Monday, October 31, 2016

Mengapa Cinta Laura bukan 'Liebe Laura' ??



Tau nggak sih, di Jerman pemberian nama orang tua kepada anak juga diatur oleh pemerintah. Orang tua tidak boleh memberikan nama yang dianggap akan memalukan atau tidak patut dan menggelitik kepada anak mereka.  Contohnya, mereka tidak bisa menamai anak mereka seperti Liebe (cinta) atau Sterne (bintang), namun tentu saja mereka boleh menamainya cinta atau bintang dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jerman, karena di Indonesia nama-nama tersebut boleh saja dipergunakan. Oleh sebab itu, Cinta Laura yang ayahnya orang Jerman dinamai Cinta Laura Kiehl bukan Liebe Laura Kiehl, karena liebe adalah sebuah kata bukan sebuah nama (menurut orang Jerman) dan saat lahir, Cinta laura lahir di Jerman, kemungkinan akan sulit bagi sang ayah untuk mendapatkan izin penamaan anaknya kalau anaknya dinamai Liebe. Nama-nama yang dianggap tidak lazim tidak boleh dipergunakan dan akta kelahiran anak pun akan susah dikeluarkan. Ribet juga kan?

Anyway, tentang Cinta Laura hanyalah intermezo tentang salah satu perbedaan budaya pemberian nama antara orang Indonesia dan Jerman. :D

Karena alasan di atas, orang-orang Jerman banyak sekali yang namanya sama. Aku punya beberapa kenalan yang namanya Jan, Hannes di mana dua nama itu diambil dari Injil (Johannes /Yunus). Nama Thomas, Steffan, Steffi, juga pasaran sekali di Jerman sama halnya nama-nama seperti Rizky atau Agus yang pasti sudah tak asing lagi di telinga kita. Kita pasti punya teman dengan nama-nama tersebut.:)

Yang akan aku kupas di sini bukanlah nama depan orang Jerman yang beredar (seperti Steffan, Thomas, Steffi, Hannes, atau Jan), tapi nama keluarga. Di Indonesia, ada banyak orang yang tidak mempunyai nama keluarga (termasuk aku), hehehe. Nama keluarga adalah nama turun temurun dari jaman kakek moyang ke garis keturunan kita. Mungkin kalau di Sumatra, seperti marga.

Saat seminggu berada di Jerman dan harus lapor ke kantor imigrasi setempat, aku ditanya oleh host family yang mengantarkanku ke sana. Nama keluarga kamu Puspa, kan? aku menjawab bahwa aku tidak punya nama keluarga dan 3 nama Girindra Wiratni Puspa itu adalah nama depan semua. Petugas kantor yang mendengarnya sampai tertawa dan yang tidak percaya.  Memang seperti itulah kenyataanya, seluruh penduduk Eropa paling tidak mempunyai nama keluarga, jadi mereka yang belum pernah mengenal budaya Indonesia pasti tidak percaya bahwa ada sebuah wilayah di belahan bumi ini yang penduduknya tidak mempunyai nama keluarga, bahkan ada satu kenalan yang sempat nyeletuk, 'enak banget, berarti kamu bisa membuat nama keluarga kamu mulai dari keturunan kamu berikutnya, nggak kayak kita yang namanya sudah turun temurun'.

Nama keluarga orang Jerman berasal dari kakek buyutnya terdahulu dan turun temurun diwariskan kepada pendahulunya. Setiap orang Jerman memiliki nama keluarga dari orang tuanya. Jadi mereka memberi satu nama, misalnya Tobias, kemudian disertai nama keluarga (misalnya Dichter) jadi namanya Tobias Dichter. Tak sedikit juga orang Jerman yang memiliki nama tengah (zweitname atau mittelname) dari nama baptis atau memang pemberian orang tua. Seperti Cinta Laura Kiehl, Laura adalah Zweitname-nya. Saat orang Jerman menikah (baca juga: Pernikahan ala Jerman  ), salah satu nama keluarga dari masing-masing mempelai akan dengan suka rela diganti menjadi satu dari pasangan lainnya. Misalnya Marco Dichter menikah dengan Steffi Müller, maka nama Steffi akan menjadi Steffi Dichter, nama Müller dibuang. Tentu saja dengan keputusan yang telah disetujui bersama, bisa juga Steffi sangat sayang dengan nama keluarganya sehingga dia membujuk Marco untuk mengganti namanya menjadi Marco Müller, kalau Marco tidak mau dan bersi keras mempertahankan nama keluarganya, Steffi punya alternatif lain untuk tetap mempertahankan nama Müller dengan cara mengganti namanya menjadi: Steffi Müller-Dichter. Namun anak-anak dari Steffi dan Marco akan mempunyai nama keluarga Dichter, bukan Müller-Dichter.

Pasca pernikahan, pihak yang nama keluarganya diganti, wajib juga mengganti semua dokumen mulai dari paspor, tanda tangan, akun bank, alamat email, menginforamsikan kepada pihak asuransi, dsb. Mempertimbangkan hal ini, terkadang aku berpikir enak juga jadi orang Indonesia karena tidak terikat dengan sebuah nama keluarga dan tidak harus ribet mengganti dokumen-dokumen setelah menikah.

Demikian sedikit sharing mengenai budaya pemberian nama dan pergantian nama keluarga di Jerman. FYI, setelah menikah, orang Jerman lebih suka mengganti nama keluarga mereka dengan nama keluarga pasangan yang tidak banyak digunakan orang lain alias langka. Misalnya nama Dichter lebih langka ketimbang Müller, maka kasus Steffi dan Marco di atas, Steffi lah yang dengan senang hati mengganti nama keluarganya menjadi Dichter. Tapi kembali lagi kepada indivial masing-masing.

Untuk mengetahui apakah nama keluarga orang Jerman 'pasaran' alias banyak beredar atau nggak, silakan baca lanjutan artikel ini mengenai: nama-nama 'pasaran' orang Jerman.

Pastinya masih banyak sekali hal-hal berbeda lainnya antara budaya Indonesia dan Jerman. Kalau kalian masih punya ide, bisa tulis di komen, nanti akan aku tambahkan, semoga tulisanku yang sedikit tadi menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, dan budaya Jerman tentunya semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepada orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

2 comments:

  1. Di tanah air banya dan umum nama Cinta dan Bintang, tp jadi aneh kedengarannya klo pakai bhs Jerman :D . Ada temanku asal surabaya ga punya nama keluarga, sama petugas nama depannya mau dibikin dua kali, temanku ga mau, petugasnya ngotot harus ada nama belakang/keluarga di Jerman sini :D .

    Setelah nikah aku pakai dua nama, nama keluargaku dulu, marga batak baru nama keluarga suami, untuk di Indonesia ga aku ubah apapun jd tetap pakai nama spt sblm nikah krn utk ubah nama di indonesia harus sampai pengadilan. Lagipula krn ga tinggal di tanah air aku ga ubah nama. Utk di paspor aku bikin nama spt di Jerman krn mikirnya bakal berkaitan dg kartu izin tinggal.

    Utk kedua anakku klo mau pakai 2 nama sptku sebenarnya bisa, tp aku memutuskan anak2 pakai nama belakang bpknya aja. Ntar ribet klo sekolah terlalu panjang namanya. Ada nama depan, tengah dan klo nama keluarga pakai 2 butuh banyk waktu buat nulis nama aja haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mbak, kalau di Jermanin masa iya nama anaknya Liebe atau Sterne,,kan aneh wkkkk....Oh ribet juga ya kalau harus merubah gitu di Indonesia. Aku di Jawa nggak punya nama Marga, beda sama mbak Nella ya,,, Iya, mbak, lebih baik pakai nama belakang bapaknya aja, kan peraturan di Jerman, satu family kudu sama nama belakangnya, kalau beda, malah dikira bukan anak dari bapaknya ntar. kasihan :D

      Delete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers