Wednesday, August 16, 2017

Mimpi Ke Jerman: Cinta Itu...Datangnya Tak Pernah Salah Waktu, Apalagi Salah Kamar!

Aku ini penggemar berat cerita Chicken Soup for the Teenager Soul. Tak mengherankan juga kalau aku suka tergila-gila pada kisah unik, menarik dan inspiratif dari orang-orang yang kukenal, atau yang tak kukenal, dari motivator atau ulama misalnya. Selama kisah itu memberikan inspirasi, motivasi, dan berkesan, pasti akan selalu menancap di otak. Seperti kisah yang akan aku ceritakan kali ini.

Aku punya sahabat yang berasal dari Medan. Meski kadang menjengkelkan karena wataknya yang keras, hatinya lembut dan penyabar. Bisa kubilang dia seorang yang agamis, karena tiap minggu dia ke gereja dan aktif dalam acara kebaktian. Suatu ketika, karena sebuah kecelakaan yang mematahkan lengan kanannya, aku disuruh bantu-bantu membersihkan rumahnya, yang bayar gajiku adalah pihak asuransi.

Baca juga: Mengapa saat sakit di Jerman, kita tak perlu pusing-pusing membersihkan rumah?

Yang aku suka dari temanku itu, dia senang berbagi kisah-kisah yang inspiratif, sama denganku. Dia sudah lebih dari 14 tahun tinggal di Jerman, menikah dengan orang Jerman, dan bekerja di tengah-tengah orang Jerman. Jadi bersamanya, aku lebih sering jadi orang yang haus akan ilmu dan cerita, dia juga penasehat yang baik. Meski kadang dia seperti radio rusak, ngoceh tanpa henti, aku rela saja jadi pendengar yang setia. Aku suka kebijakannya memandang sebuah masalah, tak sepertiku yang selalu saja sembrono dan gegabah dalam berkeputusan.

Suatu hari, saat aku diminta membantunya merapikan almari, dia bercerita tentang kisah salah satu teman gerejanya. Ini adalah kisah favoritku sepanjang masa, yang hampir kubuat novel saking gilanya aku pada kisah nyata yang mirip drama korea ini. Ceritanya begini:

Sebut saja namanya Maria. Seorang gadis cantik yang merantau ke Jerman meninggalkan Medan sekitar tahun 2007 lalu dengan menjadi au pair. Maria punya harapan yang besar untuk bisa menikah dengan orang Jerman. Banyak alasan yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut, selain karena pria Jerman yang baginya sangat rupawan, dia juga jatuh cinta pada budaya Jerman. Maria ingin tinggal dan menetap di Jerman.

Satu tahun pun berlalu. Tak ada tanda bahwa dia akan punya sosok suami orang Jerman. Tak putus asa, dia pun tetap bertahan di Jerman dengan beralih profesi menjadi FSJ. Kejadian memilukan menimpa Maria ketika dia jadi FSJ. Ayahnya sang tulang punggung keluarga meninggal. Kini ibunya harus mengambil alih tanggung jawab keluarga dan Maria pun tergerak untuk membantu menyekolahkan ke 5 adiknya.

Selama 2,5 tahun dia tinggal di Jerman, kesibukannya hanya diisi oleh bekerja dan bekerja sambilan. Karena dia merasa tanggung jawabnya membantu keluarga amatlah besar. Tak terasa, waktu berlalu meninggalkannya yang sendiri dan kesepian di Jerman. Ia pun sebenarnya selalu ingat untuk mencari jodoh. Tapi Maria tak percaya pada biro jodoh. Dia rajin datang ke gereja. Hadir ke acara kumpul jemaat dan kebaktian, serta memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kalau sudah jodoh, tak akan lari kemana, pikirnya.

Tiba saatnya dia harus mengakhiri kegiatan FSJnya. Ia tak mau pulang, karena ia sadar, lulusan SMA, merantau ke Jerman, lalu pulang setelah FSJ, akan sama saja dengan sama sekali tak ke Jerman. Akhirnya, dia pun mengambil alternativ untuk sekolah sambil kerja di bidang kesehatan (Ausbildung). Selama 3 tahun, dia mendapat banyak pelajaran yang bisa dia petik dari pendidikan itu. Selama itu, lebih dari 5 tahun dia tinggal di Jerman. Sayangnya, tanda-tanda penampakan pangeran berkuda putih itu belum muncul. Dia pun sedikit geram dan akhirnya berusaha mencoba peruntungan lewat biro jodoh (dating sites).

Bukannya pria baik-baik yang dia dapat, malah pria Jerman yang hanya tertarik pada fisiknya saja yang ingin berkenalan. Maria, seperti namanya, adalah seorang gadis baik yang menjaga kesuciannya. Setelah bertemu beberapa pria brengsek, Maria akhirnya kapok dan tak mau lagi berurusan dengan dating sites. Dia pun pasrah dan tetap percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuknya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu. Maria cemas. Terlebih ketika dia hampir 6 tahun tinggal di Jerman, sudah lulus program Ausbildung dan mencoba melamar kerja ke sana kemari, tapi tak ada yang cocok. Akhirnya, karena suatu keadaan yang sangat mendesak, maria terpaksa harus dipulangkan ke Indonesia. Tabungannya habis, dan dia semakin putus asa serta skeptic akan masa depannya di Indonesia. Untuk daftar di Universitas di Jerman, dia membutuhkan sebuah jaminan, atau paling tidak uang sebesar 8000 euro, yang mana sangat mustahil ia dapatkan. Selama ini, uangnya selalu ia gunakan untuk membantu keluarganya di Indonesia.

"Aku masih ingat tangisnya, Rin!" kata temanku menceritakan kisah Maria. "Di depan kami, di depan jemaat gereja itu dia berlinang air mata. Esok harinya dia harus pulang. Dia minta supaya kami mendoakan masa depannya. Agar dia didekatkan jodohnya, agar dia dapat pekerjaan di Indonesia. Aku tahu benar dia terisak-isak dan sebenarnya tak mau pulang ke Indonesia. Tapi apa daya, Rin. Kami juga tak bisa membantunya. Oh, kasihan anak itu."

Aku menunggu kelanjutan kisah itu sambil terus melipat-lipat baju temanku itu.

"Tahu nggak, Rin! Sebuah keajaiban terjadi!"

"Keajaiban?" kataku sambil melongo menoleh kepadanya, seperti anak anjing menunggu majikannya memberinya makan.

"Iya, keajaiban! Coba tebak, apa?"

Kali ini aku benci sekali pada temanku itu. Aku yang sudah penasaran itu malah dibuat semakin penasaran karena diajakin main tebak-tebakan.

"Udah ah, langsung cerita saja!"

"Ihh, nggak mau! Ayo tebak!"

Aku menggerutu dan bilang, "Ya sudah, kalau gitu kasih clue, apa keajaibannya."

"Si Maria itu akhirnya bertemu dengan pujaan hati, suaminya yang sangat baik hati dan rupawan!"

"Nah, itu sudah kamu jawab sendiri keajaibannya, aku nggak perlu menebak lagi, donk?"

"Tebak lah, di mana si Maria bertemu lelaki itu?"

Yah mana gue tau. Kali itu, ingin rasanya aku melempar pakaian-pakaian temanku yang sudah aku lipat itu keluar jendela agar dia tahu betapa gusarnya aku menunggunya membocorkan tempat di mana si Maria bertemu suaminya. Akhirnya, asal ceplos, aku jawab, "Di Indonesia?"

"Salah"

"Di Jerman?"

"Bisa jadi"

"Iiiihhhh, kamu ngeselin banget sih. Cepetan kasih tau di mana! Kalau nggak aku buang nih baju-baju kamu keluar jendela!"

