Wednesday, October 19, 2016

Pernikahan?? Jerman vs Indonesia

kue tart di pesta pernikahan
Percaya nggak percaya 10 dari 10 orang Jerman bakal melongo saat aku cerita,
'Kalau orang menikah di Indonesia, khususnya di kampung aku, minimal tuan rumah bakal ngundang 500 tamu, teman aku bahkan ngundang 3000 tamu dalam pesta pernikahannya'

'Oh Gott das kriegen wir gar nichts hin!!' (Ya Tuhan, nggak sanggup kita kalau kayak gitu)

Pernikahan ala Jerman maksimal mengundang 100 orang, itu pun menurut mereka sudah amat sangat banyak. Teman dari gast family ku bahkan hanya mengundang 15 orang. dan sedihnya yang bisa datang hanya 2 orang saat itu. :(

Kenapa orang Jerman hanya mengundang sedikit sekali orang di pesta pernikahannya? karena mereka hanya ingin orang terdekat saja yang datang, teman dekat, keluarga, dan kerabat yang dekat.
Lalu teman yang lain?

Banyak perbedaan seputar pernikahan ala Jerman dan Indonesia yang akan aku bahas di sini salah satunya tentang tamu yang diundang seperti contoh di atas. Apa saja perbedaannya, silakan menyimak.

1.Pre Wedding

Pre wedding termasuk foto pre-wed, dan persiapannya. Di Indonesia, kalau tidak pakai wedding organizers, satu sampai 4 bulan sebelum acara pernikahan, orang tua, kerabat, teman dekat, mempelai sendiri akan sangat sibuk mempersiapkan pernikahan. Mulai dari mencetak undangan, pesan riasan, foto pengantin, deko, dll. Di Jerman?
Pasangan yang akan menikah pastinya sibuk banget, tapi rata-rata mereka memepercayakannya pada wedding organizer yang dibayar untuk mengurusi ini itu. Tapi mempelai juga mulai dari 1 tahun sebelum acara sudah sibuk merencanakan pesta mulai dari memilih atau membuat baju pengantin, memesan kue, sampai mendaftar di gereja dan catatan sipil, dsb.

2. Undangan

Populer sekali di Indonesia mencetak undangan dengan foto pre wedding, namun tidak di Jerman. Mereka mengedarkan undangan yang simpel saja tanpa foto, ada yang memakai foto tapi tidak banyak, banyak juga yang membuat undangan kreativ sendiri (karena mereka juga tidak mengundang ribuan orang) berupa puzzle atau buku kecil, dll.

3. Tamu Undangan

Seperti yang aku sebutkan di atas, di Jerman, tamu yang diundang tak akan mencapai ribuan orang. 100 sampai 200 itu pun sudah sangat maksimal. Berbeda dengan di Indonesia yang menyebarkan undangan seminggu sebelum acara pernikahan, di Jerman mereka menyebarkankan undangan 2BULAN -6BULAN sebelum acara berlangsung. Mengapa? karena orang Jerman hidup dengan penuh rencana dan appointment sana sini. Kalau mereka tahu bahwa 6 bulan lagi mereka di undang di pesta pernikahan, mereka akan menulisnya di kalender dan dipastikan datang, kalau jarak diundangnya hanya seminggu, dipastikan tidak ada yang datang karena seminggu berikutnya pasti sudah tertera jadwal-jadwal lain yang harus dihadiri.

4. RSVP 

contoh rsvp, diambil dari: https://rsvpify.com/wp-content/uploads/2016/07/How-to-RSVP-Card.png
RSVP berasal dari bahasa perancis répondez, s'il vous plaît, yang artinya please response atau reply!!. RSVP dikirim beserta undangan kepada tamu yang diundang dan ini wajib dikirim balik kepada pengundang agar mereka tahu jumlah tamu yang datang. Di RSVP biasanya tertera dengan siapa anda akan datang, makanan apa yang akan anda pilih (vegetarian atau bukan), apakah anda akan membawa anak, dsb. RSVP bisa juga dikirim lewat online atau sms secara pribadi sesegera mungkin agar EO atau pengantin bisa mengorganisir acara precisely.

5. LOKASI

Tak ada orang Jerman yang mengadakan acara pernikahan di rumah seperti yang biasa kita jumpai di Indonesia apalagi memasang sound system keras-keras, bisa-bisa masuk penjara dilaporkan polisi karena dianggap membuat gaduh dan mengganggu ketertiban umum nantinya. :D. Orang Jerman biasanya menyewa tempat seperti taman, hotel, pantai, dsb. Dan tamu undangan harus membayar sendiri biaya akomodasinya. Itulah gunanya undangan disebar jauh-jauh hari sebelumnya agar para tamu tahu berapa uang yang akan mereka keluarkan demi menghadiri acara pernikahan seorang teman.

