi orang Indonesia TERAMAT PENTING, namun bagi orang Jerman dianggap biasa saja. Apa saja itu?



1. AGAMA

Banyak orang Jerman yang menganut agama tertentu. Bahkan kota München pernah dinobatkan sebagai kota pastor karena para penduduknya yang kebanyakan beragama Katolik. Di Jerman, masing-masing individu berhak memeluk agama apa saja. Tak ada batasan agama official seperti di Indonesia, bahkan tak ada larangan bagi orang yang tak ingin beragama. Di kartu penduduk atau pun paspor, tak ada himbauan untuk mencantumkan agama tertentu.

Agama merupakan topik paling panas tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Banyak konflik juga yang ditimbulkan oleh para individu yang mengatasnamakan agama-agama tertentu. Di Jerman, memang penduduknya ada yang beragama ada yang tidak. Tapi, tentang ke-agama-an ini adalah urusan vertikal antara masing-masing individu dan Tuhan mereka. Jadi, menurut orang Jerman (yang bukan fanatik atau misionaris), urusan agama bukan termasuk topik yang amat penting dan krusial untuk dibahas.

2. SIKAP NASIONALISME

Percaya tidak percaya, mau tidak mau, kita harus menghadapi fakta bahwa: Semua orang Indonesia itu terdidik untuk mencintai negara dan berusaha berguna bagi NUSA, BANGSA, ORANG TUA dan AGAMA. Ajaran di masa orde baru yang terkesan mendikte itu masih amat melekat di otak kita, oleh karenanya, kita (sebagai orang Indonesia), sulit sekali untuk tidak cinta terhadap tanah air dan bangsa. Di mana pun kita berada, pasti ada upaya untuk memperkenalkan budaya Indonesia terhadap dunia, dan rasa bangga terhadap Indonesia yang kita tunjukkan dengan menceritakan keindahan alamnya, keanekaragaman budaya, kelezatan kuliner, dsb. Sikap nasionalisme yang berlebihan seperti ini rupanya tidak dimiliki oleh orang Jerman.

Orang Jerman mah biasa saja menjadi bagian dari penduduk Jerman. Dibilang bangga tidak, dibilang tidak bangga juga tidak. Biasa saja! Aku ulangi Biasa saja! :D

Kita bisa lihat bahwa klub sepak bola Jerman, dan berbagai cabang olah raga lainnya seperti Tennis sangat unggul di kancah dunia. Kemajuan teknologi, obat-obatan, dan keberhasilan perdana menterinya mengatur perekonomian negara membuat Jerman menjadi salah satu negara paling berpengaruh di dunia. Bahkan Angela Merkel dinobatkan majalah Forbes menjadi wanita paling berpengaruh sedunia di tahun 2015.

Dibandingkan dengan prestasi Indonesia (di tingkat dunia), rasanya tak ada alasan bagi orang Jerman untuk tidak bangga terhadap negaranya. Meskipun mereka bangga, namun, mereka biasa saja, tuh! Kalaupun mereka penyuka sepak bola dan olah raga, mereka tak akan mencerita-ceritakan kehebatan klub tertentu kepada seluruh dunia. Kenapa? Karena dunia sudah tahu! Jerman sudah terkenal tanpa diberitahu lagi! :D. Bahkan ada seseorang yang sempat cerita padaku, kalau mereka suka kesal kalau traveling ke Asia, karena orang-orang hanya tau Bayern-München. Padahal Jerman itu tak melulu soal sepak bolanya saja. :D

3. Tradisi

Orang Indonesia amat menjunjung tinggi tradisi dan kebudayaan bangsa. Tapi orang Jerman mengalir begitu saja mengikuti arus perkembangan zaman dan globalisasi, sehingga mereka tak tergerus kehidupan yang semakin hari semakin modern ini.

