Saturday, October 22, 2016

5 LANGKAH MENJADI AU PAIR DI JERMAN


Sebelumnya aku sudah posting tentang seluk beluk au pair, sekarang aku akan memberi tips yang aku peroleh dari pengalaman pribadi dulu sebelum menjadi au pair.

1. Mencari Host Family

Di tengah sibuknya menulis skripsi saat itu, kepalaku dipenuhi keinginan untuk berangkat ke Eropa. Awal Mei 2013, aku mendaftar di www.aupair-world.net, membuat profil (dalam bahasa Inggris, karena targetku saat itu bukan hanya Jerman, pokoknya Eropa, hehe) dan mengirim ke puluhan keluarga di berbagai negara di Eropa. Selang satu minggu aku selalu mendapat respons negativ, sampai di minggu kedua, ada seorang keluarga yang malah mengirim aplikasi ke aku dan menginginkanku menjadi au pairnya. Hatiku berdegup kencang sampai tidak bisa tidur bermalam-malam :D. Lalu aku pun berkomunikasi dengan keluarga tersebut lewat video call.
Selang satu bulan, aku tidak mendapat kabar dari keluarga tersebut dan aku berpikir mungkin keluarga tersebut tidak jadi memilihku. Di akhir Juni 2013, kubuka chat di skype ku dan aku menerima pesan dari mereka bahwa mereka sedang liburan satu bulan makanya tidak menghubungiku, namun mereka akan segera mengirim semua dokumen yang dibutuhkanku untuk mengurus Visa ke Indonesia. Aku senang sekali saat itu sampai akhirnya aku dikejutkan oleh berita bahwa batas usia untuk menjadi au pair di Jerman adalah 24 tahun, sedangkan aku saat itu 25 tahun.

Sedih, putus asa, kecewa, campur jadi satu. Siapa yang bisa merubah umur, kalau uang mah bisa aku cari, tapi kalau umur?. Namun keajaiban terjadi.

Aku saat itu punya teman orang Rusia, dia juga pernah tinggal di Jerman sementara waktu dan darinya aku tahu bahwa pemerintah Jerman baru saja mengubah aturan batas umur untuk menjadi au pair, yakni 26. Aku kurang percaya pada temanku itu, tapi dia meyakinkan bahwa sebelumnya dia juga ingin jadi au pair ke Jerman, Masih kurang percaya, aku mengirim email ke kedutaan Jerman di Jakarta dan menanyakan kebenarannya. Ternyata memang benar pemerintah Jerman telah mengubah batasan umur au pair menjadi maksimal 26 tahun yang artinya 1 tahun lagi kesempatan buatku.

2. KURSUS BAHASA JERMAN

Aku saat itu hanya tahu tiga kata saja dalam bahasa Jerman, Ich liebe dich. Tapi semangatku untuk datang Jerman membuatku semangat belajar demi lulus sertifikat A1.
Aku tidak kursus di Goethe, karena di malang tidak ada Goethe dan aku saat itu tidak ingin ke Surabaya dikarenakan masih sibuk dengan urusan wisuda. Aku les kepada guru bahasa Jerman yang mengajar di sebuah SMA selama satu bulan, dan sisanya belajar sendiri, download kisi-kisi test A1 sampai rajin lihat youtube tentang test A1 tersebut.

3. TEST A1 

Aku sangat bersyukur karena adikku merekomendasikan guru bahasa Jerman yang mengajar di sekolahnya untuk mengajariku. Hanya dengan membayar 400 ribu, aku diajarinya secara privat dasar-dasar dalam bahasa Jerman. Meskipun masih sangat plola plolo, aku memberanikan diri daftar test A1 di Goethe Institut Surabaya, aku masih ingat betul bahwa tanggal testku saat itu tepat satu hari setelah aku wisuda, yakni 25 Oktober 2013. Aku tidak ingin menunggu lama untuk test karena aku sudah membuat janji di kedubes Jerman di Jakarta pertengahan November.
Aku saat itu was-was sekali akan hasil test A1 ku, tapi di hari itu juga, kami diberitahu bahwa kami lulus atau tidak dan alhamdulillah aku lulus dengan nilai 76.

4. Apply VISA

* Pastikan kalian sudah punya passport :D. Aku dulu bikin paspor tepat sebulan sebelum aku test A1, sebelumnya kemana aja? hehe. Untuk membuat paspor, kalian bisa mengecek persyaratan apa saja yang diperlukan di websites kantor imigrasi setempat dan daftar online.
* Pastikan kalian sudah menerima semua dokumen dari pihak host family, saat itu aku butuh
Invitation Letter, Kontrak au pair, asuransi kesehatan yang sudah diurus pihak host family, dan keterangan bahwa aku telah terdaftar kursus bahasa Jerman
* Kalau aku dulu tidak diwajibkan membuat daftar riwayat hidup dan motivation letter, tapi saat ini untuk apply visa au pair dari Indonesia, pemohon harus menulis CV dan motivation letter. Untuk tips klik di sini dan untuk contoh CV serta motivation letternya, klik di sini
* siap di interview, pas foto dan uang 60 euro

Terus terang saat interview aku gagal total, aku sama sekali tidak paham apa yang ditanyakan penutur asli bahasa Jerman di kedubes saat itu, sampai dia rela switch bahasa ke bahasa Inggris agar aku bisa menjawab pertanyaan seputar apa yang aku lakukan sebelum memutuskan untuk menjadi au pair ke Jerman? jawabanku kuliah, lalu apa yang aku harapkan dari menjadi au pair, dan sebagainya.
Aku pasrah sekali tentang diterimanya visaku saat itu, tapi dalam 10 hari mereka menelfon bahwa visaku sudah bisa diambil (saat itu aku bisa mengambilnya di Konjen Jerman di Surabaya)

5. BERANGKAT

Gastfamilie ku saat itu bersedia membayar separuh uang pesawat dan mereka memesankan tiket pesawatnya dari Jerman. Kalau kalian beruntung, ada juga gastfamilie yang membayar tiket pulang pergi, tergantung  kesepakatan saat video call.
Tidak perlu membawa baju selemari, apalagi beras, dan segala macemnya. Di Eropa, banyak toko Asia yang menjual segala kebutuhan kita, dan gastfamilie pastinya juga menyediakan makan. Baju winter? Kita bisa membelinya di Eropa juga dengan harga yang relativ sama ketimbang membeli di Indonesia bahkan bisa lebih murah. Apalagi di Jerman banyak sekali flea market, kalian bisa membeli baju winter bekas dengan harga kurang dari 10 euro, meskipun bekas tapi bukan berarti kualitas rendahan, karena flea market di Jerman bukanlah pasar loak seperti di Indonesia, kita juga bisa jadi penjual di sana dan menjual baju, sepatu atau barang-barang yang sudah bosan dipakai. Makanya, di sana, kita juga membeli bukan dari penjual yang mengambil keuntungan semata, melainkan dari orang-orang biasa yang ingin merombak isi lemari karena sudah bosan misalnya.

Langkah terakhir>> Siapkan hati, jiwa, dan tenaga untuk berpetualang di Eropa, bertemu dengan banyak orang, melatih kemandirian, dan beradaptasi dengan budaya asing.

Demikian sedikit info tentang au pair, semoga menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Mengapa dulu aku memutuskan untuk mencari host family dulu lalu les bahasa? karena pada awalnya aku tidak hanya berfokus ingin ke Jerman, tapi di mana pun di Eropa, jadi aku tidak ingin aku belajar bahasa Jerman dulu, lalu dapat dan sregnya di keluarga Prancis. Tentu saja kalian bisa les bahasa terlebih dahulu dan fokus ingin kemana, pastinya jauh lebih baik kalau kita sudah mempunyai bekal bahasa dan ingin fokus memperdalamnya di sebuah negara.
Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

1 comment:

  1. wahh menjadi au pair kita harus pandai berbahasa negara yang akan kita tuju, mungkin agar tidak susah untuk berkomunikasi..

    ReplyDelete

Join Facebook

Followers

Google+ Followers