"Oke...oke.... Jadi begini, Rin! Tuhan memang selalu punya rencana indah dibalik semua ujian yang menimpa kita. Semalam suntuk Maria menangisi kepulangannya. Di Bandara dia tak tega untuk pulang dan berpikir bahwa dia tak akan bisa kembali lagi ke Jerman. Nggak taunya, di dalam pesawat, Rin! Ada seorang pemuda bule yang kebetulan duduk di sebelah dia."

"Itu suaminya?" selaku.

"Ih, tunggu dulu sampai aku selesai cerita, napa?" temanku memang tak suka pembicaraannya dipotong, terlebih kalau sudah cerita hal yang seru. Lalu lanjutnya, "Bule yang duduk di samping Maria itu memang aneh. Saat itu adalah pertama kali penerbangannya ke Indonesia. Dia tak tahu mengapa dia ingin sekali pergi ke Indonesia. Dia hanya pernah sekali melihat berita tentang Jakarta di layar kaca, tentang macet dan demo, tapi tak tahu mengapa hatinya sangat tergerak untuk terbang ke Jakarta. Nah, Tuhan rupanya sudah merancang pertemuan mereka, TEPAT di saat Maria sangat putus-asa."

Aku masih terus saja mendengarkan cerita temanku itu. Kali ini kuhentikan sejenak aktifitas melipat-lipat kolor di tanganku. Kelanjutan kisah Maria bisa aku uraikan seperti ini:

Pemuda itu, karena bosan duduk di pesawat, mencoba menyapa Maria dan bertanya dari mana dia berasal. Saat itu, Maria memang kelihatan sangat sedih dan putus asa. Tapi aura kecantikannya mampu menyihir sang pria hingga dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat tahu Maria berasal dari Indonesia, di penerbangan menuju Dubai itu, sebut saja namanya Nico, langsung bersemangat dan cerita bahwa dia juga mau ke Indonesia. Maria pun juga akhirnya sedikit bersemangat dan sepanjang penerbangan Dubai-Jakarta (kebetulan lagi, pesawat mereka sama, hanya tempat duduk yang terpisah bisa mereka atur sehingga mereka kembali duduk bersama), Maria dan Nico tak henti-hentinya cerita. Tentang Nico yang tiba-tiba terilhami untuk ke Jakarta, tentang Maria dan kehidupannya di Jerman, dsb.

Begitulah, akhirnya, Nico, sejak pertemuan pertama itu, tak ingin satu hari pun terpisah dari Maria. Begitu pun sebaliknya. Kini, mereka telah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu. Mereka tinggal di Jerman. Oleh pemuda tampan itu, Maria tak hanya dinikahi, tapi semua adiknya disekolahkan, keluarganya dibantu, dan kehidupan Maria terpulihkan.

Kisah ini seperti di dalam dongeng saja. Tapi benar-benar nyata. Temanku tak pernah menyangka seajaib itu kisah cinta mereka. Saat acara pernikahan diselenggarakan di Jerman, temanku pun datang dan kepada para jemaat, Maria (sekali lagi) dengan berlinang air mata, bersaksi akan kisah cintanya dengan Nico yang terjadi seperti sebuah mukjizat.

Bayangkan kalau Maria tak harus kembali ke Indonesia, pasti dia tak akan bertemu Nico di pesawat itu. Ah, cinta memang selalu datang tepat pada waktunya, cinta tak pernah salah waktu, apalagi salah kamar 😁.

Kisah ini, adalah paling menginsiprasiku di sepanjang tahun 2016. Tentu saja, aku tak kenal dengan temannya temanku itu. Nama Nico dan Maria pun aku rekayasa. Meski alurnya si wanita sendiri yang paling tahu,  tapi kisah cinta mereka asli dan semoga kalian juga terilhami olehnya. (Terutama para jomblo yang sedang patah hati atau patah semangat, 😅)

Baca juga kisah inspiratif 'frische Luft' lainnya: Kisah Ratu Cempreng!

Salam

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Cara Hidup Hemat di Jerman

Hai balik lagi dengan aku Alvita di sini. Kali ini aku mau sharing tentang hal-hal bermanfaat yang aku rasakan selama tinggal di kota Hamburg, khususnya menyangkut biaya sehari-hari. 

Baca juga: 8 Hal Yang Mahal di Indonesia, tapi murah di Jerman!

Bisa dibilang, selama tinggal di sini aku bisa banget berhemat loh dibandingkan waktu tinggal di Jakarta. Waktu tinggal di Jakarta, dikarenakan budaya kita yang doyan hangout alias nongkrong, sering banget makan dan belanja di luar. Memang pada dasarnya biaya hidup di sini kalo dibandingkan dengan Indonesia jelas di sini lebih mahal dan sebagai FSJ (Freiwiliges Soziales Jahr) atau sukarelawan, kita akan dibayar pas-pasan untuk biaya makan, tempat tinggal, dan transportasi. Setelah beberapa bulan tinggal di Hamburg, aku menemukan banyak cara hidup hemat, sehingga pendapatan yang pas-pasan tadi bisa aku tabung. Yuk disimak caranya!

Masak di Rumah

Mengenai hal ini pasti sebagian besar dari kalian juga udah ngerti. Masak sendiri di rumah memang membuat perbedaan besar dalam urusan kantong dengan makan atau jajan di luar. Kenapa? karena harga-harga di supermarket jauh lebih murah dengan harga restaurant maupun imbiss (sebutan warung makanan di Jerman). Contohnya, beli pizza di warung sini seharga 2 Euro cuma dapat 1  potong segitiga begitu, sedangkan dengan harga yang sama, dari supermarket kita bisa dapat adonan pizza 1 loyang plus saus tomatnya, tinggal ditambah topping (malah bisa kreasi sendiri toppingnya) seperti daging/sayur yang juga ga mahal. Atau ada juga pizza instan yang dibekukan, jadi tinggal dipanaskan dalam oven, harganya berkisar antara 2-4 Euro. Dan buat yang ga bisa makan tanpa nasi, dengan harga 2 Euro tersebut bisa kalian belikan beras 1 kg di sini hehe


Zu Verschenken = Give Away = Bagi-Bagi Gratis

Tips selanjutnya adalah ikutan grup yang suka kasih barang secara cuma-cuma. Awalnya aku menemukan grup di facebook yang bernama "Free Your Stuff Hamburg". Di dalamnya banyak member grup yang posting untuk kasih barang atau cari barang GRATIS! dan barang-barang yang dikasih juga ga cuma barang kecil, ada banyak yang kasih peralatan rumah tangga seperti sofa, meja, bangku, lemari, Handphone, baju, aksesoris, dsb. Iya kamu ga salah baca! Enaknya lagi itu khusus kota aku, jadi aku tinggal jemput aja barangnya.  


Aku pikir "Waahh orang sini baik hati banget yah, kalo di Indonesia mana ada yang mau bagi-bagi gratis, yang ada dijual". Kalo ada yang posting mau kasih barang, tinggal kirim pesan ke orangnya, terus diskusi deh apakah barangnya mau dijemput sendiri atau dikirim. 

Ternyata kalo udah nemu 1 grup bakalan nemu lagi grup lain yang mirip-mirip. Aku sendiri udah gabung sama 2 grup macam ini. Cuma karena gratisan, biasanya rebutan sama member lain sih, siapa cepat dia dapat. Kemudian di Ebay Kleinanzeigen (iklan kecil Ebay) juga ada bagian yang bernama "Zu Verschenken" nah itu sama aja, cuma tentunya kita harus punya account Ebay biar bisa kirim pesan. Kota pencarian barang pun bisa di sortir sesuai kota kita tinggal.
screenshoot dari app ebaykleinazeigen yang bisa didownload di smart phone. Gambar ini hanyalah khusus barang-barang yang diberikan secara cuma-cuma alias zu verschenken.


Memburu Makanan Gratis

Nah kalo ini mirip dengan tips di atas, karena menemukan grup-grup tadi maka ketemu juga lah grup ini. Cuma bedanya grup ini khusus bagi-bagi makanan dan minuman aja. Malah ada yang suka bagi makanan di garasinya secara rutin loh 3 kali seminggu. Jadi, dulu aku rutin datang dan ga perlu belanja sama sekali. 


Orang yang suka membagikan makanan ini kebetulan seorang ibu rumah tangga yang suka "menyelamatkan" makanan sisa dari supermarket atau toko, bahkan dari kantin sekolah anaknya. Soal pentingnya "menyelamatkan makanan" di Jerman akan aku bahas di artikel blog selanjutnya. Selain grup Facebook, ada juga website resmi bernama "Food Sharing" dimana kita bisa bikin account dan cari orang yang mau kasih makanan sesuai lokasi yang kita mau.


Belanja di Pasar Loak


Flohmarkt adalah bahasa jerman dari Flea Market alias pasar loak. Di pasar loak, banyak orang yang buka gerai dan biasanya menjual barang bekas dengan harga miring, kadang bisa nawar juga (walaupun ga se-gila di Indonesia sih nawarnya :p). Kelebihannya Flohmarkt di sini itu kita bisa membeli barang-barang bermerek asli dengan harga murah, secara di sini barang palsu tidak diijinkan masuk. Flohmarkt ini biasanya diadakan pada periode tertentu, ada yang cuma beberapa hari atau setiap sabtu-minggu.


Nongkrong Murah


Mau nongkrong tapi lagi irit? Di sini, kita bisa piknik dengan nyaman, memang di Indonesia juga bisa sih tapi entah kenapa banyak orang lebih memilih ke mall mungkin karena tamannya dikit dan cuacanya panas😀. Tapi kalo piknik di sini masih banyak penggemarnya (jika cuaca cerah), menurut aku karena di sini banyak taman umum yang bersih, nyaman, dan aman. Terus kita tinggal bawa makanan dari rumah deh yang pasti lebih hemat daripada jajan di luar. 




Atau kita juga bisa cuma duduk-duduk aja di rumput, menikmati matahari, udara bersih, baca buku. Bahkan saat musim panas, banyak yang cuma berjemur dengan pakaian dalam/bikini. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah mengunjungi atau mengundang teman datang. Biasanya acara yang berlangsung yaitu masak-masak, nonton bareng, atau sekedar ngobrol haha. Untuk yang suka pergi Clubbing, di Hamburg punya banyak Club gratis loh, tinggal masuk dan joget ;)


Public Event


Hamburg mempunyai cukup banyak acara rakyat dengan harga murah sampai gratis. Ini bisa jadi acara nongkrong bersama teman maupun sendiri. Contohnya yaitu "Lange Nacht der Museen" (Malam panjang untuk museum-museum), untuk ikutan kita tinggal bayar 10 Euro dan bisa mengunjungi hampir semua museum di Hamburg yang jumlahnya banyak banget. Biasanya 10 Euro itu harga masuk 1 museum. 


Terkadang tempat-tempat atraksi turis juga suka terbuka untuk umum. Ada gedung Elbphilharmonie, gedung untuk konser musik dimana kita bisa naik gratis ke atas dan lihat pemandangan Hamburg dari atas. 

Baca juga: Elbphilharmonie Hamburg

Atau museum miniatur yang mengijinkan orang-orang yang "tidak mampu" untuk masuk gratis, kenapa di tanda kutip? Karena peraturannya cuma berbunyi kira-kira begini "Jika anda tidak mampu membayar, cukup bilang ke kasir dan anda boleh masuk gratis". Dan itu beneran aku coba bersama teman-temanku, walaupun sebenarnya kami mampu, tapi kami dikasih masuk tanpa diminta bukti ketidakmampuan kami. Tapi aku kurang tahu apakah itu berlaku selamanya atau hanya Periode tertentu.

Jadi aku rasa tinggal di Jerman bisa hemat kok kalau kita tahu celah-celahnya dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Semoga tulisanku kali ini bermanfaat untuk kalian.

Baca juga artikel menarik lain yang aku tulis: Pengalaman memalukan saat jadi au pair di Jerman

Sekian!

Sunday, August 13, 2017

Mimpi Ke Jerman: Kisah Ratu Cempreng

"Mbak, kamu tuh wanita hebat! Aku kalau mendengar kisah-kisah kamu, diriku serasa menjadi butiran debu, ih! Tak ada apa apanya dibandingin kamu, aku beruntung sekali, mbak kenal kamu!"



Aku sering sekali membenci kata-kata sahabatku yang satu ini. Dia selalu saja seperti ini setelah kita bercerita ngalor ngidul tentang kehidupan dan penderitaan kita saat tinggal di Jerman, termasuk patah hati dan sulitnya bertahan untuk tidak patah arang di negara yang orang-orangnya serba gesit ini.

Semua kata-katanya salah. Salah besar.

Namanya Ratu. Sebut saja begitu. Kalau kalian bertemu dengannya pertama kali, dia pasti bilang dengan endelnya, "Hallo, nama aku Queen!! atau " Hallo, ich heiße Königin!" (yang artinya memang "Hallo, nama aku Ratu").

Dia selalu bilang bahwa kami ketemu pertama kali di pantai palsu Övelgönne, padahal dua minggu sebelumnya, saat berkunjung ke apartemen Astri, dia datang bersama Aldy dan sudah cerita ngalor ngidul tentang kegiatan FSJ dan pacarnya. Saat itu aku berpikir, "Nih cewek, udah suaranya cempreng, banyak omong pula! Mimpi apa aku semalam bisa kenal cewek cempreng ini?"

Tak ada kesan mendalam selain ke-cemprengan suaranya saat pertama kali bertemu. Tak kusangka, kita bisa jadi sahabat dekat. Terima kasih, Astri.

Baca kisah tentang Astri: Mimpi Kartini Masa Kini

Ratu adalah gadis yang sama keras kepalanya denganku, sama-sama ingin mempertahankan pendapatnya kalau berdebat, sama-sama tak ingin tersisih. Tapi kami juga sama-sama penyayang, sama-sama manja, sama-sama supel (kurasa dia lebih supel), dan sama-sama sering sok pinter!

Aku percaya pada sebuah kata-kata bahwa kadang wanita yang terlalu kuat itu adalah wanita yang selalu bisa tersenyum padahal hatinya diliputi duka.

Ratu adalah salah satu diantaranya. Jika kalian kenal dia dan ngobrol bareng-bareng, kalian tak akan pernah menyangka bahwa Ratu adalah gadis remaja umur 19 tahun (saat aku kenal dia pertama kali). Karena dari cara bicaranya, dari cara dia mengemukakan pendapatnya, dari pengalaman hidupnya, dia seperti 15 tahun lebih tua dari umurnya. Sering aku menganggap dia lebih tua dariku karena dia lebih tahu soal mengatur hidup di Jerman ketimbang diriku. Tapi seketika aku langsung melihat umurnya yang memang masih 19 tahun saat dia ngeyel ingin nonton konser Bruno Mars, lalu berimajinasi naik ke atas panngung, menciumnya, dan bilang bahwa Bruno Mars lah yang menjadi salah satu alasannya ke Eropa, karena dirinya lah, Ratu sanggup hidup di sini, dia lah yang Ratu nanti-nanti, kemudian si Bruno luluh dan mempersuntingnya menjadi istri. Ah, dia kan memang remaja yang butuh bersenang-senang.

Kata-kata dia yang aku tulis sebagai kata-kata pembuka adalah sebuah ironi. Aku ini sudah lebih tua darinya 9 tahun. Sedangkan beban hidup dan pengalaman serta pelajaran yang diserapnya jauh lebih banyak dari diriku. Aku ini tak ada apa-apanya ketimbang si Ratu cempreng itu.

Ratu, adalah satu dari jutaan wanita yang dengan tidak sengaja (atau kasarnya, dengan terpaksa) menjadi dewasa sebelum umurnya. Cita-citanya jelas: Yakni sekolah di Eropa. Jerman menjadi satu satu negara tujuannya.

Secara singkat bisa kugambarkan kehidupan Ratu sebelum ke Jerman seperti sebuah roller coaster sepanjang 100 meter, 50 meter awalnya naik ke atas, sisanya turun menghujam terbanting, tak terkendali.

Orang tuanya menyiapkan segala sesuatu demi pendidikan Ratu di Jerman. Dia bisa dibilang anak orang berada kala itu. Rumah, mobil, uang, dan segalanya. Les bahasa yang mahal pun tak jadi kendala, asalkan Ratu bisa ke Jerman.

Kehidupan kadang memang seperti sebuah roller coaster, kadang bisa sangat kejam membanting kita tanpa ampun, membuat jantung hampir copot, tapi toh tak menghabisi nyawa kita, malah bikin ketagihan. Di saat sedang jaya-jayanya, bisnis orang tua Ratu ditipu oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Uang investasi para tetangga, karyawan kantor tempat ayahnya bekerja yang kalau dihitung bisa mencapai 3 milyar jumlahnya, pun turut dibawa kabur.

Keluarga Ratu kocar-kacir. Ratu hanya bisa diam saat kalung emas, anting, dan semua tabungannya turut disita bank. Dia tak henti-hentinya menangis melihat orang tuanya yang jadi bahan hinaan karena dituduh menggelapkan uang. Padahal mereka semua tahu, bahwa orang tuanya pun adalah korban. Bagi Ratu, tak apa kehilangan perhiasan atau tabungannya, tapi harkat martabat orang tuanya yang runtuh itu lebih membuat hatinya teriris-iris.

Seperti yang aku bilang, apapun yang tak membunuh kita, malah menjadikan kita lebih kuat. Ratu yang saat itu sebenarnya sudah siap berangkat ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan bahasa demi persiapan ke Universitas, harus banting stir menjadi Au Pair dulu. Harus rela menangis sepanjang malam karena rindu ibu bapak di rumah, harus bersedia tinggal di rumah sebuah keluarga asing, dan pindah-pindah keluarga karena tak krasan.

Bisa apa diriku kalau jadi Ratu? Umurnya masih 17 kala itu. Cobaan berat yang bertubi-tubi mengangkat dia menjadi wanita yang super duper tangguh seperti tempaan baja yang tak akan melepuh didera api 1000 derajat sekalipun. Lalu dia bilang, aku ini wanita yang lebih kuat darinya, memangnya dia Cleopatra? Atau Dewi Kwan Im?. Mungkin Cleopatra pantas untuk namanya. :D

Kita ini adalah bentuk dari pengalaman kita di masa lalu (Ayu Ashari). Sama seperti saat aku melihat Ratu. Siapa yang menyangka, dia yang senyum sana senyum sini, tebar cerita lucu tentang si Anu dan tentang si Ani, adalah sebuah jiwa wanita perkasa yang luar biasa tangguh. Dia menebarkan keceriaan, padahal hatinya sendiri hampir hancur. Sedangkan aku di umur dia dulu, masih sering mau-maunya dibodohi pacarku yang ternyata tukang 'jajan' dan selingkuh.

Tak banyak anak muda yang rela merubah hidupnya, dari yang serba berkecukupan, dari yang di rumahnya dilayani seorang pembantu, menjadi seorang yang rela jadi seperti pembantu demi sebuah cita-cita. Meski Ratu adalah anak bungsu, dia bersedia membantu kakak-kakaknya untuk lanjut kuliah. Sedangkan dia di Jerman menunda kuliahnya, dan bekerja membanting tulang untuk hidupnya dan pemulihan hidup keluarganya di Indonesia.

Tiga tahun lebih dia di Jerman, dia bisa mencicil membeli rumah yang baru untuk ditinggali ibu bapaknya. Rumah mereka yang lama harus disita, tiap bulan selama 10 tahun ke depan, bapaknya harus rela kerja suka rela karena gajinya, secara otomatis akan diserahkan kepada para investor yang merasa ditipu. Parahnya, secara tidak profesional, kepala divisi tempat ayahnya bekerja menurunkan jabatan sang ayah, dari Teknisi menjadi tukang kebun, karena urusan pribadi dan karena dianggap ayahnya sudah menipu karyawan. Padahal sekali lagi, orang tuanya hanyalah korban. Pihak yang membawa kabur uang mereka ke Singapura itulah pelakunya. Orang tuanya pun berinvestasi, uang mereka pun juga dibawa lari. Mengapa mereka yang harus menanggung semua ini?

"Ibu aku mbak, beliau adalah seorang motivator yang luar biasa. Makanya, ibu masih bisa bertahan. Orang yang kehilangan uang 3 milyar bisa gila, lo, mbak! Tapi orang tuaku adalah orang tua yang beriman, mbak. Aku salut sama mereka. Makanya tekatku, tak apa aku hidup susah di Jerman. Toh, ini mimpiku juga. Hidup di Eropa adalah impian banyak orang dan aku hidup dalam mimpi mereka. Meskipun mereka tak tahu menahu betapa aku harus berjuang dalam peluh dan air mata demi hidupku di sini."

Ratu. Kadang aku tak habis pikir, hatinya terbuat dari apa. Dia, meski kekurangan, tak pernah berhenti membantu teman lain (yang juga kekurangan). Kami di Jerman memang suka merasa senasip sepenanggungan.

Pernah suatu kali, teman kami menjual rice cookernya dengan harga 20 euro. Ratu tahu kalau teman itu butuh uang, dibelinya Rice Cooker itu dengan harga 30 euro. Saat aku bilang padanya, "Ratu, jual saja deh Rice Cooker kamu itu padaku! Aku lagi butuh rice cooker!". Dijualnya padaku dengan harga 5 euro, karena dia tahu aku sedang membutuhkan rice cooker itu. Bahkan dia bilang, "Bawa aja mbak e, rice cookernya, toh aku bisa numpang masak nasi di tempat Riski!"

Terlalu banyak yang ingin kuceritakan tentang gadis cempreng ini, belum lagi soal patah hatinya, dan kehidupan cintanya yang juga menginspirasi dan membuatnya jadi wanita tangguh. Tapi biarlah cerita itu disambung di kisah Frische Luft yang lain.

Saat ini, si Ratu telah melanjutkan Ausbildung di bidang kesehatan, dan kerja sana sini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di Jerman juga di Indonesia, untuk membantu kakaknya kuliah, juga untuk persiapannya kuliah setelah dia lulus Ausbildung nanti.

Lihatlah, betapa kerasnya kehidupan. Tapi selalu ada saja alasan bagi kita untuk bertahan. Ambillah pelajaran dari kisah Ratu yang 100% nyata dan tak kubuat-buat ini. Teruslah berjuang. Kehidupan anak muda itu masih panjang, jangan menyerah, gapailah mimpi, selalu ada jalan, bertemanlah dengan orang-orang baik, dan dengarkan kisah mereka, dan jadilah hebat karena belajar dari pengalaman-pengalaman hebat mereka.

Semangat!!!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Artikel Blog Kehapus


Beberapa hari yang lalu, aku sempat dibuat kecewa setengah mati oleh keteledoran diriku sendiri. Tak tahu harus marah kepada siapa, bingung harus berbuat apa. Masalahnya, dua artikel frische Luft yang kutulis dengan susah payah, tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Tak tahu apa sebabnya.

Gambar diatas sebenarnya adalah gambar diriku yang mengekspresikan kesedihan dan kegalauan. Hhaha, padahal saat mengambilnya, aku sedang bersenang-senang di pasar malam Hamburger DOM tahun 2015 lalu. Lebay ya, diriku :D

Sebenarnya, aku sudah pernah mengalami hal yang sama beberapa bulan lalu, saat menulis Orang Jerman: Termin!!Termin!!! Termin!!!,, tapi lagi-lagi aku tak belajar dari kesalahanku itu. Hampir 5 jam aku berusaha mengembalikan artikel yang telah lenyap ditelan (entah ditelan apa) :D.

Ahirnya aku menyerah. Rata-rata, aku hanya menemukan artikel untuk mengembalikan artikel ter-publish yang tak sengaja kehapus. Sedangkan artikelku yang hilang tersebut belum ter-publish. Sebenarnya kesalahan apa yang aku lakukan?

Aku mencoba menyematkan penutup 'Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)' yang aku copy paste dari artikel-artikel sebelumnya ke 2 artikel yang baru tersebut. Alih-alih hanya kalimat penutup, ternyata seluruh artikel lama tersematkan ke dalam artikel baru tanpa aku menyadarinya. Dua artikel pun tercover oleh tulisan yang sama. Sehingga aku punya 3 artikel dengan tulisan dan judul yang sama.

Beberapa bulan yang lalu, aku mencoba ctrl+z dan akhirnya artikel kembali seperti semula, namun kali ini trik itu tidak berhasil. Aku seperti kebakaran jenggot. Dua hari kuhabiskan daya dan upaya untuk menulis dan setelah selesai tinggal publish, semuanya lenyap. Tentu saja aku galau hidup segan mati tak mau. Hhaha.

Akhirnya, aku pun mencoba menghibur diri dengan membaca artikel-artikel tentang orang yang kecewa dan menemukan salah satu artikel yang memuat tentang hal yang sama, malah dia telah menulis puluhan artikel dan lenyap karena kesalahan server. Huhh, ternyata aku tak sendiri. Merasa sedikit terhibur.

Belajar dari kesalahn tersebut, kini aku mulai menyusun rencana untuk menduplikatkan tulisanku di media lain, open office, notepad, atau ms. word, juga back up rutin berkala tiap minggu/tiap bulan, agar kejadian buruk yang mengecewakan tak terjadi lagi. Apalagi, aku baca banyak blogger (terutama yang pakai blogspot) yang blognya di shut down oleh google karena melanggar Term Of Service atau karena kesalahan-kesalahan lain yang tak bisa ditolerir. Betapa mengenaskannya. Salah satu blogger Amerika yang sudah menggunakan jasa blogger selama 14 tahun terpaksa harus meratapi nasib karena blognya ditutup oleh google. Meskipun sudah menuntut google sampai ke pengadilan dan meminta agar karyanya dikembalikan, google tetap bersikeras menutup blog tersebut. Hufft, semoga kejadian yang sama tak akan menimpa kita. Amin.

Bagaimana kabar kalian kawan blogger? Apakah pernah mengalami hal yang sama? Semoga tetap semangat nge-blog dan  nantikan kabar tentang Jerman selanjutnya dariku (semoga secepatnya).

Salam Hangat dari Hamburg

Thursday, August 10, 2017

Kisah Au Pair: Mimpi Kartini Masa Kini

 "Apapun yang terjadi hari ini, seburuk dan sepahit apapun itu, tesenyumlah! Ini pun akan berlalu!"

Kalau kita punya sebuah mimpi, aku yakin, Tuhan akan mengarahkan kita untuk bertemu dengan orang-orang (yang seperti diberi sinyal oleh-Nya), untuk menunjukkan jalan kita meraih mimpi itu. Seperti pertemuanku dengan sahabatku di München, sebut saja namanya Astri.

Kalian tak akan percaya bahwa dibalik senyum termanis yang dipunyai seseorang seperti Astri, terkadang menyimpan duka pahit yang menjalar, kompleks dan hampir membunuh otak serta jiwanya. Aku tak paham, dan sampai sekarang pun tak bisa paham, bagaimana bisa wanita ini begitu kuat.

Aku bertemu Astri di München. Lagi-lagi lewat sebuah sosial media. Berbeda dari Yola yang kutemukan lewat Facebook, Astri kukenal lewat Couchsurfing. Berbeda lagi dari Yola yang biasa saja saat pertama kali bertemu denganku, dari text pertama yang dia kirim kepadaku, kulihat Astri sama antusiasnya untuk bertemu denganku. Umurnya sama denganku, bersamanya, aku malah merasa menjadi adik yang perlu sebuah nasehat, karena pengetahuannya tentang Jerman (dan cowok Jerman) sudah lebih matang. Aku dan Yola berguru padanya, semenjak hari pertama kami bertemu.

Hari itu, satu minggu setelah aku bertemu dengan Yola. Bersama Yola pula, aku menemui Astri. Alasannya satu: Aku dan Astri buta jalan, kami tak tahu harus naik apa, harus ke mana, sedangkan Yola sudah seperti sesepuh dan juru kuncinya München. Tanpa ngecek app dan melihat peta, dia langsung tahu, kami harus digiring ke mana. Kami seperti dua ekor bebek, dan Yola yang 8 tahun lebih muda dari kami itu seperti gembalanya.

Meski kita tak bisa menilai kedewasaan seseorang lewat umurnya, tapi saat kami bertiga ngobrol, Yola lebih sering diam dan mendengarkan, ketimbang menimpali, dia memang terlihat masih sangat bocah. Aku dan Astri yang sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan pun saling cerita ngalor ngidul, tentang pacarnya, tentang kehidupannya di Semarang dulu, dan tentang mimpinya ke Jerman. Yola seperti gembala bebek yang mendengarkan kami ber-kwek kwek ria.

Yola kali ini lebih waras ketimbang minggu lalu. Dia tak lagi mengajak kami window shopping, dan tak menyesatkan kami dengan belanja ke Kult Fabrik. Hari itu, kami jalan-jalan ke Alianz Arena, stadion mewahnya Bayern München, dan ke Museum BMW, serta naik ke puncak towernya, sehingga kami bisa menikmati pemandangan kota München yang rapi dari atas.

Satu hal yang paling aku salutkan dari Yola adalah kebaikan hatinya. Dia kami bully sepanjang waktu, tapi dia masih saja bersedia menjadi gembala kami dan menunjukkan kota München yang indah. Pada Astri aku cerita, "Kamu tahu nggak, mbut?" (Aku memanggilnya jembut sejak pertemuan pertama, karena kami tak sengaja menemukan kecocokan bercerita hal-hal lucu berbau porno. Memang memalukan punya kebiasaan seperti itu, apalagi menemukan seseorang yang punya hobi sama. Tapi karena kegilaan itulah kami menjadi dekat dan bebas cerita apapun)

"Si Yola, dengan judesnya bilang, aku nggak mau 'boso jowo', aku kan setengah 'Londo'." lanjutku cerita pada Astri yang kulebih-lebihkan sambil melirik Yola. Kali ini Yola yang tersenyum kecut, karma dariku yang minggu lalu yang dengan kecut tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang berkutu. Dendam kesumatku terbalas, kisanak! Batinku!

Akhirnya, karena aku dan Astri berbahasa Jawa seharian, Yola ikut juga berbahasa Jawa. Aku memang kejam, apalagi kepada orang yang kusayang. Memang aneh terdengar, mungkin jiwa dan otakku perlu diperiksakan. Aku memang sudah sayang pada Yola sejak minggu lalu, tapi dendam itu tak ingin aku hapus, sampai aku puas menganiayanya. Untungnya Yola bukan orang yang gampang tersinggung, sepertiku. Ya, sifat burukku yang lain adalah tersinggung. Aku suka membully, tak mau dibully, suka melontarkan kata-kata pahit, tapi tak suka disinggung. Ah, aku memang butuh psikiater. 😅

Astri, yang dari pertemuan pertama sudah kuketahui bahwa kami akan dekat, kami akan bersahabat, adalah salah satu sahabat yang kisahnya wajib dibagi. Menyimpan kisah dia untukku sendiri rasanya seperti Pak Tua yang menemukan peti harta karun dan hampir mati. Aku harus memberikan harta karun itu sesegera mungkin, agar penemuanku tidak sia-sia sebelum ajalku menjelang. Apa sih, nglantur deh 😎

Wanita muda tangguh yang dari gurat-gurat di wajahnya sudah langsung tampak bahwa dia berasal dari Jawa ini, datang ke Jerman dengan menjadi au pair. Di sebuah desa yang letaknya sekitar 50 km dari München, dia tinggal di sebuah host family yang baik hati. Dia kenal host family itu lewat aupairworld, sama denganku. Cita-cita sebenarnya pun juga sama denganku, yakni menempuh pendidikan S2 di Eropa.

Astri datang dari keluarga sederhana. Ibunya hidup dari uang pensiunan ayahnya yang telah meninggal semenjak dia SMP. Dia pernah tinggal di rumah bibinya yang kaya dan demi bisa melanjutkan sekolah sampai jenjang S1, dia rela jadi seperti pembantu di rumah bibinya itu. Kedua kakak laki-lakinya telah berumah tangga dan tinggal jauh dari mereka. Astri yang memang terbiasa hidup mandiri itu tak suka menggantungkan hidupnya dari orang lain, termasuk keluarganya. Jadi, tinggal di rumah bibinya pun, dia tak mau berdiam diri, dia harus melakukan sesuatu demi sekolahnya.

Saat datang ke Jerman, Astri sudah punya pacar orang Jerman. Mungkin itu salah satu dari banyak tujuan hidupnya untuk datang ke Jerman, agar lebih dekat dengan sang kekasih. Tapi takdir berkata lain, dua minggu datang di Jerman, kekasihnya mengunjunginya di rumah host family nya, dan memutuskan tali kasih mereka secara sepihak. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba, Astri harus terhujam oleh keputusan pria brengsek yang beralasan ingin konsentrasi kuliah saja itu.

Saat menceritakannya padaku, saat itu 2 bulan setelah dia diputus. Dia terlihat sangat segar dan ceria, seperti tak pernah mengalami sakit hati. Berbeda denganku yang nangis bombay sampai turun berat badan 9kg, 2 bulan saat diputus mantan tunangan dulu.

"Beda to, mbut! Aku sama stupido (sebutannya kepada mantannya itu) kan masih pacaran, belum tunangan! Lagian kowe ngerti nggak? Kita ini eksotis, loh! Kulit kita ini banyak dicari. Kita ini meskipun gembel dan rakyat jelata di Indonesia, di Eropa, kita primadona, mbut, jangan salah, kowe!" kata Astri sambil melontarkan senyumannya yang khas itu. Ah, senyum itu yang selalu mengingatkanku bahwa seburuk apapun hidup kita hari ini, selalu ada hal positif yang bisa kita ambil. Ambil hikmahnya, tersenyum, lanjutkan perjalanan, hidup kita tak harus berhenti karena si brengsek stupido itu, kan? Begitu kata Astri berulang-ulang yang diiringi anggukan olehku dan Yola.

Dari Astri, aku belajar bahwa mimpi itu, meskipun jalannya berputar-putar, akan ada titik terang yang diperlihatkan oleh Tuhan, yang membuka jalan kita ke arah itu. Aku ini seorang yang penakut, apalagi kalau ditakut-takuti oleh masa depan, aku bukan seperti Astri yang langsung percaya diri dan percaya pada kemungkinan apapun demi meraih mimpinya. Buktinya seperti ini.

Host familyku bersedia menjadi penjaminku untuk kuliah S2, aku pun bahagia. Tinggal test Toefl dan daftar sana sini. Suatu hari, Nadja (host mom) bilang, "Kami dengan senang hati menjamin kamu, Indra, tapi apa kamu yakin bisa hidup sebagai pelajar dan bekerja membanting tulang untuk kehidupanmu? Belajar itu berat, loh! Belum lagi kamu harus menyewa apartemen, membayar asuransi kesehatan, makan, belanja, berlibur! Siapa yang akan menanggungnya? Sekolah di Jerman memang gratis, tapi pikirin lagi, deh!"

Aku langsung patah semangat dan banting setir jadi FSJ. Berbeda dengan Astri. Dia beruntung karena host familynya juga mau menjadi Verpflichtungserkärung (penjamin) selama dia kuliah S2 di Jerman. Setelah daftar puluhan universitas dan ditolak, setelah beberapa kali test TOEFL dan menghabiskan semua tabungannya, dia dengan semangatnya terus membara daftar kuliah di semua universitas, hingga jerih payahnya membuahkan hasil. Dia diterima untuk menempuh pendidikan Master di Universitas Hamburg. Dia dengan lantang menolak kata-kata negatif yang bilang bahwa kuliah itu berat, bla, bla, bla. Setelah jadi Au pair 10 bulan, dia pindah ke Hamburg untuk melanjutkan S2, di sela-sela kuliahnya yang (memang berat), dia bekerja sambilan sebagai babysitter, kadang bersih-bersih. Kalau liburan semester tiba, dia menghabiskan seluruh jatah liburnya untuk bekerja full time di sebuah panti jompo.

Astri baru saja menyelesaikan pendidikan Masternya beberapa bulan yang lalu, terbilang cepat, hanya 2,5 tahun, sedangkan banyak seniornya yang masih molor bertahun-tahun. Dia meyakinkanku, bahwa kalau kita konsentrasi dan fokus, semua bisa dipercepat, "Lagian aku udah bosen, mbut hidup susah, pengen cepet kerja, nyenengin orang tua, bisa ngajak emak liburan dan jadi anak yang berguna."

Proses pencapaian Astri tak semudah membalikkan telapak tangan. Jangan dipikir dijamin oleh orang Jerman itu selalu enak. Astri sudah dianggap anak sendiri oleh host family nya, tiap liburan, dia masih diajak liburan. Tapi jaminan hitam di atas putih itu membebani jiwa raga untuk selalu beriktikat baik kepada penjaminnya. Dia tak mau seperti kacang lupa kulitnya.

Meskipun kita bersahabat dekat, dan akhirnya aku pindah ke Hamburg, kami malah jarang ketemu, kadang ketemu sesekali karena kesibukan masing-masing yang padat. Dia lebih sering pulang ke Bayern, ke rumah host family nya untuk bekerja di sebuah panti jompo, selain itu juga masih bantu ini itu. Terkadang konflik kecil terjadi diantara mereka yang membuatnya nelangsa dan pedih. Tapi Astri bukan Astri namanya kalau menyerah begitu saja. Sertifikat S2 dari Universitas terkemuka di Jerman adalah salah satu bukti kegigihannya dan hasil dari peluh serta air matanya. Tak ada yang sia-sia. Astri telah membuktikan, bahwa kesedihan, sakit hati karena ditinggal pacar, tak perlu dijadikan ajang berlama-lama terpuruk dalam kehidupan yang galau. Justru sakit hati dan kesendirian itu adalah potensi kita untuk tampil lebih memukau. Coba saja kalau dia sedih lebih lama dan merengek agar stupido kembali? Mungkin Astri tak akan menemukan dirinya yang sekarang.

"Percayalah," kata-kata Astri yang selalu kuingat. "Kamu itu cantik, kita ini, setiap wanita terlahir dengan kecantikannya sendiri-sendiri, tak perlu menyesali seseorang yang membuangmu, itu kerugiannya, bukan kerugianmu! Suatu saat dia yang akan menyesal, bukan dirimu! Sayangi dirimu, karena di saat semua menjauh, hanya kamu, hanya dirimu yang jadi sahabat terbaik!"

Melihatnya berjuang seperti itu, aku berani menentang semua anggapan bahwa kuliah di Jerman yang kata host family ku berat itu, bisa dilakukan kalau kita percaya. Aku pun berani mengikuti jejak Astri, dan darinya aku mendapat banyak masukan, petuah bagaimana bekerja dan belajar, bagaimana mengatur waktu dan keuangan, darinya pula aku mendapat sebuah pekerjaan. Saat itu anak yang diasuhnya tiap minggu dilimpahkan kepadaku karena dia harus magang di Jakarta selama 6 bulan. Astri adalah sahabat yang sangat dermawan. Di tengah kekurangannya, dia tak pernah mau aku traktir makan. Malah dia sering mentraktirku, dia juga tak pernah pelit informasi. Tak satu pun pertanyaan yang tak dia jawab kalau kita minta info seputar pendidikan, pekerjaan di Jerman, dsb. Darinya lah aku belajar agar hidup ini paling tidak bisa sedikit saja memberi guna kepada orang lain, menjadi sumber yang bisa dipercaya, menjadi sahabat yang bisa diandalkan, dan menjadi telinga yang siap mendengarkan keluhan. Astri tak pernah menutup hatinya untuk ide-ide baru, tak pernah mengeluh dan meratap, meski aku tahu (sangat tahu) bahwa hidup dibalik senyumnya itu sangat berat.

Astri adalah Kartini ku, kartini sejati masa kini. Senyumnya, matanya, semangatnya, mimpinya, thesisnya pun tentang Kartini, eh 😃. Dari Astri dan dari kisah yang aku ceritakan tentangnya ini, semoga menjadi inspirasi. :)

Silakan tebak sendiri mana aku, mana Astri, mana Yola. Ini foto pertama kami di depan stadion Bayern-München (Allianz Arena)


Semangat!!!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Monday, August 7, 2017

Plus Minus Jadi Au Pair di Jerman


Banyak jalan menuju Roma Jerman. Sekalipun jalan yang kutempuh untuk mengejar cita-cita kuliah di Jerman tidak semudah aku menuliskan kalimat pertama, tetap saja aku berhasil menggapainya. Sekarang giliran kalian!

Baca kisahku sebelum ke Jerman: Semua berawal dari patah hati

Kali ini, aku akan sedikit berbagi pengalaman seputar Au Pair yang telah aku lalui, agar (mungkin) kalian yang saat ini sedang galau, ingin ke Jerman, nggak tau harus memilih jalan yang mana, bisa sedikit tercerahkan. Pengalaman ini bisa jadi terjadi tak hanya di Jerman, tapi di negara lain juga.

Baca juga: Au Pair, 5W 1H???

Saat aku berangkat ke Jerman dulu, aku hanya tahu program Au Pair, tapi sekarang, informasi tentang program selain Au Pair untuk ke Indonesia sudah mulai banyak, jadi kalian juga punya beberapa pertimbangan dalam memilih. Dari situ, aku jadi merasa beruntung karena dulu aku tidak punya pilihan lain, jadi tak usah galau :D. Sekarang, bagi yang galau, mari menyimak artikel ini sampai tuntas!

Baca juga:
Seputar FSJ dan BFD di Jerman
Melamar FSJ dari Indonesia
Apa itu Ausbildung di Jerman??

PLUS MINUS PROGRAM AU PAIR

Aku akan sangat mengerti kebimbangan kalian yang ingin ke Jerman. Pertama, Jerman itu jauh, yang secara otomatis menjauhkan kalian dari zona nyaman (orang tua, sahabat, dkk), kedua, karena jauh, kalian takut kalau terjadi apa-apa nantinya tak akan bisa pulang dan kesulitan di negara orang. Aku beritahu sebuah rahasia yang bisa menenangkan: Sejauh apapun itu, percayalah, orang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik pula, kalian pun akan bertemu sahabat baru, mendapat pengalaman baru, berada di universitas kehidupan yang baru. ! Jadi tak perlu takut!

Sekarang, mari berbicara tentang kelebihan program au pair yang aku dapat dari pengalaman pribadi:

+ Lebih mudah karena sudah ada website gratis yang menyediakan ribuan host family. Selain itu, sudah ada agen untuk au pair ke Jerman yang mungkin bisa membantu kalian mempermudah pengurusan ini itu.

+ Tidak memakan banyak biaya. Bagi kalian yang bernasip sama miskinnya seperti diriku :P, pilihan menjadi au pair adalah pilihan paling tepat. Karena, kita bisa berkompromi dengan host family untuk menanggung biaya tiket, atau hutang dulu dan dibayar kalau kita sudah bekerja nanti.

+ Bahasa tak jadi kendala utama. Kalau kalian tak ada basic bahasa Jerman yang mumpuni (sama seperti diriku dulu), kalian bisa mencari keluarga yang bisa berbahasa Inggris. Meskipun demikian, kalian harus tetap lulus ujian sertifikat A1, karena kedubes mensyaratkannya. Info tambahan: Aku dulu tidak les di Goethe untuk lulus, cukup les dengan guru bahasa Jerman SMA untuk belajar dasar-dasar bahasa Jerman dan rajin melatih kemampuan dengan nonton you tube.

+ Tidak perlu ribet soal akomodasi. Kalau jadi au pair, secara otomatis sudah dapat jaminan dari akomodasi dari pihak keluarga.

+ Belajar budaya Jerman lebih intensiv. Mau tak mau, kalian harus dihadapkan dengan situasi bersama keluarga Jerman. Dari situ, kalian bisa belajar bagaimana orang Jerman itu mengatur rumah tangga dan membesarkan anak. Pengalaman ini sungguh tak ternilai harganya dan tak bisa dipelajari di Universitas manapun.

+ Hari libur. Banyak kasus sebenarnya yang terjadi pada au pair, bahwa mereka hanya dapat jatah libur sehari seminggu. Pengalamanku dulu, aku libur sabtu dan minggu. Kemudian selama satu tahun, aku mendapat jatah libur satu bulan full dan digaji penuh, yang lalu aku manfaatkan untuk keliling Eropa.

Baca kisah perjalanan keliling Eropaku yang seru, dimulai dari:
Berlin dan kenangan yang mengendap di sana

+ Mencoba kuliner asing secara gratis. Bayangkan, selama hampir setiap hari selama satu tahun, aku mencoba makanan ala Eropa, kadang dibelikan, kadang dimasakin oleh host family. Meskipun banyak yang cocok di lidah, banyak juga yang bikin aku hampir muntah :D. Tapi, dengan begitu, aku merasa amat sangat beruntung, karena diantara banyak orang Indonesia di Jerman, aku lumayan paham dan kenal banyak makanan Jerman, termasuk budaya Jerman yang aku dapat selama menjadi au pair. Saat suatu kali bertemu dengan orang Amerika yang berkunjung ke Hamburg, aku bisa menjelaskan mulai A sampai Z, apa itu Schnitzel, apa bedanya Schnitzel ala Jerman dan Austria, apa itu Gulasch, Roullade, Senfeier, Franzbrotchen, Bretzel, dan banyak lagi makanan lainnya, termasuk FKK, sejarah Jerman, orang-orang Jerman, dan banyak hal lain tentang Jerman.

Sekarang kekurangan menjadi Au Pair:

- Merasa jadi pembantu. Kalau kalian mendapat keluarga yang tidak tepat (seperti banyak kasus terjadi di Jerman), keberadaan kita di sebuah host family, bisa kita rasakan tak lebih dari pembantu dan babysitter dengan jam kerja yang (kadang) tak masuk akal. Pengalamanku dulu, aku kerja hanya 6 jam per hari dan selama 6 bulan pertama, aku merasa malah seperti anak, seperti kakak dari anak kembar yang aku asuh. Tapi begitu mereka melihat aku rajin dan ringan tangan, membantu membersihkan dapur, dan tak pernah protes kalau disuruh kerja lembur, mereka memanfaatkan aku.

- Culture Shock. Pengalaman tinggal bersama keluarga asing adalah sebuah pengalaman yang di satu sisi sangat berharga, tapi di sisi lain juga memunculkan sebuah duka. Kita merasa asing di tengah-tengah keluarga bahagia, merasa terkurung di sebuah negara yang bebas, merasa terisolasi, tak punya kehidupan. Oleh karenanya, faktor penting mencari host family, adalah kenali dulu di mana mereka tinggal. Kalau bisa cari yang tinggal di kota besar agar kalian bisa sering hang out, cari teman, kesempatan bertemu dengan orang Indonesia pun lebih mudah ketimbang di kota kecil.

Baca pengalamanku bertemu dengan sahabat sesama au pair di Jerman pertama kali:
Aku kutu dan sahabatku

- Gaji sedikit. Kerja banyak, gaji sedikit menjadi hal yang sangat problematis. Memang kalau di rupiahkan, 260 euro itu terbilang banyak (hampir 4 juta rupiah), tapi untuk tinggal dan jalan-jalan di Jerman, seperti hidup senin kamis. Aku dulu, saat au pair, perbulan bisa mendapatkan gaji tambahan dengan bersih-bersih dan jaga anak ekstra di tetangga dan di host family yang sama.

- Akomodasi yang tidak memadai. Bagiku yang terbiasa tinggal sekamar 9 orang dengan adik dan tante-tanteku, tinggal atau tidur sekamar bersama si bocah tak jadi masalah. Tapi ini sudah menentang aturan pemerintah Jerman. Banyak au pair ang tak mendapat kamar sendiri sehingga harus tidur bersama anak-anak.

- Tertekan. Perasaan ini muncul kalau kita merasa diperlakukan tidak adil. Ingin memberontak takut, kalau tidak memberontak, merasa dirugikan, apalagi kendala bahasa asing yang memungkinkan kita untuk kalah dan malas capek-capek debat dan menunggu sampai semuanya usai.

Nah, begitulah plus minus menjadi Au Pair, tentu saja beda orang beda pengalaman. Mungkin ada tambahan dari kalian? Atau pertanyaan?

Semoga informasi ini membantu mengatasi perasaan bimbang dan mencerahkan kalian yang akan berangkat ke Jerman dengan program Au Pair, ya :)

Penting untuk kalian baca: 5 Cara (Tips) Memilih Host Family!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Saturday, August 5, 2017

Jutaan Telur Terinfeksi Friponil di Jerman, Ditarik Dari Peredaran

© droomafoobeno wikimedia commons

Pekan ini Jerman sempat dihebohkan oleh pembuangan jutaan telur serentak di seluruh kota, serta penarikan stok telur dari discounter seperti REWE, Aldi, dan Penny. Distribusi telur fipronil ini dikabarkan sudah menyebar ke seluruh penjuru Jerman, termasuk Nordrhein-Westfalen, Niedersachsen, Hessen, Bremen und Bayer. Himbauan kepada masyarakat lewat berita TV agar untuk sementara tidak mengkonsumsi telur pun bermunculan. Pertanyaannya, mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Jerman begitu ketat dan sangat memperhatikan distribusi bahan makanan? Bagaimana bisa kecolongan?

Mengapa Telur Dicekal Untuk Sementara Waktu?

Hingga saat aku melihat berita di TV dan membaca koran 2 hari yang lalu, Jerman punya stok telur yang diimpor dari Belanda sekitar sebanyak 2,9 juta butir, dan sebanyak 875.000 telah terbukti terinfeksi Fipronil. Sekitar 1,3 juta sudah tersebar di berbagai daerah seperti di Niedersachsen. Telur-telur pun ditarik dari supermarket dan dihancurkan. Kabarnya, di Belanda, telur yang terinfeksi jauh lebih banyak.

Kita untuk sementara waktu dihimbau agar tidak membeli telur, tidak makan telur, termasuk tidak makan produk YANG TERDAPAT KANDUNGAN TELUR di dalamnya, seperti mayonaise, puding, kue, dsb. Mengapa? Karena telur-telur yang beredar di Jerman, terutama yang diimpor dari Belanda dikabarkan terinfeksi Fipronil.

Apa itu Fipronil? Berbahayakah?

Fipronil adalah semacam Zat Pestisida yang digunakan untuk melindungi tanaman dari hama dan binatang ternak dari kutu. Sejak tahun 1980, Prancis menemukan bahwa Fipronil yang digunakan untuk melindungi tanaman tidak hanya membahayakan hama, namun juga lebah. Oleh karena itu, sejak tahun 2013, pemerintahan Uni Eropa sepakat untuk tidak menggunakan pestisida ini untuk menyemprot jagung, karena lebah yang mungkin hinggap dan memproduksi madu juga akan menginfeksi madunya.

Apa dampak yang ditimbulkan jika kita mengkonsumsi zat ini?

Dikutip dari beberapa sumber, juru bicara Bundesinstituts für Risikobewertung (BfR), menyebutkan bahwa sebenarnya tak ada dampak langsung yang ditimbulkan, zat ini sebenarnya tidak begitu berbahaya untuk orang dewasa, namun untuk anak-anak, sebaiknya sangat dihindari. Konsumsi jangka panjang dan berlebihan bisa menyebabkan gatal dan rasa tidak nyaman pada kulit dan mata, muntah, pusing, dan lain sebagainya.

Lalu mengapa hanya telurnya yang harus dihindari? Bagaimana dengan ayamnya?

Untuk sementara ini, menteri pertanian dan lingkungan Niedersachsen dari Partai Die Grüne (Christian Meyer) menyatakan bahwa konsumsi daging unggas masih aman, meskipun pihaknya masih terus meneliti dan membuktikan keamanannya, serta membatasi impor bahan pangan dari negara tetangga yang dicurigai tidak aman. Pihaknya juga akan menindak secara tegas distributor telur-telur ke Jerman tersebut. Seharusnya residu tersebut tidak digunakan untuk menyemprot hewan ternak penghasil pangan, kata Meyer.

Yang juga jadi pertanyaan adalah, mengapa ayamnya aman, tapi telur yang terdapat di dalamnya justru berbahaya? Untuk stok daging ayam sendiri kemungkinan Jerman tidak mengimpornya dari Belanda dan Belgia, hanya telur. Jadi daging ayam masih aman dikonsumsi.

Mengapa Jerman impor telur dari Belanda dan mengapa Belanda menggunakan Fipronil untuk hewan ternak?

Belanda dan Jerman letaknya sangat berdekatan. Jadi wajar saja kalau kedua negara ini saling bekerja sama impor, ekspor bahan pangan. Belanda sendiri mengakui bahwa tercemarnya produksi telur juga berasal dari Belgia. Setelah ditindak lanjuti, Belanda dan Belgia mengimpor residu berbahaya itu dari Romania. Jadi menjalar ke mana-mana kan? Impor telur juga tidak datang dari Belanda saja, tapi dari Polandia. Setelah skandal Fipronil ini menyebar, pemerintah Belanda dan Belgia kabarnya lebih ketat dalam menyidik dan memeriksa peternakan.

Meskipun banyak discounter menarik telur dari peredaran, EDEKA tetap bersikukuh mengedarkan dengan alasan telur-telur dan bahan pangan yang dijual di EDEKA murni dari Jerman dan terbukti aman. Semoga skandal ini cepat berlalu sehingga kita bisa mengkonsumsi telur lagi.

Sumber: NDR, Tagespiegel

Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam

Join Facebook

Followers

Google+ Followers