Bukan berarti orang Jerman tak melestarikan tradisi. Banyak orang Bayern yang tetap menjaga budaya mereka. Tapi banyak juga orang Jerman yang lebih memilih untuk ikut alur saja. Orang di Hamburg, bahkan sudah hampir lupa kalau mereka punya bahasa Plattdeutsch. :)

4. BERGUNA BAGI BANGSA, ORTU, dan AGAMA

Poin ini berkaitan dengan poin nomor satu dan dua. Karena negara dan agama itu dipandang sangat penting di Indonesia, dan diajarkan di sekolah sejak dini, jadi berguna bagi bangsa dan agama ini menjadi amat penting bagi masyarakat Indonesia. Dan karena di Jerman tak diajarkan hal-hal berbau nasionalis seperti ini, maka berguna saja bagi lingkungan dan diri sendiri. :D

Herannya, meskipun demikian, Jerman tetap sangat berprestasi dan temuan-temuannya sejak dulu kala selalu berguna tak hanya bagi bangsanya sendiri tapi juga bagi Dunia.

5. ISU KEKINIAN dan Ke-ALAY-an.

Orang Jerman adalah orang yang peduli pada kesejahteraan sosial. Mereka juga sangat kritis terhadap isu global. Karena kebebasan berpendapat sudah ditanamkan sejak kecil (berbeda dengan di Indonesia yang baru-baru saja bebas berpendapat setelah Suharto lengser: dulunya kan kita suka didikte), orang Jerman sangat kritis dan tak mudah ikut-ikutan terhadap isu-isu atau pun hoax. Misalnya: kita dengan mudah saja percaya kalau minum es jeruk ditambah dengan makan sea food itu menyebabkan keracunan, atau minum soda dan es saat haid menyebabkan kanker servix. Berita-berita hoax yang membodohi orang Indonesia seperti itu herannya dipercaya dan disebar luaskan. Sedangkan berita bermanfaat malah malas dibaca.

Kalau orang Jerman, mereka tak akan percaya kalau tak ada bukti. Orang Jerman (meskipun mereka tak bisa menghidari teknologi dan perkembangan internet), mereka cenderung ogah untuk terlalu terjerumus ke dalam lubang kapitalisme. Misalnya, orang Indonesia, kalau ada sosmed baru, langsung aja gabung. Kita? Sosmed apa yang tak kita punya? Mulai dari line, wa, friendster, fb, twitter, instagram, dsb. Sedangkan orang Jerman? Ada fb pun sudah maksimal dan itu pun karena mereka butuh, bukan untuk bergaya dan ikut-ikutan.

6. SUNGKAN

Satu hal yang aku pelajari setelah kenal beberapa teman mulai dari Aceh, Medan, Papua, Ambon, Lombok, Bali, Jawa, Sunda, Betawi: Orang Indonesia, dari mana pun ras, suku dan agamanya, semuanya punya satu sifat yang menjadi ciri khas mereka, yakni: SUNGKAN.

Suka nggak enakan, suka takut menyinggung, sungkan, dsb adalah salah satu sifat yang tak dimiliki orang Jerman. Bagi orang Indonesia, memang penting untuk menjaga keharmonisan (terutama orang Jawa), meskipun kalau sudah sakit hati, di belakangnya, mereka main santet. Ngeri ih.

Kalau orang Jerman? Mereka terus terang. Suka bilang suka, enak bilang enak, merasa nggak cocok bilang, kalau tak sesuai kemauan, diungkapkan, nggak cuma iya iya, tapi ternyata menyimpan dendam. Sungkan bukan budaya orang Jerman! Mereka lebih memilih untuk berterus terang, masalah terselesaikan dengan transparan dan tak ada dendam di belakang.

7. MAKAN NGGAK MAKAN KUMPUL!

Slogan yang satu ini penting banget buat orang Indonesia. Bahwa kebersamaan, kekeluargaan merupakan adat dan budaya yang senantiasa mengikat rasa persatuan dan kesatuan. Tapi bagi orang Jerman -seperti yang sudah aku jelaskan- mereka mengalir mengikuti perkembangan zaman. Di Jerman, kalau anak sudah waktunya pisah dari orang tua (biasanya mulai umur 18), mereka akan melepaskannya dan membiarkannya hidup seturut kemauannya sendiri. Tak ada hak bagi orang tua untuk melarang anaknya melakukan apa yang mereka mau. Toh mereka sudah besar dan bisa memilih apa yang terbaik buat mereka dan lalu belajar dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Meskipun anak gadis menjadi lesbi, anak lelaki menjadi hombreng, orang tua tak akan mempermasalahkannya. LGBT meski penting dan menarik, tapi orang Jerman belakangan ini menerima isu tersebut, dan mulai Oktober 2017, pernikahan sesama jenis sudah legal dan sah secara hukum di Jerman.

8. SOSMED

Banyak orang Jerman yang memanfaatkan kecanggihan teknologi juga. Tapi yang aku teliti dari masing-masing orang Jerman yang aku kenal ini, mereka punya sosmed, tapi mereka tak punya semuanya. Biasanya satu saja sudah cukup.

Contohnya, kakaknya Tobi (umur 31), tak suka facebook, tak punya twitter apalagi instagram. Dia tak peduli semua itu, yang paling penting dia punya whatsapp dan hp untuk berkomunikasi dengan sesama. Tobi hanya punya satu sosmed (facebook). Max dulu paling anti sama facebook, dia punya couchsurfing dan facebook tapi jarang dibuka.

Orang Indonesia, karena (mungkin) pengaruh lingkungan, teman yang punya banyak sosmed, mereka mau tak mau ikut-ikutan, karena tak ingin dianggap kuper, nggak gaul, ketinggalan zaman, dsb. Aku sendiri merasa hidupku lebih tentram kalau tak sering berada di fb. Mungkin sehari mengecek instagram 10 menit menjelang tidur, fb seminggu sekali dua kali kalau ada sesuatu yang penting yang harus kuposting atau kucari. Tapi aku masih tetap Indonesia. Punya twitter, ig, wa, blog, :D

Semoga informasi tentang 8 hal yang penting bagi orang Indonesia namun biasa saja bagi orang Jerman ini menambah pengetahuan kita, terutama tentang Jerman, ya :). Ingat, apa yang aku tulis adalah berdasarkan observasi dan pengalaman pribadi. Tentu saja tak semua orang Jerman punya sifat yang sama, ada yang seperti ini dan seperti itu. Sama seperti kita juga. :)

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, September 25, 2017

Lucunya bayi Bule Pakai Batik


I miss them sooooooo much 😓. These are my favorite photo of them that I could share here.


Saat datang, aku bawakan baju batik ungu dan merah itu. Dan pas musim panas, mereka cantik sekali pakai rok batik yang aku bawakan. Uh, aku kangen sekali sama mereka. Amy (yang di atas), dan Zoe, kakaknya (yang di bawah) adalah bayi kembar yang tidak identik. Aku seperti ibu kedua bagi mereka saat menjadi au pair dulu, aku dandani, aku kuncir, aku uyel-uyel pokoknya. :D

Di antara banyak foto, aku hanya ingin membagi yang kedua ini, karena aku tak tahu apakah Nadja memperbolehkan aku memajang mereka di blog, karena banyaknya kasus penculikan anak berawal dari sosial media. Nadja memperbolehkan aku upload di facebook, tapi tidak di you tube katanya, tapi kalau di blog, aku tak pernah memberitahunya hehehe. Semoga dia mengijinkannya :D

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Saturday, September 23, 2017

Tabu -Kata yang Mirip dalam Bahasa Indonesia dan Jerman-


Saat jalan-jalan, aku suka sekali memotret sesuatu yang aneh. Seperti foto pamflet ini karena satu kata di dalamnya.

TABU

Sebenarnya, pamflet ini adalah pamflet untuk iklan opera, tapi menarik juga buatku untuk di share di sini. Selain tabu, ada sebanyak 80 kata yang mirip dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jerman. Apa saja itu? 


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Wednesday, September 20, 2017

Pelanggaran Lalu Lintas yang Tertangkap Polisi Jerman

Beberapa waktu yang lalu, saat menunggu bus di sebuah halte di kawasan Billstedt, Hamburg, aku melihat mobil polisi menghentikan pengendara mobil yang membawa kawat bangunan seperti di gambar di bawah ini. 

Karena kejadian ini terjadi tepat di depan mataku, aku mengamati mereka dan bikin foto untuk aku share di sini. 

Kawat bangunan yang menjulur ke belakang seperti ini yang menjadi masalah dan membuat mereka terkena tilang


Kulihat pengemudi dan kenek bernegosiasi dengan kedua polisi. Lalu sang polisi menelepon mobil pengangkut barang agar besi itu bisa diangkut tanpa membahayakan pengendara mobil lainnya. Pengendara ini tetap terkena tilang.

Yang membuatku tertarik dengan orang ini adalah tulisan di bajunya: "Fortune for the brave" yang artinya: Keberuntungan bagi yang berani. Sayangnya hari itu, meskipun dia memakai baju itu, keberuntungan tak menyertai keberaniannya :D. Tetap saja kena tilang.

Jangan macam-macam dengan polisi Jerman karena mereka anti korupsi. Baca juga liputan tentang polisi Jerman: Aparat Kepolisian Indonesia Vs. Jerman

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, September 16, 2017

KILT -Baju adat di Jerman yang berasal dari Skotlandia-

Aku ingin share foto ini karena saat pertama kali melihat laki-laki ini mengenakan Kilt aku sempat ngakak dan melihatnya aneh banget. Masalahnya, rok yang dipakai itu mirip seragam SMA ku saat Jumat Sabtu. Jadi, aku ambil fotonya dan aku blur wajahnya, agar tidak tersinggung kalau dia melihat fotonya dipajang di sini :).

Kilt atau Schottenrock sebenarnya bukan seperti baju tradisional seperti baju bodo di Indonesia. Baju ini hanya dipakai para pria saja dan hanya dipakai di daerah NRW. Saat aku melihatnya, saat itu ternyata banyak sekali laki-laki yang memakai rok seperti ini berkeliaran di sekitarku. Ternyata, ada karnaval di Düsseldorf saat itu.

Terus terang, aku tak pernah melihat laki-laki memakai Kilt di München (karena mereka punya baju adatnya sendiri: Lederhose) atau pun di Hamburg. Selama 3 tahun tinggal di Hamburg, tak pernah aku temui sekalipun pria memakai Matrose (baju adat Hamburg yang mirip sekali bajunya Popeye).

Sekian dulu sharing singkat kita kali ini. Btw, sekarang aku merasa nggak aneh juga melihat foto ini, karena aku pikir-pikir, sehari-hari pria di Indonesia juga pakai sarung yang juga mirip rok dan kotak-kotak. :D

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße


Tuesday, September 12, 2017

Hati-Hati Kalau kesandung Batu ini di Jerman!! (Stolpersteine)



Sebenarnya, sudah lama sekali aku ingin membahas (atau sekedar menunjukkan) ini pada kalian. Yup, tentang Stolperstein.

Stolperstein kalau diartikan secara harfiah, artinya: BATU SANDUNGAN.
 

Batu sandungan yang sengaja dicetak ini bisa kita temui di sepanjang jalan. Batu ini berbentuk kecil, nyembul dan berwarna emas. Lalu apa maknanya?

Perhatikanlah tulisan yang ada di atasnya
" HIER WOHNTE 
KURT SILBERSTEIN
JG. 1898
DEPORTIERT 1942
THERESIENSTADT
1944 AUSCHWITZ
ERMORDET 10.2.1945
IM KZ DACHAU "

" DI SINI PERNAH TINGGAL
KURT SILBERSTEIN
TAHUN LAHIR 1898
DIDEPORTASI 1942 (ke)
THERESIENSTADT (lalu)
1944 (ke) AUSCHWITZ
DIEKSEKUSI 10.2.1945
DI CAMP KONSENTRASI DACHAU"
Sudah bisa menebak siapa itu Pak Silberstein yang dideportasi dan (lalu) dibunuh secara keji di Dachau? Yup, orang Yahudi, salah satu dari hampir 7 juta orang yang pada masa kejayaan Hitler dibantai secara masal. 


Batu-batu ini ada di depan gedung, apartemen, toko, di trotoar, di mana-mana.
Batu ini sengaja ditanam oleh Gunter Demnig, seorang seniman asal Jerman. Awal mula, Demnig menanam batu-batu itu di daerah Köln pada tahun 1992. Meskipun belum mendapat persetujuan dari pemerintah, Demnig tetap melanjutkan proyek batu sandungan ini. Lima tahun setelahnya, Demnig mendapat persetujuan, dan aksi ini pun mendapat sambutan baik. Oleh karenanya, sekarang, kalau kita berjalan-jalan di kota-kota di seluruh Jerman, pasti akan tersandung oleh batu ini :D.

Tujuan ditanamnya batu ini adalah untuk mengingatkan kita, bahwa di tempat itu, di sebuah rumah, atau apartemen itu, pernah ditinggali oleh orang yang -karena ras dan agamanya- dibenci, lalu dibunuh secara kejam. Dengan melihat batu sandungan ini, diharapkan orang-orang bisa mengingat korban-korban tak bersalah yang secara paksa diusir dari rumah mereka, lalu dipekerjakan secara paksa, kadang dibunuh meskipun tak tahu kesalahan mereka apa. Tujuan utama penanaman batu ini adalah agar kejadian rasis yang mencelakakan jutaan orang itu tak akan pernah terulang kembali. Oleh karena itu, batu ini dinamakan Stolperstein atau batu sandungan, batu yang jika kita tersandung olehnya, kita akan teringat dan hati-hati untuk melangkah ke depan.

Demikian sharing kita yang singkat kali ini. Semoga sedikit memberi manfaat.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Liebe Grüße

Friday, September 8, 2017

Mengapa Orang Jerman Suka Menghibahkan Barang-Barangnya?

Artikel singkat tentang kegemaran orang Jerman yang menghibahkan barang-barangnya ini aku tulis karena barusan aku lihat truk pengangkut barang hibah-an berhenti di depan apartemenku:


"SPERRMÜLL? bei Anruf ABFUHR"
"Barang-barang bekas? Telfon saja, kami angkut!"

Truk besar ini, adalah truk pengangkut barang-barang bekas, rusak, tak terpakai, yang tak muat dibuang di tempat sampah, seperti sofa, almari, dan meja, dsb. Barang-barang bekas tersebut kadang ada juga yang masih bagus. Hanya karena bosan dan ingin ganti model baru, barang-barang ini harus dijual kembali atau kalau tak laku dijual, agar tidak memenuhi ruangan, dibuang saja. 

Ada peraturan di Jerman bahwa kita tak boleh membuang barang-barang tersebut seenak udel. Tak bisa kita letakkan di tepi jalan, atau di dekat tempat sampah, karena akan merusak pemandangan, dan menyusahkan pengangkut sampah. Oleh karenanya, satu-satunya jalan, ya panggil petugas pengangkut seperti ini. 

Untuk memanggilnya, kita harus bayar sejumlah uang dan petugas yang datang. Untuk jumlahnya, meski tidak banyak, tapi lumayan juga. Kalau dipikir-pikir barang mau dibuang aja kok masih harus bayar, sih? Makanya, banyak yang menghibahkan barang-barang tersebut. 
bagian belakang mobil pengangkut barang

petugas pengangkut yang menunggu barang-barang diturunkan


Banyak alternatif yang bisa ditempuh agar mereka bisa melenyapkan barang tak terpakai tersebut tanpa membayar uang sepeser pun. Yakni dengan posting di group facebook, group yang menjembatani aksi buang dan jemput barang itu atau lewat ebay-kleinanzeigen, atau lewat sosial media lainnya. Dengan demikian, mereka tak harus susah-susah mengangkut barang, tinggal menunggu orang yang butuh, dan menjemput barang mereka. 


Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Join Facebook

Followers

Google+ Followers