6. CATATAN SIPIL atau AGAMA

Berbeda dengan di Indonesia, di Jerman, orang boleh hanya secara sipil menikah. Mereka tidak harus menikah secara agama karena tak sedikit orang yang tak mempunyai agama. Kalau mereka ingin menikah ya lapor secara sipil, membayar dengan biaya tertentu dan pemerintah akan mencatat serta memeberikan akta nikah.

7. ADAT MENIKAH

Karena Indonesia memiliki ratusan adat istiadat dan tradisi, termasuk pernikahan, maka menikah juga jadi salah satu symbol tradisi. Kalau di Jerman, tradisi tidak terlalu kental dan ditonjolkan, jadi menikah bukanlah sebuah symbol adat istiadat, melainkan sebuah peresmian sebuah hubungan. Tidak ada acara menginjak telur, dipingit, dsb.

8. RESEPSI PERNIKAHAN

Karena tamu yang datang tidak banyak, mempelai bisa ngobrol dan menyambut tamunya satu persatu (bukan tamu yang menghampiri mempelai), tidak ada kwade (kursi mempelai). Jadi mempelai makan di meja makan yang disediakan bersama setelah acara ijab kabul (peresmian menjadi suami istri). Ada juga acara sambutan-sambutan dari orang tua mempelai laki-laki dan perempuan, dari sahabat laki-laki dan perempuan, sambutan dari kedua mempelai, sejarah cinta mereka yang akan dibagikan kepada para tamu, permainan, memotong kue, dan dansa sampai menjelang pagi. Jadi para tamu undangan tidak hanya menghadiri acara pernikahan selama 30 menit, menaruh hadiah, makan, salaman lalu pulang, tapi meluangkan waktu sehari sampai 2 hari untuk menghadiri acara pernikahan tersebut. Kalau tamu datang dari luar negeri, bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan, oleh sebab itu, kembali ke topik undangan dan RSVP yang harus dikirim dan dikembalikan jauh-jauh hari sebelumnya.

9. BINGKISAN RESEPSI

Sama seperti di Indonesia, para tamu juga memberi hadiah. Di Jerman juga umum memberi uang atau juga hadiah. Dan mempelai juga memberi souvenir oleh-oleh yang diberikan kepada setiap orang yang datang, laki-laki juga dapat souvenir.

contoh souvenir: isinya permen.

10. UCAPAN TERIMA KASIH

Di Jerman, sekitar 2-4 minggu setelah acara resepsi, mempelai biasanya mengirim kartu ucapan terima kasih dan foto-foto mereka bersama mempelai lewat pos. Mungkin ini belum ada di tradisi Indonesia.

Contoh kartu ucapan terima kasih
Demikian akhirnya aku punya waktu juga untuk menulis tentang pernikahan ala Jerman. Semoga tulisanku yang sedikit tadi menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, dan budaya Jerman tentunya semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

6 comments:

  1. menikah di jerman susah-susah gampang ya apalagi yang jadi tamunya, harus membayar biaya akomodasinya sendiri.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhahha, iya,,, nggak ditanggung ... jadi harus ekstra merogoh kocek

      Delete
  2. Terimakasih atas sharing ilmu dan pengetahuannya. semoga selalu menjadi manfaat bagi semuanya. salam sukses selalu. Amin

    http://karanganbungapapanblog.wordpress.com

    ReplyDelete
  3. pas banget artikelnya bahas tradisi pernikahan jerman, kebetulan teman saya akan menikah dijerman dan dia tidak bisa menerima tradisi dansa sampai jam 12 malam, hehehee... kebayang sih gimana jenuhnya yaa seharian full acara --"

    ReplyDelete
  4. Adikku nikah undang 500 org dikali 2 krn unndagan dihitung bawa pasangan, nah makanya aku ga mau deh jadi ratu semalam aja trus habis nikah ga punya duit hehe. Aku nikahnya catatan sipilnya di Swiss, pemberkatan gereja di Jerman. Aku mikirnya drpd uang buat pesta besar di Jakarta lebih baik uangnya dipakai buat tiket pesawat ortu dan 2 adikku datang pemberkatan pernikahanku di Jerman ;) .

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers