Monday, October 31, 2016

Mengapa Cinta Laura bukan 'Liebe Laura' ??



Tau nggak sih, di Jerman pemberian nama orang tua kepada anak juga diatur oleh pemerintah. Orang tua tidak boleh memberikan nama yang dianggap akan memalukan atau tidak patut dan menggelitik kepada anak mereka.  Contohnya, mereka tidak bisa menamai anak mereka seperti Liebe (cinta) atau Sterne (bintang), namun tentu saja mereka boleh menamainya cinta atau bintang dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jerman, karena di Indonesia nama-nama tersebut boleh saja dipergunakan. Oleh sebab itu, Cinta Laura yang ayahnya orang Jerman dinamai Cinta Laura Kiehl bukan Liebe Laura Kiehl, karena liebe adalah sebuah kata bukan sebuah nama (menurut orang Jerman) dan saat lahir, Cinta laura lahir di Jerman, kemungkinan akan sulit bagi sang ayah untuk mendapatkan izin penamaan anaknya kalau anaknya dinamai Liebe. Nama-nama yang dianggap tidak lazim tidak boleh dipergunakan dan akta kelahiran anak pun akan susah dikeluarkan. Ribet juga kan?

Anyway, tentang Cinta Laura hanyalah intermezo tentang salah satu perbedaan budaya pemberian nama antara orang Indonesia dan Jerman. :D

Karena alasan di atas, orang-orang Jerman banyak sekali yang namanya sama. Aku punya beberapa kenalan yang namanya Jan, Hannes di mana dua nama itu diambil dari Injil (Johannes /Yunus). Nama Thomas, Steffan, Steffi, juga pasaran sekali di Jerman sama halnya nama-nama seperti Rizky atau Agus yang pasti sudah tak asing lagi di telinga kita. Kita pasti punya teman dengan nama-nama tersebut.:)

Yang akan aku kupas di sini bukanlah nama depan orang Jerman yang beredar (seperti Steffan, Thomas, Steffi, Hannes, atau Jan), tapi nama keluarga. Di Indonesia, ada banyak orang yang tidak mempunyai nama keluarga (termasuk aku), hehehe. Nama keluarga adalah nama turun temurun dari jaman kakek moyang ke garis keturunan kita. Mungkin kalau di Sumatra, seperti marga.

Saat seminggu berada di Jerman dan harus lapor ke kantor imigrasi setempat, aku ditanya oleh host family yang mengantarkanku ke sana. Nama keluarga kamu Puspa, kan? aku menjawab bahwa aku tidak punya nama keluarga dan 3 nama Girindra Wiratni Puspa itu adalah nama depan semua. Petugas kantor yang mendengarnya sampai tertawa dan yang tidak percaya.  Memang seperti itulah kenyataanya, seluruh penduduk Eropa paling tidak mempunyai nama keluarga, jadi mereka yang belum pernah mengenal budaya Indonesia pasti tidak percaya bahwa ada sebuah wilayah di belahan bumi ini yang penduduknya tidak mempunyai nama keluarga, bahkan ada satu kenalan yang sempat nyeletuk, 'enak banget, berarti kamu bisa membuat nama keluarga kamu mulai dari keturunan kamu berikutnya, nggak kayak kita yang namanya sudah turun temurun'.

Nama keluarga orang Jerman berasal dari kakek buyutnya terdahulu dan turun temurun diwariskan kepada pendahulunya. Setiap orang Jerman memiliki nama keluarga dari orang tuanya. Jadi mereka memberi satu nama, misalnya Tobias, kemudian disertai nama keluarga (misalnya Dichter) jadi namanya Tobias Dichter. Tak sedikit juga orang Jerman yang memiliki nama tengah (zweitname atau mittelname) dari nama baptis atau memang pemberian orang tua. Seperti Cinta Laura Kiehl, Laura adalah Zweitname-nya. Saat orang Jerman menikah (baca juga: Pernikahan ala Jerman  ), salah satu nama keluarga dari masing-masing mempelai akan dengan suka rela diganti menjadi satu dari pasangan lainnya. Misalnya Marco Dichter menikah dengan Steffi Müller, maka nama Steffi akan menjadi Steffi Dichter, nama Müller dibuang. Tentu saja dengan keputusan yang telah disetujui bersama, bisa juga Steffi sangat sayang dengan nama keluarganya sehingga dia membujuk Marco untuk mengganti namanya menjadi Marco Müller, kalau Marco tidak mau dan bersi keras mempertahankan nama keluarganya, Steffi punya alternatif lain untuk tetap mempertahankan nama Müller dengan cara mengganti namanya menjadi: Steffi Müller-Dichter. Namun anak-anak dari Steffi dan Marco akan mempunyai nama keluarga Dichter, bukan Müller-Dichter.

Pasca pernikahan, pihak yang nama keluarganya diganti, wajib juga mengganti semua dokumen mulai dari paspor, tanda tangan, akun bank, alamat email, menginforamsikan kepada pihak asuransi, dsb. Mempertimbangkan hal ini, terkadang aku berpikir enak juga jadi orang Indonesia karena tidak terikat dengan sebuah nama keluarga dan tidak harus ribet mengganti dokumen-dokumen setelah menikah.

Demikian sedikit sharing mengenai budaya pemberian nama dan pergantian nama keluarga di Jerman. FYI, setelah menikah, orang Jerman lebih suka mengganti nama keluarga mereka dengan nama keluarga pasangan yang tidak banyak digunakan orang lain alias langka. Misalnya nama Dichter lebih langka ketimbang Müller, maka kasus Steffi dan Marco di atas, Steffi lah yang dengan senang hati mengganti nama keluarganya menjadi Dichter. Tapi kembali lagi kepada indivial masing-masing.

Untuk mengetahui apakah nama keluarga orang Jerman 'pasaran' alias banyak beredar atau nggak, silakan baca lanjutan artikel ini mengenai: nama-nama 'pasaran' orang Jerman.

Pastinya masih banyak sekali hal-hal berbeda lainnya antara budaya Indonesia dan Jerman. Kalau kalian masih punya ide, bisa tulis di komen, nanti akan aku tambahkan, semoga tulisanku yang sedikit tadi menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, dan budaya Jerman tentunya semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepada orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

Sunday, October 30, 2016

5 Cara Memilih Host Family Au Pair

Tak ada host family yang sempurna!!! karena biar bagaimana pun, host family bukanlah keluarga kandung, namun kadang, host family juga bisa baik melebihi saudara kandung. 
Menjadi au pair berarti siap hidup dan tinggal serumah bersama keluarga baru, cara yang paling baik untuk menyesuaikan diri dengan mereka adalah mengadaptasi budayanya, tanpa membuang budaya kita sendiri, jangan terlalu lemah karena nanti kita dimanfaatkan, jangan juga terlalu ngeyel agar tidak memacu konflik. Intinya, kita harus pandai pandai menyesuaikan diri dengan mereka.

Sebelum memutuskan memilih sebuah keluarga yang nantinya akan tinggal bersama kita selama beberapa bulan hingga satu tahun ke depan, tidak ada salahnya kita mempertimbangkan beberapa hal berikut dalam memilih host family:

1. Jumlah anak

Pastikan kalian tidak kelabakan mengurusi anak-anaknya. Rata-rata host family yang mempunyai anak lebih dari tiga, kalian hanya disuruh mengurusi satu atau 2 anak terakhirnya saja. Tapi menurut pengalaman teman-teman au pair, meskipun yang diurus hanya 2, tetap saja kadang kalau orang tuanya pergi dan semua anak berkumpul, kita juga tetap harus mengawasi, membuat makanan, menjaga yang paling kecil, dan sebagainya. Untung-untung kalau anak yang paling gede bisa diajak kompromi dan nggak nakal serta mau ikut menjaga adiknya (biasanya anak perempuan), tapi kalau dia suka usil dan bawel, kita yang masih belajar bahasa Jerman bisa kalah omong sama dia.
Tapi jumlah anak bukanlah tolak ukur, kalau ada anak yang udah gede dan dia ramah, kita bisa cepat belajar Bahasa Jerman dengan mendengarkan mereka bertutur kata. Saat video call, usahakan kalian skype dengan mereka semua agar kalian tahu bagaimana mereka nantinya dan apakah mereka anak-anak yang ramah atau bandel.

2. Fasilitas yang diberikan

Meskipun ada uang saku yang jumlahnya telah ditetapkan oleh pemerintah, beda family beda juga tingkat kedermawanannya :D. Contohnya, host family ku dulu, selain biaya tiket pesawat berangkat ditanggung mereka dan diberi iphone saat awal kedatangan, tiap aku kerja melebihi 6 jam perhari, selalu diberi uang tambahan. Host family temanku, biarpun dia bantu setrika, membersihkan rumah, menjaga anak lebih dari 6 jam per hari, uang sakunya tetap segitu-segitu saja. Ada juga temanku yang tinggal di apartemen terpisah dari host family dan diberi uang makan tambahan, uang pulsa dan uang tiket bulanan disamping uang sakunya.
Saat video call, hal yang wajib kalian tanyakan:
* Tiket bulanan. Karena kalau kalian suruh bayar sendiri, mahal sekali.
* Hari libur dan jam kerja perhari. Temanku sehari kerja hanya 4 jam namun, tidak mendapat hari libur dalam seminggu. Dia hanya dapat hari libur 30 hari dalam satu tahun yang bisa diambil saat host family liburan juga. Pikirkan baik-baik karena kalian juga butuh hari libur.
* Apakah sebelumnya sudah punya au pair dan bagaimana pengalaman dengan au pair tersebut? dengan begitu kalian bisa tahu bagaimana mereka memperlakukan au pair.
* Tiket pesawat. Negosiasikan tiket pesawat dengan host family, siapa tahu mereka mau membelikan tiket pesawat kalian pulang pergi.
* Bagaimana anak-anaknya, apakah mereka tipikal anak yang mudah bergaul sama orang asing, dsb.
* Tidak ada salahnya kalian mencoba tanyakan hal ini: saya berencana juga jalan-jalan keliling eropa, oleh karena itu saya juga harus menabung, apakah tidak apa-apa kalau misalnya saya kerja sambilan bersih-bersih atau babysitten di rumah orang lain di waktu senggang? meskipun secara hukum tidak diperbolehkan, tapi kalau host family mengijinkan dan menghargai kejujuran kita, dia malah simpati dan bahkan tak jarang malah menyuruh kita membantu mereka dan memberi uang lebih ketimbang membiarkan kita bekerja di tempat lain (seperti yang terjadi padaku dulu).
* Tanyakan kalau misalnya kerja berlebih, apakah dapat uang tambahan. Agar tidak terkesan kita terlalu matrealistis, gunakan alasan karena kita ingin travelling.

Aku tekankan: orang Jerman paling suka kalau kita banyak tanya dan tidak hanya mengiyakan mereka. Karena dengan begitu mereka jadi tahu apa yang ada di pikiran kita tanpa harus menebak-nebak. Berbeda dengan budaya sungkanan di Indonesia, orang Jerman paling frontal kalau soal hak dan kewajiban yang berkenaan dengan uang atau jasa. Mereka sangat okay kalau kita menagih uang saku, tanya soal uang dan fasilitas, karena mereka menjunjung tinggi hak kita, dan memberikan hak kita adalah kewajiban mereka.

3. Hari Libur

Seperti yang aku tekankan sebelumnya, kalian butuh hari libur. Kalau kalian kerja lebih dari 30 jam seminggu, dan tidak ada hari libur, lupakan saja, karena au pair bukanlah pembantu. Masih banyak keluarga Jerman yang butuh au pair. Aku dulu, aku bilang sejak awal bahwa aku ingin travelling selama satu bulan penuh. Jadi selain libur 2 hari seminggu (sabtu minggu), di bulan ke 8, aku travelling selama 30 hari dan tetap dibayar. 30 hari libur dalam setahun adalah hak au pair dan juga hak pekerja di Jerman pada umumya. Kalian harus tanyakan dan tekankan mulai dari awal agar mereka tahu dan siap untuk kehilangan kalian selama satu bulan.

4. Tempat Tinggal

Bagaimana kalian tinggal nanti juga penting untuk ditanyakan, apakah kamarnya dekat dengan kamar anak-anak, atau malah tidur sekamar dengan salah satu orang anak, apakah di lantai atas atau di basement, atau malah tinggal di apartemen yang berbeda. Kalau kalian sreg dan merasa okay dengan fasilitas kamar serta privacy yang akan kalian terima, maka tidak jadi masalah, tapi kalau kalian butuh lebih privacy untuk diri sendiri misalnya, maka carilah host family yang menyediakan kamar au pair yang jauh dari jangkauan anak-anak, di basement atau apartemen lain.
FYI, kalau kalian diberi fasilitas apartemen terpisah, informasikan kepada  host family bahwa di kontrak kerja au pairnya, jangan dicantumkan bahwa kalian akan tinggal terpisah, karena banyak kasus visa au pair yang ditolak karena mereka tinggal terpisah dari host familynya, pemerintah mencanangkan program au pair kan untuk tinggal dan beradaptasi dengan orang Jerman, jadi kalau tinggalnya terpisah dianggap kurang sesuai dengan program yang dicanangkan. Banyak au pair yang tinggalnya terpisah, tapi host family mencantumkan tempat tinggal dan alamat yang di kontrak kerja untuk mengajukan visa.

5. Bauchsgefüllt (feeling atau kata hati)

Tentunya semua faktor atau teori dalam memilih segala sesuatu tidak akan berarti tanpa bisikan hati nurani. Ciee :D. Aku dulu merasa sangat yakin sekali bahwa aku akan tinggal bersama host family ku karena berkali-kali aku bermimpi datang dan tinggal bersama mereka. Selain itu, saat video call dan melihat 2 bocah kembar lucu itu aku seperti punya keterikatan batin yang kuat. Oleh karenanya aku memutuskan berangkat. Kata hati selalu penting dalam memutuskan sebuah hal, pastikan kalian yakin dan tidak bimbang agar tidak menyesal nantinya

Dalam memilih host family, kita sebaiknya bijak dan mempertimbangkan segala konsekuensi ke depannya karena banyak kasus terjadi au pair bergonta-ganti host family sampai beberapa kali karena tidak cocok dan sebagainya. Jadi jangan asal ada host family yang mau mengundang kita ke Eropa kita iya-iya saja.Banyak tanya, banyak tahu, dan orang Jerman atau orang Eropa pada umumnya suka ditanya. Jadi jangan sungkan-sungkan tanya.

Demikian sedikit info tentang au pair, semoga menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

Friday, October 28, 2016

15 Hal Yang Lazim di Indonesia tapi aneh atau tidak lazim di Jerman

Di postingan sebelumnya, ada 10 hal yang lazim dilakukan di Jerman, namun di pandang aneh atau nggak lazim di Indonesia. (Baca:  10 hal yang lazim di Jerman tapi tidak di Indonesia).
Di bawah ini, aku share hal-hal yang lazim di lakukan orang di Indonesia, namun aneh, bahaya, bahkan mengundang kasus sampai harus kena denda secara hukum bila dilakukan di Jerman. Apa saja? silakan menyimak :)

1. Tidak memakai pakaian renang di pantai atau di kolam renang

Kita biasa saja pergi berenang di pantai, kolam renang dengan pakaian lengkap, bukan burkini atau baju renang. Di Jerman, seseorang boleh memakai burkini atau baju renang penutup aurat namun tidak dengan berpakaian lengkap nyemplung ke kolam renang, kalau ada orang yang merasa risih dengan itu, kita bsa dilaporkan satpam dan bisa jadi ribut.

2. Makan nasi 3 kali sehari

Keuntungan jadi orang Indonesia salah satunya, bisa makan apa saja di mana saja, contohnya makan pizza, kentang goreng atau nasi di pagi hari. Kebiasaan ini menurut orang Jerman tentu saja aneh, karena mereka hanya makan roti, telur, buah atau sereal di pagi hari (di Bayern, orang bisa juga sarapan sosis (weißwurst) di pagi hari). Nasi, mie, kentang atau makanan berat lainnya hanya dimakan saat makan siang atau makan malam saja.

3. Ramai atau terlalu berisik di kendaraan umum

Heboh di kendaraan umum biasa saja terjadi di Indonesia. Bicara atau ngobrol sewajarnya juga tidak apa-apa di kereta tapi jangan membuat heboh sampai ketawa terlalu keras. Kalau ada orang yang merasa terganggu, mereka bisa melapor ke polisi dan kita bisa kena denda. Tak jarang pula aku jumpai kasus seperti ini di kereta bawah tanah dan subway, orang yang melaporkan orang lain karena merasa privacy atau kenyamanannya terganggu.

4. Mengadakan acara pernikahan di rumah dan membuat seluruh kampung berisik

Jangankan seluruh kampung, di Jerman tetangga apartemen di lantai bawah yang merasa terganggu karena suara anak kecil bermain di lantai atas saja bisa marah sampai lapor polisi. Aduuh aduuh

5. Pesan makanan di restoran yang terlalu berlebihan lalu tidak dihabiskan

Di Jerman, selain makan di restoran itu mahal, memesan makanan secara berlebihan dan tidak dihabiskan juga sangat mengganggu lingkungan. Aku pernah membaca artikel tentang orang Jerman yang menegur orang Indonesia di restoran karena makan beramai-ramai dan memesan makanan terlalu banyak tapi tidak dihabiskan, lalu orang Indonesia tersebut menjawab: ya biarkan saja, toh kita bayar. Orang Jerman tersebut merasa terganggu sampai lapor polisi dan polisi mendenda orang Indonesia sampai ratusan euro karena membuang-buang energi (makanan) dan dianggap tidak peduli lingkungan hidup.

6. Kepo tentang hal-hal pribadi

Punya pacar, menikah, punya anak, berapa pendapatan per bulan adalah contoh pertanyaan yang menurut orang Jerman terlalu pribadi untuk ditanyakan, sedangkan orang Indonesia bisa saja bertanya hal-hal semacam ini.

7. Nasionalitis

Aku bangga sekali menjadi orang Indonesia dan aku yakin 80% orang Indonesia cinta tanah air, nusa dan bangsa, kita akan sangat bangga sekali to be Indonesian and will tell arround, hey if you come to Asia or Indonesia, I will show you arround, Indonesia is beutiful, it's unique, whatsoever. Tapi orang Jerman yang aku temui sangat biasa saja terhadap budaya, negara Jerman. Tidak tahu mereka bangga atau tidak, tapi mereka jarang sekali membanggakan Jerman, sepak bolanya, budaya bir nya, atau keindahan alamnya kepada orang lain. Banyak orang Jerman bahkan anti nasionalisme.

8. Perjodohan

Meski sekarang sudah bukan zamannya siti nurbaya, namun budaya perjodohan masih ada juga di berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Aku pernah bertemu orang Jerman yang anaknya masih berumur 20 tahun tapi sudah menikahi janda dari afrika yang usianya terpaut 17 tahun lebih tua darinya dan punya anak 3 dari suami dahulu. Saat kutanya apa dia setuju, dia menjawab: mengapa tidak? wanita afrika tersebut baik dan anakku mencintainya, jadi tidak ada alasan bagi kami sebagai orang tuanya untuk mengatur dia akan menikah sama siapa. Padahal setahuku, pemuda Jerman yang masih umur 20 tahun, masih amat sangat belia untuk menikah.

9. Meminta oleh-oleh

Meski bercanda, meminta oleh-oleh saat orang lain berpergian sangatlah lumrah dilakukan orang Indonesia. Orang Jerman tidak memiliki budaya membawa oleh-oleh, mungkin hanya mengirim kartu pos dirasa cukup. 

10. Memotong kuku bukan di kamar mandi

Waktu di Indonesia, aku biasa memotong kuku di depan TV, di kamar, atau di mana saja, bakan di kelas. Hhehehe. Tapi di Jerman, orang hanya memotong kuku mereka di kamar mandi

11. Sendawa

Saat masuk angin, atau malam hari, aku biasa mendengar ibu, atau bapak bersendawa sepuas hati, sekeras yang mereka inginkan demi mengeluarkan angin di perut, tapi di Jerman, orang bersendawa sesunyi mungkin karena dianggap tidak sopan. Aku pernah sekali bersendawa agak keras saat makan malam keluarga dan host family menatap aku aneh, aku pikir kenapa, keesokan harinya host mother bilang bahwa sebaiknya kalau bersendawa sedikit ditahan karena di Jerman tidak sopan bersendawa di depan orang lain.

12. Membuat, menjual, membeli, mengedarkan, atau menggunakan merk palsu

Hak cipta atau copy right sangat dilindungi di Jerman. Kalau kalian sampai ketahuan menggunakan tas bertuliskan Nikon, National Geographic, sepatu merk Nike, Adidas, atau memproduksi, mendistribusikan sampai memakai barang-barang bermerk internasional namun aspal (asli tapi palsu), dendanya nggak main-main.

13. Membuka/ nonton streaming, sampai download lagu gratisan lewat situs illegal

Bagi yang belum tahu, sebaiknya sangat berhati-hati dengan hal ini. Banyak kasus terjadi orang Indonesia yang dengan asik mendownload film lewat sebuah situs dan 2-8 minggu setelahnya mendapat surat dari pemerintah bahwa dia harus membayar denda tak kurang dari 2000 euro karena dia telah membuka dan menggunakan situs yang secara resmi tidak diijinkan dibuka di Jerman.

14. Sauna terpisah 

Di Jerman, rata-rata orang telanjang di sauna dan sauna tidak terpisah antara laik-laki dan perempuan. Saat salah satu teman Jerman datang ke sauna di Indonesia, dia merasa aneh sekali karena sauna di Indonesia terpisah berdasarkan jenis kelaminnya. Ya iyalah. di Indonesia, FKK kan bukan budaya!!!
 :D

15 Upload foto orang lain di sosial media tanpa izin

Temanku pernah kena denda 900 euro karena memasang foto orang lain di ebay dan orang yang ada di foto itu menuntutnya secara hukum karena memasang foto dirinya tanpa izin.
Di Indonesia, kita biasa saja upload dan tag foto teman terserah mau dia suka atau nggak. Di Jerman, foto anak kecil, penyandang cacat, atau orang yang tidak punya kuasa atas dirinya, tidak boleh di upload fotonya di sosial media, kecuali atas ijin orang tuanya, kalau orang cacat atas ijin tertulis dari gesellschaftsbetreuer-nya (wakil kuasa hukumnya atau orang tuanya). Kalau ada orang yang tersinggung karena foto dirinya dipajang di sosial media, dia bisa menuntut uang denda kepada kita. 

Pastinya masih banyak sekali hal-hal berbeda lainnya antara budaya Indonesia dan Jerman. Kalau kalian masih punya ide, bisa tulis di komen, nanti akan aku tambahkan, semoga tulisanku yang sedikit tadi menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, dan budaya Jerman tentunya semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

Thursday, October 27, 2016

10 Hal Yang Lazim di Jerman tapi tidak di Indonesia

Tinggal di belahan bumi yang berbeda, pasti sedikit banyak akan membuka pikiran kita betapa unik dan berbedanya dunia ini, bukan hanya dari alamnya, namun juga budaya dan peradaban masyarakatnya.
Banyak sekali hal aneh, unik, yang aku temui sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, bahkan sampai sekarangpun, tak henti-hentinya aku menemui perbedaan demi perbedaan yang membuat aku selalu terinspirasi untuk membagikannya dengan kalian.

Berikut ini adalah hal yang mungkin menurut kita, sebagai orang Indonesia tidak lazim terjadi atau dilakukan, namun sangat normal sekali dilakukan oleh orang di Jerman. Di rubrik lain, aku akan membagikan hal yang sangat lazim dilakukan di Indonesia, namun sangat aneh dilakukan di Jerman.

1. FKK (Freikörperkultur)
Aku mulai dulu dari yang paling ekstrim. FKK atau Freikörperkultur kalau diartikan kata per kata: Frei: bebas; körper: badan; kultur: budaya; sudah bisa menangkap artinya?
FKK adalah budaya bertelanjang badan di muka umum. FKK paling populer di daerah Jerman timur, dan sebagian daerah Bavaria. Sampai sekarang pun, FKK masih bisa dijumpai di beberapa tempat. Banyak orang Jerman yang juga tidak begitu suka dengan budaya ini, tapi mereka menerima juga.
Jadi, FKK adalah sebuah tempat khusus (terbuka), seperti taman, perkemahan, atau sumber mata air seperti danau, dsb yang pengunjungnya diwajibkan bertelanjang, kalau hanya ke sana untuk melihat-lihat atau foto-foto pastinya dilarang, di tempat tersebut orang-orang layaknya binatang tak ada yang saling mengamati satu sama lain, mengapa mereka telanjang, dan sebagainya dan seterusnya.
Pertama kali aku tahu, saat masih di München dan lewat sebuah tempat di Englischer Garten yang tidak kuketahui sebelumnya bahwa itu adalah FKK, kontan saja aku lari tulang langgang sangking terkejutnya. :D
Di Croasia contohnya, budaya FKK juga masih ada. Dan bagaimana kita tahu kalau tempat itu FKK atau bukan? biasanya ada papan petunjuk bertuliskan FKK. Kalian bisa masuk, siapapun boleh masuk asalkan telanjang.

2.  Berciuman atau bermesraan di depan umum

Kalau di Jerman, orang berciuman, bermesraan di kereta, bis, atau lampu merah itu mah biasa sekali.  Bahkan aku dan beberapa teman pernah makan di sebuah cafe dan nggak tau kenapa waktu itu kami duduk di dekat toilet, tak lama sebelum aku dapat pesanan makananku, aku melihat pasangan masuk ke dalam toilet bersama dan terdengarlah suara mereka yang sangat menganggu. Aku dan kedua temanku langsung berubah pikiran untuk membungkus makanan dan cabut. Sialnya, aku tak tahan ingin ke toilet saat itu, pergilah aku ke toilet yang sama yang baru saja 'dipakai' pasangan itu. Aku yang melihat kondom kotor berserakan di seputar toilet langsung mengumpat dan menahan hasrat sampai bertemu toilet lain. Hal seperti ini sangat ekstrim sebenarnya, tapi para pekerja cafe yang tahu pun tak berani melarang. Huh, jijik.
Seperti berciuman yang wajar sekedarnya di muka umum atau bahkan di depan anak-anak di Jerman adalah hal yang amat sangat normal karena orang Jerman berpendapat bahwa anak-anak juga harus tahu bahwa orang tuanya saling mencintai, orang dewasa yang yang saling mengasihi sudah selayaknya mencium, atau memeluk, seperti halnya mereka menyayangi orang tuanya dan saudara-saudara mereka.
Aku pernah ditanya oleh salah seorang kenalan yang pernah beberapa kali ke Indonesia: 'kenapa sih di Indonesia, adegan mesra dipotong atau disensor, tapi adegan kekerasan tidak?' ya agar anak-anak yang nonton tidak mengikuti adegan atau penasaran. Lalu kata mereka: 'Bukankan setiap manusia ada waktunya sendiri tahu dan belajar? saat kamu mulai dewasa dulu, kamu pasti juga penasaran dan nyari tahu sendiri kan?'. Tapi pikiranku tentu saja masih memihak budaya ketimuran kita, hal yang seronok seperti itu, seharusnya dijauhkan dari mata anak-anak yang belum cukup umur.

3. Iklan, acara TV tanpa sensor

Bukan hanya di iklan atau plakat, kita bisa melihat foto orang memakai bikini bahkan telanjang, bahkan di buku pelajaran anak SD, gambar kemaluan pria dan wanita juga diijinkan diterbitkan. 

4. Tinggal bersama/kumpul kebo 

Pacar, tunangan yang tinggal bersama selama bertahun-tahun dan punya beberapa anak tanpa hubungan pernikahan adalah hal yang lumrah di Jerman.

5. Perempuan merokok/ minum bir, pemuda mengkonsumsi ganja di muka umum

Tidak ada yang akan men-judge perempuan merokok adalah perempuan nakal, murahan, dsb di Jerman. 3 dari 5 rekan kerja ku wanita juga merokok dan mereka sopan serta pekerja keras semua. Minum anggur adalah salah satu budaya orang eropa saat makan malam.


6. Bertanya dan menjawab terlalu langsung

Kecuali orang batak, kebanyakan orang Indonesia masih suka sungkan dan nggak enakan. Orang Jerman kalau tidak suka pada seseorang akan langsung bilang kepada orang tersbut tanpa basa-basi dan tanpa takut menyakiti perasaan. Tapi setelah itu, mereka akan biasa lagi, tidak marah, tidak dendam, dan tidak membahas lagi yang telah lalu.

7. Memanggil siapa saja langsung dengan nama

Memanggil paman, bibi, kakak langsung dengan nama mereka dan tanpa embel-embel mas, om, dsb adalah hal yang paling lumrah dan sopan-sopan saja dilakukan di Jerman. Anak juga memanggil dengan sebutan 'kamu' kepada orang tua, oma, opa dan semua orang yang telah kenal dekat meski mereka juga punya sebutan sopan seperti 'anda'. Orang Jerman merasa kurang akrab saja kalau masih menyebut dengan sebutan anda. 

8. Memakai nama hewan untuk menyebut orang yang disayangi

Selain schatzi (harta karun), orang Jerman biasa menggunakan nama hewan untuk memanggil kekasih atau anak-anak mereka seperti: Maus (Tikus), Bärchen (Beruang kecil), Hase (kelinci). Sedangkan di Indonesia, maus biasa diartikan jorok dan jelek. Tak pernah ada orang tua yang memanggil anak mereka dengan sebutan: sini tikusku. :D

9. Memberi kado bunga

Tak hanya kepada kekasih, orang Jerman suka memberi bunga kepada tetangga, kenalan, teman, dsb. Sedangkan di Indonesia, aku hanya sering melihat rangkaian bunga besar kalau nggak di acara pembukaan gedung atau pemakaman. Bahkan ada Film Prancis yang berjudul: Jangan memberi bunga kepada wanita di Asia Tenggara. Kita lebih suka bunga bank, hehe,,

10. Ausschnauben (membersihkan hidung) di depan umum

Membersihkan hidung sampai keluar bunyi srot srot yang keras banget menurut orang Jerman biasa saja dan wajar dilakukan di mana saja bahkan di meja makan sekalipun.

Monday, October 24, 2016

Tata Krama Berjabat Tangan di Jerman

Setelah sekian lama tinggal di Jerman, aku tidak pernah sadar dan tahu bahwa ada sebuah tata krama yang mengharuskan seseorang menyapa atau menjabat tangan perempuan dulu baru laki-laki, sampai minggu lalu aku diundang dalam acara pertemuan sebuah keluarga bersama Tobi.


Setelah masuk di depan pintu, kami disambut oleh pemilik rumah dan mereka menjabat tanganku lalu temanku. Aku belum begitu 'ngeh' sampai salah seorang gadis (yang usianya masih belasan) keluar dari dapur dan ingin menjabat tangan kami. Dia mengulurkan tangannya kepada Tobi, tapi Tobi menolaknya, dan bilang: tolong jabat tangan Indra lebih dulu. Kemudian gadis itu menjabat tanganku, setelah itu Tobi.


Aku sempat merasa bingung juga karena berpikir: apa masalahnya sih menjabat tanganku atau tangan siapapun dulu, toh sama saja. Tapi Tobi menjelaskan bahwa adat di Jerman, paling sopan kalau kita mendahulukan wanita, dengan menjabat dan menyambutnya terlebih dahulu. Seperti saat jalan yang sempit, laki-laki membiarkan wanitanya jalan dahulu agar dia bisa menjaga dan melindunginya, tidak membiarkannya berjalan di belakang.


Tapi sepertinya adat istiadat ini juga berlaku di Indonesia karena aku pernah melihat di televisi saat para pejabat elite menghadiri pertemuan international, para pejabat tersebut mempersilahkan istri mereka untuk bersalaman terlebih dahulu. Namun tidak sedemikian kentalnya di kalangan masyarakat umum. Akan tetapi di Jerman (juga di sebagian besar negara berkebudayaan barat) hal yang paling sopan dilakukan saat bertemu pasangan, jabatlah tangan wanitanya terlebih dahulu baru sang laki-lakinya, demi menghormati adat istiadat setempat. :)


Demikan sharing kita kali ini tentang adat istiadat Jerman. Tentu saja hal ini bisa juga berbeda kalau berada di kantor, menemui klien, di mana kita seyogyanya kita menjabat tangan seseorang yang mempunyai posisi tertinggi terlebih dahulu. Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepada orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.


Viele Grüße

Saturday, October 22, 2016

5 LANGKAH MENJADI AU PAIR DI JERMAN


Sebelumnya aku sudah posting tentang seluk beluk au pair, sekarang aku akan memberi tips yang aku peroleh dari pengalaman pribadi dulu sebelum menjadi au pair.

1. Mencari Host Family

Di tengah sibuknya menulis skripsi saat itu, kepalaku dipenuhi keinginan untuk berangkat ke Eropa. Awal Mei 2013, aku mendaftar di www.aupair-world.net, membuat profil (dalam bahasa Inggris, karena targetku saat itu bukan hanya Jerman, pokoknya Eropa, hehe) dan mengirim ke puluhan keluarga di berbagai negara di Eropa. Selang satu minggu aku selalu mendapat respons negativ, sampai di minggu kedua, ada seorang keluarga yang malah mengirim aplikasi ke aku dan menginginkanku menjadi au pairnya. Hatiku berdegup kencang sampai tidak bisa tidur bermalam-malam :D. Lalu aku pun berkomunikasi dengan keluarga tersebut lewat video call.
Selang satu bulan, aku tidak mendapat kabar dari keluarga tersebut dan aku berpikir mungkin keluarga tersebut tidak jadi memilihku. Di akhir Juni 2013, kubuka chat di skype ku dan aku menerima pesan dari mereka bahwa mereka sedang liburan satu bulan makanya tidak menghubungiku, namun mereka akan segera mengirim semua dokumen yang dibutuhkanku untuk mengurus Visa ke Indonesia. Aku senang sekali saat itu sampai akhirnya aku dikejutkan oleh berita bahwa batas usia untuk menjadi au pair di Jerman adalah 24 tahun, sedangkan aku saat itu 25 tahun.

Sedih, putus asa, kecewa, campur jadi satu. Siapa yang bisa merubah umur, kalau uang mah bisa aku cari, tapi kalau umur?. Namun keajaiban terjadi.

Aku saat itu punya teman orang Rusia, dia juga pernah tinggal di Jerman sementara waktu dan darinya aku tahu bahwa pemerintah Jerman baru saja mengubah aturan batas umur untuk menjadi au pair, yakni 26. Aku kurang percaya pada temanku itu, tapi dia meyakinkan bahwa sebelumnya dia juga ingin jadi au pair ke Jerman, Masih kurang percaya, aku mengirim email ke kedutaan Jerman di Jakarta dan menanyakan kebenarannya. Ternyata memang benar pemerintah Jerman telah mengubah batasan umur au pair menjadi maksimal 26 tahun yang artinya 1 tahun lagi kesempatan buatku.

2. KURSUS BAHASA JERMAN

Aku saat itu hanya tahu tiga kata saja dalam bahasa Jerman, Ich liebe dich. Tapi semangatku untuk datang Jerman membuatku semangat belajar demi lulus sertifikat A1.
Aku tidak kursus di Goethe, karena di malang tidak ada Goethe dan aku saat itu tidak ingin ke Surabaya dikarenakan masih sibuk dengan urusan wisuda. Aku les kepada guru bahasa Jerman yang mengajar di sebuah SMA selama satu bulan, dan sisanya belajar sendiri, download kisi-kisi test A1 sampai rajin lihat youtube tentang test A1 tersebut.

3. TEST A1 

Aku sangat bersyukur karena adikku merekomendasikan guru bahasa Jerman yang mengajar di sekolahnya untuk mengajariku. Hanya dengan membayar 400 ribu, aku diajarinya secara privat dasar-dasar dalam bahasa Jerman. Meskipun masih sangat plola plolo, aku memberanikan diri daftar test A1 di Goethe Institut Surabaya, aku masih ingat betul bahwa tanggal testku saat itu tepat satu hari setelah aku wisuda, yakni 25 Oktober 2013. Aku tidak ingin menunggu lama untuk test karena aku sudah membuat janji di kedubes Jerman di Jakarta pertengahan November.
Aku saat itu was-was sekali akan hasil test A1 ku, tapi di hari itu juga, kami diberitahu bahwa kami lulus atau tidak dan alhamdulillah aku lulus dengan nilai 76.

4. Apply VISA

* Pastikan kalian sudah punya passport :D. Aku dulu bikin paspor tepat sebulan sebelum aku test A1, sebelumnya kemana aja? hehe. Untuk membuat paspor, kalian bisa mengecek persyaratan apa saja yang diperlukan di websites kantor imigrasi setempat dan daftar online.
* Pastikan kalian sudah menerima semua dokumen dari pihak host family, saat itu aku butuh
Invitation Letter, Kontrak au pair, asuransi kesehatan yang sudah diurus pihak host family, dan keterangan bahwa aku telah terdaftar kursus bahasa Jerman
* Kalau aku dulu tidak diwajibkan membuat daftar riwayat hidup dan motivation letter, tapi saat ini untuk apply visa au pair dari Indonesia, pemohon harus menulis CV dan motivation letter. Untuk tips klik di sini dan untuk contoh CV serta motivation letternya, klik di sini
* siap di interview, pas foto dan uang 60 euro

Terus terang saat interview aku gagal total, aku sama sekali tidak paham apa yang ditanyakan penutur asli bahasa Jerman di kedubes saat itu, sampai dia rela switch bahasa ke bahasa Inggris agar aku bisa menjawab pertanyaan seputar apa yang aku lakukan sebelum memutuskan untuk menjadi au pair ke Jerman? jawabanku kuliah, lalu apa yang aku harapkan dari menjadi au pair, dan sebagainya.
Aku pasrah sekali tentang diterimanya visaku saat itu, tapi dalam 10 hari mereka menelfon bahwa visaku sudah bisa diambil (saat itu aku bisa mengambilnya di Konjen Jerman di Surabaya)

5. BERANGKAT

Gastfamilie ku saat itu bersedia membayar separuh uang pesawat dan mereka memesankan tiket pesawatnya dari Jerman. Kalau kalian beruntung, ada juga gastfamilie yang membayar tiket pulang pergi, tergantung  kesepakatan saat video call.
Tidak perlu membawa baju selemari, apalagi beras, dan segala macemnya. Di Eropa, banyak toko Asia yang menjual segala kebutuhan kita, dan gastfamilie pastinya juga menyediakan makan. Baju winter? Kita bisa membelinya di Eropa juga dengan harga yang relativ sama ketimbang membeli di Indonesia bahkan bisa lebih murah. Apalagi di Jerman banyak sekali flea market, kalian bisa membeli baju winter bekas dengan harga kurang dari 10 euro, meskipun bekas tapi bukan berarti kualitas rendahan, karena flea market di Jerman bukanlah pasar loak seperti di Indonesia, kita juga bisa jadi penjual di sana dan menjual baju, sepatu atau barang-barang yang sudah bosan dipakai. Makanya, di sana, kita juga membeli bukan dari penjual yang mengambil keuntungan semata, melainkan dari orang-orang biasa yang ingin merombak isi lemari karena sudah bosan misalnya.

Langkah terakhir>> Siapkan hati, jiwa, dan tenaga untuk berpetualang di Eropa, bertemu dengan banyak orang, melatih kemandirian, dan beradaptasi dengan budaya asing.

Demikian sedikit info tentang au pair, semoga menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Mengapa dulu aku memutuskan untuk mencari host family dulu lalu les bahasa? karena pada awalnya aku tidak hanya berfokus ingin ke Jerman, tapi di mana pun di Eropa, jadi aku tidak ingin aku belajar bahasa Jerman dulu, lalu dapat dan sregnya di keluarga Prancis. Tentu saja kalian bisa les bahasa terlebih dahulu dan fokus ingin kemana, pastinya jauh lebih baik kalau kita sudah mempunyai bekal bahasa dan ingin fokus memperdalamnya di sebuah negara.
Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

DILARANG lakukan 5 hal ini dalam menulis Motivation Letter untuk mengajukan Visa Au Pair dan FSJ ke Jerman

Baru-baru ini aku mendengar kabar bahwa pengajuan Visa untuk menjadi Au pair di Jerman kian diperketat. Beberapa orang yang aku kenal visanya ditolak dan satu diantaranya mendapat telefon dari Deutsche Botschaft di Jakarta yang mengabarkan bahwa visanya ditolak dengan alasan motivasi datang ke Jermannya tidak jelas. Baca juga 5W plus 1H dan segala macam tentang au pair
Berita tentang diperketatnya pendatang ke Jerman sudah aku dengar bahkan sebelum aku sendiri berangkat ke sana. Saat mengajukan visa Au pair, pihak Botschaft tidak mengharuskanku membuat motivation letter, namun setahun setelahnya, aku ingin kembali ke Jerman lagi dengan menjadi FSJ. Saat itu peraturan telah diubah dan aku wajib melampirkan motivation letter. Dari situlah aku tahu bagaimana membuat motivation letter untuk mengajukan visa ke Jerman
Berikut ini tips larangan agar kalian tidak sampai ditolak visanya.

1. Jangan Google Translate!

Usahakan menulis dengan bahasa kalian sendiri.  Dari situlah pemerintah Jerman tahu bahwa kalian jujur dan memang bersemangat mempelajari bahasa serta budaya. Mereka akan mudah sekali tahu bahasa google dengan bahasa terjemahan kalian sendiri.

2. Jangan Copy Paste!

Di bawah ini akan aku lampirkan contoh surat motivasiku saat mengajukan visa FSJ. Saat itu aku sudah satu tahun tinggal di Jerman dan sudah punya sertifikat B1, selain itu aku minta koreksi gastfamilie sebelum aku serahkan ke pihak embassy, jadi bahasanya meski amat sederhana, tapi aku mengerti apa yang tercantum di sana, karena aku membuatnya sendiri, dan gastfamilie hanya membantu mengoreksi saja. Kalian bisa mengambil contoh dari motivation letter mana saja tapi jangan asal copy paste dan ganti nama, namun pahami apa isi di dalamnya dan tulis kembali dengan bahasa kalian sendiri. 

3. Jangan Terlalu Panjang/Pendek!

Idealnya Motivation Letter untuk mengajukan Visa tidak terlalu bertele-tele tapi juga tidak terlalu singkat. Satu lembar saja tapi sudah memuat apa maksud dan tujuan kalian di sana.

4. Jangan menulis bahwa kamu akan melanjutkan Study atau Kerja atau Menetap di Jerman!

Ini kesalahan fatal kenalan-kenalanku yang kudengar bahwa visa mereka ditolak karena mereka menulis dalam motivation letter mereka bahwa setelah menjadi Au Pair atau FSJ, mereka ingin lebih lama tinggal di Jerman, study lah, agar mendapatkan kerja di Jerman lah, NOWAY!!!. Meskipun dalam hati kalian punya niatan seperti itu, simpan dalam hati saja, karena motivation letter yang kita tulis harusnya sinkron dengan program yang mereka buat, yakni: kalau au pair, ya satu tahun tinggal di sebuah keluarga, memperbaiki bahasa, lalu pulang, kalau FSJ, ya mendalami bahasa Jerman sambil ingin mempelajari budaya terutama budaya kerja di sana, lalu pulang:

5. Jangan tidak menyebutkan bahwa akan kembali ke Indonesia!

Artinya,  cantumkan bahwa setelah program tersebut kalian bertekad kembali ke Indonesia dengan membawa ilmu dari Jerman yang akan diterapkan di Indonesia. Ini akan memperkuat bobot motivation letter kamu, karena pemerintah Jerman mengadakan program au pair dan FSJ itu bukan untuk mengundang kalian datang ke Jerman lalu menetap atau menjadikan batu loncatan untuk kuliah (meski kenyataannya seperti itu), tapi agar pemuda yang datang diharapkan saat kembali bisa membawa ilmu yang mereka pelajari saat menjalani program-program tersebut. Jadi, wajib ditulis bawa kalian nantinya akan mempelajari bahasa dan budaya agar bisa kembali ke Indonesia dan mengaplikasikan ilmu dari Jerman yang telah didapat.


Kalau kalian ingin contoh motivasi letter, dan segala tetek bengeknya, klik di sini

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

80 Kata Yang mirip dalam Bahasa Indonesia dan Jerman

Kalau banyak kata serapan dalam Bahasa Jerman yang diambil dari Prancis, itu wajar karena keduanya masih berada di wilayah yang sama. Seperti halnya Kindergaten dalam bahasa Inggris yang diserap dari Bahasa Jerman. Tapi kalau Bahasa Indonesia dan Deutsch (Bahasa Jerman) ??

Berikut 80 kata yang sama secara penulisan dan/atau pengucapan antara Bahasa dan Deutsch yang aku temukan. Beberapa aku kelompokkan menurut kesamaan pengucapan, penulisan, atau hanya kemiripan semata. Namun semuanya memiliki makna yang sama.




BAHASA
DEUTSCH
1 GRATIS GRATIS
2 KATALOG KATALOG
3 TOTAL TOTAL
4 POSTER POSTER
5 TABU TABU
6 FATAL FATAL
7 FOTO FOTO (juga BILD)
8 TELEFON TELEFON
9 PLAKAT PLAKAT
10 POLITIK POLITIK
11 TARIF TARIF
12 ATLAS ATLAS
13 ALARM ALARM
14 BONUS BONUS
15 AULA AULA
16 KANDIDAT KANDIDAT
17 KOMA KOMMA
18 DRAMA DRAMA
19 MODERATOR MODERATOR
20 KOMENTATOR KOMENTATOR
21 SPONTAN SPONTAN
22 KRITIK KRITIK
23 KABEL KABEL
24 MUSIK MUSIK
25 FIRMA FIRMA
26 BRUTAL BRUTAL
27 STROM (Jawa) (juga LISTRIK) STROM
28 KREDIT KREDIT
29 LISING (Jawa) LISING
30 KLINIK KLINIK
31 ALKOHOL ALKOHOL
32 KARTON (juga KARDUS) KARTON
33 TANTE TANTE



34 BIR BIER
35 DIALEK DIALEKT
36 NANAS ANANAS
37 ROK ROCK
38 HEM HEMD
39 JURY JURI
40 KIOS KIOSK
41 MITOS MYTHOS
42 MOTO MOTTO
43 AKSEN AKZENT
44 BATERE BATTERIE
45 BENSIN BENZIN
46 KONFLIK KONFLIKT
47 KONSER KONZERT
48 KOMPAS KOMPASS
49 SIRKUS ZIRKUS
50 BASAR BASAR (bc: bazar)
51 LAMPU LAMPE
52 KOPER KOFFER
53 LOGIS LOGISCH
54 HANDUK HANDTUCH
55 WASLAP WASCHLAPPEN (bc:washlap)
56 FANTASTIS FANTASTISCH
57 BOMBASTIS BOMBASTISCH
58 LAP LAPPEN
59 BESUK (Jenguk) BESUCH
60 TRADISIONAL TRADITIONAL
61 BIOLOGI BIOLOGIE
62 KOMENTAR KOMMENTAR
63 KONSONAN KONSONANT
64 KONTAK KONTAKT
65 KANTIN KANTINE



66 SYAL SCHAL
67 GELAS GLAS



68 DEMOKRASI DEMOKRATIE
69 BIOGRAFI BIOGRAPHIE
70 KAPITALISME KAPITALISMUS
71 SOSIALISME SOZIALISMUS
72 LIBERALISME LIEBRALISMUS
73 GEOGRAFI GEOGRAPHIE
74 PAPRIKA PAPRIKA
75 MAGNET MAGNET
76 DRAMATIS DRAMATISCH
77 TRAUMATIS TRAUMATISCH
78 POP POP
79 JAZZ JAZZ
80 AQUARIUM AQUARIUM






Ke-80 kata diatas aku kelompokkan berdasarkan kemiripannya. 33 Kata pertama merupakan kata yang sama persis penulisan, pengucapan dan maknanya. Kata berikutnya sampai nomor 65 merupakan kata yang mirip penulisan dan pengucapannya. Kata nomor 66 dan 67 merupakan kata yang mirip pengucapannya. Dan kata sisanya (sampai nomor 80) adalah kata serapan international yang tentunya mungkin tidak hanya dalam bahasa Indonesia dan Jerman saja, tapi juga di bahasa lain.

Demikian sharing kita kali ini

Viele Grüße

Wednesday, October 19, 2016

Pernikahan?? Jerman vs Indonesia

kue tart di pesta pernikahan
Percaya nggak percaya 10 dari 10 orang Jerman bakal melongo saat aku cerita,
'Kalau orang menikah di Indonesia, khususnya di kampung aku, minimal tuan rumah bakal ngundang 500 tamu, teman aku bahkan ngundang 3000 tamu dalam pesta pernikahannya'

'Oh Gott das kriegen wir gar nichts hin!!' (Ya Tuhan, nggak sanggup kita kalau kayak gitu)

Pernikahan ala Jerman maksimal mengundang 100 orang, itu pun menurut mereka sudah amat sangat banyak. Teman dari gast family ku bahkan hanya mengundang 15 orang. dan sedihnya yang bisa datang hanya 2 orang saat itu. :(

Kenapa orang Jerman hanya mengundang sedikit sekali orang di pesta pernikahannya? karena mereka hanya ingin orang terdekat saja yang datang, teman dekat, keluarga, dan kerabat yang dekat.
Lalu teman yang lain?

Banyak perbedaan seputar pernikahan ala Jerman dan Indonesia yang akan aku bahas di sini salah satunya tentang tamu yang diundang seperti contoh di atas. Apa saja perbedaannya, silakan menyimak.

1.Pre Wedding

Pre wedding termasuk foto pre-wed, dan persiapannya. Di Indonesia, kalau tidak pakai wedding organizers, satu sampai 4 bulan sebelum acara pernikahan, orang tua, kerabat, teman dekat, mempelai sendiri akan sangat sibuk mempersiapkan pernikahan. Mulai dari mencetak undangan, pesan riasan, foto pengantin, deko, dll. Di Jerman?
Pasangan yang akan menikah pastinya sibuk banget, tapi rata-rata mereka memepercayakannya pada wedding organizer yang dibayar untuk mengurusi ini itu. Tapi mempelai juga mulai dari 1 tahun sebelum acara sudah sibuk merencanakan pesta mulai dari memilih atau membuat baju pengantin, memesan kue, sampai mendaftar di gereja dan catatan sipil, dsb.

2. Undangan

Populer sekali di Indonesia mencetak undangan dengan foto pre wedding, namun tidak di Jerman. Mereka mengedarkan undangan yang simpel saja tanpa foto, ada yang memakai foto tapi tidak banyak, banyak juga yang membuat undangan kreativ sendiri (karena mereka juga tidak mengundang ribuan orang) berupa puzzle atau buku kecil, dll.

3. Tamu Undangan

Seperti yang aku sebutkan di atas, di Jerman, tamu yang diundang tak akan mencapai ribuan orang. 100 sampai 200 itu pun sudah sangat maksimal. Berbeda dengan di Indonesia yang menyebarkan undangan seminggu sebelum acara pernikahan, di Jerman mereka menyebarkankan undangan 2BULAN -6BULAN sebelum acara berlangsung. Mengapa? karena orang Jerman hidup dengan penuh rencana dan appointment sana sini. Kalau mereka tahu bahwa 6 bulan lagi mereka di undang di pesta pernikahan, mereka akan menulisnya di kalender dan dipastikan datang, kalau jarak diundangnya hanya seminggu, dipastikan tidak ada yang datang karena seminggu berikutnya pasti sudah tertera jadwal-jadwal lain yang harus dihadiri.

4. RSVP 

contoh rsvp, diambil dari: https://rsvpify.com/wp-content/uploads/2016/07/How-to-RSVP-Card.png
RSVP berasal dari bahasa perancis répondez, s'il vous plaît, yang artinya please response atau reply!!. RSVP dikirim beserta undangan kepada tamu yang diundang dan ini wajib dikirim balik kepada pengundang agar mereka tahu jumlah tamu yang datang. Di RSVP biasanya tertera dengan siapa anda akan datang, makanan apa yang akan anda pilih (vegetarian atau bukan), apakah anda akan membawa anak, dsb. RSVP bisa juga dikirim lewat online atau sms secara pribadi sesegera mungkin agar EO atau pengantin bisa mengorganisir acara precisely.

5. LOKASI

Tak ada orang Jerman yang mengadakan acara pernikahan di rumah seperti yang biasa kita jumpai di Indonesia apalagi memasang sound system keras-keras, bisa-bisa masuk penjara dilaporkan polisi karena dianggap membuat gaduh dan mengganggu ketertiban umum nantinya. :D. Orang Jerman biasanya menyewa tempat seperti taman, hotel, pantai, dsb. Dan tamu undangan harus membayar sendiri biaya akomodasinya. Itulah gunanya undangan disebar jauh-jauh hari sebelumnya agar para tamu tahu berapa uang yang akan mereka keluarkan demi menghadiri acara pernikahan seorang teman.

6. CATATAN SIPIL atau AGAMA

Berbeda dengan di Indonesia, di Jerman, orang boleh hanya secara sipil menikah. Mereka tidak harus menikah secara agama karena tak sedikit orang yang tak mempunyai agama. Kalau mereka ingin menikah ya lapor secara sipil, membayar dengan biaya tertentu dan pemerintah akan mencatat serta memeberikan akta nikah.

7. ADAT MENIKAH

Karena Indonesia memiliki ratusan adat istiadat dan tradisi, termasuk pernikahan, maka menikah juga jadi salah satu symbol tradisi. Kalau di Jerman, tradisi tidak terlalu kental dan ditonjolkan, jadi menikah bukanlah sebuah symbol adat istiadat, melainkan sebuah peresmian sebuah hubungan. Tidak ada acara menginjak telur, dipingit, dsb.

8. RESEPSI PERNIKAHAN

Karena tamu yang datang tidak banyak, mempelai bisa ngobrol dan menyambut tamunya satu persatu (bukan tamu yang menghampiri mempelai), tidak ada kwade (kursi mempelai). Jadi mempelai makan di meja makan yang disediakan bersama setelah acara ijab kabul (peresmian menjadi suami istri). Ada juga acara sambutan-sambutan dari orang tua mempelai laki-laki dan perempuan, dari sahabat laki-laki dan perempuan, sambutan dari kedua mempelai, sejarah cinta mereka yang akan dibagikan kepada para tamu, permainan, memotong kue, dan dansa sampai menjelang pagi. Jadi para tamu undangan tidak hanya menghadiri acara pernikahan selama 30 menit, menaruh hadiah, makan, salaman lalu pulang, tapi meluangkan waktu sehari sampai 2 hari untuk menghadiri acara pernikahan tersebut. Kalau tamu datang dari luar negeri, bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan, oleh sebab itu, kembali ke topik undangan dan RSVP yang harus dikirim dan dikembalikan jauh-jauh hari sebelumnya.

9. BINGKISAN RESEPSI

Sama seperti di Indonesia, para tamu juga memberi hadiah. Di Jerman juga umum memberi uang atau juga hadiah. Dan mempelai juga memberi souvenir oleh-oleh yang diberikan kepada setiap orang yang datang, laki-laki juga dapat souvenir.

contoh souvenir: isinya permen.

10. UCAPAN TERIMA KASIH

Di Jerman, sekitar 2-4 minggu setelah acara resepsi, mempelai biasanya mengirim kartu ucapan terima kasih dan foto-foto mereka bersama mempelai lewat pos. Mungkin ini belum ada di tradisi Indonesia.

Contoh kartu ucapan terima kasih
Demikian akhirnya aku punya waktu juga untuk menulis tentang pernikahan ala Jerman. Semoga tulisanku yang sedikit tadi menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, dan budaya Jerman tentunya semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

Au Pair ????????? (5W+1H)




Banyak jalan menuju Roma adalah kalimat yang tepat untuk kita yang sedang memutar otak berusaha mewujudkan mimpi berpetualang ke luar negeri. Ada sebagian dari kita yang punya mimpi besar, namun, faktor ekonomi yang membuat kita sering merasa kurang beruntung dan akhirnya berputus asa demi meraih mimpi tersebut. Come on guys. Kita hidup di jaman di mana dengan meng-klik saja kita bisa mendapatkan semua informasi yang kita butuhkan. Asal mau berusaha, impian kita sudah terbentang di depan mata.

Bermula dari aku yang waktu itu mencari referensi menulis skripsi, aku menemukan judul skripsi yang menggugah hati serta impian untuk berpetualang ke Eropa, judulnya adalah: Culture Shock and Cross Cultural Understanding between Indonesia and Netherland Based on Indonesian Au Pair in Netherland. Skripsi yang di tulis kakak tingkat tersebut menjelaskan tentang kisah beberapa pelajar Indonesia yang hidup di Belanda selama satu tahun dengan menjadi Au Pair, mereka menjelaskan bagaimana akulturasi budaya yang mereka dapatkan dan pelajari selama hidup dengan menjadi au pair di Belanda. Dari situlah aku tahu apa itu au pair.

 1. What: Apa sih program au pair itu?

Kata Au Pair berasal dari bahasa Perancis yang berarti 'by mutual agreement' atau pasangan/perjanjian. Jika kita memaknai kata pasangan, mungkin akan terbayang di benak kita kata simbiosis. Ya simbiosis mutualisme, pasangan yang saling menguntungkan. Karena kita tidak membahas au pair secara harfiah, maka aku akan jelaskan makna au pair dari pengalaman yang aku tahu saja.
Menjadi Au Pair berarti menjadi seorang warga asing di negara tertentu demi mempelajari bahasa dan budaya dengan tinggal di sebuah keluarga (host family) dan membantu mereka mengasuh anak. Ada juga au pair yang tinggal bersama host family yang tidak mempunyai anak, namun orang tua (manula).
Program Au Pair sangat popular di Eropa sejak tahun 90 an dan banyak remaja usia mulai umur 18 melakukannya, tentang batasan usia au pair, tergantung negara tujuan, contohnya di Jerman, batas usia menjadi au pair adalah 26 tahun. Program yang disediakan pemerintah di berbagai negara di dunia ini sangat membantu para keluarga yang membutuhkan support mengurus anak dan juga para au pair untuk mempelajari Bahasa Asing.
Selain diberi uang saku tiap bulan, pihak keluarga WAJIB memberi kursus bahasa kepada sang au pair. Jam kerja au pair juga sangat dibatasi, yakni 30 jam per minggu, lebih dari itu, pihak keluarga akan memberi gaji tambahan (sesuai kesepakatan bersama). Selain itu, au pair juga dianggap sebagai bagian dari keluarga, ikut makan di meja makan yang sama, kadang juga diajak liburan bersama. Tak jarang pihak keluarga dan au pair akan menjadi seperti saudara, teman, bahkan ada juga keluarga yang balik mengunjungi ke negara asal au pair.

2. Who: Siapa yang bisa jadi au pair?

Program Au Pair dikhususkan kepada para pemuda di seluruh dunia. Tak hanya para pemuda di Asia yang ingin belajar bahasa lalu jadi au pair di Eropa, banyak sekali remaja dari Amerika, Inggris, Jepang, yang aku temui saat jadi au pair di Jerman dulu. Tak ada yang menganggap au pair itu pekerjaan seperti TKW, atau babysitter, karena banyak anak yang notabene kaya raya di Jerman rela jadi au pair di Australia atau Amerika demi memperbaiki bahasa Inggris dan travelling, demikian pula sebaliknya. Mereka (orang Eropa) yang aku temui akan bilang, wow, cool kamu bisa jadi au pair di Jerman.
Meski pekerjaan utamanya adalah mengurus anak, bukan berarti program au pair dikhususkan untuk anak perempuan saja. 4 dari 10 au pair Indonesia yang aku temui di Jerman buktinya adalah laki-laki. Banyak keluarga yang malah ingin punya au pair laki-laki karena anak-anaknya juga laki-laki dan mereka ingin au pairnya bisa jadi kakak bagi mereka.

3. When: Kapan bisa jadi au pair?

Batasan usia untuk menjadi au pair adalah 18-30 tahun, tergantung dari peraturan pemerintah di masing-masing negara penerima au pair. Dan di masing-masing negara, kita hanya bisa menjadi au pair maksimal satu tahun saja. Misalnya, tahun ini jadi au pair di Jerman, kita masih ingin tinggal di Jerman dan memperbaiki bahasa Jerman, namun tidak bisa memperpanjang visa au pair, kalau kita tidak ingin jadi sukarelawan (FSJ) dan betah jadi au pair, maka cara satu satunya adalah pindah keluarga yang berada di negara berbahasa Jerman, contohnya Austria, atau Swiss (pindahnya jangan ke Swiss di mana kota yang berbahasa Prancis atau Italy ya) :)

4. Where: Di mana kita bisa jadi au pair?

Remaja dari Indonesia bisa jadi au pair ke sebagian besar negara Eropa, misalnya Jerman, Austria, Belanda, Prancis, dsb. Namun tidak bisa ke Inggris (Great Britain), Amerika, dan Australia. Kalaupun ada yang bisa, mereka membuat visa non-au pair, contohnya visa travel and work ke Australia. Ada baiknya kita check dulu negara yang kita inginkan di websites kedutaan besarnya, atau bisa juga check di sini. Pastikan negara yang kalian inginkan menerima au pair dari Indonesia, kalau tidak, akan menyesal nantinya karena kalian sudah apply keluarga sana sini, dapat kabar kalau keluarga tersebut mau menerima kita, tapi saat mau apply visa, ternyata negara asal keluarga tersebut tidak menerima au pair dari Indonesia.
Kalau au pair dari Jerman (atau negara EU), bisa jadi au pair kemana saja, bahkan ada juga yang jadi au pair ke Indonesia. Prinsipnya, au pair itu bukan pekerja yang berasal dari negara miskin/berkembang lalu mencari uang ke negara kaya. Banyak juga anak muda Eropa yang tertantang jadi au pair ke Jepang, Korea, bahkan Indonesia, karena mereka ingin bertukar budaya dan mempelajari bahasa.

5. Why: Mengapa au pair?

Au pair bagiku adalah sebuah program batu loncatan untuk meloncat ke mimpi selajutnya. Menjadi au pair adalah cara paling mudah untuk pergi ke Eropa tanpa uang sepeserpun dan tanpa beasiswa. Selain itu ada banyak sekali pertimbangan mengapa mau menjadi au pair:
* dapat uang saku. Memang tidak besar, di Jerman dapatnya hanya 260 euro perbulan. Dan uang segitu amat sangat tidak cukup untuk hidup di Eropa. Tapi kan kita tinggal dijamin oleh hostfamily? jadi kalau kita bisa sangat hemat, kita bisa nabung buat jalan-jalan keliling Eropa, atau bahkan nabung untuk mimpi kuliah di Eropa nantinya. Selain uang saku, kita juga bisa minta tambahan uang kalau kita bekerja lebih dari jam yang ditentukan di dalam kontrak kerja. Dulu aku diberi tambahan 15 euro dari kerja pagi, dan 30 euro kalau mau bantu bersih bersih selama 3 jam. Lumayan juga hasilnya aku bisa mengantongi uang 600 euro perbulan bersih. Teman aku yang jadi au pair di Hamburg dapat uang saku 260 euro, uang makan 100 euro (karena dia tinggal di apartemen terpisah), uang transport per bulan 50 euro, uang pulsa 20 euro. Udah gitu dia kerjanya cuma jam 14.00 sampai 18.00 saja, jadi kalau pagi, atas ijin keluarga, dia bisa kerja sambilan (jadi baby sitter atau bersih-bersih)
* belajar bahasa. Dengan tinggal bersama orang asing, mau tidak mau kita harus mendengar, menimpali pembicaraan dengan bahasa mereka atau bahasa Inggris.
* bisa travelling keliling Eropa. Sesuai perjanjian dengan host family sebelum berangkat, aku meminta jatah libur satu bulan full di bulan desember untuk keliling Eropa. Saat jadi au pair dulu, selama satu tahun, aku bisa menjelajahi lebih dari 40 kota dari 9 negara Eropa.
* menambah pengetahuan tentang keanekaragaman kebudayaan. Mana mungkin tidak, kalau kita tinggal di sebuah keluarga, kita pasti akan mengadaptasi pola dan budaya dari keluarga tersebut, contohnya adab saat makan, saat berbicara. Aku dulu sering banget dianggap tidak sopan karena suatu hal yang biasa aku lakukan di Indonesia, contohnya menggunting kuku di depan TV, orang Jerman hanya menggunting kuku di kamar mandi. :D
* awal dari segala mimpi. Bersyukurlah kalian kalau masih diberi kesehatan, dan keluarga yang baik yang mau menanggung biaya pendidikan di Luar Negeri, atau kalian yang mempunyai otak cemerlang dan bisa mendapatkan beasiswa setelah lolos dari seleksi yang amat ketat. Namun, diantara kita, hanyalah punya mimpi. Jadi, hanya modal mimpi dan usaha yang keras, jadi au pair adalah salah satu cara mewujudkan impian kuliah serta tinggal di Eropa.

6. How: Bagaimana menjadi au pair? 

a. Daftar sendiri: 

Ada puluhan situs pencari au pair dan keluarga yang tersebar, tapi aku dulu daftar lewat situs:
https://www.aupairworld.com
Situs ini gratis, (meskipun kita bisa juga daftar premium member), sangat relevant dan anti spam.

b. Lewat Agency: 

Mantan au pair yang sudah berpengalaman tinggal di Eropa dan punya koneksi beberapa keluarga host family, biasanya membuka agency penyedia informasi tentang au pair, host family, dan juga pelatihan bahasa. Dengan membayar sejumlah uang tertentu, kita bisa menjadi au pair lewat agency ini.

c. Dari kenalan

Jangan segan-segan menambah teman, bukankah banyak teman banyak rezeki?. Banyak keluarga yang terus ingin au pairnya berasal dari Indonesia, jadi mereka biasanya tanya kepada au pairnya, apakah punya kenalan di Indonesia yang mau jadi au pair?. Nah, kalau kalian rajin mencari informasi dan dengan sopan kenalan ke beberapa au pair yang sudah tinggal di Eropa, kalian bisa dapat link keluarga yang mau jadi host family.

Demikian sedikit info tentang au pair, semoga menambah pengetahuan dan jadi inspirasi. Akan banyak info, tips dan kisah seru lainnya yang akan aku bagi seputar au pair, Jerman, FSJ, Kuliah, semoga aku akan terus punya semangat untuk menulis. Hhehhe.

Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

Saturday, October 15, 2016

7 DEFINISI SEBUAH HUBUNGAN ala ORANG JERMAN

7 DEFINISI SEBUAH HUBUNGAN ala ORANG JERMAN

 


Istilah PHP, HTS, TTM nggak cuma ada di Indonesia saja tapi juga di Jerman. Sebelum membaca artikel berikut, pastikan kita semua membuka pikiran tentang perbedaan budaya timur dan barat yang sangat bertolak belakang. Di budaya timur, meski ada istilah pacaran, membicarakan apa yang dilakukan di dalamnya masih sangat tabu untuk dilakukan, meskipun tak sedikit remaja bahkan orang dewasa yang saat masa pacaran sudah melakukan apa yang dilarang oleh agama. Namun di budaya barat, istilah ciuman sampai berhubungan sex bukanlah hal yang tabu untuk dibahas.

Kalau kalian benar-benar baru menginjakkan kaki di Eropa khususnya di Jerman dan belum tahu bagaimana cara orang Jerman memandang dan mendefinisikan sebuah hubungan asmara, baik sesama maupun lawan jenis, artikel ini mungkin akan sangat membantu kalian agar tidak salah menilai, memahami atau bahkan baper kalau dekat dengan orang Eropa.

1. EHEPAAR

PASUTRI atau pasangan suami istri. Hubungan yang diresmikan secara hukum dan agama ini menempati urutan tertinggi dalam definisi sebuah hubungan di Jerman. Pasalnya, mereka resmi dan terikat oleh sebuah hukum. Pasangan yang memutuskan untuk menikah seharusnya benar-benar berkomitmen dan meyakini bahwa pasangannya lah yang akan mendampingi seumur hidup, pasalnya kalau sudah menikah dan memutuskan untuk bercerai, biaya perceraian amat sangat mahal. Oleh sebab itu, tak sedikit pula pasangan yang memilih untuk tidak menikah meskipun sudah memiliki beberapa orang anak.

2. VERLOBT

TUNANGAN. Kita semua tahu bahwa pertunangan adalah sebuah tahap antara masa pacaran dan pernikahan. Di Jerman juga seperti itu, hanya saja ada sebuah peraturan atau etika khusus (seperti di semua budaya barat), bahwa laki-laki yang meminta si wanita menikah, mereka akan memikirkan ide khusus yang akan membuat wanita terkesan dan dikenang seumur hidup sebelum mengucapkan, 'will you marry me?' ... kalau di Indonesia, mungkin seperti acara menembak, biasanya cowok akan bertanya, 'kamu mau nggak jadi pacarku' ... setelah jadi pacar, pihak laki-laki juga meminang tak hanya kepada si perempuan namun juga keluarganya.

3. DATE + SEX

PACARAN. Nge-date. Penjajakan atau PDKT sebelum pacaran. Beda PDKT di Jerman dan di Indonesia. Di Jerman, seseorang bertemu dulu, melalui ketertarikan fisik, mereka meneruskan ke hubungan badan, namun belum tentu mereka disebut pacaran (lihat definisi dibawah). Mereka akan mencoba mendekatkan diri satu sama lain (tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental) apakah orang tersebut sesuai atau tidak untuk dijadikan pacar, sampai ada salah satu yang mungkin bertanya, 'kita ini pacaran atau hanya teman' atau menyatakan bahwa hubungan ini adalah pacaran, kamu adalah pacarku.
Ada yang sampai 6 bulan sudah berhubungan sex, namun belum pacaran, ada yang baru sekali tapi si cowok sudah bertanya, apakah kamu mau kita mempunyai hubungan sebagai pacar, ada juga yang sudah berkali-kali berhubungan sex tapi ternyata salah satu merasa tidak cocok, lalu memutuskan untuk tidak berpacaran.


4. NORMAL COUPLE

PASANGAN atau PACAR.  Meskipun terdengar sedemekian bebasnya, orang Jerman adalah orang yang paling memahami kondisi orang yang dianggapnya penting terutama pacar yang mereka sayangi. Banyak kisah pacaran beda budaya dan orang Jerman sangat mengerti bahwa budaya timur sangatlah berbeda, lalu tetap berusaha mendekatkan diri kepada pilihannya tanpa berhubungan sex sampai menikah. Karena keputusan untuk pacaran dan berhubungan sex adalah keputusan dua belah pihak, jika salah satunya tidak ingin, dan yang lainnya mau mengerti, maka gaya pacaran ala barat yang bebas tadi pun tak akan terjadi.
Di Jerman, open-relationship juga sangat populer. Open relationship adalah hubungan pacaran namun ada kesepakatan bahwa kedua belah pihak berhak menjalin hubungan dengan orang lain. Pihak ketiga dari open relationship biasanya tahu bahwa orang yang berhubungan sex dengannya berstatus pacaran dengan orang lain. Meski ketiga atau keempatnya saling terbuka, hubungan jenis ini sangat tidak disarankan, bahkan orang Jerman sendiri menilai hubungan ini terlalu bebas dan tidak sehat.

5. ZUSAMMEN LEBEN

PACARAN dan TINGGAL BERSAMA. Di sebagian besar negara berkebudayaan barat, tinggal bareng pacar atau tunangan adalah hal yang sangat wajar. Banyak faktor yang memungkinkan pasangan memutuskan untuk tinggal bersama, diantaranya:
- sejak umur 18 tahun, remaja sudah dibiasakan lepas dari orang tua jadi tinggal bersama siapapun adalah keputusan pribadi, orang tua tidak akan ada yang melarang.
- faktor ekonomi, tinggal bersama dirasa lebih irit karena bisa menyewa satu apartmen buat dua orang
- mereka yang belum ingin menikah tinggal bersama sambil mendekatkan serta meyakinkan diri apakah orang ini tepat untuk dijadikan teman seumur hidup nantinya. Tak jarang pasangan yang tinggal bersama bertahun-tahun dilanda rasa tidak cocok dan bosan kemudian putus.

6. FRIEND WITH BENEFIT

TTM, yup, benefit atau keuntungan yang dimaksud disini adalah MESRA dalam TTM, artinya mereka punya hubungan pertemanan, teman dekat, mengerti satu sama lain, memutuskan untuk tidak pacaran, namun tetap berhubungan badan.

7. FICKBEZIEHUNG

HTS, hubungan tanpa status... yang dimaksud hubungan disini pastinya hubungan badan, beda dengan yang di Indonesia, hubungan kesana kemari, tapi nggak ada kejelasan status. Fickbeziehung ini lebih mengarah kepada 2 orang yang saling berkomitmen untuk bertemu hanya untuk melakukan hubungan sex saja, tanpa hubungan pertemanan, tanpa urusan bawa perasaan, dsb. Tidak ada pihak yang diuntungkan atau dirugikan karena kesepakatan berasal dari dua belah pihak.

Demikian penjelasan seputar definisi hubungan ala orang Jerman. Semoga menambah wawasan kalian tentang perbedaan budaya kita dan Jerman. Aku senang berbagi dengan kalian. Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.



Viele Grüße

10 macam TEMAN ala Jerman


10 Kategorisasi atau Pengelompokan Teman menurut orang Jerman


Di Indonesia, teman facebook yang baru nge add kamu secara acak bisa kita kategorikan sebagai 'teman' atau teman dunia maya, teman facebook, teman sosmed, dsb. Sah sah saja bilang, "Oh, kamu kenal dia juga? dia teman SMA ku dulu". Padahal nggak pernah sekelas, cuma tau nama, nggak pernah ngobrol, nggak pernah tau apapun tentang dia. Ah, indahnya ketika kita bisa mensahabati siapa saja bahkan orang yang bertemu di kereta api dengan tidak sengaja dan bertukar facebook, kita bisa menyebutnya teman.

Lalu bagaimana budaya pertemanan di Jerman?

Setelah sekian lama tinggal di Jerman (hampir 3 tahun), aku hanya punya 3 gelintir teman (orang Jerman), yang bisa kuanggap atau kusebut teman. Dulu aku biasa menyebut, oh dia temanku, tapi sekarang, aku sadar, mungkin cuma aku saja yang menganggap mereka teman, padahal mereka punya definisi lain tentang teman, dan aku hanya dianggapnya kenalan.

Berikut ini kategorisasi pertemanan menurut orang Jerman (dari yang paling sepele ke yang paling penting)

1. BEKANNTER

KENALAN. Definisi Bekannter menurut orang Jerman adalah seseorang yang mereka temui saat pergi ke sebuah tempat, ke luar negeri lalu sedikit bercakap, berbasa basi, mengobrol berhari-hari, tukar pikiran lalu berpisah dan setelah itu masih sesekali chatting basa basi tanya kabar, tanpa tahu hal-hal sangat pribadi satu sama lain.

2. KLASSENKAMERAD

TEMAN SEKOLAH. Bisa juga teman sekelas, yang mereka tahu namanya, tahu orangnya, tahu di mana rumahnya, siapa orang tuanya, tapi jarang ngobrol dan tak tahu menahu kehidupan, sifat, masalah pribadi satu sama lain. Bisa saja mereka tahu tapi hanya dari orang lain.

3. MANNSCHAFTKOLLEGEN

TEMAN KLUB. Orang Jerman biasanya ikut club club tertentu agar bisa menambah kenalan, contohnya klub olah raga, klub bermain piano, balet, sepak bola, menari, dsb. Jika mereka hanya bertemu di klub itu saja, mengobrol hanya seputar klub, dan tak pernah jalan di luar kegiatan klub, maka teman klub belum bisa disebut teman, hanya sebatas MANNSCHAFTKOLLEGEN.

4. MITBEWOHNER

Tinggal bersama, tanpa tahu satu sama lain. Ini yang aku alami selama satu tahun setengah. Aku tinggal bersama salah satu wanita Jerman dan selama satu tahun setengah itu, aku hanya tahu siapa namanya, siapa nama anak-anaknya dan dia bekerja di mana. Berbeda sekali saat dulu aku ngekos di Indonesia, seluruh penghuni kos yang berjumlah 20 itu, aku tahu semua tetek bengeknya, mulai dari jadwal kerja kantornya sampai masalah pribadi ditinggal pacar misalnya. :)

5. NACHBARN

TETANGGA. Jangankan menikah, selametan di kampung aja, kita biasa mengundang dari segala penjuru, RT bahkan RW. Di Jerman, kalau tinggal di desa kecil yang penduduknya nggak lebih dari 100 keluarga, kita bisa maksimal, mengenal 5 tetangga. Bisa mengundang mereka minum teh, barbeque, dan mengajak anak-anak ke taman bermain bersama, selebihnya, mereka yang bisa akrab dan memahami satu sama lain, akan berteman, yang tidak ya bertetangga saja. Tetangga juga punya privacy nya sendiri-sendiri. Misalnya di acara barbeque keluarga, kalau tetangga tidak diundang, mereka juga tidak akan datang, meskipun mereka sebelumnya telah mengenal keluarga dari tetangganya tersebut.

6. STUDIENKOLLEGEN

TEMAN KAMPUS. Hampir sama dengan Klassenkamerad, bedanya studienkollegen ini biasanya lebih akrab ketimbang hanya mengenal nama, mereka bisa saja satu jurusan dan sering mengerjakan tugas bersama, lama kelamaan akrab. Namun, saat mereka lulus kuliah dan kembali ke kota masing-masing, keakraban berkurang. Mereka akan menyebutnya saat akrab teman, namun saat sudah tidak akrab lagi, hanya studienkollegen.

7. KOLLEGE atau KOLLEGIN

REKAN KERJA. Kita di Indonesia juga punya rekan kerja bukan? Tak jarang kita malah menjadi teman akrab dari salah satu atau beberapa rekan kerja kita. Di Jerman juga ada seperti itu, namun jarang ada rekan kerja yang maen bareng, ngrumpi bareng tiap hari, makan, dan nge mall bareng. Di tempat kerja mereka akrab, setelah itu ya punya hidupnya masing-masing. Aku menulisnya 'jarang', berarti ada juga rekan kerja yang jadi teman dekat, pacar atau malah jodoh.

8. KUMPEL

SAHABAT. Istilah kumpel hanya diperuntukkan kepada sahabat laki-laki saja. Kumpel adalah kawan akrab yang saling mengerti satu sama lain. Lalu bagaimana kalau seorang laki-laki punya sahabat perempuan tapi bukan pacar? mereka tidak menyebutnya Kumpel, melainkan eine Freundin. EINE disini penting dan harus ditekankan agar pendengar tidak salah tanggap dan menganggap pacar.

9. EINE FREUNDIN atau EIN FREUND

Harfiahnya TEMAN, namun arti untuk orang Jerman adalah SAHABAT. Seperti yang dijelaskan di atas, ketika seorang laki-laki atau perempuan mempunyai sahabat laki-laki, maka mereka menyebutnya kumpel, mereka juga bisa menyebutnya einer Freund von mir (friend of mine, my friend). Sebaliknya juga untuk sahabat perempuan, mereka menyebutnya eine Freundin atau eine Freundin von mir. Freund/friend/teman menurut orang Jerman diperuntukkan bagi mereka yang sudah kenal satu sama lain nggak hanya satu dua tahun, tapi bertahun-tahun, mengerti dan ada di saat senang maupun susah, kita mengenalnya dengan istilah sahabat.

10. FREUND atau FREUNDIN

PACAR. Pacar adalah tingkatan keakraban tertinggi dari hanya sekedar pertemanan. Baca juga: Definisi Hubungan Menurut Orang Jerman. Tak hanya lawan jenis, pernikahan sesama jenis sudah diijinkan di Jerman.  Ketika kamu di Jerman, punya kenalan orang Jerman, lalu mereka menceritakan atau mengenalkan seseorang  kepadamu, harus pasang telinga betul-betul apakah mereka bilang, das ist meine Freundin atau das ist ne Freundin von mir.

Meine Freundin atau mein Freund artinya pacar aku, tapi kalau mereka bilang eine Freundin, ein Freund artinya ini teman aku. Kadang aku berpikir lucu juga orang Jerman yang punya klasifikasi terperinci tentang semua hal, namun mereka tidak punya istilah lain untuk menyebut pacar.


Berikut postingan dari saya, semoga menambah pengetahuan tentang perbedaan budaya antara Jerman dan Indonesia. Semua yang aku tulis adalah berdasarkan observasi pribadi tanpa berusaha men-generalisasikan orang menurut kebangsaannya dan agar kita bisa lebih tahu, lebih terbuka tentang dunia luar. Dan agar kita jadi nggal salah persepsi bahkan sakit hati atau tersinggung bila bertemu dengan orang Jerman dan kita sudah merasa akrab dan menganggap mereka teman, tapi mereka biasa saja ke kita.

Aku senang berbagi dengan kalian. Aku senang bisa berbagi dengan kalian, akan lebih senang lagi bila kalian juga mau membaginya kepda orang lain, kakak, adik, saudara, yang barang kali ingin tahu serta menambah wawasan tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman. Aku menerima kritik, saran agar kedepannya aku bisa sharing hal-hal unik yang bermanfaat dari Jerman. Sampai ketemu di topik lainnya.

Viele Grüße

Join Facebook

Followers

Google+ Followers