Wednesday, December 21, 2016

7 Keuntungan Kuliah di Jerman

Siapa bilang kuliah di Eropa itu mudah? Siapa bilang tinggal di Eropa itu selalu menyenangkan? Menepis semua anggapan bahwa hidup di Eropa itu tidak sama dengan hidup di surga yang semuanya serba enak, selalu bahagia, dan tak ada penderitaan menimpa. Eropa itu masih di bumi, yang masih identik dengan kekacauan dan ketidak enakan. Bahkan hidup di Indonesia bisa dibilang lebi enak dan santai ketimbang di Eropa.

Kalau kalian berani tinggal di Eropa, berarti kalian harus (paling tidak) menyiapkan nyali dan mental yang kuat menghadapi persaingan internasional dari penduduk di seluruh dunia karena Eropa, khususnya Jerman adalah negara yang multikultural. Tidak hanya orang Jerman saja yang tinggal di sana, tapi orang dari seluruh penjuru dunia bisa kita jumpai juga.

Tinggal di Eropa harus pula pandai berspekulasi tentang tujuan dan arah hidup. Salah spekulasi akan cepat tergerus kehidupan. Misalnya, salah spekulasi les bahasa Jerman yang seharusnya 6 bulan jadi satu tahun, yang satu tahun molor jadi 2 tahun. Tinggal di Jerman mahal atuh, waktu adalah uang´. Kita tidak bisa mengira-ngira begitu saja tanpa pertimbangan dan rencana yang matang tentang hidup kita di bulan-bulan atau tahun-tahun yang akan datang.

Tak hanya mental yang kuat, fisik juga harus kuat menghadapi musim dan iklim yang terus berganti sepanjang waktu. Cuaca tak menentu. Di musim panas, bisa saja turun hujan es kapan saja, kalau fisik tidak kuat, pasti akan sering sakit-sakitan. Untungnya dokter di Jerman gratis. Bukannya gratis, tapi semua warga punya asuransi, jadi bisa ke dokter kapan saja.

 Terlepas dari kerasnya kehidupan di Jerman, tentu saja banyak keuntungan dan kemudahan yang bisa diperoleh seseorang yang ingin menempuh pendidikan di Jerman, khususnya perkuliahan.  Berikut adalah ulasannya:


1. GRATIS

Sejak tahun 2005, beberapa negara bagian Jerman  mencanangkan kuliah gratis. Di beberapa Bundesland (negara bagian) yang lain masih dalam wacana. Namun sejak tahun 2014, seluruh negara bagian Jerman telah menggratiskan kuliah mulai dari S1, S2, hingga S3 tak hanya untuk warga Jerman , namun bagi semua orang, termasuk para pendatang. Hal ini tentu saja membahagiakan mengingat besarnya biaya kuliah di negara maju lain. Di Belanda contohnya, selain tution fee yang mahal abis, biaya hidup di sana juga tak kalah mahal. Karena keputusan ini, banyak pemuda-pemuda Amerika yang lari ke Jerman demi melanjutkan kuliah mereka.
Meski di universitas negeri biaya perkuliahan digratiskan, namun banyak juga kampus swasta atau kampus negeri jurusan tertentu yang masih menarik biaya. Namun,  sebagian besar sudah gratis.

2. BANYAK LOWONGAN KERJA

Selain kuliah gratis, anak kuliah (bukan di studkol) juga boleh bekerja paruh waktu. Kerja paruh waktu di Jerman juga dibayar mahal. Bekerja sebagai waitres  fulltime di musim panas misalnya bisa memperoleh sekitar kurang lebih 1000 euro sebulan. Selain waitress, ratusan pekerjaan disediakan untuk para pelajar. Kalau tidak mau kerja resmi, bisa juga kerja tanpa ribet bayar pajak dan asuransi, misalnya jadi babysitter atau cleaning lady yang dibayar sekitar 10-15 euro perjam. Kerja 2 kali seminggu selama 8 jam saja sudah bisa mencukupi biaya hidup dan belajar kalian selama satu bulan. Apalagi kerja lebih dari 2 kali.

3. LINGKUNGAN DAN KENALAN DARI MANCANEGARA

Kuliah di luar negeri otomatis akan membuka wawasan dan pemikiran kita tentang dunia luar. Kalau kita bukan orang introvert dan mudah bergaul, kita bakal menambah teman dari Jerman atau dari negara lain. Mengenal budaya dan memahami karakter orang lain dengan lebih baik.  Manfaatkan kesempatan ini untuk bergaul sebaik-baiknya tapi tidak sebebas-bebasnya.

4. BEASISWA KAMPUS DAN YAYASAN

Meski gratis, sebagian kampus juga masih memungut biaya perkuliahan per semester, misalnya di Universitas Hamburg tempat aku kuliah sekarang, aku harus membayar 300 euro per semester untuk biaya perkuliahan dan tiket transportasi 6 bulan. Kalau kupikir-pikir biaya itu sangat murah, mengingat aku kuliah Master dan tiket transportasi di Hamburg mahalnya selangit. Kalau kita membayar tiket perbulan untuk ring Gesamtbereich ABCDE, harganya: 207,40 euro, kalau untuk pelajar bukan Uni (ausbildung atau kursus bahasa): 156,- euro (sumber: HVV). Bayangkan berapa ratus euro kita irit dengan membayar pendidikan plus tiket bus, kereta dan sebagainya tersebut?
Selain itu, kalau kita sudah masuk kuliah, rajin belajar, dan menjaga nilai kita tetap baik, kita tidak akan kesulitan mencari beasiswa yang ditawarkan dari pihak kampus dan berbagai yayasan di Jerman. Cek saja di websitenya beasiswa DAAD atau macam-macam beasiswa di Jerman yang bisa kamu pilih sendiri. Biasanya di tiap kampus menyediakan beasiswa untuk mahasiswa intern dan banyak sekali informasi untuk itu. Asal rajin mencari dan mencoba, pasti dapat.

5. FASILITAS LEBIH LENGKAP

Tak hanya fasilitas yang mendukung, tapi sumber-sumber juga lebih lengkap. Menurut salah seorang teman yang kuliah di jurusan Budaya Asia Tenggara di Passau, buku-buku sumber sejarah bisa didapatkan secara transparan ketimbang saat dia kuliah di Jogja dulu. Transparan disini maksud dia adalah, sumber-sumber sejarah Indonesia dan dosen yang mengajar tidak ada yang ditutup-tutupi. Tidak seperti di Indonesia saat masa orde baru, banyak buku yang dicekal dan aset sejarah berusaha disembunyikan agar para mahasiswa tidak berontak. Toh akhirnya berontak juga. Oleh karena itu, sumber-sumber sejarah di Indonesia, meskipun sudah banyak perkembangan dan keterbukaan, tapi masih kalah transparan ketimbang di Eropa.

6. AKSES KE LUAR NEGERI LEBIH MUDAH

Tak hanya melulu soal travelling yang memang mudah dan murah di Eropa, kalau kita ingin mengadakan penilitian ke negara-negara tetangga (Norway, Belanda, Italia, Yunani, dsb) juga otomatis tak sesulit dan sejauh kalau kita berada di Indonesia serta dapat beasiswa erasmus juga. Nah kalau ingin meneliti di Indonesia? Pastinya jauh, namun kalau kita mengajukan proposal beasiswa ke pihak kampus untuk abroad semester di Indonesia dan proposal diterima, dari beasiswa hamburglobal di kampusku, kita bisa dapat sekitar 300 euro perbulan plus uang pengurusan Visa 45 euro (bagi orang Jerman), plus biaya study sebesar 1250, dan tiket pesawat untuk pulang dan kembali ke Jerman lagi sebesar 875 euro (sumber: hamburglobal). Gimana nggak enak coba? Dan nggak ada kuota. Asalkan motivation letter bagus dan nilai juga baik, ada jaminan mendapatkannya.

7. JAMINAN MASA DEPAN DARI PEMERINTAH

Kabarnya, saking ingin menjamin kualitas pendidikan serta alumninya, pemerintah Jerman tak segan-segan ikut menggaji orang yang lulus dari Uni Jerman, namun kerja dengan upah yang tak sesuai dengan standart Jerman.
Lulusan uni jerman yang kerja di negara lain ( bukan kerja di jerman), tapi dia digaji tidak sesuai oleh negara tempat dia bekerja, maka pemerintah jerman akan membantu mengaji orang itu dengan standart jerman. Misalnya lulusan Computer Science dari Jerman, bekerja mengembangkan proyek pendidikan dan teknologi di pedalaman Afrika dan tidak digaji oleh pemerintah setempat, pemerintah Jerman akan turut menggaji sesuai standart Jerman. Namun kalau lulusan Computer Science ini memutuskan untuk banting stir jadi supir taxi misalnya, tentu saja pemerintah Jerman tak mau menggaji, karena tak ada dampak bagi masyarakat luas dan tak sesuai bidang keahlian dan kelulusannya.


Demikian sharing kita kali ini tentang keuntungan kuliah di Jerman. Jangan lewatkan artikel menarik lainnya tentang 8 Cara Kuliah di Jerman tanpa uang jaminan 8000 euro.

Viele Grüße

Location: Hamburg, Germany

7 comments:

  1. wahh banyak juga ya keuntungan kuliah di jerman..

    ReplyDelete
  2. Kalo blh tau, cara pemerintah Jerman bs tau bahwa lulusan jerman ketika pulang n bekerja di negara asalnya utk gaji tdk sesuai dg gaji di Jerman ? Tp jerman adalah mimpi aku, Amin semoga n pasti bs lanjut master di Jerman. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah Jerman nggak tau kalau kita nggak memeberitahu :),,, biasanya pemeberitahuan itu lewat proposal :)
      aaamiiin,,,ayo semangat :)

      Delete
  3. Wah, bisa kembali lagi nih ke blog nya mbak Girindra. Ternyata sudah banyak perubahan ya hehe. Saya jadi ketagihan membaca tulisan-tulisan mbak Girindra. Sungguh banyak cerita yang menginspirasi sekali, mengingat kondisi saya sendiri hanya lulusan SMA yang bertekad melanjutkan kuliah S1, meskipun masih hanya di Indonesia. Semoga suatu saat dapat melanjutkan kuliah di luar negeri seperti mbak Girindra :). Selain itu, banyak-banyak hikmah yang dapat diambil dari cerita mbak Girindra tersebut. Saya hampir membaca semua tulisan mbak, dan sempat mengalami mrebes mili di saat tahu ternyata awal mula datang ke Jerman berasal dari cerita "diputuskan" pacar. Tapi, tak disangka mbak Girindra bisa mengubah energi tersebut menjadi positif hingga bisa kuliah di Jerman. Mungkin mantannya sekarang "getun" hehe. Ternyata nggak semudah membalik telapak tangan ya hehe. Semoga sukses, sehat selalu, dan dapat bermanfaat bagi orang Indonesia lainnya. Amiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah saya sangat terharu atas apresiasinya, terima kasih. Jangan berkecil hati, siapa bilang lulusan SMA nggak bisa sukses? Tingkat kesuksesan seseorang itu menurut saya ketika orang tersebut bermanfaat bagi orang lain. Saya yakin banyak orang yang terbantu oleh tulisan anda. Dan kedepannya, pasti akan lebih maju lagi... :)

      Delete
  4. Mba, Tovan tanya lg nee. Minta pendapatnya dung, misalkan mba, d indo sdh bekerja n hasil Dr kerja d indo sdh bisa mencukupi kebutuhan mba. Tp d sisi lain, mba punya cita n mimpi utk lanjut master d jerman. Pertanyaannya adalah, mba tetep d indo dan menikmati hidup d indo n pekerjaan or mewujudkan mimpi mba Utuk kuliah d jerman ? Oh ya, d jerman untuk kuliah master ada batasan usia ga ya ? Tq ya mba :)

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers